FRIENDS Series – Without you know

 

FRIENDS KAISTALHUN

Tittle      : Friends (Without you know)

Author  : Ohmija

Genre   : Friendship

Cast       : EXO Sehun, EXO Kai, F(x) Krystal

“Oh God… Jessi belum mengirimiku uang.” Aku menatap layar biru mesin atm sambil menghela napas panjang.

Sebentar lagi bulan baru akan di mulai. Itu artinya sudah waktunya untukku membayar sewa bulanan dan biaya semesterku.

Beberapa hari lalu, kakak kandungku yang tinggal di San Fransisco memang sudah memperingatkanku untuk tidak mengharapkan dirinya mengirimiku uang tepat waktu bulan ini. Dia memiliki beberapa masalah dalam pekerjaannya.

“Bagaimana?” Seorang pria tinggi berkulit gelap berdiri menyambutku ketika aku keluar dari ruang ATM.

“Aku rasa ini kabar buruk.” Di sampingnya, seorang pria berkulit putih dengan tinggi yang lebih menjulang ikut berseru. Ia menatapku sambil geleng-geleng kepala seakan bisa menebak isi pikiranku. “Iya, kan?”

Aku menghela napas panjang sambil mengangguk, “Tidak ada.”

“Sudah ku duga!”pria berkulit putih pucat itu berseru lagi.

Aku menatapnya kesal, “Kenapa kau terdengar sangat senang? Kau senang jika aku di usir, ya?”

Ia menggeleng sambil menunjukkan wajah tidak berdosanya, “Aku senang karena aku berhasil menebaknya.”

Aku mendengus, “Dasar choding.

“Sudahlah. Ayo pulang.” Pria berkulit lebih gelap itu menepuk kepalaku lalu merangkul pundakku dan kami berjalan bersama kembali ke rumah sewa.

Namanya adalah Kim Jongin. Dia sudah menjadi sahabatku sejak kami berada di bangku SMU. Sama seperti Wendy, aku datang ke Korea empat tahun lalu, di tahun pertama ajaran baru Sekolah Menengah Umum. Aku bertemu dengan Jongin ketika tanpa sengaja dia membuatku pingsan setelah menendang bola yang tanpa sengaja mengenai kepalaku.

Awalnya, aku sangat membencinya karena dia telah mempermalukanku di depan banyak orang. Aku tidak menerima permintaan maafnya selama satu minggu. Tapi, ketika aku pindah ke rumah sewa ini dan tanpa sengaja bertemu dengannya lagi – dia juga menyewa di tempat ini – perlahan-lahan kami mulai berteman.

Jongin menempati rumah yang ada di bawahku. Yah, dia tinggal di lantai satu dan aku tinggal di lantai dua. Jika di lihat dari penampilannya, orang-orang akan berpikir jika Jongin memiliki kharisma yan kuat. Dia tinggi dan tampan. Selama SMU, dia juga menjadi kapten klub sepak bola selama dua tahun. Dia di gilai banyak wanita karena sifatnya yang ramah.

Mengingat itu, aku benar-benar ingin tertawa. Jika saja mereka tau sisi lain dari dirinya yang ceroboh dan bodoh. Jongin yang sebenarnya adalah pria yang polos, yang bahkan lebih memilih anjing peliharaannya daripada wanita. Dia lebih suka bermain game daripada jalan-jalan di luar. Dia juga gampang di bohongi.

Ah, satu lagi. Dia memiliki kebiasaan yang sangat buruk saat dia mabuk. Ketika mabuk berat, dia akan mulai bernyanyi dan menari. Bukan menari seperti para Idol di televisi, tapi menarik dengan gaya erotis yang terlihat sangat menjijikan. Sehun memiliki satu rekaman video saat dia mabuk yang di gunakan untuk mengancamnya jika dia tidak menuruti kemauannya. Dia mengancam akan menyebarkan video itu.

Jika saja gadis-gadis yang mengejarnya itu melihatnya saat dia mabuk. Aku yakin popularitasnya akan merosot turun seperti laju meteor yang jatuh ke bumi.

Lalu pria tinggi berkulit putih dan berwajah super tampan, Oh Sehun. Dia adalah sepupu Jongin dari pihak ibu. Dia tinggal di lantai tiga, tepat diatas rumahku dan bersebrangan dengan rumah Suga.

Ketika di sekolah dulu, Oh Sehun juga memiliki popularitas yang sejajar dengan Jongin. Dia menjabat sebagai ketua Organisasi Siswa serta siswa yang paling ingin di kencani oleh para gadis atas polling yang di lakukan saat Prom Night. Tapi kenyataannya, dia belum pernah berkencan sekalipun seumur hidupnya.

Jika Jongin adalah pria yang polos, Sehun adalah pria yang super polos namun ia bisa menyembunyikan kepolosannya itu. Di depan orang lain, dia akan bertingkah seperti playboy. Dia akan menggoda semua gadis namun tidak mengencani mereka. Dia juga sering pergi ke Hongdae hanya untuk nongkrong di café bersama teman-temannya.

Tapi saat di rumah, dia tidak berbeda dengan anak kecil umur 5 tahun. Dia sangat manja dan suka merengek. Dia adalah trouble maker dan tidak jarang merepotkanku dan Jongin. Jika gadis lain melihatnya seperti pria manly – dia memiliki bahu lebar dan tubuh tinggi – aku hanya melihatnya seperti seorang adik laki-laki menyebalkan yang suka mengganggu.

Satu fakta lagi tentang Sehun, dia berasal dari keluarga yang sangat berkecukupan sebenarnya. Dia punya rumah suoer mewah di daerah apguejong. Tapi dia memutuskan untuk meninggalkan rumah dan mengikuti  Jongin tinggal di rumah sewa ini karena dia selalu merasa kesepian di rumahnya. Itu adalah salah satu alasan kenapa sifatnya seperti anak kecil.

“Kita pikirkan itu besok. Sekarang waktunya tidur.”seru Jongin begitu kami sampai di rumah sewa.

Aku mengangguk lemas, “Baiklah.”

Jongin tersenyum sambil mengacak rambutku, “Jangan khawatir. Kau tidak akan di usir. Walaupun sedikit cerewet tapi kau tau Yun ahjumma sangat baik. Buktinya dia tidak mengusirnya saat menunggak empat bulan.” Jongin menunjuk Sehun dengan dagunya.

Satu hal yang harus ku akui. Salah satu kelebihan Jongin, dia selalu bisa menenangkan orang lain.

“Tapi dia menyuruhku mencuci piring di cafenya selama empat bulan.” Sehun mendengus.

Dan satu hal yang harus ku akui. Salah satu sifat menyebalkan Sehun, dia sangat menyebalkan. Apapun yang dia lakukan dan katakan selalu membuat orang lain kesal. Oh tidak, bukan orang lain, mungkin hanya aku.

“Selamat malam, Jung Krystal. Selamat malam Oh Sehun.”

***___***

AUTHOR POV

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali. Krystal, Sehun dan Wendy jogging bersama di salah satu taman kota yang tak jauh dari rumah sewa mereka. Krystal dan Sehun sengaja tidak mengajak Jongin karena mereka berdua tau jika pria itu lebih memilih tidur daripada olahraga. Apalagi karena ini hari minggu. Dia pernah bilang jika dia tidak akan bangun pagi di hari minggu kecuali dalam keadaan darurat. Baginya, melakukan aktivitas di hari minggu adalah hal yang sangat merugikan. Sangat menyita waktu istirahatnya.

“Jadi kau ingin mencari pekerjaan paruh waktu?”tanya Wendy begitu mereka beristirahat di pinggir danau.

Krystal mengangguk, “Aku membutuhkan uang untuk membayar biaya semesterku.”

“Bukankah Jongin bekerja di salah satu restoran cepat saji? Kenapa tidak bekerja disana juga?”

“Aku juga berpikir seperti itu.” Krystal mendesah panjang. “Tapi aku belum bertemu dengannya. Seperti yang kau tau, dia masih berada di alam lain sekarang.”

Wendy berdecak sambil geleng-geleng kepala, “Dia tidak berbeda dengan Suga.”

“Kan sudah ku bilang kau bisa meminjam uangku dulu? Eoma baru saja mengirimiku uang dan tidak ada barang yang ingin ku beli sekarang. Kau bisa memakainya dulu.”

Krystal mendengus, “Lupakan. Aku tidak mau.”

“Yah, teruskan saja meninggikan harga dirimu. Kau akan merasa kesulitan sendiri nanti.”

Krystal melirik Sehun kesal. Bukannya tidak mau meminjam uang Sehun, dia juga tidak bermaksud meninggikan egonya. Hanya saja dia ingin belajar mandiri. Selama ini, dia hanya kuliah dan mengerjakan tugas. Setiap akhir bulan, dia akan menunggu Jessica mengiriminya uang dan selalu seperti itu setiap bulannya. Dia juga ingin seperti Jongin atau Wendy yang bekerja paruh waktu.

“Apa kau tau jika kau minuman dingin setelah berolahraga akan membekukan jantungmu dan mengurangi umurmu sebanyak setahun? Kau akan cepat mati.”

“Apa?!” Sehun langsung menarik botol minumannya dari mulutnya, nyaris tersedak. “Sungguh?!”

“Bodoh.”cibir Krystal membuat Wendy langsung tertawa geli. Lihat kan? Sebenarnya dia sangat polos.

“Ya!” Sehun menarik rambut Krystal sedikit kesal. “Aku pikir itu serius. Aku hampir mendapatkan serangan jantung.”

Krystal memukul Sehun di lengannya. Sehun balas memukul lengan Krystal dan untuk beberapa saat keduanya saling memukul satu sama lain. Wendy menghela napas panjang menatap keduanya. Pertengkaran macam apa ini? Mereka sudah menjadi mahasiswa tapi masih bertingkah seperti anak SD.

“Hentikan.”dengus Wendy.

“Apa kau tau jika laki-laki tidak boleh memukul perempuan?”

Sehun tertawa mendengus, “Aku tidak melihat ada perempuan disini.”

“YA!”

“Apa? Kau mau apa?” Sehun menarik rambut Krystal lagi lalu menjulurkan lidah.

Krystal hanya mendengus, “Dasar anak kecil.”

“Aku juga sedang mencari pekerjaan paruh waktu sebenarnya.”Wendy mendesah panjang. “Untuk mengisi liburan musim panasku.”

“Kau mau mencari pekerjaan lagi?”tanya Krystal terkejut. “Bukankah kau sudah bekerja di cafe bersama Seulgi?”

“Aku tidak mau menyia-nyiakan liburan musim panasku begitu saja. Dan juga kau tau jika aku hidup sendiri, jika aku tidak bekerja aku tidak akan bisa bayar uang kuliah dan uang sewa.”

“Wendy…” Krystal menggenggam kedua tangan sahabatnya itu. “Kau tau aku sangat menyayangimu, kan?” lalu meletakkan kepalanya di pundak Wendy. “Jika kau butuh bantuan, jangan lupa untuk mencariku.”

Wendy tersenyum, “Thank you, Krystal. I know you will help me.”

“Tapi bukankah dia sudah punya dua bodyguard?”suara Sehun merusak suasana mengharukan itu. “Dia tidak membutuhkanmu karena dia sudah punya Suga dan Hoseok.” Ia mengunyah donatnya sambil menatap Krystal dan Wendy seperti tanpa dosa. “Iya, kan?”

Krystal menghela napas panjang, “Kita tidak seharusnya membawa dia.”ucapnya menatap Wendy.

Wendy mengangguk, “Kau benar. Dia sangat menyebalkan.”

“Hey, kenapa menyalahkanku? Memangnya aku salah bicara?”

“Sudahlah. Let’s go home, Wendy.”

Krystal menarik Wendy untuk berdiri lalu keduanya berjalan pergi meninggalkan Sehun.

***___***

Suara gonggongan anjing membuat Jongin langsung menggeliat di tempat tidurnya. Ia merutuk kesal, menendang gulingnya hingga jatuh ke lantai. Kedua matanya masih tertutup rapat saat ia memaksa tubuhnya untuk duduk. Dia tak percaya Jjanggoo membangunkannya pagi-pagi seperti ini.

“Baiklah Jjanggoo, aku tau. Tunggu sebentar. Aku masih mengumpulkan kesadaranku.”seru Jongin dengan suara beratnya. Ia menggaruk lehernya lalu menguap lebar.

Jjanggoo, anjing bewarna cokelat yang sudah ia pelihara 2 tahun ini terus menggonggong di depannya dan melompat-lompat tak sabar. Dia sudah ingin buang air kecil.

Jongin berjalan menuju pintu dengan kesadaran dan mata yang hanya terbuka setengah. Saat pintu terbuka, anjing bewarna cokelat itu langsung berlari keluar.

Pria tinggi itu menjatuhkan dirinya di kursi kayu atau lebih tepatnya melanjutkan tidurnya disana.

“Jongin?”

Jongin membuka satu matanya dan menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya. Ternyata Seulgi.

“Apa yang sedang kau lakukan? Aku melihat Jjanggoo pergi tadi.”

“Oh, aku sedang menunggu Jjanggoo. Dia pergi buang air kecil.”jawabnya. “Kalian darimana?”

“Aku menemaninya pergi membeli telur.” Gadis cantik itu menunjuk Taehyung yang berdiri di sebelahnya.

“Hanya berdua? Mana Jimin?”

“Dia pulang ke Busan tadi pagi. Mana Krystal dan Sehun?”

“Mungkin mereka jogging.”

“Oh.” Seulgi mengangguk. “Kalau begitu, aku masuk dulu.”

Jongin tersenyum sambil melambaikan tangannya. Setelah Seulgi dan Taehyung pergi, ia memejamkan matanya lagi dan bersiap untuk tidur. Masih pukul 8 pagi, setidaknya dia punya 5 jam tersisa sebelum waktu bangun yang sebenarnya.

“Kau sudah bangun?”

Jongin langsung berdecak kesal, “Oh Tuhan, kenapa ada yang menggangguku setiap kali aku baru memejamkan mata?”

“Kau tidak salah jam, kan?”sahut Sehun duduk di samping sepupunya itu.

“Jjanggoo ingin buang air jadi aku terpaksa bangun dan membuka pintu untuknya.”sungut Jongin.

“Kan sudah ku bilang latih dia untuk buang air kecil di kamar mandi.”

“Kau pikir aku punya waktu?”balas Jongin.

“Kalau begitu kembalikan dia ke rumah noona-mu. Kau kan sangat sibuk sampai tidak bisa mengurusnya.”

“YA! Jangan membuatku kesal pagi-pagi seperti ini.”

Sehun hanya terkekeh lalu berdiri dari duduknya, “Apa kau masih punya kimchi? Aku lapar.” Pria itu bertanya tapi tidak memberikan Jongin kesempatan untuk menjawabnya. Ia masuk ke dalam rumah Jongin sebelum pemiliknya mengijinkannya.

“Kalian berdua pergi jogging?”tanya Jongin.

Krystal mengangguk, “Bersama Wendy.”jawabnya. “Aku dan dia berniat untuk mencari pekerjaan bersama.”

Jongin langsung menegakkan punggungnya, “Kau benar-benar mau kerja?”

“Tidak ada jalan lain. Lagipula aku tidak pernah bekerja sebelumnya.”

“Kau yakin?”tanya Jongin lagi. Ia merasa ragu karena Krystal tidak pernah bekerja sebelumnya. “Bekerja bukan hal yang mudah.”

“Kau meragukanku ya?”

“Bukan begitu. Aku hanya mengkhawatirkanmu.”

Krystal mendesah panjang, “Jika aku tidak bekerja, aku tidak akan pernah bisa jadi mandiri.”

Jongin tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu, “Baiklah jika itu maumu. Untuk awalnya, bagaimana jika kau bekerja di tempatku?”

Krystal langsung bersemangat. Maksudnya juga begitu. “Bolehkah?”

Jongin mengangguk, “Kau bisa mengendarai motor, kan? Di tempatku bekerja harus bisa mengendarai motor untuk mengantar pesanan.”

“Aku bisa!” Gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kalau begitu besok aku akan mengenalkanmu pada sajangnim.”

“Jongin!” Krystal langsung melompat kearah Jongin dan memeluknya. “Aku tau kau adalah teman terbaik. Aku tau!”

“Yah, aku juga tau.” Jongin tersenyum sambil menepuk-nepuk punggung Krystal.

“Kenapa kalian berpelukan?” Sehun muncul dari dalam rumah Jongin dan untuk yang kesekian kalinya menghancurkan moment mereka. “Kalian terlihat senang.”

“Aku akan bekerja di tempat Jongin.”kata Krystal masih dengan semangat yang berapi-api.

“Oh jadi kalian senang karena kalian akan bekerja di tempat yang sama?”

Jongin menoleh kearah Sehun, “Kau juga tidak mau bekerja?”

“Kenapa aku harus bekerja jika aku masih punya uang?”ucap pria itu sambil meneguk minuman soda yang ia ambil dari kulkas Jongin. “Oh ya, nanti malam akan Suga dan Hoseok akan tampil di jalanan Hongdae. Aku berniat untuk menontonnya, kalian mau ikut?”

Jongin menggeleng, “Aku harus membeli makanan Jjanggoo.”

“Kau kan bisa membelinya sekarang.”

“Tidak. Sekarang aku mau tidur.”

“Kau mau tidur lagi?”

“Kau masih bertanya? Karena kalian aku jadi kehilangan jam tidurku. Masih ada waktu sampai pukul 1 siang.”

Sehun berdecak sambil geleng-geleng kepala, “Ada pertandingan basket sebentar lagi. Aku ingin menontonnya.” Sebelum pergi, ia berseru pada Krystal lebih dulu, “Nanti siang aku makan di rumahmu jadi masak nasi yang banyak, oke?” ia mengacak rambut gadis itu lalu pergi.

Krystal langsung menoleh kesal, “Ya! Jangan makan di rumahku! Persediaan makananku habis karena kau!” tapi tidak di dengar oleh Sehun. Ia mendengus, “Dasar brengsek.”

***___***

Sehun benar-benar datang ke rumah Krystal siang harinya. Sebelum meminta persetujuan dari gadis itu, ia masuk ke dalam rumah Krystal – karena dia mengetahui kode kunci rumah Krystal – dan mendapatinya sedang memotong beberapa sayuran.

“Kenapa kau memasak sayur? Aku kan tidak suka.” Pria tinggi itu langsung mengeluarkan protes. Ia berbaring di ruang tv tanpa berniat membantu Krystal yang sedang berkutat di dapur.

Krystal hanya mendengus. Ingin sekali melempar kepalanya dengan sendok nasi.

Tak lama Jongin juga muncul disana. Walaupun tidak mengatakan dia ingin makan di rumah Krystal, nyatanya pria itu bergabung bersama mereka di rumah sewa sederhana itu. Tapi berbeda dengan Sehun yang hanya bersantai menonton TV, Jongin pergi ke dapur untuk membantu Krystal. Karena itu Krystal tidak begitu protes jika Jongin berhabung bersama mereka.

“Apa persediaan makananmu masih ada? Kemarin ibuku mengirimiku beberapa kimchi dan daging, kau bisa mengambilnya jika kau mau.”

“Tidak perlu. Persediaan makananku masih cukup sampai minggu depan.”

“Baguslah.”

Keduanya lalu menghidangkan makanan ke ruang tengah. Jongin menendang bokong Sehun yang masih asik berbaring di sana. Tubuhnya yang besar seketika membuat tempat itu terasa sangat sempit.

“Minggir. Kau mau aku menyirammu dengan kuah sup panas ini?”seru Jongin langsung membuat Sehun menggeser tubuhnya. Pria itu menggeliat sebelum bangun dan duduk bersandar dinding.

“Kenapa dagingnya sedikit sekali?” Ia kembali mengeluarkan protes.

Krystal yang kesal langsung memasukkan satu buah tahu goreng ke dalam mulutnya.

“Panas. Panas.” Sehun menguap-nguap karena mulutnya seperti terbakar. “Ya!”

“Jika kau mau daging yang banyak kenapa tidak makan di rumahmu saja? Kenapa makan disini?”omel Krystal.

“Karena rumahmu lebih dekat dengan tempat yang ku tinggali sekarang.”jawab Sehun masih tanpa dosa.

“Aku tidak tau siapa yang akan menjadi istrimu nanti tapi aku merasa kasihan padanya. Dia menikah dengan orang yang menyebalkan.”

“Yaaah, jika aku tidak bisa menikahi siapapun, aku akan menikahimu. Mudah, kan?”

Krystal langsung melotot, “Kau pikir aku mau?”

“Apa kita bisa makan dengan tenang tanpa ada pertengkaran?” Jongin menengahi. Ia lalu mengambil sumpit, “Aku akan makan dengan baik.”

“Aku akan makan dengan baik.” Krystal dan Sehun berseru bersamaan.

“Oh ya, apa kalian sudah dengar tentang pesta prom yang akan di adakan minggu depan?”

“Kau selalu cepat jika urusan pesta.”cibir Jongin geleng-geleng kepala. Sehun tersenyum bangga, menganggap itu adalah pujian untuknya. “Aku tidak mengerti kenapa kampus kita mengadakan pesta seperti itu? Kita sudah bukan anak SMU lagi. Itu hanya akan membuang-buang waktu.”

“Hey, itu akan menyenangkan.” Berbeda dengan Jongin yang terlihat tak tertarik, Sehun justru sangat bersemangat, “Kita bisa bertemu dengan mahasiswa dan mahasiswi senior.”

“Jika kau tidak berniat untuk mengencani salah satu diantara mereka, jangan memberikan mereka harapan, Oh Sehun.”

“Aku tidak memberikan harapan. Mereka saja yang terlalu berharap.”Pria itu tersenyum lebar. Ia lalu menatap Krystal, “Kau pergi denganku, ya? Aku tidak mungkin mengajak gadis lain karena mereka pasti akan mengikatku dan tidak memperbolehkanku pergi melihat-lihat selama pesta.”

“Kau hanya memanfaatkanku lagi, kan?”dengus Krystal. “Apa kau tau ada banyak orang yang membenciku karena mereka mengira kita berkencan?”

“Bukankah itu bagus? Kau menjadi pusat perhatian.”

“Aku tidak suka menjadi pusat perhatian.”

“Aku akan menganggap itu sebagai persetujuan.” Sehun mengulurkan tangan menepuk-nepuk kepala Krystal.

“Oh Tuhan, orang ini…”

“Lalu kau akan pergi bersama saja? Jangan katakan kau hanya akan berada di rumah bersama Jjanggoo!”

“Aku memang berniat begitu. Lagipula sepertinya aku harus bekerja hari itu.”

“Hey, ayolah Jongin. Kau sama sekali tidak asik. Ayo bersenang-senang. Terus bekerja akan membuatmu sakit.”

“Tapi…”

“Kau kan bisa memilih salah satu gadis yang akan pergi bersamamu. Kau juga punya banyak fans.”

Jongin memutar bola matanya, berpikir. Tak lama dia berseru, “Bagaimana jika Seulgi? Alkhir-akhir ini entah kenapa dia terlihat sangat cantik.”

“Seulgi?!”pekik Sehun dan Krystal bersamaan.

“Kau gila?! Kau tau jika di sebelah ada perang beradarah antara Jimin dan Taehyung, kau mau bergabung dalam perang itu? Mereka berdua pasti tidak akan membiarkanmu mengajak Seulgi!”

“Aku kan hanya bicara asal. Karena selain dia, teman dekat perempuan yang aku miliki hanya Seulgi dan Wendy.”

“Kau sangat menyedihkan, Jongin.” Sehun geleng-geleng kepala menatap saudaranya itu. “Tapi aku setuju jika kau bilang Seulgi terlihat cantik akhir-akhir ini. Dibalik sifat tomboy-nya, aku rasa dia lucu.”

“Kau mau begabung dengan perang bersadar itu?”sahut Krystal. “Sebaiknya jangan pernah berpikir untuk mendekati Seulgi.”

Sehun mendesah panjang, “Aku tau. Aku tidak mungkin mengkhianati teman-temanku.”serunya. “Lalu kau akan pergi bersama siapa?”

Jongin menggeleng, “Entahlah. Aku tidak tau.”

***___***

Setelah kelasnya berakhir, Krystal langsung berlari menghampiri Jongin yang sudah menunggunya di parkiran universitas.

Pria tinggi itu sudah duduk di atas motor besarnya dengan tas ransel yang ia pakai di bagian depan. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku begitu menyadari kehadiran Krystal.

“Apa kau sudah menunggu lama?”

“Tidak. Aku juga baru saja keluar. Naiklah.”  Jongin mengulurkan tangannya membantu Krystal naik ke atas motornya. “Sudah siap?”

“Sudah.”

Krystal berpegangan pada pinggang Jongin ketika pria itu mulai melajukan motornya. Berbeda dengan Sehun yang lebih suka mengendarai mobil, Jongin lebih menyukai motor karena dia merasa lebih bebas. Dengan motor dia juga tidak perlu terjebak macet dan lebih cepat sampai ke tujuan.

Baginya motor itu juga memiliki arti yang besar dalam hidupnya. Setelah bertahun-tahun menabung, akhirnya ia bisa membeli motor impiannya itu.

Dan Krystal menjadi satu-satunya gadis yang pernah menaikinya.Itu karena Jongin yang tidak terlalu bergaul dengan gadis-gadis lain.

Tak lama keduanya sampai di tempat kerja Jongin. Tempat itu sudah mulai ramai. Jongin memberikan sebuah baju pada Krystal yang masih menatap tempat itu dengan tatapan aneh, tidak terbiasa.

“Aku sudah bicara dengan sajangnim dan dia mengijinkanmu bekerja disini. Dia tidak bisa menemuimu karena dia sedang berada di luar negeri.”serunya. “Sekarang kau ganti bajumu di belakang dan mulai bekerja.”

Krystal mengerjap bingung dan mengangguk tak lama kemudian. Ia menerima baju yang di berikan Jongin dan menggantinya di ruang ganti.

Jantungnya mulai berdegup mengingat ini adalah pekerjaan pertamanya. Walaupun ia sedikit tenang karena ada Jongin.

Hari pertama, Jongin hanya mengajarkannya cara melayani pelanggan. Pria itu sengaja menempatkan Krystal di bagian kasir karena pekerjaan itu tidak terlalu berat untuknya.

Hari selanjutnya barulah pria itu mulai mengajarkan Krystal mengepak makanan yang di pesan pelanggan. Dia juga mengajarkan Krystal cara membuat minuman. Walaupun ada seseorang yang bertugas untuk itu, Jongin tetap mengajarkannya.

Mereka mendapat kunjungan dari Sehun di hari keempat Krystal bekerja. Sehun sangat penasaran ingin melihat bagaimana sahabatnya itu di tempat kerja. Apa dia melakukannya dengan baik atau tidak. Karena setiap mereka bertemu, dia selalu mengeluh kelelahan.

“Aku datang.” Sehun tersenyum lebar saat gilirannya tiba.

“Apa yang mau kau pesan?”tanya Krystal berdecak malas.

“Huh? Nada bicara apa itu? Aku kan pelanggan. Kau harus bersikap sopan.”

Gadis itu menghela napas panjang, melembutkan sedikit nada bicaranya, “Kau mau pesan apa?”

“Tidak. Bukan begitu. Tapi ‘Anda mau pesan apa, Tuan?’ begitu.”

“Aku tidak harus berbicara sesopan itu karena kita seumuran.”

“Tapi aku pelanggan. Pe-lang-gan.” Sehun menegaskan kalimatnya.

“Oh? Kau datang?” Jongin muncul di saat yang tepat.

“Aku ingin melihatnya bekerja.” Angguk Sehun. “Oh ya, aku mau paket 1 dan… eum…”

“Disini tidak menjual bubble tea.” Jongin sudah tau minuman apa yang akan di pesan Sehun.

“Kalau begitu Milk Shake Chocolate saja.”

“Oke.”

“Oh, ya. Aku juga ingin ekstra kentang.”

“Iya. Aku tau.”

Sehun duduk di salah satu kursi sambil memainkan game yang ada di ponselnya. Ketika benda kecil itu berdering, ia mendekatkan ponselnya ke telinga.

“Ya eoma?”

“….”

“Aku ada di tempat kerja Jongin sekarang. Tentu saja sudah makan. Yah, jangan khawatir.”

“….”

“Aku tau. Tapi aku tidak akan pulang.”

“….”

“Aku betah berada di rumah sewaku, eoma.”

Krystal menghidangkan pesanan Sehun sambil menatap pria itu dengan kening berkerut. Untuk pria seumurannya dan dengan tinggi badan seperti itu, dia sudah tidak pantas merengek.

“Aku tidak akan pulang. Sudah ya. Ku tutup!”

Sehun mengakhiri panggilannya dengan kesal. Ia menghela napas panjang sambil memakan ayam goreng yang ia pesan.

“Ada apa?”tanya Krystal duduk di hadapan Sehun.

Sehun menghela napas panjang lagi, “Aku tidak mengerti kenapa ibuku selalu menyuruhku pulang padahal di rumah tidak ada siapapun. Aku selalu sendirian dan tidak ada yang bisa ku lakukan di sana.”

“Ibu dan ayahmu belum pulang?”

Sehun menggeleng, “Appa masih berada di New Zealand dan eoma ada di… entahlah… aku tidak bertanya.”

“Kenapa kau tidak bertanya? Apa kau tidak perduli dengan ibumu?”

“Apa mereka bahkan perduli padaku?”balas Sehun bersungut-sungut. “Kau tau? Ini adalah pertama kalinya dalam dua minggu ini eoma menghubungiku. Bahkan appa sudah tidak menghubungiku selama sebulan.”

“Kau bisa mencoba menghubungi mereka duluan, kan?”

“Aku berhenti menelpon mereka duluan karena mereka tidak pernah mengangkat panggilanku. Mereka terlalu sibuk untuk bicara denganku. Jadi yah, pembicaraan tadi hanya sekedar formalitas untuk mengingatkan kami jika kami masih orang tua dan anak.”

Krystal menghela napas panjang, “Tidak heran jika sifatmu seperti ini.”

Sehun langsung mendelik, “Apa maksudmu?”

“Kau sangat menyebalkan.”

“Ya! Apa kau bahkan tidak bisa merasakan perhatianku padamu? Sekarang ini aku datang karena aku mengkhawatirkanmu. Apa itu namanya menyebalkan?”

“Baiklah. Untuk yang satu ini, tidak. Terima kasih.”

“Dan juga… bukankah itu minumanku? Kenapa kau yang minum?!” Sehun merampas minuman pesanannya dari tangan Krystal. Terlalu asik menyeruput minuman itu sampai Krystal tidak sadar jika dia hampir menghabiskannya.

Gadis itu meringis lebar, “Maaf. Aku sangat haus.”

Sehun mendengus, “Ck, kau pasti sangat merepotkan Jongin, kan? Kau bahkan hanya bisa menjaga mesin kasir dan menghidangkan makanan.”

“Yang penting aku sudah berusaha!”seru Krystal tak terima. “Aku juga selalu belajar setiap hari. Sudahlah! Kenapa kau mengajakku bicara? Aku sedang bekerja!” Krystal berdiri dari duduknya saat dia tersadar. Lalu kembali ke tempatnya semula.

“Ya! Siapa yang mengajakmu bicara? Bukankah kau duluan yang duduk di depanku?  Dasar gadis menyebalkan!”

***___***

Jongin dan Krystal di ijinkan untuk pulang lebih cepat karena besok mereka harus datang pagi-pagi sekali ke Universitas. Dosen mereka tiba-tiba memajukan jadwal kuliah. Tapi sayangnya, di luar hujan turun sangat deras mengguyur sebagian kota Seoul.

“Sepertinya akan ada badai.”seru Jongin menatap keatas langit. “Anginnya kencang sekali.”

“Bagaimana caranya kita pulang? Tidak mungkin pakai motor, kan?”

Jongin mengangguk, “Akan sulit melihat jika hujannya seperti ini. Jika naik bus, kita harus berjalan menuju halte dan haltenya lumayan jauh dari sini. Kita akan tetap kebasahan.”

Krystal berdecak sambil menghentakkan kakinya ke lantai, “Bagaimana ini?”

“Tapi kita tetap harus pulang. Aku belum mengerjakan tugas yang akan di kumpul besok.” Jongin mengalihkan tatapannya pada Krystal, “Kita lari sampai halte, ya?”

“Apa? Tapi kan—“

Jongin segera membuka jaketnya dan menyampirkannya di kepalanya dan kepala Krystal. Tangan kanannya menarik pundak gadis itu agar semakin merapat kearahnya.

“Kau bisa kebasahan.”

Krystal mendongak, menatap wajah Jongin yang berada tepat di atasnya. Gerakan Jongin barusan tiba-tiba membuatnya tertegun. Tiba-tiba membuat jantungnya berdetak tak karuan.

Jongin menunduk, balas menatap Krystal, “Kenapa?”

“Ti…tidak.”Krystal menggeleng. Menjawab pertanyaan Jongin dengan suara yang hanya mampu di dengar oleh dirinya sendiri.

Tunggu… ini tidak mungkin…

Kenapa tiba-tiba dia merasakan hal aneh? Tiba-tiba saja ada banyak kupu-kupu di perutnya. Jantungnya berdetak kencang dan ada kehangatan yang ia rasakan di wajahnya.

Tidak mungkin. Tidak mungkin!

“Ayo!” Jongin merangkul pundaknya dan untuk yang kesekian kalinya berhasil membuat jantungnya berdetak tak karuan. Di ikuti langkah-langkah cepat Jongin yang memaksanya berlari.

Ini bukan pertama kalinya Jongin merangkul pundaknya. Ini juga bukan pertama kalinya mereka berlari di bawah hujan bersama. Tapi… ini pertama kalinya ia melihat wajah itu dari dekat. Sangat dekat dalam jarak 3 cm. Dan ini pertama kalinya ia menyadari jika Jongin sangat tampan.

Selama ini, dia selalu bertanya-tanya kenapa gadis-gadis itu menyukai Jongin. Jongin yang cuek dan jarang bersosialisasi. Walaupun dia ramah tapi dia tidak begitu memperdulikan teman-teman wanitanya. Tapi sekarang dia tau alasannya. Karena Jongin sangat tampan dan gentleman. Karena dia selalu melindungi dan dewasa. Juga… pelukannya terasa hangat.

“Kita kebasahan.”

Krystal baru tersadar jika mereka sudah sampai di halte bus dalam keadaan basah kuyup. Jaket yang di gunakan untuk menutupi kepala mereka sama sekali tidak berguna. Mereka tetap kebasahan.

“Kita tunggu busnya sebentar.”

Jongin menggandeng lengan Krystal dan menariknya ke bangku plastik. Keduanya duduk di sana sambil menunggu bus yang belum datang. Krystal menarik napas panjang diam-diam, sedang berada dalam usaha menenangkan hatinya yang tiba-tiba gelisah. Sejak tadi berkali-kali ia menyakini hatinya jika yang di rasakannya itu adalah sebuah kesalahan. Mungkin sifatnya juga sementara. Hujan membuatnya jadi sedikit terbawa suasana sehingga perasaan aneh itu muncul. Yah, sebentar lagi perasaan ini pasti menghilang.

“Kau tidak apa-apa, kan?” Jongin mengacak rambut Krystal, menyadarkannya.

Krystal langsung menjauhkan tangan Jongin, membuat pria itu mengerutkan kening. Ia menggeleng, “Tidak.”

“Wajahmu pucat.”

“Oh, ini pasti karena aku kedinginan.”

“Maafkan aku. Karena aku belum menyelesaikan tugasku, aku jadi memaksamu pulang sekarang.” Jongin menggenggam kedua tangan Krystal berusaha menghangatkan gadis itu.

Krystal yakin pria itu tidak sadar dengan apa yang di lakukannya sekarang. Dia sudah terbiasa melakukan itu. Tidak hanya saling menggenggam tangan, mereka juga pernah berpelukan sebelumnya. Tapi untuk saat itu, entah kenapa tiba-tiba Krystal merasa takut. Dia takut terbawa arus dan tenggelam terlalu jauh. Walaupun ia sudah meyakinkan hatinya, dia tetap gundah.

Krystal menarik kedua tangannya dari dalam genggaman Jongin. Ia menggeleng lagi, “Aku tidak apa-apa.”

Jongin menatap gadis itu dengan kening berkerut. Dia tiba-tiba menjadi aneh. Tidak seperti Krystal biasanya.

Ketika dia sudah akan membuka mulutnya untuk bertanya, bus sudah lebih dulu datang.

“Oh? Busnya datang. Ayo pulang.”

***___***

Sudah sejak satu jam yang lalu, gadis itu berkutat dengan tugas kuliahnya. Terus memaksa otaknya untuk berpikir dan menyelesaikan soal-soal yang harus di kumpul besok. Tapi rasa gelisah yang masih ia rasakan walaupun ia sudah berada di rumah dan berpisah dengan Jongin masih mengganggunya.

Jantungnya masih berdegup tak karuan tanpa alasan. Ketika ia mengingat apa yang di lakukan Jongin tadi, ia bisa merasakan rona merah menyapu permukaan pipinya.

“Oh God, what’s wrong with me?!” Gadis itu mengacak rambutnya kesal.

“Kau kenapa?” Kepala Sehun terjulur dari balik pintu kamar Krystal.

Krystal langsung terlonjak, “Kau mengagetkanku!”

“Aku kan sudah mengucapkan salam sebelum aku masuk kesini. Apa kau tidak mendengarnya?”

“Tapi harusnya kau mengetuk pintu sebelum masuk ke kamarku!”omel Krystal kesal. Dia selalu saja bersikap seenaknya. “Oh, tapi kebetulan kau ada disini.” Ia menarik kerah baju Sehun paksa, membuat pria itu tercekik.

“Ya! Kau mau membunuhku ya?”

“Duduk.” Mengabaikan omelannya, Krystal mendorong pundak Sehun dan memaksanya duduk di tepi ranjang tidurnya. Gadis itu duduk di sebelahnya. Di tatapnya lurus-lurus sahabat laki-lakinya itu sambil perlahan-lahan memajukan wajahnya.

Kening Sehun berkerut. Ketika ia menyadari wajah Krystal semakin mendekat, ia memundurkan wajahnya. Matanya mengerjap bingung sambil menyilangkan kedua lengannya di depan dada.

“Apa yang mau kau lakukan?”tanya Sehun takut. Krystal terlihat menyeramkan saat ini.

Krystal menghela napas panjang. Ia menarik wajahnya ke belakang dan memegangi dadanya, “Tidak berdetak cepat.”gumamnya sambil menggeleng. Masih penasaran, ia mengatupkan kedua telapak tangannya di pipi Sehun dan menarik wajah pria itu mendekat kearahnya.

Mata Sehun melebar. Reflek, ia mendorong kening Krystal dengan jari telunjuknya.

“Kau gila ya?”serunya semakin tak mengerti. “Apa yang mau kau lakukan? Kau mau menciumku?!”

“Ya! Aku tidak mau melakukan apapun.”balas Krystal sambil menghusap-husap keningnya. “Aku hanya ingin memeriksa sesuatu.”

Sehun berdecak sambil geleng-geleng kepala, “Kau pasti sudah gila.”

Krystal mendesah panjang. Ia mengacak rambutnya sambil menghentak-hentakkan kedua kakinya, “Aku harus bagaimana? Bagaimanaaa?”

Sehun menatap sahabatnya itu dengan pandangan aneh, “Bagaimana apanya?”

“Apa kau pernah merasakan detak jantungmu berdegup kencang tak karuan?”

Sehun mengangguk, “Pernah. Saat aku naik roller coaster.”

“Bukan itu maksudku, bodoh!” Krystal memukul kepala Sehun pelan. “Maksudku… jantungmu berdetak kencang saat kau berada bersama seseorang. Padahal sebelumnya kau baik-baik saja. Tapi tiba-tiba kau merasakan sesuatu aneh menyerang hatimu.”

Sehun menatap Krystal dengan mata menyipit, “Kau menyukai seseorang?”

“Apa?! Jadi itu namanya suka?! Sungguh?!” Krystal semakin frustasi.

“Siapa? Aku atau Jongin?”

Krystal membeku beberapa saat ketika ia mendengar pertanyaan Sehun barusan. Buru-buru ia tertawa, “Apa maksudmu? Aku tidak mungkin menyukai salah satu dari kalian.”

“Yah, memang tidak mungkin.” Sehun mengangguk-angguk. “Lalu siapa? Hoseok? Suga? Jimin? Taehyung?”

“Kenapa mereka?”

“Selain aku dan Jongin, hanya mereka teman laki-lakimu.”

“Bukan mereka!”

“Lalu?”

“Itu tidak penting! Sekarang aku hanya ingin meyakini hatiku dulu.”

“Kenapa tiba-tiba seperti ini?”

Krystal mendesah, “Aku juga bingung. Biasanya aku baik-baik saja tapi tiba-tiba saja tadi aku merasa aneh.”

“Jadi itu Jongin?”

“Sudah ku bilang bukan!”

“Baru saja kau mengakuinya. Kau bilang ‘tadi’ dan tadi kau pulang bersama Jongin, kan?”

Krystal tersentak. Dia ketahuan.

Sehun menyenggol bahu Krystal dengan bahunya, “Mengaku saja.”

Untuk yang kesekian kalinya Krystal mendesah panjang. Pada akhirnya dia tidak bisab ebrohong pada sahabatnya itu, “Aku harus bagaimana? Aku tidak seharusnya seperti ini kan?”

“Kenapa tidak?”

“Karena dia sahabatku. Dan juga, selama ini aku baik-baik saja bersamanya. Tiba-tiba saja aku merasakan hal seperti ini. Aku harus meyakinkan diriku dulu apa aku benar-benar suka padanya atau hanya terbawa perasaan karena di luar sedang hujan.”

Sehun tertawa mendengus, “Menjijikan.”cibirnya. “Cinta kan bisa datang kapan saja. Saat hujan, saat salju atau saat musim semi. Kau tidak akan pernah tau. Dan aku pikir tidak ada salahnya jika kau menyukai seseorang yang sudah menjadi sahabatmu. Tapi kau benar, yakinkan dulu perasaanmu sebelum menyatakan jika perasaanmu itu memang benar-benar cinta. Jangan main-main dengan saudaraku.”

“Oh Sehun…” Krystal meletakkan kepalanya di pundak Sehun sambil memeluk lengannya. “Kau tau aku sangat mencintaimu, kan?”

“Cih, kau baru saja bilang jika kau menyukai saudaraku dan sekarang kau mulai menggodaku.”

“Maksudku sebagai teman.”

“Yah, aku tau. Aku memang teman yang baik.”

“Terima kasih karena sudah mendengarkanku.”

“Traktir aku bubble tea saat kau gajian nanti. Aku tidak menerima ucapan terima kasih.”

Krystal tertawa, “Yah, aku tau.”

***___***

Keesokan harinya. Krystal tidak yakin jika dia mampu berhadapan dengan Jongin jadi pagi-pagi sekali dia sudah pergi ke Universitas tanpa memberitahunya. Sehuh yang pagi itu menggeledah rumah Krystal dan tidak menemukannya di manapun, keluar menghampiri Jongin sambil menggeleng, “Sepertinya dia sudah pergi.”

“Hah? Sudah pergi? Kenapa tidak bilang?”

Sehun mengangkat bahu, “Entahlah.”

“Kalau begitu, ayo pergi.”

Jongin merangkul pundak Sehun kemudian keduanya pergi bersama menuju halte bus.

***___***

Jongin sudah akan menghampiri Krystal yang sudah berada di kelas lebih dulu tapi suara dosen menghentikannya. Terpaksa ia menahan diri untuk tidak bertanya dan fokus dengan pelajaran yang di berikan dosen.

Selama pelajaran, sesekali Jongin melirik Krystal yang duduk di dekat dinding. Gadis itu terlihat serius mencatat penjelasan dosen tanpa berpaling sama sekali padahal dia menatapnya cukup lama. Apa dia tidak sadar jika dia sedang di tatap oleh seseorang?

Jongin mendesah. Biasanya gadis itu akan duduk di sampingnya tapi hari ini dia tiba-tiba pindah ke kursi yang cukup jauh dari jangkauannya. Terlihat jelas jika dia sedang menghindar.

Setelah tiga jam ia berperang melawan pikirannya, akhirnya dosen meninggalkan ruang kelas. Jongin langsung berdiri dan menghampiri Krystal yang sudah bergegas pergi.

“Kau mau kemana?” Jongin langsung menahan lengannya.

“Oh? Aku ada janji dengan Seulgi.”

“Bukankah kau tau sebentar lagi kita harus bekerja?”

“Iya. Tapi aku harus bertemu dengan Seulgi dulu.”

“Kenapa? Apa yang mau kalian lakukan?”

Krystal memutar bola matanya bingung, “Aku….”

“Kenapa kau mau ikut campur masalah perempuan?” Sehun muncul sambil merangkul pundak Jongin. “Biarkan dia. Ayo pergi ke kantin. Aku sudah lapar.”

Jongin menghela napas panjang, “Aku akan menunggumu satu jam lagi. Kita pergi kerja bersama.”

Krystal mengangguk, “Oke.”

***___***

“Apa aku telah melakukan kesalahan? Apa dia marah padaku karena kemarin dia kehujanan?”seru Jongin bingung. “Dia sedang menghindariku, kan?”

“Memangnya apa yang terjadi antara kalian berdua kemarin?”tanya Sehun sambil mengunyah makanannya.

“Tidak ada. Kami hanya pulang kerja bersama. Hanya saja seperti yang kau tau, kami kehujanan. Aku memaksanya pulang karena aku belum selesai menyelesaikan tugasku.”

“Mungkin dia marah karena itu.”

“Tapi dia bilang dia tidak apa-apa.”

“Kenapa kau tidak mengajaknya ke acara prom nanti?”

Kening Jongin berkerut, “Huh?”

“Sebagai permintaan maaf.”ucap Sehun. “Kau tau kan aku hanya bermain-main dan dia pasti akan marah karena itu. Berbeda denganmu yang akan menjaganya dan selalu berada di sisinya karena kau tidak suka pesta. Kau bisa menggunakan kesempatan itu untuk bertanya.”

“Tapi bukankah kau yang mengajaknya duluan?”

“Aku kan bisa pergi bersama yang lain.”

“Kau benar-benar akan pergi dengan Seulgi?” Mata Jongin membulat lebar. “Kau gila ya?”

“Sudah ku bilang aku tidak akan menusuk temanku sendiri.”dengus Sehun kesal. “Ada banyak wanita yang mau jika ku ajak pergi ke malam prom. Itu sangat mudah.”

“Ck, dasar.”decak Jongin. “Jadi jika aku mengajaknya pergi ke acara prom, kau tidak masalah, kan?”

“Tentu saja tidak. Kenapa itu jadi masalah?”

Jongin tersenyum, “Kau memang saudaraku!”

***___***

Krystal benar-benar menemui Seulgi sesuai ucapannya pada Jongin. Dia pikir, Seulgi lebih berpengalaman dalam hal ini. Karena dia juga memiliki masalah tentang percintaan dalam persahabatan. Walaupun bukan dia yang menyukai.

“Jadi aku harus bagaimana?”tanya Krystal setelah menceritakan semuanya pada Seulgi.

“Bagaimana perasaanmu sekarang? Apa kau masih berdebar-debar?”

Krystal mengangguk lesu, “Jantungku benar-benar tidak terkendali selama di dekatnya.”

“Sudah jelas. Kau menyukainya.”

“Apa? Sungguh?”

“Itu bukan perasaan sementara. Jika sementara, perasaan itu akan hilang hari ini. Tapi kau masih merasakannya, kan?” Krystal mengangguk. “Kau menyukainya.”

“Tapi aku tidak seharusnya seperti ini, kan? Perasaan ini hanya akan merusak persahabatanku.”

Seulgi ikut menghela napas panjang, ia mengangguk setuju, “Aku mengerti perasaan itu. Aku juga merasakannya. Perasaan seperti itu hanya akan merusak persahabatan kita dan membuat segalanya menjadi canggung.”

“Apa karena itu kau tidak menerima perasaan Taehyung atau Jimin?”

Seulgi tersenyum kecut, “Aku tidak mau kehilangan keduanya.”ucapnya. “Tapi bukankah Sehun baik-baik saja ketika dia tau kau menyukai Jongin? Maksudku, dia tidak menyukaimu juga, kan?”

Krystal langsung mendengus, “Dia pernah bilang dia tidak akan menyukaiku walaupun ada gempa bumi dan semua gadis di dunia mati.”serunya kesal. “Dia juga bilang jika tidak ada salahnya jika aku menyukai Jongin.”

“Kalau begitu itu bukan masalah. Selama tidak ada cinta segitiga, semuanya akan baik-baik saja. Sekarang tinggal mengetahui bagaimana perasaan Jongin padamu.”

“Caranya?”

Seulgi mengendikkan bahunya, “Entahlah. Aku tidak pandai dalam hal-hal seperti ini.”

Krystal mendesah panjang, “Kenapa aku jadi seperti ini? Ini sangat merepotkan.”

***___***

Langkah Krystal terhenti di anak tangga kedua begitu ia melihat Jongin berdiri di taman Universitas tak jauh di depannya. Pria tinggi itu berbalik, juga melihatnya. Untuk beberapa saat, keduanya hanya diam. Saling menatap tanpa niat untuk menghampiri.

Jongin mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor Krystal. Gadis itu mengeluarkan ponselnya dari sakunya, keningnya langsung berkerut. Ia memandang layar ponselnya dan Jongin bergantian. Bingung kenapa Jongin menelponnya padahal mereka hanya berdiri dengan jarak 5 meter. Tapi gadis itu tetap menjawabnya.

“Kenapa kau menelponku?”tanyanya langsung.

“Ada yang ingin ku tanyakan tapi aku terlalu malu jika berhadapan langsung denganmu.”

Kening Krystal berkerut, “Tentang apa?”

Di sebrang sana, Jongin terdiam sejenak. “Apa kau marah padaku? Kenapa kau menghindariku?”

“Aku tidak marah dan tidak menghindarimu.”

“Benarkah? Apa ini hanya perasaanku saja?”

“Mungkin.”

“Tapi kau sedikit berubah.”

“Aku hanya sedang mengalami siklus bulanan perempuan. Kau tau kan bagaimana mood perempuan jika sedang merasakan itu?”seru Krystal berbohong.

“Oh, pantas saja. Aku pikir kau marah padaku.”

Krystal tersenyum, “Tidak.”

“Kalau begitu, maukah kau pergi ke acara prom bersamaku?”

Krystal terkejut, “Tapi aku akan pergi bersama Sehun.”

“Aku sudah minta ijin padanya dan dia mengijinkanku. Dia bilang dia akan pergi bersama orang lain.”

“S-sungguh?” Krystal tergagap. Jantungnya kembali berdebar-debar tak karuan. “Tapi bukankah kau tidak suka acara seperti itu?”

“Tiba-tiba aku ingin pergi. Lagipula ada kau, kan? Jadi aku akan baik-baik saja.”

“Kau sungguh-sungguh mengajakku pergi?”

“Iya. Kau tidak mau?”

Krystal tak lagi mampu menyembunyikan rasa bahagianya, “Tentu saja aku mau!”

“Kau mau?”

“Iya!”

Jongin juga tersenyum. Pria itu melangkah menghampiri Krystal dengan ponsel yang masih menempel di telinganya. Dalam sekejap, mereka sudah berhadapan.

“Jadi kita sudah baikan, kan?” Jongin mengulurkan jari kelingkingnya pada Krystal.

Krystal mengangguk, dengan senyum lebar ia mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Jongin,  “Kita baikan.”

***___***

“Jadi apa kau akan mengungkapkan perasaanmu saat malam prom nanti?”tanya Sehun di sebrang panggilan.

Krystal yang sengaja pergi ke belakang cafe karena dia ingin menghubungi Sehun menggeleng, “Aku akan membiarkan semuanya mengalir. Jika dia menyukaiku juga, dia akan mengungkapkannya.”

“Maksudmu, kau mau pria dulu yang mengungkapkannya?”

Krystal tertawa, “Tentu saja. Biar bagaimanapun aku kan wanita.”

“Yaah, terserah kau saja.” Sehun berdecak.

“Tapi kau tidak apa-apa kan jika aku seperti ini?”

“Maksudmu?”

“Jika aku menyukai Jongin.”bisik Krystal. “Kau tidak akan menganggapku merusak persahabatan kita, kan?”

“Tentu saja tidak. Kenapa aku harus berpikir seperti itu? Kau bukan tipeku sama sekali.”

Krystal langsung mendengus, “Dasar brengsek.”

“Kau memakiku? Bukankah seharunya kau berterima kasih?”

“Itu…” Gadis itu tertawa. “Baiklah. Terima kasih Oh Sehun. Kau sudah membuatku dan Jongin pergi ke malam prom bersama. Kau memang teman yang paling baik.”

“Bukan itu pujian yang ingin ku dengar.”

“Aaah, benar-benar menyebalkan!”rutuk Krystal. “Baiklah. Kau adalah pria yang paling tampan dan keren di dunia. Bagaimana? Kau puas?”

Sehun tertawa, “Sudah ya, aku ada janji kencan.”

“Kencan? Dengan wanita mana lagi?”

“Kau tidak akan tau. Yang jelas wanita cantik.”

Krystal menghela napas panjang, “Baiklah. Lakukan apapun sesukamu.” Ia mengakhiri panggilannya lalu masuk ke dalam kembali.

Tak jauh dari sana, dari balik pohon seseorang muncul menatap kearah tempat Krystal berdiri tadi. Senyumnya mengembang kecut. Hatinya terasa sakit tapi dia tau dia telah melakukan hal yang baik. Dia mengeluarkan selembar foto dari dalam sakunya. Untuk beberapa saat menatap foto itu sebelum membaliknya dan membaca tulisan yang ada di bagian belakang.

Aku melihat cinta di dalam matamu di hari ketika kita tertawa bersama di loteng lantai tiga sambil menatap langit malam. Krystal Jung, aku mencintaimu.

Pria itu menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan lalu merobek lembar foto itu. Dia telah memutuskan untuk menyerah dan akan melupakan perasaannya itu. Dia akan tetap bertahan sebagai teman, sebagai orang yang selalu ada untuk gadis yang pertama kali mampu membuat jantungnya berdebar tak karuan.

Dia membuang robekan foto itu ke dalam tong sampah sebelum akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.

Foto Sehun dan Krystal.

END

 

 

Iklan

4 thoughts on “FRIENDS Series – Without you know

  1. fitriwind berkata:

    Aishhhh .. cinta degitiga jongin kai krystal ini yg aku duka .. haha …
    Sehun always nyebelin .. Tapi kasian juga ni anak .

  2. Anfa berkata:

    Jadi setiap cast cewek.a d.sini punya 2 bodyguard sendiri2 y., krystal (kai+sehun) seulgi (taehyung+jimin) wendy (suga hoseok),. semuanya terlibat cinta segitiga, dan pasti ada cinta bertepuk sbelah tangan juga, dan itu sehun,. Tenang masih banyak yang mau sama uri sehun kok,. (termasuk akuuuu) :*

  3. ji_kim berkata:

    Ahhhhhh.. Ini benar-benar…………………
    Hun sama Ak aja, ak selalu setia menunggumu😘
    As expected author oh😘😘😘😘😘
    Love yaaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s