FRIENDS Series – Thank You

 

FRIENDS WENGAHOPETittle      : Friends (Thank You)

Author  : Ohmija

Genre   : Friendship

Cast       : BTS Suga, BTS Jhope, Red Velvet Wendy

Wendy hanya bisa menghela napas panjang melihat Hoseok terus murung sambil menatap keluar jendela kamar. Dalam satu bulan ini, ini adalah kedua kalinya pria itu di campakkan oleh seorang gadis. Sebelumnya, dia di campakkan karena dia terlalu sering pergi ke Internet Cafe daripada menemui kekasihnya. Entah apa alasannya kali ini.

“Aku mau mati saja. Ini benar-benar menyakitkan.”

“Jangan melompat dari jendela itu. Kau hanya akan mengalami patah tulang. Pergilah ke Namsan Tower dan lompat dari sana.”

Hoseok langsung menoleh ke belakang sambil melotot kesal, “Kau ini benar-benar tidak punya hati.”

“Keluarlah. Aku sedang mengerjakan soal kalkulus, kehadiranmu sangat mengganggu konsentrasiku.”

“Kerjakan saja! Jangan ganggu aku! Anggap saja aku tidak ada!”

Wendy menghela napas panjang, ia menoleh ke belakang, menatap Hoseok yang sudah menatap ke luar jendela kembali.

“Kau benar-benar tidak tau malu.” Gadis cantik itu mendengus kesal. “Kenapa kau selalu pergi ke rumahku setiap kali kau patah hati? Kau bersedih di kamar orang lain!”

Hoseok menatap Wendy lagi dengan wajah cemberut, “Aku mau bersedih di kamarku, tapi rumahku ada di lantai satu. Dan jendela di kamarku justru berhadapan langsung dengan jendela kamar Taehyung. Tidak ada pemandangan bagus yang bisa di lihat.”

“Kau bisa pergi ke kamar Suga, kan? Rumahnya ada di lantai tiga, lebih tinggi dan pemandangannya lebih bagus. Kau bisa melihat apapun dari sana.”cerocos Wendy. “Lagipula… tunggu… bukankah dari jendela kamarku juga tidak ada pemandangan yang bagus? Jendela kamarku bersebrangan dengan jendela kamar Seulgi.”

Hoseok langsung menyeringai, “Pemandangan indah memiliki arti yang luas. Bisa gunung, bisa langit dan… perempuan cantik.”

“Cih, menjijikan.” Wendy mendengus semakin kesal.

“Pergilah! Apa yang sedang kau lakukan disini? Kau tidak mengerjakan tugasmu? Kau mau di marahi dosen lagi?”

“Aku kan bisa mencontek pekerjaanmu.”

“Kau pikir aku mau?”

Mata Hoseok melebar, “Kau tidak mau?” ia terkejut karena malam itu Wendy tiba-tiba berubah.

“Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu menyalin tugasku lagi. Kau harus belajar sendiri. Sekarang aku sadar sepertinya aku sudah terlalu baik padamu jadi—“

Belum selesai menyelesaikan ucapannya, Hoseok tiba-tiba menyeret kursinya mendekati Wendy dan merengek sambil bergelayut di lengannya seperti anak kecil, “Wendy~ apa kau tega melihatku di hukum lagi? Aku di maki di depan semua orang oleh dosen jahat itu. Popularitasku akan memburuk. Wendy~”

“Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!” Wendy mencoba melepaskan tangan kanannya dan mendorong kepala Hoseok agar ia menjauh namun Hoseok tetap bergelayutan di lengan Wendy.

“Apa yang sedang kalian lakukan?” Tiba-tiba seorang pria membuka pintu kamar Wendy. Dengan santai, pria itu melemparkan dirinya keatas ranjang tidur, “Hey, apa yang sedang kau lakukan? Kau terlihat seperti anak monyet.”

Pria yang ternyata adalah Min Suga itu sebenarnya berbicara pada Hoseok tapi Wendy juga merasa tersinggung setelah mendengarnya. Ia mendorong tubuh Hoseok kesal hingga roda kursinya berputar ke belakang dan berbalik menatap Suga yang sedang merebahkan diri sambil memeluk guling, seakan-akan dia sedang berada di kamarnya sendiri.

“Jadi maksudmu… aku… ibu monyet?”

“Aku tidak bilang begitu.”

“YAK! Itu maksudmu! Kau bilang dia adalah anak monyet, artinya aku adalah ibu monyet karena dia bergelayutan di lenganku, kan? Iya kan?!”

“Tidak. Aku tidak bilang begitu. Kau saja yang berpikiran seperti itu.”

“Oh Tuhan…” Meteran amarah Wendy tidak bisa di bendung lagi. Dua pria ini. Serta sikap mereka yang selalu seenaknya membuatnya benar-benar muak. Gadis itu berdiri dari kursinya lalu menarik kerah baju Hoseok membuat pria itu langsung berdiri secara otomatis dari kursi, “Keluar.”serunya kesal. Ia juga mencubit kaki Suga kuat-kuat.

Suga langsung meringis, “Sakit.”

“KELUAR!!!!”

***___***

 

WENDY POV

 

Namaku adalah Son Wendy. Aku lahir dan di besarkan di Canada. Ayahku adalah orang Canada sementara ibuku adalah orang Korea. Setelah menikah, ibuku meninggalkan Korea mengikuti ayahku tinggal di Canada.

Tapi, keduanya berpisah saat aku berumur 15 tahun. Saat itu aku masih berada di bangku SMP kelas 3 mendekati ujian kelulusan. Aku masih ingat bagaimana aku melewati masa-masa sulit itu. Aku harus belajar sekaligus menyaksikan pertangkaran orang tuaku. Entah apa alasan mereka, tapi tidak bisa di pungkiri jika perbedaan gaya hidup menjadi salah satu alasan mereka berpisah. Mungkin orang lain akan berpikir jika itu adalah masalah sepele tapi sebenarnya tidak. Ibuku memiliki sifat yang sembrono dan sedikit pemalas, dia ceroboh dan tidak suka bersih-bersih sementara ayahku sangat menyukai kebersihan. Bisa di bilang dia sangat freak. Dia bahkan sangat sensitif terhadap bau yang menyengat. Hanya itu awalnya dan pernikahan mereka telah berakhir dengan perceraian.

Waktu itu, aku merasa jika itu adalah akhir dari hidupku. Perceraian itu membuatku kehilangan semangat. Aku selalu mendambakan ksebuah keluarga yang harmonis dimana kami bisa berkumpul setiap akhir pekan dan mengobrol tentang kesulitan-kesulitan kami. Tapi, aku telah kehilangan semua itu bahkan sebelum aku mencobanya.

Aku terus berpikir jika orang tuaku sama sekali tidak perduli dan memikirkan bagaimana perasaanku. Mereka egois. Mereka hanya memikirkan perasaan mereka sendiri.

Hingga akhirnya, sebulan setelah perceraian itu, aku baru mengetahui jika ayahku telah menikah lagi. Yah, hanya dalam jangka waktu satu bulan. Dia telah mendapatkan pengganti ibuku.

Aku tidak mengerti bagaimana bisa pernikahan yang telah terjalin selama 17 tahun itu bisa di lupakan dengan cepat. Semua kenangan-kenangan kami hanya dalam satu bulan menghilang begitu saja. Sejak itu, aku membenci laki-laki. Aku terus mengatakan pada diriku sendiri untuk tidak mempercayai laki-laki dan semua janji manis mereka. Semua laki-laki tidak punya hati.

Lulus dari SMP di Canada, aku memutuskan untuk memilih ikut ibuku kembali ke Korea. Ayahku telah berkali-kali membujukku untuk tetap tinggal bersamanya dan istri barunya di Canada tapi aku menolak. Aku tidak tau bagaimana caranya bersikap di depan istri ayahku. Atau bisa di bilang di depan ibu tiriku. Aku tau dia tidak bersalah tapi aku membencinya.

Aku dan ibuku tinggal di sebuah rumah sewa sederhana di Seoul. Kakek dan nenekku sudah meninggal dan ibuku tidak punya banyak keluarga disini. Jadi bisa di bilang kami hanya tinggal berdua.

Akibat perceraian itu, emosi ibuku jadi tidak bisa di tebak. Terkadang dia menangis, terkadang dia marah dan terkadang dia memaki ayahku dan menghancurkan beberapa perabotan elektronik di rumah. Aku mengerti, ibuku pasti sedang mengalami masa-masa yang sulit.

Tapi beberapa hari setelah kami pindah ke Seoul, ibuku tiba-tiba menghilang. Dia pergi entah kemana dan kembali setelah tiga hari. Saat aku bertanya padanya, dia bilang dia mendapatkan pekerjaan baru dan mungkin akan jarang pulang ke rumah. Dia tidak memberitahuku jenis pekerjaan itu. Hal itu terulang keesokan harinya, ibuku pergi dan pulang setelah beberapa hari. Karena penasaran dengan pekerjaannya, suatu hari aku mengikutinya. Dan satu kenyataan langsung menghantamku keras tepat di dada.

Alasan kenapa ibuku baru pulang ke rumah setelah beberapa hari karena ternyata dia bekerja sebagai wanita panggilan di sebuah bar eksekutif. Aku melihatnya masuk ke dalam sebuah hotel dengan pakaian seksi bersama seorang pria. Saat dia menyadari jika aku ada disana, dia bahkan tidak perduli dan bersikap seakan-akan dia tidak melihatku.

Untuk yang kedua kalinya, aku kecewa dengan orang tuaku. Aku pikir keputusan untuk mengikuti ibuku dan berada di sampingnya adalah keputusan yang benar. Tapi ternyata aku salah. Ibuku bahkan lebih buruk dari ayahku.

Aku pergi meninggalkan rumah setelah itu. Semuanya sudah berakhir. Aku sudah benar-benar kecewa. Mungkin memiliki sebuah keluarga bukan ide bagus untukku. Mungkin lebih baik aku hidup sendiri.

Musim dingin empat tahun lalu, aku berjalan tak tentu arah mencari rumah sewa sederhana. Aku hanya membawa sedikit uang yang berhasil ku kumpulkan. Saat itu aku bahkan hanya berjalan kaki.

Bagi seorang gadis yang baru saja berumur 16 tahun, aku tau itu sangat berbahaya. Aku bisa saja di ganggu atau bahkan di culik. Hanya saja, kekecewaan itu membutakanku. Aku tidak perduli. Aku hanya ingin pergi.

Ketika aku pikir dunia sedang membenciku, ternyata dugaanku salah. Tuhan mempertemukanku dengan Suga. Pria bertubuh mungil berkulit putih pucat dengan wajah yang hampir mirip seperti anjing Husky – matanya sangat kecil dan berwajah dingin –

Aku bertemu dengannya di Hongdae. Kalau tidak salah setelah dia tampil street rapping dan membeli kopi di salah satu stand. Aku tanpa sengaja menabraknya karena pandanganku terlalu fokus pada salah satu penampilan group laki-laki yang sedang meng-cover dance Shinee – Aku tergila-gila dengan Taemin sejak dulu –

Senada dengan wajahnya yang terlihat tidak bersahabat, dia memarahiku karena kopi panas itu nyaris membuat dadanya terbakar. Dia terus menyalahkanku walaupun aku sudah minta maaf berulang kali.

Dan di saat itu juga, aku bertemu Hoseok. Dia adalah sahabat Suga – yang sekarang juga menjadi sahabatku –. Dia datang dan melerai pertengkaran berat sebelah itu.

Berbeda dengan Suga yang jarang sekali tersenyum. Hoseok sangat berlawanan dengannya. Dia penuh dengan semangat dan suka tertawa. Dia adalah seorang mood maker. Dia juga yang memberitahuku tentang rumah sewa ini.

Sudah empat tahun berlalu sejak aku tinggal di tempat yang kami namai ‘Isibsa-Sigan’ (24 hours) ini – karena tempat ini sangat berisik setiap saat – dan sudah empat tahun juga aku bersahabat dengan mereka.

Untuk pertama kalinya setelah perceraian orang tuaku. Dua orang ini berhasil mengubah pikiranku tentang laki-laki. Entah mengapa, aku mempercayai mereka.

***___***

 

AUTHOR POV

 

“Hoseok-ah! Kenapa lama sekali?! Aku ada kelas satu jam lagi. Cepat!”teriak Suga dengan suara yang sangat menyakitkan telinga semua orang.

Wendy yang berdiri di sampingnya langsung menarik kepalanya menjauh, “Kau mengagetkanku.”

“Jika aku terlambat, aku bisa mati.”balas Suga. “Bagaimana jika aku pergi duluan?”

Wendy menggeleng, “Tidak bisa. Kita pergi bersama. Tunggu sebentar lagi, kau tau kan Hoseok selalu membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk berdandan?”

Suga langsung mendengus, “Itu karena kau tidak harus menghadiri kelas dengan dosen yang super killer dalam satu jam kedepan!”

Wendy tersenyum puas, “Tentu saja.”

Suga menarik ujung rambut Wendy kesal membuat gadis itu memukulnya lengannya dengan buku.

“Jangan rusak rambutku!”

“Memangnya siapa yang akan kau temui di kampus? Kau sedang menyukai seseorang? Atau bahkan kau sedang berkencan?”

“Yak! Aku sudah berumur 20 tahun, ini memang sudah waktunya aku berkencan.”

“Yaah, coba saja berkencan dengan seseorang. Aku memperingatkanmu, hubunganmu tidak akan berlangsung lama.”

“Kau selalu mengancamku.”

“Aku hanya ingin kau berkencan dengan pria yang tepat. Apa kau mau bernasib sama seperti Hoseok?”

“Tapi aku perlu mencobanya dulu baru mengetahui apa pria itu adalah pria yang tepat atau tidak. Kalian berdua tidak pernah membiarkanku melakukannya.”

“Gadis yang baik tidak mengencani banyak pria.”kata Suga. “Sudahlah. Kau tunggu saja. Nanti jika aku sudah menemukan pria yang tepat untukmu. Aku akan memberitahumu.”

Wendy berdecak, “Kenapa aku harus menurutimu?”

“Memang harus begitu!”seru Suga dengan nada seenaknya membuat Wendy semakin kesal. Selalu begitu, dia tidak pernah bisa berkencan dengan seseorang karena dua laki-laki ini.

“Apa kalian sudah menungguku lama?” Tak lama Hoseok muncul. Tersenyum pada keduanya tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Suga mendengus lantas menarik kerah baju Hoseok dan menyeretnya pergi dari sana.

***___***

 

“Aku rasa aku akan mencari pekerjaan baru.” Hoseok menghembuskan napas panjang sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. “Aku sudah tidak betah.”

“Sejak kapan kau betah dengan satu pekerjaan?”balas Wendy yang sibuk dengan notebook-nya.

Hoseok mencomot satu kentang goreng yang mereka pesan sebelum bicara lagi, “Aku benar-benar tidak betah dengan suasananya. Aku harus mencari suasana baru.”

“Yaah, terserah kau saja.”seru Wendy malas. Dia sudah tau hal ini akan terjadi cepat atau lambat. Hoseok akan berhenti dan akan mencari pekerjaan lagi. Akan seterusnya begitu, Pria itu adalah tipe pria yang cepat bosan.

“Kenapa Suga belum keluar juga? Apa dia memiliki kelas tambahan?”

“Dia bilang dia harus pergi ke ruang dosen untuk menyerahkan beberapa tugas. Mungkin sebentar lagi dia datang.”

Hoseok mengangguk-angguk. Masih menyemili kentang goreng yang sudah hampir habis. Ketika matanya menatap kearah pintu kantin dan mendapati seorang gadis memasuki ruangan itu, ia langsung menegakkan punggungnya. Kentang goreng yang baru ia masukkan ke dalam mulut langsung ia telan bulat-bulat.

Wendy mengangkat wajahnya, menatap Hoseok dengan kening berkerut, “Kenapa?”

Hoseok mengulurkan kedua tangannya dan mengatupkan telapak tangannya di pipi Wendy, “Ya ampun kau cantik sekali hari ini.”serunya keras. “Bagaimana bisa kau tiba-tiba menjadi cantik? Oh Tuhan.”

“Ya! Apa yang kau lakukan? Ya!”bisik Wendy berusaha melepaskan tangan berminyak Hoseok dari wajahnya.

Hoseok melirik kearah kirinya, mengisyaratkan pada Wendy jika mantan kekasihnya ada di dekat mereka. Gadis berambut panjang yang awalnya ingin memesan makanan itu mendengus lalu pergi. Ia kehilangan nafsu makannya setelah melihat perbuatan Hoseok.

Ketika gadis itu sudah benar-benar pergi, Wendy mendorong tubuh Hoseok kesal lalu memukul kepalanya dengan garpu. Hoseok mengaduh sambil memegangi kepalanya, “Kenapa kau memukulku?”

“Dasar brengsek. Lihat wajahku!”omel Wendy kesal. Ia menarik beberapa tisu dan beranjak dari duduknya lalu pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.

Hoseok tersenyum puas. Dia telah membalas dendam pada mantan kekasihnya setelah di campakkan kemarin. Mantan kekasihnya itu sebenarnya tidak menyukai Wendy karena mereka bersahabat dekat. Setidaknya, dia berhasil membuatnya kesal.

“Kenapa kau tersenyum seperti itu?”tegur Suga, ia menjatuhkan diri di sampingnya. “Mana Wendy?”

“Mungkin pergi ke kamar mandi.”

“Bercerminlah. Kau terlihat seperti orang bodoh.”

“Tidak mungkin. Aku selalu terlihat tampan.” Hoseok berkata penuh percaya diri membuat Suga langsung mendengus. “Tadi mantan kekasihku melihatku bersama Wendy. Sepertinya dia kesal. Hahaha aku berhasil. Dia pikir aku tidak bisa mencari gadis lain?”

“Maksudmu gadis lain? Kau ingin mengencani Wendy sebagai gantinya?”balas Suga. “Kau gila?”

“Bukan begitu maksudku. Aku hanya ingin membuatnya tau jika aku bisa mencari gadis lain. Bukan berarti aku ingin mengencani Wendy. Apa kau pikir aku benar-benar gila?”

“Kau pikir aku mau denganmu? Kau juga bukan tipeku.”seru Wendy kesal, kembali duduk di kursinya setelah mencuci wajah.

“Waaah, kau adalah wanita pertama yang bicara seperti itu. Sepertinya ada yang salah dengan matamu.”

“Aku bisa melihat dengan baik. Dan kau bukan tipeku.”

“Tsk.”dengus Hoseok. “Oh ya, apa kau punya lowongan pekerjaan? Aku ingin mencari pekerjaan baru.”

Kening Suga berkerut, “Bukankah kau sudah bekerja di cafe Hangang?”

“Aku bosan.”

“Percuma. Bulan depan dia akan memintamu untuk mencarikan pekerjaan baru lagi.”decak Wendy.

“Aku tidak tau. Coba kau tanya Jongin.” Suga menggeleng. “Oh ya nanti sore kita harus latihan sebelum tampil nanti malam. Jangan lupa.”

“Kalian berdua tampil malam ini?”

“Iya. Kebetulan sekali uang simpananku sudah menipis. Kau datang menonton, kan?”

“Entahlah. Jika Seulgi mau menemaniku.”

“Seulgi pasti datang karena Jimin juga akan tampil.”

“Benarkah? Baiklah. Aku akan datang.”

***___***

 

Malam di Hongdae memang selalu ramai walaupun ini bukan hari libur. Banyak anak-anak muda berlalu lalang dan nongkrong bersama teman-teman mereka. Di salah satu sudut tempat, Suga dan teman-temannya berkumpul sebelum memulai penampilan mereka. Hari ini dia akan tampil sebagai freestyle rapper sementara Hoseok dan Jimin akan melakukan cover dance.

Beberapa orang  yang mengenal Suga dan teman-temannya perlahan-lahan berkumpul membentuk lingkaran, bersiap untuk menonton mereka. Juga ada Sehun dan Krystal di sana sementara Jongin tidak terlihat di manapun. Wendy, Seulgi dan Taehyung muncul dengan ice cream di tangan mereka masing-masing, Berdiri di atas tangga dan bersorak saat Suga memulai penampilannya.

Sudah menjadi rahasia umum jika pria yang berasal dari kampung yang sama dengan Taehyung, Daegu itu sangat jago dalam hal rap. Namanya sudah cukup di kenal di kawasan Hongdae dan beberapa kali dia mengikuti lomba free style. Bersama dengan grupnya – Jimin, Hoseok dan Taehyung termasuk – penampilan mereka selalu di tunggu oleh orang-orang.

“SUGA! SUGA! SUGA!” orang-orang meneriakkan namanya. “SUGA KAU KEREN!!” Dari belakang Seulgi, Wendy dan Taehyung, seorang gadis berteriak cukup keras membuat mereka terkejut. Ketiganya sama-sama menoleh ke belakang, mencari sosok yang berteriak ity kemudian tertawa geli karena melihat ekspresi gadis itu yang terpana karena melihat penampilan Suga.

“Oh? Kau Taehyung, kan?” Tiba-tiba seorang gadis lain menghampiri mereka.

Taehyung mengangguk sopan, “Yah, aku Taehyung.”

Wendy langsung menarik Seulgi dan membawa gadis itu menjauh. Bisa di tebak jika gadis itu adalah fans Taehyung dan hal yang paling tepat adalah menjauhi pria itu. Mereka sudah cukup di serang dengan komentar jahat di media sosial karena dekat dengan mereka.

“Kenapa kau tidak tampil bersama yang lain?’

“Aku mengalami cedera di lututku jadi aku tidak bisa tampil untuk sementara waktu.”

“Oh begitu. Kalau begitu bolehkah kita berfoto? Aku adalah fansmu.”

Taehyung mengangguk lagi, “Tentu saja. Terima kasih.” Setelah mengambil satu foto bersama, Taehyung membungkukkan badannya dan tersenyum. Sekali lagi mengucapkan terima kasih sebelum pergi mencari Seulgi  dan Wendy.

“Kenapa kalian meninggalkanku?”seru pria itu setelah menemukan teman-temannya.

“Kami menyelamatkan diri.”Wendy memperbaiki. Taehyung langsung mengerti.

Mereka kembali bersorak saat giliran Jimin dan Hoseok tampil. Terutama Wendy yang langsung bersemangat karena lagi-lagi mereka meng-cover dance SHinee. Seperti sebuah konser mini di jalanan kota, pertunjukkan itu membuat tempat itu sangat sesak dan penuh. Beberapa orang bahkan kesulitan untuk lewat.

Ketika penampilan akhirnya usai tepat pukul 9 malam, beberapa gadis yang  masih berdiri di tepi untuk melihat grup itu membuat Wendy dan Seulgi terpaksa berdiri di tempat mereka. Menjaga jarak dari teman-teman terkenal mereka itu, sekali lagi untuk melindungi diri.

“Kenapa kalian selalu menghindar? Kalian malu?”tanya Taehyung, sambil melipat kedua tangan di depan dada ia menatap dua sahabatnya itu.

“Kan sudah ku katakan tadi. Untuk melindungi diri.”

“Kami kan bukan Idol. Kami bebas berteman dengan siapapun.” Pria itu tersenyum lebar, tangan kanannya merangkul pundak Seulgi. Seulgi langsung melepaskan tangan Taehyung dari pundaknya yang membuat pria itu sedikit cemberut.

“Jangan mencari kesempatan saat aku tidak ada.”cibir Jimin yang muncul entah dari mana. Tiba-tiba ia sudah berada di samping mereka.

“Bagaimana jika kita pergi makan ice cream saja? Masih pukul 9 malam. Masih ada waktu sedikit.”seru Suga melirik arlojinya.

“Kau yang traktir, kan?” Wendy menyeringai.

Suga hanya menghela napas panjang dan akhirnya mengangguk membuat yang lain langsung bersorak senang.

“Oh ya, bukankah tadi ada Krystal dan Sehun?” Langkah Seulgi terhenti, ia menoleh ke belakang mencari-cari mereka.

“Mereka bilang mereka akan pulang lebih dulu.”ucap Suga.

Mereka berenam akhirnya pergi bersama menuju sebuah kedai ice cream sederhana. Sebuah kedai yang sudah menjadi tempat favorit mereka karena selain rasanya enak, harga di tempat itu juga cukup terjangkau.

“Aku ingin 2 mangoo ice cream.”serunya. Lalu ia menoleh ke belakang, “Wendy, kau strawberry yang susunya di ganti dengan yogurt, kan?”

Wendy mengangguk, “Juga…”

“Iya. Less sugar.”

Gadis itu tersenyum lebar sambil menunjukkan ibu jarinya. Suga kemudian menatap Seulgi, “Seulgi, bagaimana denganmu?”

“Aku…”

“Smoothies mangga-pisang dengan sedikit gula dan di campur susu cokelat!”seru Jimin dan Taehyung berbarengan membuat Suga, Hoseok dan Wendy terkejut bukan main. Mereka bahkan sangat tau minuman kesukaan Seulgi. Walaupun Suga juga tau minuman kesukaan Hoseok dan Wendy tapi… ini sedikit keterlaluan.

“Kalian benar-benar daebag!”decak Wendy masih terkagum-kagum.

Jimin dan Taehyung tersenyum bangga sementara Seulgi menutup wajahnya malu. Bukan malu terpisu, tapi malu karena dua sahabatnya itu sangat memalukan.

Tak lama Suga datang dengan sebuah nampan. Selain ice cream, pria itu ternyata juga memesan beberapa cake.

“Waaah, cheese cake!”seru Wendy berbinar-binar melihat potongan cheese cake yang ada di depannya itu.

“Milikmu tidak pakai cherry.”

Wendy mengangguk dan langsung mengambil cake miliknya. “Terima kasih. Aku akan makan dengan baik!”

“Kau bilang kau ingin diet tapi bukankah cheese cake bisa membuatmu gendut?”cibir Hoseok. “Dasar perempuan susah di mengerti.”

“Biarkan saja.”

Hoseok mendengus lalu membuka mulutnya karena dia pikir Wendy akan menyuapinya cheese cake itu seperti biasa. Tapi Wendy yang tak menyadari itu terus memakan cakenya tanpa perduli.

“Apa yang kau lakukan?”tanya Suga menatap Hoseok dengan kening berkerut.

Pria itu langsung menutup mulutnya kembali dan menelan ludahnya. Ia melirik Wendy sinis lalu menarik rambutnya kesal.

“Ya!”

“Kau benar-benar sudah berubah, Wendy. Kau tidak perduli lagi padaku.”

Wendy menghela napas panjang, “Aku kan bukan ibumu.”

“Tidak mau. Jangan berubah.” Hoseok mulai merengek sambil bergelayut di pundak gadis itu. Kedua tangannya memeluk lengan Wendy seperti anak kecil yang tidak di perdulikan ibunya.

“Ya! Lepaskan aku.”seru Wendy berusaha melepaskan lengannya. Tapi Hoseok semakin bergelayut. “Lepaskan aku. Ya!”

“Wendy?”

Tiba-tiba sebuah suara terdengar. Wendy dan yang lain langsung menoleh kearah sumber suara dan detik berikutnya tubuh Wendy menegang. Wajahnya pucat pasi.

Yang lain menatap wanita paruh baya itu lalu menatap Wendy dengan kebingungan. Siapa wanita itu?

“Wendy, anakku…”

Dan ucapan itu juga berhasil membuat yang lain terperangah. Mereka tau bagaimana jalan hidup Wendy. Bagaimana gadis itu harus bertahan hidup sendirian setelah di tinggalkan kedua orang tuanya. Mereka tau jika gadis itu menyimpan luka yang mendalam di dalam hatinya.

“Anakku… akhirnya aku menemukanmu.”

Tidak ada jawaban. Wendy membeku sempurna. Dalam kebekuan itu, matanya menatap lurus-lurus kearah satu titik. Wanita itu. Wanita yang telah meninggalkannya.

“Wendy.” Hoseok menepuk punggung tangan Wendy pelan, sangat cemas dengan kondisi sahabatnya yang tiba-tiba menjadi patung.

“Aku pergi dulu.” Gadis itu langsung meraih tasnya dan pergi meninggalkan tempat itu. Tapi wanita itu segera mengejarnya. Ia menahan lengan Wendy begitu keduanya berada di luar.

“Wendy, dengarkan penjelasan mom.”

“Penjelasan apa lagi?!” Wendy menepis cekalan wanita itu, cukup kuat hingga berhasil membuatnya nyaris terjatuh jika Suga tidak menangkap tubuhnya. “3 tahun… kau meninggalkanku selama tiga tahun!”

“Wendy, mom punya alasan.”

“Pergi! Aku tidak mau bertemu denganmu!”

“Wendy…” Seulgi sudah akan mengejarnya namun Hoseok menghentikan gadis itu. Ia menggeleng, “Kalian pulang duluan. Biar aku yang mengejarnya.”

Hoseok pergi mengejar Wendy sementara Suga berusaha menenangkan ibu Wendy yang menangis tersedu-sedu.

“Nyonya tidak apa-apa?”

“Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.”isaknya sambil menghusap air mata.

“Aku akan memanggilkan taksi. Tunggu sebentar.”

“Apa kau teman Wendy?” wanita itu mencekal lengan Suga.

Suga mengangguk, “Kami tinggal bersampingan.”

“Apa selama ini dia bahagia?”

Pertanyaan itu sontak membuat Suga terdiam. Itu adalah pertanyaan sulit. Bahagia? Jelas tidak! Walaupun  dia tertawa saat Hoseok melakukan hal bodoh atau terlihat bahagia saat mendapatkan nilai yang bagus, Suga tau dia tidak benar-benar bahagia.

“Wendy…“

“Tolong jaga dia. Dan sampaikan permintaan maafku. Aku sangat menyesal.”

Suga mengangguk pelan sebelum akhirnya memanggilkan sebuah taksi untuk mengantarnya pulang.

“Pak, tolong berkendara dengan hati-hati.” Suga membungkukkan tubuhnya pada ibu Wendy lalu menutup pintu taksi. Setelah taksi itu pergi, Seulgi, Taehyung dan Jimin yang masih ada disana menghampirinya.

“Bagaimana ini? Kita harus cari Wendy.”

“Ini sudah malam. Kalian sebaiknya pulang.”

“Taehyung akan mengantar Seulgi pulang, aku akan menemanimu mencari Wendy.”

“Tidak perlu. Hoseok sudah mengejarnya, kan? Aku akan menyusulnya. Kalian pulang saja.”

“Baiklah. Tapi jika terjadi sesuatu, cepat hubungi kami.”

“Aku mengerti.”

***___***

 

Wendy terus duduk di sebuah kursi kayu yang ada di salah satu taman kota. Matanya menatap kosong kearah tanah yang di pijaknya. Hoseok yang terus menemaninya sejak tadi, menghusap-husap kepalanya lembut.

“Jika kau ingin menangis, menangislah. Jangan menahannya.”serunya pelan. Tapi Wendy tetap diam seperti patung.  “Wendy.” Hoseok mengguncang tubuh gadis itu pelan. “Aku sangat cemas.”

“Kau sudah melihatnya, kan? Wanita itu…” Akhirnya ia bersuara. “Bukankah sangat memalukan memiliki seorang ibu yang bekerja di bar dan bahkan meninggalkan anaknya seorang diri?”

“Kenapa memalukan? Kami tidak pernah berpikiran seperti itu.” Hoseok menggenggam tangan Wendy erat-erat. “Tidak perduli seperti apa ibu dan hidupmu, kau adalah sahabat kami. Hal itu sama sekali tidak memalukan bagiku.”

“Aku… aku tidak tau apakah aku harus bahagia karena akhirnya aku bisa bertemu dengannya lagi. Aku pikir aku sudah melupakannya. Tapi nyatanya rasanya masih terasa sangat sakit. Kebencian itu muncul lagi. Kau tidak berpikir jika aku adalah orang yang yang jahat, kan? Aku membenci ibuku sendiri.”

Hoseok menarik Wendy ke dalam pelukannya. Memeluk gadis itu erat dan membiarkannya menangis di dadanya, “Kau bukan orang yang jahat. Aku mengerti kenapa kau membencinya. Kau bukan orang jahat, Wendy.”

“Aku sangat membencinya. Aku benar-benar membencinya.”isak Wendy.

“Sssst.. jangan bicara lagi.” Pria itu menghusap-husap punggungnya lembut. “Menangislah sepuasmu. Aku ada disini.”

***___***

 

Sejak tadi Suga dan Hoseok berjalan bersisian dalam keheningan. Wendy sudah tertidur di punggung Suga dan mereka tidak ingin membangunkan gadis itu sehingga mereka memilih berjalan kaki menuju rumah. Pada akhirnya dia tertidur setelah kelelahan menangis.

“Kau baik-baik  saja? Jika kau lelah, biar aku yang menggendongnya.”seru Hoseok akhirnya.

Suga menggeleng, “Aku baik-baik saja.”

Kembali mereka berdua hening. Tidak tau apa yang harus di katakan karena saat ini mereka terlalu sibuk memikirkan sahabat perempuan mereka itu. Luka yang selama tiga tahun ini di tahannyaa pada akhirnya meledak. Seseorang yang sangat tidak ingin dia temui muncul tiba-tiba, tanpa memberikannya persiapan apapun. Semua ini terlalu mendadak.

“Dia akan baik-baik saja, kan?”tanya Hoseok lagi memecah keheningan.

“Aku rasa tidak.”jawab Suga.

“Aku membutuhkan jawaban lain untuk membuat hatiku tenang.”

“Lebih baik bicara tentang kenyataan daripada kebohongan, kan?”balas Suga. “Dia pasti sangat menderita sekarang.”

***___***

 

Wendy menggeliat pelan dan tanpa sengaja tangannya menyentuh sesuatu saat dia berbalik. Gadis itu langsung membuka matanya dan mendapati Suga sedang tertidur di tepi ranjang tidurnya. Juga Hoseok yang tergeletak di lantai.

“Kau sudah bangun?” Suga menyadari gerakan Wendy dan ikut terbangun.

“Semalaman kalian ada disini?”

Suga mengangguk, “Kami khawatir jika kau tiba-tiba bangun dan butuh sesuatu. Bagaimana perasaanmu? Apa kau sudah baik-baik saja?”

Wendy mengangguk, “Aku baik-baik saja.”

Keduanya kemudian memutuskan untuk bicara di luar. Meninggalkan Hoseok yang masih terlelap. Wendy menghidangkan cokelat panas untuk mereka berdua, sambil duduk bersandar pada dinding di ruang tengah.

“Jadi dia ibumu?”tanya Suga dengan suara rendahnya. “Cantik. Mirip sepertimu.”

“Aku berharap dia bukan ibuku.”

“Kenapa? Karena dia bekerja di bar atau karena dia meninggalkanmu?”

“Keduanya.”

“Bekerja di bar bukan sebuah kesalahan, kan?” Suga menatap sisi wajah Wendy sambil memeluk gelasnya dengan kedua telapak tangan. “Seperti yang kau tau, ibuku juga pemilik banyak bar di Daegu. Bahkan orang-orang memanggilnya ‘Ratu Bar’”

“Tapi ibumu tidak menari dan menghibur para pelanggan.”

“Tidak ada yang lebih baik dari itu. Bahkan mungkin ibuku lebih buruk karena telah mempekerjakan gadis-gadis itu.”

Wendy menoleh, membalas tatapan Suga.

“Tapi aku tidak menganggap pekerjaan itu sebagai hal yang memalukan karena ibuku bekerja keras untuk menghidupi kami setelah ayahku meninggal. Aku bangga padanya.” Ia tersenyum. “Kisah kita hampir mirip. Hanya saja dalam kasusmu, orang tuamu bercerai. Tapi tetap saja bekerja di bar bukanlah sebuah kesalahan dan hal itu juga tidak memalukan. Ibumu hanya tidak punya pilihan lain. Itu adalah usahanya untuk bertahan hidup. Demi dirinya dan kau.”

“Bukan demi aku. Demi dirinya sendiri.” Wendy membenarkan. “Jika demi kami, dia akan mencariku sejak tiga tahun lalu. Saat dia mendapatiku tidak berada di rumah.”

“Dia pasti punya alasan.”

“Apa alasannya?”

“Jika kau ingin tau, kau harus menemuinya, kan?”

Wendy tertawa mendengus, “Aku tidak akan pernah menemuinya. Aku membencinya.”

“Wendy, masalahmu adalah kau terlalu takut menerima kenyataan. Aku rasa kau tidak membenci ibumu. Kau hanya mencari seseorang yang bisa di salahkan atas masalah yang terjadi dalam hidupmu. Kau hanya mencari pelampiasan.” Suga menepuk-nepuk kepala Wendy pelan. “Belajarlah untuk berani. Temui dia dan keluarkan semua hal yang  sudah kau tahan selama tiga tahun ini. Itu adalah cara agar kau bisa berdamai dengan masa lalumu. Agar kau bisa hidup tenang.”

Wendy mendorong tangan Suga dari kepalanya, “Kau membelanya?” seru Wendy dengan nada suara yang mulai meninggi. “Kau tidak tau bagaimana rasanya di tinggalkan saat kau bahkan tidak mengetahui apapun. Tidak ada yang perduli padamu. Semua orang egois memikirkan diri dan perasaan mereka sendiri dan mengabaikanmu. Mereka tidak perduli apa kau masih hidup atau tidak. Kau tidak mengerti!”

Suga menghela napas panjang, “Wendy, tapi dia ibumu.”

“Dia bukan ibuku!”bentak Wendy. “Ibu dan ayahku sudah mati! Mereka sudah mati!”

“Kau tau kau tidak seharusnya bicara seperti itu, kan?”

Wendy mendorong tubuh Suga kesal, “Pergi! Aku juga membencimu!”

“Wendy…”

“Hentikan.” Hoseok tiba-tiba muncul. Ia berdiri di depan pintu kamar Wendy sambil menatap dua temannya itu. “Hentikan.”

Suga kembali menghela napas panjang. Pria itu kemudian berdiri dan pergi meninggalkan tempat itu. Sementara Wendy menundukkan kepalanya, menyembunyikan air matanya.

“Kau tidak apa-apa?”tanya Hoseok hati-hati, berjongkok di sebelah Wendy.

“Pergilah. Aku ingin sendiri.”

Gadis itu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar. Hoseok hanya menatap punggung gadis itu tanpa niat mengejarnya. Dia mengerti jika Wendy butuh waktu untuk menenangkan dirinya sendiri. Tidak ada yang bisa dia lakukan walaupun ia merasa khawatir. Dia tidak bisa memaksa gadis itu.

Wendy menjatuhkan diri di kursi belajarnya. Ia menarik laci kecil yang ada di bawahnya dan mengeluarkan sebuah foto dari sana. Foto dirinya bersama Hoseok dan Suga. Baginya, dua sahabat laki-lakinya sudah lebih dari sekedar sahabat. Mereka seperti dua kakak laki-laki yang selalu menjaganya dan ada di sisinya setiap saat.  Dia sadar, dia tidak seharusnya bersikap seperti itu pada mereka. Bukankah mereka hanya ingin dia bahagia?

Tapi untuk berdamai dengan masa lalunya bukanlah hal yang mudah. Dia telah melewati banyak kepedihan dan rasa sakit. Untuk melupakan dan memaafkan adalah hal yang sulit.

Wendy mengacak rambutnya frustasi. Di sisi lain, ia sadar jika ucapan Suga ada benarnya. Selama ini dia terus melarikan diri, mencari kebahagiaan sesaat untuk melupakan semua rasa sakitnya sejenak. Tapi saat dia sendirian, rasa sesak itu kembali muncul. Dia tidak pernah hidup dengan tenang.

Gadis itu mendesah panjang, “Apa yang harus aku lakukan?”

***___***

 

Malam itu sedikit dingin. Angin berhembus kencang, tidak ada bintang di langit menandakan jika sebentar lagi akan turun hujan. Tapi walaupun begitu, teras tetap menjadi tempat favoritnya untuk menulis lirik. Yaah, walaupun pemandangan di sana tidak seindah di teras rumah sewa Hoseok yang ada di lantai tiga.

“Apa yang sedang kau lakukan?” Hoseok duduk di kursi yang ada di hadapan Suga sambil memberikan nasi kepal yang ia beli dari supermarket padanya. “Aku juga punya kimchi. Bukankah ini sempurna?” pria itu tertawa. Hanya dengan nasi kepal, kimchi seharga 500won dan minuman soda, dia sudah merasa puas dengan menu makan malamnya itu.

Suga menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sambil membuka bungkus plastik nasi kepalnya, “Apa kau bisa menyarankan beat yang bagus?”

“Aku punya beberapa daftarnya di komputerku. Oh ya, aku juga sudah menulis beberapa lirik. Bagaimana jika kita kolaborasi nanti? Kita buat penampilannya seperti cyper.”

“Cyper?”

Hoseok mengangguk, “Bagaimana?”

“Ide bagus. Tapi kita harus menyamakan ide dari liriknya dan…”

“Suga.” Tiba-tiba suara seseorang terdengar. Suga dan Hoseok sama-sama menoleh dan mendapati Wendy sudah berdiri di depan teras. “Aku ingin bicara?”

“Bicara apa? Bukankah kau membenciku?”balas Suga membuang tatapannya kearah lain.

“Kau tau jika aku tidak benar-benar berkata seperti itu.”

“Yaah… lalu apa?”

“Aku…”

“Duduklah disini. Kenapa kau berdiri disana?” Hoseok berdiri dan menarik lengan Wendy, menarik gadis itu agar duduk di kursi yang ada di tengah-tengah mereka.

Suga masih bersikap seakan-akan dia tidak perduli. Tanpa menatap Wendy, ia memakan nasi kepalnya.

Salah satu hal yang di takuti oleh Wendy adalah kemarahannya itu. Suga sedikit rumit. Tidak seperti Hoseok yang mudah untuk di bujuk saat dia sedang marah. Belum lagi wajah dingin tanpa senyum yang membuatnya semakin terlihat menakutkan.

“Aku ingin minta maaf padamu. Tadi pagi aku sudah membentakmu dan bicara kasar. Aku sadar jika aku telah menyakiti perasaanmu. Maafkan aku.”

“Yah, oke. Tidak apa-apa.”jawab Suga cuek.

Wendy menautkan jari-jarinya, “Tapi sepertinya kau masih marah.”

“Aku tidak marah.”

“Tapi wajahmu…”

“Wajahku kan memang seperti ini.”balas Suga cepat.

Hoseok menatap kedua sahabatnya itu bergantian lalu menghela napas panjang, “Apa kalian harus bersikap seperti ini, huh?”cibirnya mulai kesal. “Ya! Kenapa kau seperti itu? Dia kan sudah minta maaf.”

“Aku benar-benar menyesal karena sudah bicara seperti itu tadi.”ucap Wendy tertunduk. “Kau benar. Harusnya aku berani menghadapinya. Tidak seharunya aku mencari pelampiasan atas hidupku.”

Suga berhenti mengunyah. Menatap gadis itu.

“Tapi untuk memaafkan dan melupakan bukanlah hal yang mudah. Aku butuh waktu untuk itu.” Wendy mengangkat wajahnya, balas menatap Suga.  “Tidak apa-apa, kan?”

Suga tidak bersuara. Uintuk beberapa saat menatap gadis itu dalam keheningan. Gadis ini… kenapa dia terlihat begitu menyedihkan?

“Temuilah dia.”kata Suga pelan. “Bicarakan semuanya dan selesaikan masalahmu.” Wajah Wendy terlihat sedikit sedih mendengar ucapan Suga barusan. Pria itu mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Wendy erat, “Jangan takut. Kami akan menemanimu.”

“Kalian akan pergi bersamaku?”

“Kami tidak mungkin membiarkanmu pergi sendirian, kan?” Suga tersenyum sambil menepuk-nepuk punggung tangan Wendy.

Wendy tersenyum, “Terima kasih karena selalu ada di sampingku.”

“Kau cukup membayarnya dengan cake!” Hoseok bersuara dengan semangat, mencairkan suasana. “Sebentar lagi aku ulang tahun. Jangan lupa!”

Gadis itu tertawa, “Aku tau.”

***___***

 

Wendy melihat wanita itu dari kejauhan. Sedang duduk di sudut cafe dengan minumannya. Langkahnya terhenti untuk beberapa saat, tenggelam dalam pikirannya sambil terus memandang wanita itu. Kebencian dan rasa amarah itu masih ada tapi Suga bilang setidaknya dia harus tau alasannya. Kenapa dia meninggalkannya sendirian selama tiga tahun ini. Sebuah alasan untuk membuat hatinya lega.

“Kau pasti bisa.” Suga mengacak rambutnya.

Wendy mendongak, menatap pria yang berdiri di samping kanannya itu.

“Selesaikan semuanya lalu kita pergi makan ice cream.”sahut Hoseok.

Wendy mengalihkan pandangannya, kini pada Hoseok yang tersenyum lebar kearahnya. Dia memang tidak pernah gagal untuk memberikan kekuatan.

Dalam hati ia bertanya-tanya kenapa dia masih merasa gelisah ketika dia punya dua sahabat yang selalu ada untuknya. Karena setiap kali dia bersedih, dia bisa mencari mereka untuk mengeluarkan semua sesak di dadanya. Mereka akan selalu menjadi pendengar dan menjadi pelindung. Jadi tidak ada alasan untuk merasa khawatir.

“Aku masuk dulu.”

Suga mengangguk, “Kami akan menunggu di luar.”

***___***

Ketika dua wanita itu berhadapan. Tidak ada suara yang terdengar. Sama sekali. Keheningan pekat menjadi teman keduanya. Seperti sedang mencari kata-kata yang tepat untuk memulai segalanya. Untuk meleburkan semua luka.

Canggung.

“Apa kau baik-baik saja?”tanya wanita itu setelah beberapa saat,  Akhirnya… setelah mendapat kekuatan.

“Apa aku terlihat baik-baik saja?”balas Wendy tajam.

“Maafkan mom, Wendy.”

Wendy kembali terdiam. Dia mengepalkan kedua tangannya yang tersembunyi di bawah meja. Bagaimana mungkin kata maaf itu bisa terucap dengan mudahnya setelah semua yang dia lakukan?. “Kenapa?”lirih Wendy. “Kenapa kau meninggalkanku? Apa aku telah melakukan kesalahan?”

Ibunya menelan ludah, “Mom telah melewati banyak kesulitan sejak bercerai dengan daddy.”

“Jika itu adalah alasannya, bukankah kau sangat egois? Bukan aku penyebab perceraian itu. Lalu kenapa aku harus mengerti perasaan kalian? Kenapa bukan kalian yang mengerti perasaanku?”

“Maafkan mom Wendy. Mom tidak cukup berani untuk menerima kenyataan. Mom pergi untuk mencari pelampiasan serta uang untuk menghidupi kehidupan kita. Maafkan mom karena mom tidak memberitahumu sebelumnya. Maafkan mom yang membutuhkan waktu lama untuk mencarimu. Mom benar-benar menyesal.” Wanita itu menghusap air matanya. “Sekarang biarkan mom menebus kesalahan mom padamu. Maukah kau kembali dan tinggal bersama mom lagi?”

Wendy tertegun. Tidak menampik jika dia merindukan ibunya. Seperti anak-anak lain, dia ingin memiliki ibu sebagai sandarannya. Tapi jika tinggal bersamanya sama dengan meninggalkan rumah sewanya, dia tidak bisa melakukannya. Dia sudah terlanjur nyaman tinggal di tempat itu, dengan orang-orang dan lingkungannya. Dia tidak ingin pergi.

“Aku tidak bisa.”lirih Wendy dengan suara bergetar.

“Kenapa? Kau masih marah pada mom?”

“Aku punya orang-orang yang selalu ada untukku selama tiga tahun ini. Aku tidak mau meninggalkan mereka.”seru gadis itu. “Aku tidak tau apakah aku masih marah padamu atau tidak. Tapi sejujurnya perasaanku sudah berubah dari sebelumnya. Kebencianku sudah berkurang. Mungkin kita butuh waktu untuk kembali dekat seperti dulu. Untuk kembali menjadi ibu dan anak. Aku ingin melakukannya secara perlahan.”

“Wendy…”

“Setidaknya sekarang aku sudah tau alasannya. Kita semua terluka. Aku akan mencoba mengerti alasanmu. Dan aku harap kau juga akan mengerti tentang keputusanku. Aku lebih suka tinggal di rumah sewaku.” Gadis itu berdiri dari duduknya. “Aku harap kau sehat selalu. Dan jika ada waktu, aku akan mengunjungimu sesekali. Jangan khawatir. Aku sudah tidak begitu marah dan aku akan berusaha memaafkanmu sepenuhnya. Aku juga ingin kita kembali seperti dulu.” Ia tersenyum tipis. “Kalau begitu aku permisi. Terima kasih karena kau sudah meluangkan waktumu untuk bertemu denganku…” Gadis itu menghentikan ucapannya sejenak. Ia menelan ludah, “…mom.”

Wendy membungkukkan tubuhnya sopan sebelum pergi meninggalkan cafe itu. Suga dan Hoseok langsung berdiri menghampirinya begitu ia keluar. Wendy menatap keduanya, tersenyum. Bersamaan dengan air mata yang mengalir dari dua sudut matanya.

Suga mengulurkan tangan, mendorong sisi belakang kepalanya ke dalam pelukannya. Tidak perlu di jelaskan. Tidak perlu di katakan. Karena mereka mengerti. Wendy sudah melakukan hal yang baik. Dia berhasil.

“Kau hebat.”

Wendy menumpahkan air matanya di dada sahabatnya itu. Sementara Hoseok menepuk-nepuk kepalanya lembut.

“Selamat Wendy. Kau berhasil.”

Suga dan Hoseok sadar. Mereka telah melakukan penyiksaan terhadap Wendy. Tapi mereka juga tau hal itu justru akan membuatnya lega. Tangis Wendy semakin terisak. Tapi hatinya terasa ringan. Seperti semua bebannya sudah terangkat.

Akhirnya…. dia berhasil berdamai dengan masa lalunya.

END

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

3 thoughts on “FRIENDS Series – Thank You

  1. Linda byun berkata:

    Aku pikir persahabatan mereka akan sama kaya sehun,krystal,dan jongin 😥 syukurlah btw 😆 .Fighting thor!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s