FF EXO : AUTUMN CHAPTER 34

autumn

Author  :  Oh Mi Ja

Cast :  Leeteuk SJ as Park Jungsoo

Luhan EXO as Park Luhan

Kai EXO as Park Jongin

Sehun EXO as Park Sehun

Support Cast      : Kris EXO as jaksa

Suho EXO as Pastor

Taemin Shinee as Lee Taemin

JR JJ Project as Park Jin Young

Jonghyun CN Blue as Lee Jonghyun

Shindong SJ as Shin Donghee

Dongho Ukiss as Shin Dong Ho

Genre                   : Brothership, Family, Mystery, Comedy, Friendship

Luhan menelan ludah, “Kau serius?”

Sehun menganguk-anggukkan kepalanya, “Aku yakin, hyung. Aku yakin. Jika hyung tidak percaya, hyung bisa bertanya pada Pastor Kim. Saat itu aku bersamanya.”

“Pastor Kim?”

“Iya. Aku tau kesaksianku tidak bisa di gunakan tapi kita bisa menggunakan kesaksian pastor Kim, kan?”

“Sehunnie, aku tanya padamu sekali lagi. Kau serius?”

“Aku tidak berbohong, hyung. Aku mengingatnya!”

Luhan langsung berdiri dari duduknya, “Aku akan pergi menemui pastor Kim.”serunya lalu pergi dengan langkah-langkah panjang.

Nyonya Anne menghusap punggung Sehun sambil memberikannya minum, “Minumlah ini agar kau tenang.”

“Sehunnie, haruskah kita pergi ke rumah sakit? Atau haruskah hyung memanggil dokter? Apa kepalamu sakit?”tanya Jongin khawatir.

Sehun menggeleng dengan wajah pucat, “Tidak perlu, hyung. Aku baik-baik saja.”

“Aku akan mengantarmu ke kamar. Ayo.” Jinyoung membantu Sehun berdiri dan membawanya menuju kamar.

***___***

 

Luhan langsung melajukan mobilnya menuju rumah Suho. Pikirannya berkecamuk. Jika yang di katakan Sehun memang benar, itu artinya kemungkinan jika ayahnya di bunuh semakin besar.  Sebelumnya dia pernah menduga-duga tentang kematian ayahnya yang di rasa begitu mendadak. Walaupun ayahnya memang koma karena kecelakaan itu, tapi alasan kenapa ayahnya jatuh koma adalah kecelakaan. Dan sudah jelas jika kecelakaan itu memang di sengaja untuk membunuh ayahnya. Pelaku tidak berhasil membuatnya mati sehingga dia melakukan hal lain.

Luhan melompat keluar dari mobil bersamaan dengan Suho yang baru saja kembali setelah membuang sampah.

“Luhan?”

Luhan langsung menghampiri Suho dengan wajah pucat pasi,“Pastor, kita harus bicara.”

***___***

 

Suho membawa Luhan masuk ke dalam rumahnya dan menghidangkan minuman hangat untuknya. Ia duduk di sofa yang ada di hadapan Luhan dan menatap pria itu dengan tatapan lembut.

“Apa yang ingin kau bicarakan, Luhan?”

Luhan menelan ludah susah payah, “Pastor, ada yang ingin ku tanyakan. Ini tentang kematian appa empat tahun lalu.”

Suho dengan sabar menunggu Luhan bicara. Memberikan ia waktu untuk menenangkan hatinya sendiri.

“Saat appa meninggal, hanya ada pastor dan Sehun disana. Tadi Sehun tiba-tiba memberitahuku jika di hari kematian appa, ada seorang suster yang menyuntikkan sesuatu padanya. Apa pastor ingat?”

“Suster?” Suho mencoba mengingat-ingat kejadian empat tahun lalu. “Aku tidak begitu ingat karena kejadiannya sudah sangat lama. Tapi…” Mata Suho tiba-tiba melebar ketika ia teringat sesuatu. “…benar! Aku melihat suster keluar dari ruangan ayahmu waktu itu.”

“Sungguh? Pastor benar-benar mengingatnya?”

“Iya. Tak lama setelah ia keluar, ayahmu meninggal.”

“Apa pastor ingat bagaimana wajahnya? Atau ciri-ciri fisiknya.”tanya Luhan memburu.

“Aku tidak ingat wajahnya tapi dia bertubuh mungil. Kulitnya sedikit gelap.”

“Bertubuh mungil dan berkulit gelap.” Luhan mengangguk. Kini ia mengantongi sedikit ciri-ciri yang bisa memudahkannya mencari identitas suster itu. “Kalau begitu aku pergi dulu. Terima kasih pastor dan maaf sudah mengganggu waktu pastor.”

“Kau mau kemana malam-malam seperti ini?”

“Aku harus pergi ke rumah sakit dan mencari tau yang sebenarnya.”

“Luhan, tapi ini sudah malam.”

“Aku tidak punya banyak waktu, Pastor. Aku harus segera menyelidiknya untuk persiapan persidangan nanti.”

Suho tidak bisa melakukan apapun lagi jika Luhan bersikeras seperti ini.  Ia akhirnya membiarkan anak itu pergi untuk menyelesaikan tugasnya.

Di perjalanan, Luhan memasang earphone di telinganya karena ponselnya berdering.

“Ya? Ada apa Kwonsu-ssi?”

“Tuan Park bisakah kita bertemu sebentar?”

“Aku sedikit sibuk. Bagaimana jika besok?”

“Tapi ada yang harus ku katakan. Ini penting.”

“Baiklah. Aku sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit Seoul, bagaimana jika kita bertemu disana?”

“Baik. Aku akan segera datang.”

***___***

 

Luhan langsung menghampiri ruang informasi begitu ia sampai di rumah sakit itu. Ia menghampiri seorang suster penjaga yang menyambutnya dengan ramah.

“Aku adalah Park Luhan, anak sulung Park Jungsoo. Aku ingin meminta data-data tentang ayahku yang meninggal di rumah sakit ini empat tahun lalu.”ucapnya tanpa basa-basi.

Tidak mudah mendapatkan data-data seorang pasien yang sudah meninggal. Apalagi data pasien empat tahun lalu. Luhan bahkan harus menunjukkan kartu identitasnya untuk membuktikan jika dia benar-benar anak Park Jungsoo lebih dahulu.

Suster itu bergerak, berjalan menuju sebuah ruangan yang bisa di bilang seperti tempat penyimpanan berkas karena data di dalam komputer tidak begitu lengkap. Keramahannya menghilang karena ia merasa jika Luhan telah merepotkannya. Membuatnya harus berjalan ke ruangan yang cukup jauh dan bertarung dengan tumpukan berkas-berkas yang berdebu.

“Tuan Park.” Kwonsu menghampiri Luhan yang sedang bersandar di dinding. “Apa yang sedang anda lakukan disini? Apa anda mendapatkan bukti lain?”

“Belum bisa di bilang sebagai bukti karena aku belum memeriksanya.”

“Apa yang anda tunggu?”

“Berkas-berkas ayahku selama di rawat di rumah sakit ini.”jawabnya. “Tadi Sehun tiba-tiba mengaku jika dia ingat ada seorang suster yang menyuntikkan sesuatu ke selang infus ayahku sebelum akhirnya dia meninggal.”

Mata Kwonsu seketika membulat, “Benarkah? Tapi bukankah kita tidak bisa memakai kesaksian Sehun karena penyakitnya?”

“Beruntungnya aku punya saksi lain. Selain Sehun, ada orang lain saat ayahku meninggal.”

“Tentang kasus Sehun yang aku tangani, sepertinya persidangan akan di jalankan bersamaan dengan sidang anda karena kedua kasus itu saling berhubungan. Jadi di persidangan nanti, sepertinya aku akan menemani anda di kursi pengacara.”

Kedua alis Luhan berkerut, “Benarkah?”

“Apa anda tidak mendapat pemberitahuan?”

Luhan menggeleng, “Mungkin aku belum membacanya.”

“Tuan Park, hanya ini berkas-berkas yang bisa saya temukan.” Suster itu akhirnya kembali sambil meletakkan beberapa dokumen bewarna putih di atas meja. “Tapi anda tidak bisa membawanya pulang.”

“Iya aku tau. Aku hanya ingin memeriksanya sebentar. Jika kau mencariku, aku ada di ruang tunggu VIP.”

Luhan membawa dokumen-dokumen itu ke sebuah ruangan yang sengaja di sediakan untuk tamu-tamu VIP. Maksudnya orang-orang yang bersedia membayar lebih pada pihak rumah sakit untuk melindungi privacy mereka. Tidak hanya celebrity yang sering menyewa tempat itu, tapi pejabat dan chaebol juga.

“Bisakah kau membantuku memeriksanya?”tanya Luhan menyebar dokumen-dokumen itu di meja.

Kwonsu langsung mengangguk, “Tentu saja.”

Luhan membaca isi dokumen itu dengan seksama. Tentang laporan kesehatan ayahnya sejak hari pertama dia di rawat hingga ia meninggal dunia.

Kedua matanya masih tertuju pada dokumen itu saat tangan kanannya meraih ponselnya dari dalam saku. Melirik sekilas kearah layar ponsel, Luhan menghubungi seseorang.

Yeoboseyo. Annyeonhaseo, sajangnim. Saat ini aku sedang berada di ruang tunggu VIP nomor 5, bisakah anda datang kemari? Aku sedikit butuh bantuan.”

“….”

“Sungguh? Terima kasih. Maaf sudah merepotkan anda.”

Kwonsu menatap Luhan bingung, “Siapa yang anda telepon?”

“Direktur rumah sakit ini.”

“Apa?!”pekiknya terkejut. “Anda… serius?”

“Apa kau heran kenapa aku bisa menghubunginya dengan mudah tanpa perlu menunggu sekretaris pribadinya mengabariku?” Luhan menyeringai. “Aku pernah membantu kasus anaknya. Ini rahasia jadi aku tidak bisa memberitahukannya padamu. Hanya saja dia bilang dia akan membantuku jika aku butuh sesuatu.”

“Ya ampun, anda sangat beruntung,”

“Ini adalah taktik.” Luhan membalik lembar dokumennya tanpa balas menatap Kwonsu yang sedang menatapnya bingung. “Apa kau pikir aku menerima kasus yang melibatkannya tanpa alasan? Aku tidak butuh uang.”

Mata Kwonsu melebar, “Apa sejak awal anda memang menargetkan direktur rumah sakit ini karena anda tau anda akan membutuhkan bantuannya?”

Luhan menjawabnya dengan senyuman. Tapi tetap tidak menoleh.

“Astaga, anda benar-benar telah menyiapkannya dengan matang.”

“Karena aku tidak mau kalah lagi.”jawab Luhan pelan. “Oh ya, bukankah kau bilang ada sesuatu yang ingin kau katakan?” Luhan menutup dokumennya dan menatap Kwonsu. “Tentang apa?”

“Oh itu…” Kwonsu menggaruk tengkuk belakangnya. “Sebenarnya aku harus membuat pengakuan pada anda. Aku minta maaf karena aku tidak mengatakannya karena aku pikir aku masih punya banyak waktu. Tapi ternyata, waktunya tinggal sedikit.”

“Jangan bertele-tele, katakan apa yang ingin kau katakan.”

“Jika anda ingin tau kenapa aku memutuskan untuk membantu Sehun, sebenarnya jauh sebelum itu, aku sudah mengenalnya.”

Salah satu alis Luhan terangkat, “Apa maksudmu?”

“Aku sudah menyelidiki tentang Sehun selama beberapa tahun ini.”

“Kau menyelidiki adikku?!” Nada bicara Luhan sedikit meninggi.

“Itu karena aku punya alasan.”ucap Kwonsu cepat. “Ayahku adalah orang yang di berhentikan secara tidak hormat oleh tuan Shin Donghee. Aku kembali karena aku ingin membalas perbuatannya.”

Luhan seketika terkejut, “Apa kau bilang?”

“Sungguh. Aku terus menyelediki Sehun dan keluarga anda sejak beberapa tahun lalu dan akhirnya aku mendapat kesempatan bertemu dengan kalian. Aku ingin menyerahkan sesuatu.” Kwonsu mengeluarkan sebuah benda kecil dari dalam sakunya. Sebuah flashdisk bewarna hitam. “Ini adalah bukti.”serunya. “Ayahku di berhentikan karena dia mengetahui kejahatan yang di lakukan tuan Shin Donghee. Dia tau tuan Park Jungsoo tidak bersalah dan berniat untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada polisi. Tapi dia justru di berhentikan dan hampir di bunuh. Kami juga mengalami kebangkrutan setelah itu karena tidak ada satu perusahaanpun yang mau menerima ayahku. Aku ingin balas dendam.”

Luhan menerima flashdisk itu, kedua matanya masih menatap Kwonsu lurus-lurus, “Lalu… ini apa?”

“Bukti yang di bawa oleh tuan Park menghilang, kan? Itu adalah salinan laporan keuangan yang sebenarnya. Juga termasuk dana-dana gelap yang di kelola oleh tuan Shin.”

Luhan menelan ludah susah payah, “Kau serius.”

“Aku sangat serius, Tuan. Maaf karena aku datang terlambat.”

Luhan tidak mengalihkan tatapannya. Masih menatap Kwonsu dalam keheningan pekat. Mungkinkah ini adalah akhirnya? Akhir bahagia yang selalu ia harapkan.

“Pengacara Park, apakah anda sudah lama menunggu?” Kemunculan seorang pria membuyarkan keterdiaman Luhan.

Luhan mengerjap, mengembalikan kesadarannya. Ia berdiri menyambut pria yang ternyata adalah direktur rumah sakit itu.

“Kim sajangnim, annyeonghaseo. Maaf jika aku sudah mengganggu waktu anda.” Keduanya berjabat tangan lalu duduk bersisian.

“Jangan bicara seperti itu. Aku sudah berjanji akan membantu semua kesulitanmu.”seru Kim sajangnim dengan tawa. “Jadi apa yang sedang kau butuhkan?”

“Emm… Itu…” Luhan menggaruk tengkuk lehernya. “Sebenarnya aku sedang mengurus satu kasus.”

“Iya, lalu?”

“Kasus yang melibatkan ayahku. Dan sebenarnya empat tahun lalu ayahku di rawat di rumah sakit ini.”

“Benarkah? Ayahmu di rawat di rumah sakit ini?”

“Iya. Dia di rawat di sini hingga dia meninggal.” Angguk Luhan. “Aku sudah meminta bantuan suster untuk menunjukkan laporan kesehatannya tapi sepertinya itu tidak membantu. Sebenarnya, aku curiga dengan kematian ayahku.”

“Maksudmu?”

“Seorang saksi mengatakan jika sebelum ayahku meninggal, seorang suster menyuntikkan sesuatu ke selang infusnya. Apa anda bisa memberitahuku beberapa suster yang bekerja di tempat ini empat tahun lalu?”

“Pengacara Park, mencari orang-orang yang bekerja empat tahun lalu itu tidak mudah. Lagipula, bagaimana jika saksi itu hanya mengada-ada?”

“Aku ingin mencari tahu kebenarannya dulu. Tolong bantu aku, sajangnim.”

Kim Sajangnim menghela napas panjang, ia terlihat gelisah. “Pengacara Park, jika ucapannya benar, rumah sakitku juga akan terkena dampaknya.”

“Aku janji tidak akan melibatkan rumah sakit anda. Aku akan berusaha melindungi citra rumah sakit ini. Tolong aku, sajangnim. Saat ini aku benar-benar butuh bantuan anda untuk membersihkan nama ayahku.”

Kim sajangnim terdiam. Butuh waktu beberapa saat sebelum akhirnya ia berseru kembali, “Kau bisa memeriksa daftar kehadiran karyawan rumah sakit ini. Tapi aku tidak menjamin itu bisa membantu karena mungkin saja seseorang menyusup dan berpura-pura menjadi suster rumah sakit ini.”

Luhan langsung mengangguk dan tersenyum, “Tidak apa-apa. Aku akan menyelidikinya. Terima kasih, sajangnim.”

***___***

 

“Ayolah. Cepat keluar. Kita sudah sampai.” Jinyoung menarik-narik lengan Sehun, memaksanya untuk keluar dari mobil.

“Cepat keluar. Apa yang sedang kau lakukan?”seru Jonghyun menoleh ke belakang. “Apa kau mau di hajar Luhan jika kau membolos lagi?”

“Hyung, bagaimana jika besok saja? Berikan aku waktu satu hari lagi.”rengek Sehun.

“Cepat turun, Park Sehun.”

“Ayo!” Jinyoung menarik lengan Sehun dengan keras, kali ini berhasil membuat pria itu turun dari mobil van hitam yang di kendarai Jonghyun.

Sehun buru-buru menarikkan maskernya dan bersikap santai. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana.

“Nanti Luhan yang akan menjemput kalian karena aku harus datang latihan.”

“Baiklah. Sampai jumpa hyung. Terima kasih.” Jinyoung melambaikan tangan pada Jonghyun lalu menarik lengan Sehun, menyeretnya masuk ke gerbang sekolah. “Tidak akan ada yang menyerangmu. Jangan takut.”

“Memangnya siapa yang takut?”dengus Sehun.

Jinyoung berdecak sambil geleng-geleng kepala. Padahal kelihatan jelas jika dia sedang menyembunyikan rasa takutnya.

Berjalan memasuki area sekolah. Seluruh orang yang berada di sekitar mereka langsung menyadari sosok tinggi menjulang itu. Walaupun wajahnya di tutupi masker, penampilannya tetap terlihat mencolok.

“Bukankah itu Sehun?”bisik seorang murid perempuan.

“Dia datang ke sekolah? Aku pikir dia sudah mengundurkan diri.”

Serta bisikan-bisikan lain yang mampu di dengar jelas oleh Sehun.

Jinyoung merangkul pundak Sehun dan menepuk-nepuk pundaknya, “Jangan dengarkan mereka.”

“Aku tidak mendengar apapun. Aku tuli.” Jinyoung tertawa.

Begitu keduanya memasuki ruang kelas, suasana yang semula berisik mendadak hening. Seluruh tatapan terperangah murid-murid mengikuti langkah Sehun hingga ia duduk di kursinya.

“Wah, bintang redup kita akhirnya muncul.”seru salah satu teman Dongho. “Ternyata dia punya keberanian juga.”

“Yah, aku rasa semua bantal di rumahnya basah karena air mata.”sahut temannya yang lain lalu tertawa. Dongho ikut tertawa mendengarkan ejekan teman-temannya itu.

“Jangan dengarkan mereka.”bisik Jinyoung.

Sehun hanya diam. Ia mulai mengeluarkan buku-buku pelajarannya dan alat tulisnya. Ketika guru pengajar datang, ia juga tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya melihat kehadiran Sehun. Tapi hari tetap berjalan seperti biasanya. Selama pelajaran berlangsung, Sehun terus diam walaupun sesekali teman sekelasnya mengeluarkan ejekan tentangnya.

Pada jam istirahat, ia langsung menghadap kepala sekolah dan wali kelasnya. Melapor jika mulai hari ini dia akan terus masuk sekolah, tidak perduli jika seluruh orang yang ada di sekolah itu membencinya. Kepala sekolah dan wali kelasnya justru senang mendengar keputusannya itu dan memberikannya semangat untuk tidak mendengarkan komentar-komentar jahat tentangnya serta berdoa agar kasus yang menimpanya cepat selesai.

“Mereka bilang kau adalah bintang redup tapi lihat ini.”

Sehun melirik layar ponsel Jinyoung, membaca namanya yang menjadi kata kunci nomor satu yang paling di cari di situs naver. Pria tinggi itu menegakkan tubuhnya kembali dan memakan rotinya, “Apa lagi yang mereka katakan tentangku?”

“Seseorang memposting fotomu yang menjelaskan jika kau pergi ke sekolah dan boom! Kau langsung menjadi kata kunci yang paling di cari. Itu artinya, popularitasmu belum redup.”

Sehun tidak begitu memperdulikan Jinyoung yang mulai membaca beberapa komentar dan terus mengunyah rotinya. Dia tidak bisa pergi ke kantin, dia sangat lapar.

“Dia tetap terlihat tampan walaupun memakai masker.”seru Jinyoung membaca salah satu komentar. “Aku sedikit merindukannya. Syukurlah dia baik-baik saja.” Dan komentar lainnya, “Akhirnya aku bisa melihatnya lagi.”

“Hentikan.” Sehun merampas ponsel di tangan Jinyoung. “Apa kau tidak lapar? Sebentar lagi bel berbunyi dan kau belum memakan rotimu.”

“Aku hanya ingin kau tau jika popu—“

“Iya. Aku tau. Aku sudah tau.”decak Sehun malas.

“Harusnya kau lebih memperhatikan fansmu. Tidak hanya haters, kau juga memiliki fans. Saat dalam kondisi seperti ini, mereka tetap memberikanmu semangat. Bersyukurlah.”

“Terima kasih, Tuhan.”ucap Sehun sebagai rasa syukur namun nada bicaranya tetap terdengar tidak perduli.

“Ya!”seru Jinyoung kesal.

“Diamlah. Aku sedang makan. Kau terus menggangguku sejak tadi.”

“Pergilah ke fancafe sesering mungkin!”

“Iya aku tau!”

***___***

 

Luhan menjatuhkan diri di depan Donghyun yang kedua tangan dan kakinya masih di ikat. Sementara Kwonsu duduk di sofa lain, sibuk dengan laptopnya.

“Apa kau masih tidak mau buka mulut?”

Donghyun tetap diam, hanya menatapnya dengan tatapan tajam.

“Baiklah jika kau tetap bersikeras. Tapi aku hanya ingin memberitahumu jika aku sudah menemukan bukti yang kau hilangkah empat tahun lalu.” Luhan tersenyum menyeringai menatap Donghyun. “Salinan laporan keuangan kalian.”

Donghyun terlihat terkejut membuat Luhan semakin tersenyum lebar, “Jadi bagaimana? Apa kau tetap akan menutup mulut? Tapi baiklah, jika kau tetap seperti ini.” Senyuman di wajah Luhan menghilang, berganti dengan tatapan tajam. “Aku akan memastikan kau akan berada di penjara selama 20 atau 30 tahun. Kau akan mati dan membusuk disana.”

“Apa kau tau kau juga akan mendapat hukuman karena telah memperlakukanku seperti ini?”

“Kau harusnya bersyukur karena aku dan adik-adikku tidak membunuhmu.” Desis Luhan tajam sembari  beranjak dari kursinya. “Kita lihat saja nanti siapa pemenangnya.”

Sudah akan beranjak pergi, tiba-tiba suara Donghyun menghentikan langkahnya.

“Dia sudah tidak bekerja di rumah sakit itu.”

Luhan menoleh dengan kening berkerut.

Donghyun menelan ludah susah payah, “Namanya Park Heejin.”serunya menatap Luhan. “Suster yang membunuh ayahmu.”

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

12 thoughts on “FF EXO : AUTUMN CHAPTER 34

  1. So_Sehun berkata:

    Akhirnya bukti satu persatu sudah terkumpul…
    Semoga kali ini park sibling bisa meraih kebahagiaan dan keadilan yang sebenarnya…

  2. Putihilma berkata:

    Yeaay!! Akhirnya ff yg ditunggu ini update juga.. ToT
    Seneng akhirnya luhan nemuin byk bukti, sehun jga udh gk dibenci lgi.
    Gk sabar nunggu sidang nya mulai.
    Next chapter nya ditunggu eonni, Fighting!!

  3. ellalibra berkata:

    Yeeeeeeyyyy akhirnya stlh berpart sedih mulu dg keadaan mrk stlh ayahnya meninggal mulai perlahan lahan secercah sinar kebahagiaan muncul menyinari kehidupan 3 boys ini jg , apalg kasus ayahnya perlahan pst dimenangkan luhan ,,,, seneng bgt eon smangat bt next part fighting ^_^

  4. Hesti andriani berkata:

    Ternyata kwonsu memegang kunci penting dan itu bisa membantu luhan dalam persidangan nanti, semoga luhan menang dan orang-orang yang sudah menjebak mereka bisa dihukum yang sangat berat. Sehun popularirmtasmu belum turun buktinya kamu masih banyak memilik fans dan jangan dengarkan haters-hatersmu kamu pasti bisa menjadi seorang idol yang terkenal lagi. Donghyun tau siapa suster itu, berarti dia tau rencana pembunuhan jungsoo dasar musuh dalam selimut, semoga dia dihukum yang sanagt berat juga.
    Nextnya jangan lama-lama ya kak, gak sabar nunggu kelanjutannya dan nunggu persidangan luhan. Fighting terus kak.

  5. AnisMaria berkata:

    Syukurlah kalau Kwonsu itu bukan orang yang cuma “menjebak” aja, kan kasihan Park siblings kalau lagi dan lagi harus dikhianati harapan.. dan cukup puas juga kalau antara Park siblings sama Kwonsu itu masalahnya saling terkait…

    Dan ya ampun, kuharap kali ini Luhan memenangkan persidangan…

    Saat lagi. Kurasa cuma di ff Autumn ini aku bisa menemukan seorang Park Jinyoung yang berperan sebagai seorang sahabat dan nggak ada momen romance yang bikin baper plus potek ahaha… Jinyoung benar-benar peduli sama Sehun… dia sosok yang pantas untuk jado seorang sahabat sejati buat si bungsu Park eheeh…

    lalu…

    Apa hubungan Park Heejin sama Park siblings ya? bisa2nya Donghyun sampe tahu nama dia yang padahal cuma disuruh buat menyuntikkan sesuatu…

  6. Anfa berkata:

    Satu persatu udah mulai terkuak,. Kebahagiaan semakin dekat buat park sibling (berharap happy end) 😉

  7. Ros97 berkata:

    Uwwwwah,,, semakin menarik ceritanya,, satu persatu bukti sudah ditemukan,,
    hihi sehun akhirnya kembali ke sklh juga,
    dan mudah-mudahan luhan bisa menemukan suster heejin secepatnya….
    lanjut author,,

  8. ji_kim berkata:

    Titik terang muncullah!!!!
    “jngn selalu pedulikan Hatersmu” karna Sebenarnya Haters hanya Fans yg gk mau ngaku jadi fans😁, pdahal mungkin tau lebih bnyak dari pada fans🤣🤣

    Selalu ditunggu ka.. FIGHTING!!!

  9. diyah pudji rahayu berkata:

    seberkas chaya telah bersinar perlahan tapi pasti, kebenaran akan terungkap, makin deg”an q, ohmija memang keren, boleh usul nih, ff autum, the lords of legend, d bikin buku cetak’a, insya ALLAH banyak yg minat, ok mija see u in next chap, thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s