The Demians part 4

Tittle       : The Demians

Author    : Ohmija

Cast          : BTS and Seulgi Red Velvet, Irene Red Velvet, Kim Saeron and DIA Chaeyeon

Genre      : Action, Romance, Comedy, Friendship

Jimin menggulung kemejanya hingga lengan dan sibuk dengan masakannya. Sejak tadi ia tak bisa menyembunyikan senyumnya ketika dia berhasil membujuk Seulgi untuk duduk di kursi makan sementara menunggunya memasak nasi goreng telur sederhana untuk mereka berdua.

Setelah beberapa saat, ia menghidangkan dua piring nasi goreng ke atas meja sambil menjatuhkan diri di kursi yang ada di hadapannya. Namun Seulgi masih terlihat kesal – atau mungkin itu adalah ekspresi yang satu-satunya dia punya -. Gadis itu menatap Jimin lurus-lurus.

“Huh?” Kening Jimin berkerut, balas menatap Seulgi. “Apa kau tidak suka nasi goreng?” Begitu ia menyadari jika dia telah menggunakan bahasa informal, ia buru-buru memperbaiki ucapannya, “Maksudku…nona.”

“Sebenarnya apa maumu?”desis Seulgi tajam.

“Aku? Aku hanya ingin makan.” Balas Jimin santai.

“Jangan berpura-pura tidak mengerti! Kau pasti memiliki niat lain padaku!”tuduh Seulgi, nada suaranya semakin menekan. “Kau tau aku adalah anak sulung keluarga Park. Dan kau tau aku di kurung di tempat ini oleh ibu tiriku. Apa maumu?! Kau pasti memiliki niat tersembunyi. Apa kau butuh uang?!”

Jimin menghela napas panjang sambil meletakkan sendoknya, “Apa kau selalu berprasangka buruk pada orang lain? Yah, aku mengerti jika kau selalu di kurung di dalam istana dan tidak pernah bersosialisasi dengan orang lain jadi kau selalu memiliki prasangka buruk pada seseorang yang mencoba untuk mendekatimu. Tapi aku tidak punya niat buruk sama sekali. Sudah ku bilang aku hanya ingin berteman karena mulai sekarang aku adalah pengawal pribadimu.”

“Apa?”

“Iya, berteman. Kau pasti tau arti kata itu, kan? Teman.”ulang Jimin lalu tersenyum.

“Kau sangat tidak sopan!”bentak Seulgi.

Jimin kembali menghela napas panjang, “Nona, jika adikku tau, kau pasti akan di marahi. Apa kau tau jika kita tidak boleh marah di depan makanan? Kau akan kehilangan keberuntungan.” seru Jimin tetap dengan nada lembut. “Sekarang, bagaimana jika kau makan dulu? Ini sudah hampir pagi dan kau belum makan sama sekali. Kau pasti lapar, kan? Aku mendengar bunyi perutmu tadi.” Seulgi langsung memegangi perutnya dan melotot kesal pada Jimin. Jimin terkekeh, “Selamat makan.”

***___***

 

“M-mereka benar-benar bicara?” Jungwoo tergagap melihat Jimin dan Seulgi yang mulai bicara dengan satu sama lain. “Aku sudah menjaganya selama satu tahun ini tapi dia tidak pernah bicara denganku sama sekali. Dan sekarang…”

Bibi Yang memukul kepala Jungwoo pelan, “Pelankan suaramu. Mereka akan mendengar kita!”bisiknya.

“Noona, tapi… Oh Tuhan, aku benar-benar tidak percaya!”

“Diam!!!”

Jimin tersenyum samar, berusaha menahan tawanya karena ia bisa melihat jika Jungwoo dan bibi Yang sedang bersembunyi di balik lemari kayu yang ada di sudut dapur, sedang bertengkar dan mengintip kearah mereka. Pria itu kemudian mengangkat piring-piring kotor dan mencucinya.

“Apa selain pengawal pribadi, kau juga pembantuku?”

Jimin langsung berbalik terkejut, “Ha? Pembantu?”

“Kau mencuci piring juga.”

“Ya, apa itu kesalahan? Sehabis makan kita memang harus mencuci piring.”

Mata Seulgi membulat lebar, “Apa? ‘Ya’? Kau baru saja mengatakan ‘Ya’ padaku?”

“Maksudku… nona.” Ia buru-buru memperbaiki ucapannya dan berbalik, melanjutkan pekerjaaan. Setelah selesai, ia menghampiri Seulgi.

“Sudah hampir pagi, apa nona mau kembali ke kamar?”

Seulgi langsung mengalihkan pandangan, kembali bicara dengan nada ketus, “Aku tidak mau tidur di kamar. Ahjumma belum membersihkannya.”

“Lalu? Apa nona mau tidur di sofa?”

“Sofa?”

“Oh! Bagaimana jika kita menonton film saja? Sambil menunggu pagi, kita menonton film saja.”

Seulgi terdiam. Dalam hati menyetujui jika itu adalah ide yang bagus karena dia tidak pernah menonton film apapun selama beberapa tahun ini namun malu untuk menyetujuinya.

“Bagaimana?”tanya Jimin lagi.

“Apa kau tidak lihat? Disini tidak ada televisi.”

“Memang tidak ada. Tapi aku punya sesuatu.” Kening Seulgi berkerut sementara Jimin tersenyum penuh arti padanya.

***___***

 

Jimin menyusun bantal-bantal sofa di punggung dan lengan Seulgi agar gadis itu merasa nyaman. Juga mengambilkan selimut baru untuknya. Ketika pria itu duduk di sampingnya, Jimin langsung menjauh.

“Kenapa kau duduk di sampingku?!”

“Aku juga ingin menonton.”

“Tidak boleh! Kau duduk di bawah!”

“Tapi benda itu milikku. Jika aku tidak duduk di samping nona, nona tidak akan bisa menonton.” Seulgi masih terlihat enggan membuat Jimin untuk yang kesekian kalinya menghela napas. “Kenapa? Apa aku bau? Aku sudah mandi tadi sore dan aku memakai deodoran. Aku juga tidak punya penyakit menular. Jangan khawatir.”

Jimin kembali menjatuhan diri di samping Seugi secara perlahan karena melihat gadis itu masih cemberut. “Baiklah. Jika nona tidak mau aku duduk di samping nona, aku akan pergi. Tapi, apakah nona bisa mengoperasikannya?” Jimin mengeuarkan ponselnya dan menyodorkannya pada Seulgi. “Jika nona bisa, nona bisa menontonnya sendiri. Aku akan berjaga di luar.”

Bagaimana mungkin dia bisa mengoperasikannya? Sementara dia tidak pernah memiliki ponsel itu seumur hidupnya. Benda itu bahkan terlihat sangat asing.

“Ya.” Akhirnya suaranya menghentikan langkah Jimin yang akan keluar. “Cepat nyalakan ini.”

Jimin tersenyum lebar lalu duduk di samping Seulgi. Walaupun sedikit risih, Seulgi membiarkan pria itu duduk disampingnya.

“Film apa yang mau nona tonton?”

“Umh…” Seulgi memutar bola matanya. Tidak memiliki ide sama sekali.

“Bagaimana jika drama saja? Akhir-akhir ini ada drama yang sangat terkenal di kalangan gadis-gadis.”

“Baiklah. Kita tonton itu saja.” Ia mengangguk setuju.

Jimin membuka sebuah aplikasi dan memilih drama ‘Goblin’ yang sedang popular tidak hanya di Korea namun juga di beberapa negara lain. Jika boleh jujur, Jimin bukanlah tipe yang suka menonton film apalagi drama. Dia tidak begitu menikmati hal-hal seperti itu. Hanya ketika adiknya menguasai televisi dan memaksa menonton sebuah drama barulah dia juga menonton – dengan amat terpaksa – karena mereka hanya memiliki satu televisi kecil di rumah.

Namun, ketika matanya menangkap ekspresi serius Seulgi saat wajah Gongyo dan Lee Dong Wook muncul, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menatapnya. Wajah gadis itu benar-benar sangat dekat karena dia hampir memiringkan kepalanya 90⁰ dan menguasai layar ponsel. Ternyata jika di tatap lebih dekat, dia semakin terlihat cantik. Mungkin hanya orang gila yang akan mengatakan sebaliknya. Oh tidak, orang gila pun pasti akan mengatakan jika dia sangat cantik. Kulitnya putih bersih dan pipinya sedikit chubby, matanya kecil dan dia tidak memiliki kelopak ganda, hidungnya mancung dan bibirnya mungil. Gadis itu seperti tipe idealnya karena dia suka gadis yang mungil, lebih pendek dan tidak memiliki kelopak mata ganda.

Tunggu… apa yang sedang dia pikirkan? Dia pasti sudah gila.

Jimin berkomat-kamit tidak jelas di belakang Seulgi ketika ia menyadari jika hatinya mulai berkata yang tidak-tidak. Tidak mungkin. Ini pasti karena dia belum tidur jadi dia mulai berpikiran aneh. Tapi… kenapa jantungnya berdebar-debar.

 

JLEB.

 

“Huh? Kenapa ini? Apa yang terjadi?”seru Seulgi terkejut karena ponsel Jimin tiba-tiba mati.

“Sepertinya baterai-nya habis.”

“Apa? Tapi aku belum selesai menontonya.”

Jimin mendengus, “Belum selesai? Nona bahkan sudah menonton tiga episode.”

“Ya! Aku mau nonton lagi. Aku belum menyelesaikannya.”

“Baiklah. Nona akan menontonnya lagi besok. Baterai ponselku sudah habis dan aku tidak membawa charger, lagipula ini sudah pukul 5 pagi. Sebentar lagi ahjumma Yang akan bangun dan membersihkan kamar nona. Sebaiknya nona tidur setelah itu.”

“Tidak mau. Aku masih ingin menontonnya. Tadi, jeoseongsaja dan dokkebi ahjussi bekerja sama untuk menolong Ji Euntak. Aku pikir awalnya jeoseongsaja adalah pria yang jahat tapi ternyata tidak, dia—“ Seulgi menghentikan ceritanya saat ia melihat senyuman di wajah Jimin. Ia melirik pria itu kesal, “Kau tidak menontonnya, kan?”

“Huh? Aku menontonnya.” Jimin menggeleng, namun masih dengan senyum.”

“Lalu kenapa kau tersenyum? Apa kau sedang mengejekku?”

“Aku memang suka tersenyum.”elaknya. “Aku selalu tersenyum apapun yang terjadi.”

Seulgi mendengus, “Ah… benar-benar… jadi hanya aku yang menontonnya?” Gadis itu bersandar pada sandaran sofa sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Bibirnya membentuk kerucut membuat Jimin tak bisa menahan tawa.

“Bagaimana bisa aku menontonnya jika kau terus menutupi layar ponselku? Sejak tadi aku hanya bertugas memegang ponsel karena kau tidak memberikan celah untukku.”

“Kenapa kau tidak bilang?”

“Karena kau sangat serius jadi aku tidak mau mengganggu.”

“Benar-benar menyebalkan.”gerutu Seulgi. “Dan… apa? Kau? Apa  kau baru saja bersikap tidak sopan?”

“Bukankah sekarang kita teman? Seorang teman memang harus menggunakan bahasa santai.”

“Aku tidak bilang ingin jadi temanmu.”

“Tapi kau sudah memakan makanan yang ku masak dan menonton di ponselku. Itu namanya teman.”

“Apa? Kau sudah membohongiku ya?’

“Hey, ayolah. Selain menjadi pengawal pribadi, biarkan aku menjadi temanmu juga.” Jimin menyenggol bahu Seulgi dengan bahunya. “Bagaimana? Hm? Hm?”

“Ya! Pergi! Menjauh dariku!” Seulgi mendorong tubuh Jimin pelan.

“Oh? Oh? Kau tersenyum!”

“Tidak. Aku tidak tersenyum.” Gadis itu langsung menggeleng dan menepis jari Jimin yang sedang menunjuknya. “Hentikan! Aku tidak tersenyum.”

“Hahaha kau tersenyum tadi. Aku melihatnya.”

“Selamat pagi, nona.”

Keduanya langsung menoleh begitu mendengar suara seseorang. Bibi Yang sudah berdiri di sana dengan senyum bahagia melihat kedekatan keduanya.

“Oh? Ahjumma sudah bangun?”

Bibi Yang tersenyum lalu sedikit membungkukkan tubuhnya pada Seulgi, “Maafkan saya karena saya bangun terlambat dan membuat nona tidak bisa tidur semalaman. Sekarang, saya akan membersihkan kamar nona.”

“Bangun terlambat? Ini bahkan masih terlalu pagi, ahjumma.” Jimin menyahuti.

Bibi Yang berkecap pelan, mengisyaratkan Jimin agar dia tidak bicara karena takut Seulgi akan tersinggung. Namun gadis itu justru menggeleng.

“Tidak apa-apa, ahjumma. Ahjumma bisa membersihkan kamarku sekarang.”

“Baiklah. Kalau begitu—“

“Biar ku bantu.” Jimin berdiri dan merebut peralatan kebersihan dari tangan bibi Yang dan naik keatas tanpa menunggu ijin lebih dulu.

Bibi Yang tersenyum kikuk pada Seulgi lalu mengikuti langkah Jimin keatas. Hanya berdua dengan pria itu, bibi Yang langsung mendorong Jimin ke sudut dan menyerangnya dengan banyak pertanyaan.

“Ya, apa yang kalian bicarakan semalaman? Apa dia benar-benar bicara padamu? Apa yang dia katakan? Dia mengeluh tentang sesuatu?”

“Ahjumma.” Jimin melepaskan cekalan bibi Yang. “Aku akan menceritakan semuanya nanti. Tapi, bisakah kita membersihkan kamar ini dulu? Semalaman dia belum tidur sama sekali.”

Bibi Yang langsung mendengus, “Kau bahkan memperhatikannya.”

“Jangan berpikiran yang tidak-tidak, ahjumma. Aku tau apa yang sedang ahjumma pikirkan sekarang tapi itu tidak benar.” Jimin menegaskan namun wajah bibi Yang masih terlihat ragu. “Itu tidak benar!”

“Baiklah. Kau tidak perlu marah jika itu tidak benar.”

“Issh, dasar.”

***___***

 

“Semuanya sudah selesai, nona. Apa ada lagi yang nona butuhkan?”

“Eum…” Seulgi menggigit bibirnya bawahnya sedikit ragu. “Lilin di lemari sudah hampir habis. Bisakah ahjumma mengisinya? Aku tidak bisa tidur dengan tenang tanpa lilin.”

“Baik nona. Saya akan segera mengisinya.”

“Eum… kalau begitu. Terima kasih. Ahjumma boleh pergi.”

“Tapi, apa saya harus meletakkan makan siang anda di depan pintu seperti biasa atau…”

“Aku akan memanggil ahjumma jika aku lapar.”

Bibi Yang sedikit terkejut mendengarnya, ia mengangguk senang, “Baik. Saya mengerti nona.”

“Dan jika terjadi sesuatu, kau bisa memanggilku.”sahut Jimin.

Bibi Yang langsung menyikut perutnya, “Bersikaplah yang sopan.”

Jimin membungkuk sambil memegangi perutnya, “Akh, sakit lagi. Ahjumma!”

Melihat itu, Seulgi tersenyum, “Baiklah.”

“Kalau begitu. Kami pergi dulu, nona. Silahkan istirahat.”

Keduanya lalu pergi meninggalkan rumah utama. Matahari sudah terbit dan dia merasa sangat lelah. Namun lagi-lagi bibi Yang langsung menarik kerah baju anak laki-laki itu dan menyerangnya dengan pertanyaan yang sama.

“Sekarang ceritakan padaku.”

Jimin menghela napas panjang, “Ahjumma, saat ini aku sangat lelah. Dan aku juga harus mandi. Aku akan menceritakan semuanya nanti, oke?” lalu berlari pergi meninggalkan bibi Yang.

“Ya! Busan! BUSAN!”

***___***

 

“Aku akan membeli beberapa bahan makanan dulu, kau buka cafenya. Nanti Yoongi hyung dan Hoseok juga akan datang.”

Taehyung mengangguk, “Oke.”

Keduanya berpisah di persimpangan. Taehyung berjalan menuju cafe sementara Namjoon menuju halte bus. Hari masih terlalu pagi untuk membuka cafe tapi itu sudah menjadi kebiasaan mereka yang selalu bekerja sejak pagi-pagi sekali. Mereka sudah terbiasa untuk bekerja keras.

“YA ANAK KECIL!” Tiba-tiba seseorang menutup mata Taehyung dari belakang. “Anak kecil, kau sekarang sudah besar, huh?”

Taehyung melepaskan tangan gadis itu dan berbalik. Membuat gadis itu seketika termundur dan terkejut.

“Oh Tuhan.” Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan.

Taehyung tersenyum, “Nona, sepertinya nona sudah salah orang.”

“Ya! Siapa kau?! Kau pencuri?!” Gadis mungil berwajah cantik itu berkacak pinggang dan membulatkan matanya lebar-lebar. “Kau sedang berusaha merampok tempat ini, kan?!”

“Apa?”balas Taehyung tak kalah terkejut. Ia tertawa mendengus, “Aku…”

“Apa kau tau siapa pemilik tempat ini, huh? Jika dia tau, kau bisa, klek.” Ia menarik jari telunjuknya di leher, mengisyaratkan ‘kau akan mati’ pada Taehyung. “Jadi jangan macam-macam!!”

“Nona sepertinya kau sudah salah paham. Aku–”

“Irene noona?” Tiba-tiba suara Hoseok terdengar. “Benar, kan? Irene noona?”

Gadis yang ternyata bernama Irene itu berbalik dan detik berikutnya tersenyum lebar begitu melihat Hoseok, “Hoseok-ah!” Ia melompat dan memeluk anak laki-lak iitu. “Oh Tuhan, sudah lama sekali. Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja? Mana yang lain?” Namun belum sempat Hoseok menjawab. Irene tersadar jika dia harus menyelesaikan sesuatu lebih dulu. Ia menarik lengan Hoseok dan membawanya mendekati Taehyung, “Ya! Kau bahkan tidak lari. Apa kau tidak takut dengannya? Kau benar-benar cari mati, ya?”

“Huh? Kenapa? Ada apa?”tanya Hoseok bingung.

“Pria ini ingin mencuri dan aku memergokinya. Dasar. Padahal dia terlihat muda tapi dia tidak mau bekerja.”

“Apa?”seru Hoseok terkejut. “Noona, bukan begitu, dia…”

“Cepat minta maaf! Karena kau belum sempat mencuri, aku akan memaafkanmu. Tapi jangan melakukan hal itu lagi!” dia mulai mengomel. “Mengerti?”

Taehyung tertawa kesal. Dia tidak percaya jika dia telah di tuduh mencuri oleh gadis cerewet ini. Dia bahkan tidak memberikan kesempatan baginya untuk menjelaskan.

Taehyung menarik napas panjang, berusaha meredamkan kekesalannya namun kemudian ia bicara dengan gigi gemertak, “Dengar nona, aku bukan pencuri jadi aku tidak perlu minta maaf. Aku akan membuka cafe saat kau menuduhku mencuri. Lihat, ini adalah kunci yang di berikan oleh Namjoon hyung.” Ia mengangkat kunci, menunjukkannya pada Irene. “Aku bukan pencuri. Aku bekerja disini.” Ia menekankan. “Lagipula bukankah seharusnya kau yang minta maaf padaku? Kau sudah salah orang dan menuduhku yang tidak-tidak.”

“Apa?” Untuk yang kesekian kalinya Irene terkejut. “S-sungguh?” Ia menoleh kearah Hoseok untuk memastikannya. Hoseok mengangguk.

“Sudah beberapa tahun ini dia bekerja disini, noona.”

“Oh Tuhan.” Ia menutup mulutnya lagi dengan telapak tangan. “Maafkan aku. Aku telah salah paham padamu. Maafkan aku hahaha kau tidak marah, kan?” Irene memukul lengan Taehyung pelan yang membuatnya semakin merasa kesal. Ingin sekali dia menvubit pipinya kuat-kuat. “Hey, ayolah. Aku baru saja kembali ke Korea jadi aku tidak tau jika kau bekerja disini. Lagipula aku belum melaporkanmu ke polisi. Tidak apa-apa, kan?”

Hoseok yang tau jika Taehyung sedang kesal ikut tertawa untuk mencairkan suasana, “Noona… bagaimana bisa noona menuduhnya pencuri? Lihat saja dia, dia sangat tampan.” Ia mencoba menghibur Taehyung.

“Dia tidak setampan itu.” Irene menggeleng polos.

Tawa di wajah Hoseok seketika menghilang, “Noona.“bisiknya.

Taehyung menarik napas panjang untuk yang kesekian kalinya, “Aku akan mulai bekerja. Aku masuk dulu.”

“Baiklah baiklah. Kau masuk duluan.”suruh Hoseok. Setelah Taehyung menghilang, ia menatap Irene kembali, “Noona tidak pernah berubah. Harusnya noona mendengar penjelasannya lebih dulu.”

“Aku kan hanya ingin melindungi cafe kalian.”balas Irene tak merasa bersalah. “Aku tidak pernah melihatnya jadi wajar jika aku menuduhnya begitu. Dia terlihat mencurigakan.”

“Hhhh, sudahlah. Bagaimana kabar noona? Kapan noona kembali?”

“Kemarin malam. Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja.”

“Lalu kenapa noona kembali? Bukankah ahjumma dan ahjussi menyuruh noona tinggal bersama mereka di China?”

“Nenekku mulai sakit-sakitan dan tidak ada yang menjaganya jadi aku kembali untuk merawatnya.”

“Jadi noona tidak tinggal di rumah lama noona lagi?”

Irene menggeleng, “Aku tinggal di rumah nenekku. Nanti aku akan memberikan alamatnya pada kalian.”serunya. “Oh ya, ngomong-ngomong dimana yang lain? Apa anak kecil itu sedang berada di sekolah?”

“Yoongi hyung masih di rumah, Namjoon hyung sedang berbelanja bahan makanan dan anak kecil itu…” Hoseok menghentikan ucapannya sejenak. Ia mendesah panjang, “…Dia belum kembali.”

“Apa? Belum kembali? Bukankah ini sudah sangat lama? Sebenarnya apa yang dia lakukan disana? Apa ahjussi memutuskan untuk pindah ke luar negeri?”

“Sejak mereka kabur karena kami terlilit hutang, mereka tidak pernah kembali lagi kesini.”

“Tunggu… apa hutang itu belum lunas hingga sekarang?”

“Sudah lunas semuanya.”

“Lalu kenapa mereka belum kembali?”

“Entahlah.” Hoseok mengendikkan kedua bahu.

“Eoh? Irene noona?”

Irene menoleh lalu tersenyum lebar, “Yoongi-yah!”

***___***

 

“Kapten! Kapten!” Jimin yang baru saja keluar dari kamar mandi sedikit terkejut mendengar suara Sukhwan.

“Ada apa? Kenapa kau berlari-lari seperti itu?”

“Nyonya besar datang!”serunya dengan sorot panik. “Dan sepertinya dia masuk ke dalam kamar tuan putri.”

“Kenapa? Bukankah biasanya dia hanya duduk di ruang tamu?”

Sukhwan menggeleng, “Entahlah. Tuan putri baru saja tidur dan nyonya Besar menyuruh kepala pelayan Yang untuk membangunkannya.”

Jimin langsung meraih pakaian kerjanya dan mendengus, “Aaaah, merepotkan sekali.”

***___***

 

Pria itu berlari ke rumah utama. Terlihat ada lebih banyak penjaga yang berjaga di luar, berbeda dari biasanya. Keningnya berkerut sambil melanjutkan langkahnya masuk ke dalam.

“Ahjumma, ada apa?” Ia langsung menghampiri bibi Yang.

“Sepertinya mereka bertengkar lagi.”bisik bibi Yang, wajahnya terlihat khawatir.

Jimin sudah akan naik ke atas namun bantingan pintu terdengar cukup keras membuat semua orang terkejut. Tak lama nyonya Besar terlihat turun bersama dengan seorang gadis muda.

“Dia adalah anak tiri tuan Kang.”bisik bibi Yang menjawab pertanyaan tak terdengar Jimin. “Anak kandung nyonya Besar dari pernikahan yang sebelumnya.”

Jimin mendongak, memperhatikan gadis muda itu. Wajahnya sangat cantik dengan kulitnya yang pucat. Matanya terlihat teduh namun tidak ada ketulusan disana.

“Jangan berikan dia makanan hari ini!” Nyonya Cheon berseru tegas. “Hukum dia agar dia menyadari kesalahannya!”

Bibi Yang hanya bisa pasrah dan mengangguk, “Baik nyonya.”

Jimin tidak  mengerti kenapa masih ada hukuman seperti  itu. Bukankah ini sudah jaman modern? Dan bagaimana mungkin seorang ibu tega melakukannya? Yaaah, walaupun dia bukan ibu kandung. Tapi tidak memberi makanan pada seorang anak itu keterlaluan.

“Dan kau agen Park, aku ingin bicara denganmu.”

Jimin menghela napas panjang sebelum mengikuti langkah nyonya Cheon. Mereka menuju taman belakang dimana para penjaga berjaga dalam jarak lumayan jauh agar tidak bisa mendengar percakapan mereka.

“Duduklah.”suruh nyonya Cheon. Jimin menurut. “Kau pasti belum mengenalnya, kan? Dia adalah anakku yang selama ini tinggal di Amerika. Kalian belum pernah bertemu sebelumnya, kan?”

Jimin menundukkan kepalanya, “Annyeonghaseo aku Park Jimin.”serunya memperkenalkan diri. Gadis itu hanya mengangguk dengan wajah dingin. Yah, semua nona muda memang sama.

“Jadi bagaimana pekerjaanmu? Apa sudah ada perkembangan?”

“Aku pikir aku membutuhkan tempat yang sedikit renggang.”

Salah satu alis nyonya Cheon terangkat, “Maksudmu?”

“Tidak mudah untuk mengajaknya bicara dan ku rasa itu karena dia tidak nyaman tinggal di tempat yang dijaga oleh banyak orang asing. Dia selalu ketakutan setiap kali melihat orang lain dan—“

“Apa kau pikir aku perduli?” Nyonya Cheon memotong ucapan Jimin yang membuatnya terkejut. “Aku tidak perduli apapun yang terjadi padanya. Yang jelas aku menyuruhmu untuk membuatnya mengubah surat wasiat itu.”seru nyonya Cheon tegas. “Apa saat ini kau sedang bersimpati padanya?”

Jimin tertawa mendengus, “Kau menyuruhku untuk membuatnya mengubah surat wasiat itu dan aku merasa sulit untuk mendekatinya karena di tempat ini ada banyak penjaga. Mereka membuatnya tidak ingin keluar yang secara tidak langsung menghambat tugasku.”

“Ya! Jaga ucapanmu! Kau sangat tidak sopan!”bentak anak nyonya Cheon menggebrak meja.

Namun Jimin mengabaikannya, ia tetap menatap nyonya Cheon lurus, “Aku ingin adikku segera di obati jadi aku ingin segera menyelesaikan tugasku. Aku harap kau tidak menghambat usahaku.”

Nyonya Cheon balas menatap Jimin tajam, rahangnya mengeras, “Apa maumu?”

“Biarkan aku yang menjaganya. Tinggalkan dua atau tiga orang pengawal untuk membantuku.”tegas Jimin. “Lagipula, kau hanya menjaga satu gadis, kau tidak perlu membuang-buang banyak tenaga.”

Nyonya Cheon menyeringai, “Apa kau tidak tau bagaimana berbahayanya gadis itu?”

“Apa dia pernah membunuh?”balas Jimin cepat. “Jangan lupa, aku jauh lebih berbahaya dari itu.”

Nyonya Cheon kembali menyeringai. Ia menarik punggungnya tegak sementara tatapannya tak lepas dari Jimin, ‘Dia benar-benar menarik.’. “Baiklah. Aku akan memikirkannya dulu. Sekarang, kau antarkan dia pergi.”

“Hah?” Kening  Jimin berkerut. “Aku pikir aku adalah pengawal bukan supir.”

“Dan aku pikir kau akan senang jika kau pergi bersamanya.”

Jimin menelan ludah. Terdiam. Wanita ini… dia benar-benar licik. Nyonya Cheon semakin melebarkan senyumnya karena dia berhasil menang. Karena anak ini punya satu kelemahan dan dia berhasil mengendalikan kelemahan itu.

“Aku pergi dulu, eoma.” Gadis itu berpamitan llau berjalan di depan Jimin.

Jimin terpaksa mengikutinya di belakang. Sesampainya di depan ia bertemu dengan Sukhwan, “Kapten, kau mau kemana?”

“Ada tugas yang harus ku kerjakan.” Jimin berdecak malas lalu masuk ke dalam mobil.

“Antarkan aku ke Universitas Yonsei. Setengah jam lagi aku ada kelas.”

Jimin menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan, berusaha menahan-nahan kesabarannya, “Baik, nona.” Kemudian ia menjawab dengan nada –yang di paksakan- sopan.

Oke. Dia mulai tidak menyukai gadis cantik. Saeron benar, biasanya gadis cantik hanya merepotkan. Terutama gadis cantik dan bergelimang harta. Saeron sudah berkali-kali memperingatkannya agar tidak berurusan dengan gadis-gadis seperti itu tapi sekarang dia justru terlibat dengan dua gadis cantik kaya sekaligus. Menyebalkan.

Tak lama ketika mereka sampai, Jimin buru-buru keluar untuk membukakan pintu seperti seorang supir. Berkali-kali ia mengumpat dalam hati, memaki dirinya karena terlihat bodoh.

“Tunggu aku hingga kelasku selesai. Setelah itu, aku akan memberitahumu sesuatu.”

“Apa tidak bisa kau mengatakannya sekarang?”Jimin mulai kehilangan kesabaran.

Gadis itu tersenyum, “Aku ingin menguji seberapa setianya dirimu.”

‘Cih, kau pikir aku anjingmu?’

“Hanya satu jam. Kau bisa menungguku di kantin.”

***___***

 

“Jadi sekarang noona mengurus rumah sewa harmoni?”tanya Namjoon, keduanya kini duduk bersama di salah satu kursi cafe.

Irene mengangguk, “Itu untuk biaya pengobatan harmoni.”

“Apa noona baik-baik saja? Butuh bantuanku?”

Gadis cantik itu tertawa, “Tidak perlu. Aku bisa mengatasinya sendiri. Lagipula aku senang karena bisa kembali dan bertemu dengan kalian lagi. Sayangnya, aku belum bertemu dengan anak kecil itu.”

“Kami juga belum pernah bertemu dengannya. Entah bagaimana dia sekarang. Pasti dia sudah setinggi diriku atau mungkin lebih.”

“Tapi… dia baik-baik saja, kan?”

Namjoon tertawa, “Pasti baik-baik saja. Memangnya apa yang tidak bisa dia lakukan? Dia bahkan bisa menemukan jalan pulang ketika umurnya masih 3 tahun.”

“Benar juga.” Irene ikut tertawa. “Dia bahkan melindungiku dari orang-orang yang suka menggodaku dulu.”

“Kita tidak perlu khawatir karena dia pandai beradaptasi. Hanya saja, aku sedikit merindukannya…”

***___***

 

Dia sangat bodoh. Dia meninggalkan ponselnya di kamar sehingga yang bisa ia lakukan hanyalah duduk seorang diri seperti orang bodoh di salah satu kursi taman Universitas.

Apa dia sudah makan siang? Apa yang dia lakukan sekarang? Sepertinya tadi dia bertengkar hebat dengan ibu tirinya.

“Apa dia baik-baik saja?” tanpa sadar ia bergumam.

“Siapa? Aku?”Tiba-tiba sebuah suara terdengar. Jimin langsung menoleh. “Kau sedang tidak mengkhawatirkan aku, kan?”

Jimin tersenyum sinis, “Tentu saja tidak.”

Gadis itu ikut tersenyum lalu duduk di samping Jimin, “Kelasku sudah selesai. Apa kau sudah makan siang?”

“Aku tidak suka bertele-tele, beritahu aku apa yang mau kau katakan.”

“Kau benar-benar tidak sopan.” Gadis itu berdecak sambil geleng-geleng kepala. “Oh, ya. Kita belum berkenalan. Aku Jung Chaeyeon. Tapi sekarang, margaku berubah menjadi Kang.” Chaeyeon menatap Jimin dengan senyum. ”Kita harus tau nama masing-masing agar bisa jadi dekat.”

“Kenapa aku harus dekat denganmu?”ketus Jimin.

Chaeyeon tertawa, ia memajukan tubuhnya mendekat kearah Jimin, “Karena aku mulai tertarik padamu.”bisiknya penuh percaya diri. Jimin menatapnya heran. Gadis ini…

Chaeyeon lalu mengeluarkan selembar amplop cokelat dari dalam tasnya, “Jadi sebenarnya yang ingin aku beritahu padamu adalah ini…” ia menyodorkan amplop cokelat itu kearah Jimin.

“Apa ini?” kening Jimin berkerut. Ia membuka amplop cokelat itu dan mengeluarkan isinya. Setelah membacanya, matanya sontak membulat, “Ini…”

“Yah… itu adalah surat pemberitahuan rumah sakit China yang telah menemukan pendonor hati untuk adikmu.”

“Ini… sungguh?” Pria itu seakan kehilangan kesadarannya. Ia tergagap. Tak bisa bicara.

“Iya, itu nyata. Kita hanya perlu menyetujui operasinya.”

Jimin tersenyum lebar. Tuhan, terima kasih. Akhirnya Saeron bisa sembuh. Akhirnya dia bisa bertemu dengan adiknya lagi.

“Tapi, kau tau kau harus membayar untuk itu, kan?”

Ucapan Chaeyeon tersebut langsung membuat senyuman di bibir Jimin menghilang. Bodoh sekali dia mempercayai mereka begitu saja.

“Apa maumu?”

***___***

 

“Hubungi aku jika kau sudah memutuskannya.” Jimin melihat senyum lebar Chaeyeon dari kaca mobil lalu mendengus. Gadis itu melompat keluar mobil yang langsung di sambut oleh pelayan-pelayannya yang akan membawakan tas dan buku-bukunya.

Jimin menginjak pedal gas dan segera mungkin meninggalkan rumah mewah itu. Dia mulai muak.

Ini memang kabar yang mengembirakan karena akhirnya merekabisa menemukan hati yang cocok untuk Saeron. Tapi, haruskah dia membayar semua itu dengan hidupnya? Haruskah dia menjadi anjing peliharaan Hansan seumur hidupnya? Tapi, bukankah Saeron adalah satu-satunya yang ia miliki sekarang?

Alasannya masih hidup di dunia ini karena Saeron.

Jimin menghentikan mobilnya ketika lampu lalu lintas bewarna merah. Pikirannya berkecamuk hebat. Haruskah dia melakukannya?

 

Diiin Diiin…

 

Jimin sontak terkejut begitu suara klakson mobil-mobil yang ada di belakangnya terdengar. Beberapa orang juga terdengar memakinya karena mobilnya tidak bergerak padahal lampu sudah berubah menjadi warna hijau. Pria itu buru-buru menginjak rem dan pergi dari sana. Di perjalanan, tanpa sengaja ia melihat sebuah toko lilin dan teringat jika lilin persediaan tuan putri sudah akan habis.

Jimin membelokkan setirnya dan menepi. Tapi begitu ia memasuki tempat itu, ia sadar jika dia tidak tau aroma kesukaan Seulgi. Sudah akan berbalik pergi, suara seorang pramuniaga lebih dulu terdengar.

“Aroma seperti apa yang kau sukai, Tuan?”

“Oh? Aku…eum…begini…” Jimin menggaruk kepalanya kikuk. “Aku sebenarnya ingin memberikan hadiah pada seseorang.”

“Apa untuk kekasihmu?”

Pria itu tersentak begitu mendengar kata ‘kekasih’, seketika ia menjadi gugup membuat pramuniaga itu tertawa, “Sepertinya anda masih sangat muda, Tuan. Apa kekasih anda lebih tua, seumuran atau lebih muda?”

“Kami seumuran.”Jimin berusaha bersikap setenang mungkin.  “Aku tidak tau aroma apa yang dia sukai jadi bisakah kau memilihkan untukku?”

Pramuniaga itu tersenyum, “Seperti apa dia?”

“Dia…” Jimin memutar bola matanya. Mulai membayangkan bagaimana sosok Seulgi. Dari hari pertama dia melihatnya hingga tadi malam. “Dia terlihat ketus dan tidak bersahabat tapi sesungguhnya dia adalah gadis yang sangat polos. Dia terlihat jika dia selalu membenci orang lain tapi sebenarnya dia tidak bisa mengekspresikan perasaannya dengan baik. Dia sedikit aneh dan sangat protektif.”

“Sepertinya anda sangat mengenalnya dengan baik.”seru pramuniaga itu membuat Jimin terkejut dengan dirinya sendiri. Tunggu… apa yang sudah dia katakan barusan? “Bagaimana jika wangi Lavender atau mawar? Biasanya wanita menyukai wangi itu.”

“Uh… oke. Aku beli dua-duanya.”

***___***

 

“Nona muda, bisakah nona buka pintunya? Apa nona baik-baik saja? Nona harus makan. Jika tidak, nona bisa sakit. Nona muda, buka pintunya.” Bibi Yang hanya bisa menghela napas panjang karena Seulgi tak juga membukakan pintu. Sejak nyonya Cheon pulang, gadis itu terus mengunci dirinya di kamar tanpa makan dan minum. Walaupun nyonya Cheon memerintahkan untuk menghukumnya tapi bibi Yang tetap tidak tega. Ia sudah sangat kurus, jika dia tidak makan, dia bisa sakit.

“Ahjumma, ada apa?”

“Busan, kau sudah datang?” Wajah bibi Yang terlihat panik. “Sejak tadi nona muda terus mengunci diri. Kami sudah mencoba membujuknya tapi dia tetap tidak mau keluar. Aku sangat khawatir karena dia belum makan sama sekali. Dia harus minum obat.”

“Tapi, dia tidak melakukan hal-hal aneh, kan?”

Bibi Yang menggeleng, “Jungwoo terus mengamati dari layar CCTV. Dia hanya berbaring.”jawabnya. “Tapi tetap saja aku khawatir. Bisakah kau membantuku untuk membujuknya?”

Jimin menghela napas panjang lalu mengetuk pintu kamar Seulgi, “Nona, ini aku Jimin. Bukankah kita punya janji untuk melanjutkan dramanya? Kau ingin menontonnya lagi, kan?” Namun tidak ada sahutan apapun dari Seulgi. “Nona.”panggil Jimin lagi. “Nona, tolong buka pintunya.” Namun tetap tidak ada sahutan apapun. Jimin menoleh, menghadap bibi Yang. “Sepertinya ini tidak akan berhasil.” Ia mendesah putus asa. Bibi Yang ikut murung. Lagi-lagi Jimin berpikir untuk mendobrak pintu kamarnya atau membuat keributan seperti kemarin. Tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk bermain-main. Beberapa saat kemudian Jimin kembali berseru, “Ahjumma, bisakah ahjumma membantuku?”

“Huh?”

***___***

 

Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Jimin berdiri di taman bunga menatap keatas, kearah kamar Seulgi. Tidak ada penjaga disana karena bibi Yang meminta Junwoo untuk memerintahkan anak buahnya untuk mengosongkan area itu.

Sukhwan datang beberapa saat kemudian, tertatih-tatih membawa tangga.

“Kapten, apa kapten akan menerobos lagi?” tanya Sukhwan terengah-engah. “Apa kapten bisa naik dengan membawa itu?” ia melirik nampan yang membawa dua cup ramyeon di tangan kiri Jimin.

“Jangan cerewet. Cepat sandarkan tangganya.” Jimin mendorong pundak Sukhwan setengah kesal.

Sukhwan melakukannya sesuai perintah Jimin lalu tersenyum menyeringai menatap pria itu, “Kapten jangan bilang kalau—“

“Jika kau bicara lagi, aku akan menyiram ramyeon panas ini ke wajahmu.”seru Jimin kesal. Sukhwan langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat dan berbalik pergi sambil. Suara tawanya terdengar ketika dia sudah berada sangat jauh.

Ia menggerutu, “Menyebalkan sekali.”

Jimin menaiki tangganya dengan hati-hati. Dan hanya dalam waktu singkat, ia sudah berada di atas. Jendelanya terbuka dan Jimin bisa melihat jika gadis itu sedang berbaring di ranjangnya dengan tubuh yang di tutupi selimut.

Ia meletakkan nampannya di lantai balkon lalu menjulurkan kepalanya ke dalam. Ragu-ragu, ia mengetuk kaca jendela.

Tok Tok.

Seulgi langsung menoleh terkejut.

“Kau?!”

Jimin meringis lebar, “Karena kau mengabaikanku jadi—“

Gadis itu menepis selimutnya, berdiri dan menghampiri Jimin, “Kau gila ya?! Apa kau tau ini adalah kamar perempuan? Kau benar-benar tidak sopan!”

“Kau harus minum obat. Apa kau lupa? Yang ahjumma dan dokter sangat mengkhawatirkanmu.” Jimin kembali melanjutkan ucapannya begitu melihat mata Seulgi yang terlihat sembab, “Kau menangis?”

Seulgi buru-buru menghusap jejak-jejak air mata di sekitarmatanya, “Tidak.” Ia menggeleng lalu mengalihkan wajah. “Kenapa aku harus menangis?”

Jimin menarik lengan Seulgi dan menyeretnya keluar. Karena ia juga merasa sedikit risih terus berada di kamar perempuan.

“Apa yang kau lakukan?”

“Ini sudah malam dan kau sama sekali belum makan. Aku membawakan ramyeon untukmu.”

Seulgi melirik nampan yang ada di atas lantai, “Aku tidak mau.”tolaknya. “Aku tidak lapar.”

“Kenapa kau menghukum dirimu sendiri? Aku tau kau lapar.”

“Apa kau tidak dengar wanita itu sedang menghukumku? Aku tidak diperbolehkan makan.”

“Lalu kau mau menurutinya?”balas Jimin cepat. “Jangan memperdulikannya. Dia sudah tidak ada.”

Seulgi tertawa mendengus, “Apa kau sedang berakting di depanku? Bukankah kau bekerja untuknya?”

“Oh Tuhan gadis ini…” Jimin menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan, berusaha menahan-nahan kesabarannya. Ia mencekal kedua pundak Seulgi dan memaksanya duduk. “Kau boleh memarahiku tapi kau harus makan. Ramyeon-nya sudah mulai dingin.” Pria itu meletakkan sumpit di tangan Seulgi.

Seulgi meliriknya sesaat lalu akhirnya menerimanya, “Kau yang membuat ini?”

Jimin mengangguk sambil mulai melahap ramyeon-nya, “Iya.”

“Tidak ku sangka ternyata kau pandai memasak.”

“Aku tidak bisa memasak.” Dia menggeleng. “Aku hanya bisa membuat ramyeon dan nasi goreng. Itu karena adikku yang mengajarkannya.”

“Kau selalu saja bicara tentang adikmu saat makan. Sepertinya dia selalu mengurusmu.”

“Tentu saja. Orang tua kami sudah meninggal ketika kami masih kecil.” Jimin mengatakan itu sambil terus menghisap mie-nya. Ketika ia menyadari jika Seulgi tidak bersuara, ia mengangkat wajahnya dan menatap Seulgi yang sedang terdiam, “Kenapa?”

“Harusnya aku minta maaf karena telah menyinggung hal itu, kan?”

Jimin tertawa atas keluguannya itu, “Tidak perlu. Lagipula aku baik-baik saja.”

“Eum… lalu dimana adikmu sekarang?”

Barulah Jimin terdiam. Ia meletakkan sumpitnya di atas cup dan menghusap sudut bibirnya. Pria itu menatap Seulgi lurus, “Jika aku memberitahumu tentang kehidupanku, maukah kau menjadi temanku?”

“Bukankah kita sudah berteman sejak kemarin?”tanya Seulgi. Namun ia menjadi sedikit ragu karena Jimin hanya diam. “Kau bilang begitu.”

Jimin tersenyum, “Dia ada di China. Sedang di rawat di rumah sakit.”

“Dia sakit?”

Jimin mengangguk, “Ada masalah di hatinya jadi dia harus menunggu pendonor hati. Saat ini dia sedang koma.”jelas Jimin. “Itu adalah alasanku kenapa aku mau bekerja pada ibu tirimu. Karena aku membutuhkan uang.”

“Sepertinya kau sangat menyayangi adikmu.”

“Tentu saja. Hanya dia yang aku miliki di dunia ini. Aku sangat menyayanginya.”

Seulgi tersenyum kecut, “Itu membuatku iri.”

Jimin menatap gadis itu dengan senyum lembut, “Kau mau jalan-jalan?”

***___***

 

Irene melompat turun dari bus yang membawanya pulang. Sejak tadi perutnya terus mengeluarkan bunyi-bunyi. Kakinya juga rasanya nyaris putus. Dia sangat lelah setelah berkeliling seharian.

“Akh…” Gadis itu meluruh karena kakinya tak sanggup lagi berjalan. Ia memukul-mukul pergelangan kakinya sambil meringis. “Apa kau tidak bisa menahannya sebentar lagi? Kita sudah hampir sampai.”omel Irene. Ia mencoba berdiri namun terduduk kembali.

“Irene noona.” Seseorang menghampiri Irene dan berlutut di depannya, ternyata Namjoon. “Apa yang terjadi? Kau kenapa?”

Irene menggeleng, “Tidak apa-apa. Kakiku hanya merasa pegal.”

“Kau bisa berdiri?”

Gadis itu menggeleng lagi, “Biarkan aku seperti ini selama beberapa saat. Setelah pegalnya hilang, aku akan bisa berjalan lagi.”

“Apa maksudnya? Kau mau duduk disini begitu?” Namjoon berseru khawatir. Ia kemudian menoleh ke belakang, kearah seorang pria yang berdiri di sana. “Taehyung, kau gendong dia sampai ke rumah, oke? Aku yang akan pergi ke supermarket.”

Taehyung dan Irene sama-sama tersentak. Dia?! Keduanya sama-sama berseru dalam hati. Apa Namjoon sengaja? Bukankah dia tau jika Taehyung sepertinya tidak menyukainya? Kenapa menyuruhnya?

“Aku?”seru Taehyung menunjuk dirinya sendiri.

Irene langsung mengibaskan kedua tangannya, “Tidak. Tidak perlu. Aku bisa—“

“Iya kau. Punggungku terasa sakit karena seharian mencuci piring. Jadi kau yang menggendongnya.”suruh Namjoon. “Rumahnya tidak jauh dari rumah kita.”

“Hyung, tapi…”

“Namjoon, aku sungguh baik-baik saja. Kau tidak perlu….”

“Kau mau membiarkannya seperti ini?” Namjoon berseru lagi tak sabaran.

Taehyung menghela napas panjang, bersungut-sungut ia menghampiri Irene dan berlutut membelakanginya, “Naiklah ke punggungku. Aku akan menggendongmu.”

“Tidak. Tidak perlu. Aku—“

“Noona, harmoni bisa khawatir jika kau belum pulang. Tidak apa-apa.”

Irene menggigit bibir bawahnya kelu. Kemudian naik keatas punggung Taehyung di bantu Namjoon.

“Aku akan pergi ke supermarket sebentar, nanti aku akan mampir ke rumah noona.”ucap Namjoon lalu pergi.

Irene hanya tersenyum tipis. Fokusnya bukan lagi disana tapi pada pria ini, yang sedang menggendongnya sekarang. Dia tau, Taehyung pasti masih marah karena kejadian tadi pagi.

Sementara Namjoon, dalam langkahnya ia terkekeh geli, “Kau harus mulai membuka hatimu untuk wanita, Taehyung.”

TBC

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

4 thoughts on “The Demians part 4

  1. sakurahaibara berkata:

    Aaaaa masalahnya banyak banget… kasian seulgi thor.
    Btw jungkook kapan keluar nih hahaha ditungguin nggaj muncul muncul

  2. Anfa berkata:

    Itu ibu tiri sma anaknya rasa.a pnging benget deh aku ilangin,.. Yang bkin seru Dri semua cast pnya konflik.a masing2,. Good job deh buat kak mija,.. Semangat buat next chap.a kak.,, 😀

  3. rose97 berkata:

    daeeeeebak,,,,,, makin penasaran lanjutannya thorr,,,
    btw, salam kenal aq reader baru disini,,,hehe mf thor baru bisa komen di chap ini ..
    btw kok jungkooknya gk muncul2 sih thor, saeron juga hahaha
    next chap.a jangan lama2 yah thor, soal.a udah gk sabar nih nunggu kelanjutan cerita merekaa,,,
    goood job dah buat kak mijaa, tetap semangat yah buat lanjutin ceritanya…hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s