The Lords Of Legend (Chapter 31)

The Lords of Legend

 

Tittle : The Lords of Legend

Author : Oh Mi Ja

Genre : Fantasy, Action, Friendship, Comedy

Cast : All member EXO

Xiumin melihat medusa ada di sana. Di tengah-tengah para Jotun.

“Medusa ada di antara mereka! Pastikan tidak melihat matanya dan serang dia saat kau punya kesempatan!”perintahnya.

Kembang api raksasa seakan meledak-ledak di atas kepala Ilhoon. Cahaya orange kemerahan menjadi satu-satunya warna yang mendominasi tempat itu. Ia melihat api dimana-mana serta suara orang-orang menjerit dan merintih.

Ilhoon terus menyembunyikan tubuhnya di belakang Kai yang sejak tadi menjadi tamengnya, melindunginya dari serangan para Jotun. Berdiri tak jauh di depan keduanya, Chanyeol juga membantu.

Ilhoon merasa seperti tubuhnya melayang-layang di udara dan yang bisa ia lakukan hanyalah berpegangan pada lengan Kai dan menunduk di belakangnya. Mengintip dari balik punggung dewa itu, ia melihat Chanyeol telah berubah wujud menjadi sosok yang mengerikan, hampir menyerupai para Jotun.

“Kai Mundur!”teriak Tao ketika retakan yang di ciptakan dari kaki D.O menjalar persis kearah Kai dan Ilhoon.

Kai mengangkat tubuh Ilhoon dan terbang, pindah ke sisi yang lain.

“Tidak akan berhasil jika terus begini. Kita harus pergi.”bisik Kai.

Ilhoon terperanjat, “Pergi? Pergi kemana?” Tubuhnya seketika bergetar hebat. Mereka tidak mungkin menerobos ke dalam peperangan ini, kan? Bahkan berada di garis tengah peperangan saja, dia sudah merasa lemas. Apalagi pergi kesana, ke sarang pada lawan yang di penuhi makhluk-makhluk mengerikan. Tidak mungkin!

“Hey, Kai. Bantu aku.” Tao kembali berseru, sesaat kemudian waktu terasa berhenti berputar setelah ia menjentikkan jarinya. Dalam jarak kurang lebih lima meter, semua orang tiba-tiba mematung dan tak bergerak. Tao sudah bisa mengendalikan kekuatannya dengan sangat baik termasuk mengendalikan orang-orang yang bisa terpengaruh dengan kekuatannya atau tidak.

Kai langsung bergerak, ia menarik pedang dari balik punggungnya dan menebas para jotun yang tak bisa bergerak. Semburat darah hitam menyembur, membasahi baju jirah Kai lalu mereka menghilang seperti abu.

“Aku akan maju, Kai kau ikut bersamaku!” Xiumin menebas salah satu Jotun yang ada di depannya dan berlari menerobos jauh ke depan – sambil terus menebas para jotun yang berusaha menghadangnya –

Kai berbalik ke belakang, mencekal lengan Ilhoon, “Ayo!” dan menariknya bersamanya tanpa menunggu persetujuan dari anak laki-lak itu.

Ilhoon hanya bisa memejamkan kedua matanya dan pasrah. Sesekali tubuhnya terguncang saat Kai berperang melawan Jotun membuatnya hampir muntah karena pusing.

Hanya akan menjadi sia-sia jika dia terus seperti ini, pikirnya. Ilhoon membuka matanya, kembali melihat warna orange kemerahan yang ada di atas kepalanya. Bunyi-bunyi ledakan semakin terdengar jelas dan makhluk-makhluk mengerikan sudah mengelilinya. Sepertinya dia sudah berada jauh ke depan, lewat dari setengah garis perang menuju sarang lawan. Ilhoon menarik napas panjang, telapak tangannya sudah dibasahi dengan keringat dingin. Rasanya ingin pingsan tapi sekuat tenaga ia menahan kakinya agar tetap berdiri. Jika dulu di bumi, Sehun yang akan selalu melindunginya, berkelaki dengan orang-orang yang membully-nya sekarang gilirannya. Tak di sangka dia akan berada di medan perang sungguhan. Tapi ini demi Sehun dan persahabatan mereka.

Ilhoon menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. Tanpa kesadaran menarik busur yang di gendong Kai dan beberapa anak panah. Tangan dinginnya menarik anak panah dan melepaskannya secara cepat dan tepat.

Kai berbalik ke belakang sekilas, terkejut, tapi tidak ada waktu untuk memuji Ilhoon atas keberaniannya.

Anak laki-laki pengecut itu kini berdiri di kakinya sendiri, dengan senjata dan keberaniannya. Dalam hati ia mengucapkan banyak terima kasih pada ayahnya yang pernah mengajarkannya cara memanah sehingga ia bisa mengenai lawannya secara akurat.

Sehun, saat ini… aku sedang berperang. Tapi… kau dimana?

***___***

 

Mereka sudah terlalu jauh tapi belum ada hasil yang mereka dapatkan. Baekhyun menghembuskan napas frustasi, di bukanya semak tinggi yang menghalang jalannya dan maju ke depan. Mereka kini berada di padang ilalang. Suho mengubah wujudnya dan menjadi raksasa sementara Kris terbang dia atas padang ilalang itu. Hanya dia yang tenggelam dalam rerumputan tinggi hingga nyaris tak terlihat.

Baekhyun mendengus. Jika saja boleh, ia ingin membakar padang ini agar semuanya terlihat.

“Suho, sepertinya disini tidak ada.”seru Baekhyun tapi Suho tidak mendengar. “SUHO! DISINI TI—“ Ucapannya tiba-tiba terhenti ketika ia membuka ilalang dan mendapati lapangan sempit di tengahnya. Gundukan tanah membentuk lingkaran yang tidak di tumbuhi ilalang. Pandangan Baekhyun langsung tertuju pada setangkai bunga mawar putih yang tergeletak disana.

“Ini kan….” ia mengalihkan tatapan, kini menatap benda kotak yang berada di samping bunga itu. Baekhyun mengulurkan tangannya, meraih bunga dan benda itu. Untuk beberapa saat ia tertegun, sepenggal kenangan berputar di kepalanya seperti film. Rumah kecil itu, kios bunga dan canda tawa mereka. Mata Baekhyun melebar ketika dia tersadar. “Bukankah ini…jam weker milik Sehun?”

Baekhyun menyapu debu di permukaan jam weker itu dengan jarinya. Ketika jarinya mendarat pada pemutar besi yang ada di sisi kanan, ia terdiam sesaat sebelum memutarnya. Dia tau jam itu tidak akan bergerak tapi tiba-tiba sebuah cahaya kehijauan keluar dari sana. Baekhyun menjatuhkan jam weker itu karena terkejut sementara cahaya hijau itu dengan cepat melesat tinggi ke suatu tempat.

“Baekhyun ada apa? Apa yang terjadi?” Suho kembali ke wujudnya semula dan menghampiri Baekhyun.

Namun Baekhyun mengabaikannya, “Kris, cepat kejar cahaya itu!”teriaknya. Belum sempat Kris mendekat, ia berbalik dan terbang mengejar cahaya itu.

Suho mengalihkan tatapan pada bunga mawar dan jam weker. Tak butuh waktu lama untuk mendapatkan jawaban. Ia langsung menyadari jika jam weker itu adalah milik Sehun sementara bunga mawar putih adalah lambang dari kios bunga Taeyeon.

“Omoni…”seru Suho. Kemudian ia membantu Baekhyun bangun, “Ayo! Itu pasti omoni!”

***___***

 

Chen menatap Sehun lurus-lurus, “Sehun, apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan sekarang? Kau justru menghancurkan semuanya.”

Namun Sehun membalas tatapan itu dengan mata berkilat, “Hidupku berubah…”serunya tajam. “…sejak aku bertemu dengan kalian.”

“Kau akan menyesal, Sehun. Sungguh! Kau akan menyesal jika kau tau—“

“Persetan dengan ucapanmu. Aku tidak akan mempercayai apapun yang kau katakan. Kau telah membunuh ibuku!” Hembusan angin kencang keluar dari tubuh Sehun, menabrak Chen dan membuatnya termundur beberapa langkah ke belakang.

“Bukan kami tapi dia! Orion! Apa kau lupa?! Dia yang telah mengacaukan semuanya!”

Namun Sehun seakan tuli, ia tidak mendengar apapun yang di katakan Chen. Pria itu maju mendekati Chen bersamaan dengan Chen yang memilih untuk mundur. Dia tidak mungkin melawan saudaranya.

“Sebelum kalian datang, hidupku jauh lebih damai. Aku memiliki Ilhoon dan ibuku. Tapi kalian membunuh mereka!”

“Kau telah di pengaruhi! Lihat tanda yang ada di pergelangan tanganmu. Auramu negatif. Sadarkan dirimu, Sehun!”

“Kau juga harus mati.” Sehun mengangkat tangannya. “Kalian semua!” lalu menyerang Chen dengan kekuatan apinya.

Chen buru-buru menangkis dengan petirnya dan terjadi ledakan besar di udara.

“Sehun, aku mohon. Sadarkan dirimu!”

Kobaran api Sehun terus menyerang Chen dan berkali-kali juga Chen harus menangkisnya.

“Berhenti mengeluarkan api, kau bisa membuat esnya mencair. Jika itu terjadi, kau akan mendapat hukuman!” Chen mencoba memperingatkan. “SEHUN!”

Sehun mengayunkan tangannya, kali ini mengeluarkan kekuatan anginnya yang berhasil menghantam tubuh Chen keras. Pria itu terlempar jauh ke belakang, terseret dan berhenti saat punggungnya menabrak bongkahan es raksasa yang langsung retak, hancur dan menimpanya.

Melihat itu Orion tersenyum puas, ‘Petirmu tidak akan bisa menangkis angin. Bodoh.’

Chen berdiri dari balik bongkahan. Dugaan mereka ternyata salah besar, Sehun bukan berada di barisan paling bekalang tapi di tempat lain! Mereka pasti sengaja melakukannya untuk melukai Chen agar Orion tidak bisa tertangkap lagi. Lalu Alkyoneus yang akan berada di medan perang Ragnarok. Mereka berniat untuk memusnahkan para dewa satu-persatu.

Petir Chen keluar dari telapak tangannya, mencoba menghentikan Sehun yang sedang berjalan kearahnya. Namun perisainya mampu menangkis serangan itu hingga ia terus berjalan maju. Chen terengah, jika terus begini, dia bisa mati. Dia harus minta bantuan.

Ia memejamkan kedua mata. Mencoba menghubungi D.O dengan schesi-nya namun Sehun sudah berada di depannya detik berikutnya dan mencekik lehernya kuat.

“S-Sehu…un.”

“Aku akan membalas dendam ibuku dan Ilhoon. Aku akan membunuh kalian semua!”

***___***

 

Chanyeol dan Lay bergerak ke sisi kiri, mengejar Alkyoneus yang berusaha melarikan diri. Sambil berlari, Lay terus melepaskan panahnya kearah pimpinan Jotun itu sementara Chanyeol terus mengeluarkan apinya. Ketika mereka sampai di sebuah lapangan luas tandus dan berbatu, Alkyoneus menghentikan larinya. Ia berbalik membuat Chanyeol dan Lay langsung bersikap siaga.

“Kau akan ku musnahkan.”desis Chanyeol siap dengan pedang terarah kearah Alkyoneus.

Alkyoneus menanggapinya dengan senyum, ia menatap Chanyeol tenang seakan tidak takut dengan apapun, “Apa kau akan memusnahkan pamanmu sendiri?”

Chanyeol menelan ludah. Tersadar. Kenyataan itu seperti menamparnya keras. Berada bersama orang-orang ini dalam waktu yang cukup lama membuatnya lupa siapa dirinya. Membuatnya menganggap jika dirinya sama dengan yang lain. Dia lupa jika dia adalah salah satu dari orang-orang yang menyebabkan kekacauan ini. Dia lupa jika sebenarnya, dia adalah pihak lawan. Dia lupa jika sebenarnya… dia adalah Jotun.

“Apa kau mau menyakiti hati ayah dan ibumu, nak? Kau tidak mungkin melawan paman, kan?”

Chanyeol mengepalkan tangannya dengan mata yang mulai berlapis beningan krystal, “Tutup mulutmu!” tubuhnya bergetar setelah dia membentak pamannya sendiri. “Kau bukan pamanku! Kau bukan—“

“Apa kau hidup dengan baik?” tanya Alkyoneus tak berhenti. “Apa kau bahagia? Sementara kami menderita di dalam Tartaros.”

“Jangan dengarkan dia, Chanyeol! Jangan—“

“Ini semua karena kau!” bentak Alkyoneus, ia mengayunkan pedangnya dan menebas lengan kanan Lay.

“Lay!”

Alkyoneus meninju Chanyeol hingga ia terpental cukup jauh. Lay mengangkat pedangnya, sudah akan membalas serangan namun pedang Alkyoneus lagi-lagi berhasil menebas kakinya, membuatnya seketika berlutut di tanah.

Alkyoneus menatap dewa itu geram, “Haruskah aku memotong kedua tanganmu agar kau tidak bisa menyembuhkan lagi?”tanyanya dingin. “Aku tau seranganku tidak akan berguna untukmu. Tapi bagaimana jika aku memotong kedua tanganmu?” Alkyoneus menendang dada Lay hingga ia tersungkur ke tanah. Ujung pedangnya menyeret di tanah, membentuk garis panjang menuju tubuh Lay.

“Tidak! Jangan!” Tiba-tiba kobaran api membakar tangan kiri Alkyoneus. Ia termundur, berusaha memadamkan api itu. Chanyeol segera menghampiri Lay panik, “Kau tidak apa-apa, Lay? Cepat sembuhkan dirimu! Aku akan menghadang serangannya.”

“Dasar kau brengsek!”

“AAARGGHHH!” Chanyeol menjerit kesakitan begitu di rasakan sesuatu menggores punggungnya. Lalu berikutnya, ia mendapat tendangan dan tersungkur di samping Lay. Alkyoneus berjongkok di samping Chanyeol, mencekik lehernya kuat. “Awalnya aku ingin bersikap lunak padamu karena kau adalah anak Farbauti tapi kau benar-benar sudah membuatku marah.”

“L-le…pas…” Chanyeol berontak, berusaha melepaskan cengkraman Alkyoneus di lehernya.

“Sebagai hukumannya, kau harus menderita. Kau harus merasakan rasa sakit kami selama berada di Tartaros.” Mata Alkyoneus berubah merah, di tatapnya kedua mata Chanyeol tepat di maniknya. Dan seketika itu Chanyeol keluar dari dunianya. Ia tidak lagi mendengar suara ledakan dan dia seperti meninggalkan medan perang ke tempat yang berbeda. Ke tempat yang sangat jauh.

Ia berdiri di pinggir ruangan dengan cahaya remang-remang. Semuanya serba hitam dan orang-orang terlihat sangat mengerikan.

Matanya melebar saat dia tersadar jika itu adalah rumah lamanya di Jotunheim dan orang-orang itu adalah orang tuanya dan dirinya.

“Ibu… ayah…”gumamnya pelan. Namun mereka tidak mendengar.

Dunianya tiba-tiba berganti lagi. Dia kembali di tarik ke tempat lain. Kali ini di tempat yang penuh dengan suara ledakan-ledakan serta darah hitam yang hampir menutupi seluruh permukaan tanah. Seseorang gugur setelah meneriakkan sumpahnya. Ia tergeletak  di tanah dengan mata terbuka hampa. Perlahan-lahan musnah seperti abu.

Itu… ayahnya.

***___***

 

Kris berdiri di depan istana Basileia. Sebuah rumah sekaligus makam untuk dewi Hera, cinta pertamanya. Suho dan Baekhyun menyusul Kris dan mengerutkan kening melihat Kris hanya berdiri mematung di depan istana itu.

“Kris, apa—“ Namun ketika menyadari jika mereka tengah berada di depan istana dewi Hera, Baekhyun langsung mengerti. “Ini… tidak seperti yang aku pikirkan, kan? Atau kalian juga berpikir seperti itu?”

“Kita harus memastikannya.”seru Suho, melangkah masuk lebih dulu.

Baekhyun menoleh kearah Kris yang masih berdiri mematung, “Hey, Kris. Sudah berlalu sangat lama. Ayo.” Ia menarik pria tinggi itu dan menyeretnya masuk bersama.

Memang sudah lama tidak mengunjungi tempat itu. Tapi semuanya masih sama. Bunga-bunga masih tumbuh bermekaran di sisi kiri dan kanan. Juga menjalar di temboknya. Entah bagaimana bunga-bunga itu bisa terus tumbuh padahal tidak ada yang merawatnya.

Menuju ruang utama, dengan langit-langit tinggi membentuk ornamen khas Yunani, sebuah peti besar masih berada disana. Peti bewarna merah tua yang menjadi tempat peristirahatan terakhir dewi Hera.

Baekhyun berjalan menyusul Suho, meninggalkan Kris yang seakan kehilangan kesadarannya. Ia bahkan mendahului Suho menuju peti itu lebih dulu. Dia sudah tidak sabar, mereka tidak punya banyak waktu.

Ia menjulurkan kepalanya, menatap kedalam peti. Detik berikutnya, matanya terbelalak lebar. Mulutnya ternganga tak percaya.

“Baekhyun, kena—“

“Omoni…” Baekhyun menjawab lebih dulu. Ia menegakkan punggungnya dan berbalik menatap Suho. “Ini…”

Suho ikut melihat isi peti itu dan benar saja. Taeyeon sedang tertidur di dalam sana dengan damai. Kelopak mawar putih tersebar di atas tubuhnya.

“Ini… tidak mungkin!” Bahkan Suho kehilangan kata-katanya. “Kris!” Ia menoleh menatap Kris dengan mata terbelalak. “Omoni adalah reinkarnasi dari Hera!”

Sebenarnya Kris sudah menduga hal itu sejak saat dia mengetahui jika cahaya hijau itu berhenti di istana Hera. Tapi hal ini tetap mengejutkannya. Bagaimana mungkin? Hera…. dia sudah mati setelah Medusa membunuhnya. Lalu, bagaimana mungkin?

Perlahan jari-jari kaku itu bergerak. Baekhyun dan Suho sama-sama menelan ludah mereka. Bingung harus bereaksi seperti apa karena mereka sama terkejutnya. Ketika kedua kelopak mata itu terbuka, ia menatap kosong kearah langit-langit.

“O-omoni.”panggil Baekhyun pelan. Walaupun ia tau dia adalah dewi Hera, tapi dia tetap menganggap jika Taeyeon adalah ibu Sehun. “Omoni, tidak apa-apa?”

Taeyeon hanya diam. Tidak memperdulikan pertanyaan Baekhyun. Kris berjalan menghampiri, bergabung bersama mereka dengan hati yang bergetar hebat. Pria tinggi itu berlutut di samping peti, menatap wajah Taeyeon yang terus memandang kosong kearah langit-langit.

“Hera…”panggilnya dengan suara serak. Selaput bening mulai melapisi kedua matanya. “Hera kau kembali.”

Taeyeon mengalihkan tatapannya, menatap Kris yang sedang menangis di sampingnya. Ia menarik tubuhnya duduk. Kedua matanya balas menatap Kris lurus-lurus.

“Kau kembali, Hera.” Kris menarik tubuh Taeyeon ke dalam pelukannya. Mendekapnya erat-erat seakan takut jika dia akan pergi lagi. “Terima kasih karena sudah kembali. Terima kasih.”

Taeyeon balas memeluk Kris. Dalam diam juga mengeluarkan air mata. Ia terjaga dan ingatannya kembali. Seluruhnya.

Kris adalah salah satu bagian terpenting di masa lalunya. Seseorang yang juga menjadi cinta pertamanya.

“Maaf karena aku datang terlambat.”tangis Taeyeon di pundak Kris.

“Tidak. Yang penting, kau kembali.”

Tapi, ingatan lain datang menghampiri. Dia bukan hanya seorang dewi tapi juga seorang ibu. Dia pemilik kios bunga dan memiliki seorang anak laki-laki.

Taeyeon melepaskan pelukannya begitu ia tersadar jika dia tidak melihat anak laki-lakinya itu. Ia menatap Kris, “Dimana Sehun? Dimana dia?”

Kris menghusap air matanya, “Saat ini dia sangat membutuhkanmu.”

“Apa? Apa yang terjadi padanya?”

“Kau harus pergi untuk menyadarkannya.”

***___***

 

Pria itu menangis, berteriak dan menjambaki rambutnya. Dia ingin lupa ingatan. Karena kenangan itu begitu menyiksanya. Terus berputar-putar di kepalanya. Sekeras apapun usahanya untuk menepis semuanya, kenangan itu tetap tertancap mati disana.

“Chanyeol.” Lay menghampiri Chanyeol, mengguncang tubuhnya kuat-kuat agar dia segera sadar. Alkyoneus sengaja membuatnya mengingat kenangannya dan melihat peperangah sebelumnya. Dia sengaja menyakiti Chanyeol dengan membuatnya merasa bersalah.

“Jangan sentuh aku!” Ia mendorong Lay. “Jangan sentuh aku! Aku adalah musuhmu! Aku Jotun!”

“Tidak. Kau adalah dewa Ollympus. Kau saudaraku!”

“Pergi! Jika tidak, aku juga akan membunuhmu!” bentaknya. “Aku… aku harus mati. Aku tidak seharusnya berada disini. Apa yang sudah aku lakukan? Aku telah menyakiti semua orang.”

“Chanyeol!” Lay menahan lengan Chanyeol yang berusaha membunuh dirinya dengan pedang. “Sadarlah! Dia telah mempengaruhimu! Chanyeol!”

Chanyeol berlutut di atas tanah dengan kepala yang tertunduk dalam, “Kalian telah membunuh orang tuaku.”isaknya. “Kalian adalah musuhku tapi apa yang aku lakukan disini? Kenapa aku bersama kalian?”

Lay berlutut di depan Chanyeol,  menutup kedua telinganya, ikut menangis, “Jangan dengarkan dia. Kau berbeda! Kau saudara kami!”serunya. “Aku tidak perduli jika kau adalah Jotun atau apapun itu. Bagiku kau tetap Loki! Hanya kau yang mau menjaga Eden saat aku tidak ada. Aku mohon sadarlah, Chanyeol!”

Chanyeol menggeleng, “Aku harus mati. Aku merasa sangat berdosa.”

Chanyeol mendorong tubuh Lay dan mengeluarkan kekuatan apinya, melukai dewa itu. Lalu ia mengambil pedangnya dan berdiri. Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, bersiap untuk menghunuskan pedang itu ke dirinya.

“CHANYEOL! TIDAK!”

Baekhyun berlari kearahnya. Berdiri di depan dan menggantikannya. Chanyeol membuka kedua matanya, terperangah hebat saat ia melihat Baekhyun menggantikan dirinya. Pedang itu tidak menusuknya tapi menusuk dada Baekhyun. Seketika semburat darah hitam menyembur dari mulutnya. Seketika itu juga Baekhyun langsung roboh ke tanah.

“Baekhyun!”pekik Chanyeol. “BAEKHYUN!” Ia berlutut, meraih kepala Baekhyun dan mendekapnya. “Baekhyun, kau… Baekhyun…”

Baekhyun tersenyum tipis, “Bodoh. Apa yang sedang kau lakukan?”serunya terbata.

“Baekhyun…”

“Aku membencimu karena kau selalu menggangguku. Kau sangat berisik dan kekanak-kanakkan.” Baekhyun meringis menahan sakit. “Tapi…kau saudaraku.”

Tangis Chanyeol seketika tumpah, “Baekhyun, maafkan aku. Maafkan aku. Aku akan menarik pedangnya. Jangan bergerak. Aku akan menyelamatkanmu.”

Baekhyun mengulurkan tangan, menggenggam tangan Chanyeol dengan sisa-sisa tenaganya, “Kau telah di pengaruhi. Sadarlah.”serunya. “Aku minta maaf atas semua yang terjadi di masa lalu. Aku minta maaf atas kematian orang tuamu. Tapi…mereka adalah makhluk yang jahat.”

“Baekhyun jangan bicara lagi. Aku mohon. Kau terluka.”

“Kau…tidak jahat, Chanyeol. Kau berbeda.”

Tangis Chanyeol semakin deras, “Baekhyun…”

“Kau adalah saudaraku, Loki. Sejak dulu dan selamanya.”

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

19 thoughts on “The Lords Of Legend (Chapter 31)

  1. osehn96 berkata:

    Authornim sekali lagi aku bilang kamu itu hebat. Ceritamu karyamu benar-benar banyak. Tapi kamu masih ttp lanjutkan wlopun itu lama yg entah kapan munculnya. hihihi. Ceritanya pun yg tak bisa disangka2 alurnya hihi…

    Btw ini segerakan sehun sadaaar ….. sudah bnyak korbaaan iniik huhu

  2. Hikari berkata:

    eoh Baekhyunie😭😭😭😭
    apa yang terjadi sama Chen..
    Salut banget sama cerita ini… Kerena Author tambah keren crtany alurnya ngak mudah ketebak😊😊
    Wah Cinta pertama.. Kris itu Taeyon kekekeke😁😁
    ..cepat sdarkan Sehun

  3. oohshara berkata:

    si cadel dibilangin ngeyel mulu yaa, gregetan ama cadel, moga cadel cepat daper hidayah kasian soalnya udah banyak korban, chen ama baekhyun g’ bakal mati kan? iy kan?
    taeyeon itu ibuny sehun dan dia istrinya kris, trus kris ayah nya sehun bukan??? buruan di lanjut ya thor fighting!!!
    sharakarunia05@gmail.com

  4. Anfa berkata:

    Ceritanya mkin seru kakakk., mereka gk akan mati kan?? Jangan buat mrka mati yha kak ya?? (pengen happy end) .:( 🙂 taeyon.a udah ktemu,. Horeee,. mga nex chapter sehunnya udah sadar,. (amin) 🙂 Taeyon inget smua dia sbg hera (mantan kris) sama sbg ibu (sehun),. Nantinya kris ama sehun jdi (bapak-anak tiri gk ya??) hhhh.. (sungguh imajinasi ku kurang bagus) .:D :p
    next chap jagn lama2 y kak y?? Aku tunggu karya.a y9 mkin OKE, gk ada duanya pokoknya lah,. Fighting kakak .;)

  5. Hesti andriani berkata:

    Ternyata taeyeon itu reinkarnasi hera aku nggak nyangka loh thor. Semoga sehun cepat sadar dengan kembalinya taeyeon sudah terlalu banyak korban nya dan sehun mungkin nggak akan termaafkan lagi. Baekhyun semoga kamu nggak mati dan semua dewa selamat dan bisa membunuh orion.

  6. RAIN berkata:

    Jangan ada yang mati tolong!! Ini keren banget ceritanya, tapi authornim jgn buat ada yg mati yaaa, dan sehun buruan dong sadarrr, ih bikin greget .. next nya selalu dinanti

  7. HunHo_Suho berkata:

    Ini sungguh membingungkan + gak ketebak banget… bagemane bisaaa si taeng reinkarnasi jadii istri kri gimana bisaaa… jadiii nanti kris sama sehun? Omegosh jadi bapak anak? Gimana jadinyaaaaa.. baekhyun gak bakal mati kan kak? Gak bakal kan ntar kalo baek mati kesian chanyeol dia bakal ngerasa bersalah banget juga si chan gampang banget kehasut😒 park sehun! Astaga mati aja lu cadel mati ajeee greget banget sumpah dia bisa makim nyiptain banyak korban inilah yah susah kalau udah nething susah banget di ubah jadi positive think moga moga habis taeng muncul si sehun sadar kalau kagak rela kak dia matii rela cadel mati soalnya dia anak nakal harus di hukum -, chen it’s okay kan dia gak kenapa napa kaaann berharap ini cerita happy ending tapi kalau sehun mati bakal tetep happy ending kok seneng anak nakal mati😂😂

  8. Sukma L Agustina berkata:

    Saking lamanya enggak berkunjung ke blog ini, sampai lupa sama jalan ceritanya. Pffff harus membaca ulang dari awal lagi, 😥
    Btw, aku sudah pernah bilang kalau aku fans kak mija, belum?
    Always love for your story. :*

  9. So_Sehun berkata:

    Aigooo…cepat bawa dewi heranya ke hadapan sehun biar dia cepat sadar….
    Baekhyun….jgn katakan dia gugur…oh tdk…
    Bang lay mana cepat sembuhkan bang baek….

  10. AnisMaria berkata:

    Sehun bener2 dipengaruhi, dia nggak inget apapun kecuali dendamnya,,, mungkin dengan ketemu ibu dan sahabatnya, dia bisa sedikit2 ingat…

    Awalnya aku juga udah curiga pas Kris menatap cahaya itu dan narasi tentang dewi hera, dan setelah tahu kebenarannya, aku merinding berkepanjangan….

    Kasian sama Chanyeol, yang terus teriksa sama kilasan2 kenangan itu, dan aku nggak sanggup bayangin Baekhyun menyelamatkan Chanyeol sampe tertusuk, semoga aja dia nggak apa2… semoga Baekhyun bisa disembuhkan kan nggak ada satu pun dewa yang mati…

  11. Yati berkata:

    Baekhyunie😭😭😭 Nasib Chen gimana nihh
    Sehunie cepatlah sadar nakk,,
    Ternyata first love nya Kris, Taeyoon tohh xixixi. Berarti Kris itu bapaknya Sehun bukan??

    Bner-bener bikin penasaran nihh… Alurnya ga gampang ketebak
    Ditunggu lanjutannya author-nim.. Fast up ya klo bisa hehehe

  12. fitriwind berkata:

    oh my .. taeyeon adalah reinkasrnasi hera . dan kayanya kris kaya ada sesuatu sama hera ,, masa lalunya kah ???

    si sehun .. please .. jangan ada yg mati .. chenchen.
    itu lagi chanbaek .. bikin baper aja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s