The Demians part 7

demian n

Tittle       : The Demians

Author    : Ohmija

Cast          : BTS and Seulgi Red Velvet, Irene Red Velvet, Kim Saeron and DIA Chaeyeon

Genre      : Action, Romance, Comedy, Friendship

Pandangan Jungkook tak lepas dari lingkungan di sekitarnya. Sejak dia meninggalkan rumahnya dan menuju rumah Irene, dia terus memandangi lingkungan asing itu dengan mulut ternganga. Banyak yang sudah berubah. Dia bahkan tidak tau ada taman disana. Bukankah dulu tempat itu adalah kios bunga?

Taehyung menatap wajah terperangah Jungkook sambil geleng-geleng kepala. Jika seperti ini, tidak akan ada yang percaya jika dia adalah street fighter. Wajahnya terlihat bodoh.

“Apa kau sudah mengurus pendaftaran sekolahmu?”

Jungkook tersadar lalu menggeleng, “Belum. Aku akan mengurusnya nanti.”

“Sebentar lagi liburan akan berakhir dan tahun ajaran baru akan segera di mulai.”

“Santai saja, hyung. Aku pasti mengurusnya.”

Taehyung semakin berdecak. Dia bahkan tidak perduli dengan pendidikannya.

Tak lama ketika mereka sampai di rumah Irene. Keduanya melihat gadis itu berada di loteng sedang menjemur pakaian.

“Noona!”panggil Jungkook melambaikan tangannya. Sementara Taehyung tetap bersikap cuek.

Melihat kedatangan Jungkook dan Taehyung, gadis cantik itu segera turun dan menghampiri mereka.

“Kalian datang?”

“Kami mau mengembalikan kotak bekal makanan ini.” Jungkook menyerahkan plastik yang ia bawa pada Irene. “Sudah di cuci dan sudah bersih.”

“Kau yang mencucinya?”

“Hahaha tentu saja…” senyum lebar di wajah Jungkook langsung menghilang. Ia menggeleng dan menunjuk Taehyung yang berdiri di sampingnya. “…bukan aku. Taehyung hyung yang mencucinya.”

“Sudah ku duga kau masih seperti dulu.” Irene berdecak sambil geleng-geleng kepala. Lalu ia mengalihkan tatapannya kearah Taehyung, “Terima kasih, ya.”

Taehyung hanya tersenyum tipis.

“Oh ya, dimana harmoni? Aku ingin menjenguknya.”

“Bagaimana jika kau kembali lain waktu? Harmoni sedang istirahat. Aku tidak mau membangunkannya.”

“Oh benarkah? Baiklah.” Angguk Jungkook. “Kalau begitu aku pergi dulu.“

“Kau mau kemana?”tanya Irene. “Kau tau kau tidak bisa pergi begitu saja, kan?”

Jungkook menatap Irene bingung, “Huh?”

“Ayo obati wajahmu dulu.”

Irene memaksa Jungkook duduk di lantai teras rumahnya sementara ia masuk ke dalam mengambil kotak P3K. Taehyung duduk di samping pria itu sambil menghela napas panjang.

“Apa kita akan lama berada disini?”tanyanya mulai gusar.

“Kenapa hyung? Kau tidak betah?”

“Bukan begitu tapi…” belum sempat menyelesaikan ucapannya, Irene sudah lebih dulu keluar sambil membawa sebuah kotak bewarna putih. Taehyung segera berdiri dan berpindah duduk ke ke belakang Jungkook.

“Jujurlah padaku, kau pasti berkelahi, kan?”tanya Irene sambil membuka tutup kotak P3K. Ia mengeluarkan obat merah dan sekotak kecil cuttonbutt. “Memar itu tidak mungkin hanya luka karena terjatuh.”

“Maksudku, aku terjatuh lalu menghantam lemari kayu, noona.” Jungkook kembali berkilah. “Aku tidak berkelahi.”

“Ahjussi benar-benar tidak memukulmu, kan?” Gadis itu mulai menelusuri luka-luka di wajah Jungkook dengan ujung cuttonbutt-nya. “Sakit?”

“Tidak.”jawab Jungkook tetap tenang. “Appa tidak memukulku. Tidak pernah. Noona terlalu khawatir.”

“Tentu saja aku khawatir. Kita sudah lama tidak bertemu dan saat bertemu aku melihat penampilanmu seperti ini.”balas Irene.

Jungkook tertawa kecil, “Apa noona baik-baik saja?”

“Sedikit sulit karena tidak ada lagi yang mengikutiku dan melindungiku.”kata Irene. “Tapi aku baik-baik saja.”

“Sekarang aku sudah kembali. Aku pasti akan melindungi noona lagi.”

Ucapan Jungkook tersebut langsung membuat Irene tersenyum. Jungkook balas tersenyum. Sementara dari balik punggung Jungkook, sejak tadi Taehyung diam-diam terus memperhatikan mereka.

Tepatnya memperhatikan Irene.Karena dia tidak bisa melihat wajah Jungkook yang membelakanginya. Gadis itu sejak tadi selalu memperlakukan Jungkook secara istimewa. Awalnya dia pikir karena mereka sudah lama tidak bertemu. Tapi dari yang ia lihat, terdapat perbedaan antara perlakuannya pada Hoseok, Yoongi dan Namjoon dengan perlakuannya pada Jungkook. Ia terus menatap Jungkook dengan kasih sayang dan bahkan tak segan memeluk atau mencium pipinya. Apa perlakuan itu adalah perlakuan yang sering di lakukan kakak pada adiknya? Atau Irene diam-diam memiliki maksud lain?

Contohnya… mungkinkah dia menyukai Jungkook?

Tapi walaupun benar dia menyukai Jungkook, hal itu bukan urusannya. Toh keduanya sudah mengenal sejak kecil.

“Apa belum ada yang menyewa disini?”

“Belum.” Irene menggeleng lemah. Ia selesai mengobati luka-luka Jungkook. “Empat rumah itu masih kosong.”serunya menunjuk deretan dua rumah bertingkat yang ada di depannya dengan dagu.

Jungkook menghusap-husap kepala Irene lembut, “Tenang saja. Nanti pasti ada yang datang menyewa.”

Taehyung semakin membenarkan dugaannya. Tapi sepertinya tidak hanya Irene yang menyukai Jungkook, Jungkookpun begitu.

Irene tersenyum, “Terima kasih.”

“Maaf mengganggu.” Suara rendah Taehyung menyela pembicaraan mereka berdua. “Aku lupa menyampaikannya tapi Namjoon hyung menyuruhku memberitahumu jika dia memintamu untuk datang ke cafe hari ini.”

Kening Irene langsung berkerut, “Maksudmu… aku?” Taehyung mengangguk. Irene menghela napas panjang, “Berapa umurmu?”

“Aku? 19 tahun.”

“Aku 22 tahun!”balas Irene penuh penekanan. “Kau bahkan tidak menggunakan bahasa yang sopan padaku. Apa karena kau masih marah karena kejadian beberapa hari lalu?”omel gadis itu kesal.

“Tidak. Bukan—“

“Walaupun kau marah, kau tetap harus memanggilku ‘noona’!”

“Iya tapi…”

“Dasar tidak sopan!” Seperti biasa, Irene tidak pernah memberikan Taehyung kesempatan untuk bicara. “Beritahu Namjoon, aku akan datang nanti!”

Taehyung menggaruk tengkuk belakangnya kikuk. Sementara Jungkook tersenyum geli melihat Taehyung yang di omeli Irene.

“Hyung, ayo. Sebaiknya kita pergi.”

Taehyung mengangguk dan segera berdiri, “Ayo!”

“Kami pulang dulu noona. Terima kasih atas semuanya.  Aku akan datang lagi nanti.”

Masih menatap keduanya dengan tatapan kesal, Irene mengangguk, “Baiklah. Sampai jumpa.”

***___***

 

Suara-suara gaduh terdengar dari luar kamarnya serta suara mesin mobil terdengar bersahut-sahutan. Seulgi menuju balkon kamarnya dan mengintip apa yang terjadi. Keningnya berkerut saat ia melihat ada banyak orang yang berkumpul di taman dengan barang-barang mereka. Di depan pintu pagar, mobil-mobil hitam yang berbaris panjang mulai meninggalkan tempat itu.

“Apa yang terjadi?”gumam Seulgi. “Apa tempat ini tidak akan di jaga lagi?” Ada rasa bahagia di hatinya karena jika benar tempat ini sudah tidak di jaga lagi, dia bisa mengelilingi taman bunga sepuasnya. Dia tidak perlu lagi bersembunyi di rumah besar ini dan ketakutan saat orang asing masuk kesana.  Tapi… Jimin?!

Seulgi langsung berlari keluar begitu ia sadar jika Jimin mungkin telah meninggalkannya juga bersama orang-orang itu. Ia menuruni anak-anak tangga secepat mungkin, hampir jatuh karena ia kehilangan keseimbangan tapi beruntung ada bibi Yang yang dengan sigap menahan tubuhnya.

“Nona muda, kenapa nona  berlari?”

“Ahjumma, kenapa orang-orang itu pergi?”

“Saya juga tidak tau alasannya, nona. Tapi mereka bilang nyonya besar telah mengeluarkan perintah untuk menarik mereka yang menjaga rumah ini untuk kembali ke kantor.”

“Lalu Jimin? Apa dia juga pergi?”

“Tidak. Mungkin dia ada di kamarnya sedang beristirahat. Mulai sekarang hanya saya, Jimin dan Sukhwan yang akan menjaga anda, nona.”

Seulgi langsung menarik napas lega. Ia tersenyum lebar. Ia tidak perduli siapa yang akan menjaganya selama Jimin tidak pergi. Karena hanya dia yang berhasil membuatnya merasa nyaman.

Melihat ada kelegaan di wajah gadis cantik itu, bibi Yang ikut tersenyum, “Apa nona mau saya memanggil Busan kemari?”

“Tidak. Tidak perlu. Mungkin dia sedang tidur. Biarkan saja, ahjumma.”ucap Seulgi. “Oh ya, bisakah ahjumma menolongku?”

“Tentu saja. Saya pasti akan menolong nona. Apa yang harus saya lakukan?”

“Bisakah ahjumma mengajarkanku membuat puding cokelat? Tiba-tiba aku ingin membuatnya.”

Permintaan Seulgi tersebut sontak membuat bibi Yang terkejut bukan main. Bukan apa-apa, dia merasa sangat bahagia atas perkembangan Seulgi yang perlahan-lahan menjadi aktif. Dia mulai banyak bicara dan tidak gugup lagi. Dia juga banyak tersenyum.

“Nona mau membuat puding cokelat?”tanya bibi Yang, nada suaranya terdengar sangat terharu.

Seulgi mengangguk, “Apa itu sulit?”

“Tidak. Membuat puding cokelat sangat gampang. Ayo, saya akan mengajari nona.”

***___***

 

Jimin berbaring di ranjangnya dengan salah satu tangan yang ia letakkan di atas kening. Matanya menatap lurus kearah langit-langit kamar. Tenggelam dalam pikirannya. Ia masih bisa mengingat ucapan nyonya Cheon semalam. Saat dia memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan itu.

‘Setelah kau keluar dari sana, kau akan memiliki posisi yang tinggi di tempat ini.’

Dan Jimin menyetujuinya.

Ia masuk ke dalam sebuah ruangan rahasia yang ada di ruangan nyonya Cheon dan sekarang ia memiliki kekuasaan di dalam genggamannya. Posisinya telah melesat naik hanya dalam satu malam dan kini dia bukan lagi seorang kapten tapi Jendral. Dia bahkan memiliki posisi yang lebih tinggi dari Jungwoo.

Tapi posisi tinggi justru membuatnya merasa sedih. Dia merasa jika dia telah melakukan sebuah kesalahan besar dalam hidupnya. Dia merasa jika dia tidak ada bedanya dari orang-orang Hangsan yang ia benci.

“Kapten.” Tiba-tiba Sukhwan membuka pintu kamar karena ketukannya tidak di dengar. “Mereka semua sudah pergi.”

Jimin hanya melirik sekilas, “Benarkah?”

“Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Rasanya sedikit aneh.”

“Berjaga-jagalah di—“ Kalimat Jimin terputus karena ponselnya tiba-tiba berdering. Pria itu mengambil benda kecil itu sambil menarik dirinya duduk. Begitu membaca nomor telepon China, ia langsung mengangkatnya. “Halo.”serunya dengan bahasa Mandarine. “Halo?”ulang Jimin lagi karena di sebrang panggilan tidak terdengar suara apapun. Jimin menarik ponselnya dari telinga dan menatap layar dengan kening berkerut, “Apa koneksinya sedang buruk?”

“Mungkin saja karena di luar sepertinya akan hujan.” Sukhwan menyahuti.

“Halo?” Jimin mencobanya lagi.  Tapi tetap tidak terdengar suara apapun. “Aku akan menelpon kembali karena—“

“Jimin oppa…”

Jimin seketika tercekat. Suara itu…

“Jimin oppa, ini aku…”

Jimin menggerakkan mulutnya tapi tidak ada suara yang keluar dari sana. Untuk seketika ia tidak sanggup bicara. Pita suaranya lumpuh dan tenggorokannya terasa sangat cekat.

“Oppa… maafkan aku.” Suara itu kini bercampur tangis. “Aku sudah meninggalkan oppa sangat lama. Maafkan aku karena aku baru kembali.”

Jimin menelan ludah susah payah, “Saeronnie… kau sudah sadar?”

“Apa oppa bekerja sangat keras untuk menyelamatkanku? Apa oppa mengalami masa-masa sulit karena aku?”

Jimin terdiam. Sedang berjuang keras untuk melawan rasa sesak di dadanya, “Tidak.”lirihnya. “Oppa baik-baik saja.”

“Oppa… maafkan aku…”suara Saeron terputus-putus karena tangis.

“Jangan menangis. Kau bisa sakit lagi jika kau terus menangis. Oppa tidak pernah mengalami masa-masa sulit. Sekarang rasanya justru sangat bahagia karena kau. Terima kasih karena kau tidak pernah menyerah, Saeronnie. Terima kasih karena kau terus bertahan dan tidak meninggalkan oppa.”

Panggilan itu tidak berlangsung lama karena Saeron harus mendapatkan perawatan lebih lanjut setelah operasi. Jimin masih menatap ponselnya dengan senyum. Senyum lega dan bahagia. Sada kelegaan besar yang ia rasakan juga perasaan ringan seakan seluruh bebannya sudah menghilang.

Jimin berdiri sambil menarik kedua tangannya, meregangkan badannya karena rasa letihnya seketika menghilang. Sukhwan menatap pria itu bingung.

“Kapten, tadi…”

Jimin menepuk pundak Sukhwan dengan senyuman mengembang lebar, “Aku akan mentraktirmu malam ini. Apa yang mau kau makan?”

“Hah?” Sukhwan mengerjapkan matanya bingung.

“Katakan saja. Aku akan membelikan apapun.” Jimin mengacak rambut orang yang lebih tua darinya itu lalu pergi meninggalkan kamar. Ia berlari menuju rumah utama, mencari bibi Yang. Berita ini terlalu membahagiakan untuk ia simpan sendiri. Ia ingin semua orang tau jika adiknya sudah sadar dan tak lama mereka bisa bertemu lagi.

Sementara dari arah dapur, Seulgi dan bibi Yang bisa mendengar suara derap langkah seseorang memasuki rumah itu. Keduanya menoleh dan detik berikutnya, sebuah tangan sudah menariknya masuk ke dalam sebuah dekapan. Seulgi mengerjap bingung di bahu pria itu.

“Adikku sudah sadar! Dia sadar!”

Pria itu melepaskan pelukannya, menatap Seulgi dengan senyuman lebar. Sementara Seulgi masih membeku di tempatnya karena pelukan tiba-tiba itu.

“Saeronnie?!” bibi Yang memekik tak percaya.

Jimin mengalihkan tatapannya pada bibi Yang lalu mengangguk, “Dia baru saja menelponku, ahjumma. Dia benar-benar bicara padaku.”

“Oh Tuhan, terima kasih. Terima kasih karena sudah menyembuhkan Saeron-ku. Busan, selamat!” Wanita tua itu juga memeluk Jimin selama beberapa saat. “Akhirnya Tuhan mendengar keinginanmu.”

“Terima kasih, ahjumma.”

“Bagaimana keadaannya? Apa dia sudah membaik?”

Jimin mengangguk lagi, “Dokter bilang operasinya berjalan lancar dan setelah mendapatkan beberapa perawatan lanjutan, dia akan di perbolehkan pulang. Dia akan datang kesini nanti!” Pria itu masih mengatakan semuanya dengan menggebu-gebu.

Sebuah senyum tercipta di bibir Seulgi ketika ia melihat kebahagiaan di wajah pria itu. Ini pertama kalinya ia melihat senyumannya begitu lebar dan sangat tulus.

“Selamat Park Jimin.”

***___***

 

Jungkook dan Taehyung menjatuhkan diri mereka di salah satu kursi sambil menghembuskan napas panjang-panjang. Keduanya merasa sangat lelah setelah jalan-jalan melihat sekitar. Hoseok menghidangkan ice tea untuk mereka berdua lalu menjatuhkan diri di samping Jungkook.

“Kalian darimana saja?”

Jungkook meneguk ice tea-nya lebih dulu sebelum menjawab pertanyaan Hoseok itu, “Tidak tau. Rasanya kami berjalan sangat jauh tadi.”

“Kenapa tidak naik bus?”

“Itu lah yang ku katakan tadi. Tapi dia tidak mau. Dia memaksaku untuk menemaninya berjalan kaki.”sahut Taehyung, napasnya masih terengah.

“Jika naik bus, pemandangannya akan berbeda. Lebih enak jalan kaki. Lagipula anggap saja ini seperti olahraga.”

“Olahraga pantatmu.”dengus Taehyung kesal sambil memijit-mijit kakinya yang terasa pegal.

Jungkook memasukkan beberapa es batu ke dalam mulutnya karena air ice tea-nya sudah tak bersisa, “Dimana appa? Apa dia ada di rumah?”

“Tidak. Sonsengnim pergi bersama Namjoon. Sepertinya mereka berdua sedang mencari sekolah untukmu.”

Jungkook mendengus, “Kenapa terburu-buru? Mencari sekolah bisa di lakukan nanti.”

“Sebentar lagi liburan akan berakhir.”cibir Hoseok. “Apa kau sama sekali tidak khawatir jika kau tidak mendapatkan sekolah sebelum tahun ajaran baru di mulai?”

“Aku bisa memulainya tahun depan.”

“Ya!” Hoseok memukul kepala Jungkook pelan. “Setidaknya tunjukkan rasa khawatirmu.”

Jungkook langsung menghusap kepalanya, “Hyung, kenapa memukulku?”

“Dasar. Yang kau bisa hanya berkelahi.” Hoseok masih mengomel ketika dia sudah berpindah tempat di belakang meja kasir. “Apa kau tau betapa sulitnya mencari pekerjaan saat ini? Ada banyak orang yang menganggur dan tidak punya pekerjaan padahal mereka berasal dari lulusan perguruan tinggi yang bagus. Jika kau tidak lulus SMU, mau jadi apa kau nanti. Kau tidak akan punya masa depan. Jika kau tidak punya masa depan, bagaimana caranya kau menghidupi anak dan istrimu kelak?”

“Oh Tuhan…” Jungkook mendesah panjang. Telinganya terasa panas karena omelan Hoseok yang tak ada hentinya. Pria itu lantas berdiri dan menarik Taehyung, “Hyung, ayo pergi.”

“Apa? Kita kan baru saja sampai?”tanya Taehyung tapi membiarkan dirinya di tarik oleh Jungkook.

“YA! Kalian mau pergi kemana?! YA!”

Jungkook menutup pintu cafe sambil menghusap-husap telinganya. Omelan Hoseok memang tidak pernah berubah. Selalu terdengar seperti ibu-ibu.

“Kita mau pergi lagi? Kemana?”

Jungkook mengendikkan kedua bahunya, “Entahlah. Aku hanya ingin melarikan diri dari Hoseok hyung.”

“Dia kan memang seperti itu.”

“Karena itu aku ingin melarikan diri.”ulang Jungkook lagi. “Bagaimana jika kita main basket?”

“Basket?”

“Iya. Jangan bilang hyung tidak bisa main basket.”

Taehyung langsung tertawa mendengus, “Jangan remehkan kemampuanku. Aku sangat baik dalam bermain basket.”

Keduanya lalu pergi menuju taman. Setelah membeli sebuah bola di salah satu toko, keduanya mulai melakukan peregangan.

“Permainan bebas.”ucap Taehyung, berdiri berkacak pinggang menatap Jungkook.

“Yang kalah harus membelikan double burger, bagaimana?”

Taehyung mengangguk, “Setuju.”

Jungkook melempar bola basket ke udara. Dua anak laki-laki itu sama-sama melompat tapi bola jatuh ke tangan Taehyung karena tubuhnya lebih tinggi beberapa centi dari Jungkook. Ia men-dribble bolanya menuju keranjang tapi Jungkook menghadangnya dengan merentangkan kedua tangan.

Taehyung mencoba lemparan tiga poin ke arah keranjang tapi bola mengenai besi penyanggah dengan selisih tipis. Ia langsung meninju udara mengekspresikan kekecewaannya. Jungkook tertawa, kali ini gilirannya yang membawa bola di tangannya.

“Aku akan makan burger hari ini.”

***___***

 

“Bagaimana rasanya?”tanya Seulgi menatap Jimin dengan jantung berdebar-debar ketika pria itu mulai mengunyah puding cokelat buatannya. Di samping gadis itu, bibi Yang juga menunggu.

Jimin sengaja mengunyah puding itu cukup lama membuat Seulgi semakin merasa gelisah.

“Tidak enak, ya?”wajahnya berubah cemberut.

Pria itu tertawa, “Enak. Sangat enak.”

“Sungguh?!”

“Iya.”

“Kau bersikap seolah-olah rasanya tidak enak.”seru bibi Yang sambil memukul Jimin.

Jimin masih tertawa, “Aku hanya bercanda.”

“Kalau begitu nona muda, masih ada yang harus saya lakukan, apa tidak apa-apa jika saya pergi?”

“Tidak apa-apa, ahjumma. Terima kasih karena sudah membantuku.” Seulgi tersenyum.

Bibi Yang meninggalkan mereka berdua di ruang makan. Jimin yang suasana hatinya masih gembira terus memakan puding cokelat buatan Seulgi tanpa henti. Melihat itu, gadis itu hanya tersenyum.

“Oh ya, ada yang ingin ku tanyakan padamu.”serunya pelan.

“Tentang apa?”balas Jimin tanpa mengangkat wajahnya.

“Tadi pagi aku melihat orang-orang pergi meninggalkan rumah ini. Apa ada sesuatu yang terjadi?”

“Oh.” Pria itu sudah akan menghusap dagunya dengan lengan baju tapi Seulgi lebih dulu memberikan tisu untuknya. “Terima kasih.”ucapnya. “Ibumu menyuruh mereka untuk kembali dan hanya menugaskanku, Sukhwan dan Yang ahjumma untuk menjagamu.”

“Kenapa?”

“Mungkin karena dia sudah sadar jika dia telah menghamburkan banyak uang hanya untuk menjaga seorang gadis.” Jimin tersenyum lebar sampai kedua matanya membentu garis.

“Tidak mungkin.”

“Hahaha… sudahlah. Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Harusnya kau senang karena penjagaan akan dirimu jadi berkurang.”

“Aku hanya takut jika dia memiliki maksud lain di balik semua itu.”gerutu Seulgi. “Tapi baiklah, aku tidak akan memikirkannya lagi. Lalu bagaimana adikmu?”

“Mungkin dia sedang istirahat. Aku akan mengurus tiket dan mencari tempat tinggal karena dia akan tinggal disini.”

“Mencari tempat tinggal? Kenapa dia tidak tinggal disini saja?”

“Tidak. Jangan.” Jimin menggeleng. “Jika nyonya Besar mengetahuinya akan jadi masalah besar.”

“Tapi dia akan tinggal sendirian karena kau harus terus berada disini, kan?”

“Setidaknya kami berdekatan. Aku bisa memantaunya sesekali.”

“Aku jadi ingin bertemu dengan adikmu.”

“Huh? Kenapa?”

“Karena kau terus menceritakannya. Aku jadi penasaran ingin melihatnya.”

Jimin terkekeh, “Yang jelas dia sangat cantik.”ucapnya yakin. “Rambutnya panjang lurus sebahu. Bibirnya kecil dan hidungnya mancung. Dia cukup tinggi dan kurus. Tapi pipinya besar sepertimu.”

Seulgi langsung cemberut, “Ya!”

Jimin semakin terkekeh geli, “Dia sangat ramah dan mudah bergaul. Aku yakin kau bisa berteman dengannya dengan baik.”

“Berteman?”

“Tentu saja. Kau bilang kau ingin bertemu dengannya, kan? Kalian juga harus berteman.”

***___***

 

“Aku menang!” teriak Jungkook setelah lemparan tiga angkanya berhasil masuk ke dalam keranjang.

Taehyung terduduk di lantai sambil terengah-engah, “Bagaimana jika satu ronde lagi?”

“Tidak bisa! Kita sudah taruhan, kan?” seru Jungkook menolak. “Nah, sekarang cepat traktir aku double burger.”

“Apa kau pikir aku punya uang banyak? Aku hanya memiliki sedikit simpanan.”

“Hyung, tapi kau sudah berjanji.”

“Ah, benar-benar…” Taehyung berdecak lalu berdiri. “Ayo.  Karena aku laki-laki jadi aku akan menepati janjiku.”

Jungkook langsung berseru senang, “YESS!”

Keduanya lalu berjalan bersisian menuju salah satu kedai makanan cepat saji yang terkenal di sana. Taehyung menghela napas panjang, sepertinya setelah ini dia harus kembali bekerja keras untuk menabung. Harga makanan di tempat itu tidak murah.

Sementara di sampingnya, Jungkook berjalan sambil mendendangkan sebuah lagu. Dia sangat senang dengan kemenangannya.  Ayahnya belum memberikan uang saku untuknya jadi jalan satu-satunya untuk mendapatkan hal yang ia inginkan adalah memenangkan taruhan.

“Oh?” Tiba-tiba Taehyung menghentikan langkahnya. “Bukankah dia… gadis itu?”

Jungkook mengikuti arah telunjuk Taehyung, “Irene noona?!”

Mata Jungkook melebar saat ia melihat ada beberapa orang laki-laki yang mencoba mengganggunya. Ah dasar… para laki-laki itu benar-benar mencari masalah.

“Ya, kau mau kemana?” Taehyung langsung menahan lengan Jungkook saat ia melangkah.

“Tentu saja menyelamatkan noona-ku.” Jungkook melepaskan cekalan Taehyung membuat pria itu langsung menghela napas panjang. “YA! LEPASKAN TANGAN KALIAN, BRENGSEK!”

TBC
 

 

 

 

 

 

Iklan

3 thoughts on “The Demians part 7

  1. sakurahaibara berkata:

    Loo itu irene kenapa coba
    Wow habis ini bakal liat pertarungan jungkook tehyung ngelawan preman. Ditunggu lanjutannya thorr

  2. Anfa berkata:

    wahhh jendral park jimin y skarang,. Caranya junkook pinter juga, kasihan taehyung kan habis uang buat si evil maknae,.. Lanjutin terus y kak mija, 🙂

  3. Shirayuki berkata:

    Lanjuttttttt minnnnn please~
    Lagi seru ini…
    Lagi obrak abrik google eh ketemu ff ini kkk😂
    Sebelumnya aku uda pernah baca ff author yang I need U jdi sekarang kecantol sma Jungkook Saeron Couple 😁😍😍💞❤
    Fighting !!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s