The Demians part 3

demian n

Tittle       : The Demians

Author    : Ohmija

Cast          : BTS and Seulgi Red Velvet, Irene Red Velvet, Kim Saeron and DIA Chaeyeon

Genre      : Action, Romance, Comedy, Friendship

Di hari keduanya, pagi-pagi sekali Jimin sekali lagi pergi ke taman bunga itu. Kali ini tidak secara terang-terangan, namun bersembunyi di balik pilar. Dia tidak mau tuan putri itu melihatnya dan akhirnya bersembunyi lagi.

Sesampainya disana, dugaannya ternyata benar, tuan putri itu sudah berdiri di balkon kamarnya sambil menatap kosong ke jalanan. Angin menerbangkan rambutnya dan gaun putihnya. Namun sepertinya hembusan angin itu tidak cukup kuat untuk mengusik lamunannya.

Mungkin dia sedang bosan atau sedang memikirkan cara untuk melarikan diri? Karena biar bagaimanapun tidak akan ada satu orangpun yang betah di kurung di tempat seperti ini.

“Sepertinya, dia terlihat sangat menderita.”

***__***

 

“Oh Tuhan, pinggangku mati rasa…” Taehyung merebahkan tubuhnya di lantai kayu teras depan rumah mereka. “Aku sungguh tidak bisa bergerak. Sakit sekali.”

“Aku juga, kakiku… oh Tuhan…” Yoongi juga merebahkan diri di sampingnya. Suaranya terdengar seperti kakek-kakek yang sedang mengeluh.

“Apa kalian tidak terlalu berlebihan?”dengus Hoseok.

“Hyung, apa hyung tidak tau berapa banyak pelanggan yang datang hari ini? Aku bahkan tidak memiliki banyak waktu untuk duduk.”protes Taehyung.

“Benarkah? Hari ini banyak pelanggan yang datang? Waaah, akhir-akhir ini sepertinya cafe selalu ramai.”

Namjoon tertawa, ia menunjuk Taehyung dengan gerakan kepalanya, “Ada banyak murid-murid perempuan yang datang untuk melihatnya. Aku rasa sejak dia datang, cafe jadi semakin ramai.”

“Itu sebabnya aku tidak mau dapat tugas jaga cafe bersamanya. Aku tidak akan punya waktu untuk istirahat.”sahut Yoongi, ia memejamkan matanya bersiap untuk tidur.

“Kenapa? Aku juga tampan. Kenapa ketika aku yang berjaga, murid-murid itu tidak datang?” Hoseok memajukan bibirnya kesal.

“Berterima kasihlah padaku, aku membuat kalian bisa terus hidup.”

“Ya! Kau bahkan tinggal dan makan disini secara gratis. Itu memang sudah menjadi tugasmu.” Yoongi membuka matanya dan memukul kepala Taehyung pelan.

Taehyung langsung mengaduh dan menghusap-husap kepalanya, “Aku kan cuma bercanda.”

“Ngomong-ngomong, karena cafe sudah mulai ramai. Apa sebaiknya kita hentikan saja menyebar brosurnya? Kita sudah menyebar brosur di seluruh penjuru kota Seoul tapi tidak ada satupun yang ingin mendaftar. Sepertinya mereka tidak berminat dengan sekolah bela diri kita.”

Yoongi menarik dirinya bangun dan menyahuti ucapan Hoseok itu, “Memangnya siapa yang akan tertarik dengan sekolah ini? Bahkan dari tempatnya saja tidak meyakinkan. Dan tidak ada guru yang bersertifikat yang mengajar di tempat ini. Mereka akan menganggap kita hanya bermain-main.”

Hoseok menghela napas panjang, “Benar juga… kapan sonsengnim akan kembali? Apa dia tidak berniat untuk mengajar lagi? Aku juga merindukan Jungkook. Apa dia memenangkan pertandingan lagi?”

“Ku dengar dia memenangkan pertandingan di California. Sonsengnim menghubungiku beberapa hari lalu dan mengatakan jika akhirnya mereka bisa makan daging setelah bertahun-tahun hanya makan telur.” Namjoon tertawa mengingatnya. “Bodoh…”

“Sungguh? Sonsengnim menghubungimu? Kenapa tidak memberitahu kami? Lalu bagaimana kavar mereka? Jungkook bagaimana? Apa dia babak belur?”

“Sudah pasti babak belur. Apa kau tidak tau bagaimana pertandingan jalanan itu? Seperti yang kita tonton dalam film Tekken.”sahut Yoongi. “Lalu apa kau tidak bertanya kapan mereka akan kembali? Hutang kita sudah lunas, mereka tidak perlu melarikan diri lagi.”

Namjoon terdiam sejenak lalu mengendikkan kedua bahunya, “Entahlah. Dia tidak mengatakan apapun.”

***___***

 

“Hyung…” suara Taehyung terdengar di dalam kegelapan kamar itu. “Kau sudah tidur?”

“Ada apa?”balas Namjoon dari ranjang yang ada di sampingnya. “Aku sudah akan tidur tapi kau memanggilku.”

“Hyung, apa ahjussi benar-benar tidak akan kembali?”

“Jangan memanggilnya ahjussi, dia adalah sonsengnim-mu.”

“Oh.” Taehyung memukul-mukul mulutnya pelan. “Aku sudah terbiasa memanggilnya seperti itu.”

“Kau kan hanya bertemu dengannya sampai umurmu tiga tahun. Kalian sudah menjadi orang asing sekarang.”

“Hyung, bagaimana bisa kau tau begitu banyak? Kau kan bukan bagian dari kami.”

“Sonsengnim sudah menceritakan semuanya padaku. Aku banyak mengetahui tentang hal itu.”

“Sepertinya sonsengnim sangat mempercayaimu.”

“Jika dia tidak mempercayaiku, dia tidak akan menyerahkan sekolah ini padaku, iya kan?”

“Benar juga.” Taehyung mengangguk-angguk.

“Apa masih ada yang ingin kau tanyakan? Aku sudah mengantuk.”

“Oh? Kau belum menjawab pertanyaanku hyung. Kapan ahjussi… maksudku… sonsengnim dan anaknya kembali?”

“Tidak tau. Dia tidak mengatakan apapun padaku. Mungkin mereka tidak akan kembali.”

“Kenapa? Hutang kita sudah lunas. Mereka bisa kembali sekarang, kan?”

“Entahlah. Mungkin dia punya pertimbangan lain.”

“Aku ingin bertemu dengannya dan mengucapkan terima kasih karena sudah membiarkanku tinggal di sini. Dan juga, aku ingin bertemu dengan anaknya. Aku selalu mendengar cerita dari Yoongi hyung dan Hoseok hyung, mereka bilang dia sangat kuat dan pandai berkelahi. Aku jadi sedikit penasaran.”

Namun tidak ada sahutan apapun dari Namjoon. Taehyung menarik tubuhnya untuk duduk dan bersandar pada sandaran kursi, “Hyung?”

“Kami juga sudah lama tidak bertemu dengannya.”

“Hehehe, aku pikir kau sudah tidur, hyung.”

“Sekarang bisakah kau berhenti bicara dan biarkan aku tidur? Besok aku harus bangun pagi-pagi sekali. Bisakah Kim Taehyung?”

Taehyung terkekeh mendengar nada putus asa Namjoon, “Baiklah, selamat malam.”

“Kau juga pergi tidur. Besok kita harus bekerja.”

***___***

 

Jimin duduk bersandar di kursi taman bunga ketika hari sudah hampir tengah malam. Jari-jarinya terus sibuk menekan-nekan layar ponsel dan kedua matanya fokus menatap kesana.

 

Bagaimana cara mengajak seorang gadis bicara untuk pertama kali?

 

Bagaimana cara untuk melakukan pendekatan pada seorang gadis?

 

Jimin membuka salah satu link terkait. Masih dengan fokus dan semangat yang terisi penuh, tanpa sadar ia membacanya dengan suara pelan.

“Cara pertama tarik perhatian gadis itu dengan kontak mata. Berikan dia pandangan sekilas, tunggu hingga dia mengetahuinya.” Jimin langsung menggeleng. Sementara di belakangnya, Jungwoo sedang menahan-nahan tawanya. “Tidak. Dia bahkan langsung menghilang saat melihatku.”

Ia melanjutkan membaca artikelnya, “Cara kedua, masuk ke dalam jarak berbicara. Jika dia melihat-lihat buku, lihatlah buku yang ada di dekatnya. Jika dia ada di sebuah bar, duduk di sampingnya dan pesankan dia minuman.” Jimin langsung tertawa kesal. “Dia bahkan tidak keluar dari kamarnya, bagaimana mungkin aku melihat buku atau memesankan dia minuman.” Sambil mendengus, ia mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku. “Bodoh. Internet bahkan tidak bisa membantuku.”

“Ini sebabnya kenapa kau harus pergi ke sekolah normal.”

Jimin seketika terlonjak dari duduknya ketika mendengar suara Jungwoo. Pria paruh baya itu tertawa geli sambil menjatuhkan diri di samping Jimin.

“Harusnya kau memberitahuku jika kau merasa kesulitan. Kau tau kan aku adalah penakluk wanita?”

“Ahjussi!”seru Jimin semakin jengkel. “Bukankah itu sangat tidak sopan jika kau mengurusi masalah orang lain? Kau bahkan mengagetkanku!”

“Aku tidak mengagetkanmu tapi kau yang terlalu tegang membaca artikel itu. Aku secara terang-terangan memanggilmu tapi kau tidak mendengarnya.”

“Ah, menyebalkan sekali.”

Jungwoo menatap Jimin dengan senyuman menyeringai, “Kau belum pernah berkencan sebelumnya, kan? Iya, kan?”

Melihat ekspresi wajah Jungwoo yang terlihat sedang menggodanya, Jimin semakin bertambah kesal, “Apa ahjussi pikir aku punya waktu untuk melakukan hal bodoh itu? Lagipula sekarang aku tidak sedang menyukai seorang gadis, aku sedang menjalankan tugasku.”

“Yah, yah, baiklah.”

“Apa maksudnya ‘yah, yah, baiklah’?”ketus Jimin.

“Dengar anak muda, jika kau—“

“Lupakan.” Jimin berdiri dari duduknya. “Aku akan melakukannya dengan caraku sendiri.”

“Apa kau akan mencarinya di internet lagi.”

“Ya!”

Jungwoo tertawa puas, “Baiklah. Kita lihat saja bagaimana caramu. Jika kau gagal, kau bisa bertanya padaku.”

“Isshh.” Jimin mendengus lalu pergi meninggalkan tempat itu.

***__***

 

Keesokan harinya, Jimin menghampiri bibi Yang dan langsung merebut nampan makanan yang sedang di bawanya. Ini adalah sarapan untuk tuan Putri, mungkin dengan cara ini mereka bisa bicara.

Namun, ketika Jimin berada tepat di depan pintu kamarnya dan mengetuk pintunya beberapa kali, pria itu tidak mendapat sahutan apapun. Pintu kamar tetap tidak terbuka dan bahkan tidak ada tanda-tanda jika gadis itu akan membukakan pintu untuknya.

Pria itu akhirnya menyerah dan meletakkan nampan makanan di depan pintu lalu meninggalkan rumah itu dengan wajah murung.

Tapi usahanya tidak hanya sampai di situ. Ia menulis sebuah surat di secarik kertas keesokan harinya dan membentuk kertas itu menjadi pesawat. Tepat pukul setengah enam pagi, sebelum gadis itu berdiri di balkonnya, Jimin menerbangkan pesawat kertas itu yang berhasil mendarat mulus di lantai balkon.

“Yess!” Pria itu bersorak senang sambil meninju udara lalu detik berikutnya langsung kabur bersembunyi di balik pilar ketika gadis itu tiba-tiba keluar.

Kaki Seulgi tanpa sengaja menendang pesawat kertas itu. Dari tempatnya, jantung Jimin terus berdegup kencang. Gadis itu mengambilnya dan membuka lipatannya. Saat ini, terlihat jelas jika dia sedang membaca isi dari lipatan kertas itu.

Jimin menarik napas panjang dan keluar dari tempat persembunyiannya. Memberanikan diri untuk melambaikan tangan pada gadis cantik itu.

Seulgi selesai membaca surat itu dan menyadari jika ada seseorang yang sedang melambaikan tangannya di bawah. Gadis itu menoleh, Jimin tersenyum lebar, namun ekspresi yang di lihat Jimin setelah itu adalah ekspresi kesal dan tidak senang. Gadis itu berpaling dan kembali masuk ke dalam kamarnya lagi.

Jimin menghela napas panjang, “Oh Tuhan… tugas ini sangat sulit.”

***___***

 

“Ini Ice Capucinno dan ini Ice Green tea. Apa ada lagi yang bisa ku bantu?” Taehyung tersenyum lebar pada dua murid SMU yang sedang memesan itu.

Keduanya menggeleng namun tidak bergerak dari tempatnya. Terus memandangi Taehyung dengan ekspresi mengerikan, seakan ingin menculik Taehyung dari sana.

“Nona, jika tidak ada yang di pesan lagi, kalian boleh duduk disana.”seru Taehyung lagi membuyarkan lamunan dua murid itu. Di belakang mereka, masih banyak orang-orang yang mengantri.

“O-oh, baiklah… Terima kasih, oppa.”

Mata Taehyung melebar, “Oppa?”

Sementara di sampingnya, Yoongi langsung terbatuk-batuk mendengar nada manis yang justru terdengar menggelikan itu. Dua murid itu langsung melarikan diri dari sana sambil menutupi wajah mereka karena malu membuat Taehyung hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala.

“Apa ada yang bisa ku bantu?” Ia menyapa pelanggan selanjutnya.

Tiba-tiba telepon berdering. Hari itu, semua orang memang sedang berada di cafe namun semua orang sedang sibuk dengan tugas mereka sehingga suara berisik itu terus terdengar di belakang.

“Hyung, cepat angkat teleponya.”bisik Taehyung pada Yoongi.

“Apa kau tidak lihat jika aku sedang sibuk?” dengusnya lalu ia menoleh kearah Hoseok, “Ya, angkat teleponnya.”

Hoseok menggeleng, “Aku harus melayani pelanggan, hyung. Oh? Selamat datang.” Pria itu langsung berlari kearah pintu dan menyambut pelanggan.

“Namjoon! Dimana Namjoon?”rutuk Yoongi kesal.

“Dia sedang mencuci piring di belakang.”

“Oh Tuhan, apa dia tidak bisa mengangkat teleponnya sebentar?” omel Yoongi sambil berjalan ke belakang. “Lagipula kenapa kita harus memasang telepon? Kita bahkan tidak melayani jasa delivery. Ini hanya menghabis-habiskan uang dan membuat kepalaku sakit. Bunyinya sangat berisik dan… HALO!”

Suara ‘HALO’ Yoongi membuat Taehyung dan Hoseok tersentak. Keduanya tersenyum kikuk pada pelanggan yang juga sama terkejutnya mendengar suara kesal pria mungil itu.

“Apa kau baru saja membentak ku?” Dari sebrang panggilan, terdengar suara yang tak kalah kesal.

“S-sonsengnim?”

“Ya! Kau pasti Min Yoongi, kan?!”

“Bukan! Aku Jung Hoseok!”Yoongi langsung mengelak. “M-maafkan aku, sonsenim.”

“Dasar, kalian benar-benar tidak berubah.”umpat tuan Jeon kesal. “Dengar, suruh Namjoon untuk mencarikan SMU yang bisa menerima murid pindahan dari luar negeri yang memiliki banyak catatan hitam.”

“Huh?” Kening Yoongi berkerut. “SMU? Untuk siapa?”

“Jangan banyak bertanya. Katakan itu pada Namjoon. Aku akan menghubungi kalian lagi nanti. Aku tutup.”

Tut… tut… tut…

“Sonsengnim? Sonsengnim?”

“Sonsengnim?!” Hoseok muncul di belakang Yoongi dan memekik tak percaya. “Itu telepon dari sonsengnim?”

Yoongi mengabaikan pertanyaan Hoseok dan langsung mencari Namjoon di belakang, “Namjoon-ah! NAMJOON!”

Namjoon yang sedang sibuk mencuci piring menghusap-husap telinganya setengah kesal, “Kenapa berteriak? Sejak tadi aku terus mendengar teriakanmu, hyung.”

“Sonsengnim menelpon!”

“Hah? Sungguh?”

“Dia menyuruhmu untuk mencari SMU yang bisa menerima murid pindahan dari luar negeri dengan banyak catatan hitam.”

“Apa?”tanya Namjoon bingung.

“Jungkook! Dia akan pulang!”

“OH TUHAN, Sungguh?!” Hoseok membuntuti langkah Yoongi dan kembali memekik.

“Berhenti berteriak! Kalian sangat berisik!”

***___***

 

“Kenapa kau tidak makan makananmu?” Bibi Yang menjatuhkan diri di depan Jimin dan tersenyum menatap anak laki-laki itu.

“Ahjumma, apa yang harus aku lakukan? Hari terus berlalu tapi sampai sekarang aku belum bisa berkenalan dengannya? Kenapa dia dingin sekali padaku. Padahal aku sudah berusaha untuk menarik perhatiannya.”

“Bukan dingin tapi mungkin dia merasa asing denganmu. Kalian kan belum pernah bertemu sebelumnya.”

“Lalu apa yang harus aku lakukan? Apa dia sama sekali tidak berniat untuk keluar kamar? Aku melihatnya dari CCTV tapi dia terus berbaring dan tidak melakukan apapun. Apa dia tidak bosan?”

“Dia hanya keluar untuk mengambil makanan dan mengembalikannya di depan pintu setelah menyelesaikannya. Bahkan nyonya besar harus masuk ke dalam kamarnya jika dia ingin bicara.”

“Kasihan sekali. Dia pasti merasa tertekan. Setiap pagi, aku melihatnya berdiri di balkon. Dia terlihat sangat menderita.”

Bibi Yang mengangguk, “Dia tidak pernah keluar selama beberapa tahun, dia pasti menderita. Tapi tidak ada yang bisa kita lakukan karena itu adalah perintah nyonya.”

“Wanita itu… Aku selalu merasa kesal setiap kali mengingatnya.”

Bibi Yang hanya tertawa. Setiap kali Jimin menjadi dirinya (bukan seorang kapten ataupun prajurit) wajahnya akan terlihat sangat lucu ketika dia sedang marah. Walaupun bertubuh kekar, namun Jimin memiliki pipi chubby seperti mandoo. Dulu saat dia masih kecil, orang-orang sering memanggilnya mandoo atau mochi karena pipinya sangat putih dan chubby.

“Oh! Benar juga!” Tiba-tiba ia berdiri mengagetkan bibi Yang. “Itu makan malam untuknya, kan?” Bibi Yang mengangguk. “Biasanya dia akan mengambil makanannya pukul 9 malam dan sekarang sudah pukul 8 malam. Baiklah, aku hanya perlu menunggu satu jam.”

“Menunggu?”

“Iya, aku akan menunggunya, ahjumma.”

“Busan, jangan bilang kau…”

Jimin tersenyum menyeringai sambil mengangkat nampan makanan, “Apa aku pernah bilang aku jika akan menerobos masuk ke dalam kamarnya?”

“Ya! Busan!”

Dengan cepat Jimin membawa nampan makanan itu pergi dan menuju rumah utama. Ia meletakkan nampan itu di lantai di depan kamar Seulgi dan duduk bersila di belakangnya.

Hanya satu jam. Seperti dia menunggu Saeron pulang dari sekolah. Ini tidak lama. Walaupun sejujurnya dia benci menunggu.

Ketika waktu perlahan-lahan berlalu, Jimin mulai merubah-rubah posisi duduknya. Kakinya terasa ngilu karena terus duduk sambil melipat kaki. Bokongnya juga mulai terasa pegal.

“Kapan dia akan keluar? Ini sudah pukul sembilan lewat. Apa dia tidak lapar? Apa dia sedang diet?”gumamnya. “Dia tidak mungkin—“

Klik.

Tiba-tiba pintu terbuka. Seulgi seketika terkejut saat ia melihat Jimin begitupun sebaliknya. Gadis itu sudah akan menutup pintu namun Jimin dengan cepat berdiri dan menahannya.

“Tunggu sebentar.”serunya. “Nona, tuan Putri, Seulgi-ssi.”

“Siapa kau?! Apa maumu?!”ketus gadis itu.

“Aku Jimin, aku—“

“Aku tidak perduli! Lepaskan!” Seulgi menarik gagang pintunya sekuat tenaga. Sebenarnya, Jimin jauh lebih kuat dari gadis itu namun ia melepaskan tarikannya karena merasa tidak tega.

“Nona, tunggu seben—“

BRAKK

Dan pintu tertutup cukup keras hingga wajahnya terasa seperti habis di tampar angin. Jimin mendesah. Ia mengacak rambutnya frustasi.

Tugasnya tidak semudah yang ia bayangkan. Jika terus begini, Saeron tidak akan mendapat pengobatan.

Putus asa, Jimin akhirnya mengetuk pintu kamar Seulgi secara sopan, “Nona, aku tidak memiliki maksud apapun. Aku hanya ingin mengajakmu berteman karena aku akan menjadi pengawal pribadimu. Apa aku sebegitu menyeramkan?”serunya pelan namun tidak ada sahutan. Ia kembali mendesah putus asa, “Baiklah nona, aku akan pergi. Tapi kau harus makan makananmu, oke?”

Tetap tidak ada sahutan dan tidak ada yang bisa di lakukan Jimin. Pria itu berbalik dan akhirnya memutuskan untuk pergi.

Tidak. Dia tidak kembali ke kamarnya tapi menuju ruang kendali CCTV. Beberapa orang yang sedang berjaga disana jelas senang karena Jimin mengusir mereka pergi dan menggantikan tugas mereka. Sudah banyak yang tau jika Jimin tidak suka bekerja secara berkelompok, dia lebih suka sendirian. Sementara dia melakukan sesuatu yang ingin dia lakukan, mereka bisa beristirahat sebentar.

Di layar monitor, gadis itu terlihat sedang berbaring di ranjangnya. Suatu hal yang biasa dia lakukan. Tidak ada TV atau hiburan lain di dalam kamarnya, hanya tumpukan buku-buku klasik yang bisa membuat semua orang tertidur hanya dengan membaca satu halaman.

“Apa dia benar-benar tidak bosan?” gumamnya. “Dia juga tidak memakan makan malamnya.”

Pria itu mendesah panjang sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Gadis itu sudah sangat kurus, jika dia tidak makan, dia bisa sakit.

Jimin melirik kearah arlojinya, sudah pukul 10 malam, lalu ia mendengus, “Hey, kau benar-benar tidak lapar?”

***___***

 

Gadis itu benar-benar tidak berpindah sedikitpun dari tempat tidurnya. Jimin sempat khawatir untuk beberapa saat, sempat berpikir jika dia mati karena kelaparan tapi ketika gadis itu bergerak, ia langsung menarik napas lega.

Mungkin dia sedang marah karena seseorang telah menerobos masuk ke dalam rumahnya tanpa ijin. Mungkin dia merasa terganggu dengan kehadiran orang asing. Orang-orang sepertinya pasti selalu waspada pada semua orang karena dia tidak memiliki seseorang yang bisa ia percaya.

“Haruskah aku membuat keributan malam-malam seperti ini?”

***___***

Jimin tidak main-main ketika dia bilang dia akan membuat keributan. Ia menyuruh Cha Dongyeol  dan dia adalah Kim Sukhwan mencari ‘sesuatu’. Setelah beberapa saat keduanya kembali dengan kantung plastik hitam.

“Kalian mendapatkannya?”tanya Jimin, di depan kamar Seulgi ia sudah siap dengan sebuah tangga.

Keduanya mengangguk, “Tapi kapten, apa kapten yakin akan melakukannya? Bagaimana jika terjadi sesuatu nona muda?”

“Tidak akan. Aku akan masuk dan berpura-pura menyelamatkannya.”

Sukhwan langsung mendengus, “Jadi hanya kau yang akan jadi pahlawannya?”

“Tsk, jangan berpikiran yang tidak-tidak! Ini adalah tugasku.” Jimin mengelak namun terlihat jelas jika ia sedang berusaha setenang mungkin sementara jantungnya mulai berdegup tak karuan. Mengabaikan itu sebisanya, ia berdehem kecil, “Baiklah. Kalian masukkan itu ke dalam kamarnya. Aku akan berjaga di depan pintu, oke?”

“Tapi nanti, kapten berjanji akan mentraktir kami jajangmyeon, kan?”

“Ish, aku tau, brandal. Cepat naik!”

Sukhwan mengangguk lalu menaiki tangga sementara Dongyeol berjaga di bawah. Secepat kilat, Jimin berlari menuju rumah utama. Berjaga-jaga di lantai bawah agar aktingnya nanti terlihat natural.

“Kenapa lama sekali?”dengus Jimin berjalan mondar-mandir gelisah.

“AAAAAKH!”

Senyum Jimin seketika mengembang ketika ia mendengar jeritan dari lantai dua. Buru-buru ia berlari keatas dengan wajah panik.

Seulgi keluar kamarnya ketakutan. Tanpa sadar langsung menghampiri Jimin dan mencengkram lengannya. Jimin sedikit terkejut.

“Di kamarku… ada tikus yang sangat besar. Tadi dia melompat ke ranjang tidurku.”serunya. “Tolong aku. Aku tidak menyukainya.”

“Nona muda, apa yang terjadi?!” mendengar jeritannya, Bibi Yang juga muncul bersama dengan Jungwoo. Dia langsung menghampiri Seulgi dan mendekapnya karena tubuhnya gemetar, “Nona muda tidak apa-apa? Tidak terluka?”

Seulgi menggeleng, nyaris menangis, “Ada tikus yang melompat ke ranjang tidurku.”

“Apa?!”pekik Bibi Yang dan Jungwoo bersamaan. Keduanya langsung melirik kearah Jimin yang langsung memasang wajah –bukan aku pelakunya-

Jimin berdehem kecil, “Aku akan mencari tikusnya.”serunya lalu masuk ke dalam.

Jungwoo menyusul langkah anak laki-laki itu kemudian berbisik, “Kau kan yang melakukannya?”

“Hm? Bukan aku.” Jimin menggeleng tanpa dosa.

“Ya! Kau gila? Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?!” Jungwoo ingin sekali meremas wajah Jimin saat itu. Tindakannya ini benar-benar gila.

“Tapi tidak ada yang terjadi, kan?”balas Jimin santai. “Nanti setelah aku mendapatkan tikusnya, sebaiknya ahjussi dan ahjumma pergi dan tinggalkan kami berdua. Ini adalah kesempatanku untuk bicara dengannya.”

Jungwoo masih mencibir kesal, “Dasar gila.”

“Yang penting aku punya kesempatan.” Jimin menjulurkan lidahnya lalu tersenyum penuh kemenangan. “Sekarang sebaiknya bantu aku cari tikusnya.”

Sementara di luar, bibi Yang terus mendekap Seulgi untuk menenangkannya. Sejujurnya, ini adalah interaksi pertama antara keduanya. Ini pertama kalinya ia bisa melihat wajah nona muda itu sedekat ini.

Bibi Yang tersenyum samar. Dia ingat bagaimana gadis itu ketika dia masih kecil. Dalam ingatannya, dia adalah anak perempuan yang sangat ceria. Dia juga ingat jika dulu dia suka memberi makanan untuk para pekerja dan membantu mereka mengerjakan pekerjaan mereka. Seulgi adalah anak yang baik namun ibu tirinya memperlakukannya sangat kejam.

“Sudah aman.” Tak lama Jungwoo dan Jimin keluar. Jungwoo mengangkat plastik hitam yang bergerak-gerak karena tikus itu mencoba kabur membuat Seulgi langsung mundur karena takut.

“Oh, maafkan saya jika telah membuat anda takut, nona.”seru Jungwoo kini menyembunyikan plastik hitam itu di balik tubuhnya.

Seulgi menoleh kearah bibi Yang, “Ahjumma, besok tolong ganti sepraiku dan bersihkan kamarku.”

Bibi Yang kembali tersenyum. Oh Tuhan, ini pertama kalinya setelah beberapa tahun dia memanggilku seperti itu lagi. “Baik, nona.”

“Kalau begitu, kami akan mengurus ini.” Jungwoo menarik lengan bibi Yang dan membungkuk pada Seulgi. “Dia akan menjaga nona disini.” Lalu menyeret bibi Yang pergi secara paksa.

Seulgi yang masih terlihat ketakutan melirik kearah Jimin yang kini menunjukkan senyuman lebar hingga dua mata kecilnya membentuk garis.

“Siapa kau?”seru Seulgi ketus.

“Aku Jimin. Park Jimin. Aku adalah pengawal pribadi anda, Putri… maksudku… nona.” Ia mengulurkan tangannya namun tidak mendapat respon dari Seulgi. Ia menarik tangannya kembali.

“Apa aku harus mengingat namamu? Aku punya banyak pengawal pribadi di luar sana.”

“Iya, kau harus mengingatnya.”balas Jimin cepat. “Karena aku pengawal pribadi yang di tugaskan khusus untuk menjagamu. Mereka yang berjaga di luar sana hanyalah pengawal biasa.”

Seulgi tertawa mendengus, “Untuk apa menjagaku? Bukankah kau tau aku tidak akan bisa keluar dari sini? Kau tidak perlu membuang-buang tenagamu karena aku tidak akan pergi kemana-mana.”

Seulgi sudah akan masuk ke dalam kamarnya namun Jimin menghadang langkahnya dengan berdiri di tengah-tengah pintu, “Tunggu… bukankah nona belum makan? Bagaimana jika kita mengobrol sambil makan sesuatu?”

“Aku tidak lapar!”ketus Seulgi. Namun Jimin kembali menghadangnya.

“Lagipula bukankah kamar nona sangat kotor sekarang? Tikus itu naik ke tempat tidur nona.” Jimin tersenyum kecil dan ternyata ucapannya berhasil mempengaruhi Seulgi. Wajah gadis itu kembali memucat. “Kalau begitu, ayo makan bersama. Aku yang akan memasak.”

TBC

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

2 thoughts on “The Demians part 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s