FF EXO : AUTUMN CHAPTER 35

autumn

Author  :  Oh Mi Ja

Cast :  Leeteuk SJ as Park Jungsoo

Luhan EXO as Park Luhan

Kai EXO as Park Jongin

Sehun EXO as Park Sehun

Support Cast      : Kris EXO as jaksa

Suho EXO as Pastor

Taemin Shinee as Lee Taemin

JR JJ Project as Park Jin Young

Jonghyun CN Blue as Lee Jonghyun

Shindong SJ as Shin Donghee

Dongho Ukiss as Shin Dong Ho

Genre                   : Brothership, Family, Mystery, Comedy, Friendship

Ketika bel pulang sekolah berbunyi dan Sehun hendak mengambil beberapa buku yang ia tinggal di lokernya, keningnya berkerut begitu mendapati sebuah kotak cokelat yang ada disana. Ia mengambil cokelat itu dan membaca selembar surat yang di letakkan di atasnya.

Untuk bintang yang selamanya akan terus bersinar, Park Sehun.

 

Aku harap cokelat ini bisa membuatmu merasakan bagaimana manisnya hidup. Jangan menyerah. Selamanya aku adalah fansmu. Semangat! ^^

“Apa itu?”tanya Jinyoung yang sudah ada di sampingnya. Ia menjulurkan kepalanya dari balik pintu loker yang terbuka. “Cokelat? Dari siapa?”

“Entahlah. Dia tidak menuliskan namanya.”

“Ha?” Jinyoung mengambil surat itu dari tangan Sehun dan membacanya. “Dari fansmu.”

“Kembalikan padaku.” Sehun merampas kembali surat itu lalu melipatnya dan menyimpannya di dalam saku kemeja. “Jangan membaca suratku sembarangan.”serunya sambil menutup pintu loker dan memulai langkah.

Jinyoung mendengus sambil menjajarkan langkahnya dengan Sehun, “Cih, kau pasti merasa senang kan?”

“Tidak. Biasa saja.”

“Jangan berbohong. Telingamu bahkan berubah kemerahan.”balas Jinyoung membuat Sehun langsung menutupi kedua telinganya dengan telapak tangan. “Yah, kau pasti senang karena kau akhirnya sadar jika masih ada orang yang memperhatikanmu.”

“Kau benar-benar terlalu banyak bicara.”

***___***

Taemin mendorong kursi roda Jongin masuk ke dalam ruangan persidangan itu. Di belakangnya, Sehun, Jinyoung dan ibunya mengikutinya. Ketika akhirnya waktu persidangan akan segera di mulai, dua anak laki-laki tuan Park itu memucat. Mereka tidak tau apa yang akan terjadi dan apa saja yang sudah di siapkan Luhan karena kakak tertua mereka itu tidak mengatakan apapun. Yang mereka tau, pastor Kim dan bibi Kwon akan menjadi saksi hari ini.

Jonghyun duduk di kursi yang ada di deretan depan mereka setelah bicara dengan Luhan dan Kwonsu di ruangan lain. Lagi-lagi dia meninggalkan latihan karena hal ini. Sementara di kursi pengacara, Kwonsu dan Luhan duduk berdampingan.

Sehun tidak melihat Dongho ataupun ayahnya berada disana. Hanya dua orang yang ‘mungkin’ utusan mereka duduk di deretan kursi berbeda. Yah, mereka selalu saja begitu.

Ketika persidangan di mulai, hakim mulai membacakan putusan dari sidang sebelumnya yang menyatakan jika kasus pemukulan yang di lakukan Sehun akan di gabung dengan kasus ini karena keduanya saling berhubungan. Tapi, jaksa penuntut menyerukan keberatan mereka. Menganggap itu tidak adil dan akan memperlambat hukuman yang harus di terima Sehun. Tapi biar bagaimanapun, putusan hakim tidak dapat di ganggu gugat.

Bibi Kwon di panggil pertama kalinya sebagai seorang saksi. Wanita tua itu duduk di kursi yang berada di tengah ruangan, langsung menghadap pada hakim. Setelah beberapa waktu, ini adalah pertama kalinya Jongin dan Sehun melihatnya lagi. Luhan menyembunyikannya di tempat yang sangat aman dan tidak mengijinkan siapapun menemuinya. Dia takut akan terjadi sesuatu, seperti seseorang akan menculiknya dan menjadikannya sebagai sandera.

Dia terlalu takut jika gagal lagi.

“Saya adalah pembantu rumah tangga keluarga Park. Saya sudah bekerja di rumah mereka sejak tuan Park dan nyonya Park baru saja menikah. Saya sudah tinggal bersama keluarga itu selama hampir 20 tahun.”seru bibi Kwon, suaranya terdengar lelah.

“Apa selama anda bekerja di rumah keluarga Park, anda pernah melihat tuan Park Jungsoo melakukan hal aneh?”tanya jaksa penuntut.

Bibi Kwon menggeleng, “Tidak. Tuan Park sangat baik dan ramah. Dia juga sangat menyayangi anak-anaknya. Setelah nyonya Park meninggal, dia selalu menyempatkan diri untuk menghabiskan waktu bersama anak-anaknya.”

“Bagaimana prilakunya sebelum kejadian penangkapan itu?”

Dua alis bibi Kwon berkerut berusaha mengingatnya, “Di hari penangkapannya, dia tiba-tiba meminta ijin pada anak-anaknya untuk bekerja di luar negeri  dalam waktu yang lama. Karena waktu itu anak bungsunya masih terlalu kecil untuk mengerti jadi dia berbohong. Tidak ada yang aneh. Hanya saja dia sedikit terkejut dengan penangkapan itu.”

“Kenapa dia terkejut? Apa dia terkejut karena akhirnya prilaku jahatnya di ketahui?”

“Tidak.”bibi Kwon langsung menggeleng. “Dia terkejut karena dia tidak melakukan apapun tadi di jadikan sebagai tersangka.”

“Bagaimana anda bisa tau? Itu hanyalah sebuah pendapat.”

“Tidak. Saya yakin.”

“Yang Mulia, pernyataan saksi tidak bisa di percaya karena dia adalah pembantu rumah tangga keluarga Park. Seseorang bisa saja menyuruhnya bersaksi seperti itu.”

“Keberatan Yang Mulia.” Luhan langsung berdiri, “Jaksa telah menuduh tanpa bukti.”

“Saya bersumpah tidak ada yang menyuruh saya. Saya mengatakan hal yang saya ketahui. Saya tidak mengada-ada.”

Di kursinya, Sehun mengumpat kesal, “Brengsek. Aku benar-benar membenci orang itu.”

“Tenanglah. Kita dengarkan dulu.”seru Jinyoung sambil menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu.

Hakim memukul-mukul palunya ke meja, meminta semua orang untuk tetap tenang.

“Sidang akan di istirahatkan selama 30 menit.”

Sehun langsung berdiri dari duduknya, berlari menghampiri bibi Kwon dan memberikannya pelukan hangat. Melepas rasa rindunya pada seseorang yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri itu.

“Kau semakin tinggi.”seru bibi Kwon menghusap kepala Sehun. Kini dia bahkan harus semakin berjinjit untuk menyentuh puncak kepalanya. “Aku selalu mengikuti kabarmu dari televisi. Kau terlihat kurus.”

“Aku tidak apa-apa.” Sehun tersenyum. “Bagaimana dengan ahjumma? Aku yakin ahjumma pasti sangat bosan karena selama ini tinggal sendiri. Ahjumma pasti sangat merindukanku, kan?”

Bibi Kwon terkekeh, “Tentu saja. Ahjumma sangat merindukanmu. Setelah sekian lama, akhirnya ahjumma bisa bertemu denganmu lagi.” Ia tersenyum haru. Ketika kemudian Jongin datang dengan kursi roda, bibi Kwon mengalihkan pandangannya. Matanya sontak melebar. “Oh Tuhan, apa yang terjadi denganmu?”

Jongin tersenyum, “Cedera ringan saat latihan.”serunya berbohong.

“Bagaimana bisa? Apa pihak lawan menjegalmu? Atau apa kau berlatih terlalu keras?”

“Dia sangat keras kepala, ahjumma.”sahut Jonghyun membuat Jongin hanya terkekeh.

“Anak nakal. Kenapa kau tidak mendengarkan ucapan hyungmu?”

“Aku tidak apa-apa. Sungguh. Aku akan segera sembuh dan bermain bola lagi.”

Luhan berjalan menghampiri mereka, ikut bergabung. Seperti yang lain, ia juga memberikan pelukan hangat untuk bibi Kwon.

“Ahjumma terima kasih atas semuanya. Ahjumma pasti merasa takut, kan?”

“Sedikit.” Wanita tua itu mengangguk. “Tapi kenapa berterima kasih? Bahkan aku pikir kesaksianku tidak membantu sama sekali.”

“Tidak.” Geleng Luhan dengan senyum. “Setidaknya mereka tau jika ayahku bukan orang jahat.”

***___***

Sidang di lanjutkan kembali, kali ini giliran pihak tuan Shin yang menghadirkan seorang saksi. Luhan tau siapa pria tua yang duduk di sana itu. Manager Go. Dia sudah menyelidiki semua tentangnya, dia adalah kaki tangan tuan Shin. Namanya juga ada di dalam laporan penggelapan dana yang di berikan oleh Kwonsu. Sudah jelas jika mereka akan bekerja sama untuk menyudutkannya.

“Saya sudah bekerja di tempat itu selama 9 tahun. Pada tahun-tahun awal, semuanya berjalan dengan baik. Tapi aku mulai mengetahui jika ada sesuatu yang tidak beres.”jelasnya. “Tuan Park mulai menutupi soal dana masuk dan keluar, dia juga menangani pembangunan supermarket yang ada di Daegu sendirian. Kami mencurigai adanya sesuatu yang tidak beres dan ternyata benar, dia menggelapkan dana perusahaan.”

“Tidak mungkin! Ayahku tidak mungkin melakukannya! Kau pembohong!”teriak Sehun dari kursi penonton. Seketika ia hilang kendali setelah mendengar penjelasan manager Go. “Kau harus mengatakan yang sebenarnya! Kau sudah bersumpah!”

“Sehun.” Jinyoung menarik lengan Sehun agar dia duduk kembali. “Tenanglah.”

“Harap tenang. Kami akan mengusir anda keluar jika anda mengusik jalannya persidangan.”

Jongin menoleh kearah adiknya yang duduk di sampingnya itu. Menatap wajah frustasinya yang sedang menahan tangis. Ia menggenggam satu tangannya erat, menenangkannya. Sementara di kursi depan, Luhan juga memandang adik bungsunya itu dengan tatapan nanar.

“Yang mulia, Almarhum tuan Park telah melakukan tindakan yang buruk dengan menggelapkan dana perusahaan. Beliau membeli bahan-bahan bangunan dengan kualitas buruk, sengaja melakukannya untuk menyuntik dana demi kepentingannya sendiri. Ini adalah buktinya.” Jaksa penuntut memberikan selembar kertas putih pada hakim. “Itu adalah kumpulan kesaksian dari para pekerja lapangan yang menyatakan jika mereka terpaksa harus membangun bangunan dengan bahan-bahan yang buruk.”

Hakim memeriksa isi kertas itu. Deretan pernyataan dengan tanda tangan dan cap jari dari para pekerja.

“Apa ada pertanyaan dari pihak pembela?”tanya Hakim.

Luhan berdiri, “Tidak, Yang Mulia.”serunya lalu duduk kembali.

Kwonsu langsung menoleh, menatapnya dengan tatapan bertanya-tanya. Kenapa Luhan hanya diam saja? Kenapa dia tidak menyerangnya?

Di akhir sidang, Pastor Kim juga muncul sebagai saksi. Pihak tuan Shin sama sekali tidak mengenal Suho sehingga mereka sedikit bingung kenapa pria itu duduk di sana. Jaksa penuntut melirik sekilas kearah anak buah tuan Shin yang duduk di kursi penonton dengan ekspresi bertanya-tanya. Mungkinkah mereka melewatkan satu orang ini?

“Aku bersumpah aku akan menjawab semua pertanyaan dengan sebenar-benarnya dan tidak mengada-ada.”seru Suho bersumpah di atas kitab suci.

“Silahkan perkenalkan diri anda.”suruh Hakim.

“Aku adalah Kim Suho, seorang pastor. Saya merawat sebuah gereja yang ada di dekat rumah sewa anak-anak tuan Park.”serunya pelan.  Dengan kesepuluh jari yang saling bertaut di bawah meja, Suho mulai menceritakan kesaksiannya. “Empat tahun lalu, aku mengenal si bungsu Sehun karena dia sangat rajin datang ke gereja. Perlahan-lahan kami menjadi dekat dan aku mulai mengenal kedua kakaknya. Suatu malam, aku menemukannya menangis di gereja jadi aku membawanya pulang ke rumahku. Dia bilang seorang temannya mengatakan jika sebenarnya ayahnya adalah orang jahat dan berada di penjara. Sejak saat itu dia mengetahui semuanya.”jelasnya. “Lalu beberapa hari kemudian, aku menemaninya pergi ke rumah sakit untuk menjenguk ayahnya. Saat itu siang hari, seorang suster masuk ke ruangan dan menyuntikkan sesuatu di selang infusnya.  Dan tak lama kemudian tuan Park meninggal.”

“Jadi anda ada di tempat kejadian saat tuan Park meninggal?”tanya Luhan.

Suho mengangguk, “Aku ada disana. Aku menenangkan Sehun yang terus menangis.”

“Apa anda masih ingat bagaimana ciri-ciri suster itu?”

“Aku tidak begitu ingat bagaimana wajahnya tapi ia bertubuh mungil dan berkulit gelap.”

“Saya sudah mengkonfirmasi dengan pihak rumah sakit, Yang Mulia. Suster yang di maksud oleh pastor Kim adalah Park Heejin. Kami juga sudah memastikan jadwalnya bekerja empat tahun lalu dan itu benar jika dia adalah Park Heejin. Tapi saya tidak bisa memanggilnya sebagai saksi karena dia…” Luhan mengalihkan tatapannya pada jaksa penuntut. Jaksa penuntut itu tersenyum menyeringai. “…dia sudah mati.”

***___***

“Tuan Park, kenapa kau tidak membawa Kim Donghyun? Dia adalah saksi kunci untuk kita.”seru Kwonsu ketika mereka meninggalkan ruang sidang.

“Kwonsu hyung benar. Kenapa hyung? Harusnya kita bisa melawan mereka tadi!”sahut Sehun. “Dan juga… kenapa hyung diam saja saat mereka memojokkan appa? Kenapa hyung tidak mengatakan apapun?!”

Luhan menghentikan langkahnya dengan helaan napas panjang, ia menatap Kwonsu dan Sehun bergantian, “Aku punya rencana.”

“Rencana apa? Semuanya sudah berlangsung sangat lama dan sampai sekarang kita tidak menemukan titik terang apapun! Sampai kapan hyung mau menunggu? Apa hyung mau kita kalah lagi?”

“Sehunnie…” Jongin mencoba menenangkan adiknya itu.

Sehun mengerang kesal, ia mengacak rambutnya frustasi lalu berjalan pergi meninggalkan mereka.

“Pastor Kim, tolong antar eoma-ku pulang.”pinta Jinyoung pada Suho lalu ia mengalihkan tatapannya pada ibunya, “Eoma, maaf karena aku tidak bisa mengantar eoma. Aku akan segera pulang tapi aku harus menyusulnya dulu.”

Ibu Jinyoung mengangguk, “Baiklah. Cepat susul dia.”

Jinyoung berlari mengejar Sehun yang sudah menghilang.

“Jangan di pikirkan. Kau tau dia tidak bisa marah padamu.” Bibi Kwon menghusap pundak Luhan lembut.

Jongin menghela napas panjang, di tatapnya kakak sulungnya itu lurus-lurus, “Hyung, aku tidak tau apa yang sedang kau rencanakan. Tapi aku percaya padamu.”

***___***

“Tuan Park, kau baik-baik saja?”tanya Kwonsu menepuk pundak Luhan yang sejak tadi melamun.

Luhan mengerjapkan matanya, “Oh, aku tidak apa-apa.”

“Kau terlihat sangat lelah.”

“Tidak. Aku baik-baik saja.” Luhan menggeleng.

“Apa kau masih memikirkan persidangan tadi?”

“Sedikit.”

“Maafkan aku karena aku telah mendesakmu. Aku hanya kesal karena mereka sangat menyudutkanmu. Aku tidak tau jika kau punya rencana lain.”

Luhan tersenyum, ia menatap Kwonsu, “Aku juga minta maaf karena aku tidak memberitahumu tentang rencanaku itu. Karena aku belum memastikannya hingga saat ini.”

“Aku akan lebih suka jika itu adalah sebuah kejutan. Aku akan menantikannya.” Ia berubah semangat.

“untuk persidangan selanjutnya, ayahmu bisa datang, kan?”

Kwonsu mengangguk, “Aku sudah memberitahu appa dan dia tidak sabar untuk bersaksi. Dia akan datang sehari sebelum persidangan.”

“Jangan lupa memintanya untuk berhati-hati. Dia adalah saksi penting untuk kita.”

“Iya. Aku sudah memberitahunya.”

“Luhan. Luhan.”panggil nyonya Anne tergesa-gesa menghampiri Luhan.

Luhan menoleh sedikit terkejut, “Ada apa nyonya Anne?”

“Kau pasti tidak akan mempercayai ini, Luhan.” Kening Luhan berkerut menatapnya. Nyonya Anne memberikan selembar kertas pada Luhan. “Nomor plat mobil penabrak Kris sama dengan mobil yang pernah di miliki oleh Manager Go.”

Kedua mata Luhan terbelalak maksimal, ia seketika berdiri dari duduknya, “Apa nyonya Anne sudah memastikannya?”

Nyonya Anne mengangguk, “Dia membeli mobil itu lima tahun lalu. Aku telah memastikannya sendiri.”serunya. “Tapi mobil itu sudah di hancurkan.”

“Yang penting kita memiliki catatan yang bersadar. Ini adalah bukti!”sahut Kwonsu.

Rahang Luhan mengeras. Amarahnya sudah hampir menyentuh titik batas. Jadi, selain membunuh ayahnya, mereka juga membunuh Kris. Mereka tau jika Kris adalah jaksa hebat yang akan memenangkan sidang jadi mereka juga menyingkirkannya untuk menutupi kasus ini. Agar ayahnya tetap menjadi kambing hitam.

“Brengsek.”desis Luhan meremas kertas yang ada di tangannya.   “Aku pasti akan membuat mereka membusuk di penjara.”

***___***

“Pulanglah. Kenapa kau mengikutiku terus?”decak Sehun kesal karena sejak tadi Jinyoung benar-benar tidak memberikannya  waktu untuk sendiri.

“Anggap saja aku tidak ada.”balas Jinyoung cuek.

“Apa kau ini stalker? Kau mau aku laporkan pada polisi?”

“Laporkan saja.” Jinyoung mengangkat kedua bahunya. “Luhan hyung akan membebaskanku nanti.”

“Ya!”

Jinyoung tertawa, “Jika aku pergi, kau akan kesepian.”

“Jika kau ada disini, aku justru merasa terganggu.”

“Kenapa baru protes sekarang? Aku sudah mengganggumu selama 4 tahun.” Ia semakin tertawa geli.

“Aaah menyebalkan sekali.”

Jinyoung bersikap seperti ia tidak memiliki telinga untuk mendengar protesan Sehun dan terus bicara mengganggunya, “Ngomong-ngomong, apa kau tidak punya rencana untuk kembali main drama atau mengeluarkan album lagi?”

Sehun menoleh, menatap sahabatnya itu kesal, “Apa kau pikir aku punya waktu untuk semua itu? Waktuku terkuras karena persidangan.”

“Bagaimana jika setelah kasus ini selesai?”

“Aku sudah kehilangan minat dalam dunia hiburan. Aku ingin hidup seperti orang normal.”

“Jadi maksudmu… kau ingin berhenti jadi artis?”

Sehun mengangguk, “Iya.”

“Kenapa?!”

Kedua alis Sehun berkerut menatap Jinyoung, “Ini adalah hidupku. Aku bisa melakukan apapun yang aku mau.”

“Tapi aku berniat untuk membuat akun instagram dan ingin pamer pada semua orang jika aku punya sahabat yang terkenal.”

“Kita bisa berfoto sekarang.”

“Tidak. Saat ini kau tidak begitu terkenal. Maksudku nanti, setelah kau main drama dan mengeluarkan album. Saat kau berada di puncak popularitas.”

Sehun seketika melotot kesal, “Apa kau berteman denganku hanya untuk itu?!”

Jinyoung menjawabnya tanpa ragu-ragu, “Iya. Jika mereka tau kau adalah sahabatku, aku bisa memiliki banyak followers juga.”

“Dasar brengsek.”

Tawa Jinyoung pecah saat Sehun akhirnya memakinya. Usaha membuatnya semakin kesal ternyata berhasil. Dia memang mudah di ganggu.

“Kau bahkan tau aku sedang kesal tapi kau sama sekali tidak menghiburku. Kau benar-benar brengsek.”

“Setidaknya aku ada disini.”balas Jinyoung dengan sisa-sisa tawanya.

Sehun mendorong pundak Jinyoung kesal, “Pergilah. Aku tidak mau melihatmu lagi.”

***___***

Luhan memijat keningnya setelah ia meminum obat penghilang rasa sakit. Sidang terakhir akan berlangsung sebentar lagi tapi tiba-tiba saja rasa sakit menyerang kepalanya. Sepertinya tubuhnya sudah kelelahan dan memintanya untuk istirahat.

“Hyung, kau tidak apa-apa?”tanya Sehun menghampirinya. Ia menempelkan telapak tangannya di kening Luhan. “Hyung, tubuhmu panas.”

“Aku tidak apa-apa. Sepertinya hanya kelelahan.”

“Tapi wajahmu juga pucat, hyung. Haruskah aku memanggil dokter?”

“Tidak perlu.” Luhan menggeleng. “Aku akan pergi ke dokter setelah persidangan berakhir.”

Sehun menghela napas panjang, menatap kakaknya khawatir. Luhan tersenyum sambil menepuk-nepuk kepala Sehun untuk menenangkannya.

“Bagaimana denganmu? Apa kau sudah siap? Putusan untukmu juga akan keluar hari ini.”

“Aku baik-baik saja. Hyung tidak perlu mengkhawatirkanku. Karena aku telah melakukan hal yang salah, aku siap di hukum.”

“Syukurlah jika kau baik-baik saja.”seru Luhan sambil beranjak pergi. “Ayo, sebentar lagi persidangan akan di mulai.”

Luhan sudah sampai di ambang pintu ketika suara Sehun kembali menghentikan langkahnya, “Aku percaya padamu, hyung.”

Luhan tertegun selama beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum, “Aku tau.”

***___***

Suasana persidangan terasa lebih mencekam dari biasanya. Pihak tuan Shin terus menghadirkan saksi-saksi yang memberatkan Park Jungsoo. Kwonsu melirik kearah Luhan yang lagi-lagi memijit keningnya. Wajahnya terlihat sangat pucat dan seperti akan segera pingsan.

Ia menepuk-nepuk punggung tangan Luhan memastikan keadaannya. Luhan menoleh dan hanya tersenyum tipis.

“Aku adalah Joo Hyemi. Aku bekerja sebagai sekretaris tuan Park Jungsoo yang membantunya mengurusi dana keuangan proyek pembangunan supermarket di Daegu.”seru seorang perempuan berambut panjang itu. “Saat itu, ketika dia mendapat kepercayaan untuk mengurus sebuah proyek, dia menunjukku menjadi sekretarisnya. Tapi ketika proyek sudah berlangsung, dia hanya menyuruhku untuk membuat laporan. Semua dana operasional di urus olehnya sendiri.” Ia menghentikan penjelasannya sejenak untuk menenangkan dirinya. “Saat itu para pekerja mulai protes kenapa bahan-bahan yang di beli memiliki kualitas yang sangat buruk bahkan mereka melakukan demo karena takut akan terjadi sesuatu di masa depan. Tapi tuan Park tetap memaksakan proyek itu untuk terus berjalan dan menyuntik dana untuk kepentingannya sendiri.”

“Jika anda mengetahuinya, kenapa anda tidak melaporkannya pada polisi?”tanya jaksa penuntut.

Joo Hyemi menundukkan kepalanya, “Aku takut. Tuan Park mengancam jika dia akan melakukan sesuatu yang buruk padaku jika aku melaporkannya.”

Rahang Sehun mengeras ketika dia mendengar penjelasan itu. Tangannya mengepal namun Jongin buru-buru menggenggam tangannya agar dia tidak membuat keributan lagi.

“Yang Mulia, tuan Park telah terbukti melakukan kesalahan besar. Dia menggelapkan dana dan mengancam semua karyawannya. Dia juga hampir membuat musibah untuk banyak orang karena telah membangun sebuah bangunan dengan bahan-bahan kualitas buruk. Saya harap Yang Mulia bisa mengambil keputusan yang bijak atas masalah ini.” Jaksa penuntut kembali ke kursinya. Sementara Luhan berdiri dan menghampiri saksi setelah hakim mempersilahkannya untuk memberikan beberapa pertanyaan.

Luhan memandang wanita itu dengan senyum, “Joo Hyemi-ssi, ketika kau melamar pekerjaan di Hansan Grup, kau mengikuti jalur interview?”

Semua orang termasuk Joo Hyemi sendiri bingung dengan pertanyaan yang di ajukan Luhan. Wanita itu mengerutkan keningnya bingung, “Iya. Aku mengikuti jalur interview.”jawabnya pelan.

“Bisakah kau ceritakan bagaimana sesi interview berjalan?”

Jaksa penuntut langsung berdiri merasa keberatan, “Keberatan Yang Mulia, pembela mengajukan pertanyaan yang tidak berkaitan dengan kasus.”

“Ini ada kaitannya!”balas Luhan tegas. “Yang aku tanyakan akan membuat kalian semua mengetahui kebenarannya.”

“Silahkan lanjutkan, pembela.”seru Hakim.

Luhan mengembalikan pandangannya pada Joo Hyemi, “Silahkan jawab pertanyaanku,Joo Hyemi-ssi.”

Ekspresi Joo Hyemi seketika berubah. Ia memucat sembari menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kesepuluh jarinya bertaut di bawah meja dengan tubuh yang mulai bergetar ketakutan.

“Joo Hyemi-ssi!!”bentak Luhan menggebrak meja membuat wanita itu terperangah. “Jawab pertanyaanku.”

“Aku…” Joo Hyemi menggigit bibir bawahnya kelu. “Aku…”

“Yang Mulia, pembela memberikan tekanan pada saksi.”seru jaksa penuntut.

“Pembela harap jaga sikap anda selama persidangan.”

Luhan menegakkan punggungnya, masih dengan tatapannya yang mengarah lurus pada Joo Hyemi yang terus menghindari pandangannya.

“Aku lupa.”jawabnya pelan.

“Kau tidak mungkin melupakannya. Karena untuk menjadi karyawan tetap Hansan Grup tidaklah mudah. Harusnya itu menjadi salah satu moment terpenting dalam hidupmu.” Luhan tersenyum menyeringai membuat Joo Hyemi semakin memucat. Ia membungkukkan punggungnya kembali sambil menahan kedua ujung meja dengan telapak tangan, menatap Joo Hyemi tepat di manik mata, “Tapi beda ceritanya jika kau sebenarnya tidak pernah mengikuti sesi interview itu.”bisiknya dengan suara pelan namun mampu di dengar oleh semua orang yang ada di ruangan itu. “Benar kan… Park Heejin-ssi?”

TBC

Iklan

11 thoughts on “FF EXO : AUTUMN CHAPTER 35

  1. Oh Secca berkata:

    Mungkin ini kalo di jadiin drama bisa keren banget jadinya 😂 aku ngikutin ff ini dr awal dan ga pernah bosen dgn setiap chapter nya. author emg daebak!! di tunggu chapter selanjutnya. jadi makin penasaran dan tegang aja nunggu setiap chapter nya.

  2. osehn96 berkata:

    Jadi joo hyemi itu park heejin ? Waah waaah. Semoga ini persidangan terakhir. Kasian luhan udah cape. Huhuhu. Kalo lama2 nnti kaya persidangan kasus mirna. Wkwkw. Keep spirit authornim

  3. Hesti andriani berkata:

    Gregetan aku bacanya. Luhan jangan sakit dulu demi persidangan appamu. Jadi yang nabeak park jungsoo sama dengan orang yang nabrak kris. Berarti joo hyemi itu park heejin, wah gimana nanti ekspresi jaksa penuntut dan pihak shin ya ? Penasaran. Semoga luhan nanti bisa menang

  4. ellalibra berkata:

    Tambah seruuuuu sidang nya tp q kshn ma luhan energi nya udh terkuras abiz krn kasus ayahnya sediiiiiihhh bgt rsny ,,,, ternyata kejutan yg dimaksud luhan heejin y eon apa stlh ini org yg ditangkap luhan bakal di munculin y g sabaaaaaar eon , smg cpt slsai nama baik appanya bersih dahh ,,,, kasihan luhan jongin sehun udh lm menderita … Fighting eon 😀 sehat sll ^_^

  5. AnisMaria berkata:

    Jinyoung yang selalu membela Sehun, menurutku dia cocok dapet peran seperti itu. Dia nggak peduli kalo Sehun terganggu, dia cuma mau supaya Sehun nggak kesepian..

    Jadi, gimana eliminasi rencana Luhan nanti?

    Selain itu… kenapa? Apakah sebenarnya Joo Hyemi adalah Park Heejin? Jadi dia nyamar? Bodohnya kalau iya, emang dikira Luhan bakal semudah itu untuk buta terhadap informasi?

    Kuharap… Park siblings tetap tenang, dan mereka bisa menjalani kehidupan yang normal ke depannya nanti… dan Jinyoung serta Jonghyun dan Taemin tetap selalu ada buat keluarga Park…

    *btw oke juga tuh akal si Jinyoung bikin instagram buat mentenarkan diri kkkkk*

  6. ALIKA berkata:

    Ff nya cepet dilanjutin dong kak😆
    Oh iya,yg ff the house tree 2 juga dilanjutin dong sampe end hehe
    Suka banget soalnya n udah lama banget nungguin😃
    Fighting eon !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s