Last Game (Chapter 14)

photogrid_1440082381255

Title                 : Last Game (Chapter 14)

Author             : Gu Rin Young

Cast                 : All member EXO and others

Genre               : Brothership, family, school life, sport

Rating              : General

 

#####

Sudah tengah malam tapi Sehun belum juga sadar. Mata Baekhyun sudah berat, tapi ia enggan menutup matanya. Sedangkan yang lain sudah tertidur dengan nyenyak walaupun berhimpitan di sofa, kecuali Kai yang masih duduk di kursinya.

Kris, Tao, dan Lay memutuskan untuk pulang. Berganti dengan yang lain besok sepulang sekolah. Suho, Kai, D.O, dan Chanyeol sudah kembali setelah mengambil peralatan dan seragam sekolah untuk besok. Xiumin dan Chen akan kembali besok pagi. Sedangkan Luhan dan Baekhyun tidak berniat untuk meninggalkan Sehun.

Baekhyun menelungkupkan kepalanya. Ia memutuskan memejamkan matanya sebentar. Hingga usapan lembut di kepalanya membuatnya mengangkat kepala. Baekhyun terkejut ketika melihat mata itu terbuka dan kini tengah tersenyum padanya.

“Sehunie?” Lirih Baekhyun, dia menggenggam tangan Sehun lebih erat.

“Sssttt, kau bisa membangunkan yang lain.”

“Gwenchana?” Baekhyun memelankan volume suaranya. Baekhyun mengusap kepala Sehun.

“Gwenchana, aku sudah lebih baik. Sebaiknya kau tidur, besok kau harus pergi ke sekolah.” Kini Sehun yang menggenggam tangan Baekhyun.

Baekhyun menggeleng. “Shireo. Aku akan menjagamu besok.”

“Hyung, besok adalah hari pertama sekolah. Kau tidak boleh meninggalkan pelajaran.”

“Bukankah aku pintar? Aku tetap tidak mau ke sekolah.”

Akhirnya Sehun mengalah sebelum suara Baekhyun meninggi dan membangunkan yang lain.

“Arraseo… arraseo. Tapi sekarang kau harus tidur, aku tidak ingin kau juga sakit sepertiku.” Sehun tersenyum.

Baekhyun mengangguk lalu kembali menelungkupkan kepalanya. Sehun mengusap rambut Baekhyun, agar dia tertidur.

Dalam diam Sehun memandang semua orang-orang disayanginya. Bahkan Luhan ada di sana. Sehun bersyukur kepada Tuhan karena perlahan Luhan sudah mulai menerimanya sebagai seorang adik.

Sehun tidak menyangka jika semua hyungnya rela tidur berhimpitan demi menjaganya. Harus dengan cara bagaimana agar Sehun bisa membalas semua yang sudah semua hyungnya lakukan untuk dirinya, terutama Baekhyun, Suho, D.O, Kai, dan Chanyeol. Mereka selalu ada di sampingnya saat dirinya mendapat masalah. Mereka rela meminjamkan pundak untuk menadah tangisan Sehun. Mereka selalu membantu meringankan bebannya selama ini. Saat Luhan tidak peduli dengannya. Saat Luhan menganggapnya tidak ada.

—–

Sinar matahari mencoba menyeruak dari balik jendela membuat seseorang menyipitkan matanya. Karena teriknya sinar matahari, Kai terbangun dari tidurnya. Setelah matanya sudah benar-benar terbuka, dia mengintip arloji di balik lengan jaketnya. Sedikit terkejut karena arlojinya sudah menunjukan pukul 6. Tanpa berpikir lebih lama, Kai membangunkan semua hyungnya.

“Hyuuuung! Ironaaa!!” Seru Kai, tapi tetap menjaga volume suaranya agar tidak terlalu keras dan tidak membangunkan Sehun.

“Wae?” Tanya D.O masih memejamkan matanya.

“Sudah pukul 6 pagi, apa kalian tidak ke sekolah?”

“Mwo? Jam 6 pagi? Dan kau baru membangunkanku? Ini sudah 30 menit sebelum bel berbunyi.” D.O berlari ke kamar mandi. Sedangkan Kai melanjutkan membangunkan yang lain.

“Suho hyung, Chanyeol hyung, Xiumin hyung, Chen hyung, Yaaa!! Ironaaaaa!!”

Suholah yang pertama kali menggeliat. Matanya perlahan membuka. Disusul yang lain.

Satu persatu mereka membersihkan tubuh lalu bersiap-siap pergi ke sekolah. Kecuali Baekhyun yang bersikeras untuk menjaga Sehun, dan Luhan yang sekarang hanya mengikuti home schooling saat sore hari.

Sebelum berangkat, Suho menghampiri ranjang Sehun. Mata Sehun belum terbuka.

“Apa dia belum juga sadar?”

Baekhyun menggeleng. “Ani, tadi malam dia sudah sadar.”

“Jinja?” Suho memandang Baekhyun. “Kenapa kau tidak membangunkanku?”

“Sehun yang menyuruhku tidak membangunkan kalian. Dia sedang tidur sekarang, saat kau pulang nanti dia pasti sudah terbangun.”

“Aku tidak sabar. Baiklah aku ke sekolah. Jika ada apa-apa segera beri tau kami.”

Baekhyun mengangguk. Suho dan yang lain meninggalkan ruangan. Sekarang hanya ada Luhan dan Baekhyun yang menjaga Sehun. Suasana sedikit canggung karena Baekhyun belum terlalu dekat dengan Luhan.

“Kau ingin sarapan?” Tiba-tiba Luhan bertanya, membuat Baekhyun sedikit kikuk.

“A…..a…aniyo. Tapi jika hyung ingin sarapan, aku akan membelikannya untukmu.”

“Tidak perlu, Kim ahjussi sedang mengantarkan sarapan.” Luhan tersenyum.

“Gomawo, hyung.”

Luhan mengangguk. Kemudian Luhan mendorong kursi rodanya menuju sisi lain ranjang Sehun.

“Sepertinya kalian sangat dekat.” Ucap Luhan lembut.

Baekhyun tersenyum kikuk. “Sehun sudah aku anggap seperti adikku sendiri.”

“Kau pasti sangat menyayangi Sehun.”

“Bahkan aku tidak bisa membencinya. Senakal dan sejahil apapun dia, kami tetap tidak bisa membencinya.”

Luhan sedikit terenyuh mendengar perkataan Baekhyun. Bahkan sahabat Sehun tidak pernah bisa membenci Sehun, tapi kenapa hyungnya sendiri bisa membencinya dengan mudah? Bahkan membencinya sangat lama.

Baekhyun baru sadar dengan apa yang sudah dikatakannya tadi. Hal itu membuat Luhan terdiam. Baekhyun sudah berpikir jika Luhan pasti akan marah. Luhan pasti akan membencinya.

“Mianhe, aku tidak bermaksud……”

Luhan memotong ucapan Baekhyun. “Aku tidak apa-apa. Kau bahkan menjaganya lebih baik dariku. Gomawo.”

Tak disangka Luhan tersenyum. Ada sedikit rasa bersalah di sana.

“Baekhyun-ah, aku ingin keluar membeli kopi. Kau mau?”

“Tidak hyung, gomawo. Apa mau aku temani?”

“Tidak perlu. Jagalah Sehun untukku.”

Luhan mendorong kursi rodanya keluar. Dia menuju lantai dasar rumah sakit. Tapi Luhan tidak mengarah ke cafe, dia mengarah keluar rumah sakit. Dia mengeluarkan ponselnya lalu menekan beberapa nomor di sana. Hingga tidak beberapa lama suara seseorang terdengar.

“Wae? Apa terjadi sesuatu?”

Luhan sedang tidak ingin basa-basi. “Xiumin-ah, bisakah kau temui aku di tempat biasa?”

“Mwo? Tapi aku…..”

“Katakan pada penjaga sekolah jika aku yang menyuruhmu.”

Klik. Seperti biasa Luhan tidak mau mendengar alasan.

Hingga akhirnya dia menghentikan sebuah taxi yang melintas di depannya. Supir taxi itu membantu Luhan masuk lalu meletakkan kursi rodanya di bagasi. Taxi itu melaju ke suatu tempat.

—–

Xiumin melangkah dengan kesal menuju area parkir sekolah. Apa Luhan sudah gila? Bahkan Xiumin baru mengikuti pelajaran selama 1 jam. Dan sekarang harus meninggalkan sekolah.

Xiumin mengendarai mobilnya menuju gerbang utama sekolah. Dan seperti biasa seorang penjaga gerbang menghentikannya.

“Bukankah ini masih jam pelajaran?”

“Nde. Tapi Luhan menyuruhku untuk menemuinya.”

“Luhan? Oh Luhan, maksudmu?”

“Nde. Dia selalu menyuruhku seenaknya seperti ini.”

“Hahaha, dia memang selalu seperti itu. Keluar dan berhati-hatilah.”

“Khamsahamnida, ahjussi.”

Penjaga sekolah itu tersenyum. Setelah mobil Xiumin keluar, dia segera menutup kembali pintu gerbangnya.

—–

Baekhyun menyantap sarapannya yang dibawa oleh Kim ahjussi. Memang masakan bibi Ren selalu enak. Baekhyun menyantapnya dengan lahap hingga tanpa sadar seseorang sudah menatapnya sambil tersenyum.

Setelah selesai makan, Baekhyun berniat untuk membangunkan Sehun. Karena dia harus meminum obatnya dan sarapan. Namun, saat Baekhyun berbalik ternyata Sehun sudah memandangnya.

“Oe? Sehunie? Kapan kau bangun?”

Sehun kembali tersenyum. “Saat kau makan tadi. Apa kau sangat lapar, hyung?”

Baekhyun mencibir. “Tentu saja lapar, bukankah dari semalam aku menjagamu.”

“Arraseo arraseo. Gomawo.”

Sehun mengedarkan pandangannya. Dia baru sadar jika hanya ada dirinya dan Baekhyun di ruangan itu.

“Hyung, kemana yang lain?”

“Tentu saja mereka pergi ke sekolah.”

Sehun mengangguk-anggukan kepalanya. Tapi sedetik kemudian dia menyadari. Bukankah Luhan tidak bersekolah?

“Kemana Luhan hyung?”

“Oh, dia pergi membeli kopi tadi.”

“Sendiri?”

Baekhyun menangguk. Baekhyun sedang menyiapkan obat dan sarapan untuk Sehun.

“Sekarang makan sarapanmu.”

Baekhyun menyuapi Sehun hingga sarapan yang ada di piringnya habis.

“Kenyang sekaliii.”

“Tentu saja, kau memakannya sampai habis. Sekarang minum obatmu supaya kau cepat sembuh.”

Sehun mengangguk lalu meminum obatnya. Dia ingin cepat keluar dari rumah sakit ini karena bau rumah sakit sangat tidak enak.

—–

Udara pagi di kota Seoul memang sangat menyegarkan. Ini masih pukul 9 pagi jadi belum banyak kendaraan yang berlalu lalang karena jika pagi hari orang-orang lebih memilih berjalan kaki.

Taman sungai Han berubah menjadi area untuk berolahraga saat pagi dan sore hari karena udaranya yang segar dan pemandangannya sangat indah. Keindahan itu juga sedang dinikmati oleh Luhan.

Luhan ingin menyegarkan pikirannya. Karena di tempat inilah otaknya bisa terbuka. Dulu dia bisa berlarian atau berolahraga di sini, sedangkan sekarang dia hanya bisa menikmatinya dari kursi roda. Tapi sekarang Luhan sudah bisa menerima keadaannya saat ini. Mau sampai kapanpun dia mengelak, dia tetap tidak bisa berjalan seperti dulu.

Luhan terhenti di sebuah kedai yang menjual bubble tea. Kedai itu mengingatkannya pada eomma. Dulu Luhan sering berjalan-jalan di sini dengan ibunya, dan selalu membeli bubble tea di kedai yang ada di depannya saat ini.

“Ahjussi, aku ingin membeli Taro bubble tea dan Americano.”

Luhan mengingat Xiumin sangat suka dengan kopi begitu juga dengan dirinya. Tapi kali ini Luhan ingin minum bubble tea. Dia sangat merindukan minuman itu.

“Ini pesananmu.” Ucap Ahjussi pemilik kedai.

Luhan menerima 1 buah kantong plastik berisi pesanannya. Setelah menerima kembalian, Luhan kembali melanjutkann perjalanannya. Kini dia berhenti di sebuah tempat duduk dekar air mancur. Tanpa Luhan sadari, bangku ini adalah bangku favorit Sehun untuk melepas penat.

Tidak lama kemudian, seorang namja yang masih mengenakan seragam sekolah muncul di depan Luhan dengan nafas terengah-engah.

“Oe? Apa kau habis berlari?” Tanya Luhan.

“Aku berkeliling mencarimu, ternyata kau ada di sini.”

Xiumin duduk di samping Luhan. Luhan memberikan Americano pada Xiumin.

“Woaaah Americano. Gomawo,” seru Xiumin. “Kenapa kau menyuruhku kemari?”

“Aku hanya ingin duduk di sini.” Ucap Luhan.

Xiumin menghadap Luhan mencari keseriusan di wajahnya. Tapi seketika pandangannya terhenti pada minuman yang sedang diminum namja mungil di depannya.

“Kau? Sejak kapan kau meminumnya?”

“Wae? Aku sangat menyukainya.”

“Hahahahahahaha……” Xiumin tertawa terbahak. Ini adalah pertama kalinya dia melihat Luhan meminum minuman anak kecil itu.

“Wae? Apa itu sangat lucu?” Luhan mengerucutkan bibirnya.

“Namja keras kepala sepertimu menyukai bubble tea? Aigo, ternyata seleramu masih seperti anak-anak.”

“YA!!!!”

Tiba-tiba Xiumin teringat pada seseorang yang juga sangat menyukai bubble tea. Sehun.

“Kau sama seperti Sehun. Dia akan merengek jika tidak ada yang membelikannya bubble tea.”

Luhan terkejut. “Mwo? Sehun?”

“Hahaha, kau bahkan tidak tau kesukaan Sehun. Apa benar kau adalah hyungnya?” Xiumin menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bahkan Suho dan Baekhyun lebih perhatian padanya.”

“Molla. Apa aku sejahat itu?”

“Apa kau tidak menyadarinya? Mungkin penyebab Sehun sakit adalah kau.”

“Mwo? Aku?”

“Mungkin dia terlalu memikirkanmu.”

Luhan menundukkan kepalanya. Luhan memutar kembali ingatannya. Saat dia tidak mau melihat Sehun. Saat dia harus membuat jadwal kegiatan agar tidak bertatap mata dengannya. Saat dia harus memenangkan pertandingan basket hanya karena tidak ingin kalah dengan Sehun. Saat dia harus bersikap dingin dengan adik yang selama ini peduli padanya.

“Apa kau ingat? Saat kau pingsan di kamarmu, Sehun yang membawamu ke rumah sakit dan menyuruhku untuk menemanimu disana karena jika kau tau Sehun ada di sana, kau pasti mengusirnya.”

Luhan kembali mengingat-ingat kejadian itu.

“Dan saat kau cedera di pertandingan waktu itu, bahkan Sehun masih bilang kau tidak sengaja saat kau membuat punggungnya memar.”

“Luhan-ah, Sehunlah yang menjagamu di rumah sakit. Dia tidak mau meninggalkanmu. Bahkan dia sangat optimis jika kau bisa berjalan lagi suatu saat nanti.”

Xiumin hanya tersenyum mengingat-ingat kejadian lucunya saat bersama Sehun. Sehun sebenarnya masih sangat polos.

“Apa aku benar-benar tidak punya perasaan?”

“Molla. Hanya kau yang mengetahui hal itu. Kau tau, jika kau menganggap Sehun yang sudah membunuh eommamu adalah salah. Sehun masih terlalu kecil untuk melakukan itu. Seharusnya kau beruntung karena kau sudah merasakan kasih sayang seorang ibu.” Xiumin menghentikan ucapannya sejenak.

“Sedangkan Sehun? Dia tidak pernah merasakan sentuhan seorang ibu. Sekarang dia beruntung karena memiliki sahabat-sahabat yang sangat baik dan menyayanginya. Suho, Baekhyun, Chanyeol, Kyungsoo, dan Kai. Mereka adalah orang-orang yang menjaga Sehun selama ini. Dan kau? Juga harus berterima kasih dengan mereka.”

Luhan bungkam. Tidak sanggup mengatakan apapun. Dadanya kini sesak karena merasakan rasa penyesalan yang amat hebat. Apa yang sudah dilakukannya selama ini?

“Luhan-ah, Sehun adalah anak yang polos. Kau tidak akan pernah menyesal memiliki adik seperti Sehun. Sekarang kau renungkan apa yang sudah kau lakukan selama ini. Aku harus kembali ke rumah sakit.”

Xiumin berlalu meninggalkan Luhan yang masih diam mematung di sana. Perasaan menyesal sedang menyelimuti hatinya saat ini. Hingga buliran air mata yang bertahun-tahun ditahannya kini menyeruak keluar.

Otaknya terus menerus memutar semua kejadian yang membuat rasa penyesalan di dadanya semakin dalam.

Tidak. Dia harus mengakhiri semua ini. Permintaan maaf mungkin tidak cukup untuk menggantikan rasa sakit yang dirasakan Sehun selama bertahun-tahun. Tapi sekarang hanya itu yang bisa dia lakukan. Berlaripun dia tidak mampu.

—–

“Baekhyun hyuuung, aku ingin apel. Bisakah kau mengupasnya?” Pinta Sehun.

“Kau mau apel? Arraseo.” Baekhyun mengambil satu buah apel dari atas meja lalu mengupasnya.

Kali ini Baekhyun tidak menolak ataupun membantah jika Sehun meminta sesuatu darinya. Sehun harus sembuh.

Xiumin datang ketika Sehun sedang menyantap apel hasil kupasan Baekhyun. Xiumin tersenyum karena Sehun sudah sadar.

“Sehunie? Bagaimana keadaanmu?”

“Gwenchana, hyung. Aku sudah lebih baik karena Baekhyun hyung sudah menjagaku.”

Baekhyun menoleh terkejut karena namanya disebut. “Aniyo. Tidak hanya aku, yang lain juga ikut menjagamu.”

Sehun terkikik. “Arra. Mm hyung, apa kau lihat Luhan hyung? Tadi dia pergi untuk membeli kopi, tapi hingga saat ini dia belum juga kembali.”

“Kau tidak perlu khawatir. Hyungmu tidak apa-apa.”

Sehun mengangguk lalu kembali menikmati apelnya. Baekhyun terus mengupas apel karena Sehun memakannya dengan lahap.

Xiumin bermain ponsel di sofa. Dia tidak berniat untuk kembali ke sekolah ataupun ke rumah. Lebih baik, dia menjaga Sehun di sini.

Pintu kembali terbuka, muncul tubuh menjulang Kris dan Lay. Mereka terkejut karena Xiumin sudah ada di sana.

“Ya! Apa kau kabur dari sekolah?” Cerca Kris.

Xiumin buru-buru menggeleng. “Aniyoo, seseorang menyuruhku untuk menemuinya.”

“Jinja? Nugu?” Seru Lay penasaran.

“Itu rahasia. Hahahaha.” Xiumin terkikik geli melihat wajah kecewa Lay.

Pandangan Lay dan Kris kini tertuju pada Sehun yang masih menikmati apelnya.

“Sehuniiie, apa kau sudah baik-baik saja?”

“Aku sudah tidak apa-apa. Gomawo kalian sudah mengunjungiku.” Sehun tersenyum menampilkan puppy eyesnya.

“Hahaha, untuk apa berterima kasih? Itu sudah keharusan untuk menjengukmu.” Ucap Lay sambil mengacak rambut Sehun.

“Baekhyun hyung, aku sudah kenyang.”

Baekhyun mengangguk, menghentikan kegiatannya mengupas apel. “Sekarang kau tidur. Kau harus banyak istirahat.”

“Baekhyun benar, kau harus istirahat.” Tambah Kris.

Sehun kembali berbaring, dan mulai memejamkan matanya. Baekhyun dengan lembut mengusap rambut Sehun agar dia cepat tertidur.

—–

Setelah sekian lama berpikir, akhirnya namja ini mengambil keputusan. Kali ini bukan berdasarkan ego tapi karena hatinya.

Dia ingin menyelesaikan semua masalah ini. Dia harus menjelaskan semuanya. Semua penyesalan yang datang bertubi-tubi padanya.

Benar. Penyesalan memang selalu datang di akhir.

 

 

TBC

Iklan

9 thoughts on “Last Game (Chapter 14)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s