The Demians part 10

demian n

Tittle       : The Demians

Author    : Ohmija

Cast          : BTS and Seulgi Red Velvet, Irene Red Velvet, Kim Saeron and DIA Chaeyeon

Genre      : Action, Romance, Comedy, Friendship

“Karena obat-obatan yang kau bawa dari China hilang jadi dokter memberikan beberapa obat-obatan lagi. Kau harus meminumnya dan—“

“Oppa.” Potong Saeron menghela napas panjang. “Aku sudah dengar semua yang di katakan dokter.”

Jimin menoleh sekilas kearah adik perempuannya itu lalu menghadap ke depan kembali, “Aku hanya memperingatkanmu. Jika tidak, kau tidak akan meminumnya.”serunya tau benar jika Saeron tidak suka minum obat.

“Sekarang kita akan pergi melihat rumah sewa, kan?”

“Kita harus beli beberapa baju untukmu dulu.”

“Tidak usah.” Saeron langsung menggeleng. “Kita bisa membelinya setelah kita melihat rumah sewa.”

“Kau benar-benar…” decak Jimin geleng-geleng kepala. Ia membelokkan setir mobilnya, menuju kearah Hongdae. Lalu lintas tidak begitu ramai karena semua orang sudah tiba di kantor dan sekolah. Jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk keduanya sampai di tujuan.

Jimin memarkirkan mobilnya di tepi jalan lalu keduanya berjalan melewati pagar besi yang mulai berkarat. Saeron menatap ke sekeliling, memandangi setiap sudut tempat itu. Terdapat dua bangunan tingkat dua yang terpisah, ada dua rumah yang bisa di tempati di setiap bangunan jadi jumlahnya ada empat rumah sewa. Di bagian depan di sebelah kiri, berdiri sebuah rumah sederhana tingkat dua yang bisa di tebak jika rumah itu adalah rumah sang pemilik. Dan di tengah-tengah ada halaman yang cukup luas.

Seorang gadis membukakan pintu setelah Jimin menekan bel. Seulas senyum langsung terlukis di wajahnya begitu ia melihat Jimin sudah berdiri di balik pintunya.

“Apa kau kembali untuk menyewa rumah?”tanyanya bersemangat.

Jimin berdehem kecil, lalu sedikit bergeser, memperlihatkan Saeron yang berdiri di belakangnya. “Ini adikku. Dia bilang dia mau melihat-lihat.”

“Adikmu?” Gadis itu terlihat terkejut. “Tapi kalian sama sekali tidak mirip.”

“Walaupun begitu dia tetap adikku.”balas Jimin sedikit kesal.

Irene mengangguk-angguk. Dia tidak begitu perduli apa mereka benar-benar adik-kakak atau tidak. Yang penting ada seseorang yang menyewa rumahnya. “Tentu saja kalian boleh melihat-lihat.” Gadis itu keluar dan menutup pintu di belakangnya. “Rumah mana yang lebih kau sukai? Atas atau bawah?”

“Aku menyukai keduanya.”jawab Saeron tersenyum kecil.

“Biar ku beritahu, rumah yang ada di lantai dua memiliki pemandangan yang lebih indah. Kau bisa melihat jalan raya dari sana. Tapi rumah yang ada di lantai satu memiliki ruang yang lebih luas karena ada halaman kecil di belakang.” Mereka mulai berjalan menuju rumah sewa. “Kau boleh melihatnya dulu.”

Mereke melihat isi rumah sewa satu-persatu. Sama saja sebenarnya. Jika rumah yang ada di lantai satu memiliki halaman kecil di belakang, rumah yang ada di lantai dua memiliki balkon yang lebih indah. Pemandangan disana juga lebih bagus. Jejeran pohon-pohon sakura di sepanjang trotoar terlihat dari sana.

“Bagaimana?”tanya Irene menatap keduanya ketika mereka selesai berkeliling.

Jimin melirik Saeron, “Apa kau menyukainya?”

Saeron tersenyum lebar sambil mengangguk-angguk, “Aku suka rumah yang ada di lantai dua sebelah kanan.”

“Bukankah lebih mudah jika di lantai satu.”

“Tapi pemandangannya lebih indah disana. Aku juga bisa menggantung beberapa pot bunga di pagar pembatasnya.”

“Kau mau mengubah rumah sewa kita jadi taman bunga lagi?”decak Jimin kesal. Saeron hanya meringis lebar. Jimin mengalihkan tatapannya pada Irene, “Daerah ini aman, kan?”tanyanya. “Maksudku… tidak ada pencuri atau pria-pria mabuk yang suka lewat di sekitar sini, kan?”

“Tidak ada. Daerah ini sangat aman. Selama aku tinggal disini, aku tidak pernah kemalingan.”balas Irene yakin. “Lagipula tak jauh dari sini ada sekolah bela diri dan aku mengenal murid-muridnya dengan sangat baik. Jadi jangan khawatir.”

Jimin menghela napas panjang sambil memalingkan wajah kearah Saeron, “Kau tidak mau melihat rumah yang lain?”

Belum sempat Saeron menjawab, suara Irene terdengar lebih dulu, “Kenapa berpikir lagi? Sepertinya adikmu menyukai tempat ini.” Ia tersenyum lebar. “Iya, kan?”

Saeron mengangguk, “Iya. Aku menyukai tempat ini. Disini saja, oppa.”

Belum sempat Jimin membuka mulut, Irene kembali memotongnya, “Adikmu akan aman jika tinggal disini. Aku jamin.”

Oh Tuhan, gadis ini sangat cerewet.

***___***

 

Irene masuk melewati pintu belakang cafe dengan langkah tergesa-gesa. Melempar tasnya dan langsung berganti baju di ruang ganti. Dengan kecepatan kilat, ia mengancingkan kemeja putihnya lalu mengikat rambutnya.

Dia terlambat tiga puluh menit karena mengurusi orang yang akan menyewa rumahnya. Oh tidak, bukan akan. Tapi orang itu sudah memberikan uang muka dan akan pindah ke rumah sewanya secepatnya. Dia berhasil meyakinkan jika tidak ada yang akan terjadi pada adiknya selama dia tinggal disana.

“Noona darimana saja? Kenapa baru datang? Noona juga tidak menjawab panggilanku.”omel Namjoon begitu Irene muncul, berdiri di sampingnya.

“Maafkan aku. Tadi pagi ada seseorang yang datang melihat-lihat rumah sewa. Maaf ya.” Irene meringis lebar sambil mengatupkan kedua tangannya.

“Benarkah? Lalu?”

“Aku berhasil meyakinkan mereka! Wohooo!” Gadis itu melompat-lompat senang sambil bertepuk tangan. “Akhirnya ada seseorang yang menyewa rumahku!”

Namjoon menatap Irene penuh selidik, “Laki-laki atau perempuan?”

“Laki-laki dan perempuan. Mereka kakak-beradik. Tapi karena kakaknya harus bekerja di suatu tempat jadi adiknya saja yang akan meninggali rumah sewa.”

“Bekerja di luar negeri?”

“Mungkin.” Irene mengendikkan bahunya. “Aku tidak tau. Tapi pakaiannya sangat rapi. Mungkin bekerja di kantor dan sedang di tugaskan di luar negeri.”jelas Irene. Ia lalu mendorong bahu Namjoon dengan bahunya, “Jangan khawatir. Sepertinya mereka adalah orang baik.”

“Syukurlah. Kalau begitu selamat noona, akhirnya ada seseorang yang menempati rumah sewamu.” Namjoon menepuk-nepuk kepala Irene.

Irene mengangguk, “Aku akan mentraktir kalian nanti. Maksudku… membuatkan kalian makanan enak.”

“Hahaha masaklah dengan porsi yang lebih besar. Noona tau bagaimana nafsu makan Jungkook, kan?”

“Aku tau. Aku akan memasak makanan yang sangat banyak untuk kalian nanti.”

***___***

 

Jimin tidak pulang ke rumah Seulgi tapi mendatangi sebuah cafe setelah ia mengantar Saeron kembali ke hotel. Lima belas menit lalu, Chaeyeon tiba-tiba mengirimi pesan yang memintanya untuk bertemu di suatu tempat. Kebetulan, Jimin juga ingin bertanya sesuatu padanya.

“Kenapa kau lama sekali? Sudah sepuluh menit aku menunggu.”ketus gadis itu ketika Jimin datang dan duduk di hadapannya. Ia menatapnya dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

“Ada yang harus aku urus.”

“Berani sekali kau mengabaikan perintah atasanmu dan sibuk dengan urusanmu sendiri?”

Jimin mendesah panjang, berusaha menahan kesabarannya, “Kenapa kau memintaku untuk bertemu? Apa yang ingin kau katakan?”

“Kau tidak minta maaf?” Chaeyeon menatap Jimin dengan tatapan menuntut. Seakan dia ingin Jimin mengerti jika membuat perempuan menunggu itu adalah sebuah kesalahan.

Jimin kembali mendesah, “Maaf.”serunya pendek.

Chaeyeon tersenyum samar. Gadis itu menyeruput cokelat hangatnya sebelum kembali berseru, kali ini dengan nada lebih menyenangkan, “Ku dengar kau sudah bertemu dengan adikmu.”

Jimin mengangguk, “Kemarin malam.”

“Padahal aku sudah memerintahkan beberapa orang untuk mengantarnya tapi kenapa dia kabur?”

“Dia ketakutan karena orang-orangmu terlihat menyeramkan.”

“Cih, apa dia tidak tau jika kakaknya lebih menyeramkan?” Chaeyeon meletakkan gelasnya di meja sambil menatap Jimin dengan senyum. “Aku benar, kan?”

Jimin menatap Chaeyeon lurus-lurus. Tidak langsung menjawab pertanyaannya itu. Dia tidak yakin apa gadis itu sengaja bersikap seperti itu agar terlihat berbahaya atau dia benar-benar berbahaya seperti ibunya.

“Aku sudah bilang, jangan melibatkan adikku. Dia tidak ada hubungannya sama sekali.”

“Kenapa? Bukankah dia tau bagaimana seluk-beluk Hansan?  Dia juga tumbuh besar disana.”seru Chaeyeon. “Lagipula dia bukan adik kandungmu. Kenapa kau perduli? Apa kau menyukainya?”

“Aku bersedia untuk melakukan semuanya tapi aku tidak bilang akan memberitahumu semua rahasiaku, kan?”desis Jimin dingin. “Apapun alasannya, jangan libatkan adikku.”

Chaeyeon memajukan tubuhnya, menopang dagunya dengan salah satu tangan sambil menatap Jimin tepat di manik mata. Masih dengan senyum. “Jangan buat aku menyukaimu.”

Kening Jimin berkerut, “Apa?”

Chaeyeon menegakkan tubuhnya kembali, tidak membalas ucapan Jimin sambil kembali menyeruput minumannya.

“Apa?! Jin sudah punya kekasih?!” Tiba-tiba seseorang yang duduk di belakang Chaeyeon berseru. “Siapa? Siapa kekasihnya?!”

Kening Jimin berkerut. Ia menoleh kearah televisi yang tergantung di tengah cafe. Dia adalah Jin, superstar Korea Selatan yang sedang ramai di bicarakan karena di ketahui sudah memiliki kekasih. Hampir semua orang di Korea bahkan di dunia menjadi penggemarnya karena dia sangat tampan.

Tapi gadis yang di beritakan adalah kekasihnya itu…

“Bukankah itu kau?!”pekik Jimin terkejut, ia mengembalikan tatapannya pada Chaeyeon.

Chaeyeon bersikap seakan dia tidak perduli dan mengambil tasnya, “Ayo pergi.”

Walaupun masih bingung, Jimin tetap mengikutinya di belakang. Semua pengunjung setelah menonton TV langsung menyadari jika kekasih Jin ada disana. Jimin menarik lengan Chaeyeon dan menyeretnya agar jalan lebih cepat karena tatapan semua orang seakan mereka akan membunuhnya saat itu juga.

“Kau tidak sopan sekali!”protes Chaeyeon karena Jimin mendorong tubuhnya masuk ke dalam mobil.

Jimin menginjak pedal gas dan segera pergi darisana, “Apa kau tidak melihat bagaimana orang-orang itu memperhatikanmu? Jika tidak pergi darisana, mereka bisa membunuhmu.”

“Bukankah ada kau?”balas Chaeyeon santai. “Kau akan melindungiku, kan?”

“Aku akan melindungimu tapi aku tidak mau ada keributan disana.”

Chaeyeon berdecak, “Apa kau tidak penasaran dengan hubunganku dan Jin?”

“Kalian berkencan, kan? Aku sudah tau itu.”

“Tapi kenapa nada bicaramu seperti kau tidak perduli?”

“Kenapa aku harus perduli? Itu urusanmu.”

Chaeyeon menghela napas panjang, ia melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap kearah luar jendela, “Dia di paksa untuk mengencaniku karena orang tua kami akan bekerja sama. Ayahnya akan mencalonkan diri sebagai presiden dan menyewa Hansan untuk melindunginya.”jelasnya walaupun Jimin mengatakan jika dia tidak perduli. “Kau tau bagaimana popularitas Hansan, kan? Siapapun yang di kawal oleh Hansan group itu adalah orang penting. Jadi hampir seluruh warga Korea Selatan percaya dia akan memenangkan pemilu nanti.”

“Ayahnya pasti sudah membayar mahal.”

Chaeyeon tertawa mendengus, “Dia sangat licik. Dia tau jika aku menyukai Jin sejak SMU jadi dia menyuruh Jin untuk mengencaniku. Tapi walaupun begitu, aku tetap menerima ajakannya saat dia memintaku untuk menjadi kekasihnya. Memalukan sekali.”

Jimin hanya diam. Ia menatap Chaeyeon lewat kaca mobil selama beberapa saat. Jika seperti ini, mungkinkah gadis ini sebenarnya tidak berbahaya?

Sadar jika dia telah menunjukkan kelemahannya, Chaeyeon langsung mengubah ekspresinya menjadi ketus. “Lalu bagaimana tuan putri itu? Ibuku menyetujui permintaanmu untuk menarik semua pengawal. Kau pasti senang, kan?”tanyanya. “Apa sebenarnya kau menyukainya?”

“Aku hanya berpikir itu tidak berguna. Kami hanya menjaga seorang gadis. Bahkan aku bisa menjaganya sendirian.”

“Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Bagaimana dia sekarang? Apa dia sangat cantik?”

“Cantik.”

Jawaban Jimin yang sangat cepat itu membuat Chaeyeon semakin kesal.

“Turunkan aku disini! Ternyata kau juga tidak berguna.”

Jimin menginjak pedal rem dan menoleh ke belakang, “Kau mau kemana?”

“Bukan urusanmu!”ketus Chaeyeon turun dari mobil dan menutup pintu sekuat tenaga.

Jimin hanya menghela napas panjang.

***___***

 

Jimin pikir semuanya akan berakhir ketika dia sampai di rumah. Tapi ketika dia hendak akan memasuki rumah, dia melihat seorang pria berdiri sambil bersandar di tembok batu rumah Seulgi. Jimin menghela napas panjang. Apa yang ingin di lakukan pria itu disini?

Jimin menepikan mobilnya dan menghampiri pria yang ternyata adalah Park Jungwoo itu.

“Apa yang ahjussi lakukan disini? Ahjussi tidak bertugas?”

“Tidak usah basa-basi. Kau pasti tau kenapa aku ada disini.”ketus Jungwoo.

Jimin tersenyum tipis, “Kita bicara di mobil saja.”

Keduanya lalu masuk ke dalam mobil, bicara disana agar tidak ada yang menguping pembicaraan mereka. Jimin tau Jungwoo akan meminta penjelasan tentang kejadian beberapa hari lalu.

“Sekarang jelaskan padaku.”

Dugaannya benar…

“Tidak ada yang perlu ku jelaskan. Seperti yang ahjussi dengar, berita itu benar. Aku memang naik pangkat. Aku setuju karena aku butuh uang. Ahjussi tau jika aku akan membawa Saeron ke Korea.”

“Tidak mungkin hanya itu.”balas Jungwoo cepat. “Kau pikir aku bodoh? Kau pikir aku tidak mengenalmu dengan baik?”nadanya mulai terdengar tinggi. “Seseorang yang sangat membenci Hansan dan bahkan melarikan diri dari tempat itu tiba-tiba setuju untuk naik pangkat. Kau tau naik pangkat sama artinya dengan kau setuju untuk menjadi anjing peliharaan mereka!”

Jimin menghela napas panjang. Frustasi. Dia tau. Dia sangat tau tentang hal itu.

“Apa yang sedang kau pikirkan sebenarnya? Apa kau ingin berada di tempat ini selamanya?!”

Jimin masih diam, pandangannya menerawang ke depan, “Aku juga tidak mau…”

“Lalu kenapa?! Kenapa kau setuju?!”

“Apa ahjussi pikir aku punya cara lain?” Jimin mengalihkan tatapannya kearah Jungwoo. “Apa yang harus aku lakukan? Adikku menderita sakit parah dan koma di rumah sakit! Aku tidak punya apapun, tidak ada yang bisa aku lakukan untuk menyembuhkannya! Aku benar-benar putus asa! Aku takut jika dia akan meninggalkanku juga! Aku tidak punya jalan lain!”balas Jimin juga membentak.

Jungwoo menatap manik mata Jimin namun pria itu langsung membuang pandangannya. “Bukan hanya itu, kan?”tanyanya. “Alasanmu bukan hanya untuk menyelamatkan Saeron, kan?”

Jimin tidak menjawab.

“Jawab aku Park Jimin.”seru Jungwoo lagi mendesak. “Bukan hanya itu, kan?”

Jimin mengangkat wajahnya, kembali menatap Jungwoo, “Aku tidak mau Saeron terlibat. Aku tidak mau dia terjerumus lagi.”

“Apa ini karena Seulgi?”

Jimin seketika terdiam. Mulutnya sudah terbuka namun dia tidak menemukan kata-kata yang tepat. Tidak bisa menjawab pertanyaan yang lebih seperti sebuah pernyataan itu.

“Apa semua ini karena kau meminta Nyonya besar untuk memulangkan seluruh pengawal? Apa karena itu?”

“Ahjussi…”

“Kau pasti ingin dia merasa tenang sehingga kau membuat permintaan seperti itu. Dan imbalannya, kau harus menjadi anjing mereka! Benar, kan?!”

“Aku tidak mau membicarakan ini lagi.”

“Sadarlah Park Jimin!” Jungwoo mencekal bahu Jimin. “Sadarlah dengan apa yang sedang kau lakukan! Jika kau terus melakukan ini, tidak hanya kau, tapi kau juga akan menyakiti Saeron!”

Jimin menepis cekalan Jungwoo di bahunya, “Aku tidak akan menyakitinya. Tidak akan pernah.”

“Kau menyukainya…” Jungwoo menatap Jimin lurus-lurus. “Kau menyukai Seulgi.”

“Aku tidak menyukainya!”balas Jimin cepat.

Jungwoo menelan ludah susah payah, “Jauhi dia, Busan. Kendalikan perasaanmu. Jika kau terus seperti ini, kau hanya akan melukai Saeron. “katanya. “Jangan lupa tentang semua rasa sakit kalian di masa lalu. Kau bahkan mengorbankan persahabatanmu dengan Daegu karena ini. Kau yang telah memilih jalanmu untuk menjaga Saeron.”

Jungwoo keluar dari mobil, meninggalkan Jimin yang masih terpaku di kursi kemudi. Dia tidak menyukai Seulgi, ini hanyalah rasa kasihan karena gadis itu terlihat menyedihkan.  Tapi jika ini hanyalah rasa kasihan, kenapa dia rela berkorban hingga sejauh itu?

***___***

 

Jungkook menghentikan langkahnya sesaat ketika dia akan pergi ke cafe. Kepalanya menoleh ke kanan, kearah halte yang di penuhi beberapa orang yang sedang menunggu bus. Ia tertegun. Dia tau gadis itu tidak akan kembali, tapi entah kenapa dia masih berharap.

“Haruskah aku menghubungi kakaknya?”gumamnya pada dirinya sendiri. Dia masih memiliki nomor ponsel kakak gadis itu, bahkan menyimpannya di daftar kontak dengan nama ‘Kakak laki-laki gadis halte’. Juga, dia masih menyimpan bonekanya yang kini sudah kering di rumah.

Tapi berpikir lagi, kakak laki-lakinya terlalu menyeramkan. Dia yakin dia tidak akan membiarkannya berkenalan dengan adiknya. Apalagi adiknya sangat cantik.

Akhirnya Jungkook menghembuskan napas panjang. Tapi jika dia masih tidak bisa melupakannya, dia benar-benar akan menghubungi kakak laki-lakinya.

***___***

 

Jimin masih saja gelisah walaupun hari sudah mulai gelap. Dia terus memikirkan ucapan Jungwoo hingga ia mengorbankan jam tidurnya. Dia sama sekali belum tidur hingga saat ini karena rasa frustasi yang di rasakannya tidak mau pergi.

Tentu saja dia akan melindungi Saeron. Walaupun bukan adik kandungnya, dia sangat menyayangi Saeron. Mereka tumbuh bersama-sama dan sejak kecil dia sudah terbiasa menjaga gadis itu. Mereka juga telah melewati banyak hal, tawa dan air mata.

“Jimin-ah, kau belum tidur?”

Sukhwan masuk ke kamar mereka, jam tugasnya sudah berakhir.

Jimin langsung bangkit dari ranjangnya, “Giliranku ya?”

“Haruskah aku yang berjaga? Kau belum tidur sejak kemarin.”

“Tidak apa. Aku akan pergi.”

“Hey.” Sukhwan menghentikan langkah Jimin. “Apa kau sedang memikirkan sesuatu? Kau terlihat sangat lelah.”

Jimin tertegun sesaat sebelum akhirnya menepuk pundak Sukhwan dan tersenyum, “Aku tidak apa-apa.” lalu pergi menuju rumah utama.

***___***

 

Jungkook duduk bersandar pada dinding di sudut ruangan. Kedua tangannya yang memegang sebuah boneka memanjang, tersanggah di atas lutut. Sejak tadi, anak laki-laki terus berdiam diri di sana. Duduk di belakang saudara-saudaranya yang sedang menonton televisi sambil terus memandangi boneka itu.

Taehyung yang menyadari keterdiaman Jungkook menoleh ke belakang lalu menghela napas panjang. Dia bukan tipe orang yang perduli dengan orang lain. Dia sendiri tidak mengerti kenapa dia mundur ke belakang dan duduk di sebelah anak itu sekarang.

“Hubungi saja kakaknya.”

Jungkook menoleh sekilas, “Dia akan membunuhku.”

“Lebih baik di bunuh daripada mati penasaran, kan?”

“Hyung tidak tau bagaimana kakaknya. Wajahnya tidak menyeramkan sebenarnya tapi…”

“Tapi apa?”

“Tetap saja dia terlihat menakutkan.”

“Lalu apa yang mau kau lakukan? Melamun sambil memandangi boneka itu terus-menerus?”

Jungkook mendesah putus asa, ia menoleh menatap Taehyung, “Apa yang harus ku lakukan?”

“Yang harus kau lakukan adalah mempersiapkan sekolahmu.” Namjoon juga berbalik dan memotong percakapan mereka. “Nanti setelah kau masuk sekolah, kau pasti akan melupakannya karena ada banyak gadis yang lebih cantik.”

“Walaupun ada banyak gadis cantik, tapi tidak ada yang seperti dia.”

Hoseok berdecak, “Memangnya dia seperti apa sampai kau seperti ini? Apa benar-benar sangat cantik?”

“Sangat cantik.”balas Jungkook cepat.

“Solusi satu-satunya hanya menghubungi kakaknya dan bertanya tentang keadaannya. Kau bisa beralasan jika dia meninggalkan bonekanya di halte.”seru Taehyung yang langsung membuat Jungkook menegakkan punggungnya.

“Kenapa aku tidak berpikir seperti itu sebelumnya?!”pekiknya karena dia merasa jika dia benar-benar bodoh. “Hyung benar! Aku bisa memakai alasan itu! Kalau begitu aku—”

“Kau mau kemana?” Namjoon menarik lengan Jungkook yang bergegas pergi.

“Mengambil ponsel.”jawab Jungkook polos.

“Kakaknya benar-benar akan membunuhmu jika kau menelpon saat sudah larut seperti ini. Besok saja.”

“Tunggulah sampai besok.”sahut Taehyung.

Jungkook kembali murung dan menyandarkan punggungnya ke dinding. Dia tidak bisa menunggu sampai besok.

“Bukankah itu Jin?” Tiba-tiba Yoongi berseru sambil menunjuk televisi. “Dia super star terkenal itu, kan?”

“Oh? Benar.” Hoseok mengembalikan tatapannya kearah televisi. “Dia berkencan? Waaah, kekasihnya cantik sekali.”

“Dia mengencani anak tiri CEO Hansan Group. Waaah, beruntung sekali.”balas Yoongi.

Kening Jungkook berkerut, “Hansan Group? Apa itu nama sebuah perusahaan?”

“Kau tidak tau?” Yoongi menoleh sekilas kearahnya.  Jungkook menggeleng. “Pemilik Hansan Group adalah salah satu orang terkaya di Korea. Mereka memiliki banyak perusahaan seperti Supermarket, Mall, Sekolah Internasional dan perusahaan keamanan. Bahkan perusahaan keamanan Hansan Group sangat terkenal dan di percaya mengawal para pejabat negara.”

“Walaupun Jin adalah seorang Idol yang juga memiliki banyak uang tapi dia sangat beruntung karena mengencani anak dari seorang chaebol. Waah, jika mereka menikah, pernikahan mereka pasti akan berlangsung mewah.”

Jungkook menghembuskan napas panjang, “Kenapa jadi mengurusi mereka?”desahnya kesal. “Tolong perhatikan aku dulu. Aku juga punya masalah.”ucapnya. “Aku tidak perduli siapa yang akan mengencani siapa dan apa Hansan group itu. Semua itu bukan urusanku.”

“Ah, benar-benar menyebalkan…”balas Yoongi juga mendengus. “Kau membuat kami sibuk hanya karena seorang gadis?”

“Hanya? Ini bukan sekedar hanya. Aku menyukainya hyung!”

“Aku tidak perduli. Aku tidak mau dengar lagi.” Yoongi menutup kedua telinganya dengan telapak tangan lalu berbaring di lantai.

“Hyung!”

Sementara Taehyung yang sejak tadi berusaha menyembunyikan kemarahannya akhirnya beranjak dari duduknya dan meninggalkan ruang tamu. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam tapi dia rasa jika dia terus berada di rumah, amarahnya akan meledak. Dia butuh tempat untuk menyendiri dan meredam amarahnya.

Hingga ketika dia sampai di sebuah taman yang terletak tak jauh dari sana, dia duduk melamun di sebuah kursi ayunan. Menerawang tanpa fokus kearah kolam pasir yang ada di depannya.

Mengendalikan diri adalah hal yang paling sulit dia lakukan. Sejak dulu. Sifatnya yang meledak-ledak membuatnya kesulitan berubah menjadi pribadi yang lain. Dia ingin marah. Dia ingin mencurahkan semua yang ada di hatinya tapi dia tau dia tidak bisa melakukan itu lagi sekarang. Dia bukan lagi Daegu. Sejak saat dia merasa putus asa atas semua rasa sakit yang di alaminya, dia telah memutuskan untuk hidup menjadi orang lain. Sebagai Kim Taehyung.

Tapi setiap kali dia mendengar nama ‘Hansan’, hatinya kembali terbakar. Nama itu serta kenangan yang ada di sana terus menghantuinya hingga kini. Bagaimana mereka membuat hidupnya berantakan dan memaksanya membunuh ayahnya sendiri hingga membuat ibunya gila.

Pada akhirnya, dia menjadi buronan dan di benci oleh ibunya sendiri.

Bukankah penderitaannya sangat lengkap?

Taehyung memejamkan kedua matanya sambil meremas rantai ayunan kuat-kuat. Semuanya begitu tidak adil untuknya. Kehilangan orang tua, sahabat dan gadis yang ingin dia jaga sekaligus. Semua orang memandangnya buruk, semua orang membencinya.

Ketika kemudioa dia tidak bisa menahan amarahnya lagi, pria itu berdiri dan menendang ayunan kayu itu keras. Ia menjambak rambutnya sambil berteriak, agar sesak di hatinya menghilang.

Tiba-tiba sudut matanya menangkap sesuatu. Ia menoleh dan melihat beberapa orang sedang menghadang seorang gadis. Detik itu juga, Taehyung berlari kearah mereka tanpa kesadaran. Langsung melompat ke tengah-tengah dan memberikan pukulan pada seorang pria yang berdiri paling depan.

Gadis yang ternyata adalah Irene itu terkejut dan langsung termundur ke belakang. Matanya terbelalak lebar melihat Taehyung tiba-tiba muncul dan kini menghajar semua pria itu. Dia terlihat sangat marah, melayangkan pukulan dan tendangan secara membabi buta.

“Hentikan.”Irene mencoba menarik lengan Taehyung namun Taehyung menepisnya hingga membuatnya termundur.

Napas Irene berderu cepat, jantungnya berdegup-degup tak karuan karena beberapa pria sudah tersungkur namun Taehyung masih tak berhenti memukuli mereka. Jika di biarkan, mereka bisa mati.

“Taehyung, aku mohon hentikan.” Irene kembali menarik lengan Taehyung sekuat tenaganya. Lagi-lagi Taehyung menepis. “Jika kau terus memukulinya, mereka bisa mati!”

“Biarkan mereka mati. Aku akan membunuh mereka semua.”

“Taehyung!”

Darah sudah mengucur deras dari satu pria yang belum di lepaskan Taehyung. Ia sudah pingsan dan tak berdaya. Taehyung seperti buta, dia tidak perduli.

“TAEHYUNG!” Irene tiba-tiba memeluk pria tinggi itu dari belakang, memohon  padanya dengan nada nyaris menangis. “Aku mohon hentikan.”

Taehyung tersadar. Ia melepaskan kerah baju pria itu dari cekalannya. Menguap-nguap mencari udara karena seketika dadanya terasa sesak. Dia telah gagal. Dia tidak bisa mengendalikan emosinya. Atas semua usahanya, pada akhirnya dia tetap menjadi Daegu.

Taehyung mengarahkan pandangannya ke bawah, kearah kedua tangan Irene yang memeluknya. Di dengarnya gadis itu juga menangis.

Seketika Taehyung terkesiap. Buru-buru di lepaskannya pelukan Irene itu. Ia berbalik, menatap gadis itu terperangah. Bodoh. Dia kembali lengah.

Seseorang telah melihat wajahnya yang sebenarnya.

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

6 thoughts on “The Demians part 10

  1. ellalibra berkata:

    Oh jd hansan group bergerak dibidang itu , msh g ngrt sm seulgy dy sp disini ? Ank kandung pemilik hansan grup y eon???? Tp kyny jungkook sm ank” yg lain g tau menahu ttg hansan grup y eon ?? Cuma taehyung jimin sm appanya jungkook aja,,, makin seruuuuu ….. Neeeeeeext eon fighting 😀

  2. Shirayuki berkata:

    Tambah seru author-nim. 👍👍👍
    Akhirnya Seok Jin muncul juga kkk😁😁
    Next chapter-nya ditunggu..
    Kepribadian Taehyung yang asli dipertaruhkan nih👏👏.
    Fighting !

  3. Anfa berkata:

    Pertanyaanku dari chap2 sebelumnya tentang hansan group terjawab sudah d.part ini,. Dan pertanyaanku selanjut.a tentang hubungan seulgi sma taehyung?? Next chap.a selalu kunanti,. 😀

  4. Ros97 berkata:

    Kuraaaaang panjaaaang,,
    masih bingung hubungan antara jimin saeron sama daegu,
    saeron sebenarnya adik.a siapa sih.? Jimin atau taehyung.?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s