The Lords Of Legend (Chapter 29)

 

Tittle : The Lords of Legend

Author : Oh Mi Ja

Genre : Fantasy, Action, Friendship, Comedy

Cast : All member EXO

“Fobos!” Sehun memekik ketika salah satu Harpy berhasil mencabik dada Fobos dengan cengkraman tajamnya. Semburan darah seketika menyemburat membuat Fobos seketika ambruk.

Sehun sudah akan berlari untuk menolongnya namun para Harpy kembali menyerangnya.

“Fobos, bertahanlah!”teriak Sehun sambil terus menahan serangan.

“Tuan jangan lengah!”seru Deimos. “Fokus pada serangan. Aku yakin Fobos akan baik-baik saja!”

Deimos menelan ludah setelah mengucapkan kalimat itu. Tidak hanya untuk memperingatkan Sehun namun juga dirinya sendiri. Kekhawatiran hanya akan membuatnya lengah. Walaupun saat ini ia sangat ingin berlari kesana dan menolong saudaranya tapi dia memiliki tugas lain yang tak bisa di tinggalkan. Karena mereka di ciptakan untuk mengikuti, melindungi bahkan menjadi tameng bagi Sehun. Ini adalah resikonya. Mereka bisa musnah kapan saja.

Deimos kembali mengangkat pedangnya. Kal i ini tak hanya menggunakan senjata namun juga tinju yang mampu menghancurkan wajah Minotaur. Pukulannya membabi buta, membalas seluruh serangan.

Sehun menggertakkan giginya. Amarahnya kini memuncak hebat. Ia menancapkan pedangnya ke tanah lalu mengibaskan tangan kanan dan tangan kirinya. Seketika hembusan angin dan api keluar dari sana. Menghempas serta membakar Harpy-Harpy itu. Sama halnya dengan Minotaur yang tak henti-hentinya menyerang mereka, Sehun juga membakar keseluruhannya sekaligus. Kobaran api serta hembusan angin yang sangat besar seketika mampu membuat hutan itu terbakar.

Tak jauh dari tempatnya berdiri, benda berkilauan terlihat tergeletak di atas tanah. Ternyata D.O menyembunyikan mereka di tubuh salah satu Minotaur.

Sehun mengambil dua benda itu lalu berlari menghampiri jasad Fobos yang sudah di penuhi darah hitam. Ia berjongkok di sampingnya dan mendekap kepalanya.

“Tuan, kita harus segera pergi. Tempat ini akan terbakar.” Deimos bicara di belakangnya. Suaranya terdengar bergetar ketika ia melihat wajah Fobos.

“Kita tidak bisa meninggalkannya disini. Kita harus membawanya.”

“Tidak bisa, Tuan. Kita tidak bisa membawanya karena kita harus berperang.”

Sehun mendongak, menatap Deimos, “Tidak adakah cara lain untuk menghidupkannya lagi? Bukankah hidup kalian abadi?”

Deimos menggeleng pelan, “Kami bukan dewa, Tuan. Hanya dewa yang hidup abadi.”

“Lalu bagaimana? Aku tidak mau meninggalkannya.” Suara Sehun mulai terdengar serak.

“Tidak ada pilihan lain, Tuan.”

Sehun mengembalikan tatapannya pada Fobos. Pada mata yang tertutup itu. Kembali dejavu, rasanya seperti dia sedang di tarik ke masa lalu. Saat dia memeluk tubuh Ilhoon. Saat dia gagal melindungi sahabatnya itu.

Saat ini, hal itu kembali terulang. Dia kembali gagal. Fobos tumbang dan dia tidak tau bagaimana cara untuk menyelamatkannya. Lagi-lagi, dia kehilangan seseorang…

“Maafkan aku, Fobos. Maafkan aku.”

“Tuan, kita harus pergi.” kembali Deimos mengingatkan.

Sehun meletakkan kepala Fobos ke tanah. Untuk beberapa saat menatapnya hingga akhirnya ia berdiri dan meninggalkan hutan itu.

***___***

 

“Bukankah kau…?” Pria itu melebarkan mata kecilnya, sama terkejutnya dengan D.O.

“Ilhoon.”

Pria yang ternyata adalah Ilhoon itu berdiri, “Bukankah kau adalah salah satu dari orang-orang Sigismund?”

“Hey, jaga sikapmu!” Minos langsung mendorong Ilhoon hingga pria itu terjerembap ke lantai.

“Ilhoon?” Suho dan Kris yang berdiri di ambang lubang penjara seketika terperangah. “Kau Ilhoon, kan?”

Lagi-lagi Ilhoon terkejut, “Kalian…”

“Bagaimana mungkin, kau…” Suho kehilangan kata-katanya.

“D.O…”panggil Kris pelan, ia menelan ludah susah payah. “…apa hal itu terulang lagi?”

D.O terdiam. Masih berdiri di tempatnya dan menatap lurus kearah Ilhoon yang membuat pria itu langsung menunduk menyembunyikan wajahnya.

“D.O, jika Sehun masih belum bisa merelakannya, itu artinya… omoni juga ada disini.”

Seketika D.O berbalik ke belakang, menatap Kris. Benar. Jika Ilhoon ada disini, itu artinya Taeyeon juga berada di tempat ini.

“Minos, apa ada penjara baru selain penjara ini?”tanya D.O dengan nada memburu.

“Tidak ada, Tuan. Hanya penjara ini yang tiba-tiba muncul dan dia adalah satu-satunya yang datang selama Tuan pergi.”

“Kau yakin? Tidak ada orang lain lagi? Dia seorang wanita.”

“Aku yakin, Tuan. Tidak ada lagi.”

D.O menatap Kris dan Suho dengan mata terbelalak lebar, “Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Kenapa mereka berpisah? Dimana omoni?”

“Dia pasti berada di suatu tempat. Kita harus mencarinya.”seru Suho.

“Kalau begitu, kalian mencari omoni dan bawa dia ke Ollympus. Aku yang akan mencari Sehun.” Tanpa menunggu persetujuan dari Suho dan Kris, D.O langsung berlari dan melompat menaiki kudanya. Di belakangnya, dengan setia Minos mengikuti.

“A-apa yang sebenarnya terjadi?” Ilhoon semakin merapatkan tubuhnya pada dinding, merasa sangat takut.

“Kau ikut dengan kami.”

“Kemana? Aku harus pergi kemana lagi? Kalian tidak akan mengurungku lagi, kan?”

Suho terdiam sejenak, manik matanya menatap Ilhoon lurus-lurus. “Hanya kau yang bisa menyelamatkannya.”

***___***

 

Dari jauh kuil itu sudah terlihat. Di sekitarnya di tumbuhi pohon-pohon besar dan bebatuannya hampir seluruhnya bewarna hitam. Temboknya di tumbuhi tumbuhan menjalar dan beberapa terlihat retak.

Kuil itu terlihat sunyi. Seperti tidak berpenghuni. Namun ia masih bisa melihat sedikit cahaya yang ada di dalam tempat itu. Sehun memakai dua senjata milik D.O dan menyuruh Deimos berjaga di luar saja sementara dia seorang diri masuk ke dalam. Apapun yang terjadi, dia tidak di perbolehkan masuk ke dalam tempat itu.

Dingin. Perlahan-lahan angin terasa seperti menggigit tubuhnya. Jantungnya mulai berdebar. Karena yang ia tau setelah menonton beberapa film, Medusa adalah gadis cantik namun berkepala ular. Tatapannya bisa menjadikan semua makhluk menjadi batu seketika. Hal-hal yang ia tau dari beberapa film, sepertinya itu adalah kenyataan.

Memasuki kuil dengan dinding berornamen gambar-gambar manusia yang tidak di ketahui maknanya, Sehun melangkah tanpa suara. Pencahayaan sangat minim di luar namun semakin ke dalam, tempat ini semakin terang. Hingga ia bisa dengan jelas melihat batu-batu berbentuk tubuh manusia yang tergeletak di lantai. Apa mereka… korban-korban medusa?

Bssst…

Sehun langsung termundur begitu puluhan ular keluar dari berbagai sudut, menjalar di tembok dan lantai serta langit-langit kuil. Dengan cepat ia menarik pedangnya yang langsung menyemburkan bara api di bagian sisinya yang tajam. Ia mengarahkan pedangnya kearah ular-ular itu, membuat mereka marah dan menunjukkan dua taring tajam mereka mereka. Namun api lebih panas dan lebih menakutkan hingga ular-ular itu bergerak mundur, kembali masuk ke balik tembok.

Setibanya di dalam, seorang wanita terlihat berdiri membelakangi Sehun. Ia berdiri menghadap patung ular raksasa bermata kehijauan.

“Siapa kau?”suara wanita itu terdengar tajam. Ia menyadari kehadiran seseorang telah mengusik ketenangan kuilnya. “Kau tau apa resikonya jika kau masuk ke dalam tempat ini?!!” Medusa berbalik, kain yang menutupi kepalanya terbuka menunjukkan wujud asli dirinya. Wajah bersisik setengah ular dan ular-ular kecil yang menjadi rambutnya.

Sehun nyaris melangkah mundur setelah mendengar suara bentakan Medusa. Nyaris saja jantungnya melompat keluar. Yah, dia sangat menyeramkan. Dia bukan lagi gadis cantik seperti kata Pandora. Dia monster.

“Aku tidak akan jadi batu.”

“Hades….” Medusa melihat perisai cermin dan helm kegelapan milik Hades.

“Aku bukan Hades. Aku Ares.”

“Apa?”

“Aku benar-benar Ares.” Sehun mengangkat pedangnya, menunjukkannya pada Medusa. “Aku kesini karena aku ingin mengajakmu bergabung denganku.”

“Apa maksudmu?! Kau mau mempermainkanku?!”

“Kau pasti membenci Hades karena dia telah mengurungmu di tempat ini, kan? Aku ingin membantumu untuk balas dendam.”

Medusa terperangah, “Apa…?”

“Kita sama. Aku juga punya dendam pada dewa-dewa itu. Setidaknya, kita berada di pihak yang sama.”

Medusa kehilangan kata-katanya. Yang ia tau, bukankah Ares di ciptakan untuk Ragnarok? Untuk membela Ollympus dan melawan Jotun. Tapi kenapa…?

Namun pertanyaannya terjawab saat ia melirik tanda di pergelangan tangan Sehun yang menghitam serta jejak-jejak campur tangan Orion disana. Medusa tersenyum samar. Anak ini… dia sangat bodoh.

“Kita tidak perlu berkelahi dan aku tidak perlu mengalahkanmu dulu. Sejujurnya, aku tidak memukul wanita.” Sehun berseru santai. “Aku anggap kau setuju. Karena aku sedang bersama seseorang, kita berjalan terpisah. Aku akan menunggumu di Tartaros.”

Sehun bergegas pergi namun suara Medusa kembali menghentikan langkahnya, “Apa kau sadar kau akan melawan takdir?”

Sehun berbalik dengan kening berkerut, “Apa maksudmu?”

“Kau akan membuat Ragnarok datang lebih cepat.”

Lantas ia tersenyum, “Aku tidak perduli. Aku harus membalaskan dendamku.”

***___***

 

Seluruh mata seketika terbelalak lebar saat sosok itu memasuki istana utama. Rambut keriting, kacamata dan pakaian yang ia pakai masih sama seperti terakhir mereka melihatnya. Dia tidak berubah. Namun wajahnya terlihat sedikit lebih pucat.

“Ilhoon…”seru Baekhyun nyaris kehilangan kata-katanya. “Ini… benar-benar kau, kan?”

Ilhoon tak menjawab dan terus menundukkan wajahnya. Logikanya masih tidak bisa menangkap apa yang sedang terjadi. Kenapa dia masih bisa bertemu dengan orang-orang ini lagi di dunia yang berbeda. Bukankah dia sudah mati?

“Dengar… aku akan menjelaskannya sesingkat mungkin karena kita sudah tidak punya banyak waktu.” Suho berseru tergesa-gesa. “Ini seperti kasus Fobos dan Deimos. Dia terjebak disini karena Sehun. Jadi ada kemungkinan omoni juga berada disini.”

“APA?!” Serempak mereka memekik.

“Kris sedang mencari ke seluruh sudut. Aku juga akan mencarinya. Sebagian dari kalian juga berpencar.”

“Aku akan membantumu mencarinya.” Baekhyun berdiri.

“Aku juga.”sahut Kai. “Akan lebih cepat jika aku membantu kalian.”

“Tapi kau belum sepenuhnya pulih.” Luhan menahan lengan Kai.

“Aku sudah tidak apa-apa. Aku berada di dekat pohon kehidupan jadi semuanya sudah jauh lebih baik.”

“Baiklah. Kalian ikut aku berpencar sekarang.” Suho mengangguk. Lalu ia mendorong tubuh Ilhoon pelan kearah Xiumin. “Aku serahkan dia padamu, Xiumin.”

Xiumin mengangguk, “Jika terjadi sesuatu cepat beritahu kami.”

Suho dan Baekhyun berlari meninggalkan istana sementara Kai langsung menghilang seperti angin. Melihat itu, Ilhoon langsung termundur ke belakang ketakutan.

“K-kalian… hantu?”

Chanyeol langsung mendengus, “Enak saja! Kami bukan hantu.”

“Lalu apa? Aku selalu ingin bertanya tapi tidak ada yang pernah menjawabku. Yang ku ingat, aku sudah mati. Lalu kenapa kalian juga ada disini? Kalian juga sudah mati? Apa ini surga? Dan tempat yang ku tempati tadi, apa itu neraka?” ia bertanya bertubi-tubi. “Aku tidak akan kembali ke tempat itu lagi, kan? Iya, kan?”

Xiumin menghusap punggung Ilhoon lembut berusaha untuk menenangkan tubuhnya yang bergetar hebat.

“Hey, bukankah seharusnya D.O menghapus ingatannya? Dia tidak di perbolehkan mengingat hal-hal yang terjadi di bumi.”seru Luhan membuat Ilhoon untuk yang kesekian kalinya bergidik. Apa lagi ini?

“Kau dengar sendiri, kan? Dia terjebak disini karena Sehun dan Sehun sekarang sedang berada di bawah pengaruh Orion. Untuk saat ini ingatannya tidak bisa di hapus untuk kebaikan semua orang.”jelas Xiumin.

Lay menerawang menatap lantai, kepalanya sedikit pening, “Aku harap dia bisa menyadarkannya.”

“Kenapa kalian terus bicara tentang Sehun? Apa yang sedang terjadi padanya? Apa dia juga mati?”

“Dia tidak mati. Hanya saja…” Luhan menghela napas panjang, menatap Ilhoon dalam diam beberapa saat lalu memulai ceritanya.

Terkejut. Terperangah. Tertegun.

Dan masih banyak lagi ekspresi yang di tunjukan Ilhoon. Namun dari semua itu, yang jelas ia tidak mampu berkata-kata lagi. Cerita Luhan dan segala bentuk penjelasannya tentang sejarah Ollympus dan dewa-dewa membuatnya meyakini jika dirinya kini sudah gila. Yah, dia gila.

Bukankah semua yang di ceritakannya itu adalah mitologi yang biasanya dia baca di buku-buku? Semua itu hanyalah cerita fiktif yang belum di yakini kebenarannya. Hanya sebagian besar orang-orang di dunia yang mempercayai cerita itu dan dia bukanlah salah satu orang yang termasuk di dalamnya. Dia menikmati mitologi namun tidak mempercayainya. Jadi ini gila. Mustahil.

“Jadi maksudmu Sehun adalah dewa yang hilang? Dewa Ares?” Ilhoon bertanya dengan ekspresi tak percaya.

Luhan mengangguk, “Kami datang ke bumi dengan tujuan untuk menemukannya.”

“Hahaha.” Ilhoon tertawa nyaris gila. Dia bahkan tidak percaya jika dia mempercayai semua cerita Luhan itu. “Aku pasti sudah gila.”

“Memang terdengar gila tapi itulah kenyataannya. Sehun adalah bagian dari Ollympus dan dia di ciptakan untuk memenangkan Ragnarok. Tapi semuanya menjadi kacau sejak kedatangan Orion. Dia menghasut Sehun dan kini Sehun justru berada di pihak lawan.”

“Lalu siapa Orion? Bagaimana dia bisa menghasut Sehun?”

“Kim Kibum.”jawab Luhan menghela napas panjang. Lagi-lagi Ilhoon terperangah. “Dia melakukan sesuatu hingga akhirnya kekuatan Sehun menjadi negative. Juga membunuhmu dan omoni dan membuat Sehun semakin marah dan tidak terkendali lagi.” lalu Luhan menatap Ilhoon yang kini sudah menjadi patung. “Kau ingat siapa yang membunuhmu, kan?”

Menerawang menatap lantai, Ilhoon tersenyum kecut, “Jadi dia Orion?”tanyanya pelan. Kembali di ingat bagaimana dan siapa yang sudah membunuhnya. “Jadi… pria yang memukuliku itu dan mengancam akan membunuh Sehun adalah Orion?”

“Dia tau jika kau adalah salah satu alasan terbesar yang mampu mempengaruhi suasana hati Sehun jadi dia melakukan itu.”

“Lalu kenapa aku bisa ada di sini? Aku bukan bagian dari kalian.”

“Dulu, tidak hanya dewa tapi manusia juga tinggal di tempat ini. Jadi dewa dan manusia hidup saling berdampingan dan berbagi perasaan. Tapi hidup manusia tidak abadi seperti dewa. Mereka bisa mati kapanpun. Dan hukum yang berlaku disini, jika salah satu dewa belum bisa merelakan kematian dari manusia yang di cintainya, ruhnya tidak akan pergi ke surga. Tapi justru akan terkunci di tempat ini. Ini adalah kedua kalinya, sebelumnya, ada seseorang bernama Pandora, dia memang manusia namun Zeus mengangkat derajatnya setara seperti dewa. Tapi, sesuatu terjadi setelah itu dan suaminya, Epimetheus meninggal dunia. Sepertinya hingga saat ini, dia belum bisa melupakannya jadi ruh suaminya masih berada di tempat ini.”

“Maksudmu penjara itu?” Luhan mengangguk. “Lalu? Mereka hidup bahagia disana?”

Luhan menggeleng pelan, “Tidak. Karena Pandora adalah manusia yang picik, dia di kurung di sebuah tempat dan sebagian ingatannya di hapus. Juga Epimetheus yang seluruh ingatannya telah di hapus dan sekarang dia menjadi pengikut setia Sehun bernama Deimos.” Jelas Luhan. “Karena Pandora harus bertanggung jawab atas dosa-dosanya, dia di hukum harus menyimpan kesedihan tanpa bisa mengingat bagaimana wajah suaminya. Dia hanya bisa mengingat masa-masa sedih saat suaminya meninggal. Dan suaminya yang sebenarnya masih ada tapi tidak bisa mengingatnya sama sekali.” Luhan mengalihkan tatapannya kearah Ilhoon. “Sama sepertimu. Sehun belum bisa merelakanmu pergi jadi kau tidak pergi ke tempatmu seharusnya. Kau terjebak disini hingga akhirnya dia bisa merelakanmu pergi.”

Ilhoon menelan ludah, kepalanya tertunduk dalam, “Sekarang dia sedang melakukan kesalahan, apa nanti dia akan di hukum? Apa nanti kalian akan menghapus ingatanku dan ingatannya?”

Luhan terdiam sejenak, “Itu sudah menjadi hukum mutlak. Dia telah melakukan kesalahan yang teramat besar. Dia harus di hukum dengan menyimpan kesedihan selamanya. Atau yang paling berat… dia akan di musnahkan.”

Rahang Ilhoon mengeras, “Kau tau itu bukan salahnya. Dia seperti ini karena Orion! Harusnya kalian menghukum Orion bukan Sehun!”teriak Ilhoon. “Seumur hidupnya, dia sudah melewati banyak masa-masa sulit. Aku mohon jangan menghukumnya lagi.”

“Kami sudah berusaha untuk selalu mengingatkannya tapi dia tidak pernah mau mendengar. Ini perbuatannya dan dia harus bertanggung jawab atas itu.”

Pria berambut ikal itu kembali menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan air mata yang terus berusaha menembus pertahanannya, “Aku pernah melupakannya. Aku tidak mau melupakannya lagi. Aku mohon jangan hapus ingatanku.”

***___***

Tempat Itu berada di paling bawah Erebos. Menandakan jika makhluk-makhluk yang paling berbahaya di kunci dan di kurung di sana. Sehun melihat ke kanan dan kiri, ketika mereka mulai melewati tanah yang berlahar hingga mereka harus hati-hati dalam melangkah.

“Biar aku yang berjalan di depan. Kau ikuti aku.” Sehun menahan lengan Deimos agar ia berhenti sejenak. Karena api tidak akan memberikan dampak yang berarti baginya, ia memutuskan untuk memimpin langkah. Deimos sudah akan membuka mulutnya, ingin menolak namun Sehun menunjukkan ekspresi jika dia tidak ingin di bantah. Akhirnya, ia hanya mengikuti di belakangnya.

Setelah setengah jalan menyusuri jalan itu, Sehun menghentikan langkahnya ketika matanya menangkap sesuatu. Akar-akar pohon menggantung tak jauh di depannya.

“Apa itu?” ia menunjuk makhluk berbentuk cacing yang berukuran seratus kali lebih besar sedang menggerogoti ujung akar-akar itu.

“Itu adalah Niggdog, tuan. Mereka menggerogoti akar pohon kehidupan hingga habis dan menandakan jika Ragnarok datang.”

“Lalu apa yang akan terjadi dengan pohon kehidupan setelah itu?”

“Pohon kehidupan akan menghilang dan keabadian dewa-dewa juga akan menghilang. Mereka bisa mati dalam perang nanti.”

Sehun menelan ludah, “Itu juga berlaku untukku, kan?”

Deimos mengangguk, “Jika pohon kehidupan hilang, Tuan tidak akan memiliki keabadian lagi. Itu juga alasan kenapa dewa-dewa bersikeras untuk melindungi pohon itu.”

“Brengsek. Aku akan membunuh mereka.” Sehun menarik pedangnya, sudah akan melangkah maju namun suara Demios menghentikannya.

“Tuan tidak akan bisa pergi kesana. Ada pembatas transparan yang tidak bisa di tembus. Karena semua yang telah terjadi adalah bagian dari takdir, Tuan tidak bisa mengubahnya.”

“Apa kau bilang?” Sehun mulai marah. Ia melangkah maju namun tiba-tiba tubuhnya terlempar kebelakang. Cahaya berwarna biru terlihat dalam sepersekian detik lalu menghilang, kembali menjadi transparan.

Deimos langsung menghampiri Sehun dan membantunya berdiri, “Tuan tidak apa-apa?”

“Apa itu?” Mata Sehun melebar kaget.

“Itu adalah pembatas transparan yang saya bilang tadi, Tuan. Tuan tidak akan bisa menembusnya.”

Namun Sehun tidak menyerah. Pria itu kembali berdiri dan mengeluarkan kekuatan anginnya, mencoba menembus batas itu namun tetap tidak berhasil. Berkali-kali ia mencoba, tapi semuanya sia-sia.

“Percuma, Tuan. Bahkan kekuatan yang sangat besarpun tidak akan bisa menembusnya.”

“Pohon kehidupan tidak boleh menghilang.”desis Sehun, rahangnya mengeras.

“Karena itu hanya ada satu cara.” Tiba-tiba sebuah suara terdengar di belakang mereka.

Sehun dan Deimos menoleh ke belakang. Tanda di pergelangan tangan Sehun langsung mengeluarkan cahaya hitam sesaat.

“Kau harus membuat Ragnarok-nya datang lebih dulu agar pohon kehidupan bisa di selamatkan.” Senyuman menyeringai terlihat di bibirnya. “Selamat datang, Ares.”

Sehun seketika tergugu, “Orion….”

TBC

 

 

Iklan

17 thoughts on “The Lords Of Legend (Chapter 29)

  1. Juliet berkata:

    Yampun dapet notif langsung bukaa uhuyy wkwk
    Next thorr, yampun seru bener like banget akuuu ekwkek
    Keep writing thor!! Semangatt

  2. osehn96 berkata:

    welcome back authornim.. aku rinduuuu hihihj.. good job ceritanyaaa… selamat kam pohon kehidupan. temukan sehun dgn ibunya dan ilhoon. semoga para dewa abadi. dan happy end yeay

  3. Hesti andriani berkata:

    Kan betul itu ilhoon dan ibunya sehun berarti masih bisa menyelamatkan sehun.
    Kenapa sehun mudah sekali yerpengaruh, ayo dong para dewa cepat susul sehun dan sadarkan sehun.
    Jangan hapus ingatan sehun dan jangan tinggalkan kenangan yang menyakitkan untuk sehun.
    Udah lama aku nunggu kelanjutan ceritanya dan akhirnya update lagi.

  4. belvastory berkata:

    hmmmm rasanya kalo rame rame……suka ada tbc. wkwkwk
    next kak makin penasaran
    selametin sehun
    semoga aja ntar ga kena hukuman yaampun kasian dia udah susah waktu di bumi

    next kaaakk jangan lama lama
    oh ya ff yang lain juga yapp

  5. AnisMaria berkata:

    Jadi seharusnya Pandora kenal sama Deimos kan? duh, takdir yang malang

    Sialnya Sehun udah terlanjur kena pengaruh negatif, dia sulit dikendalikan….

    mudah2an aja Orion nggak sekuat iyu untuk memengaruhi Sehun

    aku nggak mau Sehun dan Ilhoon saling melupakan 😔😔😔

    Btw yg Autumn dilanjut dong Oh Mija-nim…. aku kangen sama Jinyoung masaaaa hihihi

  6. RAIN berkata:

    Lama sekalii, tapi sekalinya update ceritanya tambah seru dan menegangkan. Jebaal hun jangan melawan takdirr! Next chapnya jgn lama2 ya authornim..

  7. Yati berkata:

    Sedih pas baca percakapan Ilhoon sama Luhan…😢😢
    Sehun mudah terpengaruh nihh… Lalu bagaimana???

    Kesel nih lama” sama Orion😠😠

    Author, Autumn nya dilanjut dongg,

  8. Hanna berkata:

    Ternyata itu ilhoon bukan ibunya Sehun.
    Tapi ibunya pasti masih ada d sekitar sana kan..
    Makin serruuuuu..sehun makin bandeeell..
    Orion tuh ngeselin bgt yah thor..mintak d jitak..
    D tunggu nextny thor..
    Fighting!!

  9. Anfa berkata:

    Ceritanya makin seru. 🙂 sehun.a lma2 mkin bandel aja, gk bsa d.bilangin.,,
    akhirnya gk pnasran lg sma yg d.pnjra bru (ilhoon),. Semoga taeyon,a jga msih ada, biar shun.a sadar lg jdi baik kya dlu dan lebih baik lgi buat slanjutnya,.
    Next chap ditunggu y kak,. Jangan lama” dan aku harap bakal jadi happy terus buat slanjutnya,. Ya ya ya.,.;)

  10. mega berkata:

    Ya ampun knpa sehun smakin tak terkendali…aduh bagaimana dgn yg lainnya…….

    Yuhuh….crita smakun seru dan menantang….cepat2 update yahhh….

  11. ajengmukti berkata:

    Waktu ada tulisan TBC seketika OMG….KERENNNNNN…..g teriak kaya anak alay ajh hahahahahaha sumpah author-nim ini keren kenapa bisa dapetin cerita kaya gini?
    Itu jadi deimos suaminya pandora jahat ?ckckckck hukuman buat pandoranya pentes bgt ya secara dia kejam plis lanjut nulis ya author-nim

  12. fitriwind berkata:

    greget .. Perlukah aku yg nyadarin sehun
    ? :V
    kembalilah ke jalan yg benar hun ..
    bener tuhkan si kim kibum itu orion .. dasar ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s