[EXO Chanbaek FF] – The Two Boys Are Buddies

dgdg

Tittle : . The Two Boys Are Buddies

Author : Park Rami [@Ohxodus]

Genre : Friendship and Brothership, Drama

Main Cast : – Park Chanyeol [EXO]

– Byun Baekhyun [EXO]

Rating : General

Lenght : Oneshoot

Disclaimer : Chanyeol and Baekhyun belong to God, SM Entertaiment, and their parents. This Fanfiction belongs to me and real my imagination.

Summary : Aku sangat bersyukur memiliki sahabat sepertimu karena kau selalu ada untukku baik itu di saat senang maupun duka. Namun, saat kau meninggalkanku aku merasa tidak perlu berteman lagi. Tetapi ada seseorang yang sangat mirip denganmu, dari kehidupannya itu dia menyadarkanku bahwa masih banyak teman yang selalu ingin menjagaku.

Happy Reading^^

*Chanyeol POV*

Aku Park Chanyeol, seorang namja biasa, aku sudah menduduki kelas akhir dari sekolahku dan sebentar lagi aku lulus. Dalam hidupku, yang kulakukan adalah belajar dan bekerja part-time untuk memenuhi kebutuhan hidup. Yah walaupun biaya sekolah kudapatkan dengan bantuan beasiswa. Begitulah aku sendiri tanpa keluargaku, Ayah dan Ibuku sudah meninggal sejak aku baru masuk tahun pertama di SHS. Kedua orang tuaku bukan orang kaya jadi mereka tidak meninggalkan warisan berupa uang atau apapun padaku hanya rumah saja yang aku miliki saat ini.

Aku bukanlah tipe orang yang mudah bergaul namun aku memiliki seorang sahabat, dia sangat cerewet, hyperaktif, pokoknya dia penuh semangat sekali tapi dia juga pemalas. Dia berbeda denganku, dia adalah anak orang berada bahkan ayahnya adalah salah satu donatur terbesar yang menyumbang ke sekolah. Dia seumuran denganku hanya beda beberapa bulan saja, yah dia lebih tua dariku 6 bulan. Namanya Byun Baekhyun.

“Chanyeol-ah kajja kita berangkat.” Baekhyun menghampiriku setelah keluar dari mobilnya yang dikendarai oleh sopir pribadinya. Sebenarnya aku heran dengannya mengapa ia lebih memilih naik bus denganku sedangkan dirinya memiliki mobil.

“Emmh,” aku mengangguk, menjawab seadanya.

“Aku selalu ingin menanyakan ini padamu?” tanyaku setelah kami menempati kursi penumpang. Baekhyun menoleh, “Apa?”

“Kenapa kau lebih memilih menaiki bus padahal kau kan bisa diantar?”

“Oh, itu karena aku lebih suka berangkat sekolah bersama sahabatku,” jawab Baekhyun sambil tersenyum lima jari menampilkan jejeran gigi rapinya. Sedangkan aku hanya mengangguk walaupun sebenarnya aku masih bingung.

“Oh iya, bisakah kau mengajariku tugas ini?” tanya Baekhyun sambil menunjukkan buku bahasa inggrisnya.

“Kau belum mengerjakannya?” tanyaku, Baekhyun hanya mengangguk semangat(?)

“Ya ampun Baek, kadang aku berpikir kenapa kau tetap naik kelas sedangkan kau kerjanya hanya malas-malasan saja ckckckck,” aku sedikit… yah… sedikit menyindirnya sambil menggelengkan kepalaku.

“YA! Aku ini pintar tahu lihat ulangan Matematikaku dapat 100 sedangkan kau dapat 97,” cibir Baekhyun sambil menunjukkan kertas ulangan matematikaku dan dia, tunggu! Kertas ulangan matematiku?

“Apa itu? Kertas ulanganku? Kau dapat darimana?” tanyaku dan langsung merebut kertas tersebut.

“Oh ini, kemarin kau kan tidak ada di kelas karena ada rapat OSIS jadi aku mengambilkannya untukmu.” Baekhyun menjawab seadanya. Aku pun mengangguk paham, “Terima kasih sudah mengambilkannya untukku.”

“Hmm, sama-sama.”

*Chanyeol POV End*

 

=><=

 

Chanyeol terus memperhatikan guru biologinya yang sedang menerangkan materi di depan. Sesekali dia mencatat yang sekiranya penting dalam buku catatannya. Ketika ia ingin menyandarkan punggungnya ke kursi ia dapat merasakan kepala Baekhyun mengenai punggungnya.

Chanyeol pun menoleh, “Astaga Baekhyun bangunlah nanti kau ketahuan,” bisik Chanyeol pelan pada Baekhyun yang asyik menelungkupkan kepalanya antara kedua tangannya yang terlipat di meja. Chanyeol terus membisiki Baekhyun tapi hal itu sia-sia saja dan akhirnya ia terpaksa melakukan ini.

Chanyeol mengambil kuas lukis dari dalam tasnya, kemudian ia dekatkan ke leher Baekhyun dan ia mulai menggelitikinya. Baekhyun yang merasa tak nyaman pun langsung menggebrak meja tanpa sadar. Chanyeol terkejut dan langsung berbalik setelah menggelitiki Baekhyun tapi tangannya tetap tak mau diam kali ini ia mulai mencubit lengan Baekhyun.

“ARGHHH!!” Baekhyun berteriak tanpa sadar.

Seluruh siswa dengan serempak memusatkan perhatiannya pada Baekhyun.

“Byun Baekhyun!” bentak Ahn Seonsaengnim, kedua bola matanya melotot galak ke arah Baekhyun.

“Ah.. ne Seonsaengnim?” Baekhyun berkata dengan takut-takut, nyawanya baru setengah masuk ke dalam tubuhnya. Dirinya benar-benar nyenyak tadi tidurnya.

“Ada apa denganmu? Tadi menggebrak meja dan sekarang berteriak. Ada apa ini?” tanya Ahn Seonsaengnim lagi, kali ini dengan kilatan tajam di kedua matanya yang tertutupi oleh kacamata rangkap.

“..ii..it.u…” Baekhyun memutar kedua bola matanya berusaha mencari ide.

“Dia tidak mengerti dengan pembahasan anda nomor 4 Saem.” Chanyeol menjawab pertanyaan Ahn Seonsaengnim.

Ahn Seonsaengnim mengalihkan perhatiannya ke arah Chanyeol dan kembali lagi ke Baekhyun, “Benarkah itu Byun Baekhyun?”

Baekhyun sedikit melirik ke arah Chanyeol dan sahabatnya itu memberikan jempol ke arahnya lewat bawah meja. “Ne itu benar,” jawab Baekhyun sambil menunduk. Setelah mendapat jawaban pasti dari Baekhyun, Ahn Seonsaengnim kembali ke depan dan menatap anak didiknya satu persatu.

“Anak-anak ingat ini, kalian harus meningkatkan semangat belajar kalian buang rasa malas itu, meskipun awalnya sulit tapi percayalah usaha kalian pasti ada hasilnya meskipun itu hanya sekecil atom.” Ahn Seonsaengnim memberi nasehat dan tersenyum tulus pada anak didiknya.

Setelah mendapatkan nasehat dari Ahn Seonsaengnim, semua siswa dalam kelas itu balas tersenyum dan menjawab yakin, “NE, GAMSAHAMNIDA SAEM!”

 

[At Canteen]

Gomawo untuk yang tadi,” ucap Baekhyun sambil memakan es krimnya.

Chanyeol menatap Baekhyun dan mengangguk, “No problem, apapun untuk sahabatku.”

Kali ini giliran Baekhyun yang menatap Chanyeol dengan matanya yang berkaca-kaca, ekspresi bahagia seorang Byun Baekhyun. Melihat ekspresi Baekhyun, Chanyeol pun segera menutup wajahnya untuk menahan tawanya.

“YA! Wae geurae?!” tanya Baekhyun kesal, kini mimik wajahnya sudah berubah menjadi cemberut. Sedangkan Chanyeol hanya menggelengkan kepalanya.

“YA! Katakan padaku kau ini kenapa?”

“Ani! Hanya saja kau lucu sekali,” jawab Chanyeol sambil mengusap air matanya yang sedikit keluar akibat ia tertawa tadi.

“Apanya yang lucu?!” tanya Baekhyun tambah kesal karena menurutnya Chanyeol ngomongnya tidak bener.

Chanyeol menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Baekhyun tetap sabar menantikan Chanyeol sambil terus menyuapi es krim ke dalam mulutnya.

“Sudahlah lupakan.”

“Hah?!” Baekhyun membuka mulutnya lebar-lebar.

“Kubilang lupakan saja kau tidak akan mengerti,” kata Chanyeol melanjutkan. “Mworago? Huh~ dasar aku kesal padamu,” Baekhyun memalingkan wajahnya.

“Terserah, aku ke kelas duluan,” Chanyeol beranjak dari tempat duduknya dan hendak berbalik pergi.

“Siapa yang mengizinkanmu pergi ke kelas!” sentak Baekhyun tetap memalingkan wajahnya tidak mau menatap sahabatnya.

“Aku mau belajar Baekhyun,” Chanyeol berucap dengan nada pelan.

“Huh.., ya sudah tapi baliknya bareng aku arrachi?”

Chanyeol dibuat terkekeh lagi oleh Baekhyun, “Ne, kajja.”

Setelah Baekhyun menghabiskan makanannya mereka berdua berjalan beriringan keluar kantin. Tapi saat mereka berdua sudah berada di ambang pintu keluar ada sedikit masalah disana terlebih untuk Chanyeol.

“Chanyeol!” Baekhyun berjengit kaget saat melihat wajah Chanyeol serta seragamnya sudah dipenuhi oleh kimchi. Chanyeol memejamkan kedua matanya berusaha menahan perih di hatinya, noda kimchi memenuhi wajah dan seragamnya. Baekhyun memutar tubuhnya untuk melihat siapa pelakunya.

“KAU!” tunjuk Baekhyun tepat di wajah yeoja tersebut. Yeoja tersebut menyeringai, “Wae? Kurasa kimchi itu menyukai wajah si anak beasiswa hahahah..” yeoja itu menekan ucapannya pada kata-kata ‘anak beasiswa’ lalu tertawa diikuti oleh kedua temannya yang berada di sampingnya.

“Jaga ucapanmu Kim Nana! Atau akan kubalas kau lebih dari ini!” ancam Baekhyun menatap tidak suka ke arah Nana sedangkan Nana hanya cuek bebek tidak peduli dengan ancaman Baekhyun dan berlalu dari hadapan Baekhyun dan Chanyeol. Baekhyun hendak menyusul Nana tapi Chanyeol menahannya.

“Chanyeol!” seru Baekhyun pelan karena acara balas dendamnya terhalang oleh Chanyeol. Dia tidak kuat melihat sahabatnya dibully seperti ini. Memang kejadian ini bukanlah yang pertama dan Kim Nana bukanlah orang pertama yang telah membully Chanyeol. Dan Baekhyun sangat benci degan kata-kata ‘anak beasiswa’ bukan berarti Baekhyun benci Chanyeol tetapi karena mereka semua membully Chanyeol dengan kata-kata itu. Baekhyun tidak habis pikir, saat jam pelajaran sedang berlangsung mereka akan berbondong-bondong ke bangku Chanyeol untuk meminta jawabannya tetapi saat jam pelajaran telah berakhir mereka akan kembali membully Chanyeol.

Chanyeol menggeleng, “Sudahlah Baek, dia itu perempuan dan laki-laki tak boleh bertindak kasar pada perempuan.” Baekhyun menatap sedih ke arah Chanyeol, tangannya bergerak merogoh saku celananya, mengambil sapu tangan miliknya lalu memberikannya kepada Chanyeol.

Chanyeol tersenyum lembut kepada Baekhyun“Terima kasih.”

 

=><=

 

“Chanyeol-ah bolehkah aku bermain ke rumahmu?” tanya Baekhyun penuh harap. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang, mereka berdua duduk di bangku penumpang paling belakang.

“Hmm?” tanya Chanyeol sedikit berpikir, soalnya terakhir kali Baekhyun berkunjung ke rumahnya, kamarnya jadi hancur, pecah berantakan. Tapi dia tidak masalah dengan itu, kedatangan Baekhyun membuat rumahnya menjadi lebih hidup.

“Bolehkan? Selama ini aku hanya pernah berkunjung ke rumahmu dua kali dalam 1 tahun ini,” pinta Baekhyun sambil merengek.

“Tapi Baekhyun, kita sudah kelas akhir jadi kau harus belajar full,” Chanyeol menolak secara halus.

“Kalau begitu aku akan membawa bukuku dan belajar di rumahmu,” ujar Baekhyun dengan penuh harap, Chanyeol hanya melirik Baekhyun sebentar dan kembali berpikir.

“Ayolah! Ayolah! Kau pelit sekali,”

“Bukan begitu tapi_____,”

Belum sempat Chanyeol melanjutkan ucapannya ternyata Baekhyun sudah keluar dari bus, “Eoh? Ternyata sudah sampai,” Chanyeol pun ikut turun keluar dari bus, “Baek______. Mwo? Kemana dia?” Chanyeol celingak celinguk menatap di sekitar halte dan mata bulatnya menangkap mobil hitam milik Baekhyun yang sudah agak jauh dari halte.

“Sepertinya dia marah padaku,” Chanyeol mengedikkan kedua bahunya tak mau ambil pusing lagipula Baekhyun tidak akan lama marah padanya, kemudian Chanyeol langsung berjalan pulang ke arah rumahnya.

 

[Skip time]

 

Chanyeol sudah sampai di depan rumahnya, tangan besarnya menggapai gerbang kecil dan mulai membuka gemboknya. Setelah itu Chanyeol masuk ke dalam pekarangan rumahnya. Rumahnya memang sederhana tapi berkat hobi Ibunya yang suka berkebun rumah Chanyeol jadi lebih terlihat rindang dan sejuk.

Chanyeol membuka sepatunya dan menyimpan rapi di rak. Setelah itu ia bergegas ke dalam kamarnya dan mulai membersihkan diri. Setelah selesai mandi, Chanyeol menghampiri lemari pakaian dan mengambil kaos putih dan training hitam. Tepat Chanyeol akan pergi ke dapur, pintu rumahnya diketuk seseorang dengan tidak sabaran. –TokTokTokTok-

“Iya Iya tunggu sebentar,” Chanyeol berlari ke arah pintu lalu membuka kenop pintu. Di depannya Baekhyun berdiri sambil menenteng tas sekolahnya, wajahnya sedikit tertutupi oleh tudung jaket merahnya.

“Hai Chanyeol ayo kita belajar sambil bermain~” Baekhyun langsung nyelonong masuk tanpa permisi. Chanyeol sedikit tertawa dengan sikap Baekhyun yang seperti anak TK kemudian menyusul Baekhyun.

“Apa kau sudah makan?” tanya Chanyeol sambil menghampiri Baekhyun yang duduk di Sofa. Baekhyun menggeleng, “Aku sengaja tidak makan karena aku tahu kau akan memasakkannya untukku.”

Chanyeol mencibir lalu berlalu pergi ke dapur untuk membuat nasi goreng. Baekhyun mengikutinya dan memilih duduk di meja makan sambil memainkan ponselnya.

“Oh iya hari ini kau tidak kerja parttime kan?” Baekhyun memulai pembicaraan.

“Bukankah kau tahu kapan jadwal kerja part-timeku?” Chanyeol balik bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari bumbu-bumbu yang sedang dia buat.

Baekhyun mendongak, “Tentu saja aku tahu.” Baekhyun mengambil nafasnya dan, “Hari Senin-Kamis kerja part-time Park Chanyeol dimulai dari jam pulang sekolah sampai jam 6 sore. Hari Jumat-Sabtu kerja part-time Park Chanyeol dimulai dari jam 6 sore sampai malam. Hari Minggu keja part-time Park Chanyeol adalah 24 jam.” Baekhyun berbicara seolah-olah ia sedang membaca naskah proklamasi.

Chanyeol kembali dibuat tertawa oleh Baekhyun. Entahlah, dia juga tidak tahu kenapa ia sering tertawa. Dia paling tidak bisa menahan tawanya apalagi kalau melihat tingkah Baekhyun pasti dia akan tertawa.

Kemudian, Chanyeol membawa dua piring nasi goreng ke meja makan, “Nasi goreng ala Chef Chanyeol siap disantap,” katanya sambil menyajikan dua porsi nasi goreng dengan gaya-gaya Chef di TV.

Baekhyun menyantap nasi gorengnya dengan lahap, dia benar-benar lapar, “Makananmu sangat enak!” puji Baekhyun sambil memberikan kedua jempolnya setelah menelan makanannya. Chanyeol hanya menggaruk belakang kepalanya dan tersenyum lebar.

“Kau jadi Chef saja, pasti nanti restoranmu diminati banyak orang,” Baekhyun berkata lagi. Chanyeol tersenyum mendengar saran dari Baekhyun, sahabatnya ini suka sekali memberi saran. “Cepat habiskan makananmu Baekhyun.”

 

=><=

 

Saat ini Baekhyun sedang di ruang tamu menunggu Chanyeol yang sedang ke kamarnya. Chanyeol kembali dengan membawa buku pelajaran serta latihan soal. Baekhyun mendesah kecewa saat melihat tumpukan buku di tangan Chanyeol.

“Bisakah hari ini kita tidak belajar, aku malas~” Baekhyun merebahkan tubuhnya di lantai yang terlapisi karpet lalu tubuhnya memeluk kaki meja seakan-akan sedang memeluk guling.

“Kita harus belajar sebentar lagi kita akan ujian,” Chanyeol menghampiri Baekhyun dan meletakkan buku-buku itu di meja. Baekhyun menegakkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di meja.

Arasseo, tapi sebentar saja yah aku ingin bermain~” Baekhyun merengek, menunjukkan wajah memelasanya. Chanyeol mengangguk setuju, “Geurae, tapi kau harus serius arachi?”

Baekhyun mengangguk semangat dan mengambil buku Chanyeol dan langsung membacanya. “Kemana bukumu? Bukankah kau membawa tas tadi?” tanya Chanyeol bingung. Baekhyun nyengir kuda, “Hehehe… aku hanya membawa tas kosong.” Chanyeol hanya menatap Baekhyun datar.

 

[2 Jam Kemudian]

 

“HOAAAMM…” Baekhyun menguap selebar-lebarnya. Dua jam sudah berlalu, Baekhyun menatap Chanyeol yang masih asyik berkutat dengan buku-buku pelajaran, Baekhyun sendiri sudah bosan bahkan punggungnya terasa nyeri sekarang.

“Chanyeol-ah?” Baekhyun menopang wajanya dengan sebelah tangan, sebelah tangannya lagi sedang memutar-mutar pulpen. Chanyeol hanya bergumam menanggapi Baekhyun.

“Ayo bermain~”

“Sebentar lagi Baek, tinggal satu soal.”

Baekhyun bangkit dan membuka pintu rumah Chanyeol sehingga menampakkan kebun rumah Chanyeol yang terletak di samping kanan dan kirinya. Kebun itu tetap rindang hanya saja ada beberapa tumbuhan yang mati dan daun-daun kering berserakan, pasti Chanyeol tidak sempat membersihkan kebunnya. Tiba-tiba Baekhyun mendapat ide dan segera berlari ke dalam menghampiri Chanyeol yang sedang membereskan buku pelajaran.

“Chanyeol!”

“Waeyo?”

“Bagaimana kalau kita bermainnya di kebunmu?” usul Baekhyun, Chanyeol yang akan berjalan menuju kamarnya seketika terbelalak.

Mwo? Kenapa ingin bermain di sana biasanya kau akan mengajakku jalan-jalan?” Chanyeol bertanya pada Baekhyun dengan ekspresi khawatir. “Kenapa emangnya? Tenang saja aku tidak akan merusak kebunmu kok, aku tahu itu hasil dari hobi Eomonie,” perkataan Baekhyun barusan seolah sebagai jawaban dari keresahan hati Chanyeol sehingga membuat Chanyeol bisa bernapas lega.

“Ayo cepatlah!”

Baekhyun dan Chanyeol sudah ada di kebun rumah Chanyeol. Mereka menggunakan topi, celemek, dan sarung tangan serta membawa alat-alat kebun. Mereka mulai berkebun, mulai dari membersihkan dedaunan kering yang berserakan, memotong rumput agar rumput tersebut tidak terlihat liar, mencabut bunga yang sudah layu, lalu membersihkan pohon dari daun keringnya.

“Wahh.. ini bersih!” Chanyeol menatap kebunnya yang kembali terawat, dirinya tersenyum sangat lebar saat ini. Baekhyun mengerutkan kedua alisnya, “Masih ada yang kurang, kita harus menanam bunga.”

“Eh?”

“Bunga yang mati kan sudah kita cabut jadi kita harus menggantinya.”

“Tapi uangku tidak cukup untuk membeli bunga, aku akan menggantinya lain kali saja,” Chanyeol menghitung uang tabungannya dengan jarinya, uang tabungan itulah yang selalu dia gunakan untuk keperluan sehari-hari hidupnya.

“Tenang saja ada aku.” Baekhyun menunjuk dirinya sendiri, lalu dirinya melepas topi dan sarung tangannya serta membukakan topi dan sarung tangan Chanyeol juga dan bergegas pergi keluar rumah tapi Chanyeol menahannya.

Waeyo? Ayo kita beli bunga,” kata Baekhyun, sebelah alisnya terangkat tak mengerti.

Chanyeol menggeleng, “Tidak perlu Baek, aku akan menanam bunga lain kali saja.”

“Kau ini kenapa sih? Nanti Eomonie marah jika bunga di kebunnya tidak lengkap,” Baekhyun berusaha membujuk Chanyeol, apa salahnya sih menggunakan uangnya? Dia kan sahabatnya.

“Simpan saja uangmu Baekhyun,” Chanyeol mencoba menolak ajakan Baekhyun. Baekhyun menghela napasnya pelan, “Dengar, aku ini sahabatmu sudah sepatutnya kita saling membantu, aku membantumu dan kau membantuku begitulah seterusnya.”

Chanyeol menatap Baekhyun dengan tatapan yang… entahlah, “Baekhyun… kau memang sahabatku, kau selalu mengerti keadaanku.” Chanyeol merangkul Baekhyun dan menyenderkan kepalanya di bahu Baekhyun meskipun harus sedikit membungkuk karena tubuhnya yang tinggi.

“Tentu saja aku kan sahabatmu,” Baekhyun tersenyum lebar lalu menepuk-nepuk punggung Chanyeol. “Sudahlah, sekarang kita harus ke toko bunga dan cepat-cepat menanam bunga.”

 

=><=

 

Pagi-pagi sekali Chanyeol bangun dari tidurnya, dirinya segera menyeret tubuh jangkungnya ke kamar mandi dan memulai aksi mandi. Singkat waktu, Chanyeol sekarang sedang duduk di halte bus seperti biasa menunggu bus datang sekaligus menunggu sahabatnya. Bus sudah ada di hadapannya, siswa lain mulai memasuki bus satu persatu tapi Chanyeol hanya berdiri di samping daun pintu bus sambil memperhatikan sekitarnya.

“Dimana Baekhyun?” Chanyeol terus menengok ke kanan dan ke kiri guna mencari keberadaan Baekhyun. Tidak seperti biasanya, biasanya sahabatnya itu datang lebih dulu sebelum bus datang.

“Hey Nak! Kau naik tidak?” tanya sopir bus tersebut. Chanyeol tersentak dan segera saja dia menaiki bus. Chanyeol tetap berusaha mencari Baekhyun dengan mengamati jalanan lewat jendela bus tapi nihil Baekhyun tidak ada.

 

[At the Airport]

Baekhyun berjalan di bandara sambil menggeret kopernya. Dirinya tidak sempat berbicara pada Chanyeol tentang kepergiannya ke Amerika. Dia terpaksa harus pergi ke Amerika karena Appanya meminta dirinya bersekolah di luar negeri. Awalnya dia menolak tapi Appanya sudah menjelaskan kepadanya tentang perihal penerus perusahaan keluarga Byun tadi malam, dia tidak bisa menolak perintah dari Appanya. Lebih baik dipersiapkan dari sekarang daripada menunggu kedua orang tuanya menjadi lansia, itulah yang dikatakan Appanya tadi malam.

Dirinya berbalik ke arah Eommanya yang masih tampak terlihat cantik. “Eomma?”

Waeyo adeul?” tanya Eomma Baekhyun.

“Aku.. aku khawatir dengan Chanyeol..” Baekhyun menatap Eommanya dengan rasa penuh kekhawatiran. Ny. Byun mengangguk, “Eomma tahu, nanti Eomma akan mengabarinya pada Chanyeol.”

Eomma~” Baekhyun menghambur ke pelukan ibunya. “Gwenchana.” Ny. Byun menghusap punggung Baekhyun pelan, wanita itu tahu bahwa persahabatan anaknya dengan Chanyeol sudah dimulai sejak sekolah dasar. Baekhyun dan Chanyeol terlihat seperti saudara. Keluarga Byun sudah menganggap Chanyeol seperti anak mereka sendiri, begitu pula dengan Keluarga Park sudah menganggap Baekhyun seperti anaknya sendiri. Keluarga Byun sangat menghormati keluarga manapun tanpa memandang status apapun sehingga keluarga Byun terkenal akan keramahannya.

Baekhyun berusaha menahan tangisnya, hatinya terasa berat akan meninggalkan Eommanya, Appanya, dan juga Chanyeol sahabatnya. Aksi pelukan antara anak dan Ibunya terpakasa berhenti saat pengumuman jadwal penerbangan ke Amerika akan berangkat sebentar lagi.

“Jaga dirimu baik-baik nak!” Ny. Byun menghusap pipi Baekhyun lembut, Baekhyun mengangguk patuh. “Kau tenang saja kami di sini akan baik-baik saja begitu juga dengan Chanyeol,” Ny.Byun berusaha menahan air matanya, “Yang penting kau harus menjaga dirimu baik-baik di sana, makan dengan benar, istirahat yang cukup, hiks… jangan terlalu lelah belajar…” Ny. Byun menjeda ucapannya saat isakannya lolos dari bibirnya, “Eomma pasti akan menyempatkan diri untuk berkunjung ke Amerika.”

“Ne Eomma.” Baekhyun menggunakan ibu jarinya untuk menghusap air mata Ibunya. Baekhyun menarik kopernya dan melambaikan tangannya ke arah Ibunya, “Annyeong Eomma~”

Ny. Byun mengangguk dan balas melambaikan tangannya ke arah Baekhyun.

 

=><=

 

Chanyeol saat ini tengah menjaga supermarket tempat kerja part-timenya. Dia terus memikirkan Baekhyun yang tidak masuk sekolah hari ini.

“Kau kenapa Chanyeol?” tanya Kim Ahjussi khawatir, Chanyeol terbangun dari lamunannya. “Eh? Aniyo gwenchanayo.”

“Sepertinya kau sedang sakit nak, kau pulanglah hari ini libur saja,” kata Kim Ahjussi lagi, Chanyeol menggeleng, “Aku baik-baik saja paman, sungguh.”

Kim Ahjussi mengangguk paham, “Baiklah tapi jangan memaksakan diri jika kau sakit.”

Arasseo Paman,” Chanyeol tersenyum, Kim Ahjussi sangat baik padanya itulah yang membuat Chanyeol betah kerja di sini dan juga gaji yang diperolehnya lumayan besar.

 

[Skip Time]

 

Setelah menyelesaikan kerja part-timenya Chanyeol berjalan pulang ke rumahnya dengan gontai, hari ini dia benar-benar lelah. Entahlah, tubuhnya benar-benar berontak minta istirahat sejak tadi. Setibanya di rumah, Chanyeol langsung menghempaskan tubuhnya di kasur.

“Hahh~” helaan napas berat meluncur dari bibir Chanyeol. “Baekhyun kemana sih? Biasanya aku akan tertawa dengannya dan bermain bersamanya atau bahkan mengerjakan soal bersama dan…” Chanyeol menjabarkan seluruh kegiatannya bersama Baekhyun dengan menghitung jarinya, “Haahh…. dan masih banyak lagi.”

Chanyeol melirik jendela kamarnya yang tak tertutupi gorden. Mentap langit malam yang tak dipenuhi bintang malam itu, hanya ada bulan yang sendirian menerangi malam itu tanpa ditemani kawannya bintang.

Akhirnya Chanyeol memilih terlelap kedalam tidurnya ditemani gelapnya malam.

 

=><=

 

Chanyeol terjaga dari tidurnya. Merenggangkan otot-otot tubuhnya, masih terdiam di tempat tidurnya, masih mengumpulkan seluruh nyawanya ke dalam jiwanya yang baru bangun tidur.

“Hoamm… jam 7 pagi di hari minggu.”

Chanyeol berjalan menuju ke kamar mandi tapi tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahnya. Baekhyun?! Nama itu yang pertama kali terlintas di otaknya saat pintu rumahnya diketuk. Chanyeol segera mengambil langkah seribu untuk mencuci wajahnya dan memakan permen, hmm.. sedikit meredam bau mulutnya.

 

Ceklek~

 

“Eh? Eomonie?” Chanyeol terkejut saat mendapati siapa yang berkunjung ke rumahnya pagi ini. Dia kira Baekhyun tapi ternyata Ibunya yang datang.

“Chanyeol-ah.” Ny. Byun tersenyum lembut ke arah Chanyeol. Chanyeol segera mempersilahkan Ibu Baekhyun masuk ke dalam rumahnya.

“Maafkan aku karena belum sempat merapikan rumah,” Chanyeol tersenyum kikut menyadari rumahnya sedikit berantakan.

Ny. Byun mendudukan dirinya di sofa, “Gwenchana Chanyeol-ah.”

“Aku akan buatkan teh hangat,”

“Tidak perlu, sekarang duduklah.” Ny. Byun mencegah Chanyeol yang hendak pergi ke arah dapur. Chanyeol menurut dan duduk di hadapan Ny. Byun.

“Ini tentang Baekhyun.” Ny. Byun memulai topik pembicaraannya.

“Ne? Ah iya… Baekhyun akhir-akhir ini sering tidak masuk sekolah, saat di absen guru hanya menyebutkan bahwa Baekhyun sedang izin,” Chanyeol tiba-tiba berbicara panjang lebar membuat Ny. Byun tersenyum maklum.

“Kau benar-benar merindukan sahabatmu yah?” tanya Ny. Byun sambil tersenyum lembut.

“Ah.. n..ne,” Chanyeol tersenyum malu pada Ny. Byun.

Ny. Byun menatap lurus-lurus mata Chanyeol, “Sebenarnya Baekhyun sedang berada di Amerika.”

“Oh Ame___ HAH? AMERIKA?!” Chanyeol terkesiap dengan perkataan Ny. Byun barusan. Mata bulatnya melotot ke arah Ny. Byun.

Ny. Byun sedikit terkejut akibat teriakan Chanyeol barusan, Chanyeol yang sadar akhirnya menundukkan kepalanya sejenak lalu menatap Ny. Byun meminta maaf, “Jeoseonghamnida Eomonie, aku benar-benar terkejut,”

Ny. Byun mengangguk pelan, “Gwenchana, Baekhyun melanjutkan sekolahnya di Amerika atas perintah Appanya, dia akan menjadi penerus perusahaan Byun di masa depan nanti.” Chanyeol mengangguk mengerti.

“Dia juga berpesan untukmu agar tidak sering mengkhawatirkannya dan dia juga berharap kau dapat mewujudkan cita-citamu, Eomonie akan selalu mendukungmu dan membantumu,” Ny. Byun melanjutkan ucapannya.

“Kau jangan khawatir, Baekhyun baik-baik saja, mungkin kau sedikit bingung kenapa Baekhyun tidak menjawab teleponmu, dia libur di hari sabtu jadi hubungi dia di hari sabtu.”

Chanyeol mengangguk mengerti, “Ah Baiklah, kamsahamnida Eomonie.”

 

=><=

 

“Yeoboseyo?”

“Yeoboseyo, Baekhyun-ah?” Chanyeol memekik tanpa suara karena telah berhasil menghubungi Baekhyun.

“Chanyeol?” terlihat di sana Baekhyun sedang mengecek nomor yang sedang menelponnya.

“Bagaimana kabarmu Baek?”

“Aku baik-baik saja, tapi kenapa nomor ini tidak dikenal olehku?” terdengar nada bingung dari Baekhyun.

“Hehehe… nomorku tidak ada pulsanya jadi aku gunakan telepon umum, lagipula telepon umum itu murah,” Chanyeol tertawa kikuk dan menggaruk belakang kepalnya pelan. Baekhyun mendengus di seberang telepon, “Lain kali biarkan aku yang menelpon aracchi? Padahal aku baru saja mau menghubungimu tapi sudah didahului olehmu.”

“Ah.. benarkah? Baiklah baiklah.”

“Emm.. Chanyeol bagaimana kuliahmu? Kau ambil bagian apa?” tanya Baekhyun. Itu benar, sekarang mereka berdua telah belajar di perguruan tinggi.

“Aku mendapatkan jalur undangan dan mendapatkan beasiswa!”

“WAH… JINJJAYO?” Chanyeol sedikit menjauhkan telepon dari telinganya saat suara 4 oktaf Baekhyun menusuk telinga lebarnya.

“Iya itu benar dan sesuai saranmu terakhir kali di sini, aku ambil bagian memasak, aku memutuskan menjadi koki,” kata Chanyeol sambil tersenyum lebar.

“Benarkah? Kenapa tidak mencoba yang lain, kau kan sudah dibiayai dengan beasiswa?” ujar Baekhyun.

“Aku sudah memikirkannya Baek, lagipula ini berjalan mulus. Sebentar lagi aku akan diuji menjadi koki di sebuah restoran elit setelah melalui beberapa test sih.. tapi aku senang dan jika aku sudah mendapatkan banyak uang aku akan mulai membuka restoranku sendiri.” Chanyeol mengutarkan kebahagiaannya lewat telepon.

Baekhyun terkejut sekaligus senang dan bangga pada sahabatnya itu, “WOAH.. secepat itu?! Kau benar-benar jenius Yeol! Sukses selalu Chanyeol-ah!”

“Hehehe.. aku akan melakukan yang terbaik Baekhyun, aku akan membuat Appa dan Eomma yang di sana bangga dan juga untukmu Baekhyun!”

“PARK CHANYEOL JJANG!!”

“Hihihi.. gomawo Baekhyun-ah~”

“Hihihi.. tunggu aku yah, aku akan kembali 3 tahun lagi!”

“Tentu saja cepatlah pulang, dan jadilah direktur muda!”

“Ahahahah araseo..”

 

=><=

 

Tubuh jangkung itu terlihat rapuh, punggungnya pun tidak terlihat tegap lagi. Namja jangkung itu memeluk erat sebuah pigura foto. Air matanya tak henti-hentinya mengalir membasahi pipinya. Chanyeol menangis sambil terisak memanggil nama sahabatnya, Chanyeol benar-benar tidak menyangka bahwa Baekhyun akan meninggalkannya secepat ini. Chanyeol merasa seperti baru kemarin dia mengenal Baekhyun, bermain dengan Baekhyun, belajar dengan Baekhyun, tertawa dengan Baekhyun, dan juga dia merasa baru kemarin bahwa dia telah menjadi seorang koki. Dia telah berjanji akan membuat Orang tuanya dan Baekhyun bangga karena usaha Chanyeol. Tapi apa ini? Baekhyun berpisah dengannya, seharusnya Baekhyun sekarang bersama dengan dirinya, tersenyum bangga di hadapannya karena sahabat jangkungnya ini telah berhasil mencapai impiannya, tetapi…

“Chan..Chanyeol-ah,” seseorang menepuk punggungnya pelan, itu Ibu Baekhyun yang dalam keadaan sama dengannya juga Ayah Baekhyun di samping istrinya juga dalam keadaan sama.

Baekhyun meninggal saat dalam perjalanan pulang ke Seoul. Pesawat yang ditumpanginya mengalami kecelakaan, saat itu pilot tidak mampu mengendalikan pesawat karena tiba-tiba cuaca berubah menjadi buruk. Sehingga pesawat Baekhyun jatuh dan menabrak tebing lalu terbakar. Untung keadaan Baekhyun tidak dalam keadaan terbakar, Baekhyun sepertinya berhasil melompat tapi tubuhnya tertimpa oleh puing-puing pesawat. Dan kejadian itu baru ditemukan 2 hari setelah insiden.

Eomonie… hiks.. hiks,” Chanyeol menatap Ny. Byun sambil terus sesenggukan membuat Ny. Byun langsung menghampirinya dan memeluknya. Chanyeol tidak peduli lagi saat ini, biarlah dia dikatakan sebagai namja cengeng. Tapi hatinya benar-benar sesak, dia tidak mampu menahan air matanya, sahabatnya meninggalkannya. Sekarang Chanyeol kembali sendirian setelah ditinggal oleh orang tuanya dan sekarang…

-Sahabatnya

 

“Chanyeol-ah tinggalah bersama kami..” Ny. Byun menatap jauh ke dalam mata bulat Chanyeol. Tn. Byun mengangguk dan menghampiri mereka berdua, “Kami akan menjadi wali asuhmu.”

“…dan juga kami akan memberikan ahli waris Baekhyun kepadamu Chanyeol-ah.”

“Baekhyun pasti juga akan bahagia jika dia tahu akan hal ini.”

 

 

.

.

 

 

 

 

END

 

Iklan

One thought on “[EXO Chanbaek FF] – The Two Boys Are Buddies

  1. Yati berkata:

    Terakhirnya menyedihkan…
    Bagus banget ceritanya. tapi bahasanya sedikit aneh karena ada bhasa non baku-nya…
    tapi selebihnya oke kok😄😄😄

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s