SELENE 6.23 (LONG DISTANCE BETWEEN US) PART 24

selene new

Tittle                            : Selene 6.23 (Long Distance Between Us)

Author             : Ohmija

Main Cast        : Kim Jongin, Krystal Jung, Choi Minho

Support Cast   : Taemin, Sulli, Amber, Sehun, Jessica, Jonghyun, dll

Gnere              : Romance, School life, Comedy, Sad

Gadis itu langsung melompat turun dari taksi yang di tumpanginya setelah mereka sampai di depan gedung rumah sakit. Seakan kehilangan kesadarannya, gadis itu terus berlari tak tau arah. Wajahnya sudah basah dan tubuhnya bergetar hebat,namun kakinya masih mampu mencari Jongin.

 

BRAKK

 

Tanpa sengaja ia menabrak seorang suster hingga keduanya terjatuh ke lantai.

“Soojung-ah!” Sulli yang ikut menemaninya langsung menghampiri sahabatnya itu dan menolongnya berdiri sementara Taemin membantu suster perempuan dan membereskan peralatannya yang tercecer di lantai.

“YA! KENAPA KAULARI-LARIAN DI SINI? KAU PIKIR INI TAMAN BERMAIN, HAH?!”omel suster itu kesal.

“Maafkan kami.” Sehun dan Taemin membungkukkan tubuh mereka , menggantikan Krystal meminta maaf.

“Dasar. Apa kau tidak tau jika aku sedang buru-buru?!”

“Maafkan kami, suster. Kami tidak akan berlarian lagi. Maafkan kami.”ulang Sehun.

Sulli mencekal kedua bahu Krystal dan membungkuk menatapnya, “Kau tidak apa-apa, hm? Tidak terluka?”

Krystal mengangkat wajahnya perlahan, “Aku mohon cepat temukan Jongin, Sulli. Aku ingin melihatnya.”tangisnya.

Sulli menatap sahabatnya itu iba. Lalu mengangguk dan menoleh ke belakang, kearah Sehun dan Taemin, “Ya, cepat tanya ke bagian informasi.”

Dua anak laki-laki itu segera melakukan perintah Sulli sementara dirinya masih sibuk menenangkan Krystal. Di dekapnya sahabatnya itu erat-erat sambil menggenggam kedua tangannya yang dingin.

“Dia ada di ruang ICU! Ayo!”

Namun Sulli menggeleng, “Tubuhnya bergetar, sepertinya dia akan pingsan.”ia berseru panik. “Bagaimana ini?”

Taemin mengacak rambutnya frustasi, di cekalnya kedua bahu Krystal dan memaksa gadis itu untuk menatapnya, “Kau bilang kau ingin bertemu dengannya, kan? Kuatkan dirimu!”bentak pria itu mengguncang tubuh Krystal. “Sadarlah Krystal!”

Krystal memejamkan matanya, meneteskan butiran bening dari sana sebelum akhirnya mengangguk.

Tak tahan melihat itu, Sehun mendorong tubuh Taemin, “Minggir.” Lalu menarik lengan Krystal dan menggendongnya di punggungnya. “Buka matamu! Kau harus melihatnya.” Serunya lalu berlari menuju ruang ICU.

“Permisi suster, kami adalah teman-teman Kim Jongin.” Taemin menghampiri seorang suster jaga yang ada di depan ruang ICU. “Bagaimana keadaannya? Apa dia terluka parah?”

Suster itu langsung berdiri dari duduknya, “Kalian teman-teman Kim Jongin? Siapa yang ku telepon tadi?”

“Dia.” Taemin menunjuk Krystal. “Tapi kami juga teman-temannya. Bagaimana dia suster?”

“Kami butuh keluarganya. Bisakah kalian menghubungi mereka? Atau bisakah kalian hubungi walinya? Kami membutuhkan persetujuan untuk melakukan operasi.”

Taemin seketika terdiam, “Tapi… dia…”

“Tidak bisakah kalian melakukannya? Lakukan apapun asalkan dia bisa selamat. Kami akan membayarnya nanti.” Sulli ikut meyakinkan suster itu.

“Bukan seperti itu, nona. Kami tidak bisa melakukannya tanpa persetujuan dari keluarganya.”

“Apa operasi itu ada hubungannya dengan penyakitnya?”suara kecil Krystal terdengar. Tertatih, ia menghampiri suster itu. “Aku tau dia mengidap kanker. Dan tadi orang yang suster hubungi adalah aku. Aku mohon lakukan apapun. Jika memang operasi itu di butuhkan maka lakukan saja agar dia bisa sembuh.”

Suster itu menghela napas panjang, “Maafkan kami nona. Kami menghubungimu tadi karena di ponsel pasien hanya ada nomormu. Kami tetap membutuhkan keluarganya.”

“Aku mohon.” Krystal menggenggam kedua tangan suster itu dalam keputusasaan. Tangisnya semakin deras membasahi wajahnya. “Aku mohon suster. Aku mohon selamatkan dia.”

“Soojung, sebaiknya kita hubungi orang tuanya dulu.” Sulli berusaha menenangkan sahabatnya itu. “Karena operasi ini penting, orang tuanya harus mengetahuinya.”

Krystal berhenti membujuk suster itu. Kedua tangannya meluruh, ketika kemudian ia berhasil mengumpulkan kekuatan pada kakinya. Gadis itu tiba-tiba berlari meninggalkan mereka. Sulli sudah hendak mengejarnya namun langsung di tahan oleh Taemin. Ia menggeleng dan menyuruh Sehun untuk mengikutinya sebagai gantinya.

Gadis itu – dengan penampilan kacau dan mata yang sembab – berhasil menghentikan taksi yang kebetulan lewat. Beruntung ia tidak membutuhkan waktu lama untuk pergi menemui seseorang. Di perjalanan, ia mengeluarkan ponsel, menghubungi sebuah nama yang ia pikir juga bisa membantunya.

Yoona.

Tidak perduli seberapa besar kecemburuannya pada wanita itu. Baginya yang terpenting saat ini adalah kesembuhan Jongin. Dia sadar dia tidak bisa melakukannya sendiri. Dia butuh banyak orang dewasa untuk menyelesaikannya.

Tak lama ia sampai di depan sebuah gedung apartement. Gadis itu langsung memberikan semua uang yang ada di dalam saku seragamnya pada supir lalu melompat turun. Kembali ia berlari, memasuki lift yang akan membawanya menuju lantai 7.

“Ahjumma!” Ia berseru memanggil seorang wanita yang baru saja keluar dari ruang apartement-nya.

Wanita yang ternyata adalah ibu Minho itu membulatkan matanya, terkejut karena melihat penampilan Krystal,

“Oh Tuhan, Soojung! Apa yang terjadi?”pekiknya langsung menangkap tubuh Krystal yang hampir rebah, “Kau kenapa, huh? Apa yang sudah terjadi padamu?”

“Ahjumma…” napas Krystal terengah. Di cekalnya kedua lengan ibu Minho kuat-kuat sebagai tumpuan tubuhnya agar ia bisa berdiri tegak. Tenaganya telah terkuras habis. Sama sekali. “Ahjumma…tolong aku…”

“Apa? Katakan apa yang terjadi.”

“Ahjumma… sekarang…”isaknya tertahan. “…sekarang… Jongin…ada di rumah sakit…aku mohon bantu kami…” lalu ia tiba-tiba berlutut di lantai. “Aku mohon ahjumma. Tolong bantu kami…”

“Soojung apa yang sedang kau katakan? Ayo berdiri.” Ibu Minho berjongkok di depan Krystal, berusaha membuatnya berdiri namun gadis itu menggeleng.

“Dia harus menjalani operasi. Dia harus…”

“Ya Krystal!” Sehun tiba tepat waktu saat tubuh itu seketika roboh dan nyaris meluruh di lantai. Gadis itu telah kehabisan seluruh tenaganya. Bahkan sisa-sisa yang ia paksakan tadi.

“Soojung! Soojung! Ayo bangun. Soojung!” ibu Minho menepuk-nepuk pipi Krystal sambil mengguncang tubuhnya pelan. “Soojung!”

Namun Sehun menahan tangan wanita tua itu membuatnya menatap kearahnya, “Apakah anda adalah ibu Jongin?”tanya Sehun sambil tetap menahan tubuh Krystal di lengannya.

Wanita itu terlihat bingung dan sedikit terkejut mendengar pertanyaan Sehun barusan. Ia hanya menatap Sehun dalam diam. Karena ini bukanlah hal yang bisa ia katakan dengan bebas. Terutama dengan orang asing yang baru saja ia temui.

Karena tidak ada jawaban yang ia dapat, Sehun kembali bicara, kali ini dengan nada sedikit tegas, “Aku tidak tau apakah anda adalah ibu Minho sunbae atau ibu Jongin. Aku juga tidak tau apa yang telah terjadi dalam hidup kalian dulu. Tapi sekarang Jongin sedang membutuhkan ibunya. Sekarang dia sedang berada di rumah sakit dan menunggu persetujuan untuk di operasi.”

Seketika ibu Minho terperangah hebat, “Apa?”

“Aku mohon datang lah ke rumah sakit sekarang. Aku akan mengurusnya jadi anda tidak perlu khawatir. Sekarang pergilah ke rumah sakit. Temanku sedang sekarat dan dia butuh bantuan. Aku mohon.” Sehun merendahkan nada suaranya. Benar-benar memohon pada wanita itu. Tanpa memperdulikan siapa dia sebenarnya, saat ini dia hanya butuh seseorang yang bisa menyelamatkan sahabatnya.

Wanita itu langsung berlari dalam keadaan linglung. Dalam keadaan setengah sadar. Bahkan tidak menyadari jika dia belum mengunci pintu rumahnya.

Sehun menghela napas panjang. Salah satu tangannya yang bebas meraih ponselnya dan langsung menghubungi Taemin.

Tak lama ketika panggilannya di jawab, Sehun langsung berseru,”Suruh Sulli menghubungi kakak Krystal. Dia pingsan dan aku tidak tau harus membawanya kemana.”

“Apa? Pingsan?!”

“Ini bukan saatnya untuk terkejut, kan?”dengus Sehun kesal. “Cepat lakukan. Setidaknya tanyakan kode sandi rumahnya agar aku bisa masuk.”

“Baiklah. Tunggu sebentar.”

***___***

 

“Dimana Jongin? Dimana dia?” Taemin dan Sulli seketika berdiri begitu seorang wanita muncultergesa-gesa menghampiri suster jaga. “Aku adalah keluarga pasien yang bernama Kim Jongin.Bagaimana keadaannya sekarang?”

Bukankah dia adalah cinta pertama Jongin? batin Taemin.Yah, mereka pernah bertemu beberapa kali saat SMP dulu.

Anak laki-laki itu bergegas menghampiri Yoona namun tiba-tiba seorang wanita lain kembali muncul. Kali ini keadaannya lebih parah. Seakan wanita itu tidak memiliki darah di dalam tubuhnya karena wajahnya terlihat sangat pucat.

“Omoni!”jerit Yoona langsung membopongnya. “Omoni baik-baik saja? Omoni.” Ia mendudukkan nyonya Choi di sebuah kursi, menatapnya khawatir. “Apa kalian teman-teman sekelas Jongin?”

Taemin mengangguk,”Kami adalah teman-teman Jongin. Tadi suster bilang mereka butuh persetujuan agar bisa melakukan operasi.”

“Yoona, tolong aku…” nyonya Choi berseru lirih. “Bilang pada mereka jika aku menyetujui operasinya. Suruh mereka agar mereka melakukan apapun agar anakku bisa sembuh. Tolong aku Yoona.”tangisnya seketika pecah di permukaan. Nyonya Choi menangis terisak, kepalanya terasa pusing dan dadanya terasa seak. Kenyataan ini begitu tiba-tiba. Kenapa bisa begini?

“Suster, berikan padaku surat perjanjiannya.”seru Yoona lalu menoleh kearah Taemin dan Sulli. “Tolong jaga omoni sebentar. Aku akan mengurusnya.”

“Baik noona.”

“Oh Tuhan anakku, kenapa semua ini bisa terjadi padamu? Maafkan eoma Jongin. Maafkan eoma. Ini semua salah eoma. Maafkan eoma.”

Sulli yang ikut menangis di samping nyonya Choi mengulurkan tangannya, menggenggam erat kedua tangan nyonya Choi berusaha untuk menenangkannya. Tangan itu bergetar hebat dan terasa sangat dingin.

Tidak. Jongin akan segera sembuh. Operasi akan di lakukan secepatnya. Dia pasti sembuh.

***___***

 

“Soojung? Kau sudah sadar? Soojung?”

Krystal samar-samar mendengar suara Jessica memanggil namanya. Kedua matanya mengerjap pelan, perlahan-lahan terbuka dan mendapati kakak perempuannya itu sudah berada di sampingnya.

“Kau sudah sadar, hm? Kau baik-baik saja?”tanyanya penuh kekhawatiran.

Krystal tidak menjawab dan menariktubuhnya untuk duduk, “Aku dimana?”

“Kau ada di rumah. Tadi kau pingsan.” Jessica menghusap air matanya karena kini ia merasa lega. “Kau baik-baik saja, kan?”

Krystal kembali terdiam. Mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi hingga dia jatuh pingsan. Dan beberapa saat setelah ia mengingat semuanya, matanya seketika melebar, “Unnie, dimana Jongin?! Unnie aku harus ke rumah sakit!”

Krystal menepis selimutnya dan bergegas pergi namun Jessica langsung menahannya, “Kau baru saja sadar. Tidak bisakah kau beristirahat saja, huh? Aku sangat khawatir padamu.”

“Unnie, Jongin akan menjalani operasi. Aku harus kesana. Aku mohon unnie.”seru Krystal hampir menangis sambil berusaha melepaskan cekalan Jessica.

“Soojung, aku juga mohon padamu. Jangan paksa tubuhmu lagi. Kau harus istirahat.”

“Tidak. Aku harus pergi unnie. Aku mohon biarkan aku pergi.”

“Soojung.”

“Unnie, please…”

Jessica mendesah panjang. Ikut putus asa. Dia mengerti perasaan adiknya sekarang tapi dia adalah seorang kakak. Dia di berikan tanggung jawab untuk menjaganya. Dia juga berharap agar Krystal bisa selalu bahagia. Jika saja dia mendengarkan ucapannya untuk meninggalkan Jongin, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Jika saja dia bisa mencegah perasaan adiknya itu agar tidak menjadi semakin dalam, mungkin dia bisa hidup bahagia bersama Minho.

“What should I do, Soojung? I’m your sister.”

Namun dia tidak memiliki jalan lain. Karena membiarkan adiknya merasakan rasa sakit itu adalah sebuah cara untuk membahagiakannya. Karena dia mencintai rasa sakit itu sendiri. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain menatapnya dari jauh dan menangkapnya saat dia terjatuh. Caranya hanya itu.

***___***

 

Pada akhirnya Jessica terpaksa harus mengantar Krystal ke rumah sakit. Karena kondisinya yang masih lemah, dia khawatir akan terjadi sesuatu jika dia membiarkannya pergi sendiri. Banyak orang yang sedang berjaga di depan ruang ICU. Teman-teman Jongin, Yoona, ibunya dan Minho. Minho terpaksa meninggalkan sekolah di tengah-tengah pelajaran setelah mendengar kabar itu, hatinya gelisah.

“Kita belum memberitahu ayahnya.” Taemin menghampiri Krystal dan berseru pelan. “Bagaimana?”

Gadis itu terdiam sejenak. Benar. Saat ini satu-satunya orang yang tidak mengetahui apapun tentang ini adalah ayah Jongin. Seseorang yang senyumnya selalu Jongin jaga agar tidak menghilang. Seseorang yang menjadi harta satu-satunya bagi anak laki-laki itu hingga dia rela merasakan rasa sakit itu sendirian. Tapi biar bagaimanapun, dia harus tau. Krystal menarik napas panjang lalu berdiri dan pergi ke sudut ruangan. Ia mengeluarkan ponsel dan mencari nomor ayah Jongin yang sempat ia simpan waktu itu.

Gadis itu harus menunggu cukup lama sebelum panggilannya di jawab. Mungkin saat ini ayahnya sedang sibuk berdagang di pasar.

“Yeoboseyo.” Terdengar suara ribut di sebrang panggilan. Dugaannya benar. “Yeoboseyo?”

Krystal menelan ludah, tenggorokannya terasa sangat cekat. Bagaimana caranya menyampaikan berita seperti ini? “Ahjussi annyeonghaseo.”serunya pelan.

“Ini Krystal, kan?”

“Iya benar. Ini aku, Krystal.”

“Ada apa? Kenapa kau menelpon? Apa terjadi sesuatu dengan Jongin?”

Krystal kembali menelan ludah susah payah, sebisa mungkin di singkirkannya cekat yang menghalangi suaranya. “Ahjussi…” gadis itu menghusap air matanya yang gagal ia pertahankan. “Bisakah ahjussi kemari?”

“Hm? Kenapa? Apa yang terjadi?”

“Ahjussi…” Tangisnya akhirnya pecah ke permukaan. Gadis itu menangis hingga terisak membuat ayah Jongin di sebrang panggilan bisa merasakan jika sesuatu yang buruk benar-benar sudah terjadi pada anaknya.

***___***

 

“Operasinya mungkin akan berpengaruh. Dokter bilang dia mengalami benturan hebat dan mungkin akan meninggalkan efek pada kepalanya. Dia bisa saja kehilangan ingatannya dan melupakanmu. Apa kau baik-baik saja?” Yoona menatap Krystal iba.

Krystal mengangguk tanpa pikir panjang,”Asalkan dia baik-baik saja.”

 

Di pojok ruangan, di tempat yang terpisah dari yang lain, di situlah Krystal duduk dengan kepala yang bersandar pada dinding. Dia memejamkan kedua matanya sambil berusaha mencerna kejadian yang terjadi hari ini dengan hati yang luar biasa sakit. Mereka baru saja berpelukan tadi siang. Mereka baru saja saling tersenyum dan mengatakan hal-hal yang akan mereka lakukan nantinya. Tapi kenapa semua ini terjadi?

Kenapa supir taksi yang akan membawanya menuju pelabuhan tidak melihat jika ada bus yang melaju dari arah berlawanan? Kenapa dia begitu ceroboh hingga kecelakaan ini bisa terjadi?

Hatinya terasa sangat sesak. Bahkan ia telah kehabisan tenaga untuk menangisi hal ini. Banyak orang bersedih. Juga Sulli yang awalnya sangat membenci Jongin, kini berharap kesembuhan anak laki-laki itu. Dia ikut menangis disana, bersama ibu Jongin yang masih sangat shock dan Yoona yang terus berusaha menenangkannya. Jessica yang terpaksa tinggal, ikut menangis bersama mereka. Keadaan nyonya Choi memang terlihat sangat kacau hingga ia beberapa kali pingsan. Dia menolak untuk makan dan minum dan berkali-kali mengatakan dia akan bunuh diri jika terjadi sesuatu dengan Jongin.

Sementara Taemin, Sehun dan Jonghyun yang sejak tadi menunggu juga masih setia berada di tempat mereka. Mereka menolak pulang ke rumah dan memilih untuk tetap menunggu hingga operasi Jongin selesai. Mereka juga terlihat sangat kacau.

“Kau baik-baik saja?” Seseorang tiba-tiba menyodorkan sekotak susu di depan wajah Krystal. Gadis itu mendongak lalu tersenyum tipis.

“Aku pasti sangat jelek sekarang.”jawabnya menerima kotak susu itu.

Minho menjatuhkan diri di sebelahnya dengan helaan napas panjang, “Kau terlihat seperti orang yang habis berkelahi. Matamu sangat bengkak.”

Krystal tertawa kecil,”Aku harus ke kamar mandi dan berdandan.”

Minho kembali menghela napas panjang, “Dia akan sadar, kan?”

“Aku tidak tau.”

“Dia harus sadar.”

“Kenapa? Bukankah kalian saling membenci satu sama lain?”

“Memang benar.” Minho terdiam untuk beberapa saat. “Tapi aku memiliki banyak hutang padanya. Setidaknya dia harus memukulku agar hatiku lega.”

Krystal tersenyum, “Aku tau. Jauh di dalam hati oppa, oppa sangat menyayanginya, kan?”

Minho langsung menoleh dengan kening berkerut, “Jangan sok tau.”

“Aku tau. Aku tau semuanya.”

TBC

9 thoughts on “SELENE 6.23 (LONG DISTANCE BETWEEN US) PART 24

  1. Anfa berkata:

    Ceritanya makin seru,.
    Tapi makin kesini jga knapa mkin sedih,..😥
    ma’af klo baru komen,. Baru tau caranya😀,. Next chap j9an lma”

  2. atikhans berkata:

    duh cobaan apalagi nih dg hubungan mereka, jongin akan kehilangatan ingatannya? yg benar saja..
    ini angst nta dpet bget feelnya smvah bikin greget ..
    ditunggu next chapternya

  3. Oh Secca berkata:

    bacanya sampe sedih gini feel nya dapet banget. ga bisa bayangin gimana jadi krystal yg udah cukup sedih dengan penyakit jongin sekarang malah jongin mau amnesia 😭 sabar banget krystal. ku harap jongin nya sembuh.

  4. So_Sehun berkata:

    Aigooo….author berhasil membuatku jantungan gegara jongin…..
    Apa bang jong bisa sadar dan sembuh chingu…
    Setidaknya buat bang jong merasakan kebahagian walau sebentar. Dan tdk sedih dan menderita terus….plaese…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s