FF EXO : AUTUMN CHAPTER 29

autumn

Author  :  Oh Mi Ja

Cast :  Leeteuk SJ as Park Jungsoo

Luhan EXO as Park Luhan

Kai EXO as Park Jongin

Sehun EXO as Park Sehun

Support Cast      : Kris EXO as jaksa

Suho EXO as Pastor

Taemin Shinee as Lee Taemin

JR JJ Project as Park Jin Young

Jonghyun CN Blue as Lee Jonghyun

Shindong SJ as Shin Donghee

Dongho Ukiss as Shin Dong Ho

Genre                   : Brothership, Family, Mystery, Comedy, Friendship

 

 

Saat-saat penuh air mata dan penderitaan itu tidak akan sia-sia. Pada akhirnya hari yang mereka tunggu selama empat tahun itu datang. Ini adalah sidang pertama – bukan sidang pertama bagi Luhan tapi sidang pertama yang mampu membuatnya sangat gugup -.

Jongin terus menggenggam tangan Sehun yang terus mengeluarkan keringat dingin. Wajahnya pucat dan dia terlihat sangat gugup. Berkali-kali ia menggigit bibir bawahnya untuk menenangkan diri namun yang ia temukan justru debaran jantungnya yang semakin tak terkendali. Di sisi kanannya, Jinyoung dan Pastor Kim juga duduk berjejer untuk memberikan semangat untuknya.

“Kau sudah siap, kan? Lakukan seperti yang biasa kau lakukan. Ini bukan sidang pertamamu.” Jonghyun menepuk-nepuk kedua pipi Luhan lalu menghusap pundaknya.

“Aku… baik-baik saja.” Luhan berseru ragu.

“Kau sudah menyiapkan ini selama empat tahun. Kau pasti bisa.”

Di kursinya, Jongin juga menghibur Sehun, “Kau cukup mengatakan apa yang telah terjadi padamu. Jangan berbohong dan jangan memaksakan diri, mengerti?” Sehun mengangguk pelan. “Jangan takut. Luhan hyung akan berdiri di depanmu, kami ada di belakang dan appa akan menjagamu dari atas. Kau bersama kami.”

Sehun mengangguk lagi, kali ini di sertai gumaman pelan, “Aku mengerti.”

“Ayo. Sepertinya persidangan sudah akan di mulai.”

***___***

 

Ketika beranjak dewasa, Sehun tidak pernah merasakan rasa gugup seperti ini. Bahkan rasa gugup ini mengalahkan rasa gugupnya saat pertama kali debut, saat pertama kali ia berdiri di depan orang banyak.

Dia tidak mampu mengendalikan debaran jantungnya walaupun berkali-kali ia telah mengatakan pada dirinya sendiri jika semuanya akan baik-baik saja. Ini adalah saatnya untuk membuktikan jika ayahnya tidak bersalah. Tapi, nyatanya ia tetap merasa ketakutan.

Persidangan telah di mulai selama 5 menit. Ia duduk di ruangan lain menunggu waktunya bersaksi. Matanya terus terpejam sambil mendengarkan suara samar-samar yang terdengar dari ruang persidangan. Seumur hidupnya, dia tidak pernah menyangka jika dia akan duduk di ruangan ini. Ruangan yang sangat dingin dan menakutkan.

“Appa…”lirihnya pelan. Kedua matanya masih terpejam. “Appa akan membantuku, kan?”

***___***

 

Luhan menarik napas panjang. Sama halnya dengan Sehun, jantungnya tak henti-hentinya berdegup kencang. Keringat dingin sudah membasahi seluruh permukaan tangannya dan pikirannya tiba-tiba saja kosong. Dia tidak bisa memikirkan apapun. Benar-benar merasa takut karena di lihatnya semua orang seakan ingin menjatuhkannya.

Tapi disana, di tempat duduk penonton, dia melihat Jongin, Jinyoung, Taemin, Jonghyun dan beberapa orang yang selalu mendukungnya. Orang-orang yang sedang mengandalkannya. Orang-orang yang selalu mendoakannya agar kesulitan itu segera menghilang.

Luhan mengepalkan tangannya di samping tubuh. Dia tidak mungkin mundur. Dia sudah menunggu hari ini selama empat tahun.

“Kami akan mendengarkan pembelaan dari pihak pembela.”suara Hakim memaksa kesadarannya kembali. Luhan berdiri perlahan, ia terdiam selama beberapa saat untuk menenangkan dirinya.

Ini untuk appa.

“Saya telah menyelidiki kasus ini sejak empat tahun lalu dan menemukan kejanggalan di dalamnya. Pertama, kasus ini berjalan begitu cepat tanpa adanya pembelaan yang cukup untuk terdakwa. Kedua, hakim sebelumnya menutup kasus ini begitu saja tanpa adanya penyelidikan lebih lanjut. “

Jaksa penuntut berdiri, “Apa anda benar-benar pengacara? Bukankah seharusnya anda tau jika dasar dari persidangan bukanlah kesimpulan-kesimpulan tanpa bukti seperti itu?” Lalu ia menoleh, menatap Hakim. “Yang Mulia, persidangan ini seharusnya tidak bisa di lakukan atas dasar kesimpulan semata. Dia hanya menduga-duga dan tidak menunjukkan bukti yang kuat.”

“Saya memiliki seorang saksi, Yang Mulia.”sahut Luhan. “Saya tidak mungkin mengajukan persidangan ulang jika saya hanya menduga-duga.”ucapnya mulai kesal.

Hakim memukulkan palunya beberapa kali, “Jaksa dan pengacara Park, jika kalian tidak tenang, persidangan tidak akan di lanjutkan.”

Luhan menghembus napas, menenangkan dirinya dan mengangguk sedikit, “Maafkan saya, Yang Mulia.” Sementara Jaksa penuntut juga kembali duduk di kursinya.

“Panggil saksi pertama.”

“Itu Sehun.”bisik Jongin, tanpa sadar ia mencengkram tangan Jonghyun. Jonghyun bisa merasakan bagaimana dinginnya tangan Jongin sekarang. Pria itu balas menggenggam tangan Jongin untuk menenangkannya.

Wajah-wajah tegang semakin terlihat saat Sehun memasuki ruang persidangan. Jinyoung memejamkan matanya dan langsung berdoa agar Sehun bisa melewatinya.

Sehun menatap Luhan kemudian Jongin sesaat sebelum duduk di kursi saksi. Ia kembali menarik napas dalam-dalam. Tangan kanannya terus menepuk-nepuk dadanya agar jantungnya tidak berdegup kencang.

“Saksi bisa mulai memberikan penjelasan.”

“Bulan Oktober empat tahun lalu, ayahku tiba-tiba mengatakan jika dia harus pergi ke luar negeri karena ada urusan bisnis. Dia bilang, dia akan pergi dalam jangka waktu yang lama dan memintaku untuk tidak menunggunya. Karena saat itu aku masih sangat kecil, aku tidak mengerti apapun dan bahkan tidak mengetahui jika saat itu sebenarnya ayahku sedang terjerat kasus. Beberapa hari kemudian, tiba-tiba saja aku dan kakak-kakakku harus meninggalkan rumah. Lagi-lagi aku tidak di berikan alasan yang jelas dan hanya meninggalkan rumah kami. Kami tinggal di rumah sewa sederhana dan hidup kami tiba-tiba berubah. Aku tidak pernah tau jika sejak itu kakak sulungku harus pergi bekerja paruh waktu sepulang sekolah agar kami bisa hidup sementara kakakku yang lain mengurus rumah dan mengurusku. Aku tidak pernah tau yang sebenarnya dan hanya menunggu ayahku pulang.”jelasnya dengan nada bergetar. “Hingga akhirnya, saat musim dingin beberapa hari sebelum natal. Aku dan kakakku pergi ke sebuah festival. Saat itu, aku berdiri di pinggir untuk menonton kakakku yang sedang tampil. Tapi tiba-tiba seseorang menghampiriku. Seorang anak kecil dan ayahnya, dia menghampiriku dan memberitahu semua yang terjadi dengan ayahku. Tentang kasus itu dan betapa bahagianya mereka karena telah berhasil menjatuhkan ayahku. Aku masih bisa mengingatnya dengan jelas, mereka tidak menyukai ayahku dan menyimpan dendam. Mereka adalah tuan Shin dan anaknya!”

“Keberatan Yang Mulia, saksi berspekulasi berlebihan.”bela jaksa penuntut.

“Mohon jangan berspekulasi berlebihan.”seru Hakim.

Sehun menggeleng, “Aku bersumpah. Aku mengatakan yang sebenarnya. Mereka lah yang telah merencanakan semua ini. Mereka yang memfitnah ayahku!”

“Keberatan Yang Mulia, saksi mulai menuduh!”

“Aku tidak menuduh!”

“Tenang!” Hakim kembali memukul palunya. “Aku benar-benar akan menghentikan persidangan jika kalian terus seperti ini.”

Sehun langsung menundukkan kepalanya. Sementara Jongin dan Luhan semakin menahan napas melihat adu mulut itu.

Ketika suasana sudah mulai tenang, Hakim kembali berseru, “Jaksa penuntut silakan mengajukan pertanyaan.”

Jaksa penuntut itu berdiri dan menghampiri Sehun. Luhan bisa melihat jelas bagaimana ekspresi ketakutan yang sedang di sembunyikan adik bungsunya itu karena kesepuluh jarinya sedang bertaut dan tubuhnya tiba-tiba menegang.

“Saya tidak akan mengajukan pertanyaan tapi saya ingin mengajukan sebuah bukti jika anak ini seharusnya tidak di perbolehkan menjadi saksi, Yang Mulia.”

Ekspresi Luhan seketika berubah bingung. Jaksa penuntut membawa beberapa lembar kertas dari mejanya dan memberikannya pada Hakim. Di layar besar yang ada di samping meja hakim juga di tampilkan isi dari kertas itu.

Detik berikutnya Luhan tersentak.

“Ini adalah laporan yang menyatakan jika saksi pernah mengalami amnesia ringan yang membuatnya kehilangan sebagian ingatannya. Hingga saat ini, dia juga masih terus pergi ke rumah sakit untuk memeriksa keadaannya. Jadi kita tidak bisa mempercayai jika ucapannya adalah kebenaran atau tidak, Yang Mulia.”

Sehun seketika berdiri, rahangnya mengatup keras, “Aku benar-benar sehat sekarang! Aku bisa mengingat semuanya dan yang ku katakan tadi bukanlah kebohongan. Aku berkata jujur!”

“Bagaimana mungkin kami bisa mempercayaimu jika ternyata kau bahkan tidak bisa mengingat hal-hal dengan baik. Kau bisa saja salah dalam mengingatnya!”balas jaksa penuntut. “Dan yang seperti Yang Mulia tau, anak ini belum cukup umur untuk menjadi saksi. Dia juga sedang terlibat dengan kasus hukum lain dimana dia memukul anak dari tuan Shin Donghee. Dia bisa saja mengada-ada karena dia memiliki dendam pada anaknya.”

“Keberatan Yang Mulia, jaksa menuduh saksi tanpa bukti!”

“Mohon tenang!” bentak hakim. “Sidang akan di istirahatkan selama 30 menit.”

***___***

 

Luhan terus terdiam di sudut ruangan sejak sepuluh menit lalu sementara di sudut yang berlawanan, Sehun juga duduk seorang diri sambil terus memandang keluar jendela. Entah apa yang sedang mereka pikirkan namun sepertinya semua itu dapat terbaca dengan jelas.

Sidang belum bisa di bilang gagal tapi sepertinya Luhan dan Sehun sangat terpukul karena persidangan pertama sepertinya tidak berpihak pada mereka. Entah bagaimana pihak lawan bisa mendapatkan laporan kesehatan Sehun padahal hal itu adalah hal yang sangat di rahasiakan dan hanya beberapa orang yang mengetahuinya.

Jongin menatap keduanya bingung. Ikut terpukul tapi dia sadar jika ini bukan waktu yang tepat baginya untuk tenggelam dalam kesedihan juga. Di saat-saat seperti ini, dia harus menjadi orang yang paling kuat.

“Ini baru permulaan.”serunya pelan. Memandang Luhan dan Sehun bergantian. “Masih ada beberapa persidangan lagi. Jadi kalian tidak perlu bersedih. Kita masih punya banyak waktu.”

“Itu benar.” Jonghyun mengangguk. Ikut mencairkan suasana. “Ini hanya awal. Kita harus semangat. Ayolah, jangan bersedih. Pria itu bertepuk tangan, memberikan semangat untuk Luhan dan Sehun.

“Hyung…” Sehun akhirnya bersuara. Ia menatap Jongin dengan ekspresi sedih. “Maafkan aku…”

“Kenapa kau minta maaf? Kau sudah melakukan yang terbaik.”

“Jika saja aku tidak membuat masalah di sekolah dan jika saja aku tidak sakit, mereka tidak mungkin mendapatkan bukti itu.”

“Kau tidak bersalah.”sahut Luhan. Ia menatap Sehun lalu tersenyum lembut. “Tidak apa-apa. Di persidangan selanjutnya, aku akan berusaha sebaik mungkin.”

“Dengar, itu bukan salahmu.” Jinyoung menepuk pundak Sehun. “Jangan seperti ini. Ini tidak seperti dirimu yang biasanya. Kau sudah melakukan yang terbaik.”

Mendengar itu Sehun tersenyum tipis, “Terima kasih, Jinyoung.”

***___***

 

“Kami masih harus menyelidiki kasus ini secara lebih lanjut. Persidangan akan di lanjutkan tiga minggu lagi.” Hakim mengetuk palunya tiga kali lalu meninggalkan ruang persidangan.

 

***___***

 

Luhan terus terpekur di mejanya. Tangannya yang memegang bolpoin, mengetuk-ngetukkannya di meja. Jaksa itu bernama Do Jinho, jaksa yang di kenal selalu sukses menjebloskan para terdakwa ke dalam penjara.Luhan sudah sering melihatnya di TV bahkan menjadikannya sebagai bahan referensi untuk ujiannya dulu. Tidak di sangka saat ini dia akan melawannya di persidangan.

Tenggelam dalam pikirannya, Luhan tidak mendengar ketukan pintu nyonya Anne. Wanita itu menghampiri Luhan dan menjatuhkan diri di depannya.

“Apa aku mengganggu?”tanyanya membuyarkan lamunan Luhan.

“Nyonya Anne… tentu saja tidak.” Pria itu menegakkan punggungnya sambil tersenyum.

“Apa kau masih memikirkan persidangan tadi pagi?”

“Sedikit.”jawabnya. “Aku pikir aku telah salah mengambil langkah. Harusnya aku lebih memastikan keadaan Sehun sebelum memintanya menjadi saksi. Aku ceroboh dan membuat kesalahan di persidangan pertamaku.”

“Kau sudah melakukan hal yang benar.” Nyonya Anne menghusap punggung tangan Luhan lembut. “Kau melakukan apapun mengikuti kata hatimu. Kau sudah melakukan hal yang benar.”

“Aku pasti telah membuat kalian kecewa dan juga aku sudah melukai Sehun. Dia pasti sedih karena di perlakukan seperti itu di pengadilan.”

“Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Kami tetap mengandalkanmu. Kami tetap percaya jika kau bisa melakukannya. Dan juga, kau tidak perlu memikirkan Sehun karena Jongin dan yang lain akan merawatnya. Kau tau dia adalah orang yang mudah untuk di bujuk, kan?” nyonya Anne terkekeh. “Tadi aku menelpon Jonghyun dan dia bilang mereka sedang mengajak Sehun jalan-jalan. Mereka justru khawatir padamu.”

“Benarkah? Syukurlah.”

“Sekarang, sebaiknya kau gunakan waktumu untuk berpikir. Pikirkan langkah apa yang akan kau ambil selanjutnya agar tidak melakukan kesalahan lagi.”

Luhan mendesah panjang, “Aku belum mendapatkan informasi apapun dari temanku tentang rekaman CCTV itu. Aku tidak tau…” Luhan tiba-tiba menghentikan ucapannya ketika otaknya secara mendadak memberikan sebuah ide. “Ahjumma… bisakah ahjumma membantuku?’

Kening nyonya Anne seketika berkerut, “Huh?”

“Tim internal audit!” Luhan menatap nyonya Anne lurus-lurus. “Kita bisa mendapatkan sedikit informasi dari tim internal audit Hansan Grup! Ahjumma, tolong cari informasi tentang mereka.”

Nyonya Anne langsung mengangguk, “Baiklah. ”

Jika dia tidak bisa mendapatkan rekaman CCTV empat tahun lalu dan keberadaan Kim Donghyunsetidaknya dia bisa mendapatkan sedikit informasi tentang laporan keuangan mereka.

***___***

 

Jongin lagi-lagi harus mangkir dari latihannya karena kembali menjadi pusat perhatian setelah media menyebarkan laporan persidangan kemarin. Kini seluruh warga Korea Selatan sudah mengetahuinya dan semakin memojokkan keluarganya terutama Sehun. Mereka menilai jika keluarganya benar-benar tidak tau diri.

“Kau sedang apa?” Taemin tiba-tiba muncul di hadapan Jongin sambil menyodorkan sebuah burger. “Bukankah kau harus latihan?”

Jongin menerima burger itu lalu menghela napas panjang, “Aku rasa aku akan keluar dari tim.”

“Apa?!” Taemin nyaris tersedak makanannya ketika mendengar pernyataan Jongin itu. “Kau sudah gila ya?!”

Jongin menghela napas panjang lagi, “Aku tidak tau bagaimana caranya menghadapi teman-teman timku dan pelatih. Aku selalu merasa mereka memakiku diam-diam.”

“Bukankah mereka adalah teman-temanmu? Kalian sudah berjuang bersama-sama dalam pertandingan! Mereka harusnya mendukungmu!”

“Entahlah.” Jongin mengendikkan kedua bahunya. “Karena aku, nama tim jadi tercoreng. Sejak kemarin, namaku, Sehun dan keluarga Park jadi kata kunci yang paling di cari di Naver. Aku hanya menemukan 1% komentar positif dan sisanya adalah komentar negatif. Hampir seluruh warga Korea Selatan membenciku dan memintaku keluar dari timnas.”

“Tapi manager dan pelatih tidak memintamu, kan?”

“Setidaknya aku harus tau diri.” Dia tersenyum kecut. “Aku tidak bisa membela negaraku jika warga-nya tidak mempercayaiku lagi.” Pria berkulit gelap itu lantas berdiri sambil meraih tasnya. “Aku pulang dulu. Aku harus memeriksa keadaan Sehun.”

Taemin tidak bisa melakukan apapun atau bahkan menghentikan langkah sahabatnya itu ketika dia beranjak pergi. Dia mengerti bagaimana perasaannya. Jika dia ada di posisi Jongin, mungkin dia akan melakukan hal yang sama. Pergi jauh dari orang-orang itu. Tapi sekali lagi, bukankah mereka adalah teman-temannya?

Jongin duduk di kursi halte sambil menyandarkan kepalanya di tiang besi. Beberapa kali bus berhenti di depannya namun dia tidak ada niatan untuk naik. Lima menit lagi. Dia ingin mengumpulkan kekuatan terlebih dulu sebelum bertemu dengan Sehun di rumah.

Pikirannya terus saja berkecamuk. Sejak tadi memikirkan bagaimana caranya memberitahu Sehun dan Luhan tentang apa yang sedang dia alami. Dia hanya meninggalkan pesan singkat pada Jonghyun dan memintanya untuk tidak mengatakan apapun dulu pada Luhan dan Sehun. Ini sulit.

Dia berada di titik tengah, dimana kakak dan adiknya sedang mengalami masa-masa sulit. Dia tidak mungkin menambah kesulitan mereka dengan segala kekhawatirannya.

Jongin menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan, mencoba untuk menenangkan dirinya, “Kau bisa melakukannya, Jongin. Kau bisa.”

Bus berikutnya berhenti di depannya dan kali ini dia telah memiiki sedikit kekuatan untuk pulang ke rumah. Namun baru satu langkah melangkahkan kakinya, matanya tiba-tiba menangkap sesuatu. Jongin tertegun untuk beberapa saat.  Pria paruh baya yang memakai coat panjang dan syal yang menutupi sebagian wajahnya itu ikut tertegun saat dia juga melihat Jongin sedang berdiri tak jauh di depannya.

Keduanya saling memandang untuk beberapa saat hingga akhirnya mereka sama-sama tersadar. Detik itu juga, Jongin langsung berlari mengejarnya dan tanpa sengaja menabrak seseorang yang ingin memasuki bus. Tidak ada waktu untuk menolong wanita itu, Jongin mengabaikannya dan terus berlari sementara pria paruh baya itu juga berlari sekuat tenaga melarikan diri.

Sepertinya ini adalah kesempatan kedua yang di berikan oleh Tuhan untuknya. Dan sekarang dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini seperti sebelumnya. Orang itu masih berada di Korea dan bukan di luar negeri. Itu artinya selama ini Luhan salah mengira yang menganggap jika dia melarikan diri dari Korea.

“BERHENTI!”teriak Jongin.

Jarak mereka semakin lama semakin mengecil. Saat itu, Jongin berlari lebih kencang daripada saat dia mengejar bola ketika pertandingan. Matanya mengunci sasarannya yang sebentar lagi bisa dia dapatkan bersamaan dengan angan-angannya yang akan memenangkan persidangan. Tidak akan lama lagi, dia bisa membersihkan nama baik ayahnya. Tidak lama lagi.

Namun semua itu telah menghilangkan fokus dan kewaspadaan Jongin terhadap apapun di sekelilingnya. Rasa frustasi yang telah menumpuk sejak lama membutakannya. Dia tidak menyadari jika saat ini dia sedang menyebrangi zebra cross padahal lampu masih bewarna merah. Sama sekali tidak menduga jika sebuah mobil melaju dengan cepat dari arah belokan.

Pengemudi yang berusaha menghentikan laju mobilnya dengan menginjak rem dalam-dalam hanya sia-sia. Semua orang mendengar bagaimana kerasnya bunyi hantaman itu. Seluruhnya menolehkan kepala dengan mata terbelalak lebar. Hanya dalam beberapa detik tubuh Jongin tergeletak di jalan dengan berlumuran darah.

***___***

 

Jonghyun membaca pesan yang di kirim oleh Jongin kesal dan langsung menghubungi ponselnya. Di tekannya tombol panggilan berkali-kali karena pria itu tak kunjung menjawab panggilannya.

“Taemin.” Tanpa sengaja ia bertemu Taemin di lobby universitas. “Apa kau melihat Jongin?”

“Dia pulang ke rumahnya, hyung. Sepertinya suasana hatinya tidak begitu baik.”

“Kau tau apa yang sudah dia katakan? Dia ingin mengundurkan diri.” Jonghyun menunjukkan pesan Jongin pada Taemin. “Apa anak itu sudah gila? Bagaimana mungkin dia mengundurkan diri seperti itu? Dia bahkan tidak menjawab panggilanku!”

Taemin mengembalikan ponsel Jonghyun setelah membaca pesan Jongin, “Hyung, berikan dia waktu untuk sendiri. Dia sedang melewati masa-masa sulit karena komentar-komentar jahat itu. Tidak ada yang berpihak padanya bahkan media sekalipun.”

“Tapi dia tidak bisa mengundurkan diri seenaknya seperti ini.”

“Kita coba bicara lagi dengannya setelah suasananya tenang. Hyung tau jika dia juga menyukai sepak bola, yaah walaupun secara tidak langsung, dia tidak mungkin meninggalkan sepak bola begitu saja.”

***___***

 

Nyonya Anne meletakkan lembaran-lembaran kertas di atas meja Luhan membuat pria yang sedang asik mengetik itu menoleh.

“Aku sudah menemukan informasi tentang tim internal audit Hansan Grup. Tapi ada satu kejanggalan disana.” Kening Luhan berkerut sambil meraih lembaran kertas itu dan membacanya. “Satu dari tiga anggota tim internal audit telah di pecat secara tidak terhormat oleh perusahaan. Dia terlibat kasus hukum atas kekerasan pada salah satu pegawai di sana.”

“Lalu apa yang janggal?”

“Aku telah menyelidiki latar belakangnya dan dia adalah pria baik-baik. Dia sangat menyayangi keluarganya. Jadi rasanya sedikit aneh jika dia melakukan kekerasan pada orang lain.”

Mata Luhan seketika membulat, “Maksudnya ini adalah jebakan?’

Nyonya Anne mengangguk, “Kita bisa mengambil kesimpulan seperti itu.”ucapnya. “Aku sudah mencoba untuk menghubunginya tapi ternyata dia sudah tidak tinggal di Korea sejak dia di pecat. Saat ini dia tinggal di Hongkong bersama keluarganya.”

“Kita harus mendapatkannya sebelum persidangan selanjutnya.” Luhan berdiri dari kursinya. “Aku juga akan memasukkan nama Kwon ahjumma sebagai saksi berikutnya tapi ku pikir jika hanya Kwon ahjumma, mungkin aku akan di permalukan lagi seperti kemarin. Jadi jika kita bisa mendapatkannya, kita akan memiliki satu bukti kuat.”

“Kau benar.”

“Kalau begitu, bisakah Nyonya Anne memberikan informasi kontaknya padaku? Aku harus bertemu dengannya!”

“Tapi dia ada di Hongkong, Luhan.”

“Bahkan jika aku harus pergi ke Hongkong untuk menjemputnya, aku akan melakukannya.”tegas Luhan.

“Baiklah jika itu maumu. Aku akan memberikan informasi kontaknya untukmu.”

Luhan mengangguk dan membiarkan nyonya Anne pergi meninggalkan ruangannya. Kemudian ponselnya berdering. Ia meraihnya dari atas meja dan mengerutkan kening karena tertera nomor asing di layarnya.

“Yeoboseyo.”

“Apa ini tuan Park? Kakak kandung dari Park Jongin?’

“Iya benar. Saya Park Luhan.”

“Kami dari rumah sakit Seoul ingin memberitahu anda jika saudara Park Jongin telah mengalami kecelakaan mobil dan keadaannya sangat kritis. Dia kehilangan banyak darah dan harus di operasi sekarang. Bisakah anda segera datang kemari.”

Luhan seketika tersentak, “Apa kau bilang?!”

TBC

 

 

Iklan

13 thoughts on “FF EXO : AUTUMN CHAPTER 29

  1. rain berkata:

    yeess akhirnya di lanjut setelah sekian lama menanti, tapi kok berasa singkat ya br baca sedikit eh udh TBC lagi.. Daann kenapa Jongin harus kecelakaan authornim?? sedihh, next nya selalu di tunggu pokoknya! Fighting..

  2. Anfa berkata:

    Kenapa disaat ada jlan kebahagiaan buat mreka msih ada ksulitan jga buat mlewatinnya,.. Ksian luhan.a hrus mkirin persidangan,. Harus jga sehun ma jongin,. Skarang jongin.a mlah kecelakaan,.. ;( kakak aku tau ini cuma cerita, tpi aku mohon jangn jahat2 y sma trio park,. Wlaupun mreka slalu menderita, smoga penderitaan.a gk sampe akhir y,. Happy end y kak,.. Please.. Tapi jangan cpet2 end juga y,. Hhhe 😀

  3. Hesti andriani berkata:

    Kapan mereka bisa bahagia trus yang buat mereka sengsara dapat hukuman yang lebih berat. Kenapa jongin harus kecelakaan dan kenapa semua saksi yang harus didatangkan luhan dipersidangan selalu susah dicari-cari. Semoga mereka menemukan kebahagiaan dan jangan buat mereka sengsara lagi kak walaupun ini cuma cerita tapi cerita nya seperti nyata.

  4. So_Sehun berkata:

    Di saat semua sudah kembali terang chingu membuatnya kembali gelap…tidak bisakah mereka dipermudah jalan menuju kebahagian untuk kali ini…mereka sudah terlalu lama dlm keterpurukan dan kesedihan…kumohon chingu berilah sedikit cahaya dan kemudahan dlm kehidupan park sibling…

  5. ellalibra berkata:

    Y ampun knp mrk msh hrs diberikan cobaan trs, pdhal udh mulai ada titik terang ttg kematian ayahnya gt….. Knp jongin hrs kecelakaan jg eon sebel kpn mrk bhgia nya hehe ….

  6. ji_kim berkata:

    Ka mija cepat hentikan semua penderitaan keluarga park😭😭
    Sudah sejauh ini knpa masalahnya bertambah terus😩😩
    *eh tpi klo masalahnya selesai entar tamat lagi..
    Tpi.. Entahlah
    Segera terangkan permasalahannya!!
    Lanjutkan kak fighting!!!
    Trus klo udah rampung bikin friendship lagi ya kaaa yg yixing main cast nya oneshoot ato twoshoot boleh deh ya.. Yaaaaa

  7. Hikari berkata:

    Kenpa ini tambah rumit untuk mereka 😭😭😭😭
    Semoga jongin baikbaik aja😇😇
    Dan segera terbit senyum kebhagiaan mereka

  8. princesshanxo berkata:

    yasss bru tau klo ff ini udah di update.. Huwee kak ini knpa kok malahh makin rumit sih T.T kasian itu hunhankai . Semangat ya kak buat ngelanjutin ff ini dan mkn buat ff yg lain juga . Kutunggu kak fighting !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s