FF EXO : AUTUMN CHAPTER 32

autumn

Author  :  Oh Mi Ja

Cast :  Leeteuk SJ as Park Jungsoo

Luhan EXO as Park Luhan

Kai EXO as Park Jongin

Sehun EXO as Park Sehun

Support Cast      : Kris EXO as jaksa

Suho EXO as Pastor

Taemin Shinee as Lee Taemin

JR JJ Project as Park Jin Young

Jonghyun CN Blue as Lee Jonghyun

Shindong SJ as Shin Donghee

Dongho Ukiss as Shin Dong Ho

Genre                   : Brothership, Family, Mystery, Comedy, Friendship

“Tuan Park Sehun memang datang padaku sejak empat tahun lalu. Dia mengeluh karena dia sering mengalami sakit kepala yang mematikan. Saat aku melakukan pemeriksaan pada kepalanya, aku tidak menemukan penyakit apapun. Aku tau jika dia mengalami trauma sejak dia mulai menceritakan masalahnya padaku. Juga, aku dan beberapa ahli psikologi telah melakukan pemeriksaan padanya dan memang benar jika sakit kepala itu berasal dari trauma hebat yang di alaminya.”jelas dokter Jo, kesepuluh jarinya saling bertaut di bawah meja karena merasa gugup. “Akibat trauma itu, dia harus melakukan terapi sesering mungkin untuk mengembalikan ingatannya.”

“Tapi bukankah melupakan kejadian buruk itu adalah hal yang terbaik untuk pasien?”tanya Kwonsu.

Dokter Jo mengangguk, “Memang benar. Aku juga menyarankan hal itu. Tapi dia bersikeras ingin mengingat semuanya karena dia selalu merasa gelisah. Dia bilang dia tau siapa pelaku yang memfitnah ayahnya tapi dia tidak bisa mengingatnya. Jadi dia bersikeras untuk melakukan terapi dan memaksa dirinya untuk mengingat itu.”

“Jadi dia mengatakan jika dia tau siapa pelakunya?”

“Iya, dia bilang seperti itu.”

“Yang Mulia, saksi bisa saja mengada-ada.” Jaksa penuntut berdiri dari kursinya. “Tidak ada bukti yang mendasar atas ucapannya.”

“Tapi aku tidak berbohong.”seru dokter Jo menggeleng. “Aku sudah bersumpah jadi aku tidak berbohong. Aku mengatakan hal yang sebenarnya. Sejak empat tahun lalu, dia memang telah melewati masa-masa sulit. Aku tidak berbohong, Yang Mulia.”

Kwonsu tersenyum, “Yang Mulia, kita sudah mulai mengetahui alasan kenapa terdakwa melakukan pemukulan itu. Dia tidak akan minta maaf karena dia adalah korban yang sebenarnya. Selama empat tahun, dia telah mengalami masa-masa sulit dan saya rasa, satu pukulan itu tidak sebanding dengan apa yang sudah dia rasakan. Saya harap Yang Mulia bisa mempertimbangkan hal itu juga karena walau bagaimanapun, dia tetap seorang anak kecil.”

***___***

 

“Pengacara Kwonsu.” Sehun menghentikan langkah Kwonsu yang sudah akan pergi meninggalkan ruang persidangan.

Kwonsu menoleh, “Ya, Tuan Park?”

“Panggil saja aku Sehun.”seru Sehun pelan. “Aku ingin berterima kasih.”

“Kenapa kau berterima kasih? Aku di bayar memang untuk membelamu.” Ia tersenyum.

“Tapi aku tetap ingin berterima kasih karena kau telah membuat Hakim percaya padaku.”

“Bukan percaya padamu.”balas Kwonsu cepat. “Maksudku belum. Tapi secepatnya.” Ia tersenyum lagi sambil menepuk pundak Sehun. “Aku akan berusaha membuktikan jika kau tidak bersalah.”

Sehun tertegun sesaat. Apa Kwonsu adalah malaikat yang di kirimkan ayahnya untuk membantunya?

“Tapi… kenapa?” Sehun menatap pria itu ragu. “Kenapa kau bersikeras ingin membantuku?”

“Aku punya alasan.”

***___***

 

BRAKK

 

Pria itu menghempaskan semua barang yang ada di atas meja kerjanya membuat sekretaris pribadinya langsung termundur ke belakang.

“Apa kau tidak bisa mengurus masalah seperti ini?! Bagaimana bisa kau meloloskan dokter itu?!” bentaknya.

“Maaf tuan, kami lengah. Kami tidak menyangka jika dia akan melakukan perlawanan dalam persidangan itu.”

“Dasar bodoh! Apa kau pikir mereka akan diam saja?!”

Sekretaris laki-laki itu semakin menundukkan kepalanya, “Maafkan saya, Tuan.”

Pria itu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sambil memijat keningnya. “Lalu bagaimana dengan Kim Donghyun? Apa dia sudah di temukan?”

Sekretaris itu terdiam. Wajahnya seketika memucat. Pria itu membuka matanya dan menatap sekretarisnya tajam, “Kau belum menemukannya?”tanyanya.

“M-maafkan saya Tuan.”

Pria itu menghela napas panjang lalu dengan gerakan tiba-tiba melempar gelas yang masih ada di mejanya kearah sekretaris itu.

“APA KAU MAU MATI?!”

Sekretaris itu meringis sambil memegangi pelipisnya yang mengeluarkan darah.

“CEPAT TEMUKAN DAN BUNUH DIA!”

Sekretaris itu mengangguk, “Baik, Tuan. Saya akan mencarinya.”

***___***

 

“Apa yang kau lakukan disini?” Jinyoung menjatuhkan dirinya di samping Sehun yang sedang duduk melamun di salah satu taman tak jauh dari sana. “Kau tidak mau menemui pastor Suho?”

Sehun menoleh sekilas dan kembali menatap ke depan, “Aku sudah bicara dengannya tadi.”

“Persidangannya berjalan lancar. Ternyata Luhan hyung memilih untuk menyerang balik mereka semua. Luhan hyung sangat keren!”

“Apa kau pikir tidak akan ada yang terjadi setelah ini?”

Kening Jinyoung berkerut, “Apa maksudmu?”

“Aku takut jika orang-orang itu akan menyerang kami lagi. Seperti menghilangkan bukti dan saksi. Aku benar-benar takut jika itu terjadi.”

“Kenapa kau berpikiran seperti itu? Tidak akan ada yang terjadi.”

Sehun terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya berseru lagi, “Karena kami belum mengetahui siapa sebenarnya musuh kami.”

“Bukankah ayah Dongho? Yang sekarang menjabat sebagai CEO di perusahaan ayahmu dulu.”

“Itu masih spekulasiku. Bagaimana jika aku salah?”

“Tidak. Aku yakin itu dia. Bukankah dia dan Dongho yang memberitahumu tentang ayahmu waktu itu?

“Memang benar tapi…”

“Kenapa kau jadi takut seperti ini?” Jinyoung merangkul pundak sahabatnya itu dan menepuknya pelan. “Jangan ragu. Aku yakin tidak akan ada yang terjadi selama kita saling menjaga satu sama lain. Tuhan tidak mungkin memberikan cobaan yang tidak bisa di selesaikan. Kalian semua pasti bisa.”

Sehun menatap Jinyoung lalu tersenyum, “Terima kasih karena kau selalu ada di sampingku.”

“Kenapa kau masih berterima kasih? Bukankah itu sudah jelas?” Pria itu melepaskan rangkulannya dan menghadap ke depan. “Tapi jika kau ingin berterima kasih padaku, bisakah kau melakukan satu hal untukku?”

Salah satu alis Sehun terangkat, “Apa?”

“Datanglah ke sekolah. Aku ingin kau berhenti bersembunyi dan menghadapi mereka.”

“Jinyoung, tapi…”

“Ada aku.”potong Jinyoung. “Kau tidak perlu khawatir. Ada aku di belakangmu.”

***__***

 

Donghyun membuka kedua matanya pelan dan mendapati Luhan duduk di depannya dengan kedua tangan terlipat di depan dada bersama Jonghyun yang berdiri di sampingnya. Pria paruh baya itu seketika langsung ketakutan, ia berusaha melarikan diri namun tidak bisa karena tangan dan kakinya di ikat.

“Aku tidak melakukan apapun. Sungguh.”ucapnya ketakutan. “Tolong bebaskan aku. Jangan bunuh aku.”

Luhan menatap pria itu lurus-lurus. Jika saja tidak ada hokum di dunia ini, mungkin dia sudah akan menghajar atau bahkan membunuhnya. Dia akan membalas penderitaan yang telah ia dan adik-adiknya rasakan selama empat tahun ini.

Bel rumah Luhan tiba-tiba berbunyi. Jonghyun pergi membuka pintu dan mempersilahkan nyonya Anne masuk ke dalam. Tubuh wanita itu bergetar karena kedinginan.

Memasuki ruang tengah, matanya melebar saat ia melihat Kim Donghyun diikat di kursi. Ia langsung menghampiri Luhan, “Apa dia yang kau maksud?”

Luhan mengangguk, “Dia adalah Kim Donghyun.”

Nyonya Anne sudah hampir mengutuknya dan menumpahkan seluruh kekesalannya pada pria itu. Tapi dia sadar ada hal lain yang lebih penting. Wanita itu menjatuhkan diri di sofa di dekat Luhan kemudian berseru panik, “Aku rasa mereka sudah mengetahui jika dia menghilang dan sedang mencarinya. Mereka mengintai kantor kita untuk memastikan apa kau yang menangkapnya atau tidak.”

“Apa nyonya Anne yakin jika kantor kita sedang diintai?”

“Aku yakin. Aku melihat beberapa orang berbaju hitam duduk di café sambil terus memandang kearah kantor kita.”

“Mereka pasti akan membunuhku! Mereka akan membunuhku!” Seketika Kim Donghyun menjadi ketakutan. Ia berontak berusaha melepaskan diri. “Tolong aku! Mereka akan membunuhku!”

Luhan dan Jonghyun saling pandang kemudian sama-sama menatap Kim Donghyun dengan kening berkerut. Melihat dari bagaimana takutnya Kim Donghyun, sepertinya dugaan nyonya Anne benar. Mereka sudah menyadari jika Kim Donghyun menghilang.

Luhan menelan ludah, “Jika kau mau selamat. Kau harus melakukan satu hal untukku.”

***___***

 

“Semua sudah siap!” Sehun mengancing tas Jongin dan menyampirkannya di pundaknya. “Semua barang-barang sudah ku masukkan, tidak ada lagi yang tertinggal.”

“Kau yakin semuanya sudah kau masukkan?”Tanya Taemin. “Apa kau sudah memasukkan baju kotor yang ada di kamar mandi?”

“Oh!” Sehun baru ingat jika dia belum memeriksa kamar mandi. “Hyung benar.”

Taemin berdecak sambil geleng-geleng kepala, “Dasar anak itu.”

“Bukankah kau harus pergi kerja?” Jongin menatap Taemin. “Pergilah. Jangan khawatir. Ada Sehun dan Jinyoung disini. Mereka akan mengantarku pulang.”

“Aku akan pergi setelah mengantarmu pulang.”

“Tsk, aku bukan anak kecil. Pergilah.”

“Aku bilang aku akan mengantarmu dulu.”balas Taemin bersikeras. Lalu ia menoleh kearah Jinyoung, “Jinyoung, jangan lupa masukkan obat-obatan yang ada di lemari.”

“Baiklah, hyung.”

“Nah sekarang sudah siap. Waktunya pulang!”seru Taemin senang karena akhirnya sahabatnya itu sudah di perbolehkan keluar dari rumah sakit.

Melihat Jongin turun dari ranjang, Jinyoung langsung menghampirinya dan membantunya, “Hyung, haruskah aku meminjam kursi roda?”

“Tidak perlu. Aku sudah bisa berjalan dengan baik.”

“Sungguh?”

Taemin menatap sahabatnya itu ragu. Dia meringis saat kakinya menapak lantai dan terlihat kesusahan mengatur langkahnya. Sepertinya kakinya masih sakit.

“Tidak. Kita harus meminjam kursi roda.” Pria itu menggeleng lalu pergi keluar.

“Ya! Aku bilang tidak perlu!”teriak Jongin namun Taemin mengabaikannya. Ia menghela napas panjang, dia tidak pernah mendengarkan ucapannya. “Dia selalu saja bersikap seenaknya.”

Jinyoung terkekeh, “Itu karena dia mengkhawatirkanmu, hyung.”

“Hyung, sudah tidak ada lagi, kan?” Sehun keluar dari kamar mandi dengan kantung plastik di tangannya. “Semuanya sudah beres, kan?”

“Sepertinya sudah.” Angguk Jongin.

“Huh? Dimana Taemin hyung?”

“Dia pergi keluar meminjam kursi roda. Tunggu saja sebentar.”

***___***

 

Taemin berjalan menuju ruang jaga suster yang terletak tak jauh dari kamar Jongin. Laju langkahnya memelan saat dari arah berlawanan ia melihat beberapa pria juga menuju ruang jaga suster.

Entah mengapa, firasatnya memburuk saat ia melihat pria-pria itu. Mereka bertubuh besar dan berwajah menyeramkan.

Taemin menyembunyikan dirinya dari balik pilar begitu mereka sampai di ruang jaga suster.

“Kami datang untuk menjenguk pasien bernama Kim Jongin.”

Mata Taemin sontak membulat.

“Kim Jongin?”

“Anggota Tim Nasional Sepak Bola Korea Selatan.”

“Oh, tuan Kim Jongin. Jika saya boleh tau, siapa kalian?”

“Kami staff TimNas.”

Mata Taemin sontak membulat. Dia beberapa kali datang ke tempat latihan Jongin dan tidak pernah melihat mereka. Tidak, mereka bukan staff. Dia yakin itu.

Firasatnya memburuk. Tanpa pikir panjang ia berlari kembali menuju ruangan Jongin. Pria itu menerobos pintu dengan wajah panik membuat yang lain langsung menatapnya bingung.

“Kita harus pergi!”ucapnya, tergesa-gesa melemparkan tas pada Sehun dan Jinyoung yang langsung di tangkap oleh mereka.

“Bukankah kau bilang kau mau pinjam kursi roda?”

“Tidak. Tidak ada waktu. Kita harus pergi sekarang!” Taemin menarik paksa tangan Jongin agar dia berdiri.

“Hyung, ada apa? Kenapa hyung sangat panik?”

“Berhenti bertanya padaku, Sehun. Kita harus segera pergi.”

“Ya, Lee Taemin.”panggil Jongin. “Kenapa? Apa yang terjadi?”

“BERHENTI BERTANYA, BRENGSEK! KITA TIDAK PUNYA BANYAK WAKTU!”bentak Taemin.

Jongin menelan ludah, tidak bertanya lagi saat ia melihat betapa pucatnya wajah Taemin sekarang.

“Cepat naik ke punggungku.”suruh Taemin setengah memaksa. Jongin menurut.

Mereka lalu pergi meninggalkan ruangan itu. Taemin memerintahkan agar mereka melewati arah yang berlawanan. Melewati jalan menuju ruang parkir bawah tanah.

“Jinyoung, cepat pesan taksi dan suruh menunggu kita di bawah.”seru Taemin di sela larinya.

Jinyoung melakukan perintah Taemin. Sementara Sehun menekan tombol lift. Angka merah yang tertera di atas pintu menunjukkan jika lift masih berada di lantai 8. Masih ada lima lantai lagi sebelum sampai di lantai tempat mereka berada sekarang.

Deru napas Taemin terburu. Sesekali ia melirik kearah lorong. Jantungnya berdegup kencang tak karuan seakan mereka akan muncul dari sana dan menangkap mereka.

Tidak. Mereka tidak bisa menunggu lebih lama lagi.

“Kita lewat tangga!”

“Apa?”seru Jinyoung dan Sehun bersamaan.

“Taemin tapi kau—“

Jongin ingat jika Taemin pernah mengalami cedera di kakinya saat SMU dulu. Walaupun tidak parah tapi terkadang rasa sakit akibat cedera itu masih terasa. Dan sekarang dia bahkan berlari sambil menggendong Jongin di punggungnya. Dia khawatir sesuatu akan terjadi padanya nanti.

Tapi Taemin seperti tidak memperdulikan hal itu. Ia berlari menuju tangga bersama Jinyoung dan Sehun. Nyaris terjatuh akibat dia gagal mempertahankan keseimbangannya jika Sehun tidak menahan tubuhnya dari bawah.

“Turunkan aku. Aku bisa.”seru Jongin.

“Tidak. Aku tidak apa-apa.”balas Taemin. “Jinyoung, kau sudah pesan taksi, kan?” Jinyoung mengangguk, “Ayo.”

Mereka melanjutkan lari mereka menuruni puluhan anak-anak tangga. Taemin mulai merasakan jika rasa ngilu mulai muncul pada pergelangan kaki dan pinggangnya. Semakin terasa sakit saat ia memaksa untuk tetap berlari. Pria itu meringis samar, berusaha menyembunyikan rasa sakitnya itu. Bertahanlah sebentar lagi.

Sesampainya di lantai basement. Sebuah taksi sudah menunggu mereka di balik pintu. Suara derap langkah mulai terdengar menuruni anak-anak tangga.

Jinyoung dan Sehun yang mendengar itu saling pandang dan langsung menarik Taemin membantunya. Tidak perlu di jelaskan, sepertinya mereka tau apa alasan Taemin bersikap seperti ini. Beberapa orang mengejar mereka.

Ketika pintu otomatis itu terbuka. Sehun langsung membuka pintu taksi dan mendorong Taemin dan Jongin agar segera masuk ke dalam. Jinyoung memutar, duduk di samping supir. Saat Sehun menutup pintu taksi, beberapa orang laki-laki bertubuh besar muncul .

“Cepat jalan, pak!”

Beruntungnya, mereka berhasil meloloskan diri.

***___***

 

Jonghyun menghidangkan segelas teh hangat untuk nyonya Anne. Wanita paruh baya itu tersenyum.

“Kau tidak pergi latihan?”

Jonghyun menggeleng, “Luhan harus menghadiri persidangan jadi aku harus berada disini untuk menjaganya.”

“Tapi kau sudah tidak pulang dan pergi kemanapun selama beberapa hari.”ucap nyonya Anne. “Aku mengkhawatirkanmu.”

Jonghyun tersenyum sambil menepuk-nepuk punggung tangan nyonya Anne, “Aku tidak apa-apa. Mereka sudah mendapatkan saksi kunci dari kasus ini, aku harus membantu.”

“Aku bersyukur karena Luhan memiliki teman sepertimu.”

Pria itu kembali tersenyum, “Aku mengenalnya lebih dari separuh hidupku. Aku juga sudah menganggap Jongin dan Sehun seperti adikku sendiri. Melihat mereka harus melewati masa-masa sulit seperti itu benar-benar membuatku sedih. Tidak ada yang bisa ku lakukan selain membantu dengan cara seperti ini.”

“Tapi kau tau jika kau bisa di keluarkan dari tim,  kan? Sepak bola adalah mimpimu.”

“Aku tau. Tapi aku memiliki hal lain yang lebih penting sekarang. Jangan khawatir nyonya Anne, aku bisa mengatasinya.”serunya menenangkan. “Hari ini Jongin akan keluar dari rumah sakit. Aku harus disini untuk menjaga pria itu. Karena jika bukan Luhan, mungkin Sehun yang akan membunuhnya.”

***___***

 

“Kau tidak apa-apa?”tanya Jongin menatap sahabatnya itu khawatir, “Kakimu…”

Taemin meringis lalu menggeleng, berusaha tersenyum, “Tidak. Tidak apa-apa.”

“Sudah ku bilang jangan menggendongku.”

“Kau ingin aku menyeretmu?”balas Taemin. “Kau bahkan tidak bisa berjalan dengan baik. Bagaimana mungkin aku membiarkanmu begitu saja?”

“Tapi cederamu kembali karena itu.”

“Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir.”

“Taemin hyung, beristirahatlah saat kita sampai di rumah.”ucap Sehun.

Taemin mengangguk sambil memijit-mijit pergelangan kakinya pelan, “Terima kasih.”

“Aku rasa orang-orang itu ingin melakukan hal jahat pada Jongin, hyung. Untungnya hari ini Jongin hyung sudah di perbolehkan pulang.” Dari kursinya Jinyoung menoleh ke belakang. “Dan untungnya Taemin hyung mengetahui itu lebih dulu.”

“Kita harus memberitahu hal ini pada Luhan hyung.”

“Yah, sepertinya kita memang harus mendapatkan perlindungan.”

TBC

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

8 thoughts on “FF EXO : AUTUMN CHAPTER 32

  1. Hesti andriani berkata:

    Sehun menang dipersidangan. Untung taemin dengar percakapan mereka jadi jongin selamat. Semoga dipersidangan berikut nya luhan menang kan dia punya saksi kunci yang agak kuat.
    Aku harap mereka cepat bahagia lagi dn orang-orang yang menjebak mereka cepat ditangkap dan dijasih hukuman yang sangat berat.

  2. So_Sehun berkata:

    Duhhhh…orang baik yg ingin menunjukkan keadilan memang sangat sulit penuh tikungan dan rintangan..
    Semangat park sibling…😊😊

  3. RAIN berkata:

    Risiko jd orang baik ada aja cobaan,dan kenapa mereka ngincer jongin?? Gak sabar banget nunggu keadilan buat park bersaudara, next..

  4. ellalibra berkata:

    Semoga aja ini terakhir kalinya mrk dikejar” gini eon , ngeri q mah, takut sehun ,jongin,luhan terluka lg krn kehilangan org yg mrk sayang smg cpt ditangkep org” jahat nya hehe fighting eon oh mi ja sehat sll:-D

  5. Anfa berkata:

    Itu orang jahat.a udah keterlaluan aja,.. Mau ngapain coba nyari jongin??, smoga aja gk ada korban lgi,.. Next chap berhrap udh ada pncerahan ded buat park sibling,.. Selalu Ditunggu buat next chap.a yha kak,. 😀

  6. AnisMaria berkata:

    Jadi Kwonsu bukan orang jahat gitu? oh, okelah… kasian juga kalau semasa hidup mereka cuma bertemu sama penghianat dan orang2 licik…

    Malah sekarang aku rada curiga kalau Kwonsu itu ada hubungannya sama Kris,, misalnya … dia salah satu orang yg sakit hati atas meninggalnya Kris? eh tapi ini analisa ngawur sih ya maafkan eehehe…

    Dan… jeng jeng jeng! Jinyoung muncul banyak bangetttt hari ini (aku fansnya Jinyoung btw) ,,, dan dia juga sayangggg bgt sama Sehun …selain itu, dia minta Sehun untuk tetap sekolah, mudah2an dia beneran bisa melindungi Sehun ketika nanti di sekolah banyak yg buli Sehun….

    Terus yang di rumah sakit itu … apa dia juga suruhan orang yg lempar gelas tadi?

    Errr kalau mereka sampai di rumah, apa yg akan Sehun lakukan ke Donghyun?

  7. ji_kim berkata:

    Terus datang tanpa henti…..masalah keluarga ini😩
    Ff Ka mija emang selalu dapet feel nya jdi ikut deg degan.. Biar cma baca berasa nonton film ak..
    Lanjutkan kaa!! Fighting!! You know we waiting for u😚
    😂😂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s