The Demians part 8

demian n

Tittle       : The Demians

Author    : Ohmija

Cast          : BTS and Seulgi Red Velvet, Irene Red Velvet, Kim Saeron and DIA Chaeyeon

Genre      : Action, Romance, Comedy, Friendship

Irene terlihat begitu ketakutan saat beberapa orang pria mencoba mengajaknya pergi ke suatu tempat. Beberapa pria itu mengerumuninya dan mengurungnya di tembok hingga ia tidak bisa pergi kemanapun.

“Ya! Kau yang wajahnya seperti Picollo. Lepaskan tanganmu.”seru Jungkook sambil memeluk bola basketnya dengan sebelah tangan.

Seketika mereka semua menoleh. Irene langsung menarik napas lega saat ia melihat Jungkook ada di sana. Mereka semua pasti mati.

“Brengsek, siapa kau?” Pria yang terlihat seperti pemimpin dari genk itu melepaskan cekalannya di tangan Irene dan berdiri berhadapan dengan Jungkook. “Berani sekali kau memerintahku anak kecil.”

Jungkook mendengus, “Akhir-akhir ini orang tua selalu membuatku kesal.”

“Apa kau bilang?!”

“Apa kalian tidak punya pekerjaan selain mengganggu wanita lemah? Kalian benar-benar memalukan.”

“APA?!” Pria itu mencengkram kerah baju Jungkook kesal.

Jungkook tersenyum, “Jika kau mau berkelahi, lepaskan dulu dia.”

Taehyung menghela napas panjang. Sejujurnya, dia tidak suka dengan perkelahian seperti ini. Dia tidak mau terlibat. Terlebih lagi perkelahian ini untuk menyelamatkan gadis itu. Gadis menyebalkan.

Tapi melihat wajahnya pucat pasi dan tersudut seperti itu, dia merasa tidak tega. Akhirnya Taehyung bergerak, berusaha meraih Irene namun langkahnya di halangi oleh beberapa anak buahnya itu.

“Jungkook, mereka menghalangiku.”ucap Taehyung.

Jungkook melepaskan cekalan pria itu di kerahnya di sertai dengan dorongan hingga membuatnya termundur. “Kau yang memulainya. Jadi jangan salahkan aku jika kau berakhir di rumah sakit nanti.”

Pria itu tertawa, detik berikutnya wajahnya berubah serius, “Kau yang akan berada disana. Bukan aku.”

Jungkook melempar bola basket yang di bawanya kearah salah satu anak buah pria itu hingga berhasil membuat hidungnya berdarah. Sekaligus tanda jika perkelahian itu telah di mulai.

Taehyung dengan cepat melompat ke depan Irene dan memukul salah satu dari mereka. Serangan bertubi-tubi yang di terimanya, terpaksa membuatnya berkali-kali menangkis dan termundur tanpa menyisahkan jarak antara dirinya dan Irene. Tersadar jika Irene sedang terjepit di antara tubuhnya dan tembok, Taehyung menendang salah satu orang dan menyerang balik.

Jungkook menangkis tangan yang akan memukulnya dengan lengannya. Mendorong pria itu dan memberikan tinjuan di wajahnya. Hanya dua kali tinjuan dan pria itu sudah pingsan dan tersungkur di lantai.

Perkelahian seketika terhenti. Beberapa anak buahnya yang masih baik-baik saja – setidaknya masih bisa berdiri – menoleh kaget ketika bos mereka sudah kalah telak.

Jungkook menatap mereka satu-persatu sambil menghusap keringatnya dengan lengan, “Cepat bawa bos kalian pergi.”suruhnya. “Jangan khawatir. Aku tidak meninjunya terlalu keras, dia hanya mengalami luka lebam.”

Tapi tidak ada yang bergerak. Orang-orang itu tetap diam di tempat mereka, masih terperangah dalam shock karena pemimpin mereka tumbang dengan mudah.

“Kenapa kalian melamun? Cepat. Atau kalian mau bernasib sepertinya?”ancam Jungkook.

Orang-orang itu langsung bergerak dan menggendong pria yang pingsan itu lalu pergi dari sana. Jungkook langsung menghampiri Irene yang masih pucat dan mematung di belakang Taehyung.

“Noona, noona tidak apa-apa?” tanya Jungkook. “Oh? Tangan noona terluka.” Ia meraih tangan kanan Irene dan memeriksa luka gesek di tangannya. Entah darimana luka itu, Irene bahkan tidak menyadarinya.

Jungkook berpaling menatap Taehyung, “Hyung bawa Irene noona ke cafe. Aku akan membeli plester dan obat merah.”

“Apa? Aku? Ke…” Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Jungkook sudah lebih dulu menghilang. Taehyung mendesah dalam hati. Kenapa selalu dia yang di tinggalkan dengan gadis ini?

Akhirnya ia menoleh ke belakang, menatap Irene. “Kau tidak apa-apa? Ayo pergi ke cafe?”

Irene menggeleng pelan sambil menundukkan wajahnya, “Tapi… sepertinya…”

“Kenapa?”

“Aku tidak bisa berjalan.”cicitnya pelan. “Kakiku sangat lemas.” Takut-takut ia menatap Taehyung lalu menunduk lagi.

Taehyung lagi-lagi menghela napas panjang. Dalam hati memaki Jungkook karena telah meninggalkan mereka berdua.

Akhirnya ia membungkuk di depan Irene, “Naiklah. Aku akan menggendongmu.” Tidak ada jalan lain.

Irene langsung menggeleng sambil mengibaskan kedua tangannya, “Tidak perlu. Aku bisa jalan sendiri.”

“Kau bilang kakimu lemas, kan?”

“Berikan aku waktu lima menit, aku akan baik-baik saja. Kau pergilah duluan ke cafe.”

“Ya.” Taehyung berbalik menatap gadis itu kesal. “Kau mau aku di hajar oleh Jungkook jika meninggalkanmu?”serunya. “Cepat naik. Aku akan menggendongmu.”perintahnya, kali ini sambil menarik lengan Irene, memaksa gadis itu.

Mau tidak mau Irene naik ke punggung Taehyung dan memegang pundak pria itu sebagai pegangan. Untuk yang kesekian kalinya Taehyung mendesah.

“Pegangan yang benar, kau bisa jatuh.”

“Tapi…”

“Jangan khawatir. Aku tidak punya maksud apapun padamu.”

Irene menggigit bibir bawahnya sebelum akhirnya memeluk leher Taehyung dengan kedua lengannya. Walaupun ini sudah yang kedua kalinya, tapi rasanya tetap canggung. Sudah jelas jika Taehyung tidak menyukainya tapi berkali-kali ia selalu menyusahkannya.

Mata Hoseok membulat lebar, pria itu langsung berlari keluar ketika ia melihat Taehyung menggendong Irene dari balik jendela kaca.

“Apa yang terjadi? Irene noona terluka?”tanyanya sambil membukakan pintu agar Taehyung bisa masuk ke dalam dengan mudah.

Taehyung tidak menjawab. Pria itu membawa Irene ke sudut ruangan dan mendudukkannya di salah satu kursi bersamaan dengan pandangan semua pelanggan yang mengikuti mereka.

Taehyung dengan seorang gadis.

Taehyung menggendongnya dan bersikap romantis.

Taehyung sudah punya kekasih.

Itu adalah beberapa pikiran dari pelanggan atau sebenarnya fans-fans Taehyung yang langsung merasa patah hati.

“Noona baik-baik saja? Apa yang terjadi?” Yoongi juga menghampiri.

“Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit shock.”jawab Irene.

“Noona, ini plester dan obat merahnya.” Jungkook muncul dan langsung duduk di depan Irene. “Cepat obati luka noona dulu.”

“Sebenarnya apa yang telah terjadi?”tanya Hoseok lagi gemas.

“Tadi ada beberapa orang yang mengganggunya jadi aku dan Taehyung menghajar mereka.”jelas Jungkook dengan nada bangga.

“Apa?!” Yoongi dan Hoseok memekik bersamaan. Keduanya menatap Jungkook dan Irene dengan mata terbelalak.

“Noona baik-baik saja? Apa hanya tangan noona yang terluka? Tidak ada luka lain, kan?”tanya Yoongi bertubi-tubi, langsung panik.

Hoseok memaksa Jungkook bergeser dan ganti duduk di hadapan Irene, “Siapa yang mencoba mengganggu noona? Noona ingat siapa nama dan wajah mereka?”

Irene menggeleng pelan, “Apa yang mau kau lakukan?”

“Aku akan menghajar mereka semua.”

“Kan sudah ku bilang mereka sudah di bereskan.”decak Jungkook, ia membuka tutup botol obat merahnya dan mulai mengolesi tangan Irene.

“Ck, di hari pertamamu berada di Korea, kau sudah berbuat ulah.” Namjoon muncul menghampiri mereka sambil memberikan segelas air mineral untuk Irene.

Irene menerimanya dengan satu tangan, “Terima kasih.”

“Noona tidak apa-apa?”

“Tidak.” Geleng Irene. “Dia saja yang terlalu khawatir.”

“Tentu saja aku khawatir. Tangan noona terluka.”rutuk Jungkook.

“Ini hanya luka kecil. Sama sekali tidak sakit.”

“Tapi bagaimana jika berbekas? Tidak akan ada laki-laki yang mau menikahi noona nanti.”

Irene langsung melotot, “Maksudmu? Kau ingin aku jadi tua sendirian begitu?”

“Bukan begitu maksudku…”

“Yang benar saja, hanya luka kecil seperti itu.”ucap Hoseok. “Jika tidak ada laki-laki yang mau menikahinya, masih ada aku.”

Yoongi langsung memukul kepala Hoseok, “Apa kau sudah gila?”

“Ya! Kau mau menikahi kakak perempuanmu?”sungut Irene.

Hoseok menghusap kepalanya, “Aku kan hanya memberikan ide.”

Namjoon menggeser duduk Hoseok, membuat Jungkook semakin merapat pada dinding kaca lalu duduk berhadapan dengan Irene. Pria tinggi itu menatap Irene serius. “Oh ya, ada yang ingin ku katakan pada noona. Ini adalah ide kami dan sonsengnim juga menyetujuinya.”

Kening Irene berkerut, “Tentang apa?”

“Noona bilang noona sedang mencari pekerjaan, kan? Bagaimana jika noona bekerja disini saja? Kami membutuhkan karyawan perempuan untuk mengatur uang.”

“Bekerja disini?”

Namjoon mengangguk, “Daripada bekerja dengan orang lain, lebih baik noona bekerja disini. Lagipula tempat ini juga sangat dekat dengan rumah kita dan kita hanya cukup berjalan kaki. Oh ya, noona juga tidak perlu datang terlalu pagi karena ku dengar noona harus mengantar susu pagi harinya.”

Irene tidak bersuara. Cukup lama ia terdiam membuat Namjoon merasa sedikit tidak enak karena dia pikir dia telah mengatakan hal yang telah menyinggungnya.

“Kami tidak bermaksud apapun. Hanya tidak ingin noona pergi kesana dan kemari karena mencari pekerjaan. Lagipula ada kami yang bisa melindungi noona jika noona di ganggu lagi.” Namjoon berseru lagi.

“Namjoon hyung benar. Sebaiknya noona bekerja disini saja.”sahut Jungkook.

Irene mengangkat wajahnya pelan, menatap Namjoon kemudian tersenyum tipis. Ia mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Namjoon erat, “Terima kasih. Kau selalu membantuku. Sejak dulu.”

Namjoon balas tersenyum dan menepuk-nepuk punggung tangan Irene, “Kenapa berterima kasih? Noona adalah keluarga kami jadi kami pasti membantu noona.”

***___***

 

Jimin tak bisa berhenti tersenyum saat ia melihat ekspresi terperangah Seulgi ketika dia menemui hal-hal baru yang baru saja di lihatnya. Saat ia melihat bunga-bunga bermekaran bewarna-warni, saat dia melihat pepohonan yang tumbuh di taman belakang rumah seperti hutan dalam ukuran lebih kecil juga saat ia melihat kolam ikan dengan air mancur di bagian tengahnya. Semua itu bukan hal aneh tapi gadis itu selalu terperangah.

Jimin terus memandanginya tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan. Sejak tadi, Seulgi terus bertanya kenapa pohon itu tumbuh lebih besar daripada yang lain atau apa nama bunga yang mekar itu. Seulgi yang terlalu tenggelam dalam rasa terperangahnya sepertinya juga tidak menyadari jika Jimin hanya menatapnya dan tidak menjawab semua pertanyaannya.

“Suasana sore hari lebih bagus daripada malam hari, kan?” tanya Jimin sambil menghidangkan cokelat panas untuk mereka berdua.

Seulgi mengangguk-angguk. Di kursi taman yang ada di bagian belakang rumah mewah itu, ia terus mengedarkan pandangannya. Baru menyadari jika rumahnya memiliki taman yang indah.

“Dari kamarku, taman ini tidak terlihat. Aku pikir disini hanya punya taman bunga saja.”

“Apa kau sudah pernah melihat festival musim semi?”

Kening Seulgi berkerut, “Festival musim semi?”

“Iya. Saat bunga-bunga bermekaran.”

Seulgi menggeleng, wajahnya langsung cemberut, “Kau kan tau aku tidak pernah meninggalkan rumah.”

“Tapi kan kau punya taman ini. Sebentar lagi musim semi datang. Nanti aku akan menunjukkan padamu.”

“Sungguh?” Seulgi berubah semangat. “Kau berjanji, kan?”

Jimin mengulurkan tangannya dan menunjukkan jari kelingkingnya, “Iya. Aku berjanji.” Tapi Seulgi menatapnya bingung. Pria itu terkekeh sambil meraih salah satu tangan Seulgi dan mengaitkan jari kelingkingnya di jari kelingkingnya sendiri. “Ini adalah simbol saat kita berjanji dengan seseorang.”

“Seperti ini?”

“Iya.”

Seulgi tersenyum lebar, “Baiklah. Janji.”

***___***

 

“Aku sudah mengurus dokumenmu dan kau sudah di terima di sekolah yang tak jauh dari sini.”ucap tuan Jeon sambil menjatuhkan diri di samping Jungkook yang sedang asik menonton TV.

Jungkook mengangguk sambil mengunyah snack kentangnya, “Oke.”

Tuan Jeon merebut snack yang di pegang Jungkook sedikit kesal, “Apa kau bahkan tidak mau tau dimana kau bersekolah?”

“Appa bilang di dekat sini, kan?”balas Jungkook santai sambil berusaha merebut snacknya kembali tapi tuan Jeon menjauhkannya.

“Setidaknya tunjukkan rasa perdulimu. Anak ini benar-benar…”decak tuan Jeon geleng-geleng kepala. “Sejak datang ke tempat ini, yang kau lakukan hanya makan dan bersantai-santai. Kau akan jadi babi nanti.” Tuan Jeon beranjak dan meninggalkan Jungkook.

“Appa! Kembalikan snack-ku! Appa!”

Tuan Jeon mengabaikannya membuatnya mendengus kesal. Anak laki-laki itu lantas mematikan televisinya lalu berjalan pergi.

“Aku akan pergi ke cafe.”

Tuan Jeon yang berada di dapur mendengar teriakan Jungkook. “Jangan makan apapun disana. Jika kau ingin makan, kau harus bayar!”balas tuan Jeon juga berteriak.

Jungkook semakin mendengus, “Dasar orang tua, kenapa dia pelit sekali?”

Jungkook meninggalkan rumahnya dan berjalan menuju cafe. Beruntung jalan menuju cafe tidak begitu rumit jadi dia masih bisa mengingatnya. Hari sudah gelap, pemandangan di sekitar jadi lebih indah dengan lampu-lampu. Orang-orang memenuhi kedai yang berjejer di pinggir jalan dan tak sedikit juga yang sekedar lewat bersama teman ataupun saudara mereka.

Tidak banyak yang bisa dia ingat tentang kenangan kota Seoul. Bahkan tidak sama sekali. Beberapa bangunan berubah, suasana berubah dan orang-orang berubah. Kenangannya tentang Seoul hanyalah masa kecil yang ia habiskan bersama orang-orang yang telah ia anggap seperti keluarganya. Semua saudara laki-lakinya yang telah menjaganya sejak dia kecil.

Rasanya memang sedikit aneh. Dia lahir di tempat ini tapi tumbuh besar di negara orang lain. Dia bertemu dengan banyak orang dan kebudayaan yang berbeda-beda, pindah ke satu tempat ke tempat lain dan tak pernah lama menetap. Bahkan dia tidak tau siapa orang-orang yang menjadi teman sekelasnya. Karena setiap kali dia pergi ke sekolah, dia hanya tidur di kursi paling belakang dan menghabiskan waktunya sendiri. Sekarang, dia harap dia bisa tinggal di tempat ini lebih lama. Dia harap dia bisa memiliki beberapa teman dan bermain seperti anak-anak seumurannya

“Kau sudah makan?”suara Hoseok membuyarkan lamunannya. Dia tidak sadar dia telah sampai di cafe.

Jungkook menggeleng, “Appa tidak memperbolehkanku makan.”

“Huh? Kenapa?”

“Dia bilang aku akan jadi babi.”

Sontak Hoseok tertawa, “Kau memang harus diet. Lihat otot tanganmu.”

“Ternyata hyung juga sama saja.”dengus Jungkook. Ia kemudian menghampiri Taehyung. “Hyung, bisakah kau buatkan aku apapun? Aku lapar.”

“Kau mau makan?”

“Iya. Aku tidak makan sejak tadi sore.”ucapnya berbohong.

“Bagaimana jika nasi goreng?”

Jungkook langsung mengangguk, “Setuju.” Ia kemudian duduk di salah satu kursi. “Hyung, haruskah aku membantu disini juga?”

“Fokuslah dengan pelajaranmu saja.”balas Hoseok. “Lagipula sudah terlalu banyak orang yang bekerja disini.”

“Appa terus memarahiku jika aku berada di rumah. Lagipula aku bosan.”

“Jika kau bekerja, kau akan menjadi semakin bodoh. Ingat kata-kataku, setidaknya kau harus lulus SMU.”

“Hyung, apa hyung menganggap jika aku benar-benar bodoh? Setidaknya aku bisa berbahasa Inggris!”

“Itu karena kau tinggal terlalu lama di luar negeri. Tentu saja kau bisa.”balas Hoseok. “Lalu bagaimana dengan bahasa China? Kau bisa?”

“China?” Jungkook terdiam sejenak sebelum akhirnya menggeleng. “Aku tidak bisa.”

“Lihat? Kau tidak bisa. Padahal kau tinggal cukup lama disana.”

Dari balik mesin kasir Taehyung tertawa, “Jika kau tidak bisa bahasa China, bagaimana caranya kau berinteraksi dengan orang lain? Lalu sekolahmu?”

“Aku tidak pernah bicara dengan teman sekelasku. Nilai-nilaiku juga buruk dan nyaris tidak naik kelas.”

Taehyung geleng-geleng kepala, “Astaga, kau sangat menyedihkan.”

Jungkook mengendikkan kedua bahunya cuek, “Begitulah.”

“Sudahlah. Sekarang makan dulu.” Hoseok menghidangkan piring nasi gorengnya sambil menepuk punggung adik laki-lakinya itu. “Makan yang banyak dan tumbuh tinggi. Jangan berkelahi lagi, belajarlah dengan rajin. Mengerti?”

Jungkook mengabaikan ucapan Hoseok, mengambil sendok dan mulai memakan makanannya.

***___***

 

Ketika hari-hari berlalu tanpa kabar apapun lagi dari Saeron, Jimin hanya bisa menghela napas panjang putus asa. Sejak beberapa hari lalu, ia mencoba untuk menghubungi Saeron ataupun pihak rumah sakit tapi tak ada satupun yang menjawab panggilannya. Ia juga sudah meminta bantuan Chaeyeon tapi gadis itu hanya mengendikkan bahunya, mengatakan jika dia tidak tau dan tidak perduli tentang itu. Dia pikir, dia sudah cukup membantu Jimin mencarikan dokter dan rumah sakit terbaik untuk adiknya. Jimin menyesal telah meminta bantuannya.

Untuk yang kesekian kalinya Jimin menghela napas panjang sambil membuang tubuhnya di sofa. Ia menyandarkan punggung dan kepalanya. Lelah.

“Kapten… aku selalu ingin menanyakan ini tapi… oh… tunggu… aku tidak seharusnya memanggilmu kapten lagi.” Sukhwan yang semula ingin menjatuhkan diri di samping Jimin, berdiri lagi dalam sikap sopan. Ia sudah mendengar jika Jimin telah naik pangkat. “Maafkan saya.”

Jimin menatapnya, mendengus kesal, “Apa kau tidak merasa kesal saat kau bicara formal padaku padahal aku jauh lebih muda darimu? Dalam hatimu, kau pasti sedang memakiku, kan?”

“Tidak.” Sukhwan seketika menggeleng. Tapi kemudian ia tersenyum, “Yah, sejujurnya… sedikit.”

“Besikaplah seperti biasa dan kau tidak perlu bicara formal padaku. Kau juga bisa memanggilku Jimin.”

“Benarkah?” Pria itu bertanya dalam bahasa banmal. “Aku benar-benar boleh memanggilmu Jimin.”

Jimin langsung mendengus, “Kau terlihat sangat bahagia.”serunya. “Tentu. Tapi jangan berharap aku akan bicara dalam bahasa formal padamu karena kau lebih tua. Aku tidak terbiasa melakukan itu.”

“Iya, aku tau.” Senyuman Sukhwan semakin mengembang lebar. “Oh ya, ada yang ingin ku tanyakan, tentang tugasmu.” Kening Jimin seketika berkerut bingung. “Banyak orang yang membicarakanmu akhir-akhir ini. Mereka bingung kenapa kau bisa naik pangkat dalam satu malam padahal kau tidak melakukan apapun. Mereka melihatmu pergi memasuki ruangan nyonya besar dan kau naik pangkat saat kau keluar. Bukannya aku merasa iri tapi aku merasa ada yang aneh.”

Jimin menarik punggungnya dari sandaran, menyanggah kedua lengannya dengan jari-jari bertaut di atas lutut, “Maksudmu?”

“Aku tau mungkin aku terdengar sedikit kurang ajar karena aku bertanya tentang hal ini padamu padahal kita tidak terlalu dekat dan kau adalah atasanku, tapi aku pikir sebagai yang lebih tua, aku ingin memberikan nasihat padamu.”

“Cih, bukankah sudah ku bilang jangan berharap aku akan menghormatimu hanya karena kau lebih tua?”

“Iya, aku tau. Bukan itu maksudku.”balas Sukhwan. “Aku pikir kau jauh lebih mengerti tentang seluk beluk Hansan. Kau tumbuh dan bekerja di tempat ini lebih lama dariku. Tapi sejak kedatanganku di tempat ini, aku jadi tau tentang satu hal. Semakin tinggi pangkatmu, akan semakin sulit kau meninggalkan tempat ini. Saat ini, kau berada di dua level di bawah posisi Nyonya Besar dan sejajar dengan ketua Park. Sebelumnya, ketua pernah memberitahuku untuk mencari pekerjaan lain. Dia menyuruhku untuk meninggalkan tempat ini sebelum terlambat. Semua yang dia katakan pasti ada alasannya, kan? Pasti ada sesuatu di tempat ini yang harus di jauhi. Aku hanya ingin mengingatkanmu.”

Ekspresi Jimin berubah serius, “Tidak ada yang perlu kau khawatirkan tentangku. Aku bisa mengatasinya.”desisnya tajam.

“Jangan salah paham, aku mengatakan ini sebagai temanmu.”

“Ku bilang jangan mengkhawatirkanku.”

“Maksudku… apa kau ingin selamanya berada di tempat ini?”

Pertanyaan Sukhwan seketika menghantam dada Jimin telak. Selamanya? Mungkin. Nyatanya dia telah menjadi anjing peliharaan Hansan.

Jimin terdiam. Lidahnya terasa kelu. Tidak tau apa yang harus dia  katakan. Hanya matanya yang menatap Sukhwan dengan tatapan tajam, sebuah usaha untuk menutupi pukulan telak itu.

“Aku harus melunasi hutang orang tuaku dan jika semua hutang itu lunas, aku akan meninggalkan tempat ini.”

Suasana serius itu semakin terasa dingin karena keheningan pekat kemudian menemani keduanya. Bagaimana caranya untuk pergi saat dia sudah tenggelam terlalu dalam? Bagaimana caranya untuk melarikan diri?

Hingga akhirnya setelah beberapa saat, Jimin berdiri dari duduknya dan beranjak pergi, “Jangan urusi urusanku.”

***___***

 

“Jungwoo ingin bertemu denganmu.”

 

Jimin terduduk di bangku taman bunga dengan helaan napas panjang. Ia mengacak rambutnya, bingung. Pesan yang di sampaikan oleh bibi Yang itu berhasil membuatnya frustasi. Jungwoo pasti sudah mendengar tentang kabar itu dan ingin mendengar penjelasannya.

Yah, naik pangkat secara tiba-tiba itu memang terdengar aneh. Dia juga merasakan itu. Tapi, apa yang harus dia jelaskan saat Jungwoo atau bibi Yang bertanya? Dia tidak mungkin menceritakan hal yang sebenarnya.

“Kau sedang apa?” Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari atas Jimin. Jimin mendongak dan langsung tersenyum saat melihat Seulgi berdiri di balkon kamarnya. “Kenapa kau melamun?”

“Aku tidak melamun.” Jimin menggeleng.

“Jangan bohong. Rambutmu berantakan. Kau pasti habis mengacak rambutmu karena bingung, kan?”

Jimin tertawa atas tebakan tepat Seulgi, “Kenapa kau berdiri disana? Apa tidak dingin?”

“Aku bosan.”jawabnya. “Seseorang bilang jika dia akan meminjamkanku ponselnya dan membiarkanku menonton drama Goblin sampai tamat, tapi ternyata aku di bohongi.” Seulgi berkecap sambil geleng-geleng kepala. “Dia sangat buruk, kan?”

Tawa Jimin semakin berubah geli, “Haruskah aku memukul orang itu?”

“Tidak perlu. Kau hanya perlu mengambil ponselnya saja.”

“Kau menyuruhku mencuri, ya?”

Seulgi mengendikkan kedua bahunya, “Aku tidak menyuruhmu mencuri. Aku hanya ingin kau mengambilnya saja.”

“Baiklah… baiklah… malam ini kau bisa menontonnya.”

Wajah Seulgi seketika berubah senang, “Sungguh?!” hingga tanpa sadar ia melompat-lompat senang.

Jimin langsung berdiri, “Hey, hati-hati. Kau bisa jatuh.”

“Kau sudah berjanji padaku! Kau harus menepatinya! Janji?” Seulgi mengulurkan tangan kanannya dan menunjukkan jari kelingkingnya pada Jimin.

Jimin tersenyum dan mengangguk, “Aku berjanji.”

***___***

 

Jungkook langsung berlari menuju halte ketika hujan tiba-tiba turun dengan deras. Aneh, beberapa saat tadi cuaca terlihat cerah. Bagaimana bisa hujan tiba-tiba turun seperti ini?

Jungkook menghusap-husap perutnya yang mulai mengeluarkan bunyi-bunyi aneh. Dia lapar. Setiap hari, dia akan pergi ka cafe karena ayahnya hanya akan membuatkannya telur goreng di rumah. Tapi bagaimana caranya pergi ke cafe jika hujannya sederas ini? Dia tidak membawa payung.

Anak laki-laki itu mendesah panjang sambil duduk di salah satu kursi. Sial, dia harus menahan lapar sampai hujannya reda.

Jungkook mengedarkan pandangannya ke sekitar, kearah deretan toko-toko dan orang-orang yang berlari-lari masuk  ke dalam kedai soju. Jika saja dia sudah legal, mungkin dia juga akan berada di tempat itu.

Ketika kemudian matanya terarah ke sisi kirinya. Jungkook langsung mengerutkan keningnya saat dia melihat seorang gadis dengan sebuah boneka di dalam pelukannya berjalan dalam hujan. Gadis itu menunduk, sedikit terlihat seram karena dia memakai dress putih setengah betis dan kardigan dengan warna yang senada.

Jungkook menyipitkan matanya, menajamkan penglihatannya. Bertanya-tanya apa gadis itu benar-benar manusia atau makhluk yang seharusnya tak terlihat. Tapi, bukankah hantu tidak memakai dress setengah betis dan kardigan? Hantu juga tidak menapak di atas tanah, kan? Bodoh.

Jungkook mengalihkan pandangannya, tak perduli. Dia pikir gadis itu habis putus cinta. Ayahnya bilang, sebaiknya tidak mendekati gadis yang sedang patah hati karena sangat berbahaya.

Tapi ketika dari arah berlawanan sebuah truk muncul dengan kecepatan penuh dan gadis itu berdiri di tepi jalan seperti akan menyebrang, Jungkook mengalihkan tatapannya pada gadis itu lagi. Apa dia gila? Dia tau zebra cross ada di sana, kenapa dia menyebrang sembarangan seperti itu?

“Ya! Yang disana! Ya!” Jungkook mencoba memanggill gadis itu karena truk semakin dekat namun ia tidak mendengar. “YA!” Ia memanggilnya sekali lagi, gadis itu tetap tidak mendengar. “Ah sial!” Jungkook berlari menghampiri gadis itu bersamaan dengan truk yang semakin lama semakin dekat. Menarik tangannya ketika dia sudah satu langkah maju ke depan.

Gadis itu terkejut. Atas tarikan yang tiba-tiba itu dan truk yang lewat di depannya.

“Kau tidak apa-apa? Apa yang sedang kau lakukan? Apa kau tidak melihat ada truk yang akan lewat?”

Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya, mengumpulkan kesadaran. Perlahan mengangkat wajahnya dan menatap Jungkook.

Detik itu juga Jungkook tertegun. Berdiri dalam hujan deras seperti ini, kenapa dia masih bisa melihat jelas wajah gadis itu? Dia sangat cantik.

“Aku…”lirihnya terbata, masih bingung dengan yang baru saja terjadi. “Aku… tidak apa-apa. Terima kasih.” Ia membungkukkan tubuhnya sedikit lalu bergegas pergi.

Jungkook langsung menahan lengannya, “Tunggu…”ucapnya. “Sebaiknya kau berteduh dulu.” Tanpa menunggu persetujuannya, ia menarik lengan gadis itu dan membawanya ke halte.

“Sekarang beritahu aku apa yang terjadi denganmu? Apa kau baru saja di putuskan kekasihmu? Atau kau bertengkar dengan orang tuamu?”tanya Jungkook, anak laki-laki itu tiba-tiba berubah semangat.

Gadis itu menjatuhkan diri di kursi, masih dengan memeluk bonekanya, “Aku tersesat.”ucapnya pelan. “Aku baru saja datang dari China.”

“Apa?! China?! Tapi kenapa kau bisa berbahasa Korea?”

“Aku orang Korea yang tinggal di China. Aku datang kesini untuk mencari kakakku.”

“Dimana kakakmu tinggal? Aku akan mengantarmu.”

Gadis itu menggeleng pelan, “Aku tidak tau.”

“Huh?”

“Alamatnya ada di tasku tapi seseorang menipuku dan membawa kabur semua barang-barangku. Jadi aku tidak tau harus pergi kemana.”

“Oh Tuhan…” Jungkook menjatuhkan diri di sebelahnya. “Jangan khawatir. Aku adalah orang baik jadi aku tidak akan menipumu. Tenang saja. Aku pasti akan mengantarmu.”ucapnya. Begitu melihat jika gadis itu menggigil kedinginan, Jungkook dengan cepat melepas jaketnya yang sudah basah dan memakaikannya di pundak gadis itu. “Pakai ini. Setidaknya bisa menghangatkanmu.”

“Terima kasih.”

“Apa kau ingat nomor ponselnya?”tanya Jungkook lagi dengan kepala yang harus benar-benar menoleh agar bisa melihat wajah gadis yang sedang menunduk itu.

Gadis itu mengangguk. Saat dia menoleh menatap Jungkook, tanpa sadar  anak laki-laki itu tersenyum seperti orang bodoh.

“Bisakah aku meminjam ponselmu? Aku ingin menghubungi kakakku.”

“Tentu saja. Tentu!” Ia mengangguk-angguk sambil mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Dia tidak menyangka jika ponsel anti air yang di belinya dan dia pikir akan sia-sia akan berguna di saat penting seperti ini. “Pakai saja.”

Gadis itu menerima ponsel itu dan menekan sederet angka sementara Jungkook terus memandangi segala bentuk gerak-geriknya.

“Yeoboseyo? Oppa? Jimin oppa?”

Di sebrang panggilan, Jimin seketika tersentak, “Saeron?!”

“Oppa, aku ada di Korea. Seseorang menipuku dan—“

“APA?!” Di sampingnya mata Jungkook melebar, terkejut mendengar suara pekikan itu.

“Tenang dulu. Sekarang aku ada…” Saeron menatap Jungkook meminta jawaban.

“Halte bus 501 Seogyodong.”ucap Jungkook.

“Halte bus 501 Seogyodong.”

“Dengan siapa kau disana?!” Nada suara Jimin masih terdengar marah.

“Seseorang meminjamiku ponselnya. Jangan khawatir, dia orang baik.”

Ucapannya langsung membuat Jungkook tersenyum.

“Katakan padanya jika dia melakukan sesuatu padamu, aku akan membunuhnya.”

Senyum di wajah Jungkook langsung menghilang begitu mendengar suara kakaknya itu.

“Tunggu disana. Aku akan segera menjemputmu.”

“Baiklah.”

Gadis yang ternyata adalah Saeron itu mengembalikan ponsel Jungkook, “Terima kasih.”

“Sepertinya kakakmu menakutkan.”

Saeron tersenyum, “Tidak. Dia hanya sedikit protective.”

“Lagipula bagaimana bisa kau datang ke Korea sendirian? Dimana orang tuamu?”

“Orang tuaku sudah meninggal.”

“Oh? Maafkan aku. Aku tidak bermaksud—“

“Tidak apa-apa.” Saeron menggeleng. “Ceritanya sedikit rumit jadi aku tidak bisa memberitahumu padamu.”

“Sebenarnya kau bisa. Bagaimana jika kita pergi minum coklat panas sebentar?”ajak Jungkook, dia masih saja menggebu-gebu.

“Tidak bisa. Aku harus menunggu kakakku disini.”tolak Saeron lembut. “Dia menyuruhku untuk tidak pergi kemanapun.”

“Benar juga.” Jungkook menggaruk tengkuknya kikuk. “Tapi, aku tidak bermaksud apapun. Aku hanya ingin membawamu ke tempat yang hangat karena kau menggigil.”

“Tidak. Aku tidak apa-apa. Terima kasih.”

Keduanya lalu terdiam. Jungkook sedikit salah tingkah karena sepertinya ajakannya itu bukan langkah yang tepat. Bagaimana jika Saeron berpikir jika dia adalah pria agresif?

“Lalu setelah kakakmu menjemputmu, dimana kau akan tinggal?”

“Tidak tau. Aku tidak tau dimana alamat kakakku.”

“Bagaimana jika nomor ponsel? Apa kau memilikinya?”tanya Jungkook. “Karena kau baru datang ke Seoul. Aku bisa jadi temanmu.”

Saeron menggeleng lagi, “Aku tidak punya ponsel.”

Jungkook mendesah panjang, kecewa, “Lalu bagaimana kita—“

Ucapan Jungkook terpotong ketika sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depan mereka. Seorang pria keluar dan langsung menghampiri dengan langkah-langkah panjang. Mata Jungkook melebar saat pria itu memeluknya.

“Oh Tuhan, apa yang terjadi padamu?”

“Oppa…”

Oppa? Jadi dia kakaknya?

“Kenapa kau bisa ada disini? Kenapa kau tidak memberitahuku?” Jimin langsung membuka blazernya, melepas jaket Jungkook dari pundak Saeron dan memakaikannya. “Kau tidak apa-apa? Kau terluka?”

“Tidak. Aku tidak apa-apa, oppa.”

“Cepat masuk. Ayo kita pulang. Kau bisa sakit jika terus berada disini.”

Saeron mengembalikan jaket Jungkook dan tersenyum, “Aku harus pergi. Terima kasih atas bantuanmu.”

Jungkook mengangguk. Ingin sekali dia menanyakan dimana alamatnya tapi dia terlalu takut karena kakak laki-lakinya terlihat menakutkan. Padahal tubuhnya lebih kecil darinya dan wajahnya tidak terlihat seram. Hanya saja tatapannya itu, seperti dia akan memakannya hidup-hidup.

“Ya, hati-hati. Sampai jumpa.”

Saeron tersenyum lagi sebelum akhirnya mengikuti Jimin masuk ke dalam mobil. Meninggalkan Jungkook yang masih terpaku di tempatnya, memandangi mobil itu bahkan ketika sudah menghilang.

Ketika matanya melihat boneka yang tergeletak di atas kursi, barulah dia bergerak.  Dia meraih boneka itu dan menatapnya selama beberapa saat.

“Bodoh. Aku lupa menanyakan siapa namanya.”

TBC

 

 

 

Iklan

4 thoughts on “The Demians part 8

  1. ros97 berkata:

    akhiiiirnyaaaaaa update jugaaa,,,,
    author,, lanjutanya jangan lama-lama yaeh,,
    akhirnya saeron sama jungkook ketemu jugaa,,
    itu pukulannya jungkook kuat juga yah.. hihihi

    di tunggu lanjutanya thor..

  2. Anfa berkata:

    Ciee akhirnya pasangan.a jungkook keluar juga,.. Aku jadi penasaran sma hansan group itu sbenar.a perusahaan atau apa s??.. Next chap moga dpet jwaban.a deh,.. 😉

  3. Shirayuki berkata:

    Akhirnya !!
    Jungkook ketemu juga dengan Saeron 😆😆😆
    Waktu baca senyam senyum sendiri kkk😂😂
    Oh God ! Author-nim tega cuma upload 1 chapter.. 😭
    Lanjut dong.. Please~
    Suka banget dengan couple JungkookSaeron..
    Daebak !!
    Ditunggu lanjutannya. Please jangan lama-lama..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s