NCT’s Story – A Story part 8

121850595

Tittle                            : NCT’s Story – A Story

Author             : Ohmija and MinnieBin

Main Cast        : NCT U and NCT 127

Genre              : School life

Ji Yoo tidak habis pikir dengan tugas yang di berikan oleh guru Lee tadi pagi. Apa dia sudah gila? Bagaimana mungkin dia membebankan tugas seperti itu pada seorang murid? Terlebih lagi Ji Yoo bukan murid yang popular dan memiliki banyak teman. Bagaimana caranya menyelesaikan tugas itu? Ini gila.

“Aaarrgghh…” Gadis itu mengacak rambutnya frustasi , uring-uringan di tempat duduknya membuat Taeyong menoleh kearahnya sambil berdecak dan geleng-geleng kepala. “Bagaimana ini? Aku harus bagaimana?”

“Ya,”tegur Taeyong mulai kesal. Ji Yoo menoleh. “Kau membuat mejanya bergoyang, aku harus menulis.”

“Jangan hiraukan aku. Aku tidak mau bicara denganmu.”ketus Ji Yoo.

Taeyong hanya mencibir lalu melanjutkan aktivitasnya. Namun Ji Yoo kembali uring-uringan, ia menghentak-hentakkan kakinya ke lantai kembali membuat meja mereka bergoyang.

“Ya!”tegur Taeyong lagi. “Aku bilang aku harus menulis!”

“Menulis saja! Memang aku mengganggumu?!”

“Kau tidak menggangguku tapi kau membuat mejanya bergoyang!”seru Taeyong kesal. Pria itu lantas meletakkan bolpoinnya ke meja dengan keras. Sambil menatap Ji Yoo tajam, ia memasukkan buku-bukunya ke dalam laci dan berdiri dari duduknya. “Kau benar-benar menyebalkan.”lanjutnya lalu pergi meninggalkan kelas.

“Memangnya kau tidak? Kau juga menyebalkan!”

***___***

 

Seulgi langsung berlari menghampiri Taeyong begitu ia melihat pria itu berjalan menuju kantin. Gadis itu berjalan mengendap-endap di belakang Taeyong, akan mengagetkannya. Namun Taeyong lebih dulu berbalik.

“Noona, suara langkahmu sangat terdengar.”serunya membuat Seulgi yang justru terkejut.

Gadis itu langsung cemberut, “Benarkah?”

Taeyong terkekeh, “Lain kali kau harus mengendap-endap untuk mengagetkanku.”

“Tapi tadi aku mengendap-endap.”

“Aku masih bisa mendengarnya.”seru Taeyong semakin terkekeh karena melihat Seulgi yang tambah cemberut. “Apa yang noona lakukan disini?”

“Ten memberitahuku jika kau masuk klub tari, sungguh?”

Taeyong mengangguk, “Aku sudah memberikan formulirnya padanya.”

“Aku tidak tau jika kau menyukai tari. Ku pikir kau akan bergabung dengan klub olahraga.”

“Awalnya begitu tapi aku berubah pikiran.”ujarnya. “Karena ini adalah sekolah seni, setidaknya aku harus bisa menari, kan?”

“Kau benar.” Kemudian Seulgi tersenyum lebar. “Kau mau ke kantin, kan? Ayo makan bersama. Aku merindukan makanan di tempat ini.”

“Noona belum makan siang?”

“Belum.” Ia menggeleng. “Ayo.:” Lalu menggandeng lengan Taeyong dan berjalan menuju kantin.

***___***

 

Gadis itu berpindah tempat. Kali ini Jiyoo duduk seorang diri di anak-anak tangga yang menghadap ke lapangan basket outdoor. Hari senin nanti pelajaran baru akan segera di mulai dan hari-hari sibuknya akan segera datang. Dia tidak mungkin punya banyak waktu untuk menjalankan tugas yang di berikan guru Lee itu.

Walaupun ini adalah sekolah seni tapi menemukan seseorang yang bisa bernyanyi dan menari dengan baik sekaligus bersedia untuk mengikuti lomba itu sulit. Belajar dari beberapa pengalaman lalu dimana mereka selalu menjadi juara kedua atau ketiga karena lawan mereka adalah trainee dari agensi-agensi besar yang sudah sangat terlatih. Tahun ini, sepertinya mereka mengalami trauma. Belum lagi mendengar banyaknya orang yang berpartisipasi dalam lomba itu. Jangankan juara dua atau tiga, mungkin mereka akan tersingkir dengan cepat.

“Bagaimana ini?” Ji Yoo mengacak rambutnya frustasi. Tugas Ini sulit tapi jika tidak di kerjakan, dia bisa di keluarkan. Dan jika dia di keluarkan, dia akan bunuh diri sebelum ibunya yang membunuhnya.

Gadis berambut pendek itu mencoba memikirkan nama-nama yang mungkin bisa di jadikan kandidat. Dan satu nama yang langsung terlintas di kepalanya adalah Seulgi. Gadis paling populer di sekolah ini yang nyaris sempurna karena dia memiliki semuanya dalam hidupnya. Cantik, pintar, jago menari dan bernyanyi. Dia adalah kandidat sempurna karena selain skill, dia juga memiliki visual yang baik. Bahkan namanya juga sudah sangat terkenal di sekolah-sekolah lain. Dia yakin jika Seulgi mengikuti lomba itu, grupnya akan memiliki banyak pendukung.

Kandidat kedua – jika dia hanya berpikir tentang visual – mungkin Somi bisa di gabungkan dengan Seulgi. Walaupun ia belum mengetahui skill gadis itu, tapi dia memiliki satu modal penting, visual!

Baiklah. Dia sudah mendapatkan dua kandidat untuk sementara ini. Sekarang dia akan memikirkan tentang boy group-nya. Di sekolah ini ada banyak murid pria populer, terutama Ten dan teman-temannya itu. Tapi tentang skill bernyanyi,semua orang juga sudah tau jika Taeil menjuarai itu. Dia sudah memenangkan penghargaan di berbagai perlombaan. Hanya saja, dia tidak tau sama sekali tentang skill menarinya.

Dan tentang Ten dan teman-temannya itu, selama ini yang ia tau mereka adalah kumpulan anak laki-laki yang sangat maniak dengan olahraga. Jaehyun adalah Kapten Basket, Mark adalah co-Captain dan Yuta yang juga merupakan kapten sepak bola. Ji Yoo tidak mengerti, jika mereka sangat menyukai olahraga, lalu kenapa masuk ke dalam sekolah ini? Mereka sangat aneh. Hanya Ten, Haechan dan Taeil yang berada dalam jalur mereka. Dia memang tidak begitu mengetahui tentang Ten dan Haechan. Tapi banyak yang mengatakan jika Ten sangat pandai menari dan Haechan yang memiliki kemampuan bernyanyi yang juga cukup bagus. Entahlah.

Jika kandidat sudah di dapatkan, sekarang giliran untuk memikirkan bagaimana caranya membujuk orang-orang itu agar mau bergabung dengan grup yang akan dia bentuk nanti. Karena Seulgi terkenal memiliki hati yang sangat lembut, mungkin dia hanya cukup memohon dan memasang wajah memelas agar gadis itu mau bergabung. Sementara Somi… itu mudah. Dia adalah murid junior. Dia pasti akan menuruti semua yang ia suruh.

Masalahnya kini berada pada Ten dan teman-temannya itu. Yah, dia sendiri sudah mengetahui bagaimana kejamnya mereka – Tidak semua, hanya Ten dan Taeyong – jadi dia pikir akan sulit membuat mereka menyetujuinya.

“Kau sudah mendapatkannya?”

“Oh Tuhan!” Ji Yoo langsung terlonjak kaget begitu mendengar suara. Visual seseorang yang baru saja dia bayangkan berubah menjadi nyata dan kini sudah duduk di sampingnya.

“Kau sedang melamun, ya?”tebak murid laki-laki yang ternyata adalah Ten itu.

Ji Yoo masih di tempatnya, menghusap-husap dada, menenangkan jantungnya yang nyaris lompat keluar. Ketika sudah mendapatkan sedikit ketenangan, ia langsung berteriak kesal, “YA!” membuat Ten seketika menarik kepalanya ke belakang, juga terkejut. “Kau ini selalu saja mengagetkanku!”

“Kenapa kau berteriak?”tanya Ten bingung.

“Lain kali, bisakah kau datang dari arah depan? Kau selalu datang dari belakangku membuatku terkejut!”omelnya lalu beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Ten.

Ten langsung berdiri, mengejar langkah Ji Yoo, “Ya, apa kau tidak dengar pertanyaanku tadi? Kenapa kau pergi begitu saja?”

“Aku belum mendapatkannya.”jawab Ji Yoo.

“Kau ini bagaimana? Kan sudah ku bilang kau harus mendapatkannya.”

Ji Yoo menghentikan langkahnya dan menatap Ten kesal, “Kau pikir toko buku di Seoul hanya satu? Ada banyak toko buku di kota ini!”

Ten menghela napas panjang, “Bagaimana jika sore ini kita berkeliling?”

“Tidak bisa. Aku harus bekerja.”

Ten mengacak rambutnya frustasi, “Lalu aku harus bagaimana?”

Ji Yoo menatap Ten dengan kening berkerut, “Apa buku itu sangat penting?”

“Tidak begitu penting. Hanya saja aku akan terus merasa bersalah jika tidak mendapatkan gantinya.”

“Huh?”

Ten berlalu meninggalkan Ji Yoo yang masih tidak mengerti dengan apa yang di katakannya.

“Ada apa dengannya? Dasar.”

***___***

 

“Kita bicara sebentar.” Taeyong langsung menarik lengan Jaehyun yang bahkan belum menghabiskan makanannya.

Pria dengan nafsu makan yang sangat besar itu langsung protes saat Taeyong menariknya tanpa memperdulikan apapun, “Hyung.. hyung.. aku sedang makan. Hyung…”

“Kalian mau kemana?”tanya Yuta yang juga berada disana bersama Taeil dan Haechan. Namun tidak ada jawaban apapun.Taeyong tetap menarik lengan Jaehyun hingga ke halaman belakang sekolah.

“Hyung ada apa?”ketus Jaehyun sedikit kesal. “Aku sangat lelah karena habis mengurus klub seharian, aku lapar hyung.”

Taeyong terdiam sejenak, “Aku ingin memberitahumu sesuatu.”

“Tentang apa? Memangnya sangat penting sampai kau tidak bisa membicarakannya di kantin?”

“Ini tentang hal yang kau tanyakan kemarin.”seru Taeyong pelan. “Malam ini aku harus keluar lagi.”

Jaehyun langsung mengecilkan volume suaranya dan memajukan wajahnya ke arah Taeyong, “Tentang itu?”biciknya. “Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan, hyung?”

“Aku…” Taeyong menelan ludahnya. Padahal dia sudah mengumpulkan keyakinan untuk memberitahu Jaehyun. Kenapa tiba-tiba dia kembali ragu?

“Hyung, katakan saja.”

“Jaehyun sebenarnya aku…”

“Hyung?”

“Aku mengikuti freestyle rap street.” Ia mengatakannya dalam sekali tarikan napas. Jantungnya berdebar-debar karena gugup.

Dan orang yang berdiri di depannya langsung membulatkan matanya lebar-lebar, “Apa?!”pekiknya tak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya.

“Aku tau kau pasti akan terkejut.”

“Hyung… tapi… sungguh?” Jaehyun tergagap. Bagaimana mungkin? Dia bahkan tidak pernah tau jika Taeyong bisa melakukan rap.

“Aku sudah menyukai rap sejak sebenarnya tapi aku terus menyembunyikannya dari kalian. Baru-baru ini aku mengikuti kompetisi itu agar bisa mendapatkan uang. Aku tidak mau memakai uang pemberian pria itu.”jelasnya namun sepertinya Jaehyun masih shock hingga dia tidak bisa mengatakan apapun. Taeyong menepuk pundak Jaehyun pelan, “Untuk sementara, tolong jangan katakan hal ini pada siapapun. Dan juga, aku ingin minta bantuanmu. Malam ini aku harus keluar.”

***___***

 

Karena ini hari sabtu, bel pulang berbunyi lebih cepat dari hari-hari biasa. Di dalam pikirannya, dia tidak banyak menyusun rencana hari ini. Dia hanya ingin segera pulang dan tidur. Tubuhnya terasa sedikit lelah atas kesibukannya seminggu belakangan.

“Ayo kita pergi ke arcade.”bisik Haechan sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Namun belum sempat menjawab ajakan Haechan tersebut, suara Arin sudah lebih dulu terdengar.

“Aku dan Yerim akan pergi ke café. Kalian mau ikut? Kita sudah lama tidak makan banana ice cream,kan?”

“Kita sudah dewasa. Berhenti makan ice cream.”cibir Haechan. “Lagipula kami akan pergi ke arcade.”

“Kalian sudah dewasa. Berhenti pergi ke arcade.”balas Arin juga mencibir.

“Tsk, dasar…”

Arin hanya melirik Haechan sinis lalu mengalihkan tatapannya ke Mark, “Mark, kau ikut, kan?”

“Ikut saja. Aku juga akan mengajak Jaehyun oppa.”sahut Yerim bersemangat.

Namun Mark menggeleng, “Kalian saja. Aku ingin kembali ke asrama dan tidur. Aku sangat lelah.”

“Apa? Tidur? Ayolah, ini weekend. Sebelum kita menjadi sibuk, kita harus menghabiskan hari-hari seperti ini.”balas Arin.

“Mark, kau sangat tidak asik.”tambah Yerim.

Mark terkekeh, “Maafkan aku. Tapi aku benar-benar sangat lelah. Kalian saja yang pergi, oke? Aku duluan.” Anak laki-laki itu beranjak dari kursinya dan melambaikan tangan pada ketiga temannya sebelum meninggalkan kelas.

Seperti akan mendapat firasat buruk, Haechan langsung menutup bagian atas tasnya dan segera melarikan diri. “Sepertinya aku juga lelah. Aku duluan.”

“YA LEE HAECHAN!”

Haechan mengejar langkah Mark yang sudah lebih dulu kabur dari dua gadis itu. Dia tidak akan pergi bersama dua gadis itu jika tidak ada Mark. Trauma. Mereka hanya akan memperlakukannya seperti pembantu.

“Kenapa kau meninggalkanku?” Haechan langsung melompat dan merangkul pundak Mark.

“Aku pikir kau mau ikut bersama mereka.”

“Haha jangan gila. Aku tidak mau mimpi buruk itu terulang lagi.” Haechan mendengus kesal mengingatnya. “Ngomong-ngomong, bukankah kau bilang kau mau pulang? Kenapa kau masih berdiri disini?”

“Tunggu sebentar. Aku harus memastikan sesuatu.”

Haechan mengerutkan keningnya bingung. Lalu mengikuti arah pandangan Mark yang mengarah ke suatu tempat. Bukankah itu kelas Somi?

Keduanya melihat Somi baru saja keluar kelas dengan wajah bingung. Matanya seperti sedang mencari-cari sesuatu.

“Apa yang sedang dia lakukan?”tanya Haechan yang tidak mendapat jawaban apapun dari Mark.

Mark meninggalkan Haechan dan menghampiri Somi, “Kau sedang apa?”tanyanya.

“Oh? Mark oppa, annyeong.”sapanya namun tetap sibuk mencari-cari sesuatu di seluruh tempat.

“Somi, apa yang sedang kau cari?”

“Tidak ada. Aku hanya…”

Mark menahan lengan Somi agar dia berhenti mengabaikan pertanyaan mereka, memaksa gadis itu menatapnya, “Apa yang sedang kau lakukan?”ulangnya lagi.

Somi mendesah panjang, “Aku mencari tasku. Tadi aku pergi ke ruang guru dan ketika kembali tasku sudah tidak ada.”

“Apa teman-teman sekelasmu menyembunyikannya?”tebak Haechan.

“Tidak tau.” Ia menggeleng.

Mark menghela napas panjang. Anak laki-laki menengok ke dalam kelas, sudah akan bertanya pada teman-teman sekelas Somi namun kelas itus udah kosong.

“Mereka semua sudah pulang, oppa.”

“Dasar. Sepertinya mereka mengabaikan ucapanku.”gerutu Mark kesal. Ia kembali menghela napas panjang dan menatap Somi, “Aku akan membantumu mencarinya. Kau bawa ponselmu, kan? Jika aku mendapatkannya,aku akan menghubungimu.”

Somi mengangguk, “Baiklah. Terima kasih oppa.”

Kemudian Mark menepuk pundak Haechan, “Ya, kau cari kesana.”suruhnya lalu pergi.

“Huh? Eoh. Eum.”

***___***

 

Siang itu, hujan tiba-tiba turun dengan deras. Beberapa murid yang masih berada di sekolah dan belum kembali ke asrama langsung mendesah panjang. Hujan turun tiba-tiba dan mereka tidak membawa payung. Sudah di pastikan jika mereka pulang sekarang, mereka akan basah kuyup.

Jaehyun yang masih berada di kelas, menatap keluar jendela. Hujan tiba-tiba membawanya kembali ke 3 tahun lalu. Saat mereka berlarian di bawah hujan bersama. Dia masih ingat bagaimana wajah cemberut gadis itu ketika dia menariknya ke dalam hujan dan membuat sekujur tubuhnya basah kuyup.

Kira-kira, bagaimana kabarnya sekarang? Apa dia sedang hujan-hujanan sendiri? Atau hanya menatap hujan yang turun sepertinya sekarang?

Sementara Kim Yerin yang beranjak dari bangkunya langsung terduduk kembali saat Yuta menarik lengannya.

Yuta mengeluarkan sebuah topi dari dalam tasnya dan memakaikannya di kepala Yerin membuat gadis itu menatapnya bingung.

“Kau pasti tidak membawa payung, kan? Pakai saja. Walaupun tubuhmu basah, setidaknya kepalamu tidak terkena air hujan.”

“Tapi…”

“Jangan mengatakan apapun dan pakai saja.” Ia tersenyum lebar lalu mengulurkan tangan dan menepuk-nepuk kepala Yerin.

Melihat itu Ji Yoo langsung mendengus. Dia berharap ada seseorang yang memperlakukannya seperti itu. Setidaknya menawarkan sesuatu agar dia tidak kehujanan. Tapi, jangankan menawarinya sesuatu, teman sebangkunya itu bahkan tidak perduli jika dia kehujanan atau tidak. Menyebalkan. Gadis itu menghentakkan kakinya kesal lalu berdiri dan meninggalkan kelas. Taeyong yang asik menulis mengangkat wajahnya, menatap gadis itu bingung lalu hanya bisa geleng-geleng kepala.

“Bukankah itu Mark?”seru Jaehyun melihat seorang murid laki-laki sedang hujan-hujanan di bawah sana.

Yuta berdiri dan berjalan mendekati jendela, “Oh benar. Itu Mark. Apa yang dia…” belum sempat menyelesaikan pertanyaannya, mereka melihat seorang gadis mengejarnya di belakang dan keduanya hujan-hujanan bersama. “Eum.. sepertinya aku sudah tau jawabannya.”

Jaehyun terkekeh, “Aku juga.”

Di lain tempat, Ten yang baru saja kembali dari gedung A menghentikan langkahnya sesaat ketika ia melihat seorang gadis sedang berdiri di ujung lobby dan menatap kearah hujan yang masih turun dengan deras. Ia tertegun untuk beberapa saat sebelum akhirnya membuka jaketnya dan menghampiri gadis itu. Tanpa suara, ia menyampirkan jaketnya di kepala Min Rara yang seketika terkejut lalu berlalu pergi. Mata Min Rara terbelalak lebar. Tadi itu benar-benar Ten, kan? Apa yang sedang dia lakukan?

Melihat ekspresi Min Rara yang sangat terkejut, Xi Ra By yang berdiri tak jauh dari sana tertawa geli, “Sepertinya dia sangat menyesal.”serunya membuat Min Rara menoleh. “Pakai saja agar kau tidak kehujanan.”

Min Rara hanya diam. Namun akhirnya memutuskan untuk memakai jaket itu dan berlari menerobos hujan.

Xi Ra By tersenyum di tempatnya, “Dia sebenarnya adalah gadis yang manis. Jika saja dia bisa lebih terbuka.”

“Kau belum pulang?” Tiba-tiba seseorang muncul. Ra By menoleh dan langsung tersenyum lebar.

“Winwin?”

Winwin balas tersenyum, “Kenapa kau belum pulang?”ulangnya lagi.

“Hujannya sangat deras. Aku bisa basah kuyup.”

“Ayo, aku akan mengantarmu.” Winwin menarik lengan Ra By namun gadis itu menahannya dan menggeleng. Kening Winwin berkerut, “Kenapa?

“Begini…” Ra By memajukan wajahnya dan berbisik pada Winwin. “Aku memakai dalaman yang sangat tipis. Jika aku basah…eum…kau tau kan yang akan terjadi selanjutnya?” Gadis itu meringis kikuk.

“Ah, jadi begitu.”

Winwin membuka jaketnya dan memakaikannya di tubuh Ra By yang terlihat sangat kebesaran. “Bagaimana sekarang?”

Ra By tersenyum lebar, “Tapi tidak ada yang menutupi kepalaku. Aku tidak suka jika poniku berantakan.”

Kali ini Winwin melepaskan tas ranselnya dan meletakkannya di atas kepala Ra By sebagai penghalang hujan, “Bagaimana?”

“Tapi bagaimana denganmu? Kau bisa kebasahan.”

“Yang penting ponimu tidak berantakan, kan?”

Ra By seketika tertawa geli lalu mengangguk, “Baiklah.”

Dan pria terakhir yang sejak tadi menggenggam payung kecilnya itu akhirnya memiliki keberanian untuk menghampiri teman sebangkunya. Gadis cantik berambut panjang itu menoleh saat Doyoung menyodorkan sebuah payung padanya.

“Pakai saja payungku.”ucap Doyoung pelan.

Quinn Jo menatap payung itu lalu menatap Doyoung dengan tatapan bingung, “Huh?”

“Jangan kehujanan.”seru Doyoung lagi meninggalkan payungnya di tangan Quinn Jo lalu berlalu pergi.

Terima kasih hujan. Akhirnya aku bisa bicara dengannya.

***___***

 

“Hatsyiii.” Mark menarik tisu dari tempatnya dan menghusap hidungnya yang terus mengeluarkan ingus.

“Jadi dimana kau mendapatkan tasnya?”tanya Jaehyun sambil memberikan sebuah selimut untuk anak laki-laki itu.

“Di halaman belakang sekolah. Seseorang menggantungnya di atas pohon.”

“Oh Tuhan kejam sekali. Sepertinya teman-teman sekelasnya tidak menyukainya.” Dari ranjangnya Ten berseru.

Mark mengangguk, “Sepertinya begitu.”

“Dan kau rela hujan-hujanan demi membantunya mencari tas?” Yuta mulai menggodanya.

“Hyung, dia tidak akan bisa menemukannya jika dia mencarinya sendirian. Aku hanya membantu.”

“Setidaknya kalian sudah memiliki adegan romantis bersama.”sahut Ten yang di sambut tawa geli dari yang lain.

Mark langsung mencibir, “Berhentilah menggodaku.”

“Mark benar-benar sudah dewasa sekarang.”

Mark berkecap, “Hyung, hentikan.”

“Baiklah. Baiklah. Sekarang sebaiknya kau istirahat. Aku akan membelikan obat untukmu.”seru Jaehyun meraih jaketnya yang tersampir di sandaran kursi. “Taeyong hyung, ayo.”

“Huh? Oke.”

Taeyong langsung tau. Ini adalah cara Jaehyun untuk membantunya keluar dari asrama. Pria itu juga memakai jaketnya dan pergi keluar bersama Jaehyun.

“Hyung, jangan kembali terlalu malam. Aku akan bilang pada yang lain jika kau sedang pulang ke rumahmu.”

“Terima kasih, Ujae.”

“Menangkan kompetisi itu, hyung. Jangan lupa mentraktirku ddokbukkie nanti.”

Taeyong tertawa, “Aku tau.” Lalu keduanya berpisah di persimpangan.

***___***

 

Ji Yoo menaikkan hoodie-nya dan memakai helm, bersiap untuk mengantar pizza ke suatu tempat. Hujan sudah berhenti namun jallanan masih terasa licin hingga da harus lebih berhati-hati mengendarai sepeda motornya.

Gadis itu memarkirkan sepeda motornya begitu ia sampai di taman Hangang. Banyak orang yang memenuhi tempat itu karena ini adalah hai libur. Keluarga yangsedangberpiknik atau sekedar jalan-jalan juga pasangan kekasih yang sedang nerkencan. Hal itu membuatnya sedikit iri. Ia tidak bisa menghabiskan banyak waktu bersama keluarganya karena kesibukan mereka. Dan tidak bisa berkencan juga. Dia sadar gadis seperti apa dirinya, dia tidak secantik Seulgi ataupun selucu Ra By. Alasan lain, dia tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan itu. Dia harus sekolah dan bekerja. Dua hal itu sudah membuatnya lelah. Tapi jujur saja, dia akan lulus SMU sebentar lagi tapi dia belum pernah berkencan sekalipun. Itu terdengar menyedihkan.

Gadis tinggi itu menuju sebuah terowongan yang berada dibawah jembatan, tempat yang di jadikan beberapa anak muda berkumpul. “Kiriman Pizza!”serunya menghampiri keramaian.

“Oh, pizzanya sudah datang.”Seorang anakl aki-laki menghampiri Ji Yoo. “Aku BakDung yang memesan Pizza.”

“Ini. Semuanya 10.000 won.”

Anak laki-laki itu mengeluarkan uang dari dalam sakunya, “Ambil saja kembaliannya.”

Ji Yoo mengangguk dan tersenyum lebar, “Terima kasih.”

Namun begitu hendak berbalik pergi, sorakan orang-orang yang terdengar membuat langkahnya terhenti. Ia sedikit penasaran dengan apa yang sedang anak-anak itu lakukan hingga membentuk kerumunan seperti itu. Juga sorakan mereka yang terdengar sangat riuh.

Akhirnya gadis itu memutuskan untuk melihat sebentar. Ia menerobos kerumunan hingga bisa menjangkau titik pusat kerumunan itu. Namun detik berikutnya ia membulatkan matanya lebar-lebar begitu menyadari siapa yang sedang menjadi titik pusat mereka sebenarnya.

Bukankah dia… Taeyong?!

TBC

 

 

 

3 thoughts on “NCT’s Story – A Story part 8

  1. daisygarside berkata:

    Haha rasain kamu Ten, hihi ngrasa bersalah kan? Lara … kayaknya kamu jangan sampe baper gara2 kebaikan Ten deh

    dan Jiyoo, kasian yah jadi dia. nggak sebebas temen2nya yang lain. dan aku langsung bayangi. pas yeri sama arin jadiin haechan pembantu xixixi

    dan mereka sudah menemukan seseorang masing2 hehe

    tapi kalau Jiyoo tau Taeyong kerja sambilan gitu, apa yang akan dia lakukan?

  2. daisygarside berkata:

    Haha rasain kamu Ten, hihi ngrasa bersalah kan? Lara … kayaknya kamu jangan sampe baper gara2 kebaikan Ten deh

    dan Jiyoo, kasian yah jadi dia. nggak sebebas temen2nya yang lain. dan aku langsung bayangi. pas yeri sama arin jadiin haechan pembantu xixixi

    dan mereka sudah menemukan seseorang masing2 hehe

    tapi kalau Jiyoo tau Taeyong kerja sambilan gitu, apa yang akan dia lakukan? …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s