The Demians part 12

demian n

Tittle       : The Demians

Author    : Ohmija

Cast          : BTS and Seulgi Red Velvet, Irene Red Velvet, Kim Saeron and DIA Chaeyeon

Genre      : Action, Romance, Comedy, Friendship

Saeron mengerjapkan matanya beberapa kali mendengar ucapan Jungkook barusan, “Apa? Apa yang sedang kau katakan?”

Jungkook tersenyum lebar, matanya memandang ke dalam kedua mata Saeron, “Aku benar-benar menyukaimu.”serunya tanpa ragu-ragu. “Sejak pertama kali kita bertemu. Sepertinya ini yang di bilang cinta pada pandangan pertama.”

Saeron ternganga lebar. Masih shock dengan pengakuan Jungkook yang terlalu tiba-tiba itu. Hari ini adalah pertemuan kedua mereka dan mereka baru saja mengetahui nama masing-masing beberapa menit lalu. Cinta pada pandangan pertama? Jangan bercanda.

“Kau belum punya kekasih, kan? Iya, kan?”tanya Jungkook. “Pasti belum. Aku yakin tidak ada laki-laki yang berani mendekatimu karena kakakmu sangat menakutkan.” Ia menjawab pertanyaannya sendiri sementara Saeron memandangnya aneh.”Tapi jangan khawatir, aku akan berusaha mengambil hati kakakmu. Walaupun aku yakin itu tidak akan mudah tapi demi kau, aku akan melakukannya.”

“Kau gila?”

“Mungkin.”

“Oh Tuhan.” Saeron mundur ke belakang, tiba-tiba merasa ngeri dengan Jungkook. “Walaupun tidak ada kakakku tapi aku bisa taekwondo jadi sebaiknya kau jangan macam-macam.”

Kening Jungkook berkerut, “Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Jangan khawatir.” Ia menggeleng sambil melirik ke belakang Saeron, kearah pot-pot bunga. “Apa yang sedang kau lakukan sekarang? Apa kau sedang beres-beres? Aku akan membantumu.”

“Tidak perlu.”balas Saeron cepat. “Aku bisa melakukannya sendiri jadi sekarang sebaiknya kau pergi.”

“Apa kau masih berpikir jika aku akan melakukan sesuatu padamu?” seru Jungkook tersenyum. “Apa kau pikir aku gila? Aku bisa di bunuh oleh kakakmu. Lagipula kau bisa taekwondo, kan?” Saeron mengangguk. “Jadi jangan khawatir. Aku hanya ingin jadi temanmu.” Anak laki-laki itu buru-buru memperbaiki ucapannya. “Maksudku ini juga salah satu usahaku untuk mendekatimu.”

Saeron mendengus menatap cengiran bodoh Jungkook, “Kau pasti benar-benar sudah gila.”

***___***

 

Jimin langsung datang ke kantor pusat setelah ia mendapat perintah dari Nyonya Besar. Setelah sekian lama, akhirnya ia datang ke tempat ini lagi. Sebenarnya dia tidak terlalu suka tempat ini. Karena selain suasananya sangat tidak menyenangkan, sejak semua orang tau jika dia telah naik pangkat dengan mudah membuatnya risih berlama-lama disana.

Ketika pintu lift terbuka, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Jungwoo. Begitu melihat Jimin, Jungwoo langsung membuang pandangan dan berjalan melewatinya seolah-olah Jimin tidak terlihat.

Jimin menghela napas panjang memandang punggung pria itu. Jungwoo masih marah padanya dan bahkan tidak mau bicara dengannya lagi. Jika saja dia punya pilihan lain selain berada disini, dia pasti akan pergi. Tapi sayangnya semua jalan sudah tertutup. Semuanya sudah terlambat.

Seluruh penjaga seketika membungkukkan tubuh mereka sopan begitu mereka melihat Jimin muncul. Jimin menatap mereka dengan kening berkerut. Benar-benar merasa risih karena hampir seluruh penjaga memiliki umur yang jauh lebih tua darinya.

Bahkan ketika dia sampai di depan ruangan Nyonya Cheon, seorang penjaga membukakan pintu untuknya.

“Kau sudah datang?” sambut wanita itu tanpa menatap Jimin dan terus fokus dengan dokumen-dokumennya.

“Apa semua itu tidak terlalu berlebihan?” tanya Jimin berjalan masuk dan langsung menjatuhkan diri di kursi yang ada di hadapan nyonya Cheon. “Kau membuat mereka membungkuk padaku?”

Nyonya Cheon mengalihkan tatapannya, memandang Jimin dengan senyum, “Bukankah itu bagus? Sudah ku bilang kau akan mendapatkan keuntungan besar.”

“Aku tidak menginginkan keuntungan seperti itu.”

“Lalu? Kau tidak mungkin menginginkan gedung ini, kan?”

Jimin terdiam. Sambil menatap senyum mengerikan itu.

“Aku menyuruhmu datang kemari karena aku ingin bertanya sudah sampai mana usahamu mendekatinya.” Kata nyonya Cheon meletakkan bolpoinnya. “Apa dia sudah memberitahumu tentang niatnya di masa depan?”

“Aku bahkan baru satu bulan bekerja di tempat ini. Hal-hal seperti itu tidak bisa di lakukan dengan cepat.”seru Jimin. “Dan juga apa kau sadar dengan apa yang sudah kau lakukan padanya? Karena kau terus mengurungnya, dia bahkan mengalami gangguan kepanikan. Orang seperti itu tidak mungkin membahas tentang harta dan surat warisan.”

Nyonya Cheon menangkap sesuatu dari ucapan Jimin, ia menatap pria itu tajam, “Apa kau masih sadar dengan apa tugasmu sebenarnya?”

Jimin membalas tatapan nyonya Cheon, “Apa maksudnya?”

“Kau ingat apa akibatnya jika kau berkhianat, kan?”

***___***

 

Jimin keluar dari mobil dengan membawa bungkus plastik berisi ponsel yang baru saja dia beli untuk Saeron. Namun begitu sampai di atas, matanya membulat lebar karena mendapati Saeron tidak sendirian. Melainkan bersama dengan seorang laki-laki sedang memasukkan tanah hitam ke dalam pot.

“Apa yang sedang kalian lakukan?”

Saeron dan Jungkook menoleh bersamaan dan seketika berdiri ketika melihat Jimin berdiri di belakang mereka. Wajah Saeron memucat sementara Jungkook tersenyum lebar sambil membungkukkan tubuhnya sopan.

“Annyeonghaseo, hyung-nim.”sapanya dengan nada bersemangat seakan-akan dia dan Jimin sudah saling mengenal sangat lama. “Aku adalah Jeon Jungkook. Kita bertemu waktu itu di halte. Aku adalah—“

“Oppa, dia adalah orang yang menolongku waktu itu.” Saeron buru-buru menjelaskan karena wajah Jimin menunjukkan jika sebentar lagi dia akan meledak. “Ternyata dia tinggal di dekat sini dan mengenal Irene unnie. Sekarang dia sedang membantuku.”

“Bukankah ku bilang aku tidak suka jika melihatmu dengan laki-laki?” desis Jimin dingin. Saeron langsung menelan ludah. “Apalagi dengan laki-laki yang tidak kau kenal.”

“Tidak. Kami sudah berkenalan tadi hyung-nim dan ternyata kami seumuran.”Saeron menoleh kearah Jungkook, berharap dia menutup mulutnya dan pergi saja dari sini. Tapi pria itu justru terus bicara tanpa henti, “Tenang saja, hyung-nim. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang buruk. Ketika kau bekerja, aku akan menjaga Saeron.”

Saeron menutup matanya, tidak sanggup melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

Jimin melangkah maju mendekati Jungkook, menatap anak laki-laki itu tajam, “Menjaganya? Kau pikir aku tidak bisa menjaganya?”

“Tidak. Maksudku…”

“Jangan pernah datang kesini lagi.”tegas Jimin.

“Tapi, hyung-nim…”

“Pergi!”

“Pergilah.” Saeron berbisik sambil mendorong tubuh Jungkook. “Cepat.”

Jungkook menghela napas panjang. Wajahnya langsung berubah cemberut dan mau tidak mau dia meninggalkan tempat itu.

Setelah Jungkook benar-benar sudah menghilang, Saeron balik badan dan menghampiri Jimin. “Kenapa oppa mengusirnya? Dia kan hanya ingin membantuku.”omel Saeron kesal.

Jimin melirik tanah hitam yang berhamburan di lantai dan beberapa pot bunga yang ada di belakang Saeron. Pria itu meletakkan bungkus plastik yang di bawanya di atas dipan kayu lalu menggulung lengan kemejanya, “Oppa akan membantumu.”

“Oppa tidak suka melakukan hal-hal ini.”seru Saeron masih tidak terima karena Jimin telah mengusir seseorang yang bisa membantunya.

“Tapi oppa akan membantumu.”

“Oppa bahkan tidak bisa merapikan batang-batang bunganya. Apa oppa mau merusak bunga-bungaku?”

Jimin yang sudah berjongkok dan mulai memisahkan bunga-bunga dengan tanah hitam kembali berdiri menatap adik perempuannya itu sambil menghela napas panjang, “Apa kau mengenalnya dengan baik? Namanya, sekolahnya dan dimana dia tinggal. Kau tau?”

“Dia sudah memperkenalkan dirinya, namanya Jeon Jungkook. Dia tinggal di dekat sini.”

“Hanya itu, kan? Kau tidak tau bagaimana dirinya yang sebenarnya. Bagaimana jika dia memiliki niat jahat padamu?”

“Oppa bahkan tidak memberiku kesempatan untuk mengenalnya lalu bagaimana aku tau?” balas Saeron. “Apa oppa ingin aku hidup sendirian lagi seperti di China? Apa oppa ingin aku tidak punya teman sama sekali?”

“Sudah jelas anak itu menyukaimu.” Nada suara Jimin sedikit meninggi. Begitu tersadar, dia buru-buru menghela napas panjang untuk menenangkan dirinya sendiri. “Di dunia ini, tidak ada laki-laki yang bisa kau percaya. Pada akhirnya mereka akan menyakitimu.”

Saeron terdiam sambil menundukkan kepalanya. Kedua tangannya mengepal di samping tubuh, mengumpulkan sedikit keberanian, “Tapi aku mempercayai oppa.”cicitnya pelan. “Bahkan saat semua orang bilang jika oppa adalah orang jahat, aku tetap mempercayai oppa.”

Jimin tertegun.

Tidak. Ini bukan saat yang tepat untuk mempercayakan adiknya pada orang lain. Ini bukan saat yang tepat untuk membiarkan orang asing masuk ke dalam kehidupan mereka. Karena ia sudah berada dalam titik dimana dia merasa sangat sulit untuk mempercayai orang lain lagi. Mereka hanya akan di tinggalkan.

Jimin mengulurkan tangannya, mengangkat dagu Saeron dengan jarinya. Ia menatap mata dua mata adiknya itu lekat. Dengan penuh penyesalan dan permohonan maaf yang tak terdengar. Tapi, dia belum bisa merelakan.

“Satu-satunya orang yang menyukaiku hanya Daegu oppa tapi dia sudah tidak ada lagi.”lirih Saeron, balas menatap kakak laki-lakinya itu. “Jadi oppa tidak perlu khawatir. Tidak ada yang akan mencoba merebutku lagi.”

“Kau tidak mengerti.” Jimin menggeleng. Kedua telapak tangannya mengatup di pipi Saeron. “Aku memiliki rasa takut yang sangat besar tentangmu. Ada banyak kekhawatiran yang aku rasakan setiap kali aku tidak bisa melihatmu.”

Saeron sudah akan membuka mulutnya namun kecupan Jimin mendarat lebih dulu di puncak kepalanya lanjut dengan sebuah pelukan erat seakan dia takut akan kehilangannya.

Pelukan itu tidak lama. Hanya beberapa detik. Namun pelukan itu berdampak. Terasa dingin dan berbeda. Saeron menoleh ke belakang, mengikuti langkah kepergian Jimin. Dia tau ada sesuatu yang ingin di katakan Jimin namun dia tidak bisa melakukannya. Entah apa itu, tapi dia bisa merasakan jika kakaknya itu sedang menyimpan sesuatu.

Sebuah beban.

***___***

 

“Kenapa wajahmu murung seperti itu?” Irene menyambut kedatangan Jungkook yang langsung duduk di salah satu kursi dengan segelas air putih dingin. Bahkan dari balik jendela kaca, ia bisa melihat jelas bagaimana suramnya wajah Jungkook. Sama sekali tidak bersemangat. “Bukankah kau harusnya bahagia? Kau kan habis mengunjungi—“

“Apa kakak laki-lakinya juga akan tinggal disana?” Jungkook menegakkan tubuhnya dan meneguk airnya dalam sekali tegukan. Irene menatap adiknya itu terkejut sekaligus ngeri. Bagaimana mungkin dia bisa menghabiskan air dingin itu dalam sekali tegukan saja? Jungkook menghusap mulutnya dengan lengan lalu menatap Irene dengan pandangan kesal, “Dia sangat mengganggu! Aku hanya ingin membantu adiknya menanam bunga. Itu saja! Memangnya itu kejahatan? Memangnya wajahku terlihat seperti aku akan melakukan sesuatu yang buruk pada adiknya?”

“Siapa yang bilang seperti itu padamu?” Suara Hoseok terdengar. Entah darimana, pria itu tiba-tiba muncul dan duduk di hadapan Jungkook. “Siapa yang bilang jika kau adalah orang jahat?”

Jungkook mengacak rambutnya frustasi, “Seseorang.”

“Siapa? Biar ku peringatkan dia agar tidak bicara sembarangan tentang adikku.”

Irene memukul kepala Hoseok pelan membuat pria itu meringis, “Jangan sembarangan.”

“Kenapa noona memukulku?”aduhnya sambil menghusap-husap kepalanya.

Irene menggeser Hoseok dan kini duduk di hadapan Jungkook. Ia memajukan wajahnya sambil berbisik, “Sebenarnya aku juga sedikit tidak menyukai kakak laki-lakinya itu. Dia sangat dingin.”

“Benarkan? Tidak hanya aku yang berpikir seperti itu.”

“Ssst!” Irene menempelkan jari telunjuknya di bibir Jungkook. “Jangan keras-keras. Biar bagaimanapun aku harus menghormati semua orang yang menyewa di rumah sewaku. Apalagi dia adalah penyewa pertama.”

Jungkook langsung menghela napas panjang, “Tapi tetap saja noona. Aku kesal.”

“Jangan lupa dia adalah kakak laki-laki dari gadis yang kau sukai itu. Kau tidak bisa membencinya.”

“Permisi.” Hoseok mengetuk-ngetuk meja, meminta perhatian dari keduanya karena sejak tadi dia seperti tidak terlihat. Irene dan Jungkook menoleh bersamaan. “Apa aku ini hantu? Kalian tidak bisa melihatku?”dengusnya. “Aku juga ingin tau siapa yang sedang kalian bicarakan! Gadis yang Jungkook sukai? Siapa? Beritahu aku!”

Irene hanya berkecap sambil geleng-geleng kepala lalu beranjak dari duduknya dan melanjutkan pekerjaan.

“Noona… Irene noona…” panggil Hoseok namun tidak di perdulikan Irene. Ia mengalihkan pandangannya pada Jungkook, berharap dia akan menjawabnya namun Jungkook langsung berdiri,

“Aku sedang tidak mood, hyung. Aku pulang dulu.”

***___***

 

Jimin memasuki rumah utama dan langsung menghampiri Seulgi yang sedang sibuk berkutat di dapur. Sejak puding buatannya di puji semua orang, setiap hari dia selalu membuatnya. Setiap hari dengan berbagai rasa. Hari ini, dia akan membuat rasa mangga.

“Kenapa kau tidak membangunkanku kemarin?”tanya pria itu, begitu saja menjatuhkan diri di kursi makan sambil memandangi Seulgi yang sibuk berpindah-pindah.

“Oh, aku pikir kau sangat kelelahan jadi aku tidak tega membangunkanmu.”ucapnya tanpa menatap Jimin.

“Jika aku ketiduran lagi, kau harus membangunkanku.”

“Kenapa?”

“Aku sedang bekerja. Aku tidak boleh tertidur. Aku bisa di marahi jika nyonya besar mengetahuinya.”

Seulgi menghentikan kesibukannya dan akhirnya menoleh pada Jimin, “Walaupun kau sangat lelah, apa kau tetap tidak boleh tidur?”

Jimin menggeleng, “Tidak boleh.”

“Tapi kau juga manusia dan manusia butuh tidur.”balas Seulgi sambil menghela napas panjang. “Aku sering sekali melihatmu berpindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa tidur. Setelah tugasmu di rumah ini selesai, kau akan menemuinya dan setelah itu kau akan bertugas lagi. Aku tau kau sangat kelelahan jadi aku membiarkanmu tidur. Apa kau tetap akan di marahi? Kau kan sudah mengerjakan semua perintahnya.”

Jimin hanya diam mendengar kalimat panjang lebar yang di ucapkan gadis itu sambil sebisa mungkin menahan diri untuk tidak tertawa. Wajahnya sangat serius tapi dia terlihat lucu.

“Jimin.”panggil Seulgi. Ia menatap Jimin kesal karena pria itu seperti sedang mengejeknya.

“Apa?”

“Kau tidak mendengarkanku, ya?”

“Aku mendengar.”jawab Jimin tersenyum.

“Bohong!”balas Seulgi langsung cemberut. “Kau benar-benar menyebalkan!” Gadis itu balik badan namun dengan cepat tangan Jimin menyambar lengannya, membuat gadis itu menghadapnya lagi.

“Ayo ikut aku.”

“Huh?”

Tidak menunggu jawaban Seulgi. Jimin menarik lengannya, membawa gadis itu pergi.

***___***

 

“Kita mau kemana?”tanya Seulgi sejak tadi namun tidak di jawab oleh Jimin. Gadis itu menarik tangan Jimin membuat pria itu menoleh ke belakang. “Tunggu. Apa kita mau pergi ke asrama penjaga? Bukankah aku tidak boleh pergi kesana?”

Jimin menjawab pertanyaan Seulgi itu dengan senyuman lebar. Kembali menarik lengannya. Di belakang Jimin, Seulgi mengikuti langkah-langkah cepat Jimin setengah berlari. Dengan perasaan bingung yang terpaksa di tahannya karena Jimin tidak memberitahunya sama sekali kemana tujuan mereka.

Jimin membuka sebuah ruangan yang terletak di ujung lantai dua. Tempat yang di penuhi layar-layar CCTV, tempat dimana Jimin biasanya memperhatikan Seulgi sebelum mengenalnya.

“Tempat ini…”

“Sebelumnya ini adalah tempat kerjaku.”seru Jimin sebelum Seulgi bertanya. “Karena kau sangat sulit untuk di dekati waktu itu jadi aku memperhatikanmu dari sini.”

“Bukankah kau melakukannya di taman bunga yang ada di bawah kamarku?”

“Yah, aku juga memperhatikanmu dari sana.” Jimin tersenyum. “Sekarang aku baru menyadari jika aku banyak memperhatikanmu.” Pria itu tertawa sambil menggaruk tengkuk belakangnya. “Tapi bukan tempat ini yang ingin ku tunjukkan padamu.”

Kening Seulgi berkerut, “Huh?”

Jimin tersenyum penuh arti. Ia mengulurkan tangannya yang langsung di sambut oleh Seulgi. Entah sejak kapan keduanya merasa nyaman setiap kali bergandengan tangan, Mereka sama-sama tidak menyadarai hal itu.

Ada sebuah pintu kecil di ujung ruangan yang ternyata terhubung langsung dengan balkon atap bangunan itu. Balkon yang tidak begitu besar karena sebelumnya di gunakan para pengawal sebagai tempat merokok atau melepas menghirup udara segar.

Jimin menurunkan telapak tangannya yang menutupi mata Seulgi sementara gadis cantik itu perlahan-lahan membuka kedua matanya, Pemandangan yang bisa di lihat dari tempat itu lebih luas serta lebih jelas dari balkon kamarnya. Betapa banyaknya bangunan tinggi di kota Seoul, banyaknya kendaraan yang memenuhi jalan raya dan lampu-lampu yang menerangi kota. Seulgi melangkah mundur, menjauhi pagar pembatas namun punggungnya menabrak dada Jimin yang berdiri di belakangnya.

Ini terlalu mendadak baginya, membuatnya tiba-tiba sulit bernapas. Bagaimana dia menyadari jika dunia itu terlalu besar dan terlalu menakutkan untuk dirinya yang begitu kecil. Bersamaan dengan kenangan-kenangan menyakitkan masa kecilnya ketika dia di sembunyikan dan di pisahkan dari ayahnya.

Seulgi balik badan, ingin bergegas pergi namun tubuh Jimin menghalanginya.

“Minggir. Aku ingin pergi. Minggir.”seru Seulgi mulai panik.

Jimin menunduk menatap gadis itu, “Tidak. Kau tidak boleh pergi.”

“Minggir! Jimin! Minggir!” Seulgi berusaha mendorong tubuh Jimin dengan memukulnya.

Jimin menarik gadis itu dalam dekapannya, memeluknya erat karena bisa di rasakannya jika tubuhnya bergetar hebat. “Aku ada disini. Jangan takut.”bisiknya. “Tidak akan ada yang membawamu pergi. Tidak akan ada yang menyakitimu lagi. Aku akan melindungimu.”

***___***

 

Jimin menarik sofa bekas yang tidak terpakai lagi ke bagian tengah lalu mempersilahkan Seulgi duduk sesudah memastikan jika sofa itu masih bisa di duduki. Ia kemudian membuka blazer hitamnya dan menyampirkannya ke pundak gadis itu karena angin semakin lama semakin berhembus kencang.

Seulgi sudah sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Sudah berani menatap ke depan, kearah lalu lintas yang mulai sepi walaupun sesekali ia masih memejamkan matanya. Tapi keadaannya sekarang sudah jauh lebih baik.

Jimin tersenyum geli melihat jejak-jejak air mata yang masih tertinggal di wajah Seulgi, “Apa kau tau jika di luar sana ada banyak makanan enak? Seperti ice cream dan ddokbukkie.” Jimin memulai ceritanya sambil menatap ke arah jalan raya.

“Aku sudah pernah memakan keduanya ketika aku masih kecil.”

“Apa kau masih ingat bagaimana rasanya?”

Seulgi terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya menggeleng, “Sudah terlalu lama.”

“Aku ingin makan ddokbukkie tapi aku tidak punya teman.”

“Kau kan bisa makan dengan adikmu.”

“Aku tidak bisa mengajak adikku jalan-jalan tengah malam karena dia harus pergi ke sekolah. Lagipula akan lebih menyenangkan jika aku pergi bersama dengan temanku.”

“Kalau begitu kau bisa mulai mencari teman.”

Jimin tertawa. Ia mengalihkan tatapannya menatap Seulgi, “Apa kau sama sekali tidak mengerti? Atau hanya berpura-pura tidak mengerti?”

Seulgi juga menoleh, balas menatap Jimin, “Apa kau ingin mengajakku?”tanyanya. Jimin mengangguk, “Kau pasti sudah gila.”

“Kenapa?”

Seulgi menggelengkan kepalanya, “Tidak mau.”

“Sudah ku bilang kau tidak perlu takut, Ada aku.”

“Appa juga bilang begitu waktu itu tapi appa meninggalkanku pada akhirnya.”

“Tapi aku kan bukan appa-mu.”

“Tidak!”

“Lalu… apa kau mau selamanya berada disini?”tanya Jimin. “Kau mau menjadi tawanan seumur hidupmu? Kau bilang kau ingin bebas, kan?”

Seulgi terdiam. Kesepuluh jarinya saling bertaut, “Tapi…”

“Ada banyak hal menyenangkan yang bisa kau temukan di luar sana, Tuan Putri. Kau pasti akan takjub melihatnya.”

***___***

 

Hari sekolah akhirnya tiba.

Berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya, pagi itu Jungkook sudah berdiri di depan cermin untuk memeriksa penampilannya. Menyadari jika kali ini dia akan pergi ke sekolah Korea dan memakai seragam membuatnya bersemangat. Akhirnya, dia akan bertemu dengan teman-teman yang berbicara dalam bahasa yang sama dengannya. Setidaknya sekarang mencari teman bukan lagi hal yang sulit.

“Kau sudah siap?”tanya Taehyung mengintip ke dalam kamar. “Waah, kau lumayan keren juga.”siulnya menggoda. Jungkook hanya terkekeh sambil membenarkan kerah kemejanya. “Cepat, sarapannya sudah siap.”

“Baik hyung.”

Pagi itu benar-benar terasa spesial bagi Jungkook karena semua orang mengurusinya. Namjoon bahkan bangun sangat pagi untuk menggosok seragam Jungkook, juga Yoongi dan Hoseok yang bekerja sama untuk menyiapkan sarapan sementara Taehyung merapikan peralatan sekolahnya. Hari itu, Jungkook adalah Raja.

“Ingat. Bertemanlah dengan anak-anak yang tidak suka mencari keributan dan jangan memukul temanmu.”

Jungkook langsung mendengus mendengar nasihat tuan Jeon itu, “Apa aku ini anak TK?”

“Kau memang anak TK, kan?”balasnya cepat membuat Jungkook semakin menggerutu,

“Jeon Jungkook, jangan lupa cari gadis yang paling cantik di sekolah dan lupakan gadis boneka itu.”seru Hoseok.

Jungkook hanya tersenyum sambnil menunjukkan ibu jarinya lalu pergi meninggalkan rumah. Bagaimana mungkin Hoseok memintanya untuk melupakannya saat dia tidak tau bagaimana caranya. Bahkan selama dua hari ini, yang ada di pikirannya hanya Saeron.

Jika saja kakak laki-lakinya itu mau membuka hatinya sedikit.

Jungkook menghela napas panjang. Kebahagiaannya hanya bertahan selama beberapa saat dan sekarang dia kembali lesu. Ketika dia pikir sekolah mampu membuatnya melupakan Saeron, ternyata dia salah.

Jungkook mengacak rambutnya kesal, “Issh, benar-benar menyebalkan.”umpatnya.

Jungkook melompat turun dari bus yang ia tumpangi, bergabung ke dalam kerumunan anak-anak seumurannya menuju sekolah. Ada beberapa murid yang terlihat lebih tua dan lebih percaya diri, sudah jelas mereka adalah murid tingkat senior. Juga ada beberapa murid yang terlihat sangat lugu dan masih terlihat seperti anak kecil, mereka adalah murid-murid kelas 1.

Ketika langkahnya mulai memasuki koridor sekolah, beberapa murid yang ada di sana langsung menoleh memperhatikan Jungkook. Mungkin karena wajahnya terlihat asing namun tidak cukup lugu jika di bandingkan seperti anak kelas 1. Jungkook berdehem kecil, berusaha tetap tenang walaupun ia sedikit risih dengan tatapan itu.

Ketika pada akhirnya ia masuk ke dalam kelasnya, ia kembali merasa risih karena ruang kelas seketika menjadi hening. Jungkook menghela napas panjang dan memutuskan untuk duduk di kursi yang ada di paling belakang dekat jendela kaca.

“Kau anak baru?”sapa seorang murid laki-laki menghampiri Jungkook.

Jungkook memandangi anak laki-laki bertubuh tinggi dan berkulit gelap itu selama beberapa detik sebelum mengangguk, “Yeah.”

“Aku Kim Mingyu, aku adalah ketua OrganisasI Siswa sekolah ini.”

“Oh, aku Jeon Jungkook. Murid baru pindahan dari—“

“Mingyu!” Tiba-tiba seorang murid lain memanggil Mingyu, memutus percakapan mereka. “Jackpot! Kita berada dalam kelas yang di berkati! Bravo! Bravo!”

“Apa yang terjadi?”

“Kita akan mendapat teman baru!”

“Iya, aku sudah tau. Dia kan?” Mingyu menunjuk Jungkook.

“Bukan dia tapi seorang gadis!”

Seulas senyum tercetak di bibir Mingyu, “Sungguh?”

“Dia sangat cantik! Benar-benar cantik!”

Kening Jungkook ikut berkerut. Dia pikir dia adalah satu-satunya murid baru. Namun begitu seorang gadis memasuki kelas – yang langsung membuat para murid laki-laki terperangah – mata Jungkook langsung terbelalak lebar. Mulutnya terngaga tak percaya.

“Saeron?!”

TBC

 

 

 

 

Iklan

3 thoughts on “The Demians part 12

  1. Ros97 berkata:

    Ahh,, kuraaaang panjang..
    Padahal lagi seru* nya thor,,
    ahaha jimin galak sekali,
    susah ngebayangin jimin jadi galak kya gitu..:D:D
    Akhirnya moment yang ditunggu terjadi juga.:D
    … Saeron sama jungkook sekelas,,:)

  2. Shirayuki berkata:

    Akhirnya diupdate !!
    Yeah Jungkook Saeron satu kelas !!
    Dipastikan Saeron aman ditangan Jungkook selama disekolah !!
    Daebak !
    JiminxSeulgi mulai masuk tahap seru nih..
    Ditunggu next chapternya.

  3. sakurahaibara berkata:

    Laaaa tbc nya kok pas gitu duhhh
    Ayo kanjut thor sumpah penasaran gimana itu nanti ahhh jungkook saeron daegu busan seulgi irene wkwkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s