The Demians part 9

demian n

Tittle       : The Demians

Author    : Ohmija

Cast          : BTS and Seulgi Red Velvet, Irene Red Velvet, Kim Saeron and DIA Chaeyeon

Genre      : Action, Romance, Comedy, Friendship

“Sekarang jelaskan padaku bagaimana kau bisa sampai disini.” Jimin mendudukkan Saeron di sebuah sofa setelah ia memesan sebuah kamar hotel yang tak jauh dari rumah Seulgi.

Saeron membekap gelas hangat dengan kedua telapak tangannya, membiarkan panas dari gelas beling itu menghangatkan tangannya yang masih terasa dingin walaupun ia sudah mengganti baju. “Pihak rumah sakit bilang aku sudah di perbolehkan pulang. Mereka memberitahuku jika ada beberapa orang yang akan mengantarku ke Korea. Orang-orang itu terlihat menyeramkan jadi aku kabur. Aku pulang ke rumah untuk mengemasi barang-barang dan mengambil seluruh tabungan oppa.”

Jimin menghela napas panjang, “Apa kau tau itu sangat berbahaya? Kenapa kau tidak menurut saja dan pergi bersama mereka?”

“Karena aku pikir mereka akan menculikku. Apa oppa tau betapa menyeramkannya mereka?”balas Saeron cepat. “Lagipula bagaimana oppa bisa mengenal mereka? Siapa mereka? Dan apa yang oppa lakukan di sini? Oppa bilang kita tidak akan kembali lagi ke tempat ini.”

Jimin menatap adiknya itu beberapa saat sebelum menjawabnya, “Aku mendapatkan pekerjaan disini. Mereka adalah teman-temanku.”

“Pekerjaan apa? Dan apa oppa juga yang membayar biaya rumah sakitnya?”

“Bosku meminjamiku uang. Aku bisa mengembalikannya pelan-pelan dengan uang gajiku.”

“Iya. Tapi apa yang sedang oppa kerjakan? Kenapa bos oppa begitu baik dan meminjami oppa uang begitu banyak?”

“Saeron, kita bicarakan ini nanti. Sekarang kau harus istirahat. Pikirkan tentang kondisimu. kau baru saja operasi dan sekarang kau justru hujan-hujanan di luar.”

“Oppa tidak kembali ke Hansan group, kan? Tidak, kan?” Saeron tidak memperdulikan ucapan Jimin dan semakin mendesaknya.

Jimin menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan itu, “Tidak.”

“Bohong! Jawab aku dengan benar!”

“Sungguh tidak. Aku mendapat pekerjaan sebagai bodyguard untuk menjaga seorang anak perempuan. Hanya itu.”seru Jimin berbohong.

“Oppa tidak membohongiku, kan?”

“Apa kau tidak mempercayaiku?”balas Jimin.

Saeron terdiam. Gadis itu menatap mata Jimin lekat-lekat, mencoba mempercayai ucapannya.

“Baiklah. Aku percaya oppa.”

Jimin menarik napas lega samar. Beruntung Saeron tidak menemukan kebohongannya.

“Tidak ada yang terjadi denganmu, kan? Kau baik-baik saja, kan? Kau bilang seseorang menipumu. Apa kau ingat bagaimana ciri-cirinya?”

Saeron mendesah panjang, “Apa yang mau oppa lakukan?”

“Tentu saja menghajarnya.”

Yah, dia sudah tau bagaimana sifat kakaknya itu. Harusnya dia tidak bertanya lagi.

“Aku tidak apa-apa. Lagipula tidak ada barang-barang penting di sana, hanya baju, uang dan pasport. Yang penting sekarang aku sudah bertemu dengan oppa, kan?” Gadis itu tersenyum menatap kakak laki-lakinya itu. Jimin balas tersenyum sambil mengulurkan tangan, mengacak rambut Saeron.

“Apa kau tau bagaimana khawatirnya aku saat kau sedang sakit? Mulai sekarang kau tidak boleh sakit lagi.”

Saeron mengangguk, “Aku tau. Aku akan menjaga diriku lebih baik lagi mulai sekarang.” Gadis itu semakin melebarkan senyumannya membuat Jimin sedikit lega. “Ngomong-ngomong, apa artinya mulai sekarang kita akan tinggal di Korea lagi?”

Jimin mengangguk, “Aku akan mencarikan rumah sewa untuk kita tinggali dan mengurus surat-surat kepindahanmu agar kau bisa daftar sekolah. Untuk sementara kau tinggal disini. Jangan keluar jika aku tidak ada. Jika kau merasa lapar atau haus, hubungi aku, aku akan datang membawa makanan.”

“Tapi aku bisa memesan dari restoran hotel, kan?”

“Tidak. Jangan.” Jimin menggeleng cepat. “Jangan bukakan pintu untuk sembarang orang. Aku yang akan datang membawakan makanan untukmu.”

“Oppa… oppa semakin keterlaluan.” Saeron menghela napas panjang. “Apa sekarang oppa ingin mengurungku? Apa aku ini Rapunzel.”

“Yah, anggap saja begitu.” Jimin tidak perduli. Pria itu memberikan jas hitamnya pada Saeron. “Jemur ini di belakang. Aku harus pergi bekerja. Sekarang, kau masuk ke kamar dan tidur. Ingat, jangan bukakan pintu untuk siapapun. Besok kita akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaanmu.”

“Oppa!”protes Saeron berdiri dari duduknya. “Aku sudah lama tidak datang ke kota kelahiranku. Biarkan aku melihat-lihat sekitar!”

“Kau mau aku menyewa polisi untuk mengikutimu kemana-mana?”tegas Jimin. “Kau baru saja bangun dari tidur panjangmu jadi sekarang kau harus banyak istirahat! Jangan membantah ucapanku, mengerti?!”

Saeron langsung menutup mulutnya rapat-rapat, percuma membantah ucapan Jimin. Dia tidak akan bisa menang.

Jimin menghela napas panjang begitu ia melihat wajah cemberut Saeron. Pria itu mencekal kedua lengannya dan sedikit membungkukkan badan, menjajarkan wajahnya dengan wajah adik perempuannya itu. Di tatapnya dua manik mata kecoklatan gadis itu lekat-lekat.

“Kau tau betapa pentingnya dirimu untukku, kan? Aku tidak mau kau meninggalkanku lagi.”

Saeron balas menatap kakaknya itu dalam diam. Jimin pernah mengajarkannya dasar-dasar bela diri sebelumnya. Tapi pria itu masih bersikap protektif. Bahkan ketika Saeron bisa membuktikan jika dia berhasil menangkap seorang maling yang mencoba menerobos rumah mereka waktu itu.

“Aku tau.” Akhirnya gadis itu mengalah.

Jimin tersenyum sambil mengacak rambutnya, “Gadis baik. Sekarang istirahatlah. Aku akan segera kembali.” Tapi ketika pria itu sudah membuka pintu, ia berbalik ke belakang sekali lagi dan memeluk Saeron. “Aku menyayangimu. Jangan terluka lagi.”

Saeron mengangguk, balas memeluk kakak laki-lakinya juga, “Aku juga menyayangi oppa.”

***___***

 

“Astaga, Jeon Jungkook. Kau darimana? Kenapa basah kuyup seperti ini?” Irene langsung menghampiri anak laki-laki itu ketika ia muncul.

“Tadi aku kehujanan, noona.”

“Cepat masuk ke dalam dan keringkan tubuhmu.” Gadis mungil itu mendorong Jungkook masuk ke dalam.

“Apa yang terjadi dengannya?”gumam Yoongi tak acuh sambil geleng-geleng kepala lalu kembali melayani pengunjung.

Di dalam Jungkook bertemu Taehyung yang sibuk membawa beberapa pesanan minuman keluar. Ia mengerutkan kening, “Kenapa kau basah kuyup?”

“Aku kehujanan.”

Pandangannya turun ke sesuatu yang di bawa Jungkook, “Kehujanan sambil membawa boneka? Kau suka boneka?” Ia kembali menatap Jungkook semakin heran.

“Tentu saja tidak.” Anak laki-laki itu langsung mengelak. “Ceritanya panjang. Aku akan menceritakannya nanti. Sekarang aku harus ganti baju.”

Taehyung mengangguk, “Oke.” Lalu melanjutkan langkahnya.

Semakin ke dalam, ia kembali bertemu dengan Hoseok dan Namjoon yang sibuk mengangkat piring-piring. Keduanya sudah hampir membuka mulut tapi Jungkook bersuara lebih dulu.

“Jika kalian ingin bertanya kenapa aku kebasahan, aku akan menjawabnya nanti. Aku harus ganti baju dulu.” Ia masuk ke dalam ruang ganti. “Namjoon hyung, aku pinjam jaketmu, ya.”teriaknya dari dalam.

“Oke.”

“Baik. Tunggu sebentar. Kami akan mengantarkan pesanannya dengan cepat.” Irene tersenyum lebar pada salah satu pelanggan laki-laki yang datang. Sekarang tempat itu tak lagi di penuhi oleh pelanggan perempuan, pelanggan laki-laki juga mulai meramaikan tempat itu sejak kedatangan Irene.

“Satu cheese cake dengan topping strawberry dan satu coconut juice.” Irene memberikan satu lembar pesanan pada Taehyung yang baru saja kembali.

“Aku lelah.”

“Lalu siapa yang harus ku suruh? Yoongi? Namjoon? Hoseok?”

Taehyung menoleh ke belakang, menatap kesekeliling. Yoongi, Namjoon dan Hoseok sedang sibuk melayani pelanggan. Akhirnya pria itu menghela napas panjang lalu berjalan ke dapur.

“Noona, apa tidak ada makanan? Aku lapar.” Jungkook menghampiri Irene yang berdiri di belakang mesin kasir.

“Tanya saja pada Taehyung.”

“Dia sedang sibuk.”

“Oh? Kau juga pelayan baru disini? Aku tidak pernah melihatmu.” Seorang pelanggan perempuan bertanya pada Jungkook.

Jungkook hanya tersenyum sambil menggeleng.

“Dia bukan pelayan tapi anak pemilik cafe ini.”jelas Irene.

“Oh benarkah?” Pelanggan perempuan itu menutup mulutnya karena terkejut. “Wah, kau tampan sekali.”

Jungkook kembali tersenyum, “Terima kasih.” Merasa tidak enak, anak laki-laki itu kembali ke dalam dan menghampiri Taehyung. “Hyung, apa itu pesanan?” Ia menatap cheese cake yang ada di piring.

“Iya. Jangan mengambilnya. Aku harus segera mengantarnya.”

“Apa tidak bisa untukku? Aku sangat lapar.”

“Tidak bisa. Ada sisa cake cokelat di kulkas, kau makan itu saja.”

“Tapi sepertinya cheese cake itu lebih enak.”

“Tidak bisa.”ulang Taehyung lagi. “Pergilah. Jangan menggangguku.”

Jungkook hanya bisa menghela napas panjang. Ia menuju sudut ruangan dan duduk di salah satu anak tangga. Semua orang sedang sibuk sementara dia merasa lapar. Dia ingin membantu tapi tidak ada yang bisa dia lakukan.

Ketika matanya melirik ke sisi kanan, kearah boneka warna putih berbentuk beruang yang sengaja ia letakkan di atas kulkas agar cepat kering, tiba-tiba ia teringat gadis itu. Dia sangat cantik. Rambut panjang bergelombang bewarna kecokelatan, mata besar dan hidung mancungnya. Bagaimana mungkin seseorang bisa terlihat cantik padahal dia sedang berada dalam kondisi yang buruk?

Tanpa sadar senyumnya mengembang. Gadis itu bahkan berhasil membuat jantungnya berdebar-debar tak karuan. Dia harap dia bisa melihatnya lagi.

“Kenapa kau tersenyum seperti orang bodoh?”

Kesadaran Jungkook kembali saat ia mendengar suara Yoongi, “Oh hyung?”

“Kau gila?”

Jungkook semakin meringis lebar, menunjukkan dua gigi kelincinya, “Mungkin.”

Yoongi geleng-geleng kepala sambil melompat duduk di atas meja, tangan kanannya mencomot sepotong kue yang ada di piring bekas pelanggan yang tidak dimakan.

“Kenapa mereka memesan jika mereka tidak memakannya?”

Kening Jungkook berkerut, “Mungkin terburu-buru pergi.”

“Terkadang pengunjung yang datang kemari hanya untuk melihat Taehyung. Mereka sangat suka menghambur-hamburkan uang.”

“Oh Tuhan, aku lelah.” Irene muncul sambil meregangkan kedua tangannya keatas. “Hari ini sangat ramai.”

“Sekarang, pengunjung yang datang kemari juga untuk melihatnya.”seru Yoongi lagi.

Jungkook terkekeh, “Bukankah itu adalah keuntungan untuk kita?”

“Yah, memang benar.”

“Apa yang sedang kalian bicarakan?” Salah satu alis Irene terangkat. Gadis itu menuang air mineral ke dalam gelas lalu duduk di salah satu kursi makan. “Kalian membicarakanku?”

“Selesai!!!! Akhirnya selesai!!!” Teriakan Hoseok membuat semuanya menoleh. Pria itu muncul bersama dengan Namjoon dan Taehyung. Sementara Taehyung melompat keatas meja, duduk di samping Yoongi, Hoseok dan Namjoon duduk di kursi makan bersama Irene.

“Sudah menutup cafe?”tanya Irene menoleh kearah Namjoon yang duduk di sampingnya.

Namjoon mengangguk, “Sekarang kita bisa pulang.”

“Tidak bisa.”balas Irene. “Sebelum pulang, ada yang harus kita ketahui dulu.” Yang lain mengerutkan kening bingung. Irene memalingkan wajah, menatap kearah Jungkook. “Kenapa kau kehujanan? Dan boneka diatas kulkas itu milik siapa?”

“Oh, aku juga ingin menanyakannya tadi.”sahut Hoseok.

Jungkook tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “Tadi aku menolong seseorang yang hampir tertabrak. Dia meninggalkan boneka ini. Sepertinya dia lupa membawanya.”

“Siapa?”

“Entahlah. Aku tidak bertanya siapa namanya.”

“Seorang gadis?”tanya Namjoon.

“Tentu saja! Jika pria, aku tidak akan menolongnya. Aku akan membiarkannya tertabrak. Lagipula jika dia pria, dia tidak akan membawa boneka seperti ini, kan?”dengus Jungkook.

“Cih, dasar. Jadi kau kehujanan karena menolong gadis itu?”tanya Namjoon lagi.

“Iya.”

“Apa dia sangat cantik?” Yoongi ikut bertanya. “Apa dia alasannya kenapa kau tersenyum seperti orang bodoh tadi?”

Jungkook meringis malu, “Sangat cantik.”

“Waaah, Jeon Jungkook kau sudah dewasa!” Hoseok berseru bangga. “Siapa namanya? Dimana dia tinggal?”

Senyuman di wajah Jungkook langsung menghilang, “Tidak tau. Aku tidak sempat berkenalan dengannya.”

Hoseok juga terlihat kecewa, “Kenapa?”

“Kakak laki-lakinya lebih dulu datang dan menjemputnya.”

“Huh? Kakak laki-laki?” Jungkook mengangguk.

Yoongi tertawa, “Tamat riwayatmu. Sebaiknya lupakan gadis yang punya kakak laki-laki.”

“Kenapa? Bagaimana jika kakak laki-lakinya baik?”sahut Irene.

“Tidak noona. Kakak laki-lakinya sangat menyeramkan. Dia bahkan mengatakan akan membunuhku jika aku macam-macam dengan adiknya.”

“Kalau begitu sebaiknya kau mundur.” Angguk Irene setuju.

Yang lain seketika tertawa terbahak-bahak, “Bagaimana jika cari gadis lain? Ada banyak pengunjung cantik yang datang.”tawar Yoongi.

“Hyung, apa kau pernah merasakan cinta pertama? Dia adalah cinta pertamaku!”dengus Jungkook cemberut.

“Ku pikir kau hanya tau caranya berkelahi.”seru Namjoon tertawa geli.

“Dia sedang patah hati.” Hoseok juga tertawa.

“Waah kalian benar-benar menyebalkan.”decak Jungkook kesal. Anak laki-laki itu akhirnya berdiri dan menarik lengan Irene. “Ayo pulang noona.”

“Tapi aku belum ganti baju.”

“Kalau begitu minta mereka mengantar noona. Aku pulang dulu.”

Jungkook meninggalkan tempatnya bersungut-sungut di sertai suara tawa dari yang lain.

***___***

 

Seulgi langsung berlari menuruni anak-anak tangga dan keluar begitu suara mobil terdengar. Sukhwan yang sedang berjaga di luar sudah akan menghentikan langkah Seulgi sebelum dia melihat Jimin muncul dari arah yang berlawanan.

“Bagaimana adikmu? Sudah kau temukan? Dimana dia?”tanyanya beruntun.

Jimin tersenyum, “Sudah ku temukan. Dia tidak apa-apa. Untuk sementara dia tinggal di hotel yang ada di dekat sini.”

“Kenapa kau tidak membawanya kemari?”

“Tidak. Aku sudah bilang aku tidak mau dia terlibat, kan?” Pria itu mengulurkan tangannya dan menepuk punggung Seulgi. “Jangan khawatir. Adikku tidak apa-apa. Terima kasih karena sudah mengkhawatirkannya.”

“Kapten,” Sukhwan berseru pelan, bergabung bersama mereka. “Apa ada sesuatu yang sedang terjadi?”

Belum sempat Jimin menjawab, bibi Yang juga terlihat berlari-lari dari dalam rumah.

“Busan! Saeron! Dimana dia? Dimana Saeron-ku?” Wanita paruh baya itu mencekal kedua lengan Jimin dan mengguncang tubuhnya. Wajahnya terlihat sangat panik.

“Dia ada di hotel Dungbu. Dia tidak apa-apa, ahjumma.”

“Tidak apa-apa bagaimana? Dia baru saja operasi! Kenapa kau meninggalkannya sendirian?”

“Dia benar-benar tidak apa-apa. Aku sudah memastikan keadaannya dan dia baik-baik saja. Lagipula besok aku akan membawanya ke rumah sakit.”

“Lalu bagaimana dengan penipunya? Kau bilang dia di tipu.”

“Tidak ada barang penting di dalam tas itu. Hanya uang dan baju.”

“Oh Tuhan, gadis kecilku.”

“Ahjumma jangan khawatir. Dia baik-baik saja.”ucap Jimin lagi dengan senyum.

“Maaf tapi… siapa yang sedang kalian bicarakan? Saeron?”cicit Sukhwan pelan.

Bibi Yang menghela napas panjang lalu memukul lengan Sukhwan, “Jangan ikut campur! Sebaiknya kau makan sekarang. Ayo!”

Bibi Yang menyeret pria tinggi itu ke dalam. Meninggalkan Jimin dan Seulgi yang masih berdiri di taman.

“Kau baik-baik saja?” Seulgi menatap Jimin khawatir.

Jimin mengangguk, masih dengan senyum yang bertahan di bibirnya, “Maafkan aku. Aku tidak menepati janji lagi. Aku harus pergi karena adikku tiba-tiba menelpon“

“Kenapa kau minta maaf? Kau memang harus pergi. Bukankah alasanmu bekerja disini karena adikmu? Kau pasti sangat khawatir tadi, kan?” Jimin mengangguk dengan senyum tipis. “Kau boleh menemui adikmu kapan saja kau mau. Jangan memikirkanku. Aku tidak apa-apa.”

“Kau serius? Jika aku pergi, kau akan sendirian.”

“Tidak. Ada Yang ahjumma dan pria itu yang menemaniku.”

“Namanya Sukhwan.” Jimin tersenyum geli.

“Iya. Sukhwan.”

“Ini aneh. Biasanya kau akan menyuruhku pulang cepat tapi sekarang kau justru menyuruhku pergi.”

“Ini karena alasannya adalah adikmu.”balas Seulgi. “Walaupun aku hanya merasakan bagaimana rasanya punya adik selama satu hari, aku sangat sedih saat kehilangannya. Jadi aku mengerti bagaimana perasaanmu.”

Jimin menatap gadis itu sesaat. Tanpa suara. Seulgi sedang menatap kosong kearah tanaman-tanaman dengan senyum kecut di bibirnya. Karena tidak ingin membuatnya sedih karena teringat kenangan pahit, Jimin mengalihkan pembicaraan, “Ayo masuk. Kau mau lanjut menonton Goblin, kan?”

Tatapan sedihnya seketika berubah. Matanya berbinar-binar menatap Jimin dengan semangat, “Oh ya! Aku hampir menyelesaikan satu episode.”

Gadis itu menarik lengan Jimin dan membawanya masuk ke dalam. Di belakangnya, Jimin tersenyum geli. Gadis ini… dia sangat sederhana.

***___***

 

Ini seperti menjadi sebuah kebiasaan. Setiap kali ia menemani Seulgi menonton drama, gadis itu akan terlelap di sofa dengan ponsel di tangannya. Dan tugasnya adalah menggendong gadis itu ke kamarnya.

Jimin melirik arlojinya setelah ia menutupi tubuh Seulgi dengan selimut. Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Masih ada waktu sebelum Seulgi bangun. Biasanya gadis itu akan bangun pukul  10 atau 11 siang.

Pria itu meninggalkan rumah setelah memperingatkan Sukhwan untuk berjaga selama dia pergi. Ia mengelilingi daerah yang tak jauh dari sana, mencari tempat yang tepat untuk di tinggali. Dengan tujuan agar dia bisa menjangkau Saeron dengan cepat jika terjadi sesuatu. Tapi setelah setengah jam berkeliling, dia tidak menemukan rumah sewa.

Jimin memutuskan untuk pergi sedikit lebih jauh. Ke daerah Hongdae yang terkenal ramai setiap harinya. Juga menjadi ciri khas dimana anak-anak muda sering menghabiskan waktu bersama teman-teman. Ini adalah daerah yang tepat untuk Saeron agar dia tidak jenuh. Lagipula daerah ini selalu ramai jadi dia tidak perlu khawatir jika Saeron berjalan-jalan di luar.

‘Rumah Sewa’

Pria itu menghentikan mobil saat melihat tulisan yang tergantung di tiang besi. Bangunan itu besar dan bertingkat, lebih terlihat seperti rumah susun. Ada satu rumah yang terpisah di depan bangunan itu. Sepertinya rumah itu adalah rumah si pemilik.

Jimin berjalan memasuki pagar dan bersamaan dengan itu, seorang gadis terlihat keluar dengan bak berisi cucian di tangannya. Gadis bertubuh mungil itu terkejut saat ia melihat Jimin ada di halaman rumahnya.

“Annyeonghaseo.”sapa Jimin sopan.

“Annyeonghaseo.”

“Maaf karena aku datang pagi-pagi sekali tapi aku melihat tulisan yang ada di depan dan—“

“Kau mencari rumah sewa?”

Jimin sedikit terkejut karena gadis itu bertanya dalam bahasa banmal. Dia pikir gadis itu lebih muda darinya. Tapi pria itu mengabaikannya dan mengangguk, “Iya.”

“Terima kasih, Tuhan. Akhirnya ada yang datang.” Gadis itu langsung meletakkan bak cuciannya dan menghampiri Jimin. “Siapa yang akan menyewa? Kau?”

Jimin mengangguk lagi. Dalam hati mulai ragu apakah dia benar-benar akan menyewa tempat ini atau tidak karena gadis yang ada di depannya itu terlihat aneh.

“Ada empat rumah yang masih kosong. Kau bisa melihatnya jika kau mau. Kau lebih suka tinggal di lantai dua atau lantai pertama?”

“Sebenarnya bukan untukku sendiri tapi aku akan tinggal bersama adikku. Aku belum bertanya padanya rumah mana yang lebih dia sukai.”

“Kau bisa membawanya kemari kalau begitu.” Gadis itu tersenyum lebar. Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya, “Aku Irene. Kau bisa menghubungiku jika kau datang lagi bersama adikmu.”

Jimin mengangguk, “Oke. Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu.”

Pria itu meninggalkan rumah Irene dengan langkah-langkah panjang. Sementara gadis mungil itu melambaikan tangannya dengan semangat berapi-api, “Jangan lupa kembali, pelanggan nomor satu. Aku akan menunggumu!”

Jimin menginjak pedal gas dan segera meninggalkan tempat itu. Sepertinya rumah itu bukanlah rumah yang tepat untuk mereka tinggali.

Akhirnya ia menuju hotel. Saeron langsung membukakan pintu setelah mengintip dari lubang pintu dan melihat kakaknya berdiri di baliknya.

“Oppa pasti belum tidur, kan?”tanyanya sambil mengikuti langkah Jimin masuk ke dalam.

“Aku akan tidur setelah mengantarmu ke rumah sakit. Kau sudah siap?”

“Memangnya aku harus bersiap seperti apa? Aku tidak punya baju ganti.”

Jimin lupa jika adiknya itu semalam tidak membawa apapun, “Setelah dari rumah sakit, kita akan membeli beberapa baju untukmu.”ucapnya. “Oh ya, aku berkeliling sebentar tadi mencari rumah sewa. Aku belum menemukan yang pas.” Ia mengeluarkan selembar kartu nama dari sakunya. “Tapi tadi aku menemukan rumah yang bagus di Hongdae. Hanya saja pemiliknya sedikit aneh.”

Alis Saeron berkerut, “Aneh?”

“Dia terlalu bersemangat.”

“Kalau begitu dia tidak aneh. Hanya terlalu bersemangat.” Saeron duduk di sofa yang ada di hadapan Jimin. “Jika oppa merasa rumah itu bagus. Kenapa kita tidak tinggal disana saja?”

“Aku bilang aku akan bertanya padamu dulu.”

“Kalau begitu ayo kita pergi!” Saeron tersenyum lebar lalu pindah duduk di sebelah Jimin dan mengguncang-guncang lengannya. “Ayo pergi oppa. Aku ingin melihat rumahnya.”

Jimin melirik adiknya itu dengan mata menyipit, “Kau bukan ingin melihat rumahnya tapi kau ingin jalan-jalan, kan?” tebaknya tepat.

Saeron meringis lebar, walaupun begitu tetap merengek pada Jimin, “Ayo pergi.”

Jimin berkecap, “Ah dasar… kita harus pergi ke rumah sakit dulu.”

***___***

 

Tuan Jeon mengurungkan niatnya untuk pergi ke kamar mandi ketika ia melihat Taehyung duduk seorang diri di balkon belakang. Ia menghampiri anak laki-laki itu dan duduk di sebelahnya.

“Apa yang ingin kau bicarakan denganku?”tanya Taehyung tetap menatap ke depan.

Tuan Jeon langsung mendengus, “Bicaralah yang sopan denganku. Bagaimana jika yang lain mendengarnya?”

Taehyung menghela napas panjang, “Ada apa?”tanyanya sedikit lebih sopan.

“Apa aku tidak boleh duduk di sebelahmu?”

“Kau pasti datang bukan tanpa alasan, kan? Kau juga menghampiriku saat yang lain masih tidur.”

“Aku hanya ingin tau apa yang sedang kau pikirkan. Kenapa kau melamun menatap pohon itu.”

“Aku tidak melamun.”

“Jika kau tidak melamun, kau pasti tau sejak tadi aku memperhatikanmu.”balas Tuan Jeon cepat. “Beritahu aku. Apa yang sedang kau pikirkan?”

Taehyung tak langsung menjawab. Anak laki-laki itu terdiam cukup lama sebelum akhirnya keyakinannya terkumpul untuk menjawab pertanyaan itu.

“Kau tau dimana Busan?”

“Busan? Aku tidak yakin. Tapi ku dengar dia berada di China sekarang.”

“China?”

“Iya. Kenapa? Kau merindukannya?”

“Bukan dia. Orang lain.”

“Maksudmu?”tanya Tuan Jeon bingung. Ia memutar bola matanya, berpikir sendiri karena Taehyung kembali diam. “Apa orang yang kau maksud adalah anak perempuan itu?”

Taehyung langsung menoleh, menatap Tuan Jeon.

“Aku tidak tau siapa namanya.”

“Apa kau tau tentang dia?”

“Tentu saja tidak. Aku bahkan tidak tau kapan dia lahir. Aku hanya mendengar sedikit kabar tentangnya. Setelah orang tuanya meninggal, dia tinggal bersama Busan, kan?”

Kali ini Taehyung tidak hanya menoleh, tapi membalik badannya juga. Benar-benar menatap Tuan Jeon. “Sebenarnya darimana kau dapat semua informasi itu?”

“Seseorang.”

“Kau punya mata-mata?”

Tuan Jeon tertawa, “Apa kau pikir walaupun aku sudah pergi, aku juga kehilangan teman-temanku?”

“Kau bilang tidak ada yang bisa di percaya di dunia ini. Kenapa kau biarkan seseorang mengetahui identitasmu? Dan dia adalah orang Hansan.”

“Kau masih terlalu muda untuk mengerti, nak.” Tuan Jeon tersenyum menatap Taehyung. “Dalam peperangan, tidak hanya kekuatan yang kau butuhkan tapi juga strategi. Dan ini adalah strategiku.”

“Apa maksudmu?”

Tuan Jeon menatap Taehyung lekat-lekat, “Ketika aku memutuskan untuk kembali ke Korea, tanpa ku sadari, aku juga telah memutuskan sesuatu.”ucapnya pelan. “Perang.”

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

7 thoughts on “The Demians part 9

  1. ellalibra berkata:

    Q msh nunggu sbnrny mrk merebutin apa sih ? Harta, kedudukan /ky ketua mafia gt hehe ….. Msh byk misteri nya , tuan jeon sp y ? Trs jungkook ky g tau ttg masa lalu ayahnya , yg lain jg ky g tau apa” ttg masalalu taehyung jg , g sabar neeeeeeext fighting eon 😀

  2. Anfa berkata:

    Aku fikir taehyung adik.a seulgi, tapi seulgi cuma punya adik satu hari,.. Yang d.maksud taehyung itu saeron kan?? Semua.a berhubungan sma hansan tpi aku mash belum fham sama itu hansan,.. Ditunggu perang.a 😀

  3. Shirayuki berkata:

    Taehyung-Saeron ?! Jadi Jungkook gmna dong ?!
    Kalo Busan jadi pindah ke rumah Irene ketemu sama Daegu dong ! OMG ! Ditunggu chapter selanjutnya authornim 😆👍

  4. Ros97 berkata:

    Aaaagh,, lama2 makin seru aja ceritanya,,
    bikin gk sabar nunggu chap selanjutnya,,
    cieee jungkook faling in love sama saeron, awas ada jimin lhoo.. Hehe:D

    masih bingung hubungan antara jimin- saeron – taehyung, masa lalu mereka dulu kaya gimana sih,, penasaran akut thor,,
    please updatenya jangan lama2 thor,,, penasaran soal.a :D:D:D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s