SELENE 6.23 (LONG DISTANCE BETWEEN US) PART 22

selene new

Tittle                            : Selene 6.23 (Long Distance Between Us)

Author             : Ohmija

Main Cast        : Kim Jongin, Krystal Jung, Choi Minho

Support Cast   : Taemin, Sulli, Amber, Sehun, Jessica, Jonghyun, dll

Gnere              : Romance, School life, Comedy, Sad

“Kau… serius?” Taemin menelan ludah pahit. Tidak percaya dengan apa yang telah di dengarnya. Jongin telah menceritakan semuanya. “Ini… tidak benar, kan? Kau pasti bercanda, kan?”

Jongin tersenyum kecut menatap sahabatnya itu, “Maafkan aku karena baru sekarang aku mengatakannya. Aku hanya tidak mau—“

“Tidak.” Taemin menggeleng kuat-kuat. “Kau pasti sedang mengerjaiku. Tidak mungkin. Ini pasti tidak benar.”

“Taemin…”

Masih menangis dalam tunduknya, Krystal kembali memeluk kekasihnya itu, “Keajaiban pasti akan datang. Kau tidak akan meninggalkanku.”

***___***

 

Krystal turun dari bus yang di tumpanginya lalu berjalan dengan langkah-langkah lunglai menuju gedung apartement. Kepalanya terus tertunduk, tidak menatap ke depan namun menatap tanah yang sedang di pijaknya. Dia lelah menangis, bahkan hingga rasanya ia sulit bernapas karena dadanya terlalu sesak.

“Soojung?”panggilan seseorang membuatnya mengangkat wajah. Seorang wanita paruh baya berjalan menghampirinya dengan senyum lembut. “Kau baru pulang? Mana Minho? Tidak pulang bersamamu?”

Krystal terdiam, mencoba mengembalikan kesadarannya, “Minho oppa memiliki jadwal tambahan jadi aku pulang lebih dulu.”

“Sungguh? Ah, anak itu membuatku khawatir. Ponselnya tidak aktif.”wanita yang ternyata adalah ibu Minho itu berseru khawatir. Lalu ia menghusap pundak Krystal lembut, “Kalau begitu masuklah, ahjumma akan menunggu disini.”

Wanita itu berjalan ke depan, menjatuhkan diri di sebuah kursi. Krystal menoleh ke belakang, mengikuti langkah wanita itu. Untuk beberapa saat ia tertegun sebelum akhirnya kembali menghampirinya.

“Ahjumma.”panggilnya pelan. Ia menjatuhkan diri di sampingnya.

“Ada apa Soojung?”

“Ahjumma…” Krystal menelan ludah, menatap wanita itu lekat. “Jongin…”

Ekspresi wajah ibu Minho langsung berubah, “Soojung, aku tidak ingin membicarakannya.”serunya cepat.

“Ahjumma tapi… ada yang harus aku katakan. Ini tentang Jongin.”

“Dia hanyalah masa laluku.”

Krystal terkejut begitu mendengar ucapan ibu Minho barusan. Masa lalu? Bagaimana bisa seorang anak menjadi masa lalu? Krystal mengepalkan tangannya di samping tubuh, “Bukankah Jongin adalah anak ahjumma juga?”balasnya mulai kesal. “Walaupun ahjumma mengelaknya, kenyataan itu tidak akan pernah berubah. Jongin adalah anak ahjumma dan akan selalu begitu.”

“Tutup mulutmu!”bentak ibu Minho lantas berdiri dari duduknya. “Apa yang kau tau? Kau tidak tau apapun jadi tutup mulutmu!”

“APa Jongin telah melakukan sesuatu?” Krystal masih tak gentar. Ia membalas ucapan ibu Minho dengan nada pelan. “Apa Jongin telah melakukan sesuatu hingga ahjumma menghukumnya seperti ini?! Apa ahjumma pernah berpikir ketika dia sakit, dia akan merawat dirinya sendiri. Dia bahkan bekerja untuk biaya hidup dan sekolahnya. Apa ahjumma pernah memikirkannya?”

“Soojung.”tiba-tiba seseorang menahan lengan Krystal. Minho muncul dan berdiri di hadapannya, menutupi tubuh ibunya yang berdiri di belakang. “Hentikan.”

“Kenapa?”balas Krystal tidak terima. “Kenapa aku harus diam? Oppa, oppa juga tau jika—“

“Aku yang akan memberitahunya.”bisik Minho pelan. “Aku yang akan memberitahunya nanti.”

“Kita sudah tidak punya banyak waktu. Waktunya tinggal sebentar lagi!”

“Aku tau!”balas Minho dengan nada tegas membuat Krystal langsung terdiam. “Percayakan padaku. Aku akan melakukannya.”

Untuk sesaat Krystal termenung hingga akhirnya ia menatap Minho sambil menggeleng, tangan kanannya menurunkan cekalan Minho di lengan kirinya, “Tidak.”ucapnya. “Aku tidak bisa percaya pada kalian lagi.”

***___***

 

“Aku tidak mengerti apa yang terjadi dengannya. Dia tiba-tiba saja diam dan tidak mau bicara. Setiap kali aku ajak bicara, dia hanya membalasnya secara singkat atau bahkan tidak membalasnya sama sekali. Apa dia sudah bosan denganku?”seru Sulli uring-uringan pada Amber pagi itu. “Dia bahkan tidak menjemputku pagi ini dan tidak membalas pesanku sejak semalam! Kenapa? Jika dia bosan, harusnya dia mengatakannya. Aku akan mencari pria lain yang lebih baik.”

Amber menghela napas, “Mungkin dia ada masalah.”

“Masalah apa? Tidak ada masalah apapun.”

“Mungkin kau tidak tau.”

Sulli langsung menoleh menatap Amber, “Maksudmu dia menyembunyikan sesuatu dariku?

Amber mengendikkan kedua bahu, “Aku tidak tau.”

“Amber!!!!”seru Sulli gemas. “Katakan dengan jelas. Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan.”

“Jika kau ingin tau, tanyakan saja padanya secara langsung.”

Sulli menghela napas panjang, “Aku sudah bertanya tapi…” Ucapannya terhenti begitu melihat wajah Amber yang menatap ke arah pintu. Sulli menoleh ke belakang dan mendaoati Taemin muncul besama Sehun dan Jonghyun. Eskpresi wajahnya terlihat keruh dan terdapat lingkaran hitam di bawah matanya.

Gadis itu langsung berdiri, hendak akan memanggil Taemin. Namun, baru saja membuka mulutnya, Taemin sudah berjalan pergi meninggalkan kelas bersama dua temannya.

Sulli kembali mendesah panjang dan terduduk di kursinya, “Dia pasti sudah bosan denganku.”serunya sedih. “Dia bahkan tidak mau melihatku sama sekali.”

Amber mengulurkan tangan, menepuk-nepuk punggung Sulli, “Sudahlah. Tanyakan lagi padanya nanti.”

Sementara itu berdiri di koridor utama, Taemin, Jonghyun dan Sehun berdiri dengan punggung menempel pada dinding. Ketiganya diam, terus menatap kearah lantai yang mereka pijak dengan pikiran masing-masing. Terlalu sesak hingga rasanya tidak bisa bicara. Terlalu tiba-tiba untuk menjadi kenyataan.

Jika saja mereka sedikit lebih peka dan mengetahuinya lebih awal, mungkin tidak akan seperti ini. Jika saja mereka tidak selalu percaya jika sahabat mereka itu bisa menyelesaikan semua masalah sendiri, mungkin semuanya akan berubah.

“Apa yang kalian lakukan disini?”suara Jongin membuyarkan lamunan ketiganya. Mereka sama-sama mendongak. “Sebentar lagi bel berbunyi, kenapa kalian tidak ke kelas?”

Ketiganya terdiam sesaat, “Kami menunggumu.” Sehun menjawab pelan.

Kening Jongin berkerut, “Kenapa?”

Kembali hening sesaat sebelum akhirnya Taemin menarik punggungnya dan menggerakkan dagunya, “Ikut kami.”

***___***

 

Jongin menatap amplop putih yang ada di genggaman tangan Taemin. Kemudian mengembalikan tatapannya pada sahabatnya itu, “Apa itu?”

“Terimalah.”

“Tapi itu apa?”

Taemin menelan ludah. Ingin sekali rasanya ia menghajar dirinya sendiri karena nyaris gagal menahan emosinya, “Kita cari dokter lain.”

“Maksudmu… itu untuk biaya pengobatanku?”

“Hanya ini yang bisa kami lakukan untukmu.”

Jongin tertawa mendengus, “Kalian meremehkanku, ya?”ketusnya mulai kesal. “Aku bisa mengobati diriku sendiri.”

“Bukan meremehkanmu. “sahut Sehun. “Ini adalah bentuk penyesalan kami.” Pria tinggi itu berdiri di samping Taemin, menatap Jongin lurus, “kenapa?”tanyanya. “Kenapa kau tidak pernah memberitahu kami? Apa karena kami tidak ada gunanya jadi kau memutuskan untuk memendamnya sendirian? Apa karena kami sama sekali tidak akan membantu jadi kau seperti ini?”

Jongin hanya diam, hanya membalas tatapan Sehun.

“Aku selalu menceritakan semua rahasiaku padamu. Bahkan rahasia yang sangat memalukan hingga kalian selalu mengejekku. Tapi kenapa kau tidak begitu?”nada suaranya mulai bergetar. “Jongin aku pikir…kita adalah sahabat.”

“Sehun, aku…”

“Jonghyun menjual playstation-nya, Taemin menjual CD Michael Jackson-nya dan aku memecah tabunganku. Bukan karena meremehkanmu tapi karena kami perduli. Karena kau adalah sahabat kami. Karena saat kau tidak ada…” Ucapan Sehun terhenti. Ia menelan ludah susah payah untuk membersihkan tenggorokannya yang toba-tiba terasa cekat. “…kami akan selalu mencarimu.”

Rahang Jongin mengeras. Sama halnya dengan Sehun, ia sedang mati-matian menahan tangis. Menahan air mata yang memaksa untuk keluar. Rasa sesak itu, juga perasaan bersalah.

Sehun lebih dulu menghusap air matanya karena gagal mempertahankan tangisnya, “Maafkan aku, Jongin. Jika saja aku lebih peka dan selalu bertanya keadaanmu, mungkin semuanya tidak akan seperti ini.” Pria itu tersenyum kecut sambil kembali menghusap air matanya lalu berbalik pergi meninggalkan tempat itu.

“Sehun.”panggil Jonghyun berusaha menghentikannya. “Ya, Oh Sehun!”panggilnya lagi. “Aissh, anak itu.” Jonghyun berlari keluar mengejar Sehun.

“Kemarin setelah aku memberitahunya, dia menangis semalaman. Aku dan Jonghyun terpaksa menemaninya agar dia bisa tenang. Maafkan aku karena aku telah memberitahu mereka.”

Jongin masih diam, ia menatap Taemin tepat di manik mata. Bukan benci namun terima kasih. “Tidak apa-apa.” Ia menggeleng. “Ini saatnya kalian mengetahuinya. Aku tidak mau menyembunyikannya lagi.”

“Jangan memikirkannya, kau tau dia sangat cengeng.”

Jongin kembali menggeleng, “Tapi dia sangat jujur.”ucapnya pelan. “Dia benar, harusnya aku memberitahu kalian sejak awal. Karena kalian sahabatku.”

“Jongin…”

“Sekarang aku menyesal. Sekarang aku sangat takut. Aku takut akan kehilangan kalian.”

***___***

 

Minho menjulurkan kepalanya dari pintu kamar, menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan keadaan. Sepertinya ayahnya akan pulang terlambat hari itu.

“Kenapa? Kau sudah lapar?” Suara ibunya membuatnya terkejut. “Kenapa kau melirik sekeliling seperti itu?” ia tertawa melihat tingkah Minho.

“Eoma.” Pria tinggi itu keluar dan menutup pintu di belakangnya. “Apa appa akan pulang terlambat?”

“Yah, sepertinya. Kita makan duluan saja, bagaimana?”

“Baiklah.”

Minho mengikuti ibunya menuju meja makan.

“Eoma.” Panggilnya pelan sambil memperhatikan ibunya yang sedang mengambilkan nasi untuknya.

“Hm?”

“Bolehkah aku mengatakan sesuatu?”

“Tentu saja.” Ibunya menatapnya dengan senyum lembut. “Tentang apa?”

Minho terdiam sejenak. Mencari-cari kata yang tepat untuk memulainya. “Jongin… dia sakit.”ucapnya lirih.

Di tempatnya ibunya langsung membeku, namun buru-buru tersenyum kembali menatap Minho, “Minho-ya, kita sudah sepakat untuk tidak membicarakannya,kan? Jika appa mengetahuinya, dia bisa marah.”

“Yang aku maksud bukan sakit seperti flu atau demam. Tapi sangat sakit.” Minho bersikap seolah dia tidak mendengar apapun. “Eoma, Jongin sudah tidak memiliki banyak waktu. Dia benar-benar sakit.”

“Minho, eoma tidak mengerti apa yang sedang kau katakan.”

“Kanker.” Dia menatap ibunya lurus. “Dia di vonis mengidap kanker sejak beberapa tahun yang lalu.”

Detik itu juga matanya membulat lebar, ia terperangah tak percaya. “K-kau… bercanda, kan?”tanyanya terbata. “Minho… kau pasti berbohong, kan?”

Minho menggeleng pelan, “Dia sudah tidak memiliki banyak waktu.”

Nyonya Choi menutup mulutnya dengan telapak tangan bersamaan dengan tangis yang langsung tumpah. Seketika ia terisak, benar-benar sesak. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat berusaha menolak kenyataan. Bagaimana mungkin? Jongin adalah anak yang kuat sejak kecil. Dia tidak pernah sakit. Lalu bagaimana mungkin dia mengidap kanker?

Minho berdiri, menghampiri ibunya dan membungkukkan tubuh. Memeluk wanita itu sambil menghusap-husap punggungnya, “Pergilah eoma. Saat ini dia sendirian.”

***___***

 

“Ya! Cepat buka pintunya! Ya!” Jessica menendang bokong Krystal hingga adiknya itu terguling dari sofa.

“Unnie!”balas Krystal ikut berteriak, gadis itu berdiri sambil menghusap-husap bokongnya yang berhasil menghantam lantai. “Berhenti menendangku!”rutuknya kesal lalu berjalan menuju pintu.

Begitu pintu terbuka, ia terkejut begitu melihat Minho bersama ibunya sudah berdiri di sana. Minho terlihat sedang merangkul bahu ibunya sementara ibunya menunduk menyembunyikan matanya yang sembab.

“Omoni…”seru Krystal pelan. “Ada apa?”

Nyonya Choi mengangkat wajahnya, menatap Krystal dengan wajah yang masih basah, “Bisakah aku meminta bantuanmu?”

Mata Krystal membulat lebar, “Omoni? Omoni menangis?”

Namun nyonya Choi mengabaikan pertanyaan Krystal itu. Ia mengulurkan tangan dan menggenggam kedua tangan Krystal erat-erat, “Tolong bantu aku.”

“Huh?”

***___***

 

Pria itu duduk bersandar pada sandaran tempat tidurnya. Kedua matanya terpejam, tenggelam dalam pikiran kalutnya. Helai-helai rambut berserakan di atas selimutnya, juga bercak darah yang tertinggal di jari-jari tangannya. Ia menghela napas panjang. Kini tidak hanya mimisan, tapi rambutnya juga mulai rontok. Apa daya tahan tubuhnya sudah mulai memburuk? Apa semua obat-obatan itu sudah tidak bisa menahan penyakit ini?

Ia kembali menghela napas panjang. Berusaha menenangkan diri. Namun kepalanya justru menampilkan wajah-wajah orang-orang yang ia sayangi. Saat ini, apa yang sedang ayahnya lakukan? Apa dia baru kembali dari pasar? Apa dia kelelahan? Apa dia sudah makan?

Dia hidup seorang diri di hari tuanya, bahkan harus tetap bekerja untuk menafkahi hidupnya dan Jongin. Terkadang, dia merasa bersalah karena telah membiarkannya melakukan itu seorang diri.

 

Tok Tok

 

Jongin membuka matanya, suara ketukan pintu membuyarkan pikirannya. Pria itu menepis selimutnya dan berjalan menuju pintu. Siapa yang datang malam-malam begini?

Pria itu membuka pintu, pertama kali mendapati wajah Krystal yang terlihat kikuk lalu wajah seseorang yang penuh tangis berdiri di sampingnya. Jongin seketika terdiam di tempatnya. Terperangah. Membeku. Visual itu tidak lagi berada dalam mimpi-mimpinya, tidak lagi sebatas khayalan, namun nyata. Berdiri di depannya dengan tatapan yang dulu mampu membuatnya tenang.

Tangis wanita itu kembali tumpah. Di peluknya Jongin yang masih terdiam erat-erat. Menumpahkan seluruh sesal dan kesedihannya di dada seorang anak yang baru ia sadari telah tumbuh sangat tinggi.

Sementara Jongin sedang berusaha mengembalikan kesadarannya yang tiba-tiba melambung jauh. Berusaha meyakinkan dirinya jika ini adalah kenyataan. Ini bukan mimpi atau khayalannya. Saat ini, dia benar-benar mendapatkan pelukan itu. Pelukan yang sudah lama menghilang.

***___***

 

Masih terkejut atas kedatangan yang tiba-tiba itu. Jongin duduk diam sambil terus menerawang ke arah lantai. Di sampingnya, ibunya duduk sambil terus menatap kearahnya. Dengan tatapan penuh rasa bersalah juga sesal. Sementara Krystal memilih untuk duduk di teras, memberikan waktu agar keduanya bisa bicara.

“Untuk apa anda kemari?”tanya Jongin akhirnya dengan bahasa yang sangat sopan. “Lingkungan di area ini berbahaya, jadi sebaiknya anda pulang.”

Nyonya Choi menelan ludah susah payah, berusaha untuk meredam tangisnya, “Jongin, eoma…”

“Aku tidak punya ibu.”sahut Jongin cepat. Di tatapnya kedua manik mata wanita itu lekat.

Nyonya Choi mengangguk, memaklumi. Karena atas seluruh perbuatan yang telah ia lakukan pada anak itu, ini adalah balasan setimpal. “Kenapa kau tidak memberitahu eoma sebelumnya? Kenapa kau tidak memberitahu jika kau sedang sakit?”

Jongin tertawa mendengus, “Apa anda akan perduli?”desisnya dingin. “Apa anda lupa apa yang telah anda lakukan untukku dan ayah?”

“Maafkan eoma, Jongin. Saat itu eoma…”

“Sudah terlambat.” Jongin menggeleng. “Jika saat itu aku di beri penjelasan, mungkin aku tidak akan membenci anda hingga seperti ini. Semuanya sudah terlambat. Yang aku tau, anda pergi meninggalkanku dan ayah! Anda hidup bahagia bersama keluarga baru anda sementara aku dan ayah harus berjuang keras agar kami bisa hidup. Apa anda tau dampak yang sudah anda berikan untuk kami?” rahang Jongin mengeras. “Ayah terus minum-minum hingga beberapa tahun karena depresi dan aku yang saat itu masih sangat kecil harus melihat ayah mabuk-mabukkan setiap hari! Dia di pecat dari perusahaannya hingga kami harus pergi ke supermarket setiap hari untuk mencoba tester makanan. Karena kami tidak punya uang sama sekali untuk membeli nasi! Kami hidup sangat susah dan berkali-kali kami harus pindah rumah karena tidak mampu membayar uang sewa. Dan bagaimana dengan anda? Apa anda pernah perduli? Anda justru pergi dan hidup bahagia bersama mereka!”

“Jongin, ini salah eoma. Tapi dengarkan dulu…”

“AKU TIDAK PUNYA IBU!”bentak Jongin hingga membuat Krystal yang berada di teras terkejut. “Semuanya sudah terlambat jadi jangan pernah perduli padaku lagi! Bahkan jika aku mati, jangan pernah memperdulikanku! Karena bagiku…” Jongin menghentikan ucapannya sejenak. “…ibuku sudah tidak ada. Dia juga sudah mati.”

Pernyataan itu adalah pukulan keras yang tepat menghantam dadanya. Nyonya Choi langsung menundukkan kepalanya, tangisnya kembali tumpah. Ia tau dia bersalah dan ia tau jika dia memang pantas untuk di benci. Tapi untuk waktu yang mungkin saja akan menjadi sangat singkat, bisakah ia di berikan kesempatan? Setidaknya untuk kembali menjadi seorang ibu. Untuk Jongin.

“Jongin, kau tidak boleh bicara seperti itu.” Krystal yang mendengarnya langsung masuk ke dalam dan menghampiri Jongin. “Ahjumma sudah menyesal. Apa kau tidak bisa memaafkannya?”

“Apa perbuataannya bisa di maafkan?”balas Jongin cepat, kedua matanya mulai berair. “Apa kau tau bagaimana rasanya di tinggalkan semua orang? Apa kau tau bagaimana rasanya setiap hari kau harus berjuang untuk hidupmu bahkan sampai kau lupa caranya tersenyum? Kau tau?!!”

Krystal menelan ludah. Hanya diam. Namun menatap Jongin dengan tatapan kesal karena sikap tidak sopannya. Kemudian gadis itu menghampiri nyonya Choi dan membantunya untuk berdiri.

“Ahjumma, ayo. Sebaiknya kita pulang sekarang.”

Krystal membawa nyonya Choi pergi dari sana. Meninggalkan Jongin yang langsung menumpahkan emosinya. Pria itu menendang semua barang yang ada di dekatnya dengan membabi buta. Agar sesak di dadanya pergi, agar amarah yang selama ini di simpannya tersalurkan.

Kenapa baru sekarang? Kenapa pada saat dia akan mati wanita itu baru perduli?

Hingga akhirnya pria itu akhirnya luruh melunglai. Jatuh terduduk di lantai dengan kepala tertunduk dalam-dalam. Air matanya tanpa sadar merembes melalui sudut matanya.

“Brengsek.”umpatnya.

Karena jauh di dasar hatinya, dia rindu.

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

9 thoughts on “SELENE 6.23 (LONG DISTANCE BETWEEN US) PART 22

  1. ellalibra berkata:

    Sumpah y eonni ini sedih bgt huaaaaaaaaaaa ….. Sll mewek spt biasa … Jonginie malang nian nasibmu huhuhuuu …
    Iya knp baru skrg ibunya pengen jd ibu bt jong disaat dy akan meninggal
    jongin ky ank yg jd korban dr sikap egois ortu nya ….neeeeeeext eon fighting 😀

  2. han berkata:

    brengs*k ini jga menyakitiku jongin sakit akupun jga ..
    huaa kaka ohmija ini benar2 ff trkeren nyesek wktu baca “dia hanya masalaluku” duh rasanya mak jleb ..
    ditunggu next chapternya . jgan lama2 yak. fighting

  3. mongochi*hae berkata:

    Ak mewek….
    knp jga badu skrng ibuny jongin datang dan menyesal ?
    Stlh jongin sakit gini..
    ckck keterlaluan…

    next part dtunggu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s