The Demians part 5

demian n

Tittle       : The Demians

Author    : Ohmija

Cast          : BTS and Seulgi Red Velvet, Irene Red Velvet, Kim Saeron and DIA Chaeyeon

Genre      : Action, Romance, Comedy, Friendship

Ini pertama kalinya sejak dia menginjakkan kaki di rumah itu, ia keluar dari kamarnya dan pergi ke taman bunga. Dia tidak pernah pergi ke tempat ini sebelumnya, biasanya hanya melihatnya dari balkon kamarnya. Tapi sekarang, dia duduk di kursi kayu yang di kelilingi bunga-bunga cantik. Area itu kosong karena para pengawal di paksa bersembunyi dimanapun agar Seulgi merasa nyaman.

Sejak tadi, gadis itu tak henti-hentinya memandangi bunga-bunga dan pohon-pohon yang tumbuh di sana. Seperti dia sedang melihat benda asing yang mengelilinginya.

Jimin membuka jasnya dan memakaikannya di pundak Seulgi sebelum ia duduk di sebelahnya. Gadis itu tidak menyadarinya sama sekali dan terus tenggelam dalam rasa takjubnya.

“Kau suka bunga?”

Seulgi tersadar, ia menoleh kearah Jimin dan mengangguk, “Aku suka.”

“Kau seharusnya lebih sering jalan-jalan disini dan merawat bunga-bunga ini.”

“Aku tidak suka.” Ia menggeleng. “Ada banyak orang yang akan memperhatikanku. Aku tidak suka.”

“Mereka memperhatikanmu karena kau sangat cantik.” Jimin mencoba menghibur Seulgi namun sepertinya pujian itu tidak berhasil. Gadis itu tetap murung.

“Aku tidak suka.”

“Aku tau kau memiliki gangguan kecemasan. Jadi kau selalu merasa takut saat ada banyak orang, kan?”

Seulgi sedikit terkejut, “Darimana kau tau?”

“Tentu saja dari Yang ahjumma. Dia memberitahuku semua tentangmu.”

“Yang ahjumma?” ulang Seulgi lagi. “Bagaimana dia bisa tau?”

“Dia merawatmu saat kau masih kecil dan sekarang dia merawatmu lagi. Tentu saja dia tau.”

“Sepertinya kalian mengetahui banyak hal.” Seulgi tersenyum kecut. “Lalu apa kalian tau dimana adik dan ayahku?”

Jimin seketika terdiam.

“Aku selalu ingin menanyakan hal ini tapi aku tidak pernah memiliki kesempatan. Dan aku juga tidak tau dengan siapa aku harus bertanya. Mereka semua seakan ingin menangkapku dan membuangku ke tempat yang lebih jauh.”jelasnya. “Aku ingin tau kemana adikku pergi? Kenapa appa tidak pernah menemuiku dan hanya mengirimiku surat terus-menerus. Apa aku telah berbuat salah? Apa aku telah menyakitinya? Sudah bertahun-tahun dan dia tidak pernah menemuiku. Apa dia tidak merindukanku?”

Jimin tertegun. Suaranya bergetar dan wajahnya terlihat sangat sedih. Jelas-jelas dia memiliki banyak pertanyaan namun ada banyak orang-orang jahat di sekitarnya. Jangankan mengulurkan tangan, mereka bahkan mengabaikan anak ini. Seakan menganggap dia tidak ada.

“Nona, bukankah kau tau jika adikmu sudah…” Jimin melirik kearah gadis itu ragu.

“Sungguh? Dia sungguh meninggal? Tidak ada yang pernah meyakinkanku tentang hal itu.”

“Sudah terjadi sangat lama, nona. Adikmu sudah meninggal.”

“Lalu appa?”

“Tuan Kang…” Jimin menghentikan ucapannya sejenak. Berusaha untuk tetap bersikap tenang di depan gadis itu. “Tuan Kang sangat sibuk dengan pekerjaannya. Dia bahkan jarang berada di Korea. Bukan karena dia tidak merindukanmu. Dia pasti sangat merindukanmu. Bukankah dia terus mengirimimu surat? Dia pasti mengatakannya di dalam surat itu.”

“Dia tidak pernah mengatakannya.” Seulgi menggeleng pelan. “Dia hanya selalu bilang agar aku terus menjaga kesehatanku dan minta maaf karena dia tidak bisa menemuiku. Dia bahkan tidak memberikan alasan apapun.”

“Nona, tuan Kang sedang sibuk. Kau han—“

“Benarkah? Kau tidak berbohong, kan?”

Jimin tertawa paksa, “Kenapa aku harus berbohong?”

“Aku mempercayaimu.”

Ucapan Seulgi barusan langsung membuat Jimin kembali tergugu.

“Karena kau bilang kita adalah teman, kau tidak mungkin membohongiku, kan? Iya, kan?”

Tidak. Aku membohongimu. Ayahmu sedang koma dan tak pernah bangun dari tidurnya. Ayahmu sedang sekarat.

Jimin memaksakan dirinya untuk tersenyum, “Tentu.”

Seulgi juga tersenyum, “Syukurlah kalau begitu.”

“Oh ya ngomong-ngomong, aku punya sesuatu.” Jimin mengeluarkan sesuatu dari sakunya. “Tadi aku mampir ke toko lilin dan membeli ini. Aku tidak tau aroma apa yang kau suka jadi aku asal membelinya.”

Kening Seulgi berkerut, ia membuka plastik itu dan mengeluarkan dua jenis lilin dari sana, “Ini aroma mawar dan lavender, kan?”

Jimin mengangguk, “Kau suka?”

“Aku tidak suka.” Gadis itu menggeleng. “Aku suka aroma wood.”

“Kau tidak suka?”

Melihat wajah kecewa Jimin, Seulgi tersenyum lebar hingga matanya hanya membentuk garis, “Tapi karena kau yang membelinya, aku suka. Ini adalah hadiah pertama yang aku dapat dari seorang teman.”

Dia terlihat berbeda. Sekarang, dia hanyalah gadis manis yang mudah bahagia karena hal-hal kecil. Gadis lugu yang mudah terpesona dengan pemandangan yang baru ia lihat di sekitarnya.

“Kau sedang mempermainkanku, ya?”cibir Jimin.

“Tidak. Aku memang suka aroma wood. Tapi aku juga menyukai ini.” Seulgi terkekeh.

“Cih, dasar.” Apakah kau tau saat ini aku sedang berusaha keras untuk tidak menarik pipimu? “Kau tau? Wajahmu terlihat seperti beruang saat kau tersenyum seperti itu.”

“Huh?” Seulgi langsung mengatupkan kedua telapak tangannya di pipinya. “Apa aku terlihat gendut? Appa bilang aku seperti kupu-kupu.”

“Kupu-kupu? Hahaha kau seperti beruang. Pipimu lebar dan matamu sangat sipit.”

“Ya! Kau juga sipit!”

“Tapi kau lucu.” Jimin menjulurkan lidahnya membuat Seulgi kesal.

“Pipiku tidak lebar dan aku tidak lucu!”

“Hahaha beruang.”

“Diam!”

***___***

 

“Jadi noona harus mencari kerja? Bukankah tempat ini sudah menjadi rumah sewa? Apa belum ada yang menempati?” tanya Namjoon, keduanya duduk di kursi yang ada di depan rumah nenek Irene.

Irene menggeleng, “Aku tetap harus mencari kerja karena aku butuh biaya untuk pengobatan Harmoni.”

“Apa noona tidak terlalu memaksakan dii?”

“Aku memang harus memaksakan diri.” Ia tersenyum kecut.

Namjoon menghela napas panjang, “Noona selalu saja keras kepala.”

Gadis itu meringis lebar, “Jika kalian memiliki teman yang butuh tempat tinggal, beritahu aku, oke?”

“Baiklah.” Namjoon mengangguk. “Kalau begitu kami pulang dulu. Masuklah ke dalam dan istirahat. Ayo, Taehyung.”

Taehyung yang sejak tadi hanya diam langsung berpaling dan mengikuti langkah Namjoon. Irene ingin menghentikannya dan mengucapkan terima kasih tapi dia menelannya kembali. Mungkin ini bukan waktu yang tepat.

***___***

 

Jimin mengambil ponselnya yang ada di tangan Seulgi dan mengangkat tubuhnya secara perlahan. Ia memindahkan gadis yang sudah tertidur lelap itu ke kamarnya. Merebahkan gadis itu di ranjang dan menyelimutinya dengan selimut.

Kemudian ia beralih pada deretan lilin-lilin yang ada di sebelah kiri dan menyalakan semua lilin. Seperti yang dia bilang, dia tidak akan bisa tidur tenang jika lilin-lilin itu tidak di nyalakan.

Jimin menatap seisi ruang kamar Seulgi. Kosong. Hanya ada lemari dan meja. Jika orang lain yang berada di tempat seperti ini, Jimin berani bertaruh jika mereka akan merasa bosan dalam beberapa hari. Tapi gadis ini bisa bertahan selama bertahun-tahun.

Pria itu duduk di lantai menghadap kearah Seulgi yang sedang tertidur pulas itu. Ia menatap wajahnya dalam diam. Dia pikir dia akan pergi setelah lima menit tapi nyatanya dia masih berada di sana walaupun hari sudah hampir pagi. Hanya untuk memandang wajahnya.

“Jika aku menyetujuinya, bisakah aku membawamu keluar?”gumamnya pelan. “Aku suka wajah beruangmu.”

***___***

 

Jungwoo langsung menghentikan langkah Jimin yang baru saja keluar dari kediaman tuan putri. Sudah dua hari ini dia meninggalkan tempat itu ketika hari sudah hampir pagi membuatnya penasaran sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan sepanjang malam. Walaupun aktivitas mereka terlihat di layar CCTV tapi dia tidak bisa mendengar apapun.

Jimin mengangkat wajahnya, menatap Jungwoo lalu mendesah panjang. Dia sudah tau apa yang akan pria paruh baya itu katakan.

“Aku belum tidur selama dua hari. Biarkan aku pergi ke kamarku dan tidur selama beberapa jam, oke?”

Namun Jungwoo bersikap tak perduli. Ia berjalan bersisian dengan Jimin, “Apa kau sadar ada rumor yang mulai tersebar di sini?”

Jimin sebenarnya tidak perduli namun Jungwoo tetap melanjutkan ucapannya.

“Orang-orang mulai berpikir jika kau menyukai nona muda. Padahal baru dua hari tapi kalian sudah sangat dekat.”ucapnya. “Bahkan kemarin kau berhasil mengajaknya keluar dari kamar.”

Jimin kembali mendesah, “Aku sedang mengerjakan tugasku tapi kalian justru bergosip di belakangku.”

“Itu karena mereka juga jatuh cinta pada nona muda.”balas Jungwoo membuat Jimin langsung menoleh dengan satu alis terangkat tinggi.

“Apa?”

Jungwoo tersenyum, ia berdiri sambil melipat kedua lengan di depan dada. Untuk pria seumurnya, sejujurnya dia sudah tidak pantas untuk menyebarkan gosip. “Untuk pertama kalinya setelah satu tahun akhirnya mereka melihat wajah tuan putri yang sebenarnya. Tadi malam, bahkan dalam kegelapan dan cahaya yang minim, wajah nona muda bersinar sangat terang. Wajahnya terlihat sangat jelas dan sangat sangat cantik. Ku dengar beberapa dari mereka… oh tidak… hampir seluruhnya ingin mendekati nona muda.”

Jimin tertawa mendengus, “Omong kosong macam apa itu?”

“Sungguh. Sebentar lagi mereka pasti akan mencarimu dan meminta bantuanmu. Kau lihat saja nanti.”

“Ahjussi pikir aku akan membuang-buang waktuku meladeni mereka? Jangan mimpi.” Jimin mulai kesal.

“Kalau begitu, itu artinya kau menyukainya, kan? Jika tidak, kau pasti membantu.”

Jimin menarik napas panjang, mencoba untuk menahan-nahan kesabarannya, “Aku tidak menyukainya.”

“Jangan berbohong. Kami semua tau dari caramu memandangnya.”

“YA! Aku tidak menyukainya!”teriak Jimin membuat Jungwoo seketika terlonjak kaget. “Jangan menggangguku lagi, mengerti?! Dasar orang tua!” pria itu kemudian melangkah pergi meninggalkan Jungwoo dengan langkah kesal.

Jungwoo yang masih shock dengan teriakan Jimin menghusap-husap dadanya yang berdebar-debar, “Apa tadi dia mengatakan ‘Ya’ padaku?”gumamnya. Begitu kesadarannya kembali, dia menjadi kesal, “Si brengsek itu sungguh mengatakannya, kan?!”

***___***

 

Yoongi menghela napas panjang karena sejak tadi Namjoon terus mengepel di tempat yang sama. Pagi ini, pria itu memang terlihat sedikit aneh. Dia tidak terihat fokus dan banyak melamun.

“Ya.” Yoongi akhirnya mulai muak. Namun Namjoon tidak mendengar. “Ya, Kim Namjoon!”

Namjoon akhirnya menoleh sambil mengerjapkan mata beberapa kali, “U-h? Yeah?”

“Lantai itu sudah terlalu bersih. Mau sampai kapan kau membersihkannya?”cetusnya kesal.

“Oh, benar.” Namjoon bergeser ke tempat lain. Tapi tak terlalu jauh dari tempatnya semula. Melihat itu, Hoseok dan Taehyung hanya bisa berdecak sambil geleng-geleng kepala.

Yoongi menghembuskan napas panjang. Akhirnya menutup mesin kasirnya dan menghampiri Namjoon. Pria mungil itu merampas alat pel yang di pegang Namjoon membuatnya terkejut dan menoleh bingung.

“Beritahu kami, sebenarnya apa yang terjadi?”

“Huh? Memangnya apa yang sedang terjadi?”

“Ya!” Untuk yang kesekian kalinya Yoongi menghembuskan napas panjang, berusaha menahan-nahan kesabarannya. “Sejak tadi kau melamun. Tadi pagi bahkan kau menabrak pintu kamar mandi dan sekarang kau tidak bergerak selama hampir 30 menit. Sebentar lagi cafe akan di buka tapi kau belum menyelesaikan tugasmu.” Jelasnya panjang lebar. “Apa yang sedang kau pikirkan? Beritahu kami.”

Namjoon tidak langsung menjawab. Ia menjatuhkan dirinya di kursi sambil menghela napas, “Sebenarnya… aku memikirkan Irene noona.”

Yoongi mengerutkan keningnya, “Apa yang terjadi pada Irene noona?”

“Sepertinya penyakit harmoni sangat parah dan harus di obati jadi Irene noona pergi kesana-kemari untuk mencari pekerjaan paruh waktu. Dia membutuhkan banyak uang untuk biaya pengobatan.”

“Bukankah harmoni memiliki beberapa rumah sewa?”sahut Hoseok ikut mendekat. “Apa itu tidak cukup? Dan… bukankah orang tua Irene noona bekerja di luar negeri?”

“Belum ada yang menempati rumah sewa itu dan entahlah, yang jelas Irene noona sedang membutuhkan uang sekarang. Aku berpikir untuk mempekerjakannya disini tapi…”

“Kalau begitu suruh dia bekerja disini.” Yoongi berseru tanpa pikir panjang. “Kita harus membantunya.”

Namjoon mengangkat wajah, menatap Yoongi sedikit terkejut, “Maksudku aku akan meminta pendapat kalian dulu tentang ini.”

“Aku pikir kita semua setuju tentang ini.” Yoongi mengalihkan pandangannya pada Hoseok dan Taehyung bergantian. “Iya, kan?” Hoseok mengangguk setuju sementara Taehyung tidak bereaksi. “Lihat. Mereka semua setuju.”

“Baiklah. Aku akan memberitahu Irene noona nanti jika kalian semua setuju.”

“Kalau begitu bisakah kita kembali bekerja sekarang? Sebentar lagi kita harus membuka cafe.” Yoongi menghentikan rapat dadakan itu dan bergegas kembali ke tempatnya semula namun suara Taehyung menghentikannya.

“Sebenarnya kenapa kalian begitu perduli padanya?”tanyanya, ia menatap teman-temannya itu satu-persatu. “Kalian tau jika kita berempat sudah lebih dari cukup untuk menjaga cafe dan sebenarnya kita tidak memerlukan tambahan pekerja lagi. Lagipula bukankah terasa aneh jika ada satu pegawai wanita di tengah-tengah para pegawai pria?”

“Kau bicara seperti itu karena kau tidak mengenalnya.” Yoongi menatap Taehyung lurus. “Bagi kami Irene noona sudah seperti keluarga. Dia merawat kami sejak kecil dan menjaga kami seperti seorang kakak. Kami tidak mungkin menutup mata saat dia sedang kesusahan seperti saat ini.”

Hoseok mengangguk lalu menepuk pundak Taehyung, “Aku rasa kau harus mulai mengenalnya. Karena bagi kami, dia adalah salah satu orang yang penting.”

***___***

 

Jimin langsung menendang guling dan selimutnya gusar ketika ponselnya tak henti-hentinya berdering. Rasanya baru beberapa saat yang lalu dia terlelap dan kini dia kembali di bangunkan.

Pria itu menarik tubuhnya bangun dan meraih ponselnya, membaca nama yang tertera di layar dan langsung mendesah panjang.

“Kenapa?”decaknya malas.

“Bukankah seharusnya kau mengucapkan salam? Harusnya kau bersikap sopan padaku.”di sebrang panggilan suara perempuan juga terdengar kesal.

“Bicara saja. Apa maumu?”

“Kau benar-benar… Apa kau sudah memikirkannya? Bagaimana jawabanmu? Pihak rumah sakit China terus menelponku dan bertanya tentang persetujuan itu.”

Kesadaran Jimin mendadak kembali. Matanya terbuka lebar dan dia terdiam selama beberapa saat, “Aku…”

“Kenapa kau ragu? Bukankah tujuanmu untuk menyelamatkan adikmu? Kau tidak berubah pikiran, kan?”

Rahang Jimin mengeras. Sial, aku di jebak. Harusnya dia belajar dari pengalaman sebelumnya. Harusnya dia tidak terlalu polos, berpikir jika mereka akan membantunya segampang itu. Entah apa itu, mereka memiliki niat lain pada dirinya. Tidak hanya sekedar untuk mendekati Seulgi.

“Jika kau tidak mau, aku akan—“

“Selamatkan adikku.” Jimin mengatakan itu dengan gigi gemertak. “Tolong selamatkan adikku.”

Di sebrang panggilan, Chaeyeon tertawa, “Baiklah. Aku akan menyelamatkan adikmu.”katanya. “Kenapa kau tidak bersikap seperti ini setiap saat? Aku lebih suka mendengarnya.”

Jimin hanya diam. Berusaha keras untuk meredam amarahnya.

“Kalau begitu, aku tunggu kau malam ini, oke? Sampai jumpa.”

***___***

 

Jimin menatap gadis yang sedang memakan makanan di hadapannya itu dengan senyum. Wajahnya terlihat lucu saat dia mengunyah.

“Kau terlihat seperti beruang lapar.”ejek Jimin. “Apa kau selapar itu?”

Seulgi berhenti mengunyah, ia mengangkat pandangannya dan menatap Jimin kesal, “Jika kau mengatakan  aku terlihat seperti beruang lagi, aku akan—“

“Apa yang mau kau lakukan?” Pria itu menjulurkan lidahnya lalu tertawa.

“Menyebalkan!”

Jimin terkekeh, “Makanan buatan ahjumma sangat enak, kan? Harusnya kau mengucapkan terima kasih padanya.”

Seulgi mengangguk setuju, “Sangat enak. Tapi, dia pasti merasa kesal padaku karena aku terus bersikap dingin padanya, iya kan?”

“Tidak. Dia tidak pernah merasa seperti itu.”balas Jimin. “Ahjumma selalu menyayangimu walaupun kau tidak pernah mau bertemu dengannya.”

“Benarkah? Aku benar-benar merasa menyesal telah memperlakukannya seperti itu.”

“Kau memang harus minta maaf.” Jimin mengangguk. “Kau harus mulai menjalin hubungan dengan orang-orang yang ada di sekitarmu. “

“Tempat ini terlalu ramai, ada begitu banyak orang yang berlalu-lalang, aku tidak begitu menyukainya.”

“Lakukan secara perlahan. Jika kau terus mencobanya, kau pasti bisa.”

“Kalau begitu malam ini, aku ingin pergi ke taman bunga lagi!” Gadis itu berubah antusias. “Aku ingin berkeliling rumah ini.”

Jimin tersenyum namun senyumannya itu perlahan-lahan memudar. Seulgi menatapnya dengan kening berkerut, “Ada apa?”

“Sepertinya malam ini aku tidak bisa menemanimu.”seru Jimin pelan. “Sajangnim memintaku datang ke kantor untuk mengerjakan sesuatu.”

“Bukankah kau bilang kau adalah pengawal pribadiku? Kenapa dia menyuruhmu melakukan hal lain?”

Tidak bisa di pungkiri, Jimin benar-benar merasa bersalah sekarang. Perlahan-lahan ia mulai menyadari jika dia sedang menumpuk kebohongan. Persahabatan ini tidak di mulai dengan ketulusan. Persahabatan ini di mulai dengan suatu niat demi keuntungannya.  Sebelumnya dia tidak pernah berpikir jika membohongi Seulgi akan menjadi beban dan menimbulkan rasa sesak di dadanya. Dia hanya berpikir untuk melakukan misi dengan baik dan menyelamatkan Saeron.

Hanya itu.

Tapi, setelah menghabiskan hari-hari bersama gadis itu, setelah melihat bagaimana caranya tersenyum dan keluguannya ketika menjelaskan sesuatu, ia sadar perasaannya mulai berubah. Gadis itu tidak bersalah. Dalam arti lain, dia juga menjadi korban atas keserakahan ibu tirinya. Dia hanya gadis lugu yang ingin bertemu dengan ayahnya.

“Aku pernah memberitahumu jika aku memiliki seorang adik yang sedang sakit, kan?” Seulgi mengangguk. “Aku harus mengurus persetujuan operasinya karena mereka sudah mendapatkan donor hati yang cocok.”

“Apa dia yang melakukannya?”tanya Seulgi membuat Jimin ragu. “Maksudku… ini aneh. Dia tidak biasanya bersikap baik terhadap seseorang. Kau lihat saja, dia adalah orang jahat yang mengurungku selama bertahun-tahun.  Jangan percaya padanya begitu saja. Dia pasti punya maksud lain padamu.”

Kau benar, Seulgi.

Jimin buru-buru tersenyum lagi, “Tapi walaupun begitu aku harus menyelamatkan adikku, kan? Adikku sangat membutuhkan donor hati itu.”

“Jika saja aku bisa bicara dengan appa, aku pasti yang akan membantumu.”

“Terima kasih.” Jimin tertawa. “Aku berjanji lain kali aku akan menemanimu berkeliling. Malam ini sebaiknya kau tidur lebih cepat karena beberapa hari ini kau selalu tidur terlambat.”

“Aku sudah mulai terbiasa dengan itu.” Seulgi berseru, detik berikutnya ia buru-buru melanjutkan kata-katanya. “Baiklah. Aku akan tidur lebih cepat malam ini.” Membuat Jimin terkekeh. Untuk yang kesekian kalinya, ia berusaha keras menahan diri untuk tidak menarik pipinya.

“Aku tidak akan pergi terlalu lama.”

***___***

 

Hoseok dan Yoongi sudah terlelap di ranjang mereka sementara Namjoon dan Taehyung nyaris terlelap saat suara gedoran pintu terdengar.

Taehyung terlonjak bangun, ia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk mengumpulkan serpihan-serpihan kesadarannya yang hampir menghilang.

“Siapa yang datang malam-malam seperti ini?”rutuk Namjoon kesal. Ia menepis selimutnya, bersungut-sungut pergi keluar. “Iya sebentar!”serunya sedikit berteriak karena seseorang itu terus menggedor pintu pagar kayu tanpa henti.

Dengan mata yang menyipit, Namjoon membuka pintu pagar. Detik berikutnya, sebelum ia sempat melihat dengan jelas siapa tamu itu, tiba-tiba sebuah pelukan datang kepadanya.

“Namjoon hyung!”

Namjoon termundur. Ia berkedip beberapa kali. Seorang pria paruh baya berdiri di depannya dengan wajah lelah sambil membawa beberapa tas. Sementara anak laki-laki yang memeluknya, menguraikan pelukannya dan mengguncang tubuh Namjoon yang masih mematung. “Aku pulang, hyung! Aku pulang!”

“Jungkook…”

Anak laki-laki yang ternyata adalah Jungkook itu melompat-lompat penuh semangat. Tak sabar, ia berlari masuk ke dalam rumah yang sudah lama ia tinggalkan itu.

“Kenapa kau diam saja? Cepat bantu aku bawa barang-barang ini.” Suara tuan Jeon membuyarkan lamunan Namjoon. Tersadar, anak laki-laki bertubuh tinggi itu langsung mengambil beberapa tas dari tangan tuan Jeon.

“Saem… aku pikir aku sedang bermimpi.”kata Namjoon. “Saem, ini benar-benar kalian, kan?”

“Anak itu terus merengek padaku. Dia ingin pulang.”

“YOONGI HYUNG!! HOSEOK HYUNG!!” Jungkook menerobos masuk ke dalam kamar Hoseok dan Yoongi. Ia melompat, menindis tubuh Yoongi sambil memelukinya.

“Jungkook?!”

TBC

 

 

 

 

 

 

Iklan

3 thoughts on “The Demians part 5

  1. Anfa berkata:

    Sebener.a apa si maunya s chaeyon sma jimin?? Oh y aku penasran sma umur jungkook d.sni,. Dia msih skolah padhal yg lain gk sekolah,. Next next next 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s