I love you Mr. Ghost part 2

iloveyoumrghost

Author : Ohmija

Tittle    : I love you Mr. Ghost

Cast      : EXO Sehun, Chanyeol & Red Velvet Seulgi

Genre   : Comedy, Romance, Sad

“Apa?” Seulgi menatap Sehun penasaran.

Sehun terdiam sejenak. Beberapa saat kemudian menegakkan punggung balas menatap Seulgi, “Aku ingin makan daging sapi Korea premium yang ada di restoran terkenal. Pasti rasanya sangat enak.”serunya meringis lebar membuat Seulgi jadi jengkel.

“Hanya itu?” Ia berusaha menahan-nahan kesabarannya.

Sehun mengangguk-angguk dengan wajah polosnya, “Kenapa?”

Seulgi meremas gelas ddokbukkie-nya. Ingin sekali dia menghajar hantu ini sekarang tapi jika dia melakukannya, dia akan di anggap seperti orang gila lagi.

“Aku bahkan tidak pernah makan daging sapi Korea premium seumur hidupku dan kau memintaku membelikannya?”

“Kau bisa mengumpulkan sebagian dari gajimu. Setelah itu kita makan bersama.” Sehun berbicara dengan nada lembut seolah-olah idenya adalah yang terbaik.

Seulgi tertawa. Tepatnya tertawa mendengus. Tak habis pikir kenapa hantu laki-laki itu bisa dengan mudahnya mengatakan hal-hal mustahil. Menabung? Setiap bulan dia bahkan merasa kekurangan. Uang hasil kerja part-time nya tidak selalu cukup dan dia tidak mau merepotkan bibinya jadi dia selalu berusaha untuk tidak meminta uang. Dan sekarang hantu ini dengan entengnya memintanya membelikannya makanan super mahal yang harganya mencapai setengah tahun gajinya. Haha, lucu. Sangat lucu!

Seulgi menggertakkan giginya sambil berseru kesal, “Kenapa kau tidak bunuh saja aku, huh?” Sehun langsung berdiri saat melihat bara api di matanya. “Bunuh saja aku dan kita berdua akan jadi hantu! Nanti jika aku sudah jadi hantu, aku pasti akan membunuhmu! Kau akan mati dua kali!” Hantu laki-laki itu langsung menghilang. Sebaiknya pergi sebelum dia di hajar habis-habisan oleh gadis mengerikan itu. “YAA!!!”

***___***

 

Sudah pukul 10 malam saat akhirnya Seulgi kembali dari kerja part-time nya. Sama seperti hari-hari sebelumnya, rasanya melelahkan.

Gadis itu tergeletak di kursi plastik yang ada di depan mini market lalu menarik kedua tangannya keatas, meregangkan tubuhnya yang terasa lelah.

“Ada laki-laki yang baru saja pindah ke sebelah rumah kita. Sepertinya dia berbahaya, kau harus berhati-hati.” Sehun muncul, menjatuhkan diri di depan Seulgi.

“Huh? Siapa?” Gadis itu langsung menegakkan punggungnya. “Bukankah rumah itu tidak di sewakan? Kenapa tiba-tiba?”

“Entahlah. Mungkin ahjumma sedang membutuhkan uang.” Sehun mengendikkan kedua bahunya. “Oh ya, bukankah ini sudah saatnya kita makan ramyun? Aku sudah sangat lapar karena menunggumu.”

Seulgi menghela napas panjang sambil berdiri, “Kau selalu saja merepotkanku.”keluhnya namun tidak berniat untuk mengajak Sehun bertengkar. “Baiklah. Lagipula aku juga sudah lapar. Kau mau makan apa?”

“Aku… jajangmyeon!”

“Oke.” Seulgi mengangguk lalu berjalan masuk ke dalam supermarket. Ia menuju deretan ramyeon instan dan mengambil dua jenis ramyeon. Jajangmyeon untuk Sehun dan Shin Ramyeon untuknya.

“Waah, nafsu makanmu benar-benar mengagumkan, Seulgi.” Penjaga minimarket itu tertawa sambil geleng-geleng kepala karena lagi-lagi Seulgi mengambil dua jenis Ramyeon.

Seulgi meringis malu, “Oppa, tolong tambahkan—“

“Aku tau. Dua telur dan satu sosis, kan?”

Seulgi mengangguk-angguk, “Terima kasih.”

“Makan yang banyak lalu segera tidur. Kau bisa terlambat besok.” Laki-laki berwajah imut itu memperingatkan.

“Aku tau. Terima kasih, Baekhyun oppa.”

Gadis itu kemudian membawa belanjaannya ke ruangan kecil yang ada di sisi kanan mini market. Sebuah tempat yang di sediakan untuk memasak makanan instan yang di beli dari mini market itu.

“Bagaimana cara menggunakannya?”

Seorang laki-laki bertubuh tinggi bergumam sambil terus mengutak-atik oven yang ada di depannya. Ia menekan beberapa tombol secara acak namun oven itu tetap tidak bekerja.

Seulgi meletakkan barang belanjaannya di atas meja kecil lalu menghampirinya, “Permisi, apa ada yang bisa ku bantu?”

Ketika pria itu menoleh. Dunia Seulgi seakan berhenti berputar. Bunga-bunga bermekaran, menghujaninya. Suara biola bermain di telinganya, memainkan lagu-lagu indah. Angin musim semi berhembus menyejukkan badan. Dan hatinya mulai berdetak tak karuan.

Apa dia manusia? Kenapa dia tampan sekali?

Pria itu bertubuh tinggi. Bermata besar dengan rambut pendek bewarna kecokelatan. Hidungnya mancung dan memiliki lesung pipi. Dia sangat sempurna! Sungguh!

‘Astaga, dia benar-benar tipeku!’jerit Seulgi dalam hati.

“Oh, bisakah kau menolongku? Aku sedikit bingung.” Ia menggaruk belakang kepalanya kikuk. “Tentunya jika tidak merepotkanmu.”

“Tentu saja tidak!” Seulgi mengucapkan itu dengan cepat, jelas dan dengan nada sangat bersemangat. Membuatnya malu saat dia menyadari betapa semangatnya dia. Gadis itu berdehem kecil, buru-buru mengulang ucapannya dengan nada yang lebih pelan “Maksudku… tentu. Biar ku bantu.”

Pria itu tersenyum dan mengambil langkah mundur, membiarkan Seulgi berdiri lebih dekat dengan oven, “Jadi kau bukan menekan tombol yang ini tapi yang ini lalu atur waktunya.”

Dari ambang pintu, Sehun mengintip mereka berdua sambil mendengus kesal. “Aku bahkan tidak pernah mendengarnya bicara selembut itu. Dasar srigala!”umpatnya. Seulgi terlihat sedang bahagia. Walaupun dia tidak tersenyum, tapi  terlihat sekali jika dia sedang menahannya.

Sehun mendengus, dalam hati membayangkan jika dia telah mencubit pipi besarnya itu berkali-kali lalu menghilang dan kembali duduk di kursi.

“Sudah selesai.” Seulgi berseru. Ia membuka penutup oven dan memberikan gelas ramyeon pada pria itu.

“Waaah, terima kasih.”  Pria itu menerimanya lalu berpindah ke sisi kiri. Giliran Seulgi yang memasak makanannya. “Ngomong-ngomong, aku Park Chanyeol. Aku baru saja pindah di atas sore ini.” Ia mengulurkan tangannya pada Seulgi.

“Oh? Kau tinggal di atas? Aku juga.” Seulgi membalas uluran tangan itu sambil sedikit membungkuk. “Aku Kang Seulgi.”

“Jadi kita bertetangga?” Chanyeol masih tersenyum. “Tapi bukankah kau masih di bawah umur?’

“Oh itu…” Seulgi memutar bola matanya, “…sedikit terjadi sesuatu jadi aku harus tinggal sendiri.” Ia meringis lebar lalu buru-buru melanjutkan ucapannya. “Tapi bibiku tinggal di dekan sini. Tekadang dia mengunjungiku.”

“Oh begitu.” Chanyeol mengangguk-angguk. Ketika ia melirik isi plastik Seulgi, ia terkekeh, “Sepertinya kau sangat lapar.”

Sudah akan mengeluarkan jajangmyeon milik Sehun, gadis itu langsung memasukkannya kembali ke dalam plastik dan menggeleng. “Tidak. Ini untuk besok.”elaknya. Dia baru saja bertemu dengan pria tampan. Dia tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan ini dengan merusak image-nya.

“Oh, aku pikir kau akan memakannya juga.”

Seulgi tertawa renyah, “Tentu saja tidak. Aku tidak bisa makan terlalu banyak.”

Keduanya lalu memutuskan untuk duduk bersama di kursi yang ada di depan mini market. Sehun menatap keduanya dengan tatapan kesal. Dia sangat lapar tapi dia harus menunggu lebih lama karena laki-laki itu. Belum lagi melihat bagaimana cara Seulgi memperlakukannya. Sangat menyebalkan!

Chanyeol sudah akan duduk di kursi yang duduki oleh Sehun namun Seulgi langsung berseru membuat Chanyeol terkejut, “Tidak!”

“Seulgi, kenapa?”

Gadis itu melirik kearah ekspresi Sehun dan memiliki firasat buruk. Buru-buru ia tersenyum, “Kita duduk di sana saja.” Tunjuknya dengan dagu. “Kursi itu goyah. Oppa bisa jatuh.”

“Oppa?!” Sehun memekik tak percaya. “Kau bahkan memanggilnya oppa?”

Seulgi mengabaikannya. Masih dengan senyum ia meminta Chanyeol untuk duduk di kursi lain.

“Jadi sejak kapan kau tinggal disini?” Chanyeol melanjutkan percakapan mereka yang sempat terputus.

“Hampir tiga tahun. Ahjumma bilang hanya menyewakan satu rumah jadi aku sedikit terkejut saat oppa menempatinya.”

“Sebenarnya dia adalah bibiku.”seru Chanyeol. “Jarak dari rumah sewaku yang dulu dengan universitas sangat jauh jadi bibiku menyuruhku untuk menempati rumah itu.”

“Memangnya dimana oppa universitas oppa?”

“Aku adalah mahasiswa Universitas Yonsei. Tidak begitu jauh dari sini jadi aku tidak perlu bangun sangat pagi lagi.” Chanyeol tersenyum.

Mata Seulgi sontak membulat lebar, ia terkejut, “Sungguh? Oppa adalah mahasiswa Yonsei?!”

Chanyeol mengangguk, “Kenapa?”

“Oh Tuhan, keren sekali!” Seulgi berseru semangat sambil bertepuk tangan saking kagumnya. Yonsei adalah Universitas nomor 3 terbaik di Korea Selatan. Orang-orang yang bisa masuk ke sana adalah orang-orang yang sangat pintar! “Bagaimana cara oppa belajar? Apa oppa membaca buku setiap hari? Apa tesnya sulit? Aah, aku sangat ingin masuk kesana juga!”

Chanyeol tertawa, “Yang mana yang harus ku jawab lebih dulu?”

“Semuanya!”jawab Seulgi masih berapi-api.

“Tidak sulit. Kau hanya perlu memperhatikan guru saat beliau menerangkan. Aku tidak rajin belajar, terkadang aku bahkan membolos untuk pergi ke arcade.”

Sehun muncul di samping mereka berdua, menatap Chanyeol sambil mencibir, “Dasar sombong. Dia membanggakan dirinya sendiri secara tidak langsung.”dengusnya. “Ya, jangan percaya dia. Sudah ku bilang dia bukan pria baik.”

Namun telinga Seulgi masih menjadi tuli untuk semua hal yang di katakan Sehun. Gadis itu terus menatap Chanyeol dengan mata berbinar, sangat terlihat jika dia sedang di mabuk cinta.

Sehun semakin mendengus, “YA! Mana jajangmyeon-ku? Kenapa kau tidak memasaknya juga?”pekiknya membuat Seulgi terlonjak.

Chanyeol menatap Seulgi dengan tatapan bingung, “Ada apa?”

“Oh, tidak. Sepertinya aku terkejut karena kakiku di gigit nyamuk.” Gadis itu tersenyum, membungkuk sambil berpura-pura menggaruk kakinya. Lalu samar-samar ia menatap Sehun, memberikan isyarat padanya untuk segera pergi dan tidak mengganggu mereka lagi.

“Kau kan sudah berjanji! Kau membohongiku lagi?”

Namun Seulgi masih memberikan isyarat padanya untuk segera pergi. Sehun menghilang setelahnya karena merasa benar-benar kesal.

“Apa kau mau masuk ke Universitas Yonsei juga?”Chanyeol bertanya sambil menutup penutup kertas gelas ramyeon-nya.

“Iya. Ibuku ingin aku masuk ke sana tapi aku tidak begitu pintar. Aku juga tidak suka belajar.”

“Kita sama.” Chanyeol tersenyum menghibur Seulgi. “Tapi jika kau mau, mungkin aku bisa membantu.”

“Huh? Membantu?” Kening Seulgi berkerut.

“Aku bisa meminjamimu buku-buku soal yang aku pelajari dulu. Mungkin saja itu berguna.”

“Sungguh?!” Kedua mata gadis itu kembali berbinar. “Aaaah, terima kasih oppa!”

***___***

 

“Sampai jumpa besok, Seulgi.” Chanyeol melambaikan tangannya sembari masuk ke dalam rumah.

Seulgi sedikit membungkuk lalu balas melambai, “Sampai jumpa besok, oppa.”

Begitu pintu rumah Chanyeol tertutup. Seulgi langsung melesat masuk ke rumahnya mencari Sehun. “Ya, kau dimana? Ya.” Panggilnya namun tetap tidak menemukan keberadaan Sehun. Gadis itu kembali keluar, mendekati semen pembatas dan melihat ke bawah dan ke sekeliling. “Dimana dia?”gumamnya pelan. “Bukankah dia bilang dia lapar?”

Seulgi menghela napas panjang, merasa bersalah. Karena walaupun dia selalu kesal dengan tingkah hantu itu tapi terkadang dia selalu membantunya. Saat dia merasa kesepian karena tidak ada seorangpun di sampingnya, dia menemaninya dengan cara mengganggunya.

Gadis itu melipat kedua tangannya diatas semen dan meletakkan dagunya diatasnya. Matanya terus melihat-lihat sekitar. Walaupun masih musim panas tapi angin malam tetap terasa dingin. Tapi dia tetap tidak ingin masuk ke dalam rumah. Sehun belum pulang.

Ia melirik kearah layar ponselnya, sudah pukul 12 malam. “Apa kau benar-benar marah padaku?”

***___***

 

Jalanan mulai sepi karena hari sudah memasuki tengah malam. Hanya beberapa orang yang terlihat berlalu lalang. Orang-orang yang baru saja pulang bekerja. Orang-orang yang baru saja pulang dari pesta minum-minum. Dan beberapa siswa laki-laki yang pergi ke perpustakaan untuk menyiapkan ujian sekolah nanti.

Sehun bersama dengan teman hantunya, Jongin, duduk di atap cafe sambil menatap kearah jalan raya.

“Kau benar-benar tidak pulang?” Jongin bertanya.

Sehun menggeleng,”Tidak.”

“Kenapa? Bagaimana jika sesuatu terjadi pada Seulgi?”

“Tidak akan ada yang terjadi. Lagipula sudah ada yang menemaninya.”

“Huh? Siapa?”

“Ada laki-laki yang menyewa rumah sebelah. Sepertinya mereka sudah terlihat sangat akrab. Aku sudah tidak perlu khawatir lagi.”

Jongin menghela napas panjang, “Kenapa kau tidak jujur saja tentang semuanya?”

“Percuma. Sejak awal, semuanya tetap akan sia-sia walaupun aku jujur.”

“Kau belum mencobanya, kan?”

Sehun menggeleng lagi, “Aku ingin dia tau saat waktunya tiba.”

“Jangan bersikap sok misterius seperti itu. Apa kau mau jadi sepertiku? Aku tidak bisa pergi karena aku masih menunggu satu hal yang tidak pasti.”

“Apa kau belum menemukannya?”

“Menurutmu kenapa aku masih bergentayangan di cafe ini jika aku sudah menemukannya?” Jongin menghela napas panjang lalu mendongak menatap langit. “Sepertinya dia sudah pergi.”serunya pelan. “Ke tempat yang sangat jauh.”

“Jika seperti itu, kau tidak akan pernah bisa pergi, kan? Kenapa tidak merelakannya saja?”

Jongin tertawa, menoleh kembali menatap Sehun, “Lalu bagaimana denganmu? Kenapa kau tidak merelakannya saja dan pergi dengan tenang?”

Pertanyaan Jongin langsung membuat Sehun terdiam. Ia menurunkan pandangannya, menatap tanah yang berada jauh di bawahnya.

“Itu adalah hal yang sulit, kan?”seru Jongin lagi. Sehun mengangguk pelan. “Aku tidak tau sampai kapan akan bergentayangan seperti ini. Tapi aku akan tetap menunggunya disini. Sesuai janji kami dua puluh tahun lalu.”

“YA! Hantu!” Tiba-tiba suara seseorang membuat mereka berdua menoleh ke bawah. Seulgi sudah berdiri di depan cafe, menatap keatas sambil membawa bungkusan plastik.

Jongin menghilang dan muncul di hadapan Seulgi, “Seulgi-ssi, akhirnya kau datang. Aku pikir aku akan menemaninya disana semalaman.”

“Maafkan aku.” Seulgi meringis. “Terjadi sedikit masalah tadi.”

“Aku tau.”balas Jongin lalu ia menghilang lagi dan kembali keatas atap. “Hey, cepat turun. Dia mencarimu.”

“Tidak mau.” Sehun langsung menolak. “Biarkan saja dia.”

“Jangan begitu. Dia tidak memakai jaket, dia bisa masuk angin jika berlama-lama disana.”

“Memangnya aku perduli?” Sehun membuang pandangan. “Aku tidak memintanya untuk mencariku.”

Jongin berdecak sambil geleng-geleng kepala melihat sifat keras kepala Sehun. Ia menghampiri Seulgi sambil menggeleng, “Sepertinya dia masih kesal.”

“Benarkah?” Gadis itu menghela napas panjang. Ia mendongak keatas, menatap punggung Sehun yang membelakanginya. “Kau masih marah?”serunya setengah berteriak agar Sehun mendengar. “Ini sudah malam dan sepertinya akan turun hujan. Kau bisa kebasahan jika terus berada disitu.”

Namun Sehun tetap diam. Tidak menjawab ucapan Seulgi.

“Kau bilang kau lapar, kan? Ayo makan! Kita makan jajangmyeon.” Gadis itu masih tidak menyerah. “Haruskah kita minum susu strawberry juga? Kau suka itu, kan?”

Tidak tega melihat Seulgi yang kedinginan karena hanya memakai kaus lengan panjang tipis dan celana training, Jongin kembali ke atap cafe, “Hey, ayolah. Kasihan dia. Dia menggigil.” Ia mengguncang bahu Sehun. “Dia bisa sakit jika terus-menerus berada disana.”

“Aku akan terus menunggu disini sampai kau tidak marah lagi. Maafkan aku.”

Suara Seulgi terdengar di telinga Sehun. Hantu laki-laki itu menghela napas panjang karena dia selalu saja kalah dengan suara hatinya. Ia menoleh menatap Jongin, “Aku pulang dulu.”

Jongin mengangguk dan melambaikan tangannya. Sehun berpindah ke hadapan Seulgi membuat gadis itu tersenyum lega, “Ayo makan! Kau pasti sudah lapar.” Ia melingkarkan lengannya ke lengan Sehun dan menyeretnya pergi. Namun Sehun langsung melepaskan lengannya.

“Kau bisa di kira orang gila jika ada yang melihatmu.”

“Memangnya siapa yang akan melihat? Jalanan sudah sepi. Ayo!”

Keduanya berjalan beriringan, sesekali Seulgi menggoda Sehun agar dia tidak marah lagi. Dari belakang, Jongin menatap punggung keduanya lurus.

“Aku harap mereka tetap seperti ini.”

***___***

 

“Seulgi?” Baekhyun sedikit terkejut melihat gadis itu memasuki mini market padahal ini sudah sangat larut.

Seulgi meringis, “Aku belum memakan ramyeonku yang satu lagi, oppa. Aku terbangun karena aku sangat lapar.” ia beralasan lalu mengambil satu susu strawberry dingin dan menyerahkannya ke meja kasir.

“Aigoo, kau bisa jadi babi besok.” Baekhyun berdecak sambil geleng-geleng kepala. “Hanya ini?”

“Hehehe aku tidak bisa tidur jika perutku lapar.”

“Dasar. Kau bisa mengantuk saat di sekolah besok.”seru Baekhyun. “Cepat makan dan pergi tidur.”

“Terima kasih, oppa.”

Seulgi segera memasak ramyeon-nya dan kembali keluar menghampiri Sehun yang sudah duduk di kursi.

“Kau mau sosis?” Gadis itu meletakkan makanannya keatas meja.

“Tidak.”jawab Sehun singkat. “Cepat makan. Aku sudah lapar.”

“Baiklah.” Seulgi membuka penutup ramyeon jajangmyeon-nya. “Oh Tuhan, aku harus makan semua ini saat larut malam. Besok aku benar-benar bisa berubah jadi babi.”ia berdecak tapi tetap memakannya.

Sehun hanya menatapnya dalam diam. Gadis ini… apa dia telah lupa janjinya pada orang tuanya? Dia bahkan tidak belajar sama sekali.

“Ya.”panggil Sehun.

Seulgi mengangkat wajahnya, “Apa?”

Sehun menghela napas panjang, “Apa kau tidak bisa makan dengan baik? Kau selalu saja makan berantakan.” Ia menarik tisu dan membersihkan mulut Seulgi.

“Aku memang makan seperti ini.”dengus gadis itu mengelak. “Apa? Kenapa kau memanggilku? Kau bisa makan, kan? Aku tidak berdoa.”

“Apa kau tidak belajar?”

“Huh?”

“Setiap hari kau hanya pergi bekerja tanpa belajar. Sebentar lagi kau akan menghadapi ujian akhir.”

“Kau kan tau, aku—“

“Iya, aku mengerti. Kau harus mencari uang agar kau bisa hidup. Tapi, jangan melupakan janjimu pada orang tuamu. Mereka ingin kau masuk ke dalam Universitas terbaik.” Sehun memotong ucapan Seulgi. “Bagaimana jika kau hanya bekerja saat akhir pekan? Aku berjanji aku tidak akan meminta makanan yang mahal lagi.”

Seulgi menyipitkan matanya, melirik Sehun, “Sungguh?”

“Iya. Yang penting kau harus lulus dengan nilai yang baik.”

“Tenang saja. Walaupun tidak aku tidak pintar tapi sebenarnya aku jenius.”

Sehun tertawa tak percaya, “Apa bedanya pintar dan jenius? Apa kau bahkan tidak bisa membedakannya?”

“Sudahlah, jangan khawatirkan aku. Lagipula ada malaikat yang akan membantuku.”

“Huh?”

“Kau kan dengar sendiri, Chanyeol oppa akan membantuku.”

“Lalu maksudmu… dia malaikatmu?”

Gadis itu mengangguk-anguk senang, “Aku sangat beruntung, kan? Bisa masuk ke dalam Universitas yang bagus dan mendapat kekasih yang tampan.”

“Cih, hari ini bahkan baru hari pertama kalian tapi kau sudah berpikir terlalu jauh.”

“Ya, kau lupa? Walaupun sangat singkat tapi aku pernah menjadi siswi terkenal di sekolah.”ia berseru membanggakan diri lalu mengibaskan rambutnya dan mengedipkan matanya, “Aku akan menunjukkan daya tarikku padanya.”

Ekspresi Sehun langsung berubah tak senang, “Jangan pernah mengedipkan matamu seperti itu.”dengusnya. “Itu sangat mengerikan dan kau sama sekali tidak bisa berkedip.”

“Kau satu-satunya laki-laki yang mengatakan jika itu adalah hal yang mengerikan. Apa kau normal? Jangan-jangan saat kau hidup, kau menyukai sesama jenis.”seru Seulgi ikut kesal.

“Apa? YA!” Sehun menggebrak meja tak terima. “Kau tau? Aku mencintai satu gadis dalam jangka waktu yang lama. Aku adalah pria yang setia.”

“Benarkah? Waaah, gadis itu pasti tidak beruntung.”

Sehun mengulurkan tangan, mencubit pipi Seulgi, “Kau tau aku sangat membencimu, kan?”

“Akh, sakit. Ya! Lepaskan!”

“Aku tidak mau melihatmu lagi! Pergi!” ketusnya lalu menghilang.

Seulgi menghusap-husap pipinya yang terasa panas, “Dasar. Benar-benar. Dia menghilang saat makanannya sudah habis. Akh, dasar brengsek! YA! AKU JUGA TIDAK MAU MELIHATMU LAGI!”

***___***

 

Seulgi tergeletak di kasur matrasnya akibat kekenyangan. Dia sudah tidak bisa memakan apapun lagi. Di dalam perutnya sudah tidak meninggalkan ruang kosong.

“Oh Tuhan aku kenyang sekali.” Seulgi bergumam sambi menghusap-husap perutnya. “Apa ini? Kenapa aku merasa kenyang? Dia tidak mungkin tidak makan,k an?” Ini aneh.

Biasanya dia tidak akan merasa kenyang jika Sehun makan bersamanya. Tapi sudahlah, hari sudah hampir pagi. Sebaiknya dia segera tidur.

***___***

 

Seulgi berpapasan dengan Chanyeol ketika dia baru saja membuka pintu rumahnya. Seulas senyum seketika mengembang di bibirnya. Gadis itu mebungkuk menyapa Chanyeol, “Selamat pagi Chanyeol oppa.”

“Seulgi? Kau akan pergi ke sekolah?”

Seulgi mengangguk, “Apa oppa juga akan pergi?” ia balik bertanya karena Chanyeol sudah terlihat rapi.

“Oh, aku harus pergi ke perpustakaan. Ada beberapa soal yang tidak aku mengerti.”

Oh Tuhan… pria ini sungguh  mengagumkan, jerit Seugi dalam hati.

“Karena kita searah, bagaimana jika pergi bersama?”

“Huh?” Seulgi terkejut. Ia mengedipkan matanya beberapa kali, tak percaya. “Pergi…bersama?”

Chanyeol mengangguk, “Iya. Kau tidak mau?”

“Tentu saja aku mau!”

TBC

 

Iklan

2 thoughts on “I love you Mr. Ghost part 2

  1. Anfa berkata:

    Apa sebener.a sehun udah suka sama seulgi saat dia masih hidup y?? Apa itu juga yg ngebuat dia msih gentayangan, karna dia belum ngungkapin perasaan.a k seulgi??? Hhheee (cuma nebak2 aja),.. Next y kak,..

  2. Hesti andriani berkata:

    Janji apa sampai sehun belum pergi dengan tenang apa janji nya ada hubungan nya dengan seulgi.
    Apa karakter chanyeol disini jadi orang jahat. Author gimana sih sehun bisa meninggal ? Kasih tau dong ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s