FF EXO : AUTUMN CHAPTER 30

autumn

Author  :  Oh Mi Ja

Cast :  Leeteuk SJ as Park Jungsoo

Luhan EXO as Park Luhan

Kai EXO as Park Jongin

Sehun EXO as Park Sehun

Support Cast      : Kris EXO as jaksa

Suho EXO as Pastor

Taemin Shinee as Lee Taemin

JR JJ Project as Park Jin Young

Jonghyun CN Blue as Lee Jonghyun

Shindong SJ as Shin Donghee

Dongho Ukiss as Shin Dong Ho

Genre                   : Brothership, Family, Mystery, Comedy, Friendship

Luhan langsung melompat turun dari mobilnya dan berlari seperti orang gila menuju ruang operasi. Ruangan itu masih tertutup dan di sebelah kanan lampu merah menyala menandakan jika operasi masih berlangsung.

Luhan terduduk lemas di kursi bersama peluh keringat yang membasahi pelipisnya. Sehun muncul tak lama kemudian bersama Jonghyun. Dengan napas terengah, dia mencekal kedua bahu Luhan.

“Hyung, bagaimana keadaan Jongin hyung? Apa dia baik-baik saja? Apa kata dokter?”

Luhan mengangkat wajahnya, menatap Sehun dengan mata teduh.

“Hyung.” Sehun mengguncang bahu Luhan gemas. “Apa yang terjadi?”

Jonghyun menarik lengan Sehun begitu melihat eksrpesi sedih di wajah sahabatnya itu. Ia menggeleng pelan pada Sehun, memberitahunya untuk tidak bertanya lagi.

Sehun menghela napas panjang. Juga terduduk di kursi sambil mengacak rambutnya. Kepalanya terasa pening. Dadanya terasa sesak hingga ia sulit bernapas. Ia ingin menangis namun air mata itu tertahan entah di mana. Ia ingin berteriak namun suaranya tersangkut di pangkal tenggorokan membuatnya cekat.

Jonghyun duduk di samping Sehun sambil menatap dua saudara itu iba. Selalu saja ada masalah di dalam hidup mereka. Seakan Tuhan tidak memberikan waktu bagi mereka untuk beristirahat sejenak.

“Sebenarnya Jongin mengirimiku pesan sebelum kecelakaan.” Jonghyun berseru pelan membuat keduanya menoleh bersamaan. Jonghyun menatap dua pasang mata itu bergantian. “Dia bilang dia ingin mengundurkan diri dari tim.” Ekspresi Sehun dan Luhan terlihat terkejut. Jonghyun kembali melanjutkan kalimatnya hati-hati. “Mungkin dia stress karena komentar-komentar negatif itu. Juga sejujurnya, beberapa anggota juga mulai membicarakannya. Aku sudah berulang kali meberitahunya untuk tidak mendengarkan itu dan dia selalu bilang jika dia baik-baik saja.” Jonghyun mendesah panjang lalu menundukkan kepalanya. “Aku pikir dia benar-benar baik-baik saja.”serunya menyesal. “Maafkan aku karena aku tidak bisa menjaga Jongin dengan baik.”

Luhan memejamkan kedua matanya kuat-kuat. Jongin selalu menjadi yang paling kuat diantara mereka. Dia selalu menunjukkan jika dia baik-baik saja dan mengatakan jika dia tidak punya masalah apapun. Dia justru menjadi seseorang yang selalu menjaga, menghibur dan mendengarkan. Semua hal itu membuat Luhan lupa sisi sensitif Jongin. Ketika dia pergi dari rumah dan menangis sendirian saat mengetahui kasus ayah mereka. Juga ketika dia justru menangis bersama Taemin karena tidak mau menunjukkan air matanya di depan Luhan dan Sehun ketika ayah mereka meninggal. Luhan lupa. Dia lupa jika Jongin sebenarnya memiliki hati yang lemah.

“Ini bukan salahmu.”seru Luhan pelan. Matanya menerawang kearah lantai. “Aku terlalu sibuk dengan dendamku. Aku terlalu sibuk mencari para saksi dan mengurus adik bungsuku hingga aku melupakan adikku yang lain. Aku lupa jika dia adalah adik kecilku juga. Aku justru menjadikannya sebagai sumber kekuatan kami. Ini salahku.”

“Aku tau mungkin ini akan terdengar seperti aku tidak mendukung kalian tapi jika memang nantinya kalian tetap tidak bisa memenangkan pertandingan, bisakah kalian kembali ke masa lalu? Bisakah kalian hidup seperti dulu?” Jonghyun menatap keduanya sarat memohon. “Aku benar-benar merindukan kita yang dulu.”

***___***

 

Taemin melihat Jinyoung di lobby rumah sakit setelah bertanya pada resepsionis. Pria itu terkejut melihat anak laki-laki yang masih memakai seragam sekolah itu berlalu-lalang dengan wajah bingung di tempat itu.

“Jinyoung?”

Jinyoung tak kalah terkejut saat melihat Taemin, “Oh? Taemin hyung?” Ia berlari kecil menghampiri Taemin. “Hyung tau dimana ruangan Jongin hyung? Bagaimana keadaannya? Apa dia sudah membaik?”

“Aku baru mau akan pergi. Dia masih di ruang operasi. Kita berdoa saja agar dia baik-baik saja.”serunya. “Ngomong-ngomong, apa aku membolos?”

Jinyoung mengangguk, “Jonghyun hyung menghubungiku dan aku langsung pergi saat jam istirahat.”

“Kau ini… apa kau tau kau bisa di tangkap polisi jika mereka melihatmu?”

“Hyung, aku tidak fokus belajar karena aku khawatir dengan Jongin hyung. Aku tidak memikirkannya saat meninggalkan sekolah.”

Taemin mengeluarkan kantung plastik putih dari dalam tasnya dan memberikannya pada Jinyoung, “Pakai ini.”

Kening Jinyoung berkerut, ia mengintip ke dalam kantung plastik itu, “Apa ini hyung?”

“Aku selalu membawa baju ganti karena biasanya aku bekerja hingga larut malam. Kau bisa memakainya.”ucapnya menepuk pundak Jinyoung. “Gantilah bajumu lalu kita bertemu di ruang operasi, oke?”

“Baiklah, hyung.”

***___***

 

Semua orang langsung berdiri dan menghampiri dokter begitu pria paruh baya berbaju serba hijau itu keluar dari ruang operasi.

“Bagaimana keadaan adikku, dok?”tanya Luhan.

“Dia baik-baik saja dan akan segera sadar. Hanya saja terjadi pembengkokkan tulang di kaki kanannya sehingga dia harus mendapatkan satu kali operasi lagi. Operasi itu bisa di lakukan setelah keadaannya membaik.”

Jonghyun tersentak, “Tapi, dia masih bisa bermain bola, kan?”

Dokter itu menggeleng, “Tidak untuk saat ini. Saya rasa dia harus mengambil waktu istirahat panjang karena jika tetap di paksakan, cederanya akan semakin parah.”

“Tapi sebentar lagi akan ada pertandingan dan aku…” Jonghyun menghentikan ucapannya ketika sadar jika dia telah bersikap egois.

“Saya mengerti. Tapi, ini untuk kebaikan pasien. Jangan memaksakan kakinya bergerak terlalu banyak.”

Setelah dokter itu pergi, semua mata langsung mengarah kearah Jonghyun yang terlihat sangat frustrasi. Jonghyun pernah bilang jika setelah Luhan, Jongin adalah rekan yang paling baik untuknya. Mereka seakan mengerti keinginan masing-masing ketika pertandingan. Jongin juga menjadi salah satu alasannya kenapa dia masih bertahan di dalam tim itu. Tanpa Jongin, pertandingan tidak akan terasa seperti sebelumnya. Akan ada tempat kosong di lapangan dan tim akan kehilangan sebelah sayap mereka.

“Maafkan aku. Aku tidak seharusnya bersikap seperti ini.” Jonghyun buru-buru tersenyum tipis saat menyadari jika dia sedang di tatap oleh semua orang. “Yang terpenting adalah kesembuhan Jongin.”

“Jonghyun-ah…”

“Aku lega karena Jongin akan segera sadar. Sekarang aku harus pergi. Aku harus latihan untuk pertandingan.” Jonghyun meraih tasnya lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Nyatanya dia pernah kehilangan partner terbaiknya satu kali, dia tidak ingin kehilangan partner lagi.

***__***

 

“Jongin hyung?” Sehun memanggil nama Jongin pelan saat pria itu berusaha membuka matanya. “Jongin hyung, kau sudah sadar?”

“Jongin?” Di sisi lain, Luhan juga mendekat.

Jongin membuka matanya pelan. Mengerjap-ngerjapkannya hingga ia bisa melihat jelas. Pertama kali, ia mendapati wajah Luhan yang ada di sebelah kirinya kemudian Sehun di sebelah kanan serta Taemin dan Jinyoung yang berdiri di depan ranjangnya.

Rasa sakit langsung menyerangnya ketika dia sadar. Sekujur tubuhnya langsung terasa ngilu dan luka-luka di wajahnya menimbulkan rasa perih.

Jongin meringis, tangannya bergerak pelan menyentuh wajahnya, “Apa yang terjadi denganku?”tanyanya.

“Kau mengalami kecelakaan.”jawab Luhan lembut. “Apa kau tidak ingat?”

Jongin meringis lagi. Kali ini berusaha untuk duduk namun ia kembali merasakan sakit di punggungnya. Seluruh tubuhnya terasa sakit.

“Tidur saja. Dokter bilang kau belum boleh bergerak terlalu banyak.”seru Taemin.

“Aku tidak ingat apapun.”

“Jangan memaksakan dirimu. Nanti, kau juga akan mengingat semuanya.”

Jongin hanya diam. Walaupun Luhan memintanya untuk tidak memaksakan diri tapi dia tetap mencoba mengingat apa yang sudah terjadi padanya.

Hari sudah gelap. Seingatnya tadi siang dia berada di kampus dan bertemu Taemin. Dia mengatakan jika dia ingin keluar dari tim sepak bola lalu memutuskan pulang ke rumah. Dia berdiri di halte bus waktu itu dan….

Mata Jongin melebar. Ketika kejadian selanjutnya  terlintas di dalam pikirannya, tanpa sadar dia mencengkram ujung baju Luhan, “Luhan hyung.”

Luhan menoleh, “Ada apa? Kau mau sesuatu?”

Jongin menelan ludah, “Luhan hyung, aku menemukannya!”

“Ha?”

“Aku menemukannya!”

“Apa maksudmu Jongin?”

“Donghyun ahjussi!”

Ketika nama itu di sebut, tak hanya Luhan namun semua orang seketika terbelalak lebar. Terperangah hebat.

Tubuh Luhan bergetar, nyaris kehilangan kata-katanya, “K-kau serius?”

“Aku melihatnya tadi. Dia ada di sini, hyung. Dia ada di Korea!”

“Jongin kau yakin melihatnya?” Taemin mendekati sahabatnya itu. “Kau yakin?”

“Aku sangat yakin. Aku sudah berusaha mengejarnya tadi dan membuatku tidak sadar jika ada mobil yang melaju kearahku. Aku sungguh melihatnya!” Lalu ia menoleh kearah Luhan yang masih terperangah di tempatnya. “Luhan hyung, hyung harus mencarinya sekarang. Jika tidak, dia akan kabur lagi.”Jongin menggenggam kedua tangan Luhan erat. “Luhan hyung!”

Luhan nyaris kehilangan kesadarannya. Dilema. Pikirannya berkecamuk antara pergi dan meninggalkan Jongin lagi atau tetap disini dan membiarkan Donghyun pergi lagi.

Melihat luka-luka di wajah dan tubuh Jongin. Juga alasannya mendapatkan kecelakaan itu, dia pikir Jongin sudah mengorbankan dirinya berkali-kali.

“Aku akan meminta nyonya Anne untuk menyelidikinya nanti. Kau tidak perlu khawatir.”seru Luhan pelan sambil melepaskan genggaman Jongin.

“Nyonya Anne? Hyung harus mencarinya sekarang!”

“Kau tidak perlu mengkhawatirkannya, Jongin. Sebaiknya kau beristirahat sekarang dan—“

“Hyung.” Jongin kembali berseru, kali ini penuh penekanan. “Apa semua ini tidak ada artinya lagi? Apa hyung sudah tidak perduli dengan appa lagi?”

“Jongin, aku mengkhawatirkanmu.”

“Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku tapi aku baik-baik saja.”balas Jongin cepat. “Hyung, kau sudah mempersiapkan ini selama epat tahun. Apa hyung mau semuanya akan menjadi sia-sia? Kita sudah mengalami banyak penderitaan selama empat tahun itu, hyung! Ini saatnya untuk mendapatkan kebenaran!”

“Jongin…”

“Hyung, aku tidak tau apa yang sedang hyung pikirkan tapi aku mohon.” Jongin menghela napas panjang. “Aku mohon temukan keadilan untuk appa.”

Luhan menatap Jongin untuk beberapa saat sebelum akhirnya mengalihkan tatapannya kearah Sehun. Sehun hanya diam, tidak bereaksi. Karena dia tidak tau apa yang harus dia lakukan dalam situasi seperti ini. Dia tidak tau bagaimana caranya bersikap tidak egois. Dia memahami kekhawatiran Luhan tapi di sisi lain dia juga berharap jika Luhan akan pergi sekarang dan menangkap Donghyun.

“Luhan hyung.” Taemin bersuara sangat pelan namun Luhan masih mampu mendengarnya. Takut-takut, pria itu menatap Luhan, “Jangan khawatir. Kami semua akan berada disini dan menjaga Jongin.”serunya. “Walaupun aku tau, aku tidak seharusnya ikut campur tapi aku setuju dengan Jongin. Kalian sudah melewati banyak penderitaan selama 4 tahun. Jangan buat semua itu menjadi sia-sia.”

“Cepat pergi hyung. Sebelum dia benar-benar kabur.”

Luhan mengacak rambutnya dan mendesah panjang. Kembali menatap Jongin untuk beberapa saat sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan itu.

Empat tahun… dia tidak akan menyia-nyiakan itu.

***___***

 

“Nyonya Anne, tolong selidiki keberadaan Kim Donghyun di sekitar halte bus yang tak jauh dari Universitas Jongin. Periksa semua CCTV dan beritahu aku kemana dia pergi.”

Luhan mengakhiri panggilannya dan berjalan menyusuri daerah itu. Matanya menajam, menatap ke semua arah. Kecelakaan terjadi di dekat persimpangan, itu artinya Jongin berusaha mengejarnya ketika dia menyebrangi jalan. Di sebrang jalan terdapat jejeran toko-toko dan stand makanan. Kira-kira kemana dia akan pergi?

Luhan berdiri di sebrang jalan sambil memperhatikan deretan toko-toko itu. Otaknya sedang bekerja, menganalisa.

Tunggu, ada dua gang kecil yang terhimpit di antara dua toko kecil. Dia pasti masuk ke dalam salam satu gang itu. Jika dia adalah Donghyun, jalan paling cepat adalah memasuki gang pertama. Yah, dia pasti memasuki gang itu.

Luhan langsung menyebrangi jalan raya dan berlari menuju gang kecil itu. Bahkan tempat itu sangat gelap walaupun siang hari. Dinding dan pintu belakang toko hanya menjadi awalan karena kemudian tembok batu berbaris panjang menjadi pembatas tempat itu. Sepi. Setelah beberapa meter masuk ke dalam, anak-anak tangga menyambutnya bersamaan dengan bau menyengat dari bak sampah yang ada di bawah anak tangga pertama.

Luhan menyentuh saku yang ada di balik blazernya. Sejak menjadi pengacara, dia selalu membawa pisau lipat untuk melndungi diri. Menjadi pengacara adalah profesi yang berbahaya apalagi ketika dia berhasil memenangkan persidangan.

Dengan pelan, ia menaiki anak-anak tangga tersebut dan beberapa rumah kecil mulai terlihat menggantung dan berjejer di atas. Setelah anak tangga ke sepuluh, barulah terlihat jelas deretan rumah-rumah itu. Ada jalan aspal yang membentang ke depan, tidak tau dimana jalan itu akan berujung. Walaupun ada banyak rumah di sana tapi lingkungan itu tetap terlihat sepi.

Luhan menelusuri seluruh sudut. Mengamati satu-persatu rumah. Tiba-tiba ponselnya berdering, dia sudah akan menjawab panggilan dari nyonya Anne itu ketika matanya menangkap sosok laki-laki yang baru saja keluar dari sebuah rumah dengan menjinjing sebuah tas. Dia terlihat tergesa-gesa dan seperti akan pergi jauh. Ketika pria itu merasa jika dirinya sedang di perhatikan, ia menoleh kearah Luhan. Setelah keduanya membeku selama beberapa detik, pria itu langsung melempar tasnya dan berlari.

Dia menemukannya.

Luhan mengejar Kim Donghyun sekuat tenaga. Melewati satu gang kecil ke gang kecil lainnya. Kim Donghyun nyaris menabrak motor pengantar pizza dan membuatnya terjerembap ke tanah. Ia segera berdiri dan melanjutkan larinya begitu melihat Luhan semakin dekat.

“YA! BERHENTI!”teriak Luhan memperingatkan. “KIM DONGHYUN!”

Laju lari Donghyun semakin lama semakin menurun karena dia sudah kelelahan. Luhan mengulurkan tangannya, menarik kerah baju Donghyun dan mendorongnya hingga dia terjatuh. Luhan berjongkok di sebelahnya dengan napas terengah, mengeluarkan pisau lipat dari balik jasnya dan menodongkannya kearah Donghyun.

“Sudah ku bilang jangan berlari.”

“Aku tidak melakukan apapun. Sungguh. Semua itu hanya kesalahpahaman. Aku tidak melakukan itu. Tolong biarkan aku pergi.”seru Donghyun ketakutan.

“Membiarkanmu pergi? Apa kau tau aku sudah mencarimu selama empat tahun, hah?!”bentak Luhan, amarahnya tak lagi bisa di bendung. Amarah yang telah ia simpan selama bertahun-tahun akhirnya menyeruak keluar. “Kau bahkan tidak tau apa yang sudah menimpa keluargaku dan kau membuat adikku kecelakaan kemarin! Brengsek!”

“Aku mohon maafkan aku, Tuan Muda. Aku benar-benar tidak melakukannya.”

“Tutup mulutmu!” Luhan semakin mendekatkan ujung pisaunya ke leher Donghyun membuat pria paruh baya itu memejamkan kedua matanya kuat-kuat dan menelan ludah.

Luhan mengambil ponselnya dari dalam saku ketika benda kecil itu kembali berdering. Kali ini dari Jonghyun.

“Jonghyun-ah, kau menelpon di saat yang tepat.” Luhan bersuara lebih dulu tanpa mengucapkan salam. “Bisakah kau kemari? Aku pikir aku membutuhkanmu untuk meredam amarahku.”

“….”

“Yah. Aku sedang marah sekarang. Sangat marah dan hampir hilang kendali.”

“….”

“Kau harus segera datang, Jonghyun. Jika tidak, mungkin aku akan membunuh seseorang.”

***___***

 

Jonghyun segera menuju rumah Luhan setelah ia mendengar nada menakutkan di balik suara Luhan tadi. Pria itu menerobos masuk, nyaris mendobrak pintu.

“Luhan.” Mata Jonghyun terbelalak lebar begitu mendapati Luhan dengan seorang pria yang sudah pingsan dengan kedua tangannya dan kakinya di ikat. Masih dengan napas terengah dan jantung berdebar-debar, ia menghampiri Luhan yang duduk di sofa sambil menatap tajam kearah pria yang diikat itu. “Apa yang terjadi? Siapa dia?”

Jonghyun sangat khawatir. Ini pertama kalinya setelah sekian lama ia melihat tatapan itu di mata Luhan. Tatapan tajam penuh kebencian.

“Luhan.” Jonghyun berseru lagi karena Luhan hanya diam.

“Kim Donghyun.”serunya tajam, matanya masih menatap lurus kearah Donghyun. “Seseorang yang sudah memporak-porandakan keluargaku.”

Jonghyun langsung terkejut, “Apa?” lalu menoleh menatap Kim Donghyun. “Apa yang sudah kau lakukan padanya? Kenapa dia pingsan?”

“Aku memukulnya hingga dia pingsan.” Luhan mengatakan itu dengan senyum yang terlukis di wajah membuatnya terlihat semakin mengerikan. “Karena jika tidak, dia akan kabur lagi.”

“Luhan…”

“Jonghyun, aku sangat ingin membunuhnya.” Luhan kini melirih. “Aku sangat ingin membunuhnya tadi jika aku tidak bisa mengendalikan diriku. Aku sangat ingin membalas semua perbuatan yang sudah dia lakukan untuk keluargaku. Aku benar-benar ingin dia mati.”

“Kau adalah pengacara. Kau tau kau tidak boleh melanggar hukum.”

“Aku tidak perduli karena hukum tidak pernah adil.”balas Luhan. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Kematian ayahku tiba-tiba saja terlintas di otakku. Bagaimana caranya meninggalkan kami dan bagaimana adik-adikku merasa frustrasi karena itu. Bahkan kemarin, karena dia, Jongin mengalami kecelakaan.”

Jonghyun menjatuhkan diri di samping Luhan, “Kita tetap harus menyerahkannya pada polisi, Luhan. Kau tidak boleh—“

“Bagaimana ini?” Luhan mengangkat wajahnya, menatap Jonghyun. “Aku tidak bisa melupakan dendamku. Aku tidak bisa kembali ke kehidupanku yang dulu. Dadaku terasa sesak hingga rasanya ingin meledak. Aku ingin menumpahkan seluruh amarahku. Aku ingin membunuh mereka semua.” Jonghyun menghusap pundak Luhan lembut. “Tapi… aku tidak ingin adik-adikku melihatku sebagai orang jahat. Aku tidak mau melihat mereka tersiksa lagi.”

Ikatan persahabatan yang terjalin sangat lama itu membuat Jonghyun mengerti. Bahkan bisa di bilang, di dunia ini, dia adalah orang yang paling mengerti Luhan. Karena lebih dari kedua adiknya, Luhan lebih sering menceritakan kesedihannya padanya. Jonghyun tau bagaimana penderitaan mereka, bagaimana tersiksanya mereka selama empat tahun. Jadi dia bisa memaklumi perasaan Luhan.

“Aku minta maaf karena aku sudah bersikap egois.”seru Jonghyun. “Aku hanya memikirkan diriku sendiri karena aku takut kehilangan seorang partner lagi hingga mengatakan hal-hal itu padamu. Aku tau bagaimana penderitaanmu tapi aku tetap mengatakannya. Aku benar-benr minta maaf.”

Luhan hanya diam. Dia kembali menundukkan kepalanya sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

Dia menangis.

***___***

 

“Kau sudah merasa lebih baik, hyung?” Sehun bertanya pelan di sisi ranjang Jongin. Jongin mengangguk. “Kau mau makan lagi? Aku akan mengambilkannya.”

“Ya, kau mau aku jadi babi?”balas Jongin mendengus. “Ini sudah kelima kalinya kau menyuruhku makan dan aku sudah makan sebanyak tiga kali hingga siang ini. Kau benar-benar ingin aku jadi babi, ya?”

“Aku hanya ingin kau segera sembuh.”

“Aku sudah baik-baik saja dan aku merasa sangat kenyang sekarang. Berhenti menawariku makanan.”

“Ngomong-ngomong, apa Luhan hyung sudah berhasil menangkapnya?” Taemin yang sejak tadi mondar-mandir, duduk di sisi ranjang Jongin. “Kenapa sampai sekarang tidak ada kabar apapun?”

“Sudahlah. Kita tunggu saja berita dari Luhan hyung.”decak Jongin malas. “Sekarang sebaiknya kau pulang. Apa kau tidak pergi kerja? Sejak kemarin kau berada disini.”

“Jika aku pergi, Sehun akan sendirian.”

“Nanti Jongin akan datang setelah pulang sekolah.”

“Tidak. Aku sudah meminta ijin cuti dari bosku.”

“Cuti? Ya! Kau mau kehilangan pekerjaanmu? Kau baru saja bekerja.”

“Jangan banyak bicara. Aku akan mengurusnya.” Balas Taemin santai membuat Jongin semakin kesal. “Aku benar-benar mengkhawatirkan Luhan, hyung. Dia belum datang sampai sekarang.”

“Dia pasti sangat sibuk.” Jongin tetap mencoba berpikir positif.

“Hyung.” Panggil Sehun dengan suara pelan sambil menggenggam tangan kanan Jongin. Jongin menoleh. “Mulai sekarang aku akan lebih bersikap dewasa dan memperhatikan hyung. Aku akan membuat hyung tidak mengkhawatirkanku lagi.”

Jongin tersenyum senang sambil mengacak rambut Sehun, “Aku tau.”

***___***

 

Luhan langsung datang ke cafe dimana Sungwoo berada setelah pria itu menelponnya tadi pagi. Dia sudah mendapatkan beberapa data rekaman CCTV empat tahun lalu dari keluarganya.

“Kau sudah mendapatkannya? Bagaimana?” Luhan langsung menjatuhkan diri di depan Sungwoo tanpa basa-basi.

Sungwoo menyerahkan kantung plastik putih pada Luhan berisi rekaman kaset.

“Sayangnya, aku tidak mendapatkan rekaman ketika ayahmu mengalami kecelakaan.”serunya. Wajah Luhan langsung terlihat kerut. “Tapi, mungkin kau akan tertarik dengan rekaman itu.”

Luhan mengerutkan keningnya bingung menatap Sungwoo. Sungwoo tersenyum, “Aku mendapatkan rekaman kecelakaan tabrak lari Kris.”

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

10 thoughts on “FF EXO : AUTUMN CHAPTER 30

  1. HunHo_Suho berkata:

    Tabrak lari kriss errr jleb banget malang sekali nasib kris😅😅 tpi syukur deh ke sini mudah mudahan keliatan semua masalah nya, greget banget kasus ini banyak makan korba😢😢 ditunggu next nya kakkk semangat!!!!🙌🙌🙌

  2. Anfa berkata:

    Kenapa aku lupa sama kim donghyun y?? Bingung waktu dia nyebut luhan tuan muda,.. Aaaa kyak.a harus bca ulang biar gk tmbah bingung sampe akhir,… Owh yha itu dialog ”Nanti Jongin akan datang setelah pulang sekolah” (itu maksud.a jinyoung kn y??) hhee ma’af klo salah, cuma bingung aj.. :p
    semangat buat next chap yha kak,. Smoga kebenaran bsa sgera terungkap,.. Fighting,. 😀

  3. Putihilma berkata:

    Yeaaay update~
    Salut sama luhan tiba2 diluar kontrol mukulin kim donghyun o_o
    Penasaran sama kasus tabrak lari nya kris
    Next chapter selalu ditunggu eonni.. Fighting!

  4. Hesti andriani berkata:

    Untung jongin selamat. Akhirnya kim donghyun ketangkap juga dan luhan dapat rekaman cctv kris yang ditabak lari. Semoga luhan bisa menang dengan sidang selanjutnya. Authornim berikan mereka kebahagiaan dan jangan buat mereka menderita lagi dong.

  5. ji_kim berkata:

    Ak yg baca ikut emosi 😡😡
    .
    Segara bereskan lah permasalahan ini ka mija yang saya hormati….
    FIGHTING!!!

  6. rain berkata:

    baca ini jadi ikut kebawa suasana, jd ikt ngerasain jd Luhan.. emosi
    daan akhirnya ada bukti lg utk membantu sidang selanjutyaa, semoga tabrak lari kris jg terungkap! next next authornim..

  7. Hikari berkata:

    Eh.. jadi langsung inget kecelakaan tragis Kris
    Hanya bisa menunggu waktu kebhagiaan mereka
    Dan keadilan untuk Ayah mereka😊

  8. So_Sehun berkata:

    Aduhhh…aku di ingatkan lagi sama bang kris…
    Ayo segera ungkapkan kebenaran yg terjadi..
    Karna aku ga rela bang kris meninggal bgtu saja…
    Semoga kebenaran, keadilan dan kebahagian segera dtang menjemput Park Sibling…

  9. Jung Han Ni berkata:

    Kasian jonghyun.. dia pasti sedih banget kalo jongin ninggalin sepak bola kayak luhan dulu, aku jadi sedih 😢
    Semoga jongin cepet sembuh dan ikut tim sepak bola lagi
    Akhirnya donghyun ketangkep juga huft!
    Dan smoga kasus tabrak lari kris cepet keungkap pelakunya! Aku masih ga rela kris mati sebenernya 😭
    Ditunggu lanjutannya eonni 🙂 keep writing n hwaiting! ^^

  10. ellalibra berkata:

    Eonni sedih , knp tetep sedih bc ni crta dr awal smp part ini huaaaaaaaaaaa….. Knp mrk sll aja ditimpa cobaan g brhenti” ,,, smg skrg luhan dpt titik terang dr rekaman yg dibw sangwoo bt dipersidangan memberatkan pihak lawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s