The Demians part 6

Tittle       : The Demians

Author    : Ohmija

Cast          : BTS and Seulgi Red Velvet, Irene Red Velvet, Kim Saeron and DIA Chaeyeon

Genre      : Action, Romance, Comedy, Friendship

“Oh Tuhan, wajahmu lebam. Apa itu sakit?” Hoseok menunjuk luka kebiruan di pipi Jungkook.

Jungkook menggeleng, “Sudah tidak sakit lagi. Karena aku sudah berada di Korea!”jawabnya bersemangat.

“Tapi kau tetap harus pergi ke dokter besok.”sahut tuan Jeon. “Kita belum memeriksakan lukamu.”

“Appa, sudah ku bilang aku—“

“Kita bicara besok. Aku ingin tidur.” Tuan Jeon mengabaikan Jungkook dan beranjak pergi ke salah satu kamar. Sebelum pergi ia kembali berseru, “Aku akan tidur di manapun.” Mengingat di rumah itu hanya terdapat dua kamar.

“Kami akan tidur di luar, Saem!”seru Hoseok. Rasa kantuknya seketika menghilang karena dia terlalu bersemangat bertemu dengan adiknya yang sudah lama pergi. Bahkan sepertinya malam ini mereka tidak akan tidur karena ada banyak cerita yang ingin mereka dengar dan ceritakan.

Dalam perjalanan  menuju kamar, tuan Jeon berpapasan dengan Taehyung. Anak laki-laki itu langsung membungkukkan tubuhnya dalam-dalam saat ia bertemu dengan seseorang yang sudah ia anggap sebagai penyelamat hidupnya itu.

“Aku akan bekerja keras untuk membalas budimu, Saem.”ucapnya. “Juga terima kasih karena sudah membiarkanku tinggal disini.”

“Bagaimana keadaan ibumu?”

Taehyung menegakkan tubuhnya, ia tersenyum, “Sudah jauh lebih baik karena ada banyak orang yang menjaganya.”

“Kau sering menjenguknya, kan?”

“Tentu. Aku selalu menjenguknya setiap akhir pekan.”

Tuan Jeon mengangguk, ia menepuk pundak Taehyung pelan, “Bergabunglah bersama mereka.” Lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar.

Taehyung mengangguk. Sebenarnya ia sedikit ragu apakah dia harus bergabung bersama yang lain atau tidak. Mengintip dari balik dinding, mereka terlihat sangat akrab dengan anak laki-laki tuan Jeon itu. Walaupun tubuhnya lebih besar di bandingkan Yoongi dan Hoseok, dia di perlakukan seperti anak kecil oleh yang lain. Sementara dia hanyalah orang baru. Dia tidak ingin merusak suasana.

“Oh? Dimana Taehyung hyung?”tanya Jungkook menoleh ke kiri dan ke kanan. “Dia tinggal disini, kan?”

Taehyung baru bergabung bersama mereka saat mendengar namanya di sebut. Ia tersenyum kikuk, duduk di samping Hoseok. Ini adalah pertemuan pertamanya dengan Jungkook. Mereka bahkan tidak pernah bicara walaupun lewat telepon. Hanya sesekali mendengar cerita tentang diri masing-masing.

“Jungkook, ini…”

“Iya. Aku tau. Taehyung hyung.” Jungkook memotong salam perkenalan Namjoon. Anak laki-laki itu tersenyum lebar sambil mengulurkan tangannya. “Aku sudah mendengar tentang dirimu sedikit, hyung. Aku Jeon Jungkook.”

Taehyung mengangguk, membalas uluran tangan Jungkook itu, “Aku juga sudah mendengar tentang dirimu sedikit. Aku Kim Taehyung.”

“Aku harap kita bisa menjadi dekat seperti yang lain. Bersikaplah santai denganku, hyung.”

Yoongi langsung mendengus, “Bukankah seharusnya Taehyung yang mengatakan itu? Dia yang lebih tua.”

Namjoon berdecak sambil geleng-geleng kepala, “Kau tidak berubah.”

Jungkook meringis lebar menunjukkan gigi kelincinya, “Apa hyung betah tinggal disini? Mereka memperlakukan hyung dengan baik, kan?”

Taehyung sudah membuka mulutnya namun Yoongi berseru lebih dulu, “Lihat saja nanti saat kalian sudah dekat, kau akan mengetahui bagaimana sifat aslinya.”cibir Yoongi, Taehyung hanya tertawa.

“Yah, kita lihat saja beberapa bulan ke depan.” Hoseok mengangguk.

Taehyung semakin tertawa geli, “Aku tidak begitu. Memangnya apa yang salah denganku?” Yoongi dan Hoseok sama-sama mendengus.

“Ada banyak cerita yang ingin kami beritahu. Tapi apa kau tidak lelah? Kau baru saja datang dari perjalanan jauh.” Namjoon menatap adik laki-lakinya yang sedang asik mengunyah snack kentang ukuran besar seorang diri.

“Tidak. Justru aku sangat bersemangat sekarang. Kita jarang berbicara walaupun lewat telepon. Ada banyak hal yang ingin ku ketahui. Malam ini kita begadang saja!”usul Jungkook, Yoongi langsung menggeleng.

“Besok kami harus bekerja. Tidak bisa.”

“Kalian kan bisa menutup cafe sementara waktu. Kalian juga harus libur.”

“Tidak. Apa kau tau mahalnya biaya listrik dan air? Belum lagi kebutuhan sehari-hari kita. Jika kita tidak membuka kafe, kita tidak akan mendapatkan penghasilan.”

Jungkook langsung mendesah, “Hyung, ayolah. Hanya sehari.”

Yoongi yang secara tidak langsung ikut mengambil alih mengatur keuangan tetap menggeleng, “Tidak bisa.”

Jungkook semakin merengek, “Hyung~”

“Sudah. Bagaimana jika kita bercerita sampai tertidur? Jika kalian sudah mengantuk, kalian boleh tidur.” Namjoon menengahi.

Yoongi mengangkat tangan kanannya, “Aku sudah mengantuk sekarang.”

Hoseok berdecak sambil geleng-geleng kepala, “Yoongi hyung benar-benar merusak suasana.” Di antara mereka, Yoongi adalah orang yang memiliki stamina paling lemah. Ketika mereka suka berjalan-jalan saat memiliki hari libur, Yoongi justru memilih hanya berdiam diri di rumah. Dia menghabiskan hari-harinya dengan tidur.

“Baiklah. Aku akan mendengarkan cerita pertama. Tapi setelah itu aku akan tidur.”

***___***

 

Keesokan harinya saat matahari sudah mulai menunjukkan diri, tuan Jeon mendapati lima orang anak laki-laki tidur tergeletak di ruang tengah. Bungkus-bungkus snack berserakan di mana-mana juga tas-tas yang belum di rapikan.

Namjoon menggunakan salah satu tas sebagai bantal sementara Taehyung menggunakan lengannya. Yoongi tidur merapat ke dinding seperti cicak. Hoseok di sisi yang lain juga tidur dengan tas sebagai bantalnya. Sementara Jungkook tidur di tengah-tengah mereka bersama bungkus-bungkus snack di sekitarnya.

Semalam, mereka bilang mereka akan begadang sambil menceritakan banyak hal. Tapi ketika Yoongi mulai terlelap, mereka semua juga terlelap bersamaan.

Tuan Jeon menghela napas panjang sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah lima anak laki-laki itu. Dalam hati mulai berpikir apakah ini memang keputusan yang tepat untuk membawa Jungkook kembali ke Korea. Apa ini keputusan yang tepat membiarkan Jungkook bertemu dengan saudara-saudaranya lagi. Sejujurnya jika saja bisa, dia tetap ingin berada jauh dari Korea dan hidup tenang bersama Jungkook.

Suara ketukan yang lebih terdengar seperti gedoran membuyarkan lamunannya. Suara gedoran pintu pagar kayu rumah mereka terdengar sangat berisik hingga membuat Taehyung menggeliat dan membuka salah satu matanya.

Tuan Jeon menghela napas lalu bergegas membuka pintu pagar. Mereka sudah tidak memiliki hutang lagi, yang menjadi tamu mereka pagi-pagi seperti ini bukan para rentenir itu, kan?

“Namjoon! Namjoon!”

Tuan Jeon membuka pintu pagar secara gusar, di susul dengan Taehyung yang masih setengah mengantuk di belakangnya. Setelah pintu pagar terbuka, matanya melebar begitu ia mendapati seorang gadis cantik sudah berdiri di baliknya. Gadis cantik yang ternyata adalah Irene itu tak kalah terkejut saat melihat tuan Jeon.

“Oh Tuhan, ahjussi!”pekiknya tak percaya sambil membungkam mulutnya dengan kedua tangan. “S-sungguh ahjussi, kan?”

“Irene?”

“Ahjussi!” Irene langsung memeluk tuan Jeon sambil melompat-lompat senang.

Di belakang mereka, mata Taehyung yang awalnya menyipit jadi terbuka lebar melihat perbuatan gadis itu. Astaga, dia benar-benar…

“Ahjussi kembali? Kapan? Apa ahjussi baik-baik saja? Kenapa ada banyak keriput di wajah ahjussi? Mana Jungkook? Dia juga pulang, kan?”

Tuan Jeon tersenyum melihat mata Irene yang berubah menjadi berbinar-binar. Gadis ini memang tidak pernah berubah sejak sepuluh tahun lalu. Sekarang dia bahkan tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.

“Jungkook ada di dalam.”jawab tuan Jeon pendek. Dia tau ada banyak pertanyaan yang harus dia jawab tapi dia lebih tau satu jawaban yang sangat ingin di dengar gadis itu. Kehadiran adik laki-lakinya.

“Sungguh?!”

Benar dugaannya. Irene langsung berlari ke dalam tanpa memperdulikan jawaban-jawaban yang belum ia dengar. Berpapasan dengan Taehyung di pintu, gadis itu memberikan kantung plastik yang ia bawa padanya tanpa menunggu persetujuan lebih dulu. Hal itu ia lakukan tanpa sadar karena terlalu senang. Taehyung hanya mengerjap bingung saat di tangannya sudah ada bungkusan pastik bewarna putih.

“JEON JUNGKOOK!!!!”teriakan Irene membahana membuat pria-pria yang masih tertidur itu menggeliat.

Melihat adik laki-lakinya ada di depan matanya, Irene langsung menghampirinya, “Jungkook! Jeon Jungkook! Kau benar-benar kembali?” gadis itu mengguncang tubuh Jungkook yang kini jauh lebih besar darinya hingga berhasil membuatnya terbangun.

Jungkook membuka matanya pelan, “Irene noona?”

“JEON JUNGKOOK!”pekikan yang hampir mirip seperti histeria itu, tak hanya berhasil membuat kesadaran Jungkook kembali tapi juga berhasil membangunkan Namjoon, Hoseok dan Yoongi. Mereka tersentak dan seketika terbangun dari tidur mereka. “Aku merindukanmu! Oh Tuhan, kau benar-benar kembali.” Irene menarik kerah baju Jungkook dan memeluknya erat-erat seakan dia masih seperti anak kecil.

Jungkook terbatuk-batuk, merasa sesak karena pelukan kedua lengan Irene seakan mencekik lehernya, “Noona, aku merasa sesak. Uhuk uhuk… noona…”

Irene melepaskan pelukannya. Ia mengulurkan kedua tangannya dan mengatupkan telapak tangannya di pipi Jungkook, “Bagaimana bisa kau tumbuh secepat ini? Kau bahkan lebih tinggi dariku. Tapi kenapa wajahmu lebam? Apa yang terjadi?”

Jungkook melepaskan kedua tangan Irene yang menekan pipinya lalu menghusap-husap pipinya yang terasa sakit, “Apa noona hanya ingin menyiksaku?” ia tidak berniat menjawab rentetan pertanyaan Irene itu.

“Karena aku sangat merindukanmu!” Gadis itu kembali mencubit pipi Jungkook gemas.

“Apa kau pikir dia masih seperti anak kecil? Dia sudah dewasa.”seru tuan Jeon hanya bisa geleng-geleng kepala melihat bagaimana cara Irene memperlakukan Jungkook.

“Tubuhnya memang lebih besar dariku tapi bagiku dia tetap anak kecil.”ucap Irene. “Kapan kau datang? Kenapa tidak memberitahuku?”

“Tadi malam.”jawab Jungkook. “Aku juga tidak memberitahu siapapun. Ini adalah kejutan.” Ia tersenyum menunjukkan gigi kelincinya. “Lagipula ku dengar noona pindah ke China.”

“Aku memutuskan untuk kembali tinggal disini karena harmoni sedang sakit jadi aku harus merawatnya.”

“Harmoni?” Jungkook sedikit terkejut. Irene mengangguk. “Aku akan mengunjunginya nanti.”

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa yang terjadi dengan wajahmu? Kau berkelahi?” Belum sempat Jungkook menjawab, suara Irene lagi-lagi terdengar, “Kau tidak mungkin di pukuli ahjussi, kan?” Gadis itu menatap tuan Jeon dengan mata menyipit.

Tuan Jeon tertawa, “Dia bahkan lebih pintar berkelahi daripada aku. Aku tidak mungkin memukulinya. Jika aku memukulinya, aku yang akan babak belur.”candanya. Irene hanya mendengus.

“Tidak apa-apa. Aku hanya terjatuh.”kata Jungkook berbohong.

“Oh ya, kalian belum makan, kan?” Irene menoleh ke belakang, kearah Taehyung yang berdiri di belakangnya. Gadis itu merebut bungkusan plastik yang di bawa Taehyung membuat pria itu hanya bisa menghela napas panjang. “Aku membuatkan sarapan untuk kalian. Tadinya sarapan ini untuk mereka tapi karena ada kau, semua ini untukmu.” Irene mengambil satu potong sandwich dari dalam kotak bekal dan menyuapkannya pada Jungkook.

Sontak Namjoon, Yoongi dan Hoseok langsung melontarkan protes, “Bukankah itu untuk kami? Kenapa semuanya di berikan untuk Jungkook?”seru Namjoon hendak mengambil satu potong sandwich tapi Irene langsung memukul tangannya.

“Ku bilang ini untuk Jungkook.”

“Itu terlalu banyak untuknya sendirian.”

“Noona sangat pilih kasih! Bukankah kemarin noona memperlakukanku seperti itu juga? Kenapa sekarang langsung berubah hanya karena dia datang?”sahut Hoseok juga tak terima.

“Karena aku sudah lama tidak bertemu dengannya.”elak Irene.

“Kita juga sudah lama tidak bertemu!”

“Tsk, kalian berisik sekali.” Irene tidak memperdulikan segala bentuk protesan itu dan tetap fokus pada Jungkook. Dia menyuapi Jungkook dan bahkan membersihkan noda di mulutnya seperti seorang ibu.

Taehyung berdiri sambil bersandar pada dinding di belakang keduanya. Ia berdecak sambil geleng-geleng kepala. Gadis itu benar-benar menyebalkan.

Tapi perhatiannya langsung teralih saat tuan Jeon menghampirinya dan mengajaknya keluar untuk bicara. Ia menarik punggungnya meninggalkan dinding tempatnya bersandar dan mengikuti tuan Jeon menuju halaman belakang rumah.

Ada banyak hal yang belum mereka bicarakan. Sejak beberapa tahun lalu, Taehyung hidup dan tinggal di tempat itu bersama yang lain. Tapi dia belum pernah bertemu sekalipun dengan pemilik yang sebenarnya.

“Bagaimana kabarmu?”tanya tuan Jeon membuka pembicaraan. Ia mengetatkan mantelnya karena udara pagi terasa sedikit dingin.

“Aku sangat baik.”jawab Taehyung tersenyum lebar. “Ini karena sonsengnim.”

Tuan Jeon menatap anak laki-laki itu lekat. Tidak banyak kenangan yang ia ingat dari anak itu karena mereka terakhir bertemu saat dia masih berusia 3 tahun. Sudah sangat lama. Dia tidak tau jika anak kecil itu tiba-tiba sudah menjadi dewasa seperti ini.

“Apa mereka sudah tidak mengejarmu lagi?”tanya tuan Jeon, langsung masuk ke dalam hal yang paling sensitif.

Taehyung menggeleng pelan, “Daegu sudah mati. Sekarang aku adalah Kim Taehyung. Aku senang karena akhirnya aku bisa menggunakan nama asliku.”

“Tapi kau tetap Daegu. Kau tidak bisa merubah itu.”

“Tidak Saem.” Taehyung menggeleng lagi. “Aku melakukan hal yang sama seperti yang Saem lakukan.”ucapnya. Senyumannya menghilang dari wajahnya. Raut wajah itu kembali, menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya. Dirinya yang sudah mati. “Mematikan diriku yang sebenarnya dan menjadi orang lain agar bisa bebas.”

“Aku punya alasan.”

“Aku juga punya alasan.”balas Taehyung cepat. Kedua mata tajamnya menatap tuan Jeon tepat di manik mata. “Tiga tahun lalu saat aku meminta bantuanmu, kenapa kau tidak bertanya apapun? Kau tau aku melarikan diri dari kasus hukum yang menjeratku.”

Untuk seketika, Taehyung melupakan jika ada perbedaan jarak usia yang sangat jauh di antara mereka. Ia melupakan sapaan hormat yang seharusnya ia gunakan.  Ada hal yang telah membangkitkan masa lalunya. Sesuatu yang telah membangunkan kembali sosok Daegu.

“Aku tidak perduli.” Tuan Jeon melipat kedua tangan di depan dada, bersikap tenang seolah-olah membunuh bukanlah hal besar yang patut untuk di permasalahkan. Seperti membunuh adalah hal wajar jika di lakukan oleh remaja 19 tahun seperti Taehyung. “Kau bilang kau punya alasan.”

Taehyung masih menatap tuan Jeon, menguncinya dalam mata tajamnya. Sisi waspadanya terjaga. Sisi negatif otaknya mulai menciptakan spekulasi.  Apa keputusannya untuk minta bantuan pada orang ini sudah tepat atau justru dia telah salah langkah? Mungkinkah selama tiga tahun ini dia justru terjebak ke dalam perangkap mereka?

“Sebenarnya apa alasanmu?”tanya Taehyung, nadanya terdengar tegas. “Apa kau melakukan ini karena kau ingin bebas atau karena…” ia menghentikan ucapannya sesaat. “…kau juga melarikan diri sepertiku?”

Tuan Jeon tersenyum, “Ternyata semua yang ku dengar tentangmu benar.”kata tuan Jeon. “Agen terlatih yang bahkan menjadi pemimpin dalam sebuah tim khusus. Sekaligus rival terkuat Busan.”

“Kau bahkan menyelidiki latar belakangku secara diam-diam.”

“Tentu saja. Aku harus tau siapa yang akan tinggal di rumahku.”

Taehyung tertawa mendengus, “Kau sangat licik.”

Senyuman di wajah tuan Jeon menghilang, berganti dengan ekspresi serius yang menatap lekat mata Taehyung, “Bukankah kita sama?” kening Taehyung berkerut mendengar pertanyaan yang sebenarnya adalah sebuah pernyataan itu. “Karena kita adalah penjahat.”

Taehyung tersadar. Yah, dia lengah.

Dia terlalu polos saat ia berpikir jika dunia sudah mulai bersikap baik. Dia terlalu bodoh saat ia pikir ia bisa hidup sebagai orang normal dan mengubur masa lalunya. Di dunia ini, bahkan satu orangpun, tidak ada yang bisa dia percaya.

“Apa yang kalian lakukan disana?”suara Jungkook seketika membuyarkan ketegangan itu. Tuan Jeon buru-buru tersenyum sementara Taehyung menundukkan kepalanya dan berbalik saat ekspresinya sudah berubah. “Kalian tidak sarapan? Sandwich yang di buat Irene noona sangat enak!”

“Kami hanya mengobrol.”jawab tuan Jeon. “Tidak. Kalian habiskan saja. Aku akan memasak ramyeon nanti.”

“Aku juga tidak lapar.”sahut Taehyung. Tapi Jungkook langsung menarik tangannya.

“Hyung, bukankah nanti hyung harus bekerja? Hyung harus makan.”

“Tapi…”

“Ayo.” Jungkook tetap memaksanya kembali masuk ke dalam.

Taehyung tidak bisa berbuat apapun selain mengikuti anak itu. Mereka kembali bergabung bersama yang lain.  Menyantap sandwich buatan Irene sebagai sarapan pagi. Walaupun hanya sandwich biasa tapi entah mengapa sandwich itu terasa sangat enak. Mungkin karena selama ini mereka tidak pernah di perhatikan oleh orang lain.

Jungkook memberikan sepotong sandwich pada Taehyung.  Anak laki-laki itu sudah hampir memakannya ketika dia tersadar Irene sudah tidak ada disana. Ia menurunkan sandwich-nya lagi.

“Dimana dia?”

“Siapa?”tanya Hoseok sambil mengunyah sandwich-nya.

“Dia. Gadis itu.”

“Irene noona?” Taehyung mengangguk. “Dia sudah pulang. Nanti kau dan Jungkook kembalikan kotak bekal ini ke rumahnya, ya.”

“Huh? Aku? Aku kan harus bekerja.”

“Kau bisa datang terlambat. Pergilah ke rumah Irene noona dan temani Jungkook jalan-jalan.”

Taehyung tau maksud Hoseok sebenarnya. Dia ingin dirinya dan Jungkook menjadi dekat. Akhirnya ia mengangguk, “Baiklah.”

***___***

 

Jimin baru kembali saat matahari sudah terbit. Wajahnya terlihat kusut dan rambutnya tak beraturan. Dia melewati Jungwoo yang berjalan menghampirinya, mengabaikan pria itu dan langsung menuju ruang utama. Kening Jungwoo berkerut, ia sangat ingin bertanya apa yang sudah di lakukan Jimin semalaman. Kenapa nyonya Cheon tiba-tiba memintanya datang ke kantor. Tapi sepertinya dia harus menahan itu karena Jimin memiliki sesuatu yang lebih penting sekarang.

Jimin memasuki rumah utama dan mendapati Seulgi sedang berbaring di sofa ruang tengah. Suara bibi Yang yang kebetulan melihat Jimin muncul seketika membuat gadis itu bangkit dan menoleh ke belakang.

“Kau sudah pulang? Apa yang terjadi?” tatapan Seulgi mengikuti Jimin yang kini duduk di sampingnya.

Melihat itu, bibi Yang sadar jika dia tidak seharusnya berada disana sekarang. Wanita itu segera meninggalkan keduanya.

“Tidak ada.” Jimin tersenyum.

“Apa mereka benar-benar menolongmu? Mereka tidak memintamu melakukan hal-hal aneh, kan?”

“Tidak.”

“Sungguh?”

Pria itu mengangguk, “Iya. Adikku sudah di operasi sejak tadi malam. Sekarang aku tinggal menunggu hasilnya.”

Senyuman lebar terlukis di wajah Seulgi. Gadis itu tanpa sadar menggenggam kedua tangan Jimin dan berseru senang, “Benarkah? Syukurlah! Aku sangat senang mendengarnya. Adikmu pasti akan segera sembuh. Kau jangan khawatir.”

Jimin bisa merasakan hangatnya genggaman Seulgi yang berhasil membuat deru jantungnya mulai menggebu-gebu. Untuk yang kesekian kalinya, senyuman itu mencairkannya. Seperti udara musim semi yang menyegarkan.  Semoga dia tidak mendengar suara jantungku, seru Jimin dalam hati. Perasaan ini membuatnya gelisah, membingungkannya  tapi dia juga tidak ingin melepaskan genggaman itu. Ia menyukai sensasinya.

“Sebaiknya sekarang kau tidur. Wajahmu sangat pucat.”seru Seulgi.

Tatapan Jimin masih tertancap lurus pada objek indah yang ada di depannya itu. Senyumannya juga masih bertahan dan semakin mengembang.

“Kenapa kau hanya menatapku?” Kening Seulgi berkerut, balas menatap Jimin.

“Tidak apa-apa.” Jimin menggeleng pelan, tetap memandang Seulgi. “Ada yang harus ku lakukan. Apa kau tidak apa-apa  sendirian disini?”

“Sepertinya ada banyak hal yang harus kau lakukan. Sekarang apa lagi?”

Jimin terkekeh, “Aku akan menemanimu nanti malam.”

“Baiklah. Tapi kau juga harus tidur.”

“Iya. Aku tau.” Jimin menepuk punggung tangan Seulgi pelan lalu pergi meninggalkan rumah itu.

Sekarang saat dia selangkah lebih maju ke depan, segalanya berubah menjadi abu-abu di matanya. Dia bahkan bingung dengan tujuannya yang sebenarnya. Segalanya berjalan di luar kendalinya. Tidak seperti yang dia harapkan.

Saat dia mengatakan jika dia sangat membenci tempat ini. Tempat ini justru menariknya masuk semakin dalam. Semua jalan keluar sudah tertutup dan dia tau dia sudah terjebak di sana. Dia tidak lagi bisa keluar dan angan-angan menjadi ‘bebas’ itu sepertinya tidak lagi bisa di wujudkan.  Dia terkunci, terkurung  di sana.

“Kau meminta kami semua berkumpul?”tanya Jungwoo.

Jimin mengangguk, “Ada yang harus aku katakan.”

Wajah serius Jimin membuat Jungwoo sedikit panik, “Kau tidak apa-apa, kan?”

“Memangnya siapa yang bisa menyakitiku?”balas Jimin berusaha menenangkan Jungwoo.

Jungwoo memutuskan untuk mempercayai ucapan Jimin itu walaupun ia tau wajahnya tidak menunjukkan jika keadaannya baik-baik saja. Ia menepuk pundak Jimin pelan sebelum masuk ke dalam dan mengumpulkan semua penjaga.

Di ruang tengah, semua penjaga telah berkumpul sesuai perintah Jimin. Jimin berdiri di depan mereka, bersiap akan menyampaikan sebuah pengumuman besar.

“Kalian semua bisa kembali ke kantor dan meninggalkan rumah ini.”ucap Jimin yang langsung di sambut dengan ekspresi-ekspresi tak mengerti yang lain. “Mulai hari ini, rumah ini akan di jaga olehku, bibi Yang dan Sukhwan. Kalian bisa kembali ke kantor dan menerima perintah lain.”

“Kau tidak sedang bercanda, kan?”tanya Jungwoo berdiri dari duduknya. “Kami semua harus pergi?”

“Sebentar lagi mungkin nyonya Cheon akan menghubungi ahjussi dan memberitahu semuanya.”jawab Jimin pelan. “Aku hanya ingin menyampaikan itu.” Pria itu kemudian meninggalkan ruang tengah dan naik ke kamarnya.

“Busan! Ya! Busan!”panggil Jungwoo tapi tidak di perdulikan oleh Jimin. Detik berikutnya ponselnya berdering. Setelah membaca nama nyonya Cheon di layar, Jungwoo langsung menjawab panggilannya. “Ya nyonya?”ucapnya dengan nada yang sangat sopan. “Baik.Saya mengerti.” Nyonya Cheon mengakhiri percakapan singkat itu membuat Jungwoo hanya bisa menghela napas panjang. Ia menatap satu-persatu anak buahnya kemudian berseru pelan, “Siang ini, kita akan pergi meninggalkan tempat ini.”

TBC

Iklan

4 thoughts on “The Demians part 6

  1. sakurahaibara berkata:

    Ohoo itu busan dan daegu musuhan ?? Penasaran sama masa lalu mereka
    Btw aaaa jungkook yaampjn kayak bocah disini babyakin jungkook dong kak hehehe

  2. Anfa berkata:

    Daegu bukanya adik.a seulgi yg katanya udah meninggal y? (salah gk sih ingatanku???) kalau benar berarti kim taehyung adik.a seulgi + ibu.a seulgi masih hidup kan?? Keren kim taehyung juga seorang agen,. Penasran sma klanjutan perckapan.a tuan jeon sma taehyung,. Next chap.a sangat ditunggu kak mija 😉

  3. ellalibra berkata:

    Waaaaaaaahhhh tambah seruuuuu ….. Iiiihhh gemez sm jongkook eon waaawww pengen nyubitin pipinya gtu Wkwkwkk … Neeeeeeext fighting eon 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s