The Lords Of Legend (Chapter 32)

The Lords of Legend

Tittle : The Lords of Legend

Author : Oh Mi Ja

Genre : Fantasy, Action, Friendship, Comedy

Cast : All member EXO

Air mata itu mengalir deras melalui mata Chanyeol dan berlabuh di wajah Baekhyun yang sudah terpejam. Tangisnya pecah, tak tertahankan. Chanyeol memejamkan kedua matanya erat-erat, mengirimkan schesi pada Kris. Ia memohon dalam keputusasaan. Berharap Kris agar segera datang.

Tak lama Kris muncul dengan wajah panik dan langsung menghambur kearah Lay yang tergeletak di atas tanah sambil meringis kesakitan.

“Apa yang terjadi? Lay, kau tidak apa-apa?”serunya sambil membantu Lay bangun.

“Ini salahku, Zeus. Semua ini salahku.”isaknya Chanyeol.

“Chanyeol ini bukan waktu yang tepat untuk menangis! Kita harus mengobati Baekhyun lebih dulu.” Lalu ia mengalihkan tatapannya kearah Lay. “Kau bisa melakukannya? Kau harus mengobati dirimu dulu.”

“Aku tidak apa-apa.” Lay memejamkan matanya, mengeluarkan tenaga penyembuhnya untuk menyembuhkan dirinya sendiri lalu ia bergerak menghampiri Baekhyun. “Lukanya parah. Sepertinya kita harus membawanya kembali ke Olympus.”

***___***

 

Pertarungan semakin lama semakin memanas. Alkyoneus melarikan diri entah kemana. Para Jotun dan pasukan Olympus juga sudah banyak yang gugur. Langit masih bewarna jingga dan ledakan-ledakan masih terdengar bersaut-sautan.

Xiumin telah masuk terlalu jauh menembus pertahanan musuh. Matanya berkeliling mencari keberadaan Sehun yang tetap tak bisa di temukan.

“Xiumin di belakangmu!”

Reflek, Xiumin menghindar namun lengannya tergores pedang Jotun. Ia berbalik dan langsung memberikan serangan balik. Menebas kepala Jotun itu hingga putus. Namun secara berurutan, serangan lain kembali datang. Beberapa Jotun menyerangnya sekaligus dan kali ini… bersama Medusa.

Kai menoleh kearah Ilhoon melalui pundaknya, “Sebisa mungkin jangan menatap matanya, mengerti?”bisiknya memperingatkan.

Ilhoon tak mengerti awalnya namun begitu ia melihat wujud gadis mengerikan dengan kepala yang di penuhi ular-ular kecil mendekat kearah mereka, dia langsung berpaling. Dia pernah menonton sebuah film dan tau bagaimana wujud medusa itu. Dia terkejut karena ternyata medusa benar-benar ada!

“Apa dia bisa mengubahku jadi batu?”tanya Ilhoon dari balik punggung Kai.

Kai mengangguk, “Yah, kau harus berhati-hati.”

“Urus para Jotun brengsek ini, Kai.”seru Xiumin sambil menarik pedangnya dari perut salah satu Jotun. “Aku akan mengurus Medusa.”

Medusa bukanlah lawan yang berat sebenarnya. Karena kekuatannya hanyalah mengubah seseorang menjadi batu. Tapi dia tetap harus berhati-hati. Karena jika salah mengambil keputusan dia bisa berubah menjadi batu selamanya dan tidak akan ada yang bisa menyembuhkan.

Xiumin menarik napas panjang sebelum ia mengambil langkah. Dari kejauhan senyum menyeringai Medusa terlihat. Xiumin memejamkan matanya sambil mengayunkan tangan, mengeluarkan es yang menjalar di tanah yang seketika membekukan setengah tubuh Medusa. Kemudian ia melompat tinggi ke belakangnya menghindari kontak mata lalu mengangkat pedang dan menusuk punggungnya.

Medusa memekik keras namun masih sanggup bertahan. Selagi dia berusaha keluar dari bongkahan es, ular-ular yang ada di kepalanya melompat turun dan berubah menjadi besar. Membuka mulut mereka lebar-lebar dan menunjukkan taring tajam.

Xiumin melangkah mundur satu langkah lalu dengan cepat menebas beberapa ular sementara tangan kirinya mengeluarkan es dan membekukan sebagian dari mereka. Ketika ia telah berhasil mengalahkan semua ular, Medusa tiba-tiba berbalik ke belakang dan menyerang Xiumin dengan kekuatannya.

Xiumin seketika berlutut di tanah karena ia merasakan jika kedua kakinya terasa panas seperti terbakar. Sadar jika Medusa berhasil melepaskan diri, dewa es itu langsung memejamkan kedua matanya. Tangan kanannya yang bertopang pada pedangnya yang tertancap ke tanah bergetar.

“Kau brengsek.”umpat Medusa, berjalan mendekati Xiumin. “Aku akan membalas semua perbuatan kalian padaku. Kalian ha… ARGH!” Tiba-tiba ia memekik.

Xiumin membuka matanya dan melihat darah hitam menyembur dari leher Medusa lalu ia berlutut dan tergeletak di tanah.

Matanya melebar. Ia mengangkat pandangannya dan mendapati Ilhoon sudah berdiri di hadapannya dengan ekspresi yang tak kalah terkejut. Wajahnya memucat dan tanpa sengaja ia menjatuhkan pedangnya ke tanah. Tubuhnya bergetar hebat dan dia terlihat sangat ketakutan.

“Ilhoon!” Kai langsung melompat ke belakang Ilhoon dan melindunginya dari serangan Jotun.

Xiumin tertatih-tatih berdirI, menghampiri Ilhoon dan menepuk pundaknya, “Kerja bagus. Kau sangat hebat.”

Ilhoon memandangi kedua telapak tangannya yang bergetar, “Aku…” lalu ia menatap Xiumin. “Membunuhnya…”

“Yah, kau membunuhnya. Kau melakukannya dengan sangat baik, Ilhoon.”

“Sungguh? Aku…”

“Hey, ini bukan saatnya untuk mengobrol! Apa kalian pikir kita sedang berada di cafe?”pekik Kai yang sejak tadi sibuk melindungi mereka.

Xiumin tersenyum, kembali menepuk pundak Ilhoon dan mengacak rambutnya sebelum ia kembali berperang.

“Sehun tidak ada.” Tiba-tiba ia mendapat schesi dari Suho. “Dia tidak ada disini!”

“Brengsek!” Xiumin langsung mengumpat kesal. Pantas saja dia tidak menemukan Sehun di manapun walaupun dia sudah sangat jauh memasuki kandang lawan. Mereka salah menebak!

“Kai!”panggil Xiumin. “Bawa Ilhoon kepada Chen! Sehun tidak ada disini. Dia pasti bersama Orion!”

Menyadari itu, Kai seketika terperangah, “Tidak mungkin… jika seperti itu, Chen tidak akan bisa menangkap Orion!”

“Cepat! Cari mereka!”

Kai buru-buru mengirim schesi pada Luhan untuk mencari D.O dan menanyakan keberadaan Chen. Butuh waktu beberapa saat sebelum akhirnya Luhan membalas schesi itu.

“Chen tidak membalas dan D.O merasakan rasa sakit. Sepertinya terjadi sesuatu pada Chen!”

***___***

 

“Dimana Sehun? Kau sudah menemukannya? Dimana dia?” Taeyeon bertanya tidak sabaran pada Suho.

Peperangan itu terlihat jelas dari atas bukit. Suho memutuskan untuk pergi meninggalkan perang karena dia harus melindungi Taeyeon sementara Kris membawa Chanyeol, Baekhyun dan Lay kembali ke Ollympus.

Peperangan itu terlihat mengerikan. Juga ledakan-ledakan yang terjadi di atas kepalanya. Batu-batuan langit masih terus menyerang tanah, walaupun tidak sebrutal tadi.

Dia tidak melihat Sehun dimanapun membuat hatinya terus gelisah walaupun Suho sudah berkali-kali mencoba untuk menenangkannya. Walaupun berkali-kali ia mengatakan jika Sehun adalah dewa yang hebat. Tapi Taeyeon tetaplah seorang ibu dan dia belum menemukan anaknya dalam peperangan mengerikan ini.

“D.O tidak bisa mengirim schesi pada Chen. Kita tidak bisa mengetahui di mana keberadaan mereka.”

“Kalau begitu, ayo cari mereka!”

“Alkyoneus juga tidak ada disana. Aku takut jika dalam perjalanan kita bertemu dengannya dan dia menyakitimu.” Ia melupakan sapaan hormat setelah tau siapa Taeyeon sesungguhnya. “Aku tidak boleh ceroboh. Alkyoneus sangat hebat.”

“Aku tidak perduli! Aku harus menemukan anakku! Jika kau tidak mau—“

“Hera…” Suho langsung menahan lengan Taeyeon dengan helaan napas panjang. “Ini adalah perang yang sesungguhnya dan kau adalah kunci utama untuk menyadarkan Sehun. Jika kau terluka—“

“Tapi jika kita terus-menerus diam disini, Sehun akan membunuh Chen.”suara Taeyeon bergetar hebat. Ia nyaris menangis. “Aku tidak mau anakku membunuh siapapun.”

“Hera…”

“Jika kau tidak mau, aku akan pergi seorang diri. Aku tidak perduli dengan Alkyoneus atau siapapun itu. Aku akan menyelamatkan anakku.”

Suho menatap mata berair Taeyeon sesaat. Jika mereka gegabah, mereka bisa saja terluka. Tapi ucapan Taeyeon ada benarnya, jika tidak di hentikan, Sehun bisa membunuh Chen.

Hingga akhirnya Suho berseru, “Baiklah. Ayo pergi.”

***___***

 

Kai menarik lengan Ilhoon lalu menghilang seperti angin ke suatu tempat. Tidak menemukan Sehun di sana, ia menghilang lagi dan lagi. Terus bertelepostasi dari satu tempat ke tempat lain.

“Tunggu.” Ilhoon menarik lengan Kai ketika mereka akan berteleportasi lagi.

Kai menoleh, “Kita tidak punya waktu, Ilhoon. Ada apa?”serunya tergesa-gesa.

“Bisakah kita naik kuda saja? Aku ingin muntah.” Baru beberapa saat mengatakannya, Ilhoon menunduk ke kanan dan muntah. Berkali-kali melakukan teleportasi membuatnya merasa pusing dan mual.

“Akan berbahaya jika kita naik kuda. Alkyoneus tidak ada. Aku takut kita bertemu mereka di jalan.”

“Tapi…” Pria itu berusaha mengendalikan dirinya. “…jika kau terus menggunakan tenagamu, kau juga bisa lelah.”

“Selama pohon kehidupan masih ada, aku tidak akan kelelahan.” Kai berjongkok di samping Ilhoon, menghusap-husap punggungnya. “Ayo berteleportasi sekali lagi. Kali ini kita harus menemukan tempat yang tepat.”

Ihoon langsung mendengus, “Pikirkan tempatnya baik-baik.”

“Baiklah. Aku—“

“Kai.” Suara Luhan tiba-tiba terdengar di telinganya. “Mereka ada di rumah Xiumin. Mereka ada di laut Stix!”

Kai segera berdiri dan menarik lengan Ilhoon, “Kali ini aku tau dimana tempatnya!”

***___***

 

Kai menghilang bersama Ilhoon dan dalam beberapa saat tiba di laut Stix. Ucapan Luhan benar, Sehun ada di sana. Jauh di depan mereka.

Mata Ilhoon seketika membulat lebar, “Sehun!”serunya bergegas lari namun tiba-tiba seseorang muncul dan menghantam dadanya keras dengan tinju. Ilhoon terpental jauh hingga punggungnya menabrak pohon.

“Ilhoon!”pekik Kai.

Alkyoneus telah berdiri di depannya dengan senyuman menyeringai. Memain-mainkan pedangnya yang berbentuk seperti bulan sabit sambil maju mendekati Kai.

Kai seketika memucat. Sayangnya dia tidak memiliki kekuatan apapun selain berteleportasi. Jadi mustahil bisa mengalahkan Alkyoneus yang sangat hebat itu dengan kekuatannya. Di belakangnya, Ilhoon sedang berusaha berdiri. Tertatih-tatih ia mengambil pedangnya dan bersiap melawan Alkyoneus.

Alkyoneus tersenyum, “Kalian pikir kalian bisa mengalahkanku?”decaknya geleng-geleng kepala. “Satu dewa tak berguna dan satu manusia. Cih, benar-benar menjijikan.”

“Walaupun kau bisa mengalahkan kami. Apa kau pikir Odin dan Zeus akan diam saja? Mereka akan mengurungmu lagi di dalam Tartaros. Ah tidak, mungkin akan memusnahkanmu kali ini.”

“Kita lihat saja.” Alkyoneus membalas tanpa takut. “Kalian pikir mereka bisa memusnahkanku dengan mudah? Bahkan saat ini Thor tidak lagi bisa menangkap Orion. Apa kalian tau apa artinya?” Alkyoneus menghentikan ucapannya sejenak. “Itu artinya takdir sudah berubah dan anak itu yang telah mengubahnya.”

“Jangan bicara sembarangan! Temanku pasti akan  membunuhmu!”balas Ilhoon.

“Benarkah?” Alkyoneus balas bertanya. “Lihat saja disana apa yang sedang ia lakukan. Dia akan membunuh dewa Thor sebentar lagi.”

Ilhoon dan Kai mengalihkan tatapan mereka, memandang jauh ke depan, ke arah Sehun. Mereka bisa melihat bagaimana kondisi Chen saat ini. Wajah yang penuh darah dan tubuh yang sudah tak berdaya. Sekeras apapun dia mencoba melawan, Sehun akan dengan mudah menahannya. Bahkan menangkis kekuatan petirnya dengan tameng perunggunya.

Untuk yang kesekian kalinya Sehuh membanting Chen dengan pusaran anginnya hingga membuat retakan pada laut es itu.

“Jika dia membuat lautnya cair, dia bisa di jatuhi hukuman.”bisik Kai. “Tidak. Kita harus segera menyadarkannya.”

Kai sudah akan menjentikkan jari, nyaris berteleportasi menuju tempat Sehun namun serangan Alkyoneus datang lebih cepat. Ia menyentakkan  pedangnya ke tanah, menimbulkan ledakan yang langsung membuat tubuh Kai terlempar.

Tidak memiliki waktu untuk mengkhawatirkan keadaan Kai, Ilhoon dengan napas terengahnya mengangkat pedangnya dan berlari kearah Alkyoneus. Dengan kedua tangan ia menyerang Alkyoneus namun segera di tangkis olehnya. Kedua pedang mereka saling bertaut, namun pedang Ilhoon yang jauh lebih kecil dari pedang Alkyoneus membuat Alkyoneus dengan mudah mendorongnya dan menebas lengan Ilhoon.

“Akh!”pekik Ilhoon karena lengannya seketika terasa seperti terbakar.

“Dasar kau manusia tidak berguna.” Alkyoneus mengangkat pedangnya, dengan segera akan mengakhiri pertarungannya tapi tiba-tiba Suho muncul, melompat ke depan Alkyoneus dan menangkis pedangnya.

“Lawanmu adalah aku.”desis Suho. “Kau telah membuat Chanyeol dan Baekhyun terluka dan sekarang kau melukai mereka juga. Kau benar-benar membuatku marah.”

Alkyoneus menggeram kesal, ia mendorong pedang Suho dan mencoba menyerang lagi namun Suho kembali menangkis. Bunyi-bunyi pedang bertaut terdengar dan sesekali Suho mengeluarkan kekuatan airnya namun Alkyoneus dengan cepat menghindar. Kali ini sama kuat. Hanya jika Kris ada disini, mungkin mereka bisa mengalahkan Alkyoneus dengan mudah.

Taeyeon menghampiri Kai dan Ilhoon, membantu mereka. Melihat keberadaan Taeyeon, mata Ilhoon seketika membulat lebar.

“Omoni…”

Taeyeon tersenyum dan mengangguk, “Kita harus segera pergi kesana.”

Ilhoon menoleh kearah Kai yang masih meringis memegangi dadanya, “Kai kau tidak apa-apa?”

Kai menggeleng, “Kau yang terluka.”

“Aku tidak apa-apa.”jawab Ilhoon. “Jika kau masih bisa berteleportasi sekali lagi, cepat bawa omoni kesana.”

Kai menggeleng lemah, “Aku sangat kelelahan. Aku kehilangan semua tenagaku.”

“Hanya satu kali, Kai.” Ilhoon mengguncang bahu Kai pelan. “Bertahanlah. Jika tidak, Chen akan mati.”serunya menguatkan dewa itu. “Hanya kau yang bisa melakukannya.”

“Tapi, sepertinya aku tidak bisa membawamu kesana.”

“Aku akan tetap disini. Aku akan membantu Suho.”

“Ilhoon…”

“Tidak ada waktu lagi. Cepat pergi! Sebelum Suho kehabisan tenaga juga.”

Kai menatap Ilhoon sesaat, tidak tega meninggalkannya namun dia tidak punya pilihan lain. Tertatih-tatih ia berdiri. Dengan wajah pucat dan tubuh bergetar, Kai menggenggam tangan Taeyeon.

“Omoni, aku hanya bisa mengantar omoni sampai disana tapi aku tidak bisa melindungi omoni. Saat ini Sehun sedang marah jadi dia tidak bisa di kendalikan. Omoni harus berhati-hati.”

Taeyeon mengangguk, “Aku mengerti.” Lalu ia mengalihkan pandangannya kearah Ilhoon. “Cobalah untuk menerobos dan pergi kesana. Aku akan menunggumu.”

Ilhoon tersenyum, “Aku akan berusaha.”

***___***

 

Orion tersenyum menyeringai. Kemenangan telah berada di tangannya dan mereka akan menyaksikan kemusnahan dewa Thor dalam beberapa saat. Setelah ini, tidak akan ada yang bisa mengejarnya lagi. Dia akan bebas.

Semburat darah hitam menyembur dari mulut Chen yang sudah tergeletak di atas bekuan es. Tubuhnya mulai melemah dan dia merasa kedinginan. Pandangannya mulai gelap dan dia tidak bisa melihat wajah Sehun dengan baik.

“Se…hun…kau…” Suara Chen terdengar serak dan terputus-putus. “…kau salah paham…”

“Berhentilah bicara. Kau hanya menghabiskan sisa-sisa tenagamu.”seru Sehun dingin. Ia berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam.

Chen menggeleng lemah, “Mereka…bukan orang…baik.”

“DIAM!”

“Kau…akan…menyesal.”

“Cepat musnahkan dia, Ares.”suara Orion terdengar di belakang.

Sebuah pusaran angin tercipta di bawah telapak tangan Sehun dan bola api yang menggulung di tangan yang lain.

“Kau harus mati.”

Kedua tangannya bergerak. Mengarahkan dua kekuatannya itu kearah Chen. Cahaya merah tiba-tiba menyala, bergerak lurus kearah Chen. Seperti lahar yang bergerak horisontal. Kekuatan angin dan apinya menyatu, menciptakan kekuatan dahsyat. Bahkan dari tempat Suho dan Ilhoon, keduanya bisa melihat cahaya merah itu.

Alkyoneus tersenyum, “Sekarang, ayo lakukan ini dengan serius.”serunya bahagia karena menduga jika dewa Thor sudah mati. Yah, dia pasti sudah mati karena cahaya merah itu adalah simbol dewa Ares. Sudah bisa di pastikan, kemenangan ada di tangannya.

“Tidak mungkin!”pekik Ilhoon.

“Jangan terkecoh! Kau harus tetap fokus!”teriak Suho dengan suara yang bergetar. Tidak, Thor. Kau tidak boleh mati.

Namun tiba-tiba cahaya kehijauan muncul. Menangkis cahaya merah itu dan mengarahkannya ke langit hingga ledakan-ledakan kembali terdengar. Sebuah batu meteor jatuh dari sana, menghantam keras laut Stix dan menghancurkan sisi kanan. Dalam sekejap menghancurkan bongkahan es. Gempa langsung di rasakan dan retakan-retakan lain tercipta. Jika terus begini, laut Stix akan mencair!

Orion langsung menurunkan kedua tangannya yang tersilang di depan dada. Terkejut melihat cahaya kehijauan itu yang mampu menangkis kekuatan dewa Ares. Mungkinkan Thor masih memiliki kekuatan?

Sehun menurunkan tangannya karena tanda di pergelangan tangannya tiba-tiba mengeluarkan cahaya hitam dan menimbulkan rasa sakit yang menusuk. Di depan matanya, cahaya hijau itu masih menyala-nyala. Membentuk gumpalan besar dan menutup tubuh Chen. Dan semakin lama juga rasa sakit yang ia rasakan semakin besar.

“Ares, apa yang kau lakukan?! Cepat serang dia!”teriak Orion.

Namun Sehun merasakan jika pergelangan tangannya melemas dan dia tidak bisa menggerakkan tangannya lagi. Kedua lututnya mati rasa dan membuatnya berlutut.

Di belakangnya, Orion semakin panik. Dia tidak pernah melihat kejadian seperti ini. Mungkinkah Zeus? Mungkinkah Odin?

Hingga perlahan-lahan, cahaya putih keluar dari cahaya kehijauan itu. Perlahan-lahan sosok manusia terlihat, berjalan pelan kearahnya. Sehun mengangkat wajahnya sambil meringis menahan sakit. Tapi semakin dekat sosok itu datang padanya, rasa sakit itu berangsur-angsur menghilang. Dan ketika sosok putih itu terlihat jelas, berdiri di depannya dengan mata teduh yang sedang menatapnya. Detik itu juga Sehun terperangah hebat. Matanya membulat lebar dan mulutnya ternganga tak percaya.

Sosok wanita itu berdiri tepat di depan Sehun, menatapnya dalam keterdiaman. Keheningan sesaat terjadi karena keterkejutan dan kemudian kesunyian itu pecah saat suara Sehun terdengar parau, “Eoma…”

Taeyeon tersenyum dalam pancaran cahaya putih di wajahnya “Adeul…”

Sehun kehilangan kata-katanya. Dalam sekejap kedua matanya di selimuti selaput bening. Cekat di rasakannya mengganjal suaranya yang ingin keluar.

“Eoma…”seru Sehun lagi, kali ini di iringi air mata yang mengalir di pipinya.

Taeyeon berjongkok di depan Sehun, kedua tangannya terulur dan menghusap pipi anak laki-lakinya itu dengan air mata yang juga mengalir di pipinya. Rasanya sudah sangat lama tidak meihat wajahnya. Dia terlihat sangat kurus dan tidak terawat.

“Ini eoma…”

Tangis Sehun seketika pecah, ia langsung memeluk ibunya itu erat-erat, “Kenapa eoma pergi? Kenapa eoma meninggalkanku?”

Taeyeon menguraikan pelukan itu dan mengatup kedua pipi Sehun, “Dengar, kau sedang di pengaruhi. Saat ini, kau melakukan hal yang salah. Kau harus sadar.”seru Taeyeon terisak.

Di belakangnya Orion langsung memekik, “Ares, kuatkan dirimu! Dia hanya tipuan! Mereka pasti melakukan ini untuk menghancurkanmu!”

Taeyeon menggeleng, “Ini bukan khayalan. Ini benar-benar eoma. Adeul, kau akan mendengarkan kata-kata eoma, kan?”

“Eoma…”

“Kau bukan orang jahat. Anakku adalah anak yang baik. Sadarlah. Kau sedang melawan saudaramu sendiri.”

“ARES!!”

Tiba-tiba tanda di pergelangan tangan Sehun kembali mengeluarkan sinar hitam bersamaan rasa sakit yang menusuk kuat disana.

Sehun menggeram, memegangi pergelangan tangannya itu, “Argghhh!”

“Adeul.”

“Dasar tidak berguna!” Orion mengumpat kesal. Ia mengangkat busurnya dan mengambil anak panah dari kantung yang ia gendong di punggung. “Kau benar-benar menjijikan. Kau sangat lemah!”

Chen membuka matanya perlahan. Sebisa mungkin mengembalikan kesadarannya. Sekujur tubuhnya sudah terasa sakit yang teramat sakit. Seluruh syarafnya sulit di gerakkan namun ia berusaha untuk berdiri walaupun tertatih-tatih.Di sampingnya, ia melihat Kai sudah pingsan karena kehabisan tenaga. Dan ketika ia mengalihkan pandangannya ke depan, ia melihat Orion menarik anak panahnya dan melepaskannya kearah Sehun. Sehun yang masih berusaha mengendalikan atas rasa sakit itu menjadi lengah.

Tanpa pikir panjang, Taeyeon langsung memeluk tubuh Sehun untuk melindunginya. Namun setelah itu sebuah suara tangkisan terdengar. Taeyeon membuka matanya dan melihat Chen sudah berada di depan mereka, menangkis anak panah Orion.

Chen terhuyung, nyaris ambruk namun rasa tanggung jawab itu menguatkannya. Ini adalah perintah dan dia harus menjalankannya. Dia harus menangkap Orion dan memusnahkannya. Kali ini tanpa ampun.

“Kau tidak akan bisa lari lagi.”desis Chen terengah. “Aku pasti akan menangkapmu!”

Sehun tidak lagi bisa di gunakan membuat Orion tau dia sudah tidak punya perlindungan lagi. Ia berusaha melarikan diri namun tiba-tiba ribuan kalajengking keluar entah darimana, mengepung Orion dari berbagai sisi. Orion langsung menarik pedangnya berusaha untuk menyingkirkan ribuan kalajengking yang tidak berakhir itu.

Chen berdiri tegak, mengumpulkan sisa-sisa tenaganya. Di langit kini petir terdengar bersaut-sautan hingga suaranya mampu menggetarkan seisi alam semesta.

Dari dalam tubuhnya sengatan listrik keluar. Semakin lama semakin membesar. Hingga ketika tangan kanannya bergerak dan keluar sengatan listrik yang bergerak lurus ke depan, menyetrum Orion. Bersamaan itu, ribuan kalajengking Chen juga mengeluarkan bisa mereka dan membantu penyerangan. Teriakan Orion terdengar menggema disana. Teriakan rasa sakit dan memohon ampunan Chen untuk yang kedua kalinya. Namun Chen tidak akan terkecoh lagi. Dia tidak akan pernah memaafkannya lagi.

Sengatan listrik yang membentuk seperti bola itu mengurung Orion di dalamnya. Menyetrumnya tanpa ampun hingga akhirnya ia hancur menjadi abu.

Chen langsung tersungkur dan pingsan bersamaan dengan butiran abu hitam yang  berterbangan di udara.

Seperti mengerti, ribuan kalajengking Chen mengerumuni tubuh tuannya. Seakan khawatir dan menyuruhnya untuk segera bangun.

“Chen!”

Sehun langsung berlari mendekat namun langkahnya di hadang oleh kalajengking Chen yang tidak membiarkan siapapun mendekati tuannya.

“Chen akan baik-baik saja. Sekarang sebaiknya kau bantu Suho. Eoma akan mengurus ini.”

Sehun langsung menggeleng,“Tidak. Aku tidak mau meninggakan eoma lagi.”

Taeyeon menggengga tangan Sehun erat, “Cepat selesaikan tugasmu. Eoma akan menunggumu.”

Sehun terlihat ragu untuk beberapa saat namun cara Taeyeon memandang memberikannya keyakinan.

Sehun memeluk ibunya sesaat lalu berlari pergi untuk membantu Suho melawan Alkyoneus.  Rasa sakitnya sudah menghilang dan kini tanda di pergelangan tangannya berubah menjadi kebiruan.

“Sehun.”

Tiba-tiba sebuah suara memanggilnya. Sehun menghentikan langkah dan menoleh ke kiri, kearah seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik pohon pinus.

Kembali ia tergugu. Bukan hanya ibunya tapi sahabatnya juga ada disana, berdiri di depannya dan menatapnya dengan senyum lembut.

Sehun menelan ludah, “Ilhoon…”

“Apa kabarmu? Apa kau baik-baik saja?”

“Il…hoon…bagaimana mungkin…kau?”

“Aku datang karena aku tau kau sedang membutuhkan bantuan.”serunya lemah. “Karena aku tau…kau…” Tiba-tiba Ilhoon berlutut dan ambruk ke tanah. Memperlihatkan sebuah anak panah yang menusuk punggungnya.

“Ilhoon!”

Sehun langsung berlari menghampirinya, mencabut anak panah itu dengan tangan bergetar dan mendekap tubuh Ilhoon dalam pelukannya.

“Ilhoon! Ilhoon!”

Wajah Ilhoon memucat, masih dengan senyum, di tatapnya Sehun lekat-lekat, “Ini…bukan salahmu…semuanya…bukan salahmu…”ucapan pria itu terdengar terputus-putus. “Aku datang…karena…kau sahabatku. Aku ingin…melindungimu…walaupun…hanya satu kali.”

Sehun menggeleng kuat-kuat, “Jangan bicara lagi! Aku akan membawamu ke Ollympus. Aku akan—“

“Aku akan menghilang.”potong Ilhoon. “Sebentar lagi…aku akan pergi…”

“Tidak! Ilhoon! Aku mohon!”

“Sehun…terima kasih karena kau selalu mengenangku di dalam hatimu. Terima kasih…karena kau tidak pernah melupakanku. Tapi…aku harap…kau tidak menderita lagi…” Air mata juga mengalir dari sudut mata Ilhoon. “Jangan menderita lagi, Sehun…” Ilhoon meringis menahan rasa sakitnya. “Anggaplah aku sebagai kenanganmu. Jangan mengingatku jika itu hanya menimbulkan rasa sakit untukmu. Tapi aku harap, kau tidak akan melupakanku.”

Sehun mengangguk sambil terisak, “Kau tidak pernah menyakitiku.”

“Benarkah? Aku sangat lega mendengarnya.”

Sehun berusaha menelan tangisnya sekuat tenaga namun air matanya terus tumpah, berlabuh di wajah Ilhoon dan mengalir bersama air matanya, “Kau takut dengan ledakan kembang api tapi kau datang ke tempat ini.”isaknya. “Kau takut dengan perkelahian tapi kau memegang pedang untuk menyelamatkanku. Terima kasih.”

Ilhoon tersenyum, “Karena kau adalah sahabatku. Aku pasti akan menyelamatkanmu, Sehun.”

“Ilhoon…”

“Sekarang saatnya aku pergi. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi.”

“Ilhoon… aku mohon…”

“Berjanjilah padaku kau akan mengalahkan mereka, Sehun. Berjanjilah.”

Perlahan-lahan tubuh Ilhoon berubah menjadi abu dan akhirnya menghilang di udara. Seketika itu juga, Sehun seperti kehilangan seluruh oksigen di dalam tubuhnya. Dadanya kembali terasa pedih, kini beribu-ribu kali lebih pedih.

Dia bahkan baru bertemu dengannya selama beberapa saat. Kenapa dia kembali di tinggalkan? Ilhoon… apa dia benar-benar sudah menghilang dan menjadi abu? Setelah ini, kemana dia akan pergi?

“AAARGGHHH!!!!!!”

Sehun berteriak sekuat tenaganya, berusaha untuk melegakan rasa sesak di hatinya namun sia-sia. Nyatanya rasa sesak itu masih bertahan disana, membuatnya sulit bernapas.

Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Memohon dalam hati seseorang akan memberikan jawaban atas pertanyaannya. Dimana tempat Ilhoon sekarang? Kemana dia pergi?

TBC

 

 

Iklan

16 thoughts on “The Lords Of Legend (Chapter 32)

  1. Hikari berkata:

    mantep 👍
    Akhirnya Sehun Sadar ..
    adegan Ilhoon dan Sehun bikin Mewek😭😭😭😭
    penasaran banget sama lanjutannya..
    semngat trus… dtggu yah😊😊😁😁

  2. oohshara berkata:

    ahhhh sehun dah sadar kan, tpi kasihan baru aja ketemu ama sahabatnya masak dah d tinggal lg, jangan buat illhon mati please!!!!
    baekhyun, chanyeol, kai, mereka g’ bakal mati kan????
    ahhh molla,,d tunggu lanjutannya fighting
    sharakarunia05@gmail.com

  3. HunHo_Suho berkata:

    Sumpah yaaa greget banget ayo sehun di hukum biar kapok😅 taeng eomma astaga akhirnyaaa kamu menyadarkan sehun nakal itu dan chen ya allah dia baik baik aja kan chen it’s okay kan kaaakk, ilhoon ya ampun badan kecil gitu bisa bunuh medusaa hebat banget, lihatlah sehun karna mu semua dewa kesakitan tpi bukan karna sehun sii karna orion yg pengaruhi sehun tapi tetep aja sehun nurut 😒😒😒 semoga ini cepat berakhir kasihan dewa yang lain, di sini taeng gak bakal mati lagi kan? Jangan mati plis sehun kasihan udh di tinggal ilhoon untuk selamanya di tambah lagi ibunya kalau benar benar itu terjadi, jangan sampai ya allah. Jujur sampai sekarang masih syok akan posisi hera sebagai taeng, apa kabar hubungan kris-sehun-taeyeon

  4. RAIN berkata:

    Akhirnyaaa sehun tersadarkan jugaa, apa nnt dia dihukum?? Chap ini bikin mewek.. dan ilhoon beneran ilang yaa? Next chap segeraa authornim

  5. Hesti andriani berkata:

    Semoga dewa yang terluka bisa selamat dan nggak ada dewa yang mati.
    Akhirnya sehun sadar juga dan semoga sehun nggak dihukum. Taeng eomma terima kasih telah datang diwaktu yang pas.

  6. Anfa berkata:

    Sumpah ini cerita,. Keren pake Banget 😎 sehun.a udah sadar tpi knapa ilhoon.a pergi?? Kakak aku berhrap kli ini ilhoon gk bner2 pergi kya y9 sblumnya,. Dewa y9 lain udah pda tumbang, tpi mreka ttep bkal menang kn?? Aku slalu berhrap nanti.a bkal happy end., tpi aku juga berhrap klo cerita.a gk bkal END, biar aku.a slalu bisa baca karya.a kak mija yang mkin keren,. 😀 aku tunggu kejutan selanjut.a y kak,. Keep writing for next chap,.. :*

  7. AnisMaria berkata:

    Nah bener kan kata para dewa, kalau setelah membawa Taeyeon ke Sehun, tuh anak bakal sadar, apalagi setelah melihat ada Ilhoon juga. Sayangnya Sehun udah terlanjur terlambat akan banyak hal, makanya dia toh harus menerima hukuman yang berattt…

    Kalo menurutku, antara Taeyeon dengan Kris nggak akan ada apa2, kan udah dijelaskan kalau Taeyeon adalah reinkarnasi dari dewi Hera, cuma reinkarnasi, dan lagi dia bereinkarnasi jadi ibunya Sehun, fokusnya dia pun ke Sehun dan di dunia manusia dia juga udah punya suami yang juga meninggal, dia bener2 cuma manusia biasa kan tadinya..

    Lagi dan lagi yaaa, Ilhoon menyelamatkan Sehun, dan sekarang dia udah bener2 menghilang, tanpa ada kesempatan lebih lama untuk Sehun bertemu dengan sahabat yang paling dia sayang,,, itu Sehun pasti terluka parah karena untuk kedua kalinya harus kehilangan Ilhoon..

    Uggghhhh nyesek bangetttt,,, dan juga … gimana dengan dewa2 lain? Apa Baekhyun baik2 aja? Chen ngga apa2 kan?

  8. SehunHunHan berkata:

    Telat bacanya duhh, udah beberapa bulan nunggu update. Baru baca sekarang, eh ternyata udah sampe chap 32 😂
    Sedih masa, sempet nangis baca chap ini. Mana di sekolah wkwkwk. Lanjutkan lah thor, ff favorite dari jaman SMP wkwk
    Semoga happy ending ya, jangan ada yang mati huhuhu :”””

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s