SELENE 6.23 (LONG DISTANCE BETWEEN US) PART 25 END

selene new

Tittle                            : Selene 6.23 (Long Distance Between Us)

Author             : Ohmija

Main Cast        : Kim Jongin, Krystal Jung, Choi Minho

Support Cast   : Taemin, Sulli, Amber, Sehun, Jessica, Jonghyun, dll

Gnere              : Romance, School life, Comedy, Sad

Akhirnya end jugaaaaaaaa…. T.T  Mungkin FF ini ngga sebagus dan ngga sengefeel FF lain tapi jujur ini salah satu FF tersulit. Karena genre romance-nya itu loooh. Aku bener-bener payah dalam genre Romance kayaknya T.T  Jadi kalo feel-nya ngga begitu terasa atau ceritanya jadi ngga jelas tolong di maafkan ya. Aku masih ragu mau buat extra chapt-nya, di liat minatnya dari kalian dulu deh.

Happy reading ^^

Ayah Jongin tiba di rumah sakit ketika tengah malam dan langsung terduduk kaku di kursi yang ada di depan ruang ICU setelah mendengar semua cerita Krystal. Pria itu tidak menangis, justru lebih terlihat seperti mayat hidup. Kesadarannya menghilang dan dia tenggelam dalam lamunannya. Entah apa yang sedang ia pikirkan sekarang. Dia mengabaikan semua orang yang berusaha membujuknya untuk beristirahat.

Sementara itu, ibu Jongin yang duduk di sudut ruangan bersama Minho ikut tenggelam dalam pikirannya. Mantan suaminya ada disini tapi mereka terasa seperti orang asing yang tak pernah saling mengenal. Keduanya tidak bertegur sapa dan saling mengabaikan satu sama lain.

Merasakan kecanggungan yang terjadi di tempat itu, Jessica menghampiri adiknya, “Ayo pulang. Ini sudah larut malam.”

“Aku akan menunggu disini hingga operasinya selesai unnie. Unnie saja yang pulang duluan.”

Jessica menghela napas panjang, “Soojung, aku mohon. Jangan memulainya lagi.”serunya putus asa.

“Aku akan beristirahat setelah operasinya selesai. Aku berjanji.”ujar Krystal meyakinkan.

“Noona, jangan khawatir, Aku akan menjaganya disini. Sebaiknya noona pulang saja. Noona juga harus beristirahat.”sahut Taemin menghampiri keduanya. “Aku juga akan mengantar Sulli pulang. Ayo, aku akan mengantar noona juga.”

“Ya Lee Taemin, kau tidak pulang? Kau bahkan belum ganti baju.”tanya Krystal. “Sebaiknya kau juga pulang. Aku akan menghubungimu jika terjadi sesuatu.”

“Kau pikir aku bisa tidur dengan nyenyak?”balas Taemin. “Aku tidak akan bisa tenang sampai dia sadar.”

Krystal hanya diam setelah itu. Ia mengerti perasaan Taemin karena dia juga merasakannya.

“Kau harus pulang besok, oke?” Akhirnya Jessica menyerah.

Krystal mengangguk pelan, “Baik unnie.”

Kemudian Taemin menoleh kearah Sehun dan Jonghyun, “Aku akan mengantar mereka pulang dulu.”

Keduanya hanya menunjukkan ibu jarinya mereka tanpa mengatakan apapun.

Sulli memeluk Krystal sebelum ia pulang. Gadis cantik itu menghusap-husap punggung sahabatnya itu lembut, “Kau harus kuat. Jangan menangis.”

Krystal mengangguk, “Terima kasih, Sull.”

***___***

 

Seluruhnya terdiam. Tenggelam dalam kekhawatiran mereka masing-masing. Beberapa jam sudah berlalu namun tak ada satupun dokter yang keluar dari ruangan itu.

Krystal menghela napas panjang. Mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. Kemudian ia menoleh kearah nyonya Choi yang sejak tadi duduk membeku di tempatnya. Di sampingnya, Minho menjadi sandaran untuknya. Terus menggenggam tangan wanita yang kini telah menjadi ibunya itu erat-erat. Dia juga tidak pergi. Masih bertahan disini. Dan Yoona… wanita itu juga duduk dalam diam di samping nyonya Choi. Dia tidak menangis, namun terlihat jelas jika dia sangat khawatir.

Jonghyun dan Sehun yang tak kenal lelah, keduanya terus berdiri di depan pintu ruang ICU. Sejak tadi menatap ke dalam sana, berharap dokter akan segera keluar dan memberikan kabar gembira.

Dan terakhir, seseorang yang menjadi harta satu-satunya yang Jongin miliki. Seseorang yang selalu Jongin lindungi senyum dan bahagianya agar dia tidak akan pernah meneteskan air mata lagi. Krystal berpindah, menjatuhkan diri di samping ayah Jongin. Kedua matanya menerawang ke arah lantai. Tidak menyadari kehadiran Krystal di sampingnya.

“Ahjussi.”panggil Krystal lembut. Ayah Jongin perlahan menoleh. “Ahjussi belum makan sejak tadi. Sebaiknya ahjussi makan dulu.”

“Aku tidak akan makan sampai anakku sadar.”balasnya lirih. “Bagaimana mungkin aku bisa makan jika anakku sedang berjuang di dalam sana?”

“Tapi ahjussi bisa sakit jika tidak makan.”

Ayah Jongin tersenyum kecut, “Aku bahkan pantas mati.”serunya. “Aku adalah seorang ayah. Tapi aku tidak pernah tau penyakit yang di derita anakku. Aku selalu sibuk bekerja dan mengabaikannya. Sementara dia sibuk untuk membahagiakanku. Sebagai seorang ayah, aku sudah gagal.”

“Tidak. Bukan begitu.” Krystal menggeleng. “Jongin tidak pernah menganggap ahjussi seperti itu. Karena baginya, ahjussi adalah segalanya.”

Pria paruh baya itu menghusap air matanya dengan lengan baju lalu tersenyum pada Krystal, “Dia adalah anak yang kuat. Dia pasti akan segera sadar, kan?”

Krystal mengangguk susah payah, “Tentu saja.”

“Dokter.” Sehun berseru tiba-tiba saat ia melihat seorang dokter muncul dan berjalan keluar. Seketika semua orang menoleh dan mendekati dokter itu.

“Bagaimana keadaannya, dokter?”tanya tuan Kim.

“Dokter, bagaimana anakku? Apa dia baik-baik saja?”nyonya Choi juga bertanya.

Dokter itu mengangguk pelan, “Operasinya berhasil dan pendarahan di kepalanya juga sudah berhenti. Tapi…” Ia menatap orang-orang yang sedang mengelilinginya itu dengan sorot bersalah. “…sel kanker yang ada di kepalanya akan menyebabkan sedikit gangguan. Entah itu hilang ingatan atau tidak, yang jelas dia akan mengalami gangguan pada ingatannya.”

Sejujurnya Krystal sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. Dia hanya mencoba untuk positiv thinking. Yang mana dia selalu meyakini jika Jongin akan segera sadar dan sembuh. Sebenarnya dia sudah tau jika sel kanker itu tidak akan bisa di hentikan namun bodohnya, dia tetap berharap. Dia selalu berharap dan kini dia sangat kecewa.

“Tapi… dia akan baik-baik saja, kan?”

Entahlah…

***___***

 

“Jongin, kau sudah sadar?!”pekikan nyonya Choi seketika membuat semua orang menoleh. Tuan Kim langsung meninggalkan sofa dan mendekati ranjang Jongin. Sehun, Taemin dan Jonghyun yang baru saja akan jatuh tertidur langsung melompat dengan mata yang terbuka lebar. Sementara Yoona, Minho dan Krystal yang berdiri di sudut ruangan juga ikut mendekat.

Jongin mengerjapkan matanya lemah, berusaha beradaptasi dengan sinar lampu ruangan yang awalnya terasa menyilaukan. Wajah pertama yang ia lihat setelah membuka mata adalah ibunya. Wajah sedih yang penuh dengan air mata. Jongin menatap wajah itu sesaat. Lalu ia mengalihkan tatapan, pada seseorang yang telah rela mengorbankan seluruh hidupnya untuk membesarkannya seorang diri. Ayahnya.

Kemudian wajah ketiga adalah wajah sahabat-sahabatnya, yang tersenyum lebar, bersyukur atas kesadarannya. Lalu wajah Minho, Yoona dan Krystal.

Keningnya seketika berkerut. Kenapa dia ada disini?

“Adeul, kau baik-baik saja, kan? Hm? Apa kau butuh sesuatu?”tanya nyonya Choi membuyarkan pikiran Jongin.

Jongin menoleh dan menggeleng pelan, “Tidak.”

“Kau mau makan sesuatu? Katakan apapun yang kau mau, appa akan membuatkannya untukmu.”

Jongin tersenyum, “Kenapa appa ada disini? Bukankah appa harusnya bekerja? Jika appa tidak pergi ke pasar, pelanggan kita akan membeli ikan di tempat lain.”serunya lemah.

Tuan Kim menelan ludah susah payah, berusaha membersihkan tenggorokannya yang terasa cekat. Ia menggenggam tangan Jongin erat bersamaan dengan air mata yang gagal ia pertahankan.

“Maafkan aku, Jongin.”isaknya. “Maafkan aku karena selama ini aku harus membiarkanmu merasakan rasa sakit itu sendirian. Maafkan aku yang selama ini tidak pernah perhatian padamu. Maafkan aku.”

“Appa… kenapa appa menangis?”tanya Jongin dengan suara yang masih serak. “Ini salahku. Aku telah membuat appa hidup menderita selama bertahun-tahun. Aku ingin appa bahagia.”

“Aku sudah bahagia. Aku sangat bahagia karena aku memilikimu. Aku sudah tidak membutuhkan apapun lagi selama kau bersamaku.”

Jongin kembali tersenyum. Dengan gerakan lemah, ia mengulurkan tangan dan menghusap air mata ayahnya.

“Kau tidak mau mengatakan apapun pada kami? Sejak kemarin kami juga belum tidur.”

Jongin menoleh ke sumber suara. Pada tiga orang yang selalu setia berada di sampingnya. Orang-orang yang tidak pernah meninggalkan tempat mereka sedetikpun.

Ia tertawa kecil, “Oh Sehun, kau tidak menangis, kan?”godanya.

Sehun langsung mendengus, “Kau pikir aku anak kecil? Aku sudah dewasa. Lagipula kenapa aku harus menangisimu?”ketusnya kesal. Lalu lanjutan ucapannya terdengar lirih. “Aku tau kau pasti akan sadar.”

Jongin tertawa lagi mendengar perkataannya itu, “Terima kasih, teman-teman.”

Kemudian ketika tatapannya teralih pada seorang gadis yang berdiri di samping tiga temannya, keningnya berkerut bingung.

“Apa yang kau lakukan disini?”tanyanya. “Kau tidak mungkin mau mengajakku bertengkar, kan? Aku baru saja sadar.”

Seketika Krystal terperangah. Tidak hanya dia, namun yang lain ikut terkejut mendengar ucapan Jongin barusan.

“A-aku?”

“Jongin, kau tidak ingat?”

“Huh? Tentang apa?”

“Jongin—“

Krystal langsung menyiku perut Sehun pelan ketika pria itu hendak menjelaskan, “Aku hanya mampir kemari. Tadi aku juga mengunjungi kerabatku di ruangan sebelah.”ucapnya berbohong. “Aku senang karena kau sudah sadar. Sekarang aku akan pulang.” Buru-buru gadis itu membungkukkan tubuhnya pada orang tua dan berbalik pergi.

Minho langsung mengejar langkahnya keluar ruangan. Menahan lengan gadis itu dan memaksanya menghadapnya. Wajahnya sudah basah karena air mata.

“Kau tau dia tidak bermaksud untuk melupakanmu.” Minho mencoba menjelaskan. “Kau dengar sendiri kata dokter dan—“

“Aku tau.” Krystal mengangguk. “Aku mencoba untuk tidak menangis tapi air mataku terus keluar.”

Minho menatap bening yang mengalir turun itu. Menghela napas panjang dan mengulurkan tangan, menarik tubuh Krystal dalam dekapannya.

“Dokter bilang ingatannya akan bermasalah. Saat ini, mungkin dia sedang kembali dalam waktu dimana kalian baru saling mengenal. Jangan khawatir. Dia akan segera mengingatmu lagi.”

***___***

Jongin tertegun dalam lamunannya. Taemin, Sehun dan Jonghyun sudah kembali ke rumah mereka masing-masing. Tersisa ibunya, ayahnya, Yoona yang masih berada disana. Dia tau Minho juga ada disana tapi pria itu menyembunyikan dirinya entah dimana. Dia tidak melihatnya sejak tadi.

“Jongin kau butuh sesuatu, hm?”tanya Yoona menjatuhkan diri di tepi ranjang Jongin. “Kau mau makan?”

“Noona.”serunya dengan mata yang masih menerawang ke lantai.

“Hm?”

Jongin mengalihkan tatapannya, menatap lurus Yoona, “Bagaimana penampilanku? Saat ini aku pasti sangat menyedihkan, kan?”

“Kenapa kau berkata seperti itu?” Yoona tersenyum walau hatinya terasa sesak. “Kau selalu terlihat tampan.”

“Tapi kenapa kau tidak pernah menerima perasaanku?”

Yoona terkejut mendengar pertanyaan Jongin, “Jongin…”

Jongin tersenyum kecut, “Tapi noona mengambil pilihan yang tepat. Karena jika noona memilihku, mungkin noona akan menderita.”

Yoona sudah membuka mulutnya, sudah akan membalas ucapan Jongin namun suara Jongin lebih dulu terdengar.

“Eoma meninggalkanku dan appa ketika aku masih kecil. Dia berselingkuh dengan ayah sahabatku sendiri dan mengabaikan kami. Aku dan appa hidup menderita setelah itu. Kami melewati masa-masa sulit bersama dimana appa harus menyembuhkan hatinya atas pengkhianatan itu dan aku yang harus belajar hidup seorang diri. Ketika appa memutuskan untuk pindah ke Jeju, aku tinggal di rumah sewa paling murah dengan lingkungan yang berbahaya. Hidupku sudah cukup menderita. Aku kehilangan orang-orang yang aku sayangi termasuk noona. Sekarang, saat aku sudah menemukan orang lain yang sangat mencintaiku, penyakit ini justru menyerangku bertubi-tubi. Aku bahkan melupakannya tadi padahal dia adalah orang yang selalu berkorban untukku. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Dia pasti sedang menangis tapi aku terlalu malu untuk menghubunginya. Aku ingin minta maaf tapi aku tau hal itu pasti justru akan lebih menyakitinya. Sekarang, aku harus bagaimana?”

Yoona tertegun, “Jongin…”

Jongin menghusap air matanya lalu melepas beanie yang di pakainya, menunjukkan kepalanya yang mulai botak karena rambutnya terus rontok, “Jika nanti aku tidak ada, maukah kau menjaga appa untukku, noona?” Ia melirik ayahnya yang sedang tertidur di sofa. “Oh tidak, bukan menjaga tapi memerhatikannya. Setidaknya tolong pastikan jika dia akan memakan makanannya setiap hari. Karena selain aku, tidak ada orang lain yang akan melakukannya.”

“Apa yang sedang kau bicarakan? Jangan bicara yang tidak-tidak.” Yoona menggeleng. “Aku tidak mau. Aku tidak mau melakukannya.”

Jongin tersenyum bersamaan air matanya yang terus mengalir, “Aku mohon padamu, noona. Karena mungkin aku sudah tidak memiliki banyak waktu.”

***___***

 

Keesokan harinya saat Krystal akhirnya pergi ke sekolah, seluruh teman sekelasnya langsung memberikannya semangat bahkan murid-murid perempuan yang dulunya menjadi musuhnya kini memberikan pelukan hangat serta menepuk-nepuk punggungnya.

Karena seluruh murid di kelasnya seperti menjadi saksi perjalanan cinta mereka yang begitu rumit dan penuh drama. Mereka semua tau seperti apa keduanya sebelum berada di hubungan yang seperti ini. Tidak ada satupun orang yang menyangka jika perebutan kursi di hari pertama mereka datang ke sekolah akan menjadi titik awal bagi keduanya.

“Aku harus pulang karena ibuku memintaku untuk menemaninya. Tidak apa-apa, kan?” Sehun bertanya pada Taemin dan Krystal ketika bel pulang sekolah berbunyi.

“Ibuku juga memintaku untuk menjaga rumah. Aku tidak bisa ke rumah sakit.”sahut Jonghyun.

Krystal menggeleng, “Tidak apa-apa. Aku akan pergi bersama Taemin.”

“Pulanglah. Aku akan menghubungi kalian nanti.” Taemin menepuk pundak Sehun dan Jonghyun. Keduanya menghela napas lemah sesaat sebelum pulang, menatap Krystal dan Taemin dengan tatapan bersalah karena tidak bisa pergi. “Jangan khawatir. Kalian bisa pergi besok. Sekarang pulanglah.” Karena keduanya tidak bergerak, Taemin mendorong tubuh mereka memaksa agar mereka pergi meninggalkan kelas. Kemudian pria itu berbalik dan menghampiri kekasihnya. Tangannya terulur dan menghusap kepalanya lembut, “Hari ini aku tidak bisa pulang bersamamu. Kau pulang dengan Amber saja ya?”

“Sulli, maaf. Karena aku, kalian jadi tidak bisa pulang bersama.” Krystal ikut bersuara, merasa menyesal.

Sulli tertawa, “Apa yang sedang kau katakan? Tidak apa-apa. Justru aku merasa tenang jika kalian pergi bersama. Maaf karena kami tidak bisa pergi ke rumah sakit menemani kalian. Tolong sampaikan salam kami untuk Jongin, oke?”

Krystal mengangguk, “Pasti. ”

“Kalau begitu, kami pergi dulu. Jika kau sudah sampai di rumah, jangan lupa menghubungiku.”

Taemin dan Krystal pergi meninggalkan kelas, keduanya menuju halte bus untuk menuju rumah sakit. Dalam perjalanan, sesekali Taemin melirik kearah Krystal yang terlihat sedikit pucat. Kesepuluh jarinya saling bertaut dan sejak tadi ia terus menatap ke luar jendela. Entah apa yang sedang dia pikirkan sekarang tapi kesedihan itu terlihat begitu jelas.

Pria itu hanya bisa menghela napas. Apalagi yang bisa mereka lakukan selain berdoa? Selain berharap untuk kesembuhan Jongin. Karena walaupun mereka telah berusaha sangat keras, semuanya tetap kembali pada Sang Pencipta.

Tapi, tidak ada salahnya berharap, kan? Tidak ada salahnya memohon pada-Nya atas kesembuhan Jongin.

***___***

 

“Eoma, bisa tolong ambilkan tisu untukku?”

Nyonya Choi menoleh dan seketika terkejut begitu melihat darah yang keluar dari hidung Jongin. Segera ia menarik tisu dan menghusap darah itu. Melihat itu, ayah Jongin juga langsung berdiri dan menghampiri ranjang Jongin.

“Adeul, kau tidak apa-apa? Kau mimisan.”

“Tidak apa-apa, appa. Mungkin karena aku kedinginan.”

“Eoma akan memanggil dokter. Sebentar.”

“Eoma.” Jongin langsung menahan lengan nyonya Choi. “Tidak perlu. Aku tidak apa-apa.”

“Tidak. Dokter harus memeriksamu. Eoma akan—“

“Eoma.” Panggil Jongin lagi, ia melepaskan cekalannya dan menatap wanita paruh baya itu lekat. “Minho ada di luar, kan? Bisa panggilkan dia untukku?”

“Jongin tapi—“

“Aku mohon, eoma.”

Nyonya Choi dan ayah Jongin saling pandang beberapa saat lalu menghela napas panjang. Lalu nyonya Choi pergi keluar, memanggil Minho yang selalu setia untuk menjaga ibunya. Tak lama nyonya Choi kembali bersama Minho.

Dengan ekspresi bingung, Minho menghampiri Jongin, “Kau memanggilku?” ia menunjuk dirinya sendiri. Terkejut. Apa Jongin benar-benar ingin bertemu dengannya?

Jongin mengangguk, “Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.”seru Jongin pelan.

“Tentang apa?”

Jongin terdiam sejenak, menatap ibu dan ayahnya yang juga sedang menatapnya lurus. “Berjanjilah padaku kau akan selalu menjaga eoma. Kau tidak akan pernah menyakitinya dan membuatnya menangis. Berjanjilah padaku, apapun yang terjadi, kau tidak akan pernah meninggalkannya.”

“Apa maksudmu?” Minho bertanya tak mengerti.

“Karena tidak ada yang bisa aku percaya selain dirimu untuk melakukannya. Berjanjilah padaku.”

Minho menelan ludah pahit, “Jongin…”

“Jongin, apa yang sedang kau bicarakan huh?” sambil menahan tangis, nyonya Choi menghusap kepala Jongin. “Ini sudah waktunya kau makan, eoma akan—“

“Eoma.” Panggil Jongin pelan. “Aku sudah memaafkan eoma. Aku sudah melupakan semuanya jadi jangan bersedih lagi. Terima kasih karena telah merawatku selama beberapa hari ini. Aku benar-benar merasa senang karena akhirnya aku bisa merasakan kehadiran eoma lagi.” Ia tersenyum bersamaan dengan air mata yang mengalir di pipinya. “Sekarang aku bisa pergi dengan tenang karena aku tau ada seseorang yang akan menjaga eoma. Tapi aku harap eoma tidak akan melupakanku.”

Nyonya Choi menggeleng kuat. Di genggamnya tangan Jongin erat-erat dan di ciuminya tangan itu. Tangisnya pecah. Sambil mengucapkan beribu-ribu kata maaf yang terdengar serak, ia memeluk Jongin. Sangat kuat. Seakan tidak akan melepaskannya. Seakan akan melawan siapapun yang berani membawanya pergi.

Jongin memejamkan kedua matanya. Tenggorokannya terasa cekat. Dadanya terasa sesak. Ingin sekali ia membalas pelukan itu namun tangannya tidak bisa di gerakkan. Sama sekali. Ia telah kehilangan kendali atas tangannya. Berusaha sebisa mungkin untuk mengangkatnya, namun kini ia gagal.

Hingga kemudian ia menyerah, ia beralih menatap ayahnya yang sedang tertunduk menyembunyikan tangis.

“Appa.”panggilnya serak.

Ayah Jongin mengangkat wajahnya dan memaksakan diri untuk tersenyum, “Hm?”

“Menikahlah dengan nyonya Shin.” Jongin balas tersenyum. “Walaupun dia cerewet tapi dia sangat memperhatikan appa. Jangan pernah makan sendirian lagi dan hiduplah dengan bahagia.”

“Tapi bagaimana mungkin aku bisa hidup bahagia tanpamu?”

Jongin kembali menelan ludah, “Mungkin awalnya akan terasa menyakitkan. Tapi seiring berjalannya waktu, appa akan mulai terbiasa. Kita sudah terbiasa hidup terpisah jadi rasa sakitnya tidak akan terasa lama.”

“Bisakah kau tidak pergi, nak?”

“Aku ingin tinggal tapi aku sudah lelah. Aku merasa sangat lelah appa.”

Tuan Kim mengangguk, “Aku akan menyalakan lampu setiap malam jadi kau bisa datang kapanpun yang kau inginkan. Jika aku merindukanmu, aku akan memakai sweatermu dan menganggap jika kau sedang memelukku. Kau akan selalu bersamaku, kan?”

Jongin mengangguk dan tersenyum lebar di balik air matanya yang terus turun. Di biarkannya nyonya Choi yang terus memeluknya dalam tangis hebat.

Saat tanpa sengaja ia menatap Minho, ia berseru lirih, “Maafkan aku, hyung.”

***___***

 

Krystal dan Taemin hanya bisa menatap bingung Tuan Kim dan Nyonya Choi yang sedang menangis di depan ruangan. Bahkan Minho yang sedang berusaha menenangkan ibunya juga ikut menangis.

Seketika firasat buruk menghampiri mereka. Segera, keduanya melangkah masuk ke dalam ruangan Jongin dan mendapati pria itu sedang tertidur di ranjangnya. Taemin menelan ludah susah payah. Tidak mungkin, kan?

“Jongin.”panggilnya pelan. Namun tidak ada sahutan apapun. “Jongin?”panggilnya lagi.

Jongin membuka matanya perlahan membuat Krystal dan Taemin langsung menarik napas lega, “Kalian datang?”

“Oh Tuhan, kau membuatku terkejut. Aku nyaris mendapat serangan jantung.” Taemin menghusap-husap dadanya dan menjatuhkan diri di tepi ranjang Jongin.

Jongin tertawa, “Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Tidak, hanya saja—“

Jongin mengalihkan tatapannya kearah seorang gadis yang berdiri takut-takut di hadapannya, “Annyeong.”sapanya dengan senyum lebar.

Krystal terkejut, “K-kau mengingatku?”

“Mana mungkin aku melupakanmu.”

“Huh? Sungguh? Siapa aku?”

“Tentu saja kau Jung Soojung.”

“Tidak maksudku yang lain. Siapa aku?”

Jongin terdiam sejenak. Di tatapnya gadis itu lekat-lekat. Tak lama ia tersenyum, “Kau adalah teman sekelas Kim Jongin, teman sebangku Kim Jongin dan kekasih Kim Jongin.”

Mendengar jawaban itu, Krystal langsung menghambur ke sisi ranjang yang lain dan memeluk Jongin erat-erat. Tangisnya seketika tumpah. Bahagia. Karena kemarin ia sempat di lupakan, sekarang ia sangat senang karena akhirnya dia kembali diingat.

“Kau sangat jahat. Aku pikir kau melupakanku. Kau benar-benar jahat.”isaknya.

Jongin terkekeh, “Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf.”

Krystal menguraikan pelukannya lalu menghusap air matanya, “Aku akan menghajarmu nanti.”serunya cemberut. “Apa kau sudah makan, huh? Sudah minum obatmu?”

Jongin mengangguk pelan, “Sudah.”

“Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa sudah merasa baikan? Kapan kau akan pulang? Sebentar lagi salju akan turun, apa kau tidak mau melihatnya bersamaku?”

Jongin langsung tertegun. Untuk yang kesekian kalinya, di tatapnya wajah kekasihnya itu lekat-lekat. Memuaskan dirinya karena dia tidak akan bisa melihat wajah ini lebih lama lagi.

Melihat Jongin yang hanya diam, Krystal kembali berseru, “Dokter belum memutuskannya?”

Jongin menelan ludahnya dan memaksa untuk tersenyum, “Krystal sepertinya…aku tidak bisa menemanimu melihat salju.”

“Jadi dokter belum mengijinkanmu pulang?” Ia menghela napas panjang. “Baiklah. Kita bisa melihatnya jendela ruangan ini saja.”

“Sepertinya aku juga tidak bisa menemanimu minum soju saat legal nanti.” Jongin berseru cepat membuat Krystal terdiam. “Dan sepertinya aku tidak bisa menepati semua janjiku padamu.”

Krystal mulai menyadari sesuatu, “Kenapa?”

“Aku…minta maaf.”lirihnya. “Aku minta maaf atas semuanya.”

“Apa yang sedang kau katakan? Jangan bicara yang tidak-tidak!” Ia mulai kesal.

“Terima kasih atas semua cinta yang telah kau berikan untukku. Terima kasih atas semua kesabaran dan pengorbananmu. Aku pikir aku adalah pria yang beruntung.” Ia tersenyum. “Ketika kau berbaris dan tanpa sengaja aku menabrakmu. Ketika kita berebut kursi dan akhirnya duduk bersama. Ketika aku memaksamu untuk menjadi kekasihku. Dan ketika kita menyelesaikan soal-soal matematika bersama. Aku tidak pernah menyesal.”

“Jongin, sebenarnya kau sedang bicara apa?” Taemin ikut kesal. “Jika kau terus bicara seperti ini, aku akan pergi!”

Berlingan air mata kembali menetes dari mata Jongin, ia beralih menatap sahabatnya itu, “Aku tidak tau bagaimana caranya mengungkapkan rasa terima kasihku untuk kalian. Kalian tau aku tidak bisa menunjukkan ekspresiku dengan baik. Tapi yang jelas, aku sangat bersyukur karena aku memiliki kalian dalam hidupku.”

Jongin menundukkan kepalanya dalam-dalam. Berusaha menyembunyikan tangisnya yang semakin lama semakin deras.

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Kau tidak boleh pergi. Kau harus tetap disini.” Krystal langsung memeluknya erat. “Jangan pergi Jongin. Aku mohon.”

“Aku ingin memelukmu tapi tanganku tidak bisa bergerak. Maafkan aku.”

Krystal semakin terisak, “Tidak. Jongin… Aku mohon.”

“Maafkan aku karena aku telah kehabisan tenaga untuk bertahan. Sekarang aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Rasanya menyakitkan.”

“Apa yang harus aku lakukan jika tidak ada dirimu? Siapa yang akan menemaniku main bola? Kau tau jika kau pergi, Jonghyun akan bersedih dan Sehun akan menangis. Dan aku…” Tenggorokan Taemin terasa cekat. Seketika tidak mampu berkata-kata karena dadanya terasa sangat sesak. Ia menghusap air matanya dan menarik napas panjang, berusaha menenangkan hatinya yang terasa sangat kalut. “Apa kau benar-benar kesakitan? Kau tidak bisa menahannya lagi?”

Jongin menggeleng, “Tidak bisa.”balasnya tanpa suara, hanya menggerakkan mulutnya.

Rahang Taemin mengeras. Ia memejamkan matanya kuat-kuat berusaha menahan sesak dan air mata itu. “Pergilah.”serunya kemudian. Ia membuka matanya, menatap Jongin, “Pergilah, teman. Kau harus istirahat.”

Jongin tersenyum lembut.

“Jika kau menderita di dunia ini, berjanjilah padaku kau akan bahagia disana. Kau tidak akan melupakanku, kan?”

Jongin menggeleng.

Air mata Taemin membentuk aliran sungai kecil di pipinya, “Kau adalah sahabat terbaikku, Kim Jongin. Kau harus bahagia.”

Kemudian matanya tertutup. Bunyi panjang dari mesin pendetak jantung berbunyi dan menampilkan satu garis lurus di layar monitornya. Nyonya Choi berlari ke dalam ruangan seperti orang kesetanan, berteriak keras memanggil nama Jongin. Sementara Krystal terus menangis sambil memeluk kekasihnya itu.

Tangisan-tangisan itu terdengar. Namun Taemin masih berdiri mematung di tempatnya. Seluruh kenangan mereka tiba-tiba terlintas, seperti sebuah film yang bisa ia lihat jelas. Saat mereka tertawa, saat mereka berbagi makanan, saat mereka menangis dan masih banyak lagi. Pria itu termundur ke belakang saat kenangan itu membuat dadanya terasa semakin sesak. Segera ia mencengkram besi ranjang untuk menopang tubuhnya.

Jongin… dia sudah pergi.

Selamat jalan Jongin.

END

 

 

 

 

 

Iklan

12 thoughts on “SELENE 6.23 (LONG DISTANCE BETWEEN US) PART 25 END

  1. ellalibra berkata:

    Uwaaaaaaaa eon jahat bgt udh buat aku mewek dari awal part ini tapi lom puas jg akhirnya sad ending juga hueeeeeeeeeee ….. Parah parah abiz tiap kata berasa banget ngena di hati sedihnya … Keren keren keren eon ditunggu autumnya eon fighting ^_^

  2. atikhans berkata:

    ini benar2 end ? sungguh? tp berasa ada yg kurang , konflik kurang grget ka, brharap ada extra chap tp main castnya jongin lg kan, hrus kaistal ya ..
    ditunggu extra chapterny nyesek sih trharu bnget baca ini chapter..
    yg pasti ini ff bagus anget , slalu menunggu tiap harinya slalu bka akun ini update ato ngga nya..
    ditunggu jga karya barunya kaistal lg klo bisa genre sad lg ya .. hhe fighting

  3. Anfa berkata:

    Ini uah end yha,.
    Kakak ini sedih banget .:'( 😥
    knapa aku malah bayangin sehun yg lg nangis yha,. 🙂 dtunggu karya.a y9 mkin keren,.

  4. mongochi*hae berkata:

    nyesekkk bgt..
    pdhl ak anti bgt bca ff kaistal klo sad end gini. tp ntah mgapa mbca ceritamu buat ak penasaraan..

    aigoo please beri ekstra part dan biarkan kaistal hidup bahagia

  5. mongkailate berkata:

    oh my god ini mendadak banget.. aku udah membayangkan sweet momen penuh haru antara jongin dan ibunya.. tapi begini aja udah bikin pipiku kebanjiran 😭😭 yes berharap ada after story atau side story tentang jongin dan ibunya sedikit momen penuh haru waktu di rumah sakit itu please 😢

  6. So_Sehun berkata:

    😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭 bang jongin jgn pergi…aduh sedih aku bacanya…
    Air mataku tiba” ngalir aja tdk bisa kutahan…😭😭😭😭

  7. DO DO berkata:

    kenapa jongin pergi, apa reaksi teman temannya nanti, gimana krystal setelah perginya jongin, aku masih penaran mija, ini ff feel nya dapet banget, dan kuharap bakalan ada extra chapternya ya

  8. nurulimania berkata:

    Huaaa kak mija. Jahaaattttt aduhhhh ini mewek sekali bacanya. Ini ff yg selalu aku tunggu. Sumpah nangis bacanya. Jongin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s