The Demians part 1

demian n

Tittle       : The Demians

Author    : Ohmija

Cast          : BTS and Seulgi Red Velvet, Irene Red Velvet, Kim Saeron and DIA Chaeyeon

Genre      : Action, Romance, Comedy, Friendship

Saat dia berumur 21 tahun nanti, gadis itu harus mati.

 

Wajahnya sudah tertutupi dengan darah saat dia kembali tersungkur ke lantai begitu mendapatkan pukulan di wajahnya. Suara-suara penonton langsung menggema, meneriakkan namanya dan menyuruhnya untuk segera berdiri.

“BERDIRI! CEPAT! JEON JUNGKOOK CEPAT BANGUN!”teriak tuan Jeon ikut menyoraki anaknya.

Anak laki-laki berusia 16 tahun itu menggelengkan kepalanya, mencari kesadaran dan terhuyung-huyung memaksa tubuhnya unuk berdiri.

“CEPAT LAWAN DIA!!”

“ARRGGGHHH!” Anak laki-laki bernama Jeon Jungkook itu berteriak mengumpulkan kekuatan sambil berlari menghampiri musuhnya dan memberikannya pukulan serta tendangan bertubi-tubi. Tekadnya sudah bulat, hari ini dia harus makan daging!

***___***

 

“TOSS!” Ayah dan anak itu bersulang dengan sekaleng bir dan minuman soda, merayakan kemenangan tertinggi yang akhirnya bisa di raih oleh Jungkook.

“Akh.” Jungkook mengaduh karena ia merasakan sakit di sudut bibirnya ketika ingin minum. “Aaah, brengsek. Aku terluka dimana-mana.”

“Ya! apa kau sedang mengumpat?”

“Tidak. Aku bilang aku lapar.” Jungkook menggeleng lalu mengambil salah satu potongan pizza yang ada di depannya. “Berhentilah minum appa. Appa sudah mabuk.”

“Ini karena aku sedang bahagia!” Tuan Jeon merangkul pundak Jungkook, ingin mencium pipinya namun Jungkook langsung mendorong tubuh pria paruh baya itu hingga ia terjatuh ke belakang. “Uh? Apa ada gempa bumi? Kenapa tempat ini rasanya bergoyang?”

“Aaah, dasar. Jangan minum lagi. Appa sudah mabuk.”omel Jungkook.

Tuan Jeon menggeleng, sambil berusaha kembali duduk di kursinya,

“Anakku, terima kasih. Karenamu, hari ini kita bisa makan enak, besok dan bahkan mungkin hingga 10 tahun ke depan. Kita bisa makan enak setiap hari!”

“Appa, sekarang tidurlah. Besok kita harus pergi ke bank untuk mencairkan ceknya.”

“Aku tau.” Tuan Jeon mengangguk-angguk. “Kau juga harus istirahat. Besok kita pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan lukamu.”

Jungkook tidak bersuara. Ia mengambil sebuah bantal dan meletakkannya di lantai di sisi ayahnya lalu menarik lengan pria itu, memaksanya tidur.

“Jangan khawatir, appa. Kita bisa makan enak setiap hari. Aku akan mencari uang yang banyak.”

Anak laki-laki itu duduk di sisi ayahnya sambil menatapi pria paruh baya yang kini sudah terlelap itu. Helaan napasnya terdengar panjang. Ini sudah puncaknya, itu artinya mereka harus pindah lagi. Karena sudah tidak ada yang bisa mereka lakukan disini. Setelah ini, kemana mereka harus pergi?

Jungkook kembali menghela napas panjang lalu berdiri dan berjalan kearah cermin besar. Di tatapnya pantulan dirinya disana. Penuh luka.

Sejak ibunya meninggal ketika ia masih berusia 10 tahun dan ayahnya yang di pecat dari perusahaan, dia dan ayahnya memang selalu hidup berpindah-pindah. Berpindah-pindah dari satu pertandingan ke pertandingan lain. Malam ini, dia sudah memenangkan pertandingan tertinggi. Itu artinya, tempat ini tidak lagi bisa di jadikan tempat untuk mencari uang.

“Setelah ini, kami harus pergi kemana?”

***___***

 

Rumah mewah itu terlihat sangat sepi, lengang dan sunyi. Terlebih saat wanita berkaki jenjang itu memasuki ruang tamu bersama dengan beberapa bodyguard yang berjalan di belakangnya. Seorang wanita tua yang menjabat sebagai kepala pelayan di rumah itu buru-buru keluar begitu tau jika Sang Nyonya besar telah datang. Ia dan beberapa pelayan langsung membungkukkan tubuh mereka sopan.

“Apa yang dia lakukan hari ini?”tanya wanita itu langsung menjatuhkan diri di sofa.

Mengikutinya, kepala pelayan itu berdiri di sampingnya masih dengan tubuh yang membungkuk, “Nona muda tidak melakukan apapun hari ini, nyonya. Dia bahkan tidak keluar dari kamarnya. Kami sudah menyiapkan makanan tapi—“

“Sudahlah.”potongnya. “Aku tidak perduli dia mau makan atau tidak. Yang jelas kalian harus menjaganya agar dia tetap hidup.”

“Baik, nyonya.”jawab kepala pelayan itu patuh.

Wanita itu kemudian mengalihkan tatapannya pada seorang pria yang menjabat sebagai kepala keamanan rumah itu, “Kapan anak itu akan datang?”

“Urusan di China telah selesai, mungkin malam ini dia akan sampai, nyonya.”

“Bagus. Suruh dia langsung menghadapku jika dia sudah sampai.”

“Baik, nyonya.”

Wanita itu berdiri lalu pergi meninggalkan rumah itu. Para pelayan yang sejak tadi menahan napas langsung menghembuskan napas lega. Setiap kali wanita itu datang, suasana akan berubah menjadi kelam dan mencekam.

“Kalian bisa kembali bekerja.”suruh kepala Pelayan pada anak buahnya.

“Baik nyonya.”

“Dia belum makan?” Ketika tertinggal hanya mereka berdua, kepala keamanan bertanya.

“Sama sekali belum. Aku khawatir dia akan pingsan lagi seperti waktu itu.”

“Noona, sudah mencoba membujuknya?”

Kepala pelayan itu menghela napas panjang, “Dia tidak membiarkan siapapun masuk ke dalam kamarnya. Bahkan kami belum membersihkan kamarnya sejak pagi.”desahnya frustasi. “Dia tidak akan melakukan apapun, kan? Aku khawatir dia akan mencoba bunuh diri seperti waktu itu.”

“Jangan khawatir, noona. Kami selalu memantaunya 24 jam.” Pria tinggi itu menepuk pundak kepala pelayan lembut lalu tersenyum.

“Lalu, Jungwoo-yah…”

“Hm?”

“Dia benar-benar akan datang? Bukankah dia bilang dia tidak setuju?”

Pria yang ternyata bernama Jungwoo itu menggeleng, “Tidak tau. Dia tiba-tiba saja menyetujuinya.”

“Lalu bagaimana dengan Saeron? Jika dia datang kemari, siapa yang akan menjaganya?”

“Kita tanyakan padanya nanti, noona. Pesawatnya akan tiba 2 jam lagi.”

***___***

 

“Saeron-ah, oppa harus pergi. Tunggu sebentar saja. Oppa akan segera kembali.”

 

Ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, kedua matanya terpejam dan kaca jendela mobilnya ia turunkan. Sengaja. Agar dia bisa menghirup udara kota Seoul yang telah menghilang dari hidupnya sejak 3 tahun lalu.Anak laki-laki itu mengeluarkan tangannya dan melebarkan telapak tangannya, di nikmatinya udara dingin yang perlahan-lahan menggigit tubuhnya. Ia tidak terduli.

“Tuan, nyonya menyuruh anda untuk datang ke kantor. Saya akan membawa anda kesana.”

Suara itu membuyarkan pikirannya. Anak laki-laki itu membuka matanya sambil menaikkan kaca mobil,“Baiklah. Terserah kau saja.”

Mobil sedan warna hitam itu membelah lalu lintas kota Seoul yang terlihat padat menuju sebuah tempat . Ia menatap keluar, menikmati pemandangan. Oh tidak, melainkan mencoba mengingat-ingat tempat-tempat yang telah ia lewati. Tiga tahun berlalu, Seoul sudah banyak berubah. Ada banyak bangunan tinggi yang sebelumnya tidak pernah ia lihat dan ada beberapa pembaruan pada tata kota tempat itu.

Sungai Han mengiringi perjalanannya, melewati jembatan Banpo yang terletak diatasnya. Dulu, dia suka diam-diam meninggalkan asrama dan menghampiri adiknya. Hanya untuk mengajaknya pergi ke taman Hangang dan bersepeda.

Ia tersenyum kecut. Baru saja pergi, tapi dia sudah sangat merindukan adik perempuannya.

Bagaimana kabarnya? Apa ada kemajuan? Apa keadaannya membaik?

Ia menghela napas panjang lalu memijit keningnya pelan. Kekhawatirannya membuatnya tidak bisa tenang.

Tak lama, ketika mereka sampai di sebuah gedung megah sebuah kantor. Anak laki-laki itu langsung melompat turun sebelum supir membukakan pintu untuknya. Supir itu berdiri di sebelahnya dengan kepala tertunduk, merasa bersalah dan takut karena ia telah melakukan kesalahan.

“Aku bukan Tuan-mu jadi berhenti memanggilku ‘Tuan’. Namaku Jimin, Park Jimin. Lagipula aku jauh lebih muda darimu, kan?”

Supir itu menatapnya takut-takut, “Tapi Tuan…”

“Jimin.” Anak laki-laki bernama Jimin itu memperbaiki.

“Oh, eum, baiklah Jimin-ssi.”

Jimin langsung mendesah, “Oh Tuhan…” ia berdecak sedikit kesal lalu melangkah masuk.

Atmosfer berbeda langsung menyambutnya begitu ia memasuki tempat itu. Masih sama dengan 3 tahun lalu. Mencekam. Membuat seluruh indranya seketika terjaga.

“Jimin.”panggil seseorang.

Jimin menoleh ke belakang dan kedua matanya langsung melebar, “Jungwoo ahjussi?”

“Oh Tuhan, ini benar-benar kau?.” Jungwoo langsung memeluk Jimin. “Aku sangat merindukanmu.”

Jimin tersenyum, “Ahjussi sepertinya terlihat sangat sehat.”

“Dan kau juga sudah dewasa.”balas Jungwoo. Lalu ia menepuk pundak Jimin, “Kita bicara nanti. Nyonya sudah menunggumu.”

 

 

Mereka memasuki lift dan menuju ke lantai 10. Lantai yang berada paling puncak gedung itu. Begitu pintu lift terbuka, Jungwoo melangkah lebih dulu, memimpin langkah. Di belakangnya, Jimin mengikutinya sambil terus memandang ke sekeliling. Berbeda dengan lantai dasar, tempat itu di jaga oleh banyak orang. Orang-orang berbadan tegap dan kekar. Sangat terlihat jika mereka adalah orang-orang terlatih.

“Masuklah.”seru Jungwoo ketika mereka sampai di depan pintu sebuah ruangan.

Jimin menatap pria itu dengan kening berkerut, “Lalu ahjussi?”

“Aku akan masuk jika nyonya memanggilku.”

Jimin tidak bersuara namun melangkah masuk ke dalam. Ruangan besar serba putih kembali menyambutnya. Hanya sedikit barang-barang yang ada disana membuat ruangan itu semakin terlihat besar.

“Kau sudah datang?”

Hingga suara seseorang membuatnya sedikit terkejut. Jimin menoleh ke kiri, seorang wanita muncul dari balik rak buku yang ada di belakangnya. Mata Jimin langsung menyipit, ‘ruangan rahasia.’. Wanita Itu menjatuhkan dirinya di sofa, “Kau mau minum?” tawarnya menatap Jimin dengan senyum.

“Langsung saja.”balas Jimin. “Kau akan menyelamatkan adikku, kan?”

Wanita itu semakin tersenyum lebar, “Kau sudah tidak sabar rupanya.”

“Kau akan menyelamatkan adikku atau tidak?”ulang Jimin lagi, nadanya menegas.

“Tentu saja. Itu bukan hal yang sulit. Tapi kau harus mengikuti peraturannya.”

Tatapan mata Jimin menajam, “Apa peraturannya?”

“Mudah. Kau hanya perlu mengikuti perintahku.”

“Perintah seperti apa?”

Wanita itu menatap Jimin lurus, senyumannya berubah menjadi seringaian yang menyeramkan, “Apapun.”

***___***

 

Jimin meninggalkan lantai 10 bersama Jungwoo. Pria itu masih termenung, ucapan wanita itu terus terngiang-ngiang di telinganya. Wanita itu berbahaya, bahkan sorot matanya memancarkan kelicikan. Bisa di tebak jika dia adalah tipe yang tak mengenal ampun.

“Ayo kita pergi minum.” Jungwoo menepuk pundak Jimin membuyarkan lamunannya.

“Ahjussi, aku belum legal.”

“Memangnya siapa yang perduli? Ayo.”

Jimin hanya bisa menghela napas panjang dan mengikuti langkah Jungwoo. Lift bergerak turun ke lantai basement dan begitu pintu terbuka, ruangan minim cahaya menyambut mereka. Kening Jimin berkerut.

“Ini adalah bar untuk VIP. Tidak sembarang orang bisa datang kemari tapi aku mengajakmu. Kau harus berterima kasih padaku.” Jungwoo seakan bisa membaca pikiran Jimin. Ia tersenyum menyeringai dan bergerak menuju sofa yang terletak di sudut ruangan. “Kau mau pesan apa? Bir?”

“Jus jeruk.”seru Jimin sambil menjatuhkan diri di hadapannya. “Sudah ku bilang aku belum legal, ahjussi.”

“Tidak perlu menjadi legal untuk minum bir. Polisi tidak akan menangkapmu disini.”

Jimin mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Beberapa orang terlihat juga melakukan hal yang sama seperti dirinya dan Jungwoo. Duduk dan mengobrol. Entah apa yang sedang mereka bicarakan karena Jimin tidak bisa mendengarnya. Jarak dari satu sofa ke sofa lain cukup jauh. Jimin mengembalikan tatapannya kearah Jungwoo, “Lalu tugasku seperti apa? Wanita itu bilang kau yang akan memberitahuku.”

“Jaga mulutmu. Kau harus bersikap sopan. Dia adalah ketua kita, Nyonya Cheon Gina.”

“Bukankah aku sudah tau itu?”balas Jimin sedikit kesal. “Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Dan dimana Tuan Kang Minsuk?”

Jungwoo langsung memajukan wajahnya lalu berbisik pada Jimin, “Dengar, apapun yang terjadi jangan pernah membahas tentang Tuan Kang?”

“Kenapa tidak boleh?”

“Banyak hal yang sudah terjadi.” Jungwoo menghentikan ceritanya ketika seorang pelayan datang mengantar minuman. Menunggu jeda sesaat hingga pelayan itu pergi. “Dia terlibat dalam sebuah kecelakaan mobil tiga tahun lalu dan hingga kini ia koma.”

Mata Jimin terbelalak lebar, “Koma?!”

“Yah, hingga sekarang dia koma.” Jungwoo mengangguk pelan. “Banyak spekulasi yang tercipta namun sebaiknya tidak membicarakan hal itu. Aku rasa itu juga akan melukai hati nyonya Cheon.”

“Lalu hal yang tidak aku mengerti, kenapa kalian memanggilku lagi? Bukankah kalian sudah membuangku?”

“Kau salah paham.”balas Jungwoo cepat. “Kau tau tidak akan ada yang bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup. Saat itu, mungkin, mereka hanya tidak mau melihat tangisan kalian.”

“Waaah jahat sekali.” Jimin berdecak sambil geleng-geleng kepala. “Orang tuaku mati dan kami tidak boleh menangis. Kalian khawatir jika aku akan membuat onar jadi kalian membuangku ke China, iya kan?”

“Setidaknya mereka masih merawatmu.” Jungwoo menatap Jimin merasa kasihan. “Lalu kenapa kau setuju? Bukankah kau selalu menolak saat mereka memanggilmu lagi?”

Anak laki-laki itu terdiam, berusaha meredam amarahnya yang mulai membara.  “Mereka berjanji akan mengobati Saeron hingga sembuh.”ucapnya pelan. “Aku sudah kehilangan orang tuaku, aku tidak mau kehilangannya juga. Ini adalah satu-satunya cara untuk menyembuhkannya.”

“Benarkah?” Jungwoo kembali memajukan tubuhnya. “Mereka benar-benar akan menyembuhkan Saeron?”

Jimin meneguk minumannya lalu mengangguk, “Mereka berjanji seperti itu. Tapi karena aku sudah tidak bisa mempercayai kalian lagi, aku pikir aku harus membuat surat perjanjian.”

“Hey, kenapa seperti itu? Kau tau Nyonya selalu menepati janjinya, kan? Jangan khawatir. Sebaiknya kau lakukan saja tugasmu dengan baik.”

Jimin mendengus, “Lalu apa tugasku? Bukankah sejak tadi aku menanyakannya?”

“Ehey.. kenapa kau jadi pemarah seperti ini? Dasar.” Jungwoo mencibir. Ia meneguk birnya lebih dulu sebelum menjelaskan tugas Jimin. “Kau tau putri tuan Kang dengan istri pertamanya, kan? Nona Kang Seulgi.”

Kening Jimin berkerut, “Bukankah dia tinggal di Amerika?”

“Tidak.” Jungwoo menggeleng. “Sudah satu tahun ini dia di pindahkan kesini. Hanya saja, Nyonya Besar sengaja menyembunyikannya di suatu tempat. Dia melakukan itu agar pers tetap menganggap jika dia masih berada di Amerika.”

“Kenapa?”

“Kenapa kau masih bertanya? Kau tau hubungan mereka tidak pernah baik sejak dulu. Nona Kang tidak pernah menyetujui ayahnya menikah dengan Nyonya Besar dan setelah mereka menikah, Nyonya Besar justru mengirim nona Kang ke luar negeri dengan alasan pendidikan. Padahal menurutku, itu hanya usaha Nyonya Besar untuk menyingkirkannya. Dia ingin anak perempuannya lah yang akan menjadi pewaris Hangsan Group. Dan tiga tahun lalu, saat tuan Kang mengalami kecelakaan dan berakhir koma, nyonya Besar semakin berkuasa. Tidak hanya di rumah utama tapi dia juga menguasai seluruh perusahaan dan yayasan.”

“Lalu jika dia membenci putri tuan Kang, kenapa dia justru mengijinkannya kembali kesini? Lagipula dia sudah menguasai semuanya.”

“Memang benar, nyonya Besar memang menguasai semua itu tapi itu hanyalah sementara.“ seru Jungwoo. “16 tahun lalu, tuan Kang pernah menulis surat wasiat yang menyatakan jika seluruh harta kekayaannya akan diwariskan untuk anak perempuan dan anak laki-lakinya. Di surat itu tertulis jika nona Kang akan menerima  40% sementara anak laki-lakinya akan menerima 60% dari seluruh harta kekayaannya.”

“Tapi bukankah anak laki-lakinya meninggal sehari setelah istri pertamanya meninggal?”

Jungwoo mengangguk, “Karena itu seluruh harta kekayaan keluarga itu menjadi milik nona Kang. Dengan kata lain, nona Kang adalah pewaris yang sebenarnya.”

Jimin tertawa sambil geleng-geleng kepala mendengar cerita itu, “Apa dia mengijinkannya kembali kesini karena ingin mengubah surat wasiat itu?” Jungwoo mengangguk. “Waaah, dia benar-benar serakah. Dia bahkan mau menguasai semuanya.”

Jungwoo menatap  Jimin lurus, “Dan itu adalah tugasmu.”

Tawa Jimin seketika menghilang, “Hah?”

TBC

 

 

 

 

 

demian n

Iklan

2 thoughts on “The Demians part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s