Last Game (Chapter 13)

photogrid_1440082381255

Title                 : Last Game (Chapter 13)

Author             : Gu Rin Young

Cast                 : All member EXO and others

Genre               : Brothership, family, school life, sport

Rating              : General

Nggak nyangka bisa balik nulis lagi. Maaf ya yang udah nunggu lanjutannya, dan makasih yang masih stay nunggu dan mau baca. Kiss kiss :*

Buat bonus aku post 2 chapter sekaligus.

#####

Mobil Sehun sudah terparkir rapi di halaman luas rumah Kris. Tidak lama setelah itu pemilik rumah dan Tao keluar. Betapa terkejutnya Tao ketika melihat Luhan di sana.

“Hyung, kau?”

Luhan tersenyum. “Aku ingin ikut berlatih bersama kalian.”

“Jinja? Aaaaak yang lain pasti akan terkejut melihatmu.”

Luhan berbalik ke belakang. “Sehunah, aku akan ikut mereka menggunakan mobil Kris jadi kau bisa pulang dan melanjutkan tidurmu.”

Sehun terkejut. “Mwo?! Tidak, aku akan menemanimu.”

“Aku hanya berlatih bersama mereka. Kau pulanglah.”

Dan lagi-lagi Sehun hanya bisa mengangguk pasrah. Ini adalah pertama kalinya Luhan pergi tanpa dirinya setelah kejadian saat di Universitas Hankook waktu itu. Setelah menitipkan Luhan pada Kris, Sehun kembali ke rumah untuk melanjutkan tidurnya. Sedangkan Kris, Luhan, dan Tao melesat menuju gym SMU Yonsei.

Benar seperti tebakan Tao sebelumnya, seisi gym terkejut ketika melihat Tao mendorong kursi roda dengan seseorang yang duduk di sana.

“Luhan? Kau?”

“Luhan hyung?”

“Oh Luhan, apa itu benar kau?”

Luhan, Tao, dan Kris hanya tersenyum.

“Luhan hyung akan mengikuti latihan hari ini.” Ucap Tao.

“Jinja?” Xiumin masih belum yakin.

“Jika tidak, aku tidak akan ada di sini bodoh.”

“YA!! Kau tidak perlu mengataiku bodoh.” Seru Xiumin kesal.

“Aku senang sekali jika kau mau berlatih bersama kami, hyung.” Chen memeluk Luhan karena dia sangat bahagia.

“Baiklah, sebaiknya kita mulai saja latihannya. Besok sudah semi final.” Seru Luhan. Semuanya mengangguk.

Latihan pun dimulai. Luhan duduk di tepi lapangan untuk memberikan instruksi kepada sahabat-sahabatnya.

—–

“Besok pertandingan lagi, dan keesokan harinya kita harus kembali ke sekolah.” Dengus Lay kesal.

“Tidak biasanya kau mengeluh seperti itu.” Luhan mengacak rambut Lay.

Kini keenam sahabat itu sedang melangkah (kecuali Luhan) menuju parkiran. Karena sudah hampir malam, mereka memutuskan mengakhiri latihan mereka.

“Sekolah terasa sepi tanpamu.”

“Bahkan yeoja-yeoja cerewet itu selalu menanyakan keadaanmu setiap hari. Hal itu membuatku sering pusing saat pelajaran.” Rutuk Xiumin.

“Hyung, kau memang selalu pusing saat pelajaran karena otakmu tidak pernah digunakan untuk berpikir. Hahaha,” Ceplos Chen membuat yang lain kecuali Xiumin tertawa terbahak.

“Hahaha, aigooo. Kau memang pintar, Chennie.” Kris masih tertawa, bahkan sampai memegangi perutnya.

“Hyung, kau memang bodoh. Hahaha.” Tao ikut menimpali.

“YA!! SHIKUREO!!!!” Xiumin yang kesal hanya mengerucutkan bibirnya.

Tawa Luhan masih berlanjut ketika masuk ke dalam mobil Xiumin dibantu oleh Kris dan Lay. Kris tidak bisa mengantar Luhan karena dia harus menemani Tao dan Lay membeli sepatu basket. Sedangkan Chen pulang ke rumahnya seorang diri karena tidak memiliki keperluan apapun.

“Bisakah kau berhenti tertawa?” Umpat Xiumin karena Luhan terus tertawa.

“Hahahaha, tapi Chen sangat polos. Dia bahkan tau jika kau tidak pernah menggunakan otak untuk berpikir.”

“Aish!!”

Sampai di rumah pun, Luhan masih tertawa. Xiumin terus memasang wajah kesal sambil mendorong kursi roda Luhan ke dalam rumah. Rumah tampak sepi.

“Apa Sehun tidak ada di rumah?” Tanya Xiumin.

“Molla. Kau ingin langsung pulang atau mau mampir?”

“Aku langsung pulang, aku ingin mandi dan tidur.”

“Mm arraseo.” Luhan tersenyum.

Luhan mengantar Xiumin sampai depan pintu rumahnya. Setelah mobil Xiumin hilang di balik pintu pagar, Luhan pergi ke dapur untuk mengambil air minum.

“Ahjumma, apa Sehun pergi?” Tanya Luhan pada bibi Ren yang ditemuinya di dapur.

“Dia ada di kamarnya. Dia hanya keluar saat makan malam. Luhanie, apa kau sudah makan?”

Luhan mengangguk. “Aku sudah makan setelah latihan tadi.”

Bibi Ren mengangguk lalu tersenyum lembut. “Istirahatlah, wajahmu terlihat lelah.”

“Nde ahjumma. Aku naik ke atas dulu.” Pamit Luhan.

Luhan mendorong kursi rodanya sendiri ke kamarnya. Dia memandang pintu kamar Sehun. Tidak biasanya Sehun mengurung diri di kamar seharian. Apa dia tidur? Atau sedang malas keluar? Bahkan dia tidak menyalakan lampu kamarnya.

—–

Seseorang sedang mengigil menahan hawa dingin yang ingin terus masuk ke dalam tubuhnya. Dia menutup tubuhnya rapat di balik selimut yang tebal. Tapi setebal apapun selimut itu, hawa dingin selalu bisa menerobosnya. Hingga akhirnya dia lelah dan tidur.

—–

“YA!! OH SEHUN!! Apa kau lupa hari ini pertandingan?! YA!! IRONA!!” Luhan menggedor pintu Sehun.

Jam sudah menunjukan pukul 8 pagi tapi isi kamar itu belum juga keluar. Dia akan terlambat untuk pertandingan hari ini.

“OH SEHUN!! YA!!!” Luhan kembali menggedor pintu Sehun.

Hingga akhirnya penghuni kamar itu keluar dengan wajah yang sangat berantakan. Bahkan Sehun masih memakai pakaian kemarin saat dia mengantar Luhan.

“Apa kau lupa hari ini pertandingan?! Cepat mandi!!” Seru Luhan yang lagi-lagi tanpa bantahan.

“Arraseo hyung.” Ucap Sehun dengan suara yang parau. Kemudian menutup pintu kamarnya.

Tidak lama tubuh Sehun yang menjulang sudah ada di lantai bawah. Wajahnya tampak tidak bersemangat. Dia mengeluarkan ponsel dari saku hoodienya lalu menekan beberapa nomor yang dihapalnya.

Seseorang menjawab. “Sehunie? Wae?”

“Hyung, apa kau akan menonton pertandingan?”

“Tentu, aku akan berangkat dengan D.O.”

“Bisakah kau ke rumahku bersama D.O hyung? Kita berangkat bersama dengan mobilku.”

“Arraseo, 5 menit lagi aku akan di sana.”

Sehun mematikan teleponnya lalu menghampiri Luhan yang sedang memakan roti di meja makan. Sehun duduk di salah satu kursi lalu menelungkupkan kepalanya di atas meja.

Luhan hanya mengerutkan keningnya bingung, dia tidak ingin tau ada apa dengan Sehun. Bibirnya tidak ingin bertanya.

Hingga tidak beberapa lama sebuah mobil membunyikan klaksonnya. Dengan langkah gontai Sehun berjalan keluar. Luhan kembali lagi dibuat bingung.

“Mobil siapa itu?” Tanyanya pada dirinya sendiri.

Luhan mendapatkan jawabannya ketika Sehun kembali masuk ke rumah dengan dua orang yang dikenalnya. Suho dan D.O.

“Annyeong, hyung.” Sapa D.O.

“Annyeong, Luhan.” Suho ikut menyapa.

Luhan hanya tersenyum tipis lalu mengangguk.

“Kajja kita berangkat. Suho hyung kau yang bawa mobil.” Seru Sehun yang langsung mendorong kursi roda Luhan keluar dan melemparkan kunci mobilnya.

Setelah membantu Luhan naik, Suho duduk di kursi kemudi dengan D.O di sebelahnya. Sedangkan Luhan dan Sehun duduk di belakang seperti biasa.

Mobil berjalan belum terlalu jauh, tapi Sehun sudah menutup matanya. Bahkan tertidur. Luhan yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala. Apa terlalu lama liburan membuat Sehun menjadi tukang tidur?

Sehun terbangun saat mobilnya sudah berhenti di Universitas Hankook. Karena hari ini adalah pertandingan semi final, penonton semakin ramai. Tersisa 4 team. SMU Yonsei, Universitas Hankook, Universitas Seoul, dan SMU Hoksae. Dan semi final kali ini SMU Yonsei akan berhadapan dengan tuan rumah, yaitu Universitas Hankook.

Saat masuk ke gym Hankook, Sehun menggandeng lengan D.O karena Sehun rasa badannya akan remuk. Tadinya dia tidak ingin menonton pertandingan, tapi dia tidak ingin hyungnya sendiri. Lebih tepatnya dia tidak bisa membantah perintah Luhan. Dia terlalu takut untuk membantah perkataan hyungnya.

Sehun dan Suho mengantar Luhan ke tepi lapangan. Sedangkan D.O menemui Baekhyun, Chanyeol, dan Kai di bangku VIP khusus pemain, mereka diijinkan duduk di sana karena mereka banyak mempunyai kenalan panitia pertandingan. Setelah mengantar Luhan, Sehun dan Suho menuju bangku VIP menyusul D.O.

Sehun duduk di sebelah Kai. Sehun menyenderkan kepalanya di pundak Kai, yang membuat Kai mengerutkan keningnya.

“Kau kenapa?” Tanya Kai.

“Gwenchana, aku hanya meminjam pundakmu sebentar.”

Tidak lama setelah itu, pertandingan pun dimulai. Semua penonton berteriak mendukung tim dari sekolah masing-masing kecuali Sehun. Dia seperti tidak memiliki semangat lagi. Bahkan untuk membuka matapun dia kesulitan.

Quarter pertama banyak terjadi adegan serang menyerang dari kedua tim. Mereka sama sekali tidak ada yang mau mengalah. Tim Universitas Hankook tidak ingin menanggung malu karena mereka menjadi tuan rumah, sedangkan SMU Yonsei tidak ingin kalah dengan lawan mereka walaupun badan mereka jauh lebih kecil dari pemain lawan.

Luhan terus meneriakan instruksinya. Dan akhirnya quarter pertama berakhir dengan score 24-21 untuk Universitas Hankook.

“Kalian harus lebih semangat. Jangan mau kalah dengan senior.” Seru Luhan memberi semangat kepada yang lain.

“Aku selalu kalah jika berebut bola, hyung.” Lirih Tao.

“Gwenchana.” Luhan tersenyum. “Tapi kau harus tunjukan pada mereka jika tubuhmu tidak kalah berotot dengan mereka.”

“Mm, arraseo.”

Peluit quarter kedua sudah dibunyikan. Seluruh pemain kembali ke lapangan. Dan lagi-lagi kedua tim saling menyerang. Terlihat Chen dan Xiumin sudah kewalahan menghadapi lawan. Tubuh mereka tidak berimbang.

Berulang kali Xiumin mencoba menembakan lemparan 3 angka, tapi selalu gagal. Hingga Xiumin tampak kesal bahkan dia mengeluarkan emosinya.

Kali ini SMU Yonsei bermain lebih agresif. Serangan SMU Yonsei kali ini membabi buta. Mereka tidak ingin tertinggal terlalu jauh.

“Kris, emosinya mulai naik. Itu tidak bagus untuk timnya.” Seru Suho berkomentar.

“Xiumin hyung juga. Jika mereka tidak bisa mengendalikannya, itu bisa fatal. Pasti banyak terjadi pelanggaran.” Baekhyun juga ikut berkomentar.

“Sehunah, bagaimana menurutmu?” Tanya Chanyeol, karena biasanya Sehun lebih detail jika menonton pertandingan.

Tapi tidak ada jawaban dari Sehun.

“Kai, apa Sehun tidak ada? Kenapa dia tidak menjawab pertanyaanku?”

Kai baru tersadar jika Sehun masih bersandar di pundaknya. “Oh Sehun? Kenapa kau diam saja? Apa kau sedang berkonsentrasi?”

Sehun tetap tidak menjawab.

“Ya! Oh Sehun, kami mengajakmu bicara.”

Kai menggeser pundaknya agar kepala Sehun menyingkir dari pundaknya. Tapi tidak ada yang menyangka, kepala Sehun terkulai lemah di sana. Bahkan matanya tertutup. Melihat itu Kai berubah panik.

“Ya! Oh Sehun!! Ironaaaa!!!”

Suho, Chanyeol, Baekhyun, dan D.O seketika menoleh. Mereka terkejut melihat tubuh Sehun sudah melunglai lemah menyandar pada tubuh Kai. Penonton yang berada di sekitar mereka pun mengerubungi Kai dan Sehun.

“Ya! Oh Sehun gwenchana? Buka matamu.” Seru Baekhyun ikut panik.

“Sebaiknya bawa dia ke ruang kesehatan atau rumah sakit terdekat.” Usul seorang penonton. Sepertinya dia dari Universitas Seoul.

Tanpa berpikir lagi, Suho, Chanyeol, dan Kai menggotong tubuh Sehun keluar dari gym diikuti Baekhyun dan D.O.

“Kita bawa ke rumah sakit, aku takut terjadi apa-apa dengannya.” D.O membukakan pintu mobil.

“Baekhyunah, tolong jaga Sehun di belakang. Chanyeol, kau ikuti mobil ini saja dan jangan berpencar.” Suho melompat masuk ke dalam mobil.

Kedua mobil itu langsung melesat pergi meninggalkan Universitas Hankook dan pertandingan saat itu. Di belakang, Baekhyun terus menggenggam tangan dingin Sehun.

“Tangannya dingin sekali.”

“Jinja? Sebentar lagi kita akan sampai.” Ucap Suho.

Sesampainya di rumah sakit, mereka membawa Sehun ke ruang UGD agar langsung ditangani oleh dokter.

“Apa Sehun akan baik-baik saja?” Baekhyun meluruh di sana. Bahkan tadi dia memaksa untuk menemani Sehun ke ruang UGD tapi dokter tidak mengijinkannnya.

“Tenanglah, dia pasti tidak apa-apa. Bukankah kita semua tau, Sehun adalah anak yang kuat.” Chanyeol mengusap punggung sahabatnya itu.

“D.O, coba hubungi Luhan. Kirim pesan padanya, mungkin pertandingan belum selesai.” Perintah Suho pada D.O yang langsung menghidupkan ponselnya.

Tidak lama dokter keluar dari ruang UGD. Suho dan yang lain langsung menghampirinya dan memburunya dengan pertanyaan.

“Apa Sehun baik-baik saja?”

“Tidak terjadi apa-apa padanya kan?”

“Sehun tidak apa-apa kan, dok?”

“Apa yang terjadi padanya?”

Dokter itu hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar pertanyaan-pertanyaan dari mulut kelima namja di depannya.

“Apa ada kakak atau saudaranya di sini?” Tanya dokter.

“Kami semua adalah saudaranya, dok.” Yah memang mereka menganggap satu sama lain bukan sahabat. Tapi saudara.

“Baiklah kalau begitu saya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian tadi. Pasien Oh Sehun tidak apa-apa, dia hanya kelelahan dan mungkin pola makannya tidak terjaga.”

Semua menghembuskan nafas lega.

“Dia hanya butuh istirahat untuk beberapa hari dan dia perlu banyak vitamin jadi mungkin dia akan pulang lusa.”

“Baiklah, lakukan yang terbaik untuk adik kami.” Ucap Suho. Dokter itu tersenyum lalu mengangguk dan kembali ke ruang UGD.

Sehun langsung dibawa ke ruang perawatan. Di sana keempat sahabatnya mengelilinginya di tempat tidur menunggu kedua mata itu terbuka. Baekhyun dan Kai terus menggenggam tangan Sehun, berusaha untuk menghangatkannya.

“Dia pasti kelelahan karena dia selalu menjaga Luhan. Dia juga selalu memikirkan tentang kekeras kepalaan hyungnya dan sifat hyungnya yang selalu dingin dengannya.” Ucap Chanyeol.

“Mungkin kau benar. Sehun terlalu memikirkan Luhan hyung. Hingga dia lupa memikirkan dirinya sendiri.” Sambung D.O.

“Sudahlah kita tunggu sampai dia sadar. Kyungsoo-ya, kau sudah mengirim pesan untuk Luhan?” Tanya Suho.

“Bahkan aku sudah mengirimkan pesan untuk Xiumin dan yang lainnya.”

Suho menunjukkan jempolnya pada Kyungsoo.

“Jika dia sadar, aku akan memaksanya makan dengan teratur.” Seru Baekhyun yang masih mencoba menghangatkan tangan Sehun.

Suho, D.O, dan Chanyeol duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Mereka sangat mengkhawatirkan kondisi adik kesayangan mereka. Sehun adalah namja yang kuat. Tapi kejadian akhir-akhir ini membuat kondisi tubuhnya sedikit menurun.

—–

Luhan dan sahabat-sahabatnya bersorak. Mereka berhasil mengalahkan tuan rumah yang bahkan merupakan senior mereka. Akhirnya babak final sudah ada di depan mata.

“Kita ke finaaaaaal!!!!” Seru mereka serempak sambil memeluk satu sama lain.

“Kita harus memenangkan turnamen ini.” Seru Lay bersemangat.

“Tenang saja, kita kan punya penyusun strategi yang hebat.” Chen merangkul pundak Luhan.

“Bukan karena aku, tapi karena kalian yang selalu bersemangat di setiap pertandingan. Bukankah strategiku selalu menyulitkan kalian?” Luhan mengingat pertandingan terakhirnya, ketika sahabatnya itu selalu menyinggung soal strateginya yang sulit.

“Haha, bahkan kau tidak melupakannya.” Xiumin tertawa

“Aku akan melupakannya nanti.” Luhan tersenyum.

“Kita harus benar-benar merayakannya hari ini. Kita ajak Sehun dan yang lainnya agar lebih ramai.” Usul Kris.

“Tapi dimana mereka?” Tao mengedarkan pandangannya di antara penonton tapi tidak menemukan Sehun. Bahkan wajah sahabat Sehun pun tidak ada yang terlihat.

Kris, Chen, dan Luhan juga ikut mencari. Mungkin ada di antara penonton tapi mereka tidak melihatnya, karena penonton yang datang sangat banyak.

“Mungkin mereka sudah di luar karena berdesakan dengan penonton lain.” Lay mencoba menghilangkan pikiran negatif dari sahabat-sahabatnya.

Xiumin mengangguk. “Lay benar. Sebaiknya hubungi saja mereka.”

Tao dan Lay mengeluarkan ponsel mereka dari dalam tas. Mata mereka menyipit karena muncul satu pesan dari D.O

Tao beritahu yang lain, Sehun ada di rumah sakit sekarang. Dia tiba-tiba pingsan saat menonton pertandingan tadi.

Pesan yang sama juga diterima Lay.

Setelah membaca pesan Lay dan Tao membelalak. “MWO?!!!”

Xiumin yang sedang merapikan isi tasnya terkejut mendengar teriakan yang cukup keras dari kedua sahabatnya itu.

“YA!!! Kenapa kalian berteriak?!”

Kris, Luhan, dan Chen pun menghampiri Tao dan Lay.

“Ada apa dengan kalian?”

“Apa yeojachingu kalian membuat pesta kejutan?”

“Kalian berisik sekali, tidak perlu berteriak.”

Tao dan Lay berseru kesal. “BUKA PONSEL KALIAN LALU BACA PESAN DARI D.O!”

Serempak, Chen, Kris, Luhan, dan Xiumin membuka ponsel mereka. Dan benar ada pesan dari D.O di sana. Dan seketika mata mereka membulat setelah membaca pesan dari D.O.

“Kajja kita ke rumah sakit.” Luhan mendorong kursi rodanya.

Tanpa pikir panjang Xiumin dan yang lain mengikutinya. Lay membantu Luhan mendorong kursi rodanya.

Segala jenis pertanyaan sudah berseru di pikiran Luhan. Apa yang terjadi dengan Sehun? Bukankah tadi dia baik-baik saja? Mengapa Sehun bisa pingsan? Dan masih banyak lagi.

Kris, Xiumin, dan Lay menyetir mobil seperti peluru. Mereka tidak peduli dengan protesan pengguna jalan yang lain. Yang mereka tau hanyalah sampai ke rumah sakit dan mengetahui keadaan Sehun.

Hingga akhirnya mereka memarkirkan mobil dengan sembarang lalu melesat masuk menuju meja informasi. Sedikit kesal karena petugas mencari nama Sehun dengan lambat, kini sampailah mereka di ruangan VIP nomor 1204. Tanpa mengetok pintu, mereka langsung menerobos pintu hingga membuat isi kamar tersebut terkejut.

“Apa yang terjadi dengan Sehun? Mengapa dia bisa pingsan?” Luhan memburu semua yang ada di situ dengan pertanyaan.

“Dokter bilang dia hanya kelelahan dan butuh istirahat.” Jawab Suho.

Luhan dan sahabatnya menghembuskan nafas lega karena Sehun tidak sakit parah.

“Dan dokter juga bilang dia harus mengubah pola makannya. Apa dia tidak makan dengan teratur jika di rumah, hyung?” Tanya Baekhyun.

Luhan hanya menggeleng lemah.

“Mwo? Bagaimana bisa kau tidak tau? Kalian tinggal serumah. Apa jangan-jangan kehidupan kalian kembali lagi seperti dulu.” Selidik Kris.

“Kami hanya bertingkah seperti biasa. Seperti yang kalian lihat. Dan makan adalah urusannya, dia bisa mengambil makan sesuka hatinya.”

Semua isi ruangan itu (kecuali Sehun dan Luhan) menggeleng tidak percaya.

“Wae?”

“Aku kira kau sudah berubah. Tapi memang susah merubah kekeras kepalaanmu.” Xiumin menghembuskan nafas keras.

Chanyeol yang mengetahui jika pertengkaran akan terjadi segera menenangkan perdebatan itu.

“Sudahlah, jangan saling menyalahkan. Lebih baik setelah ini kita lebih menjaganya, karena sebenarnya Sehun tidak sekuat yang kita pikirkan selama ini.”

Lay mengangguk. “Chanyeol benar. Sebaiknya kita menunggunya sadar.”

 

TBC

Iklan

5 thoughts on “Last Game (Chapter 13)

  1. So_Sehun berkata:

    Yeaahhhhh…akhirnya author yg ini update juga…setelah sekian lama mununggu…makasih sdah update…
    Dah itu aja komen dri saya…soalnya saya terlalu senang ini ff di update…😄😄

  2. princesshanxo berkata:

    salah satu ff yg paling paling dittunggu akhirnya update juga../tos bareng sehun/ author nim mmg da best lah…. Cpt di update lg ya kak gemes nnih sma hunhan .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s