Crazy Without You Part 27

Crazy Without You

Author   : Ohmija

Cast  : Donghae SJ, Yoona SNSD, Sehun EXO

Support Cast    : The Rest members SUJU, SNSD, EXO

Genre : Romance, Family, Friendship, Comedy

Dalam hidupnya, dia tidak pernah berlari sekencang ini. Dia tidak pernah berlari sampai rasanya ia ingin muntah dan jantungnya akan melompat keluar. Dia meninggalkan dunia di belakangnya, tidak memperdulikan orang-orang yang memotretnya karena syal yang tak lagi menutupi wajahnya. Dia tidak perduli.

Kesadarannya seperti menghilang, meninggalkan jiwanya. Karena sesuatu yang telah menghilang bertahun-tahun lalu akhirnya di temukan. Sesuatu yang paling berharga. Berliannya.

Kedua kakinya langsung meluruh begitu pintu berhasil terbuka. Serta nyaris muntah karena perutnya menggurak hebat.

Donghae meraih gagang pintu, menjadikannya tumpuan agar ia bisa berdiri. Pria itu menutup pintu yang ada di belakangnya dan tertatih menghampiri anak laki-laki yang sudah terlelap di ranjang tidur.

Tenggorokannya terasa cekat. Mendadak tak bisa bicara. Ia menelan ludah susah payah sambil berkali-kali meyakinkan dirinya jika semua ini bukanlah mimpi. Kenyataan ini bukanlah sekedar ilusi atas harapan dan doa-doa yang selalu ia panjatkan.

“Ahjussi?” Sehun menarik dirinya duduk sambil menghusap-husap matanya begitu menyadari kehadiran seseorang. “Ahjussi datang? Dimana–”

Donghae menarik Sehun ke dalam dekapannya tiba-tiba. Memeluknya sangat erat seakan dia tidak akan membiarkannya pergi lagi. Tangisan tertahan yang selama ini selalu ia pendam akhirnya tumpah keluar.

“Anakku…”isak Donghae di pundak Sehun. “Anakku…”

“Ahjussi…”

“Terima kasih karena kau telah kembali. Terima kasih karena kau tumbuh dengan sehat. Terima kasih.”

***___***

 

Sudah pukul 12 malam namun Yoona masih duduk di salah satu kursi taman. Wajahnya masih basah dan kedua matanya masih terlihat sembab. Namun, dia tidak menyesal sama sekali.

Dia tau dan dia sadar dia akan kehilangan keduanya. Dia akan kehilangan Sehun dan Donghae. Tapi di sisi lain, dia juga tau jika Sehun tidak pernah jadi miliknya sejak awal. Dia bukan anaknya. Dia adalah anak orang lain.

Tapi tidak bisa di pungkiri betapa hatinya terasa pedih memikirkan apa yang akan dia lakukan di masa depan. Bagaimana ia menjalankan hari-hari tanpa Sehun. Tanpa rengekan dan sikap manisnya.

Yoona menghusap air matanya yang kembali jatuh. Kenapa rasanya perpisahannya dengan Sehun terasa sangat menyakitkan? Bahkan setelah dia berusaha keras untuk menguatkan dirinya sendiri, pertahanannya kembali runtuh setiap kali ia mengingat Sehun.

Dia telah mengabaikan semua cibiran dan prasangka buruk. Dia tidak perduli ketika orang-orang menganggapnya wanita yang hamil di luar nikah. Dia tidak perduli semua tanggapan buruk orang-orang terhadapnya.

Karena membesarkan dan hidup bersama dengan Sehun telah menumbuhkan rasa kasih sayang itu tanpa sadar. Kasih sayang seorang ibu.

Hiduplah dengan baik, anakku. Eoma mencintaimu.

***___***

 

Sehun membaca isi buku diary itu dengan mulut ternganga dan mata terbelalak maksimal. Wajahnya memucat. Mendadak kehilangan seluruh tenaganya.

“Tidak mungkin…”lirihnya. Tangannya yang memegang buku diary itu melunglai. Menjatuhkan buku itu sendiri ke pangkuannya.

Donghae menghusap air matanya, “Apa kau mengerti apa isi buku itu?”

Sehun mengalihkan pandangannya pada Donghae. Menatap pria itu dengan wajah yang mulai memerah, menahan tangis, “Aku harap aku tidak mengerti.”serunya dengan suara bergetar. “Aku…”

“Anakku…” Donghae menghusap kepala Sehun lembut. “Apa kau tau sudah berapa lama appa menunggumu?”tanyanya. “Apa kau tau appa telah melewati hari-hari sulit tanpamu?” Ia menelan ludah susah payah. “Setiap hari, appa selalu mendoakanmu. Rasanya sulit untuk mempercayai jika kau telah tiada. Karena appa masih bisa merasakan kehadiranmu. Karena appa yakin kau masih ada disini. Dan ternyata appa benar. Tuhan telah menjawab semua doa-doa appa dan mengembalikanmu. Akhirnya kau kembali.”

Sehun menggeleng pelan, pada akhirnya air matanya ikut menetes, membentuk sungai kecil di pipinya, “Tapi selama ini aku hidup bersama eoma.”

“Tidak. Eoma sudah meninggal setelah melahirkanmu. Dia bukan—“

“Aku mau eoma.”potong Sehun terisak. “Ahjussi, dimana eoma-ku?”

“Sehunnie, dia bukan—“

“Dia adalah eoma-ku!” Sehun menggeleng kuat-kuat sambil menutup kedua telinganya. “Aku tidak mau dengar apapun. Aku mau eoma!”

“Sehunnie…”

“Aku tidak perduli masalah orang dewasa dan aku tidak mau mengerti! Eoma adalah eoma-ku!”

“Sehunnie, tapi kau adalah anakku. Kau sudah mengetahui yang sebenarnya.”

“Lalu…? Jika aku telah mengetahui semuanya, apa ahjussi akan menyuruhku untuk melupakan eoma?”isak Sehun. “Apa aku harus meninggalkannya?”

“Karena dia bukan ibumu!”

“TIDAK! AKU TIDAK MAU!”teriak Sehun membuat Donghae langsung terdiam. “Aku sudah berjanji tidak akan meninggalkan eoma. Aku tidak akan meninggalkannya apapun yang terjadi.” Anak itu menepis selimutnya dan melompat turun dari ranjang tidur. “Dimana eoma? Dia tidak membawa syalnya dia pasti kedinginan.”

“Sehunnie.” Donghae mencekal kedua bahu anak laki-laki itu. “Apa kau tidak bisa melihat appa? Apa kau tidak merasa kasihan melihat appa seperti ini?!”

“Kau bukan appa-ku.” Sehun menatap Donghae tepat di manik matanya. “Aku tidak punya appa.” Anak laki-laki itu menepis cekalan tangan Donghae di pundaknya lalu meraih jaketnya yang tersampir di atas sofa. Kedua kakinya melangkah pergi, meninggalkan Donghae yang seketika membeku di tempatnya. Setelah ia memberikan pukulan telak tepat di dada pria itu.

***___***

 

Kaki kecilnya terus melangkah walaupun ia tidak tau dimana ia berada sekarang. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan, mencari-cari sosok ibunya. Ia semakin merapatkan jaketnya karena angin berhembus semakin kencang bersamaan dengan uap asap yang keluar saat dia menghembuskan napas.

Udara terasa sangat dingin tapi dia belum menemukan dimana ibunya.

Sehun menghentikan langkahnya sambil mendesah panjang. Rasa kantuk dan lelah menyergapnya bersamaan. Jika saja ini Korea, mungkin ia bisa dengan mudah menemukan dimana ibunya. Tapi ini adalah Jepang, dia bahkan belum pernah jalan-jalan berkeliling di tempat ini.

Namun ketika matanya tanpa sengaja menangkap punggung seseorang yang berjalan menjauhinya, punggungnya kembali menegak. Sehun berlari menghampiri wanita itu dan menarik lengannya, membuat wanita itu menoleh ke belakang.

“Eoma!”

“Huh?” Namun ketika wanita itu berbalik, ternyata dia adalah orang lain.

“Maafkan aku.” Ia bicara dalam bahasa Korea sambil membungkukkan tubuhnya lalu buru-buru pergi.

Anak laki-laki itu mengacak rambutnya, nyaris kembali menangis karena dia tidak bisa menemukan ibunya dimanapun.

Dan untuk yang kesekian kalinya, matanya kembali menangkap sosok seseorang di sebrang jalan. Wanita itu terlihat seperti ibunya. Caranya berdiri dan caranya berjalan. Dia juga memakai pakaian yang sama ketika mereka pergi tadi.

Tidak salah lagi. Dia ibunya.

Sehun berlari menuju zebra cross. Ia terjerembap ke belakang karena terkejut, menghindari sebuah mobil yang tiba-tiba melintas di depannya. Pengemudi mobil itu memaki dalam bahasa Jepang sambil berlalu sementara Sehun meringis kesakitan memegangi lututnya yang berdarah.

“Kau tidak apa-apa?”tegur seorang wanita yang juga akan menyebrang.

“I’m okay.”jawab Sehun walaupun ia tidak mengerti ucapan wanita itu.

Ketika lampu berubah merah. Sehun buru-buru berdiri dan berjalan menyebrangi zebra cross dengan langkah-langkah panjang namun pincang. Uratnya terasa seperti ditarik-tarik membuatnya kesulitan berlari.

Sehun menoleh ke kiri dan ke kanan karena wanita itu tiba-tiba menghilang. Ia menajamkan pandangannya dan menyebar ke segala arah.

“Eoma… eoma…”gumamnya mulai panik. Anak laki-laki itu kembali berjalan cepat, menerobos kerumunan orang-orang. Berulang kali memanggil-manggil ibunya dalam gumaman. “EOMA!” Hingga akhirnya ia menemukan sosok itu sedang berjalan di depan. Tak jauh di depannya.

Langkah wanita itu terhenti seketika begitu mendengar suara Sehun. Ia menoleh ke belakang dan mendapati anak itu sudah berdiri di sana, sedang menatapnya sambil menangis.

“Eoma…” Sehun mulai terisak.

Wanita yang ternyata adalah Yoona itu menelan ludah susah payah. Kedua matanya melebar melihat lututnya yang berdarah namun sebisa mungkin ia menahan dirinya untuk tidak berlari kesana dan memeluk anak itu.

“Kenapa kau ada disini?”

“Kenapa eoma meninggalkanku?” Sehun balas bertanya. “Kenapa eoma tiba-tiba pergi?”

“Aku bukan ibumu.”

“Kenapa semua orang bilang eoma bukanlah ibuku? Kenapa?!”

“Jangan mencariku lagi. Mulai sekarang kau tinggal dengan ayahmu.”seru Yoona, air matanya menetes bersamaan dengan kalimat itu.

“Jika eoma bukan ibuku, lalu kenapa eoma khawatir saat aku sakit? Kenapa eoma memasak untukku saat aku lapar? Dan kenapa eoma memarahiku saat aku tidak mengerjakan pekerjaan rumah?”

Yoona memandangi anak laki-laki itu dengan pandangan nanar. Dia sendiri gagal mempertahankan tangisnya. Hatinya benar-benar terasa sesak. Sehun bukanlah anak yang mudah mengeluarkan air mata, jika menangis itu artinya dia benar-benar merasa sedih. Dan sekarang anak itu menangis karena dirinya.

“Eoma bilang eoma tidak bisa hidup tanpaku. Eoma bilang kita akan pergi piknik dan bersepeda bersama saat akhir pekan. Eoma juga memintaku berjanji untuk tidak meninggalkan eoma. Aku berjanji! Lalu kenapa eoma yang pergi meninggalkanku?! KENAPA?!”

Hati Yoona semakin terasa pilu, “Sehunnie, hentikan… oke? Sudah cukup.”

“Aku tidak mau tinggal dengan orang lain. Aku tidak mau! Dia bukan appa-ku! Aku tidak punya appa!”

“Sehunnie…”

“Jangan tinggalkan aku eoma. Aku berjanji aku akan jadi anak yang baik. Aku akan membuka kaus kakiku setelah aku bangun tidur. Aku tidak akan begadang semalaman. Dan aku tidak akan sering pergi keluar untuk bermain bola lagi. Aku akan menuruti semua perintah eoma. Tapi jangan tinggalkan aku. Aku mohon.”

Yoona mencengkram dadanya kuat-kuat. Tenggorokannya terasa sakit hingga ia tidak bisa mengeluarkan suara. Tangisnya pecah. Ia terisak. Karena ia tau jika ia sudah menyakiti anak laki-lakinya itu. Karena ia melihat bagaimana kesedihan itu.

“Aku mohon, eoma.”

Setelah selesai mengucapkan kata-kata itu. Sehun tiba-tiba meluruh jatuh. Yoona sontak terperangah dan langsung berlari menghampirinya. Di peluknya kepala anak itu sambil mengguncang tubuhnya.

“Sehunnie.”panggilnya. “Sehunnie.” Ia memukul-mukul pipi Sehun pelan. “Sehunnie, kau kenapa? Sehunnie!”

***___***

 

“Dimana Sehun? Bagaimana keadaannya?” Donghae langsung menghampiri Yoona setelah wanita itu menghubunginya dan mengatakan jika Sehun tiba-tiba pingsan.

Yoona hanya diam sambil menunduk. Kedua matanya sembab karena terus menangis menunggu hasil pemeriksaan. Tak lama, dokter keluar.

“Dia hanya dehidrasi. Sepertinya anak ibu tidak terbiasa dengan cuaca dingin sehingga tubuhnya langsung lemah. Kami sudah menanganinya tapi sebaiknya biarkan dia tidur lebih lama.”

Donghae mengangguk, “Terima kasih, dokter.”

“Kami sudah memindahkannya ke ruang perawatan. Kalian bisa menjenguknya sekarang.”

Pria itu mengangguk lagi, “Terima kasih.”

Ketika dokter pergi meninggalkan mereka berdua. Keheningan pekat langsung menjadi teman keduanya. Yoona menghindari tatapan Donghae sementara Donghae tidak bisa berkata-kata. Namun satu yang ia tau, wanita ini telah banyak menangis.

“Ada banyak yang memperhatikan, kau lupa memakai syalmu.”seru Yoona terdengar kikuk. “Aku akan berada disini sampai Sehun di perbolehkan pulang agar tidak ada yang salah paham.”

Donghae tertegun. Bahkan wanita itu masih berkorban setelah apa yang di lakukannya tadi.

Ia mengangguk, “Baiklah.”

Keduanya pindah ke ruang perawatan Sehun. Sebuah ruang VIP untuk melindungi privacy mereka. Sehun masih tertidur pulang. Anak laki-laki itu terpaksa di infus karena kehilangan banyak cairan.

Di sisi kanannya, Yoona terus menggenggam tangan Sehun sambil sesekali menciuminya. Sementara di sisi lain, sisi yang berhadapan dengan Yoona, Donghae duduk dalam diam, terus memandangi wajah anak laki-lakinya yang telah lama menghilang itu.

“Dia sangat takut dengan jarum suntik.” Yoona berseru akhirnya, memecah keheningan. “Aku yakin dia pasti akan menangis jika dia tau tangannya di cucuk jarum infus.”

“Apa sebelumnya dia pernah di rawat di rumah sakit?”

“Hanya satu kali, saat itu umurnya masih 7 tahun. Dia demam setelah seharian bermain bola. Saat itu, sambil menangis ia bilang jika dia tidak akan sakit lagi karena dia tidak mau di suntik.”

Donghae tertawa kecil, “Dia mirip sepertiku. Aku juga tidak suka jarum suntik.”

“Karena biar bagaimanapun, dia adalah anakmu. Dia pasti mirip sepertimu.”ujar Yoona tersenyum.

Donghae tertegun menatap senyum itu, “Kau pasti sudah melewati banyak kesulitan karena membesarkannya.”

“Tidak sama sekali.” Yoona menggeleng. “Orang-orang mengatakan sangat sulit membesarkan seorang anak. Tapi Sehun adalah anak yang baik. Dia makan dan tidur dengan baik. Dia bahkan tidak pernah protes ketika aku harus sering menitipkannya pada Sooyoung unnie karena sibuk bekerja. Yah, walaupun sesekali ia menggerutu karena kita tidak pernah piknik bersama. Tapi, dia selalu menuruti apapun yang ku ucapkan. Dia sama sekali tidak merepotkan.”jelas Yoona tertawa mengenang itu.

“Dia memang mirip sepertiku.”

Yoona tertawa mendengus, “Yah, kau memang anak yang baik, Donghae-ssi.”

Keduanya lalu sama-sama tertawa.

“Aku ingin menjadi ayah yang baik untuknya. Aku ingin menebus semua waktu yang telah hilang bersamanya. Tapi sepertinya itu akan menjadi hal yang sulit. Dia membenciku.”

“Dia pasti terkejut karena ini terlalu mendadak untuknya. Tapi percayalah, jika kau menjelaskannya secara perlahan, dia akan mengerti.”

Donghae tersenyum, “Aku tidak tau apakah aku harus marah atau justru berterima kasih padamu.” Ia menatap Yoona lurus. “Aku tidak tau bagaimana perasaanku sekarang.”

Yoona terdiam sejenak, “Aku minta maaf atas semuanya. Aku tidak bermaksud—“

“Eoma…” Ucapan Yoona terpotong karena Sehun tiba-tiba mengerang. Yoona dan Donghae langsung berdiri.

“Ya sayang? Kau ingin sesuatu?”

“Eoma, aku ingin minum.”

“Minum?” Donghae dengan sigap menumpah air mineral yang ada di atas meja kecil di samping ranjang Sehun kemudian memberikannya pada Yoona setelah ia membantu Sehun duduk.

“Apa kau mau makan sesuatu? Kau mau minum susu?”tanya Yoona sambil mengembalikan gelas air pada Donghae.

“Tidak.” Sehun menggeleng, kembali berbaring di ranjangnya. “Aku dimana? Apakah ini rumah sakit?”

“Kau tiba-tiba pingsan tadi.” Angguk Yoona. “Kau tau jika kau alergi dingin tapi kau justru jalan-jalan dengan piyama dan jaket saja.”

“Itu karena aku mencari eoma.”cicit Sehun pelan sambil menunduk. Kemudian ia mengalihkan tatapannya pada Donghae, “Ahjussi…”

Donghae mendongak, “Hm?”

“Aku minta maaf karena aku sudah keterlaluan tadi. Aku pasti sudah membuat ahjussi sedih. Maafkan aku.”

“Kau tidak bersalah. Tidak perlu minta maaf.” Donghae tersenyum sambil menghusap kepala Sehun. “Semuanya memang begitu mendadak. Kau pasti sangat terkejut.”

“Jika bisa, bolehkah aku minta satu permintaan pada ahjussi?”

“Tentu. Apa itu?”

Sehun terdiam sejenak, “Aku mengerti maksud isi diary itu. Aku sangat paham semua hal yang di tulis oleh harmoni. Walaupun aku mengelak, kenyataannya aku adalah anak ahjussi. Aku akan mencoba menerima itu perlahan. Tapi… aku tidak bisa meninggalkan eoma…” ia menggeleng. “Tidak perduli jika dia adalah eoma-ku atau bukan, aku tidak bisa meninggalkannya. Lagipula aku sudah berjanji untuk tidak pergi kemanapun.”

“Sehunnie, kita bisa membicarakan hal itu nanti.”sahut Yoona.

“Tidak. Aku tau eoma akan pergi lagi jika keadaanku membaik.”balas Sehun cepat.

“Sehunnie…” Yoona kehilangan kata-kata. Tertegun karena ternyata Sehun mengerti dirinya dengan baik.

“Ahjussi, aku tidak mengerti tentang masalah kalian. Aku tidak tau apa yang terjadi di antara kalian hingga kalian bertengkar. Aku terus berpikir jika semua itu karena aku. Karena aku meminta ahjussi untuk menikahi eoma.”

“Tidak, Sehunnie. Bukan karena itu. Lagipula kami tidak bertengkar. Lihat, kan? Kami berdua duduk disini menjagamu bersama-sama.”ujar Donghae berbohong.

Sehun tersenyum, “Sooyoung imo pernah memberitahuku, dia bilang aku dan ahjussi sangat mirip karena kita sama-sama menyayangi eoma. Aku pikir itu benar.” Sehun semakin melebarkan senyumannya. “Jadi, bagaimana jika kita berdua tetap berada di tempat kita? Di samping eoma. Karena jika kita pergi, aku pikir eoma akan menangis.”

Yoona menunduk. Menghusap air matanya yang kembali jatuh. Sementara di depannya, Donghae menatap wanita itu dalam diam. Tertegun. Semuanya tidak semudah itu, Sehunnie.

“Eoma menangis lagi…” Sehun mendesah panjang begitu melihat wajah ibunya yang sudah basah.

“Sudah eoma bilang jangan tumbuh terlalu cepat! Kenapa sekarang kau bicara seperti orang dewasa?”tangis Yoona. Namun di balik air matanya, Yoona tersenyum, “Bolehkah eoma memelukmu?”

“Akhir-akhir ini eoma sering memelukku.”

“Kenapa? Kau tidak suka?”

Sehun tersenyum lebar, menunjukkan gigi kelincinya sambil membuka kedua tangannya. Yoona balas tersenyum sebelum akhirnya mencium puncak kepala anak itu dan memeluknya. Donghae menatap keduanya dengan senyum haru. Sekarang dia semakin mengerti. Yoona menyayangi Sehun seperti anaknya sendiri. Terlalu tulus bahkan hampir menyerupai kasih sayang seorang ibu.

“Appa, kenapa appa hanya diam?”

Donghae seketika terkejut. Sehun tersenyum sambil mengulurkan tangannya pada Donghae.

“Appa…” lirihnya terharu.

Satu kata yang telah hilang dari hidupnya. Satu kata yang selalu ia rindukan selama bertahun-tahun ini.

Donghae menghusap air matanya lalu tersenyum dan berpindah duduk ke sisi ranjang Sehun. Kedua tangannya merentang, memeluk Yoona dan Sehun dalam dekapannya.

Tidak ada yang lebih membahagiakan dari ini. Bahkan hal sederhana ini mengalahkan kebahagiaannya saat dia memenangkan penghargaan besar, Dia telah kehilangan satu orang dalam jangka waktu yang lama. Dia telah melewati banyak rasa sakit karena hal itu. Tapi kini orang itu kembali. Tidak sendiri namun membawa orang lain yang juga ia cintai.

Terima kasih, Tuhan. Tidak ada kata lain yang bisa di ucapkan selain itu.

***___***

 

Donghae terbangun ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Ia menggeliat, dengan mata yang masih menyipit, ia merogoh sakunya mengambil ponsel.

“Yaeoboseyo.”serunya dengan suara yang masih berat.

“Kau dimana? Kenapa tidak memberi kabar? Siang ini kita punya schedule di Osaka.”

“Oh Tuhan.” Donghae menepuk keningnya, kedua matanya mendadak terbuka lebar. “Aku lupa.”

“Manager hyung mencarimu sejak semalam.”

“Ada sesuatu yang telah terjadi. Aku akan menjelaskan padamu nanti. Tapi, aku belum bisa kembali ke hotel sekarang.”

“Apa? Kenapa? Ya! Jangan membuat ulah!”

“Aku akan mengabarimu secepatnya, oke? Ku tutup.”

Donghae mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Juga menonaktifkan ponselnya agar tidak ada yang bisa menghubunginya lagi.

“Apa yang terjadi?” Yoona terbangun karena mendengar suara Donghae.

Donghae mendesah panjang, “Aku harus pergi siang ini. Ada schedule yang harus ku hadiri.”

“Eumm… pergilah. Aku akan berjaga disini. Lagipula sepertinya Sehun sudah baik-baik saja. Jangan khawatir.”

Donghae memandang Yoona dengan wajah muram, “Aku baru saja menemukan anakku setelah bertahun-tahun. Aku tidak mau pergi.”

“Kau bisa bertemu lagi dengannya setelah schedule-mu selesai.”

Donghae menggeleng, “Aku sangat bahagia. Benar-benar bahagia. Aku tidak mau kebahagiaan ini menghilang. Seperti yang ku katakan, aku ingin menjadi ayah yang baik. Aku ingin menghabiskan banyak waktu bersamanya.”

“Aku mengerti. Tapi—“

“Yoona-yah…” Donghae mengulurkan tangannya, meraih tangan Yoona dan menggenggamnya erat. “Aku tidak tau darimana harus memulainya. Tapi aku ingin minta maaf. Kau telah membesarkan anakku dengan sangat baik. Kau menyayanginya dan mengorbankan masa mudamu demi dia. Semua ini bukan salahmu tapi aku justru menyalahkannya. Aku bahkan mengatakan jika aku membencimu. Maafkan aku.”serunya penuh rasa bersalah. “Semalaman, aku sudah memikirkannya. Aku tidak bisa kehilangan Sehun. Tapi, aku juga tidak bisa kehilanganmu.” Ia menggeleng. “Maafkan aku, Yoona. Jangan tinggalkan aku.”

“Donghae-ssi, kau tau akan ada banyak hambatan dalam hubungan kita. Semuanya terasa sulit. Dan mungkin nantinya, kita akan menghadapi rintangan lain. Sebaiknya kau memikirkannya lebih dulu. Kita berada di dunia yang berbeda.”

“Aku sudah memikirkannya dan aku tidak bisa tanpamu.”balas Donghae cepat. “Aku akan melakukan apapun agar kau tetap berada di sisiku.”

Yoona menghela napas panjang, “Donghae-ssi…”

“Aku juga akan…” Pria itu menghentikan kalimatnya sejenak. Ia menatap Yoona lurus. “…aku akan mengakui pada semua orang jika aku telah memiliki seorang anak. Aku akan mengakui kebenarannya.”

“Tidak!” Yoona langsung menggeleng. “Kau tidak boleh mengakuinya.”

Donghae tersenyum, “Apa kau khawatir jika semua orang akan membenciku?”serunya pelan. “Doaku sudah terwujud, Yoona. Sekarang giliranku menebus semuanya. Aku akan mengaku.”

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

27 thoughts on “Crazy Without You Part 27

  1. oohshara berkata:

    maaf thor baru coment di chapter ini!! dan menjadi silent reader sblumnya,,tpi mulai skarang aku akan slalu cent di setiap chapternya( baru dpt hidayah karna ramadhan),,
    ini ff thu keren bgt menurut aku,,aku suka ama ff ini pertama karna ada sehun,,ehhh waktu baca ternyata seru ceritanya,
    trus ceritanya juga g’ belibet udah kayak drama korea aja,,
    sharakarunia05@gmail.com

  2. fitriwind berkata:

    Next …ditunggu lanjutannya .
    .. sehun disini masih manis , beda sama sehun yg realnya sekarang … walaupun sifat magnaenya ga pernah ilang , dia udah jd member trio bangsad yg sering buat anak perawan jejeritan … wkwkwk

  3. Tya berkata:

    Dan akhirnya donghae disadarkan sm sehun, sehun sayang banget sm yoona, krn yoona jg selama ini tulus sm donghae
    Seharusnya donghae lbh sadar lagi, banyak hal yg yoona lakuin buat sehun, selain kehilangan masa mudanya, yoona jg harus terima dikatain hamil diluar nikah
    Masih agk kesal sm donghae, kata” dy sederhana, tp nyakitin bgt, walaupun dy udh minta maaf, ga rela yoona segampang itu luluhnya, pengennya yoona lebih pertimbangin hubungan mereka lg #maafbanyakminta

    Ditunggu kelanjutannya

  4. Hesti andriani berkata:

    Terlalu banyak pengorbanan yang sudah yoona lakukan, dan sekarang waktunya yoona bahagia dengan cara menikah dengan donghae dan mereka bertiga menjadi sebuah keluarga yang harmonis. Memang saatnya donghae mengaku kalau dia memang sudah punya anak dan donghae bisa lebih bahagia sekarang, semoga agency donghae gak menghalangi niat donghae.
    Ditunggu next nya thor.

  5. osehn96 berkata:

    Alergi dingin jafi ingin autumn hihihi. Ya kaaaan sehun mana tega ninggalin eoma nyaaa. Ya donghaenya juga masa iya gitu gak ajak yoona aja biar jd keluarga .. yoyiyooo

  6. tya nengsih berkata:

    Ternyata sehun bisa Nerima kebenaran nya….. mudah2an setelah Donghae ngaku semuanya ke publik yoona-donghae cepet nikah…..

  7. RAIN berkata:

    Sekarang waktunya mereka bahagia setelah banyak pengorbanan, nikah aja terus hidup bersama bertiga deh! Next authornim jangan lupa autumnnya juga, hhe

  8. nina berkata:

    Hmmmmm. Akhirny donghae menemukan anknya… Btp besar lengorbanan yoona… Sma semuany berakhir dengan bhgia

  9. ziieziie berkata:

    pengorbanan yoona bsr bgt, aplg kesan negatif ke dy krn udh ngasuh sehun dr kecil.

    pertahanin yoona bang, krn yoona tulus jadi emaknya sehun.
    you deserves happiness with her ^^

  10. uly assakinah berkata:

    akhirnya donghae nyadar sama kesalahannya, kasihan banget yoona kalo dia harus pergi meninggalkan sehun. syukurlah donghae udah mau menerima yoona dalam kehidupannya.

  11. ziieziie berkata:

    pengorbanan yoona besar bgt y bwt ngerawat sehun T.T

    jgn pernah lepasin yoona bang, krn dy tulus sayang sm anakmu.
    you deserves happiness wih her 🙂

  12. xoloveyoonhae berkata:

    akhirnya dobghae telah sadar..
    yoona juga sangat berarti buat sehun

    semoga donghae segera melamar yoona dan hidup bahagia bersama yoona dan sehun

  13. xoloveyoonhae berkata:

    akhirnya donghae telah sadar..
    yoona juga sangat berarti buat sehun

    semoga donghae segera melamar yoona dan hidup bahagia bersama yoona dan sehun

  14. trywach berkata:

    sehun dah tau klu yoons bkn eomma kndungnya & trnyta hae adlah appa sehun
    semoga yoonhae bsa bersatu dan semua msalah bsa diselesaikan,,,

  15. angelasanusi berkata:

    finally donghae akhrnya ga membenci yoona karena emg yoong ga slh kok ;)))

    hore ! one step closerrrrr … semoga fans donghae pada ngerti dgn hae >///<

  16. Sherenna berkata:

    Akhirnya yoonhae balikan lagi,,, dan donghae mencintai yoona jg walaupun demi sehun tp dia gak mw melepaskan yoona… smga next mereka cepat menemukan kebahagiaan nx… next!!! Sehun terlalu cepat dewasa…

  17. Vaniza Rianie berkata:

    Jadi Sehun cuma anak Donghae trus ibunya yg meninggal siapa ?? kirain anaknya YoonHae ..ada kejadian apa gitu yg bikin mereka terpisah nantinya 😂😂
    hahahaha yaudahlah di tunggu di nextnya semoga happy end ^^

  18. Anfa berkata:

    Disini aja sehun,a penurut banget,. Knytaan.a gitu gk y?? 😎 Next chap. Happy terus y jgn ada sdih2.a lgi,.. Semngat buat kak mija,. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s