SELENE 6.23 (LONG DISTANCE BETWEEN US) PART 23

selene new

Tittle                            : Selene 6.23 (Long Distance Between Us)

Author             : Ohmija

Main Cast        : Kim Jongin, Krystal Jung, Choi Minho

Support Cast   : Taemin, Sulli, Amber, Sehun, Jessica, Jonghyun, dll

Gnere              : Romance, School life, Comedy, Sad

Keesokan paginya, Krystal melihat Jongin sudah lebih dulu menempati bangkunya Di ambang pintu, gadis itu menghela napas panjang. Kejadian kemarin masih sedikit membuatnya kesal, walaupun ia tau Jongin tidak bersalah sama sekali. Tapi seharusnya dia tidak bersikap kasar seperti itu. Dia seperti Jongin yang ia kenal dulu.

Krystal menjatuhkan diri di samping Jongin dengan wajah cemberut. Bersikap seakan-akan dia masih marah.

“Kenapa kau tidak langsung pulang semalam?”tanya Jongin. “Jika sonsengnim mengetahuinya, kau bisa di hukum. Walaupun kau hanya menemaninya minum.”

Krystal seketika terkejut dan langsung menoleh, “Bagaimana kau bisa mengetahuinya?”pekiknya dengan mata melebar.

Jongin tidak bersuara. Terus sibuk membolak-balik buku pelajarannya.

“Kau mengikuti kami, ya?”tebak Krystal, gadis itu masih menatap kekasihnya bingung.

“Sudah ku bilang daerah itu sangat berbahaya. Aku tidak mungkin membiarkanmu pulang sendiri.”jawab Jongin santai.

Perlahan sebuah senyuman terbentuk di bibir Krystal. Bodoh. Kenapa dia terus berpikiran yang tidak-tidak? Jongin tidak seburuk itu. Dia adalah pria yang baik.

“Kenapa kau tidak bilang? Harusnya kau—“

“Aku tetap tidak akan memaafkannya. Semalam aku hanya mengkhawatirkanmu jadi aku melakukannya.”potong Jongin yang membuat Krystal kembali cemberut. Namun beberapa detik kemudian ia tersenyum lebar lalu memeluk Jongin dari samping.

“Aku tau kau adalah pria yang baik. Aku tau.”

“Ya ya ya, apa yang kau lakukan? Kau mau di panggil ke ruang kepala sekolah lagi?”balas Jongin sambil mendorong tubuh Krystal.

Gadis itu menyeringai lebar sambil mengigit bibir bawahnya, “Aku lupa.”ucapnya. “Tapi yang jelas, aku sangat senang!” Ia mengulurkan tangan, menghusap-husap rambut Jongin. “Jongin-ku adalah pria yang baik dan…” Ucapannya seketika terhenti saat sesuatu menempel di telapak tangannya. Ia tertegun sesaat, membuka telapak tangannya dan mendapati beberapa helai rambut Jongin menempel disana.

Jongin menoleh karena Krystal tiba-tiba terdiam. Melihat helaian rambutnya ada di telapak tangan kekasihnya itu, dengan cepat ia mengambilnya dan memasukkannya ke dalam saku blazer.

“Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir.”ucap Jongin berusaha menenangkan Krystal yang seketika menjadi pucat.

Krystal menaikkan arah tatapannya kearah Jongin, menatap kekasihnya itu dalam diam yang cukup lama.

“Jangan khawatir.” Jongin tersenyum lembut lalu mengacak rambut Krystal.

Jongin… bagaimana mungkin aku tidak khawatir?

***___***

 

KRYSTAL POV

 

Ini terasa seperti aku telah melewati waktu-waktu dengan cepat. Seakan aku hanya menghabiskan beberapa menit sebelum akhirnya hari kembali berganti. Seumur hidupku, aku tidak pernah tau jika waktu ternyata sangat berharga. Setiap detik yang aku lewati, dengan siapa dan bagaimana aku melewatinya. Sebelumnya aku justru berharap agar Tuhan melewati hari-hari sulitku dengan cepat. Agar aku bisa bernapas lega. Tapi sekarang, aku justru berharap waktu bisa berhenti. Sekarang aku justru ingin menikmati hari-hari sulit itu.

Pada awalnya aku berpikir mungkin perasaan ini hanya sementara, seperti perasaanku pada Minho. Mungkin perasaan ini akan menghilang secepatnya. Tapi ternyata aku salah, hari-hari berlalu dan justru perasaan ini semakin lama semakin dalam. Orang-orang menyuruhku untuk meninggalkannya dan mereka merasa kasihan padaku. Juga Jessie yang memintaku untuk memikirkan lagi hubungan kami. Mereka tidak salah. Mereka benar.Memang seharusnya aku meninggalkannya sejak awal agar aku tidak ikut merasakan rasa sakit itu. Aku tau mereka menyayangiku. Tapi… aku menyayanginya. Aku terus ingin berada di sampingnya setiap waktu. Menghabiskan hari-hari kami.

“Soojung?” Tiba-tiba seseorang memanggilku saat aku baru saja keluar rumah. Ternyata Minho oppa. “Kau mau keluar?”

“Aku mau membeli tisu.”jawabku tersenyum. “Oppa?”

Ia tersenyum kecut sambil mengendikkan kedua bahunya, “Seperti biasa. Melarikan diri.”

Aku tertegun untuk beberapa saat. Sejujurnya aku merasa kasihan dengan Minho oppa. Sejak mengetahui penyakit Jongin, ibunya lebih sering mengunjungi Jongin di rumah sewa – walaupun lebih sering di usir – hal itu membuatnya dan ayah Minho oppa selalu bertengkar hebat. Ayahnya menganggap ahjumma tidak lagi perhatian pada mereka dan lalai melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri. Di mataku, dia sangat egois.

Jika saja dia mau mengerti sedikit penderitaan ahjumma dan Minho oppa. Jika saja dia mau perduli tentang kesedihan mereka. Saat ini, ahjumma pasti merasa sangat bimbang. Dia harus memilih antara anak kandung dan suaminya.

“Oppa tidak apa-apa?”tanyaku ragu-ragu. Aku masih tetap bertanya walaupun sudah terlihat jelas di wajahnya jika dia sedang sedih.

Minho oppa kembali tersenyum kecut, “Mau menemaniku minum kopi?”

***___***

 

“Bagaimana keadaan Jongin? Apa dia sudah membaik?” Pada akhirnya kami duduk bersama di sebuah kedai kopi yang terletak tak jauh dari gedung apartement.

Aku mengangkat kedua bahuku, “Entahlah. Yang jelas dia telah memutuskan untuk tidak pergi ke sekolah lagi.”

“Hm? Kenapa?”

“Dia sudah mengajukan surat pengunduran diri. Karena dia masih sering mimisan dan rambutnya mulai rontok. Teman-teman sekelas dan guru-guru juga sudah tau tentang penyakitnya.”

“Lalu ayahnya?”

“Dia bilang dia akan memberiathunya secepatnya.”

“Dasar anak itu, selalu keras kepala.”

Aku hanya terkekeh, “Yah, begitulah.”ucapku. “Lalu kenapa sejak tadi kita selalu membicarakan tentang Jongin? Bukankah oppa juga butuh seseorang untuk menghibur oppa?”

Dia tersenyum, “Apa benar-benar terbaca jelas di wajahku.”

Aku menganggku, “Sangat jelas.” membuatnya semakin tertawa.

Minho oppa terdiam beberapa saat, ia menyeruput kopinya lebih dulu sebelum bicara padaku, “Aku benar-benar meraa bersalah pada eoma. Setiap hari appa selalu memarahinya karena selalu pulang terlambat. Walaupun eoma sudah menyiapkan makanan, tapi appa tetap marah karena eoma belum pulang.” Ia memulai ceritanya. “Aku sudah berusaha untuk menjelaskan pada appa jika Jongin sedang sakit dan sebagai ibu kandungnya, eoma wajib mengurusnya tapi dia tidak mau mendengarkanku.”Ia menghentikan ceritanya beberapa saat. “Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan jadi aku pergi. Walaupun aku tau aku tidak seharusnya pergi, tapi kepalaku rasanya ingin pecah.”

Aku terdiam menatapnya. Sebentar lagi dia akan menghadapi ujian kelulusan tapi hal ini justru terjadi. Jika saja waktu itu aku tidak memaksanya untuk memberitahu ahjumma, mungkin dia tidak akan seperti ini.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?”suaranya membuyarkan lamunanku. “Apa aku terlhat begitu kasihan?”

Aku menarik napas panjang, “Maafkan aku oppa. Karena aku tidak bisa membantu apapun.”

Dia tertawa sambil mengacak rambutku, “Kau sudah membantuku.”serunya lalu mengangkat gelas kopinya, menunjukkan padaku.

Aku tersenyum, “Oppa… jika oppa membutuhkan seseorang untuk bicara, oppa tau oppa bisa mencariku, kan?”

Dia mengangguk, “Aku tau.”

***___***

 

AUTHOR POV

 

Gadis itu serta beberapa orang temannya sudah berdiri di gerbang sekolah sejak satu jam lalu, menunggu kedatangan seseorang yang akhirnya terlihat dari kejauhan. Pria itu berjalan dengan langkah-langkah pelan, dengan topi woll serta syal yang menutupi leher hingga mulutnya. Beberapa murid yang berjalan di dekatnya terus menatapnya dengan bisikan-bisikan kecil.

Melihat itu, Krystal langsung berlari menghampirinya, “Kau sudah datang?”

Jongin tersenyum, kedua tangannya di masukkan ke dalam saku jaket, “Kau menungguku?”

“Iya. Mereka juga.” gadis itu menunjuk Taemin, Sehun, Jonghyun, Amber dan Sulli yang berdiri di belakang.

“Kenapa kalian tidak masuk kelas? Di luar sangat dingin.”

“Sudah ku bilang kami menunggumu.”seru Krystal. “Ayo.” Gadis itu menggandeng lengan Jongin namun Jongin langsung melepasnya.

“Ya, sudah ku bilang jika sonsengnim mengetahuinya, kita bisa—“

“Aku tau, aku akan di hukum. Mungkin aku akan di suruh piket selama seminggu.”ucap gadis itu santai. “Tapi aku tidak perduli.” Ia menggandeng lengan Jongin lagi, kemudian keduanya berjalan bersama.

Jongin berdecak sambil geleng-geleng kepala, “Sekarang kau jadi keras kepala.”

“Itu karena kau.” Keduanya lalu tertawa.

“Kau lama sekali, kami tadi menunggumu di halte. Kami hampir membeku kedinginan!”omel Sehun.

Jongin terkekeh, “Maaf, tadi aku kesiangan.”

“Tsk, kau ini tidak berubah sama sekali. Ayo cepat masuk!” Sehun merebut lengan Jongin dan menyeretnya agar berjalan bersamanya.

“Ya! Jangan rebut kekasihku!”

Sehun menoleh ke belakang sekilas, “Sebelum jadi kekasihmu, dia adalah kekasihku!” lalu menjulurkan lidahnya dan melanjutkan langkah bersama Jongin dan kedua temannya yang lain.

“Ya! Oh Sehun!”

***___***

 

Musim dingin akan segera datang namun cuaca hari itu cukup hangat. Cahaya matahari menyelinap masuk, membuat murid-murid yang sedang pusing karena pelajaran matematika semakin kesal. Hampir seluruh murid menghitung waktu, berharap pelajaran itu akan segera berakhir. Kepala mereka sudah hampir pecah karena rumus-rumus yang tertulis di papan tulis itu.

“Jika kalian sudah mengerti, kerjakan soal-soal yang ada di halaman 101. Siang ini kumpulkan di mejaku, mengerti?” Seru sonsengnim tegas sambil menutup bukunya.

Terdengar desahan-desahan murid yang langsung berdecak kesal karena ternyata pelajaran menyebalkan itu belum berakhir.

“Jangan protes, kalian harus rajin karena sebentar lagi ujian kenaikan kelas.”

“Tsk, aku bahkan tidak mengerti dengan apa yang dia katakan. Bagaimana bisa aku mengerjakannya?”cetus Krystal kesal.

“Oh Tuhan, seperti ada yang memukuli kepalaku.”sahut Sehun memegangi kepalanya.

Jongin hanya terkekeh sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan kekasihnya dan sahabatnya itu.

“Jongin, kau yang bertanggung jawab. Siang nanti kumpulkan tugas ini di mejaku, mengerti?”

Jongin mengangguk, “Baik, sonsengnim.” Namun baru saja menyelesaikan kata-katanya, Jongin merasakan jika sesuatu membasahi hidungnya. Cairan bewarna merah itu menetes ke bukunya, sangat deras dan tidak berhenti.

Jongin langsung menutupi mulut dan hidungnya dengan kedua tangan sementara Krystal buru-buru mengeluarkan sapu tangan dan membantunya. Sehun dan Taemin menoleh ke belakang, tangan panjang Taemin mengguncang bahu Jongin.

“Jongin, kau tidak apa-apa? Kau baik-baik saja?”

“Jongin, apa yang terjadi padamu? Kau sakit?”tanya Kim sonsengnim langsung menghampiri meja Jongin.

“Aku… tidak apa-apa, sonsengnim.”jawab Jongin dari balik sapu tangan.

“Kau mimisan, Jongin. Ayo pergi ke UKS!”

Kim sonsengnim serta Krystal membantunya berdiri. Namun saat dia berdiri, rasa pening hebat langsung menyerang kepalanya. Jongin meluruh ke lantai seketika.

“Jongin!”pekik Krystal.

Sehun, Jonghyun dan Taemin juga langsung melompat dari kursi mereka, menghampiri Jongin, “Ya! Ya! Kau tidak apa-apa? Bangunlah! Ya, Kim Jongin!” Sehun memukul-mukul pipi Jongin agar dia sadar sementara di sebelahnya Krystal sudah menangis. “Ah, brengsek!” Pria tinggi itu berbalik membelakangi Jongin, “Ya! Naikkan dia di punggungku!” Taemin meraih kedua lengan Jongin dan menaikkannya di punggung belakangnya Sehun. Lalu dengan sekuat tenaga, ia berlari menuju rumah sakit.

***___***

 

Hari itu adalah hari terakhirnya pergi ke sekolah. Sejujurnya dia sudah enggan datang lagi namun teman-temannya memaksanya. Mereka mengatakan jika setidaknya Jongin harus melakukan salam perpisahan dulu sebelum pergi. Dia sudah tau mereka akan melakukan ini…

Hari itu, kelas terlihat luas karena kursi-kursi dan meja-meja di tepikan ke pinggir ruangan. Papan tulis di tulisi dengan kalimat ‘Kami akan selalu merindukanmu, Jongin’ serta kertas-kertas kecil berisi pesan dari seluruh murid yang di tempel di sekitar tulisan itu.

Jongin menatap papan tulis dengan senyum. Membaca satu-persatu pesan yang di tujukan untuknya.

“Kami pikir hanya ini yang bisa kami lakukan untukmu.”seru Taemin. Jongin hanya diam, terus menatap ke depan.

“Aku tidak perduli penyakit apapun yang kau derita. Kau akan tetap menjadi cinta pertamaku.” Krystal membaca salah satu pesan. “Siapa yang menulis ini?”ketusnya kesal.

“Lihat ini.” Sulli menunjuk kertas yang lain. “Aku harap kau akan segera putus dengan Krystal. Berkencanlah denganku.”

Krystal langsung menoleh ke belakang, kearah murid-murid perempuan yang langsung bersikap tak bersalah, “Ya! Kami tidak akan putus! Jangan coba-coba menggodanya!”

Sehun berdecak sambil geleng-geleng kepala, “Apa yang sedang dia lakukan? Dasar menyebalkan.”

“Kau juga salah satu orang yang selalu berusaha merebut kekasihku.”cibir Krystal.

“Lalu kenapa? Kau mau berkelahi?”

“Dasar kekanak-kanakkan.” Sulli juga ikut mencibir.

“Aku akan membacanya di rumah.” Suara Jongin akhirnya terdengar. Ia mencabut kertas-kertas itu satu persatu. “Terima kasih.”

“Ya, Kim Jongin, kau benar-benar akan berhenti? Tidak bisakah kau tetap pergi ke sekolah?”tanya KyungCal yang juga teman SMP Jongin. “Ku dengar SuWoon akan melakukan balas dendam lagi. Jika tidak ada kau, kita bisa kalah.”

Jongin terkekeh, “Berhentilah berkelahi. Sebentar lagi ujian kenaikan kelas.”

“Jika kau berhenti, kami akan kehilangan flower boy kami.”sahut seorang murid perempuan.

Jongin kembali tersenyum, “Terima kasih. Aku tidak tau apa yang harus aku katakan selain berterima kasih pada kalian. Aku tau aku banyak melakukan hal-hal yang membuat kalian kesal, terkadang aku juga mengatakan hal-hal yang tidak perlu dan membuat kalian tersinggung. Aku benar-benar minta maaf.”ucapnya pelan. “Aku harap kita bisa bertemu lagi. Saat kita legal nanti, aku harap aku bisa minum-minum dengan kalian.”

Seketika suasana menjadi hening. Beberapa murid menundukkan kepalanya, menyembunyikan air mata mereka. Nanti? Mereka juga berharap begitu.

“Baiklah. Ayo minum-minum hingga kita pingsan nanti.” Sehun membangkitkan suasana. Namun ucapan berikutnya terdengar lirih, “Kita sudah berjanji.”

Jongin mengangguk, “Iya. Aku akan menunggu.”

Setelah berpamitan pada teman-teman sekelasnya dan guru-guru, Jongin bergegas pulang. Sebaiknya ini dengan cepat di hentikan karena ada banyak orang-orang yang menangis. Dia tidak ingin melihat tangisan seperti itu lagi.

“Kembalilah ke kelas, tidak perlu mengantarku.”

Krystal langsung menggeleng, “Aku ingin mengantarmu hingga halte. Lagipula aku sudah minta ijin.”

“Dasar.” Jongin mengacak rambut Krystal lalu keduanya melanjutkan langkah.

Sesampainya di halte, Krystal lagi-lagi mencuri waktu untuk menemani Jongin menunggu hingga bus datang. Tidak ada yang bisa di lakukan Jongin karena kekasihnya itu kini sangat keras kepala.

“Aku akan pergi ke Jeju siang ini.”ucap Jongin sambil menggenggam tangan Krystal. “Aku akan memberitahu appa tentang penyakitku dan membawanya kesini.”

“Mau aku temani?” Krystal menoleh, menatap Jongin.

“Tidak usah. Sebentar lagi ujian kenaikan kelas, kau harus belajar dengan giat.”

“Apa gunanya belajar? Sekarang aku duduk sendirian.” Gadis itu memajukan bibirnya ke depan.

“Kau bisa duduk dengan Sulli atau Amber. Jika kau tidak mengerti matematika, kau masih bisa bertanya padaku.”

“Tetap saja menyebalkan.” Ia mendesah panjang.

Jongin terkekeh, “Kau sendiri kan yang menyuruhku untuk berobat. Mulai besok aku akan lebih rajin pergi ke rumah sakit.”

Ekspresi Krystal langsung berubah khawatir, “Kau masih punya simpanan uang?”

Jongin mengangguk, “Guru-guru dan teman-teman memberikan sedikit uang untukku. Aku akan menggunakannya untuk berobat.”

“Kau akan pergi sendiri?”

Jongin kembali mengangguk.

“Haruskah aku meminta ahjumma untuk menemanimu? Setidaknya harus ada yang menemanimu. Bagaimana jika kau pingsan tiba-tiba lagi?”

Jongin terdiam sesaat sebelum membalas ucapan Krystal, “Aku mengerti jika kau ingin aku dan dia berbaikan. Tapi semuanya tidak sesederhana itu. Aku belum bisa menerimanya kembali.”

“Kenapa? Dia tetap ibumu.”

“Aku tau. Hanya saja setiap kali mengingat kejadian masa lalu, aku kembali membencinya.”

“Setidaknya jangan mengusirnya lagi. Dia sudah susah payah membuatkanmu makanan. Setidaknya suruh dia masuk dan makan makanan buatannya.”ucap gadis itu masih menatap Jongin. “Kau bilang kau mau belajar membuka hati. Itu adalah salah satu caranya.”

Jongin mendesah panjang, ia merangkul pundak Krystal dan menariknya agar gadis itu mendekat. “Terima kasih karena kau selalu ada untukku. Terima kasih karena kau tidak pernah pergi.”

“Memangnya aku mau pergi kemana?”gerutu Krystal sambil melingkarkan kedua lengannya di pinggang Jongin. “Aku tidak akan pergi kemanapun.”

Jongin tersenyum lalu mengecup puncak kepala Krystal, “Aku tau. Terima kasih.”

“JONGIN!” Tiba-tiba seseorang berteriak memanggil Jongin. Jongin dan Krystal menoleh kearah sumber suara dan mendapati Yoona sedang berlari kearah mereka. Wanita itu langsung memeluk Jongin sambil menangis terisak.

“Apa yang terjadi? Kenapa kau tidak memberitahuku, huh? Kenapa kau menyembunyikannya?”

Jongin mengerjap bingung, “Noona…”

Yoona melepaskan pelukannya lalu memukul-mukul Jongin pelan, “Dasar bodoh. Harusnya kau memberitahuku!”

“Jadi noona juga sudah mengetahuinya?”

“Ibumu menangis menelponku dan setelah itu aku langsung terbang kesini. Bagaimana itu bisa terjadi?”

Jongin mencekal kedua lengan Yoona dan tersenyum, “Terima kasih karena sudah datang kemari noona. Tapi aku tidak apa-apa.”

“Jangan membohongiku!”balas Yoona. Wanita itu melepaskan syalnya dan memakaikannya pada Jongin.

Jongin langsung berdecak, “Aku sudah memakai syal. Kenapa noona memakaikanku lagi?”

“Kita ke rumah sakit sekarang, hm? Aku tau dokter yang hebat. Dia pasti bisa menyembuhkanmu.” Yoona menarik lengan Jongin namun Jongin menahannya.

“Aku harus pergi ke Jeju. Aku ingin bertemu appa.”

“Jongin!”

“Noona…” Jongin melepaskan syalnya dan kembali memakaikannya pada Yoona. “Aku sungguh tidak apa-apa jadi noona tidak usah khawatir. Lagipula selama ini ada dia yang merawatku.” Ia menunjuk Krystal.

Yoona menghusap air matanya, “Setelah kau kembali, kita pergi ke rumah sakit oke?”

“Iya. Aku tau.” Jongin mengulurkan tangannya dan menepuk-nepuk kepala Yoona. “Aku harus pergi sekarang. Busnya sudah datang.”

“Bagaimana jika aku mengantarmu?” Yoona kembali menahan lengan Jongin.

“Tidak usah noona. Aku akan pergi sendiri.” Jongin tersenyum sambil melepakan cekalan tangan Yoona. Sebelum memasuki bus, ia menoleh sesaat kearah Krystal, “Kembalilah ke sekolah. Di luar sangat dingin.”

Krystal mengangguk, “Hati-hati.”

Dua wanita itu masih berdiri di tempat mereka bahkan setelah bus tak terlihat lagi. Mungkin mereka sama-sama mengerti. Tetap menunggu hingga dia kembali.

“Dia baik-baik saja, kan?” hingga akhirnya suara Yoona memecah keheningan.

“Aku harap begitu, unnie.”jawab Krystal pelan. Lalu ia menatap Yoona, “Aku harus kembali ke sekolah sekarang. Jika unnie mau, kita bisa bertemu setelah sekolah selesai.”

Yoona kembali menghusap air matanya lalu mengangguk, “Baiklah. Aku akan menjemputmu nanti.” Serunya sembari tersenyum.

***___***

“Soojung-ah!” Sulli langsung melompat ke sisi Krystal begitu bel istirahat berbunyi. Gadis tinggi itu menarik lengan sahabatnya, “Ayo ke kantin. Ayo! Kita sudah lama tidak makan bersama.”

“Aku tidak lapar. Kalian duluan saja.”

“Jangan begitu. Aku tau kau sedang sedih karena duduk sendiri tapi aku sedang berusaha untuk menghiburmu.”

“Sulli…”

“Ayolah. Ayo….” Sulli menarik-narik lengan Krystal sambil melompat-lompat, berusaha membujuk sahabatnya itu.

Krystal menghela napas panjang dan akhirnya berdiri dari duduknya. Sulli langsung tersenyum lebar dan menggandeng lengan Krystal, “Amber ayo!”

“Okay!”balas Amber mengikuti langkah mereka.

“Haruskah aku pindah ke belakang dan menemanimu, heum?”

Krystal menggeleng, “Tidak usah. Aku akan membiasakan diri.”

“Sungguh? Tidak apa-apa?”

“Tidak apa-apa.” Gadis itu menggeleng. “Tunggu sebentar.” Ia menghentikan langkah dan meraih ponselnya karena benda kecil itu berdering. Nomor yang tidak di kenal. Keningnya berkerut bingung, “Yeoboseyo.”

“Apa ini nona Jung Soojung?”

“Iya. Siapa ini?”

“Kami dari pihak rumah sakit. Apa anda mengenal Kim Jongin?”

Perasaan Krystal seketika memburuk, “Iya, aku mengenalnya!”

“Saudara Kim Jongin terlibat dalam kecelakaan mobil siang ini dan sekarang dia sedang di tangani. Kami butuh perijinan dari pihak keluarganya karena kami harus menjalani operai.”

Seketika Krystal terperangah hebat, “Apa…?”

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

9 thoughts on “SELENE 6.23 (LONG DISTANCE BETWEEN US) PART 23

  1. mongkailate berkata:

    aku sudah pernah menduga kalau cerita ini akan berakhir dengan perpisahan mereka, aku jg sdh menduga tentang kecelakaan itu krn ada di video trailernya. tp awalnya gada pikiran sama sekali kalau jongin akan punya penyakit jadi kupikir mija merubah cerita dari trailernya. tapi well, ini dia kecelakaan itu. T_T jongin.. aku hny bs berharap semoga ada momen indah sebelum semua berakhir.

  2. asahi berkata:

    Boleh berharap kalau jongin tetap hidup ngak?? Happy ending?? Kalau ngak buat jongin bahagia d sisa hidupnya
    Curahan Hati kwkwkw..
    Thanks for update 😁😁😁

  3. mongochi*hae berkata:

    lohhh kok jongin kecelakaan ?
    gk ckup ap dg dia sakit jgn dtambah2 dongg…

    hiks hiks mewek bacany..
    baper

    next part dtunggu

  4. So_Sehun berkata:

    Alamak jang…apalagi itu…
    Chingu ya….bang jongin itu sdah sakit parah kenapa msih ditambah”in sakitnya dgn kecelakaan segala…
    Aduh….bang jongin seperti sdah jatuh tertimpa tangga pula….
    Sedih aku jadinya….😢😢😭

  5. atikhans berkata:

    aigo kenapaha hidup jongin serumit ini, knapa harus ada kecelakaan jga coba..
    kecelakaan mobil? bkankan dia td naik bus ? ..
    aish ini bikin penasaran ditunggu next chapternya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s