The Demians part 2

demian n

Tittle       : The Demians

Author    : Ohmija

Cast          : BTS and Seulgi Red Velvet, Irene Red Velvet, Kim Saeron and DIA Chaeyeon

Genre      : Action, Romance, Comedy, Friendship

“Dia sangat jarang meninggalkan kamarnya. Bahkan para pelayan terpaksa meninggalkan makanan di depan pintu kamar karena dia tidak pernah memakan makanan yang di sediakan di meja makan. Dia tidak suka keramaian, karena itu kami selalu mengosongkan rumah ketika dia keluar.”

“Kau tau aku juga tidak pintar bergaul, kan? Bagaimana mungkin aku bisa berteman dengan gadis sepertinya?”

“Kau tidak mau melakukannya? Itu adalah tugas yang sangat mudah! Kau hanya perlu mendekatinya dan Nyonya Besar akan membiayai biaya pengobatan Saeron. Bukankah seharusnya kau bersyukur?”

“Apa kau pikir tugasku hanya itu? Dia pasti memiliki rencana lain.”

“Pikirkan saja itu nanti. Yang jelas sekarang, kau hanya perlu mendekatinya, menjadi teman dan berusaha mebujuknya untuk mengubah surat wasiat itu.”

“Ini gila.”

“Lagipula bukankah kau sudah berteman dengan Saeron dan Daegu sejak kecil? Itu artinya kau masih memiliki kemampuan untuk bersosialisasi dengan orang baru.”

“Dia bukan temanku. Dan sekarang  Saeron adalah adikku.”

“Sudahlah lakukan saja. Jangan membantah lagi.”

***___***

 

“Akh sial. Wajahku di penuhi memar.”umpat Jungkook saat melihat pantulan wajahnya di cermin. “Bagaimana mungkin aku bisa pergi ke sekolah jika seperti ini?”

“Kau mendapat surat lagi.” Tuan Jeon meletakkan sebuah surat yang ia terima pagi ini di atas meja. “Sepertinya kita harus mencari sekolah baru.”

Jungkook langsung menoleh ke belakang, “Lagi?”

Tuan Jeon mengendikkan kedua bahunya, “Kau sudah bisa menebak isi surat itu, kan?”

Jungkook mendesah panjang sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai, “Aku hanya tidak masuk selama dua bulan. Kenapa mereka harus bersikap seperti itu? Mereka sangat tidak pengertian.”

“Ya, kau pikir sekolah mana yang akan mengijinkan muridnya tidak masuk sekolah dengan alasan demam?  Apa mungkin seseorang mengalami demam selama dua bulan?”

“Lalu apa aku harus jujur? Haruskah aku mengatakan jika alasanku tidak masuk karena aku sedang mengikuti street fighter? Haruskah aku menunjukkan wajahku yang seperti ini juga?” rutuk Jungkook membanting handuknya ke lantai. “Jika aku mengatakannya, aku akan di tangkap polisi dan mendekam di penjara selama beberapa tahun.”

Tuan Jeon mendengus, “Bukankah sudah ku katakan untuk berhenti? Kau memenangkan street fighter di  L.A, Hongkong dan China. Aku memintamu untuk berhenti tapi kau bersikeras untuk mengikuti pertandingan di Callifornia. Aku sudah memperingatkanmu, brandal.”

Jungkook melipat kaki kanannya di atas lutut kirinya sambil tertawa, “Permisi orang tua, apa kau lupa jika semua yang ku lakukan itu untuk membayar hutang-hutang kita? Jika aku tidak bekerja seperti itu, Namjoon hyung, Yoongi hyung, Hobi hyung dan yang lain bisa saja digantung di Namsan Tower oleh rentenir itu.”

Tuan Jeon ikut tertawa setengah kesal lalu menatap anak laki-lakinya itu, “Permisi tuan otot babi, tapi apa kau lupa jika mereka adalah orang-orang yang terlatih? Kau pikir para rentenir itu bisa mengalahkan mereka dengan mudah? Mereka adalah prajurit andalanku!”rutuknya jengkel. “Dan juga.. siapa yang kau panggil orang tua, huh? Bahkan jika aku mau, aku bisa menikah lagi.” Tuan Jeon melempar bantal kearah Jungkook yang langsung mengenai wajahnya.

“Appa! Tetap saja aku tidak bisa membiarkan mereka menutup sekolah bela diri kita! Walaupun mereka bisa mengalahkan rentenir tapi mereka tidak akan bisa mengalahkan polisi. Iya kan? Jika sekolah kita di tutup, mereka tidak memiliki tempat tinggal lagi.”

“Ya! Apakah itu bisa di sebut sekolah? Mereka bahkan tinggal dan makan secara gratis. Dan juga… apa kau pikir mereka adalah anak kecil? Mereka bahkan lebih tua darimu! Mereka bisa bekerja untuk menghidupi diri mereka sendiri.”omel Tuan Jeon.

Jungkook langsung menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, memeluk bantal sambil memajukan bibirnya, “Mereka tetap saudaraku.”cicitnya pelan.

Tuan Jeon menghela napas, “Lagipula hutang kita sudah lunas sejak pertandingan terakhir. Kau tidak seharusnya mengikuti pertandingan lagi. Kau beruntung hanya wajahmu yang terluka, bagaimana jika nasibmu seperti beberapa peserta lain? Bahkan ada beberapa dari mereka yang meninggal.”

“Appa  menginginkanku mati?”

“Aku mengkhawatirkanmu, brandal.”balas tuan Jeon cepat. “Ayo akhiri ini dan hiduplah seperti remaja seumuranmu. Kau harus pergi ke sekolah dan bermain bersama teman-temanmu.”

“Aku melakukan pertandingan ini karena kita sudah tidak memiliki apapun. Setidaknya kemenanganku kali ini bisa menjadi simpanan kita untuk hidup.”balas Jungkook pelan. “Bukankah sudah lama kita tidak makan daging? Setiap hari kita hanya makan telur dan karena itu kulitku menjadi gatal.” Tuan Jeon menatap anak laki-lakinya itu, bangga namun juga merasa sedih. “Sejak kecil appa selalu mengajariku semua jenis bela diri. Bahkan appa memperlakukanku seperti tentara. Mengajariku cara menembak, memegang pisau dan teknik lain. Aku tidak mau menyia-nyiakan kemampuan itu jadi aku mengikuti pertandingan-pertandingan seperti ini. Sekarang appa bisa tersenyum bangga karena semua hal yang telah appa ajarkan akhirnya berguna.”

Tuan Jeon seketika tergugu mendengar ucapan Jungkook. Anak ini…

“Dan juga appa…”Jungkook berpindah tempat, duduk di sebelah ayahnya. “Bagaimana jika kita kembali saja? Kita sudah tidak memiliki apapun yang harus di lakukan disini. Dan appa juga memintaku untuk berhenti menjadi fighter. Bagaimana jika kita kembali saja, hm?”

“Kau tau itu tidak mungkin, kan?”

“Kenapa? Hutang kita sudah lunas, tidak akan ada yang mengejar kita lagi. Dan kita sudah tidak terluka lagi atas kematian eoma. Kita bisa kembali ke Korea dengan tenang sekarang.” Jungkook mengguncang-guncang lengan ayahnya sambil merengek. “Aku sudah tidak betah berada disini appa. Aku bahkan tidak memiliki teman karena aku terus berpindah-pindah sekolah. Aku merindukan semua hyung, aku ingin makan ddokbukkie dan aku ingin memakai seragam saat pergi ke sekolah. Ayolah appa, jika appa masih mengkhawatirkan tentang uang, kita memiliki simpanan dan juga kita bisa membuka usaha disana. Bagaimana?”

“Ya, jangan merengek seperti anak kecil.” Ketus tuan Jeon sambil melepaskan cekalan Jungkook namun Jungkook kembali meraih lengan ayahnya.

“Appa… ayolah. Kabulkan permintaanku kali ini. Aku tidak pernah meminta apapun, kan? Kali ini saja appa.”

***___***

 

Bukankah rumah ini terlalu besar jika hanya untuk menjaga satu anak perempuan? batin Jimin sambil geleng-geleng kepala. Anak laki-laki itu berkeliling di sekitar rumah besar itu untuk mengenal lingkungan barunya sekaligus rekan-rekan kerja lain. Banyak pengawal berjaga di belakang tembok tinggi rumah, juga beberapa pengawal lain yang berkeliling untuk memantau keadaan sekitar.

Jimin menghela napas panjang lalu berpaling kearah Jungwoo, “Apa aku sedang berada di daerah perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara?”cibirnya. “Kenapa kalian melakukan ini? Bukankah ini terlalu berlebihan? Dan… Oh Tuhan, bahkan ada beberapa tim medis?” Matanya melebar tak percaya saat melihat beberapa orang berbaju putih lewat tak jauh di depannya.

“Ini perintah nyonya Besar. Karena keberadaan nona Kang tidak boleh di ketahui oleh siapapun jadi beliau menyiapkan semua ini.”

“Tapi ini sangat keterlaluan.”seru Jimin frustasi. “Apa dia bisa merakit bom? Dia jago menembak? Apa dia jago berkelahi?”

“Jaga bicaramu, agen Park. Kau harus menuruti perintah.”

“Agen Park pantatku.”umpat Jimin pelan, masih sedikit kesal.

“Ish dasar anak ini.”

“Park Jimin? Benarkah itu pria Busan kami?” Suara seseorang tiba-tiba terdengar. Jimin menoleh dan seketika senyumnya mengembang lebar. Ia berlari menghampiri seorang wanita tua yang memanggilnya tadi dan langsung memeluknya erat.

“Ahjumma.”

“Oh Tuhan, kau sudah dewasa.” Wanita tua yang ternyata adalah ahjumma Yang itu balas memeluk Jimin.

“Aku sangat merindukan ahjumma. Apa ahjumma baik-baik saja?” Jimin menguraikan pelukannya, memandangi wajah yang sudah  lama tidak di lihatnya itu.

“Hampir mati karena merindukanmu.”

Jimin seketika tertawa dan kembali memeluknya erat. “Ahjumma, aku sangat senang karena bisa melihat ahjumma lagi.”

“Eum. Aku juga merasa sangat bahagia sekarang. Aku  bersyukur karena kau baik-baik saja.” Ahjumma Yang membekap kedua pipi Jimin dengan telapak tangannya, senyumnya mengembang lebar. Bahagia. Setelah tiga tahun berpisah tanpa kabar, akhirnya salah satu anak laki-laki kesayangannya kembali. “Kau sudah makan, hm? Ayo masuk, ahjumma akan memasak sesuatu untukmu.”

***___***

 

“Eoma, aku pulang dulu. Aku akan kembali lagi secepatnya. Eoma jangan lupa makan dan dengarkan kata-kata suster, oke?’ Anak Laki-laki itu mengecup puncak kepala ibunya lalu menghusapnya lembut. Untuk sesaat ia tertegun, memandangi ibunya yang terus berpaling darinya. Hingga akhirnya ia menarik napas panjang, mengumpulkan kekuatan dan meninggalkan tempat itu.

“Oh? Taehyung? Kau mengunjungi ibumu?”

Langkah anak laki-laki bernama Taehyung itu terhenti, ia menoleh dan langsung membungkukkan tubuhnya sopan, “Iya. Tadi aku sudah bertemu dengan eoma. Terima kasih karena selalu merawat ibuku, suster.”

“Kenapa kau berterima kasih? Itu adalah tugasku.”Wanita paruh baya itu tersenyum. “Jangan khawatir. Selama seminggu ini, ibumu sudah tidak pernah histeris lagi dan ia juga makan dengan baik. Kau lihat sendiri, kan? Dia sedikit gendut.”

Taehyung tertawa, “Sekali lagi terima kasih karena sudah merawat ibuku, suster. Aku akan datang lagi nanti.”

Suster itu mengangguk, “Baiklah. Hati-hati dalam perjalanan.”

Taehyung menganggukkan kepalanya sekali lagi sebelum benar-benar pergi. Sesampainya di luar, ia berhenti sejenak untuk mengangkat ponselnya yang berdering.

“Oh? Ada apa Namjoon hyung?”serunya langsung.

“Kau dimana?”

“Aku di rumah sakit. Tadi aku mengunjungi ibuku.”

“Kenapa kau tidak memberitahuku? Aku mencarimu kemana-mana.”

“Maafkan aku. Tadi aku juga mencari hyung tapi hyung tidak ada. Tapi aku sudah berpesan pada Yoongi hyung jika aku akan pergi sebentar. Apa Yoongi hyung tidak memberitahu hyung?”

“Sungguh? Dia tidak mengatakan apapun.”

“Aaaah dasar. Aku akan pulang sekarang.”

“Tunggu, bisakah kau membelikan beberapa bahan makanan? Aku akan mengirimkan daftarnya .”

“Eum. Aku akan membelinya hyung.”

***___***

 

Jimin lagi-lagi hanya bisa geleng-geleng kepala begitu di bawa ke sebuah rumah yang terletak di belakang rumah utama. Sebuah rumah berukuran sederhana yang di persiapkan untuk para pengawal yang bertugas untuk menjaga tempat itu. Dan disampingnya, terdapat lagi dua rumah lain. Satu untuk tim medis dan satunya lagi untuk para pelayan.

“Aku seperti sedang berada di istana.”ucapan Jimin membuat ahjumma Yang tertawa. Wanita itu menghidangkan beberapa jenis makanan yang telah ia masak di hadapan lalu duduk di sampingnya.

“Ini memang istana.”

“Apa aku akan tidur disini? Bersama dengan yang lain?”

“Ada ranjang kosong di kamar yang ada di ujung lantai dua. Kau bisa menempatinya.”sahut Jungwoo.

Mata Jimin sontak membulat, “Ada berapa orang di dalam satu kamar?”

“Karena ada 21 pengawal dan 7 kamar, jadi satu kamar di tempati oleh tiga orang.”

Jimin berdecak, “Bahkan lebih buruk dari asramaku dulu.”

“Ya brandal.” Jungwoo memukul kepala Jimin dengan sendok membuat anak laki-lak iitu langsung mengaduh.  “Kenapa kau selalu mengeluh? Ini bahkan belum menjadi hari pertamamu.”

“Ahjussi kenapa memukulku?”sahut Jimin tidak terima.

“Ngomong-ngomong…” suara ahjumma Yang terdengar ragu. Jimin dan Jungwoo menoleh, menatapnya bersamaan. “Bagaimana keadaan Saeron? Dia masih koma?”

Jimin mengangguk pelan dengan senyum kecut, “Aku masih menunggu pendonor hati untuknya. Tadi pagi sebelum datang kemari, orang-orang Hangsan telah memindahkannya ke ruangan khusus dan memerintahkan beberapa perawat untuk menjaganya selama aku disini.”

Ahjumma Yang langsung menghela napas panjang, “Aku selalu berdoa agar dia bisa segera sembuh. Aku merindukannya.” Ia mengulurkan tangan menepuk lengan Jimin pelan. “Kau juga harus kuat menghadapinya, oke? Karena hanya kau satu-satunya keluarga yang ia miliki.”

Jimin hanya membalasnya dengan senyuman kecil penuh rasa terima kasih. Selain orang tuanya, ahjumma Yang adalah seseorang yang ia anggap seperti keluarganya. Dia selalu memperhatikan dirinya dan Saeron seperti seorang ibu.

“Lalu… apa sudah ada kabar dari Daegu?” Kali ini pertanyaan ahjumma Yang membuat Jimin terdiam untuk beberapa saat. Berusaha menormalkan hatinya dalam jangka waktu yang teramat singkat dan kembali memakan makanannya.

“Noona, kita sudah sepakat untuk tidak membahasnya lagi, kan?” Jungwoo berseru setengah kesal.

“Karena aku merasa jika Daegu belum mati. Dia juga tidak bersalah.”

“Dia membunuh ayah tirinya dan noona bilang dia tidak bersalah? Bahkan setelah itu dia membunuh ibunya dan bunuh diri. Sudah ku bilang anak itu sangat liar. Bersyukur saat itu dia tidak di hukum mati oleh nyonya besar.”

“Aku mengenalnya dengan sangat baik. Walaupun dia selalu memberontak tapi dia tidak mungkin membunuh orang lain.”

“Noona hanya mengelak kenyataan.”balas Jungwoo.”Sudahlan noona. Jangan bahas tentangnya lagi. Lagipula dia sudah mati.”

Di tempatnya Jimin terus terdiam. Daegu… benarkah dia sudah mati?

***___***

 

Dia membuka pintu ruangan yang kini menjadi kamarnya dan menemukan dua orang lain berada di dalam, terkejut saat Jimin tiba-tiba masuk. Keduanya sudah mendengar jika akan ada orang baru yang akan bekerja di tempat ini dan tidak di sangka orang baru itu ternyata masih sangat muda.

“Kau agen baru yang datang dari China itu?” Seorang pria dari ranjang tingkat atas menjulurkan kepalanya, bertanya pada Jimin dengan nada penuh otoritas.

Jimin mengangguk santai, “Iya. Aku Park Jimin.” Lalu meletakkan tas ranselnya di atas ranjang tunggal yang terletak di sisi kanan.

“Berapa umurmu?” Kini giliran pria yang menempati ranjang bawah yang bertanya.

“Aku 19 tahun.”

“Bukankah seharusnya kau yang menempati tempat ini?” Pria yang berada di ranjang atas berseru setengah kesal. “Tunjukkan sopan santunmu.”

“Tapi kau sudah menempatinya dan hanya ranjang ini yang kosong.”balas Jimin cuek. “Kau tidak mungkin memintaku untuk tidur bersama, kan?”

“Ya! Dasar brengsek!”

“Jangan karena kau berada di bawah perintah langsung nyonya besar, kau bisa bersikap seenaknya. Kau hanyalah agen baru jadi kau—“

“Busan dari tim Alpha90.”

Ucapan Jimin barusan seketika membuat  dua pria itu tersentak, “Apa?”

“Kalian pasti pernah mendengarnya, kan?”

“K-kau? Bu..busan…”

Tidak mungkn. Jadi dia… Busan? Kapten paling muda yang bahkan masuk ke dalam tim pasukan khusus!

Seketika pria yang berada di ranjang tingkat atas langsung melompat turun. Bersama dengan pria yang berada  di ranjang bawah, keduanya membungkukkan tubuh mereka sopan. “Annyeonghaseo, kapten. Kami tidak tau jika kau adalah Busan dari tim Alpha90. Maafkan kami.”

Jimin membuka kancing kemejanya dan menjatuhkan diri di sisi ranjang, “Siapa nama kalian dan kalian berada di tim mana?”

“Aku Cha Dongyeol  dan dia adalah Kim Sukhwan. Kami dari tim Eagle.”

“Tim Eagle?” Jimin mengangguk-angguk mengerti. Kemudian ia menatap keduanya dengan senyum, “Jadi sekarang aku boleh tidur di ranjang ini, kan?”

“Tentu!!”

***___***

 

Hari masih sangat pagi saat Jimin sudah siap dengan seragam kerjanya. Ia berjalan meninggalkan kamar serta Cha Dongyeol dan Kim Sukhwan yang masih tertidur pulas di kasur mereka. Sejak adiknya di nyatakan koma, dia memiliki jam tidur yang sangat sedikit dan lama-kelamaan dia menjadi terbiasa karena itu. Dia tidak pernah tidur lebih dari 3 atau 4 jam sehari karena dia harus selalu terjaga untuk menjaga Saeron.

Matahari bahkan belum muncul, putih embun masih terlihat menyelimuti tempat itu. Beberapa penjaga yang kemarin malam ia lihat selalu berdiri di balik pagar kini duduk bersandar pada tembok. Beberapa dari mereka terlihat mengantuk.

Jimin menatap mereka satu-persatu. Mereka bukan wajah-wajah yang pernah di kenalnya dulu. Mungkin mereka adalah orang-orang baru.

“Masuklah. Aku akan berjaga.”seru Jimin pelan. Suaranya sontak membuat lima penjaga itu terbelalak lebar dan berdiri dalam posisi siap.

“Kami akan berjaga, kapten!”seru mereka serempak.

“Masuklah. Aku yang akan berjaga disini.”

Para penjaga itu tersentak, “Kapten, tapi—“ seorang pria yang mungkin masih berusia 21 tahun berseru ragu.

“Jika ketua tau, kami bisa di bunuh.”sahut pria yang lain.

“Aku yang akan bertanggung jawab. Lagipula sebentar lagi jam pergantian shift.”

“Tapi…” mereka masih ragu.

“Kalian tidak mau mendengarkan perintahku?”

“Bukan begitu, hanya saja…”

“Sudah ku bilang aku yang akan bertanggung jawab. Apa kalian tidak mendengarkan ucapanku tadi?”

Wajah-wajah ragu itu kini berubah menjadi senyuman lebar. Mereka semua mengangguk senang, “Terima kasih, kapten!”

Kelima penjaga itu membungkukkan tubuh mereka sopan lalu berlarian menuju rumah huni. Setelah terjaga semalaman akhirnya mereka bisa tidur.

Jimin memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Kedua matanya berkeliling  menatap sekitar. Memang benar, pemandangan malam hari dan pagi hari terlihat berbeda. Semalam, ia tidak melihat pohon-pohon hias yang tumbuh di sisi kiri dan taman bunga di sisi kanan. Dia hanya melihat kolam air mancur yang terletak di tengah halaman depan.

“Dasar, mereka memang suka membuang-buang banyak uang.”dengusnya sambil geleng-geleng kepala.

Ia bergerak menelusuri sisi kanan rumah itu. Taman bunga itu terlihat indah. Walaupun bunga-bunga mekar mulai berguguran karena sebentar lagi musim dingin.

“Kau menyukai tempat seperti ini, kan?” ia bergumam pelan. “Mungkin bunga-bunga yang ada di kamarmu sudah layu karena oppa tidak memiliki waktu untuk menyiramnya. Nanti saat kau bangun, oppa akan membelikan bunga-bunga yang baru untukmu.Kau harus merawatnya.”

Jimin memejamkan kedua matanya. Membayangkan wajah tersenyum Saeron yang seakan-akan mampu mendengarnya. Saat ini, hanya itu yang bisa dia lakukan.

Tunggulah sebentar lagi. Kau pasti akan segera bangun.

“Busannie.” Suara seseorang terdengar dari belakangnya. Jimin membuka matanya dan menoleh. Ternyata bibi Yang. “Aku tau kau pasti bangun sangat awal jadi aku sudah menyiapkan sarapan untukmu. Ayo makan.”

Jimin tersenyum, “Terima kasih,ahjumma.”

Pria itu sudah akan bergegas pergi namun langkahnya seketika terhenti saat tanpa sengaja matanya melirik kearah seseorang.  Ia mendongak, menatap kearah balkon yang ada di lantai dua. Seorang gadis berdiri di sana dengan piyama putih. Horden kamar yang bergoyang-goyang menyembunyikan wajahnya. Jimin sedikit bergeser dan menjulurkan kepalanya. Ketika hembusan angin menyibakkan horden itu, barulah Jimin bisa melihat dengan jelas bagaimana wajahnya.

Rambutnya panjang. Lurus kecokelatan. Tubuhnya sangat kurus dan kulitnya sepucat salju.

Tapi… dia sangat cantik.

Jimin tertegun untuk beberapa saat. Tanpa sadar menatap gadis itu cukup lama. Menyadari jika ada seseorang yang sedang memandanginya, gadis itu menoleh, membalas tatapan Jimin yang langsung membuat pria itu terlonjak. Buru-buru ia mengalihkan tatapan dan bersikap seolah-olah ia tidak melihatnya. Dan beberapa saat kemudian, ketika ia mengembalikan tatapannya kearah balkon, gadis itu sudah tidak ada.

***___***

 

Jimin menyantap sarapannya sendirian. Walaupun dia sedang tidak duduk sendirian di ruang makan. Bibi Yang duduk di hadapannya, hanya menatapnya menyantap sarapannya.

“Kenapa ahjumma tidak makan juga?”

“Hanya melihatmu makan seperti ini saja sudah membuatku kenyang.”

“Jangan begitu. Ahjumma harus makan juga.” Jimin menyodorkan piring kosong kearah bibi Yang namun bibi Yang menggeleng.

“Yang ku inginkan hanya melihatmu makan seperti ini.”

“Ahjumma…” Jimin mengulurkan tangannya, menggenggam salah satu tangan bibi Yang. “Terima kasih karena sudah bersikap baik padaku.”

“Kau sudah seperti anakku sendiri. Jadi tidak perlu berterima kasih.” Bibi Yang balas tersenyum sambil menepuk-nepuk punggung tangan Jimin. “Nanti ketika Saeron sudah sembuh, kau akan membawanya kemari, kan?”

Jimin mengangguk, “Aku akan membawanya pindah kesini. Karena sekarang aku bekerja di Korea jadi aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian di China.”

“Apa selama ini kalian hidup dengan baik?’

“Yah.” Jimin mengangguk lagi. “Aku mengambil beberapa pekerjaan. Setiap pagi, aku harus mengantarnya ke sekolah karena banyak pria yang mencoba untuk menggodanya. Malam harinya, dia akan datang ke tempat kerjaku dan menungguku hingga selesai bekerja lalu kami akan pulang ke rumah bersama.” Ia menceritakannya dengan nada antusias. “Kami tinggal di rumah sewa yang sangat kecil. Karena rumah itu adalah satu-satunya tempat yang murah. Tapi walaupun begitu, dia mengubah rumah kami seperti taman bunga. Dia meletakkan banyak bunga di berbagai sudut rumah yang terkadang membuatku kesal. Biar bagaimanapun, aku adalah laki-laki.”

Bibi Yang tertawa mendengar cerita Jimin, terlebih lagi melihat sorot matanya yang berbinar-binar saat dia menceritakan hidupnya dan Saeron,“Kenapa kau sangat protektif seperti itu? Saeron sudah dewasa, biarkan dia pergi ke sekolah sendiri.”

“Ahjumma tau kan jika dia sangat cantik? Semua pria mencoba mendekatinya! Aku tidak akan mengijinkan siapapun yang mau mendekati adikku!”

“Lalu mau sampai kapan kau melakukannya? Sampai dia berada di perguruan tinggi?”

Jimin mengangguk tanpa ragu, “Jika itu diperlukan, aku akan melakukannya.

“Tsk, dasar.” Bibi Yang geleng-geleng kepala.

Jimin hanya terkekeh sambil melanjutkan mengunyah makanannya. Setelah menelan kunyahannya, dia kembali berseru, “Ahjumma, ngomong-ngomong… apa kamar si tuan putri berada di depan taman bunga?”

“Eoh? Darimana kau mengetahuinya?”

“Tadi pagi aku melihatnya berdiri di balkon. Sepertinya dia menatap ke jalanan.”

“Sungguh?!” Bibi Yang langsung tersentak. “Apa dia mencoba untuk melarikan diri?”

“Dia pernah melarikan diri?” Jimin balas bertanya, terkejut.

“Tidak pernah.”

“Sudah ku duga. Dia tidak mungkin melarikan diri dari rumah yang di jaga oleh 21 pengawal. Kecuali dia punya kekuatan teleportasi.”

Bibi Yang mendengus menatap Jimin, “Lalu kenapa kau tidak menyapanya? Bukankah itu adalah tugasmu?

“Bagaimana caranya? Dia bahkan langsung masuk ke dalam kamar saat menyadari keberadaanku. Sepertinya dia sangat ketus.”

“Bukan ketus. Hanya tidak terbiasa dengan orang-orang asing.”

“Apa dia tidak punya teman sama sekali?”

“Tidak punya. Nyonya besar selalu mengurungnya. Saat dia berada di Amerika, dia juga tinggal di rumah khusus seperti ini.”

“Oh Tuhan, kasihan sekali.”

“Karena itu aku sudah mencoba untuk mendekatinya dan mengajaknya bicara. Tapi sepertinya dia juga tidak menyukaiku.”

“Itu karena dia belum terbiasa.” Balas Jimin cepat. Bibi Yang mengangguk setuju. “Jika seperti itu, bagaimana caranya aku mendekatinya? Haruskah aku menerobos masuk ke dalam kamarnya?”

“Ya! Jangan lakukan hal-hal seperti itu. Nona muda memiliki gangguan kepanikan yang hebat. Jika dia merasa takut, dia akan mengalami sesak napas.”

Mata Jimin membulat lebar, “Sungguh?”

“Dokter Kim yang memberitahuku. Dia yang menangani nona muda sejak nona muda masih kecil.”

“Wanita itu benar-benar jahat.” Kata Jimin dengan nada pedas. “Dia juga serakah.”

“Tapi dia yang akan menyelamatkan Saeron.” Perkataan bibi Yang membuat Jimin langsung terdiam.”Jangan bicara seperti itu. Ingatlah sumpahmu. Kau harus menghormati atasanmu dan tidak membocorkan rahasia perusahaan pada siapapun. Jangan lupa jika kau adalah seorang prajurit.”

“Tapi atasanku adalah tuan Kang.”desah Jimin.

“Saat ini perusahaan di pimpin oleh nyonya besar. Jadi sekarang atasanmu adalah dia.”

“Baiklah. Aku tau.”

“Sekarang habiskan makananmu dan kembali bekerja.”

***___***

 

Dia kembali ke taman bunga. Duduk di sebuah kursi yang menghadap tepat ke kamar gadis itu. Dia tidak bisa memikirkan cara apapun. Jadi di hari pertamanya ini, dia hanya akan menunggu di sini sampai gadis itu keluar.

Sejak kecil hingga umur 17 tahun, dia selalu menghabiskan waktunya untuk berlatih lalu menjalankan tugas. Karena dia lahir di tengah-tengah kehidupan militer yang keras. Ayahnya adalah seorang pensiunan tentara yang beberapa tahun belakangan bekerja sebagai bodyguard di Hangsan Group. Sementara ibunya adalah salah satu tim medis yang juga bekerja di sana. Karena lahir di dalam lingkungan seperti itu, mau tidak mau Jimin tumbuh mengikuti jejak ayahnya.

Dia memulai pelatihannya di umur 2 tahun dan akhirnya terdaftar sebagai pegawai tetap Hangsan Group ketika usianya 14 tahun dan menjadi kapten di  usia 15 tahun. Di usianya yang masih sangat muda, dia telah memimpin sebuah tim.

Alpha 90. Semua orang yang bekerja di Hangsan Group juga mengetahuinya. Itu adalah tim pasukan khusus yang berisi anak-anak muda yang sangat terlatih. Pemerintah beberapa kali mempekerjakan mereka untuk menjalani tugas luar negeri. Seperti memata-matai Korea Utara atau bahkan membantu tentara Korea Selatan yang menjaga perbatasan.

Di antara anak-anak muda itu, ada dua prajurit yang sangat terkenal. Mereka memiliki kemampuan yang hampir menyerupai pasukan khusus tentara Korea Selatan. Dan keduanya sejak dulu juga telah menjadi rival dalam memperebutkan posisi kapten tim Alpha90. Tapi pada akhirnya, Jimin-lah yang menang. Pada akhirnya, Jimin yang di tunjuk untuk memimpin tim pasukan khusus itu.

Seumur hidupnya, dia tidak pernah mengikuti sekolah umum dan tidak pernah bersosialisasi dengan orang-orang luar. Teman-temannya hanyalah anak-anak yang juga terlahir di dalam lingkungan itu. Karena itu, dia sangat payah dalam hal bersosialisasi.

Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Jimin mendesah panjang. Sepertinya hari ini, gadis itu tidak akan keluar lagi.

TBC

 

 

 

Iklan

2 thoughts on “The Demians part 2

  1. Anfa berkata:

    jimin jdi kapten tim alpha90 (terinspirasi sma dots n kyaknya) hhhee..
    Cerita.a mereka msih remaja kn?? Tpi udah pda keren aja,. Jungkook sma jimin udah lmayan tahu alur.a ( hhhe,asal nebak) , tpi taehyung d part ini baru dikit yha, msih blum paham sma alur.a.. Next chap smoga udah mulai bsa ngikutin alur.a,.. 😉

  2. nurulimania berkata:

    Kak mijaaaa. Cerita baruuuu ulalala. Okay okay. Ini ceritanya is jimin kapten pasukan khusus sepeti DOTS kan yah. Terus cerita seulgi seperti anna di K2. Tapi di sini karena harta. Okay keren TOP bingit ceritanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s