FRIENDS Series – Butterfly

SEULMINTAE

Tittle      : Friends (Butterfly)

Author  : Ohmija

Genre   : Friendship

Cast       : BTS Jimin, BTS V, Red Velvet Seulgi

SEULGI POV

Aku pikir aku adalah gadis yang cukup beruntung atas semua kesulitan yang telah ku alami. Aku memiliki sahabat-sahabat yang selalu ada untukku. Berawal dari tetangga dan kini kami berteman sangat dekat.

Hubungan yang terlalu dekat itu juga tak jarang membuat orang lain salah sangka. Seperti tidak ada batasan, kami berteman seperti kami adalah makhluk yang sejenis. Aku menganggap mereka seperti teman-teman perempuanku dan mereka menganggapku seperti teman laki-laki mereka.

Walaupun aku adalah seorang perempuan, aku bukanlah tipe perempuan sejati. Maksudku, aku sedikit tomboy dan ke laki-lakian. Aku tidak suka berdandan, aku lebih suka menguncir rambutku tinggi-tinggi daripada mengurainya, aku lebih suka memakai celana dan aku lebih suka pergi ke tempat game online daripada shopping seperti anak-anak perempuan lain.

Tapi aku memiliki sisi lain dari diriku yang seperti anak laki-laki itu. Biar bagaimanapun aku adalah seorang perempuan. Wendy dan Krystal selalu menganggapku seperti anak kecil yang tidak tau apapun. Mereka selalu bilang jika aku terlalu polos karena aku tidak pernah jatuh cinta. Aku menyukai kisah-kisah dongeng terutama snow white. Aku percaya jika suatu saat pangeran berkuda putihku akan datang.

Kembali ke topik persahabatan. Aku memiliki dua orang sahabat dekat seperti Wendy dan Krystal. Mereka adalah Taehyung dan Jimin. Seperti sudah menjadi peraturan, perempuan akan selalu menempati rumah yang ada di lantai dua. Sementara Taehyung tinggal di lantai paling bawah dan Jimin tinggal di atasku.

Taehyung adalah pria daegu yang pindah ke Seoul tiga tahun lalu. Tubuhnya cukup tinggi dan wajahnya lumayan tampan. Saat tersenyum, dia akan mengembangkan pipinya dan bagiku itu imut. Sifatnya sedikit aneh dan tidak dapat di mengerti. Terkadang saat semua orang diam, dia tiba-tiba berteriak dan membuat keributan. Dia sangat usil dan seperti anak kecil. Tapi sifatnya itu justru membuat semua orang menyukainya.

Taehyung adalah salah satu mahasiswa yang namanya cukup di kenal di Universitas kami. Berdampingan dengan Sehun, Jongin, Suga dan Hoseok. Bersama dengan Suga dan Sehun, dia bergabung dalam klub basket.

Sementara Park Jimin, dia adalah pria manly yang terjebak dalam wajah yang super imut. Berbeda dengan Taehyung yang memiliki penampilan manly tapi memiliki kepribadian yang imut, Jimin adalah kebalikannya. Tingginya lebih pendek dari Taehyung dan wajahnya sangat lucu. Kulitnya putih bersih dan pipinya sedikit chubby. Dia suka tersenyum hingga matanya membentuk garis eyesmile. – Sama sepertiku, dia tidak punya double eyelids –

Tapi walaupun dia memiliki penampilan fisik yang imut, kepribadiannya sangat manly. Bisa di bilang dia adalah pria gentleman. Dia juga memiliki tubuh yang bagus dan hal yang paling di sukai perempuan, abs cokelat!

Dia adalah seorang performer di Hongdae bersama Suga dan Hoseok. Tapi Jimin hanya melakukan cover dance. Sejak kecil, dia sudah belajar tentang tari kontemporer dan telah memenangkan beberapa lomba tari. Dia juga cukup popular di Universitas kami karena sikapnya yang ramah.

Bukankah aku sangat beruntung karena aku tinggal dengan para pria popular?

Dan aku… aku adalah Kang Seulgi. Hanya gadis biasa yang lahir dan di besarkan di pinggiran kota Seoul. Tapi sejak tiga tahun lalu, aku harus tinggal sendiri karena orang tua dan adik laki-lakiku harus pindah ke Pohang untuk bekerja. Kami bukanlah keluarga yang kaya, kehidupan kami cukup sulit hingga ayah dan ibuku memutuskan untuk menjadi nelayan disana.

Aku tidak pernah mengeluh dengan kehidupanku. Aku selalu menjalaninya dengan tulus karena aku percaya semua ini akan berakhir indah. Lagipula aku sudah cukup bahagia karena aku tidak kesepian walaupun aku tinggal sendiri. Aku punya si berisik Taehyung dan si manis Jimin. Walaupun terkadang hari-hariku justru berubah menyebalkan karena tingkah mereka, tapi aku tetap bersyukur karena ada mereka di sampingku.

Tapi persahabatan kami tiba-tiba saja berubah dalam satu malam. Kami tetap menjadi sahabat tapi di dalam persahabatan itu ada sebuah persaingan.

Musim dingin tahun lalu, semuanya berubah. Saat mereka mengungkapkan perasaan mereka padaku.

***___***

AUTHOR POV

Winter, December 15th. Hongdae Street.

Seulgi dan Taehyung bersorak sambil bertepuk tangan setelah Jimin menyelesaikan penampilannya. Penampilan dance cover ‘Big Bang – Bang Bang’ yang sangat keren. Bahkan Jimin mendapatkan beberapa fans perempuan yang meneriakkan namanya.

“Waaah… Park Jimin.” Taehyung berseru dengan dialect-nya yang sangat kental. “Aku rasa aku akan menjadi fansmu juga. Kau sangat keren.”

Jimin terkekeh, “Aku tau. Aku memang sangat keren.” Pria itu menyahuti dengan dialect Busannya.

Seulgi memberikan sebotol air mineral pada pria itu lalu berseru, “Ada banyak perempuan yang meneriakkan namamu.” Ia menunjuk sekumpulan anak-anak perempuan yang mulai meninggalkan tempat itu.

“Haruskah aku menandatangani bajumu? Atau haruskah kita berfoto bersama?”goda Jimin tetap dengan senyum.

Seulgi mendengus, “Tsk, kau mulai membual.”

Jimin tertawa sambil mengacak rambut Seulgi.

“Sekarang karena Jimin sedang memiliki banyak uang, bagaimana jika kita merayakannya?” Taehyung melompat ke tengah dan merangkul pundak keduanya. “Bagaimana jika kita…. minum!”

“Yak! Aku tidak mau.” Seulgi langsung menggeleng dan melepaskan diri dari rangkulan Taehyung. “Aku belum pernah minum sebelumnya. Aku tidak mau.”

“Kami juga.”balas Taehyung cepat. “Kita tidak pernah merayakan hari legal kita. Jadi aku ingin merayakannya hari ini. Kita sudah berumur 20 tahun tapi kita belum pernah minum soju. Itu sangat memalukan.”

“Tidak.” Seulgi menggeleng lagi. “Bagaimana jika aku mabuk?”

“Kenapa kau mengkhawatirkan hal itu? Kan ada kami, kami akan menggendongmu pulang.”seru Taehyung lagi. Beberapa saat kemudian ia kembali beseru. “Asal kau tidak muntah di bajuku.”

“Bukan itu maksudku. Aku hanya tidak bisa mempercayai kalian.” Seulgi mencibir. “Bagaimana jika aku mabuk dan kalian melakukan sesuatu padaku?”

Mendengar itu, Jimin dan Taehyung langsung menoleh dengan mata melotot, “Maksudmu, kami byuntae?”seru Taehyung kesal. “Ya! Cobalah ingat lagi, kau pernah tidur di rumahku karena listrik di rumahmu mengalami kerusakan. Kau juga pernah menumpang mandi di kamar mandiku saat pipa airmu macet. Lalu siapa yang byuntae? Kau atau kami?!”ucapnya tidak terima. “Bahkan jika aku byuntae, aku akan memilih gadis yang lebih baik!“

Seulgi sudah akan membalas ucapan Taehyung namun suara Jimin terdengar lebih dulu.

“Apa kau lupa jika kau pernah menggunakan sikat gigiku? Kau juga pernah memakai jaketku!”Jimin menyahuti, juga merasa tidak terima dengan ucapan Seulgi. “Kau yang byuntae!”

Seulgi menghembuskan napas kesal, ia menatap kedua sahabatnya itu seakan ingin memakan mereka, “YA! Haruskah kalian mengungkit hal itu? Kalian membuatku terlihat seakan-akan aku adalah byuntae!”

“Kau memang byuntae!”jawab Taehyung dan Jimin bersamaan.

“Waaah, benar-benar…” Seulgi berkecap tak percaya. Ia benar-benar kesal. “Baiklah. Kalian mau minum, kan? Ayo kita minum sampai mabuk!”

***___***

Seulgi tidak menyangka jika dia akan minum alkohol untuk pertama kali dalam hidupnya dengan dua pria ini. Sejak kecil, dia selalu ingin merayakan hari legalnya bersama ayah dan ibunya. Tapi karena jarak mereka dan kesibukan masing-masing, Seulgi tidak bisa mewujudkan keinginannya itu.

Dia juga sempat berpikir akan melakukannya dengan Wendy dan Krystal tapi selalu saja ada hambatan saat mereka akan pergi ke kedai soju.

Mereka memesan dua botol soju dan dua porsi bayi gurita dan ceker pedas. Mereka hanya menebak-nebak jika itu adalah menu yang tepat untuk di makan dengan soju.

Taehyung menumpah soju ke dalam masing-masing gelas. Seulgi menatap kearah gelasnya saat air soju mulai memenuhi gelas kecil itu.

“Sekarang ayo rayakan hari legal kita.” Taehyung mengangkat gelasnya diikuti Jimin dan Seulgi. “Park Jimin dan Kang Seulgi, aku harap kalian bisa menggapai mimpi kalian untuk menjadi penari yang hebat.”

Seulgi dan Jimin tersenyum, “Aku harap kita bisa sukses bersama!”seru Seulgi.

“Ayo bersahabat sampai kita tua! Aku harap kita masih bisa duduk-duduk seperti ini saat kita sudah menjadi kakek dan nenek.”sahut Jimin.

Mereka semua mengangguk lalu berseru bersama, “Gombe!”

Ketiga orang itu meminum soju pertama mereka dan meringis saat kerongkongan mereka terasa seperti di tusuk-tusuk jarum.

“Oh Tuhan…” Seulgi terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya. “Rasanya tidak enak.”

“Memang seperti itu rasanya saat pertama kali.”sahut Jimin padahal pria itu juga meringis tadi. “Kau belum terbiasa.” Ia menyumpitkan satu bayi gurita ke dalam mulutnya untuk menghilangkan rasa tidak enak itu.

“Bagaimana jika kita melakukan permainan?”

Jimin dan Seulgi langsung menoleh kearah Taehyung dengan kening berkerut, “Permainan apa?”

“Putar botol. Saat ujung botol mengarah ke orang itu, dia harus minum dan menjawab jujur hal yang di tanyakan padanya.”

“Harus jujur?”tanya Jimin.

“Tentu saja. Kita kan sudah berjanji untuk bersahabat sampai kita tua. Kita tidak boleh menyembunyikan sesuatu.”

“Aku rasa aku tidak bisa meminumnya lagi.” Seulgi menarik dirinya menjauh sambil menggeleng.

“Kenapa? Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu dari kami?”tanya Taehyung dengan mata menyipit.

“Tidak bukan begitu—“

“Kalau begitu semuanya setuju, kan?” Ia tidak memberikan kesempatan Seulgi untuk bicara dan langsung mengambil sebuah botol kosong dan memutarnya. “Ingat ya. Kalian harus jujur.”

Botol itu memutar dengan kecepatan penuh. Orang-orang yang mengelilinginya menatap itu dengan jantung berdebar, berharap bukan mereka yang harus minum dan menjawab pertanyaan. Terutama Seulgi. Bukan karena dia sedang menyembunyikan sesuatu, dia hanya tidak ingin minum lagi.

Saat ujung botol akhirnya menunjuk kearah Jimin, Taehyung dan Seulgi langsung bersorak seakan tim bola favorit mereka mencetak gol di gawang lawan.

“Ah.. benar-benar…” desah Jimin sambil meminum sojunya. Ia kembali meringis, susah payah menelannya. “Baiklah, apa yang ingin kalian tanyakan padaku? Aku akan menjawabnya.”

Taehyung memajukan tubuhnya dan menatap Jimin, “Park Jimin, kau harus jujur padaku. Saat pertama kali kita bertemu, sebenarnya kau tidak suka denganku, kan?”

Jimin langsung tersenyum geli, “Itu karena kau berlagak sok keren jadi aku membencimu.”

“Jadi kau benar-benar tidak suka denganku?”seru Taehyung terkejut. “Jadi kau juga yang menempelkan permen karet di kursiku?”

Jimin sontak tertawa terbahak-bahak, “Kau hanya di perbolehkan bertanya satu pertanyaan.”

“Awas saja jika itu benar, aku tidak akan melepaskanmu.” Taehyung mendengus sambil memutar botol itu lagi.

Kali ini botol itu menunjuk kearahnya sendiri. Pria itu meninju udara kesal lalu meminum sojunya.

Giliran Seulgi yang bertanya. Gadis itu menatap Taehyung penuh curiga, “Waktu itu, saat ibuku mengirimiku daging dan kimchi, kau kan yang menghabiskannya? Kau masuk ke rumahku saat aku kuliah. Iya kan?”

Mata Taehyung membulat sedikit tersentak. Pria itu lantas meringis lebar, “Awalnya aku hanya ingin mencobanya tapi ternyata rasanya enak.” Ia menunjukkan senyuman yang paling manis pada Seulgi.

Seulgi langsung memukul pria itu, “Aku menuduh Jimin karena kau bilang kau bukan pelakunya! Dasar menyebalkan!”

“Siapa suruh ibumu membuat kimchi sangat enak dan… sedikit.”

“YA!”

“Hehehe… lain kali minta ibumu buat lebih banyak.”

“Sekarang kau dengar sendiri, kan? Bukan aku pelakunya.”sahut Jimin. “Kau langsung menuduhku hanya karena aku bilang aku ingin kimchi.”dengusnya.

“Maaf. Itu karena dia bilang bukan dia pelakunya.”

Botol itu kembali di putar. Dan beberapa kali berhenti, botol itu selalu menunjuk Taehyung atau Jimin. Mereka kembali mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan konyol dan mulai bertengkar saat satu sama lain mengakui hal yang sebenarnya.

Tiga botol kosong soju sudah tersusun rapi di atas meja. Makanan yang ada juga perlahan-lahan menghilang. Seulgi menatap kedua teman laki-lakinya yang mulai mabuk itu. Kepala Taehyung sudah tergeletak diatas meja sementara Jimin meletakkan kepalanya di antara kedua telapak tangan yang membentuk kelopak bunga.

Ahjumma, satu botol lagi.”seru Jimin.

Seulgi menghela napas panjang, “Ayo hentikan. Kalian sudah mabuk. Sebaiknya sekarang kita pulang.”

Gadis itu menarik lengan Jimin namun Jimin langsung menepisnya membuat gadis itu kembali terduduk di kursinya.

“Kau belum mendapatkan giliran. Kau tidak boleh pergi.”seru pria itu. “Ada hal yang ingin ku tanyakan padamu.”

“Aigoo~ sepertinya teman-temanmu sudah mabuk. Bagaimana ini?” Bibi penjaga kedai yang mengantarkan soju pesanan Jimin mendadak mengambil kembali botolnya.

“Tidak usah, ahjumma. Kami akan pulang.”ucap Seulgi.

“Tidak. Ahjumma, mana sojuku? Berikan padaku.”

“Ya! Ayo kita pulang.”

Jimin lagi-lagi menepis tangan Seulgi dan mengambil botol soju dari tangan bibi penjaga kedai.

Ahgassi, sepertinya kau akan kerepotan malam ini.” Bibi itu berdecak sambil geleng-geleng kepala lalu meninggalkan mereka.

Jimin menyentuh botol, sudah akan memutarnya tapi dia tiba-tiba terkejut karena tidak melihat Taehyung, “Huh? Taehyung pergi kemana? Dia pergi? Taehyung-ah? Taehyung-ah?”

“Taehyung ada di depanmu.”decak Seulgi berusaha menahan-nahan kesabarannya.

Mata kecil Jimin yang mengabur karena mabuk mencari-cari Taehyung dan akhirnya menemukan kepalanya di atas meja. Pria itu tersenyum, “Ternyata dia ada disini hehehe.”

Oh Tuhan… mereka menyebalkan sekali.

“Sekarang katakan padaku, apa yang ingin kau tanyakan?”

“Kita putar dulu botolnya.”kata Jimin di sertai cegukan.

Botol kembali di putar untuk yang kesekian kalinya. Seulgi benar-benar berharap jika botol itu akan berhenti padanya supaya dia bisa pulang. Ini sudah pukul 2 pagi, walaupun besok adalah hari minggu tapi dia masih memiliki banyak pekerjaan.

Namun ternyata, botol itu mengarah kearah Taehyung. Seulgi dengan cepat menggesernya dan mengarahkan ujung botol kearahnya.

“Uh? Taehyung lagi?”

“Tidak. Ini kearahku!”

“Aku rasa tidak. Sepertinya tadi aku melihat botolnya menunjuk Taehyung.”

“Kau salah. Botol ini mengarah padaku. Lihat ujungnya.”seru Seulgi bersikeras.

Jimin memperhatikan botol itu, mengikuti arah tunjuknya. Ia meringis lebar saat tau botol itu benar-benar mengarah kearah Seulgi.

“Oh, kau benar. Akhirnya aku bisa bertanya padamu.”

“Sekarang apa yang ingin kau tanyakan padaku?”

“Seulgi-yaa…” Jimin kembali cegukan. “Apa kau ingat saat pertama kali kau datang ke rumah sewa itu? Aku membantumu mengantar barang-barang dan besikap baik padamu. Sejak saat itu, kita mulai berteman, kan?”

Seulgi mengangguk, “Iya. Kita mulai berteman sejak saat itu.”

“Saat kau bilang ada seseorang yang mengikutimu, sejak saat itu aku selalu menjemputmu sepulang sekolah. Aku selalu terburu-buru ketika bel pulang berbunyi dan lari ke sekolahmu agar kau tidak lama menunggu dan setelah itu kita pulang bersama. Aku melakukan itu selama hampir dua tahun sampai kita lulus SMU. Kau ingat, kan?”

Seulgi mengangguk lagi, “Kau benar.”

“Lalu… saat musim dingin—“

“Yak! Sebenarnya apa yang ingin kau tanyakan?” Seulgi mulai kesal. “Apa kau hanya ingin mengingat-ingat masa lalu?”

“Seulgi-yaa…” Namun Jimin yang sudah mabuk mengabaikan kekesalan Seulgi. “Aku masih ingat saat pertama kali kita menghabiskan musim semi bersama, musim dingin, musim panas dan musim gugur. Aku bahkan bisa menjawab setiap detilnya. Warna bajumu dan sepatu apa yang kau pakai waktu itu. Aku ingat semuanya. Tapi, aku tidak ingat sejak kapan aku merasakan perasaan ini.”

Kening Seulgi berkerut, “Apa maksudmu?”

Jimin mengangkat kepalanya dan menatap Seulgi lurus-lurus, “Aku menyukaimu.”lirihnya. “Bukan perasaan suka sebagai teman. Aku menyukaimu lebih dari itu.”

Seulgi seketika tersentak, matanya membulat lebar-lebar, “A-apa maksudmu? Apa yang sedang kau katakan? Ha ha ha sepertinya kau memang sudah mabuk.” Tapi wajah serius Jimin menghilangkan tawa di wajah Seulgi, gadis itu menelan ludah, “Kau… bercanda, kan?”

Jimin menggeleng, “Hal yang ingin ku tanyakan adalah…” ia menghentikan ucapannya sesaat. “Apa kau juga menyukaiku? Apa kau merasakan hal yang sama?”

“Jimin-ah…”

“Aku serius.”

Seulgi menggigit bibir bawahnya, “Aku…” bahkan dia tidak tau bagaimana perasaan suka itu. Selama ini, dia hanya menganggap jika Jimin adalah teman terbaik yang pernah dia miliki. Dia selalu ada kapanpun dan dia selalu memperlakukannya dengan baik. Dia tidak menyangka jika Jimin memiliki perasaan seperti itu terhadapnya. “Jimin, aku…”

“Jangan bicara lagi atau aku akan menghajarmu.” Seulgi dan Jimin langsung menoleh saat suara Taehyung terdengar.

Taehyung mengangkat kepalanya, mengerjapkan matanya beberapa kali dan menatap Jimin.

“Jangan katakan jika kau menyukainya.”

“Kenapa? Aku memang menyukainya.”balas Jimin.

Taehyung tertawa mendengus, “Apa kau pikir hanya kau yang melakukan semua itu? Saat dia pertama kali datang, aku juga membantunya membawa barang-barang. Saat dia ketakutan karena ada seseorang yang mengikutinya, setiap hari aku juga pergi ke sekolahnya untuk menjemputnya. Tidak hanya warna baju dan sepatu, aku juga ingat apa yang dia katakan saat musim dingin, musim gugur, musim panas dan musim semi. Aku ingat semuanya!”

“Apa?”

“Hey, hey, kenapa kalian bertengkar.” Seulgi mencoba melerai mereka.

“Apa kau tau lagu apa yang di sukainya akhir-akhir ini? Apa kau tau jika minuman favoritnya adalah….”

“Smoothies mangga-pisang dengan sedikit gula dan di campur susu cokelat.” Keduanya berseru bersamaan yang bahkan membuat Seulgi terperangah.

“Dia tidak pergi ke gereja hari minggu karena dia tidak terlalu suka keramaian. Dia akan pergi hari sabtu dan berdoa selama satu jam disana. Saat naik bus, dia lebih suka duduk di dekat jendela karena dia bisa tidur dalam perjalanan. Saat bermain tekken, dia akan memakai Jin Kazama dan mengatur powernya 50%, skill 25% dan ketangkasan 25%.  Apa kau tau itu?”

“Aku tau!”sahut Jimin tak mau kalah. “Kenapa kau jadi menyebalkan seperti ini? Aku sedang mengungkapkan perasaanku!”

“Karena aku juga menyukainya!”

Tak hanya Seulgi, tapi Jimin juga terkejut mendengar pernyataan lantang Taehyung itu.

“Aku yang lebih dulu suka dengannya. Aku menyukainya sejak pertama kali kami bertemu.”ucapnya seakan-akan kesadarannya sudah kembali. “Kau bahkan tidak ingat sejak kapan kau menyukainya. Perasaanmu itu tidak serius.”

“Apa?” balas Jimin tidak terima. Pria itu berdiri dari kursinya, tangannya mencekal kerah baju Taehyung. “Apa yang kau tau tentang perasaanku?!”

Taehyung ikut berdiri, terhuyung-huyung juga mencekal kerah baju Jimin, “Kau mau berkelahi? Huh?”

“Aku tidak takut denganmu!” Jimin mendorong Taehyung namun badannya juga ikut terdorong ke belakang. Pria itu nyaris jatuh jika Seulgi tidak menariknya.

“Ahgassi, di larang berkelahi di tempat ini.” Bibi penjaga kios memperingatkan sambil geleng-geleng kepala. Sementara pengunjung lain memperhatikan mereka sambil tertawa. Mereka ingin berkelahi saat keduanya bahkan tidak bisa berdiri dengan baik.

Seulgi tersenyum malu. Buru-buru ia mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakkannya di meja, “Ahjumma terima kasih atas makanannya.”ucapnya lalu menarik baju dua temannya meninggalkan tempat itu.

Seulgi hanya bisa menggerutu kesal. Bukan dia yang merencanakan hal ini tapi pada akhirnya dia yang di susahkan. Tubuhnya mungil dan jauh lebih pendek tapi dia yang harus menggeret dua pria sekaligus.

Seulgi menggandeng Jimin dan Taehyung di kiri dan kanannya. Ia melingkarkan lengannya kuat-kuat di lengan dua pria itu. Sesekali Seulgi terdorong mengikuti arah jalan mereka yang terhuyung-huyung.

“Seulgi-yaa, kau tau aku sangat menyukaimu, kan? Jangan menyukai Jimin, ya.” Taehyung mengerang di samping kanannya.

“Aku akan berpura-pura tidak mendengarnya.”sahut Seulgi,

“Seulgi-yaa, aku yang menyukaimu lebih dulu. Walaupun aku tidak tau sejak kapan, tapi aku sangat menyukaimu. Kau jangan menyukai Taehyung, ya.”

Seulgi mendesah panjang, “Aku juga akan berpura-pura tidak mendengarnya.”

Malam itu, jalanan sudah sangat sepi. Hanya sedikit mobil-mobil yang berlalu lalang di jalan. Udara juga semakin lama semakin terasa dingin.

Tiba-tiba Taehyung terjatuh membuat Seulgi terkejut. Ia melepaskan tangan Jimin dan mencoba membantu Taehyung namun di sisi lain Jimin juga terduduk di jalan.

“Oh Tuhan… Taehyung… Jimin…” Seulgi menoleh ke kiri dan ke kanan, bingung siapa yang harus dia tolong lebih dulu.

Tapi, dia langsung tau jawabannya saat Taehyung merangkak mendekati tiang listrik dan…

“Huek!”

Seulgi mengangguk, “Baiklah. Aku akan menolong Jimin lebih dulu.”

Sudah akan bergegas menolong Jimin, suara muntahan juga terdengar dari pria itu.

“Huek!”

“Astaga!” Seulgi mengacak rambutnya kesal. “Kalian benar-benar menjijikan!”

Gadis itu mengeluarkan ponselnya. Tidak ada jalan lain selain meminta bantuan.

“Wendy?”serunya.

Wendy yang sudah tidur hanya mengerang di sebrang panggilan.

“Apa kau bisa menolongku? Bangunkan siapapun dan minta mereka menjemputku disini. Aku tidak jauh dari rumah sewa.”

“Apa yang terjadi? Bukankah kau bersama Taehyung dan Jimin?”

“Mereka…” Seulgi menarik napas panjang. Menatap Jimin dan Taehyung yang sudah tergeletak di jalan bergantian. “Mereka mabuk berat. Aku tidak bisa membawa mereka pulang.”

“Apa?! Mabuk?!” Rasa kantuk Wendy seketika menghilang. Gadis itu bangkit dari tidurnya dan menepis selimutnya. “Baiklah. Aku akan membangunkan yang lain. Kau tunggu disana sebentar, oke?”

“Baiklah.”

Seulgi mengakhiri panggilannya dengan helaan napas. Di tatapnya dua orang pria yang sudah tergeletak di jalanan itu. Keduanya bergumam tak jelas, dengan bahasa yang sulit di pahami.

Tak lama, Hoseok dan Suga muncul dengan wajah kusut karena Wendy memaksa mereka bangun dan pergi menyelamatkan Seulgi. Seulgi menatap keduanya dengan cengiran lebar, merasa bersalah karena ia sudah mengganggu tidur mereka.

“Apa yang sedang kalian lakukan malam-malam seperti ini? Benar-benar merepotkan.”gerutu Suga sambil menarik lengan Jimin dan menggendongnya di belakang.

“Apa mereka mabuk berat?”tanya Hoseok, ia menggendong Taehyung di punggungnya juga.

Seulgi mengangguk, “Ini pertama kalinya kami minum alkohol.”

“Lalu kenapa kau tidak mabuk? Oh Tuhan… dia berat sekali.” Hoseok membenarkan posisi Taehyung di punggungnya agar tidak terjerembap ke belakang.

“Mereka minum banyak sekali. Aku sudah melarang tapi mereka tetap bersikeras ingin minum.”

“Ah… dasar. Sangat merepotkan!”

***___***

Seulgi tau semuanya akan terasa aneh mulai sekarang. Ketika dua orang yang sudah ia anggap seperti sahabat itu mengungkapkan perasaan mereka. Semuanya terlalu mendadak. Dia bahkan tidak tau bagaimana caranya bersikap jika dia bertemu mereka berdua nanti.

Akhirnya Seulgi memutuskan untuk pergi ke rumah Wendy. Maksudnya, dia ingin bersembunyi untuk beberapa saat. Tapi ia berpapasan dengan Taehyung saat melewati rumahnya. Gadis itu mempercepat laju langkahnya, bersikap seolah-olah ia tidak melihat. Sayangnya, suara Taehyung terdengar memanggil Seulgi. Dan cukup terdengar keras jika dia ingin bersikap pura-pura tidak mendengar.

Seulgi menoleh setelah berhasil menenangkan hatinya.

“Kau mau kemana?”

“Ke rumah Wendy.”jawabnya setenang mungkin.

“Kenapa?”

“Tidak. Ada pelajaran yang tidak ku mengerti jadi aku ingin bertanya.”

“Kenapa tidak bertanya padaku?”

Seulgi lupa jika Taehyung juga memiliki nilai yang cukup baik. Sepertinya dia sudah salah mencari alasan.

“Oh, aku pikir kau masih tidur.”

“Yah, kepalaku terasa sangat sakit karena mabuk semalam.” Pria itu mengacak rambutnya. “Aku pasti sudah menyusahkanmu, kan? Maafkan aku.”

“Tidak. Suga dan Hoseok datang menjemput jadi aku tidak begitu kerepotan.”

Kening Taehyung langsung berkerut. Pria itu berjalan mendekati Seulgi yang semakin terlihat gugup. Kemudian membungkukkan tubuhnya, menjajarkan wajahnya dengan wajah Seulgi.

“Apa yang terjadi?”tanyanya.

“Huh? Apa maksudmu?”

“Tiba-tiba saja kau bersikap baik.”

Seulgi langsung tertawa untuk menyembunyikan rasa gugupnya, “Apa aku tidak boleh bersikap baik?”

“Bukan begitu, tapi…”

“Apa yang sedang kalian lakukan?”

Ini dia…. tersangka yang memulai semuanya.

“Kenapa bicara di depan rumah? Kenapa tidak duduk di teras?”

“Kami bertemu tadi.”jawab Taehyung.

Jimin mengangguk, “Apa kepalamu terasa sakit? Aku muntah berkali-kali saat aku bangun tadi.”

“Aku juga. Bahkan sampai sekarang rasanya masih sakit.”

“Kau ingat yang terjadi semalam? Aku sama sekali tidak mengingatnya.” Jimin tertawa tanpa tau jika Seulgi sedang berdoa dalam hati agar mereka berdua tidak pernah mengingat kejadian itu. “Aku bahkan tidak tau bagaimana caranya aku pulang.”

“Hoseok dan Suga menjemput kita.”kata Taehyung. “Dia tidak mungkin menggendong kita, kan?”

“Oh ya, bagaimana keadaanmu? Kau tidak apa-apa?”

Seulgi langsung menggeleng, “Tidak apa-apa.”jawabnya pendek.

“Semalam, apa yang—“

“Aku mau pergi ke rumah Wendy, aku pergi dulu.”

Seulgi buru-buru memotong pertanyaan Jimin dan melarikan diri dari sana. Dia tau apa yang akan di tanyakan Jimin dan dia tidak tau bagaimana caranya menjawab pertanyaan itu. Dia hanya berharap mereka berdua tidak akan pernah mengingat kejadian semalam dan kembali seperti bagaimana mereka biasanya.

Tapi sayangnya Jimin dan Taehyung menyadari keanehan itu. Taehyung dan Jimin saling tatap bingung, “Dia terlihat aneh, kan?”

***___***

Sore harinya, ketika Seulgi akhirnya meninggalkan rumah Wendy setelah menemani gadis cantik itu memanggang kue tanpa menceritakan apapun yang terjadi semalam, dia tidak melihat siapapun berada di halaman. Dia pikir Taehyung dan Jimin pergi ke tempat latihan atau pergi bersepeda di taman Hangang karena rumah Taehyung terlihat tidak berpenghuni.

Seulgi mempercepat laju langkahnya, menaiki anak-anak tangga menuju rumahnya sendiri. Namun langkahnya langsung terhenti begitu ia melihat Jimin dan Taehyung sudah duduk di meja kayu yang ada di teras rumahnya.

Seulgi sudah akan berbalik, turun kembali tapi terlambat. Kedua pria itu lebih dulu menyadari kehadirannya, “Apa yang kau lakukan di rumah Wendy? Kenapa lama sekali?”tanya Jimin.

“Oh, tadi aku… memanggang kue.”

“Bukankah kau tidak suka memanggang kue?” kini Taehyung yang bertanya.

Seulgi menggaruk tengkuknya kikuk, dia seperti seorang penjahat yang sedang di interogasi, “Tiba-tiba saja aku ingin belajar membuat kue.”

Kedua pria itu berdiri dari duduk mereka. Dengan kening berkerut berjalan menghampiri Seulgi. Bersamaan dengan langkah mereka yang kian maju,  Seulgi mundur ke belakang hingga salah satu kakinya turun ke anak tangga.

“Oh ya! Ada yang harus aku beli. Aku pergi dulu!”

Gadis itu berbalik dan dengan cepat menuruni anak-anak tangga. Melarikan diri dari sana. Membuat Jimin dan Taehyung semakin yakin jika sesuatu telah terjadi semalam.

***___***

Seulgi duduk di salah satu kursi halte. Kedua kakinya yang menggantung ia goyang-goyangkan sambil sesekali menghela napas panjang. Dia tidak bisap ergi ke supermarket ataupun ke tempat lain karena tidak membawa uang sepeser pun. Terlalu terburu-buru melarikan diri hingga lupa membawa hal yang paling penting.

Saat ini, tidak ada yang bisa dia lakukan selain duduk di halte sambil berpikir apa yang akan di lakukan, bagaimana cara menghadapi dua sahabatnya itu dan bagaimana cara bersikap setelahnya. Semuanya terasa canggung. Persahabatan yang terjalin selama beberapa tahun itu berubah begitu saja dalam semalam.

“Seulgi?” Tiba-tiba sebuah suara terdengar. Seulgi mendongak dan mendapati Jongin sudah berdiri di depannya, baru saja keluar dari bus yang datang. “Apa yang kau lakukan disini? Kau tidak berniat pergi, kan?”tanya Jongin karena Seulgi hanya memakai kaus dan celana training pendek.

“Oh, Jongin.” Seulgi tersenyum tipis, matanya mengikuti Jongin yang kini duduk di sampingnya. “Aku lupa membawa uang dan tidak tau harus pergi kemana.”

“Kenapa?”

“Tidak. Hanya untuk sementara waktu aku tidak bisa pulang ke rumah sewa.”

“Apa ada sesuatu yang terjadi?”

“Tidak.”

Jongin tau bagaimana sifat Seulgi yang lebih suka memendam masalahnya sendiri. Pria itu lantas menyenggol bahu Seulgi dengan bahunya, “Hey, apa kau punya masalah? Kau bisa menceritakannya padaku.”

“Tidak ada.”

“Jangan bohong.”ucap Jongin lagi. “Tentang Taehyung? Jimin?”

Seulgi langsung menoleh menatap Jongin, “Bagaimana kau bisa tau?”

Jongin tertawa geli, “Kau polos sekali.”

Seulgi hanya menghela napas panjang karena dia dengan mudahnya terpancing. Kepalanya kembali menunduk dan kakinya terus bergoyang-goyang.

“Jadi ada apa dengan Taehyung dan Jimin?” Jongin tersenyum geli. “Biar ku tebak, apa mereka mengungkapkan perasaan mereka padamu?”

Seulgi lagi-lagi mengangkat wajahnya menatap Jongin dengan mata terbelalak, “Apa kau peramal? Kau bisa membaca pikiran orang lain?”

“Aku benar?” Jongin kembali tertawa. “Tapi bukankah itu sangat terlihat? Aku rasa tidak hanya aku tapi yang lain juga menyadarinya.”

“Bagaimana mungkin?”

“Terlihat dari cara mereka memperlakukanmu.”

“Mereka memperlakukanku seperti teman.”

“Tidak. Cara seorang pria memperlakukan sahabat perempuannya dengan cara seorang pria memperlakukan gadis yang dia sukai itu berbeda. Mereka sudah sejak lama menyukaimu. Hanya saja kau tidak pernah menyadarinya.”

“Kau tau, aku sangat bodoh dalam hal-hal seperti ini.”

“Apa karena kau tidak pernah jatuh cinta sebelumnya?” Seulgi mengangguk. “Lalu bagaimana perasaanmu terhadap mereka? Maksudku, apa kau menyukai salah satunya?”

“Tidak tau.” Gadis itu menggeleng. “Aku tidak tau bagaimana rasa suka itu.”

“Saat kau berada di samping salah satu dari mereka, apa pernah jantungmu berdebar kencang?”

Seulgi berpikir sesaat sebelum menjawabnya, “Sepertinya tidak.”

“Sulit juga. Mungkin pernah tapi kau tidak menyadarinya.”

“Aku tidak pernah menganggap mereka lebih dari teman.”

“Apa kau percaya jika laki-laki dan perempuan bisa menjadi sahabat selamanya?” Seulgi mengangguk membuat Jongin tersenyum“ Itu adalah hal yang paling mustahil.”ucapnya. “Laki-laki dan perempuan tidak akan pernah menjadi sahabat selamanya.”

“Tapi aku…”

“Karena sekarang kau masih bingung dengan perasaanmu karena itu kau tidak tau.”

Seulgi mendesah panjang, “Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku bahkan tidak bisa bertemu dengan mereka. Aku tidak tau apa yang harus aku katakan.”

“Kenapa kau tidak jujur saja? Katakan jika kau hanya ingin menjadi teman.”

“Aku takut mereka sakit hati.”

“Mungkin memang terasa sakit awalnya tapi seiring berjalannya waktu, aku rasa mereka akan mengerti.”

Seulgi kembali mendesah panjang, “Entahlah…”

“Jangan berpikir terlalu lama. Jika kau lebih mencintai persahabatanmu, kau harus mempertahankan keduanya.”

***___***

Hari sudah mulai gelap saat hujan turun dengan deras mengguyur hampir seluruh permukaan kota Seoul. Tidak membawa payung, Jongin berlari menuju rumahnya sambil menutupi kepalanya dengan kedua tangan.

“Jongin.” Suara Taehyung menghentikan langkahnya yang sudah hampir sampai di rumah. Jongin menoleh dengan mata menyipit karena hujan deras menghujani tubuhnya. “Kau lihat Seulgi? Apa dia ada di supermarket?”

“Dia ada di halte.”jawab Jongin. “Tadi aku mengajaknya pulang tapi dia tidak mau.”

“Apa?”

“Cepat susul dia.” Pria tinggi itu melanjutkan langkahnya dan segera masuk ke dalam rumah.

Taehyung langsung berbalik masuk ke dalam rumah untuk mengambil payung dan berjalan dengan langkah-langkah cepat menuju halte. Dia sudah tau akan terjadi seperti ini. Dia tau Seulgi tidak akan pulang.

Setelah mengingat kejadian yang terjadi semalam, dia tau semuanya akan berantakan. Hatinya, hati Jimin, hati Seulgi juga persahabatan mereka. Dan bagi Seulgi, keduanya bukan pilihan karena dia tidak akan bisa memilih salah satu diantara mereka dan kehilangan yang lain. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika tidak ada Taehyung atau Jimin di sampingnya.

“Aku tau kau akan menghindari kami.” Seulgi mendongak saat ia mendengar suara seseorang. Matanya membulat lebar, Jimin sudah berdiri di depannya sambil menatapnya lurus-lurus. “Kau tidak seharusnya begini.”

“Jimin…”

“Aku sudah mengingat semuanya.”

Seulgi terdiam. Tidak tau apa yang harus dia katakan. Hanya matanya yang mengikuti gerak Jimin yang sudah duduk di sampingnya.

“Maafkan aku. Aku sudah membuatmu bingung.”

Seulgi mengembalikan tatapannya ke depan, “Aku hanya sedikit terkejut. Tidak pernah ada laki-laki yang mengungkapkan perasaannya padaku jadi rasanya sedikit aneh.”

Jimin tersenyum, “Bukan tidak ada. Ada banyak laki-laki yang ingin mengungkapkan perasaan mereka padamu tapi aku dan Taehyung selalu menghalanginya.” Seulgi menoleh, menatap Jimin dengan kening berkerut. Jimin semakin tersenyum geli. “Kau tidak pernah tau, kan?” Gadis itu menggeleng.

Keduanya terdiam untuk beberapa saat. Rasanya tidak pernah secanggung ini.

“Sebenarnya sejak aku melihat kehadiran Taehyung di pintu gerbang sekolahmu, aku sudah menyadari jika dia juga memiliki perasaan yang lebih padamu. Aku tau tidak hanya aku yang menyimpan perasaan ini. Dan mulai saat itu aku memutuskan untuk memendam perasaanku. Karena Taehyung adalah sahabatku.”ucap Jimin beberapa saat kemudian. “Dan aku rasa, dia juga seperti itu. Dia pasti menyadari bagaimana perasaanku padamu dan memutuskan untuk memendam perasaannya juga.”

Seulgi menundukkan kepalanya, “Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mengerti perasaan seperti apa itu. Hanya saja, aku tidak mau kehilangan kalian berdua.”

“Aku tau.”balas Jimin cepat. “Karena itu aku ingin memberitahumu, jangan merasa terbebani lagi.” Keduanya mengangkat wajah, saling pandang. “Kau tidak perlu menjawabnya dan aku berjanji aku tidak akan bertanya lagi. Aku ingin kita kembali seperti bagaimana kita biasanya.”

Seulgi tertegun, “Kau tidak marah padaku, kan?”

Jimin tersenyum, “Tentu saja tidak. Tapi aku harap, setidaknya kau membiarkanku tetap berada di sampingmu.”

“Kau selalu saja mencuri garis start.” Suara berat Taehyung tiba-tiba terdengar. Taehyung dan Seulgi sama-sama menoleh. Pria tinggi itu berjalan menghampiri keduanya dengan payung yang ada di tangan. “Dan kau selalu saja banyak bicara.” Ia menatap Jimin.

Jimin tersenyum tipis, “Aku hanya mengatakan apa yang sedang aku pikirkan.”

Taehyung meletakkan payungnya, berjongkok di depan Seulgi yang sedang menundukkan kepalanya. Ia menggenggam kedua tangan gadis itu dan menatapnya dengan senyum.

“Apa seharian ini kau menghindari kami karena itu?”tanyanya pelan.

Seulgi balas menatap Taehyung dan mengangguk pelan, “Maafkan aku.”

“Tidak. Harusnya aku yang minta maaf. Maafkan aku.”serunya. “Aku tidak akan bertanya tentang hal itu lagi. Setidaknya kau tau bagaimana perasaanku, bagiku itu sudah cukup.” Taehyung menghusap pipi Seulgi lembut. “Kau tidak akan menjauhi kami karena kejadian kemarin, kan?”

Seulgi menggeleng.

“Baguslah.” Taehyung tersenyum lebar kemudian ia berdiri dan mengambil payungnya. “Ayo pulang. Kau bisa masuk angin jika terus berada disini. Ayo makan ramyeon di rumahku.”

Seulgi mengangkat wajahnya, menatap Taehyung lalu menatap Jimin bergantian.

Jimin tersenyum sambil mengulurkan tangannya, “Ayo pulang.”

Seulgi menatap uluran tangan itu selama beberapa saat sebelum akhirnya menyambutnya dan tersenyum. “Ayo.”

Ketiganya berjalan bersisian, saling berdempetan karena payung yang di bawa Taehyung tidak cukup untuk melindungi tubuh mereka semua.

“Bodoh. Harusnya kau membawa payung yang lebih besar. Kita tetap basah.”seru Jimin.

“Aku tidak tau jika kau ada disini juga. Aku terburu-buru.”balas Taehyung tak terima. Lalu ia merangkul pundak Seulgi dan menariknya kearahnya. “Dekat-dekat denganku agar kau tidak kebasahan.”

Jimin langsung memukul lengannya, “Jangan menyentuhnya!”

“Ya! Jangan memukulku!”

Seulgi hanya menghela napas panjang, “Kita lari saja. Yang kalah harus membuat ramyeon.”

Seulgi seketika berlari meninggalkan Jimin dan Taehyung. Tersadar, Jimin juga mengikuti Seulgi sementara Taehyung masih tertinggal di belakang.

“Tunggu aku!”

END

Iklan

One thought on “FRIENDS Series – Butterfly

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s