NCT’s Story – A Story part 7

121850595

Tittle                            : NCT’s Story – A Story

Author             : Ohmija and MinnieBin

Main Cast        : NCT U and NCT 127

Genre              : School life

“Jaehyun hyung!” Mark melambaikan tangannya pada Jaehyun.

Jaehyun yang sedang mengobrol dengan beberapa murid lain langsung menoleh, “Kau sudah datang?” senyumnya semakin mengembang lebar ketika melihat seorang gadis yang berdiri di belakang Mark. “Oh? Kau membawa seseorang?”

“Aku pikir dia akan bosan jadi aku membawanya kemari. Tidak apa-apa, kan?”

“Tentu saja tidak apa-apa.” Jaehyun mengalihkan tatapannya pada Somi yang terlihat malu. “How are you, Somi? You still remember me, right?”

“Uh?” Somi menoleh bingung.

“Dia tinggal di Amerika selama 4 tahun jadi dia sangat pandai bahasa Inggris.”

“Sungguh?” mata Somi membulat. “I still remember you, sunbaenim. Eumm… Jaehyun sunbaenim, right?”

“Absolutely!” Jaehyun mengangguk mantap. “But I’ve told you to not call me sunbaenim, right? Just call me oppa.”

“But…” Somi terlihat ragu-ragu.

Mark terkekeh, “Dia bertemu dengan Yeri tadi, aku rasa gadis itu mengatakan sesuatu padanya.”

Jaehyun ikut terkekeh, “Jangan hiraukan dia. Terkadang dia mengatakan hal-hal aneh.” Ucapnya lembut. “Duduklah disana. Aku harus meminjam Mark dulu. Is that okay?”

“Of course!” Somi mengangguk semangat. “Aku akan duduk disana.”

“Tunggu sebentar. Aku akan segera kembali.”seru Mark lalu mengikuti langkah Jaehyun ke tengah lapangan.

Somi kembali mengangguk lalu menjatuhkan diri di kursi yang ada di pinggir lapangan. Beberapa murid baru terlihat berkerumun di tengah lapangan, sepertinya akan mendaftar klub basket.

Somi menatap ke sekeliling dan mendapati sebuah tulisan yang tertempel di dinding yang ada di belakangnya. Gadis itu berdiri, membaca tulisan yang ternyata adalah susunan anggota klub basket. “Oh?” Ia sedikit terkejut. Bukan terkejut karena mendapati posisi Jaehyun yang ternyata adalah seorang kapten namun saat membaca nama Mark dan mengetahui jika ternyata posisinya adalah Co-Captain.

“Pantas saja dia cukup popular.”

***___***

 

“Yuta, kau sibuk?”tegur Taeyong ketika mereka bertemu di koridor kelas.

“Tidak. Aku sudah menyelesaikan masalah klub. Kenapa?”

“Kita harus mengatur jadwal piket kelas. Ada waktu?”

“Sekarang?” Taeyong mengangguk. “Tentu. Ayo.”

Dua murid laki-laki itu berjalan memasuki kelas yang kini kosong karena seluruh murid sedang sibuk mengatur jadwal harian mereka. Hanya ada Quinn Jo dan Xi Raby yang sedang duduk di sudut ruangan, menunggu Taeyong dan Yuta.

“Cepatlah. Aku tidak punya banyak waktu. Aku harus mengurus klub.”omel Xi Raby sambil mengetuk-ngetukkan bolpoinnya ke meja.

Yuta dan Taeyong terkekeh, “Kami tau kau adalah gadis yang sibuk. Mian.”ucap Yuta lalu duduk di samping gadis cantik itu.

Quinn Jo menyodorkan selembar kertas kearah Taeyong, “Ini daftar nama murid-murid sekelas.”

“Karena aku adalah murid baru. Aku pikir aku akan menyerahkannya pada kalian saja.”

“Raby, kau saja yang urus.”sahut Yuta.

“Benarkah? Kalian tidak akan protes jika aku menempatkan kalian di hari apapun, kan?”

Yuta menggeleng, “Tidak akan. Itu terserah padamu saja.”

“Oke. Aku akan mengaturnya.”

“Lalu semuanya sudah beres, kan?”

“Ya, kau bilang kau tidak sibuk. Kenapa terburu-buru seperti itu?”ucap Taeyong.

Yuta tersenyum, “Aku harus mengurus organisasi. Hari ini sepertinya akan menjadi hari yang sangat sibuk.” Ia menepuk pundak Taeyong lalu beranjak dari duduknya. “Kita bertemu nanti.”

Bersamaan dari arah pintu, seseorang yang baru saja memasuki kelas terkejut karena mendapati kelas sangat kosong dan hanya menyisahkan empat murid di dalamnya. Langkahnya terhenti seperti seorang maling yang sudah tertangkap basah. Sedikit kikuk ia membalas tatapan empat murid itu.

“Kau Ji Yoo, kan? Kim Ji Yoo?”tanya Yuta.

Ji Yoo mengangguk kikuk, “Yah.” Lalu melanjutkan langkah menuju kursinya.

“Kau sudah mengatur jadwalmu?”

“Yah, sudah. Aku sudah memberikannya pada wali kelas.”

“Kau bergabung dengan klub mana?”

“Tari.”jawab Ji Yoo pendek. ‘Berhenti bertanya padaku. Apa kau tidak lihat temanmu itu sedang menatapku seakan dia akan memakanku?’ rutuk Ji Yoo dalam hati.

“Oh? Kalian pergi ke klub yang sama.” Yuta tersenyum lebar sambil menunjuk gadis itu dan Taeyong.

Quinn Jo memajukan tubuhnya, bertanya pada Taeyong, “Kau juga bergabung dengan grup tari?”

Taeyong mengangguk dengan senyum tipis, “Yah.”

Sementara di tempatnya, mata Ji Yoo terbelalak lebar, ‘dia juga bergabung dengan klub tari? Oh Tuhan. Aku benar-benar sial!’

“Pindah klub. Aku tidak mau bertemu denganmu.”decak Taeyong setengah kesal lalu berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan kelas.

Ji Yoo mendengus, “Memangnya siapa yang mau bertemu denganmu? Dasar brengsek.”

“Ya, Kim Ji Yoo.” Suara Ra By membuat gadis itu seketika tersentak.

“Y-ye?” Rasa gugupnya tanpa sadar membuatnya bicara dalam bahasa formal.

“Jadwal piketmu hari Rabu. Jangan lupa, oke?”

“Oh, oke.” Ia mengangguk kikuk. “Terima kasih.”

“Kalau begitu aku pergi dulu. Annyeong Quinn.”

***___***

 

Waktu berlalu sangat cepat dan tak terasa hari sudah beranjak gelap. Jam belajar memang belum efektif namun untuk sebagian murid, mereka tetap harus pulang malam hari. Termasuk Yuta, Jaehyun, Taeil, Mark dan Ten yang harus kembali ke asrama sedikit terlambat karena harus mengurus klub mereka.

“Sepertinya hubunganmu dengan Somi berjalan lancar, Mark.” Ten tersenyum menyeringai melirik kearah adik laki-laki yang tingginya kini hampir menyamainya itu.

Mark tertawa kecil, “Apa maksudnya ‘berjalan lancar’ hyung?”

“Dia bahkan membawanya ke gedung olahraga tadi.”sahut Jaehyun.

“Sudah ku bilang itu karena setelah itu kami akan menemui RaBy noona.”elak Mark sedikit malu.

“Kami? Kau tidak ikut klub pemandu sorak juga, kan?” Yuta ikut bersuara, menggoda Mark.

“Bukan begitu maksudku. Tadi…”

“Sudahlah. Mengaku saja. Terlihat sangat jelas jika kau menyukainya.”

“Apa yang sedang kalian katakan? Tidak. Bukan begitu.” Mark tetap mengelak namun wajahnya semakin berubah merah.

Ten merangkul pundaknya dan berseru, “Haruskah aku membantumu?”

“Ya, hyung. Tidak. Bukan begitu.” Mark menjauhkan tangan Ten dari pundaknya sambil mengibaskan tangan. “Jangan bicara yang tidak-tidak.”

“Baiklah. Baiklah. Sepertinya kami salah. Bukan kau tapi Ten yang menyukainya.” Yuta mengangguk-anggukkan kepalanya, bersikap seakan-akan dia sedang mengalah. “Iya kan, Ten? Kau yang menyukai Somi, kan?”

“Tdak hanya Ten. Tapi Haechan juga.” Jaehyun bergabung memanasi Mark.

“Sungguh?” Mark bertanya dengan ekspresi serius. “Ten hyung, kau menyukai Somi? Haechan juga?”

Ten mengangguk sambil menahan senyum, “Saat hari pertama, kami menunggunya di ujung koridor dan mengantarkannya hingga ke kelas. Yaah, bagaimana lagi? Kau tau aku tidak bisa melepaskan gadis cantik begitu saja, kan? Dan sepertinya Haechan juga menyukainya. Syukurlah jika kau tidak menyukainya jadi sainganku hanya Haechan.”

“Ya hyung.”balas Mark berdecak. “Bagaimana bisa kau menyukai gadis secepat itu? Kalian bahkan tidak saling mengenal dengan baik. Berhenti mempermainkan gadis-gadis, hyung. Hyung adalah murid tingkat akhir.” Begitu menyelesaikan omelannya, anak laki-laki itu berjalan lebih dulu memasuki gedung asrama.

Sementara di tempatnya, Ten mengerjap-ngerjapkan matanya bingung, “Apa tadi dia sedang memarahiku?”

Jaehyun tertawa, “Sepertinya begitu.”

“Kalau begitu semuanya semakin jelas, kan?”sahut Yuta ikut tertawa.

“Hey, tapi… ada hal yang tidak aku mengerti.” Akhirnya Taeil bersuara sambil menggaruk tengkuk belakangnya. “Somi? Siapa dia?”

Ten, Yuta dan Jaehyun serentak menghembuskan napas panjang, “Sudah ku bilang untuk berhenti mengencani pianomu, hyung. Kau terus berada di ruang latihan hingga tidak tau apa yang terjadi di dunia luar. Ck ck ck.” Ia geleng-geleng kepala dan menyusul langkah Mark.

“Aaaah, dasar. Kau yang paling tua tapi kau tidak pernah dewasa, hyung.” Yuta juga berdecak, sambil merangkul Jaehyun, keduanya meninggalkan Taeil.

***___***

 

Taeyong berjalan mengendap-endap menuju kamarnya. Juga dengan hati-hati membuka pintu agar tidak membangunkan yang lain. Semuanya terlihat sudah tidur. Kamar mereka sangat sunyi. Namun, baru saja akan melompat ke tempat tidurnya, suara seseorang mengagetkannya.

“Kau baru pulang, hyung?”

Taeyong menoleh ke belakang, “Jaehyun?”serunya seketika gugup. “Kau belum tidur?”

Jaehyun menarik tubuhnya untuk duduk, “Hyung, kau darimana? Saat kami pulang, kau sudah tidak ada.”

“Oh, aku harus bertemu teman.”

“Teman siapa? Sepertinya kau sangat sibuk dengan temanmu itu, hyung.”

Taeyong mengangguk, “Memang ada yang harus kami lakukan.”

“Hyung, aku tau kau sedang berbohong.”balas Jaehyun cepat. “Sebenarnya apa yang kau lakukan di luar sana, hyung?”

“Tidak ada. Hanya—“

“Sepertinya ada banyak hal yang sudah terjadi selama kau pergi. Aku tau kau sulit mengatakannya tapi aku akan menunggumu sampai kau memberitahuku, hyung.”

***___***

 

Ini sudah memasuki hari sabtu namun hingga saat ini Doyoung belum bicara sama sekali dengan teman sebangkunya. Teman sebangkunya terlalu cantik hingga membuatnya gugup. Juga kepribadiannya yang terkenal pemalu, membuatnya takut jika gadisi tu akan mengabaikannya.

“Tapi hingga tahun depan, dia akan menjadi teman sebangkuku, kan? Aku tidak bisa terus begini.”gumamnya pada diri sendiri. Lagipula dia adalah laki-laki, dia harus berani memulai percakapan.

“Apa yang sedang kau pikirkan?”suara Winwin membuatnya menoleh. “Kenapa bicara sendiri? Kau membuatku takut.”

Doyoung sedikit terkejut saat mendapati Winwin sudah ada di depannya. “Kau mengagetkanku saja.”omel Doyoung sambil menghusap-husap dada. “Darimana kau datang?”

“Tentu saja dari pintu.”jawab Winwin santai. “Aku tidak mungkin datang dari jendela, kan? Aku bukan Spiderman.”

Doyoung mendengus kesal, “Maksudku bagaimana bisa kau ada disini?”

“Ini kan kelasku juga. Aku harus belajar.”

“Menyebalkan. Jangan bicara denganku lagi.”

Winwin tertawa sambil meletakkan tasnya di atas meja, “Kau datang sangat pagi. Haechan bahkan baru saja mandi saat aku pergi tadi.”

”Kau juga datang sangat pagi.”

“Aku sudah terbiasa bangun pagi. Di sekolahku dulu, kami bahkan memulai kelas pukul 6 pagi.”

“Apa kau pergi ke sekolah militer?”balas Doyoung. “Aku tidak tau, hari ini tiba-tiba aku ingin bangun lebih awal.”

“Selamat pagi!” Tiba-tiba seorang gadis cantik melompat masuk ke dalam kelas. Ia tersenyum lebar sambil berjalan menuju kursinya dengan semangat.

Doyoung menatapnya dengan kening berkerut sementara Winwin tersenyum geli. Apa dia memang selalu bersemangat?

Gadis itu meletakkan tasnya di atas meja lalu menghampiri Doyoung, “Annyeong, aku Xi Raby. Kita belum mengenal satu sama lain, kan? Kau siapa?”

Doyoung menatap gadis itu semakin bingung, sesaat kemudian membalas uluran tangannya, “Doyoung. Aku Kim Doyoung.”

“Doyoung? Oke. Senang berjumpa denganmu.” Lalu Xi Raby menoleh kearah Winwin. “Dan kau…Oh? Kau yang membantuku kemarin, kan?”

Winwin mengangguk dengan senyum lebar, “Di depan papan pengumuman.”

“Yah, benar. Sekali lagi terima kasih karena kau telah membantuku kemarin.”

“Bukan apa-apa. Jangan khawatir.”

Di tempatnya Doyoung mendengus, “Bukankah aku juga ada di sana kemarin? Dasar menyebalkan.”

“Kalau begitu, bisakah kau membantuku sekali lagi?” Ra By meringis lebar, menunjukkan gigi kelincinya lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Gadis itu berjalan menuju meja Winwin, “Tolong tempelkan ini di sana.”

Winwin menerima lembaran-lembaran kertas itu dan membacanya, “Jadwal piket?”tanyanya kembali menatap Ra By.

Gadis itu mengangguk, “Kau tau tubuhku tidak terlalu tinggi jadi…”

“Baiklah.” Winwin berdiri dari duduknya dan berjalan menuju bagian belakang kelas. Tubuhnya yang tinggi membuatnya dengan mudah menempelkan kertas itu di sana.

Kedua sudut bibirnya semakin tertarik keatas. Ia tersenyum sangat lebar. “Terima kasih, ya.”

“Kau sudah berkali-kali mengatakannya.”balas Winwin lembut. “Jika kau butuh bantuan lag, panggil saja aku.”

Ra By mengangguk membuat poni-poninya bergoyang.Baru ia sadari ada laki-laki yang lebih keren dari Ten. Bahkan laki-laki ini lebih baik dari playboy itu.

“Kalian berdua terlihat sangat akrab.” Suara seseorang memecah lamunannya. Ia menoleh ke arah pintu dan langsung cemberut begitu melihat siapa yang sedang bicara. Ten berdiri di tengah dengan senyum menyeringai sementara Taeyong, Yuta dan Jaehyun mengapit kanan dan kirinya.

Winwin tersenyum, “Dia minta tolong untuk menempelkan jadwal piket disana.”

Ra By langsung melotot pada Winwin, “Kenapa kau memberitahunya? Kau tidak perlu menjelaskan apapun padanya.”ujar gadis itu langsung kesal. Ia menghentakkan kakinya ke lantai lalu berbalik pergi menuju tempatnya.

“Kenapa kau marah? Sebagai mantan kekasihmu, aku hanya berusaha untuk perhatian. Aku tidak ingin kau di sakiti lagi.”ucap Ten sambil berusaha menahan senyum.

Ra By berdecak sambil geleng-geleng kepala mendengar itu, “Wah, kau sangat tidak tau malu.” Ia menatap Ten kesal. “Bagaimana bisa kau berkata seperti itu setelah apa yang kau lakukan padaku? Dasar brengsek.”

Ten terkekeh, ia berjalan menuju tempat duduknya namun berhenti sejenak ketika ia melewati Ra By untuk mengacak rambutnya.

“YA!” Ra By langsung berteriak sambil merapikan kembali rambutnya yang berantakan.

“Jangan bertengkar, kalian bisa berkencan lagi nanti.”sahut Yuta sambil terkekeh geli.

Ra By melirik kearah Yuta sinis membuat laki-laki itu semakin tertawa. Ia menjatuhkan diri di samping Winwin sambil merangkul pundaknya.

“Apa pendapatmu tentangnya?”

“Ha?” Kening Winwin berkerut tak mengerti karena pertanyaan Yuta yang tiba-tiba itu.

“Xi Ra By.”ulangnya. “Menurutmu bagaimana dia?”

“Cantik.”

Yuta dan Jaehyun seketika saling pandang dengan seringaian geli, “Lalu?”

“Lucu karena dia sangat pendek.”

“Ohooooo….” Yuta dan Jaehyun langsung berhigh-5 ria, puas dengan jawaban Winwin. “Sepertinya sebentar lagi akan ada pasangan baru.”

Winwin hanya tertawa, “Apa maksud kalian?”

Ketika satu persatu murid akhirnya memenuhi kelas. Tak lama Kim Yerin muncul yang langsung mendapat sambutan hangat dari Jaehyun dan Yuta. Sejak hari pertama, entah mengapa mereka suka sekali menggoda gadis berkacamata itu. Keduanya terus mengajak Yerin bicara dan bersikap seolah-olah mereka sangat akrab walaupun hanya mendapat tanggapan singkat dari gadis pemalu itu. Baginya, berada di sekitar murid-murid popular itu adalah sebuah tekanan.

Sementara ketika Min Rara muncul, Ten yang belum juga berhasil mendapatkan bukunya langsung memberikan jalan untuk gadis itu. Dia tidak lagi mencari masalah seperti hari-hari kemarin dan tak banyak bicara. Mereka kini terasa sangat canggung.

***___***

 

Ji Yoo berlari sekuat tenaganya dari asrama menuju sekolah. Tubuh kurusnya berhasil menerobos gerbang yang hampir saja tertutup. Dengan senyuman penuh rasa bersalah juga lega, ia mengangguk pada guru piket yang langsung melotot padanya.

“JANGAN TERLAMBAT LAGI!”

Ji Yoo hanya terkekeh. Lagipula ini bukan yang pertama kalinya dia terlambat. Karena bekerja hingga larut tadi malam, dia jadi kesiangan.

“AKH!” Gadis itu tiba-tiba berteriak saat seseorang menarik lengannya. Punggungnya membentur tembok. Ia mengaduh sambil menghusap-husap lengannya yang terasa sakit. “Sonsengnim?”serunya terkejut saat ia melihat wali kelasnya ternyata adalah orang yang menariknya. “Apa yang sonsengnim lakukan?”

“Semalam, kau pulang larut malam, kan?”seru Guru Lee dengan nada menginterogasi.

Mata besar Ji Yoo semakin melebar, terkejut, “T-tidak…”

“Jangan bohong! Kau bekerja lagi, kan?”

“Sonsengnim, aku harus masuk kelas. Aku sudah terlambat.” Ji Yoo berusaha untuk melarikan diri namun ia kembali di tahan oleh guru Lee.

“Ya, Kim Ji Yoo. Kau tau apa artinya jika kepala sekolah mengetahuinya, kan?”desis guru Lee dingin membuat Ji Yoo langsung merinding. “Kau bisa…”

“Sonsengnim!” Gadis itu langsung mengatupkan telapak tangannya, memohon ampun. “Tolong maafkan aku. Aku mohon bantu aku sekali ini saja. Aku bisa di keluarkan jika kepala sekolah mengetahuinya. Aku mohon sonsengnim.”rengeknya. “Ibuku memiliki banyak hutang jadi aku harus bekerja. Aku mohon biarkan aku satu kali ini saja.”

“Diamlah.”seru guru Lee meletakkan satu jarinya di depan bibir. “Suaramu yang justru membuat semua orang mengetahuinya.”

Ji Yoo langsung merapatkan mulutnya dan memasang wajah sedih, “Bantu aku kali ini saja, sonsengnim.”

Guru Lee terdiam sejenak, “Baiklah. Tapi dengan satu syarat.”ucapnya sepelan mungkin.

Ji Yoo mendongak, “Huh?”

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3 thoughts on “NCT’s Story – A Story part 7

  1. hanyoo berkata:

    apaan tuh syarat?semoga bkn yg aneh2 jgn2 nih guru Lee byuntae lagi #suudzonamat
    kasihan buanget Ji Yoo disini harus kerja keras buat byr utangnya si taeyong malah benci ma dia
    sabar2 ya Ji Yoo #pukpukindirisendiri

  2. daisygarside berkata:

    Jadi beneran Mark suka sm Somi? Duh, aku kok jd gak tega ya sm Arin.. Selain itu, aku msh gagal paham knp Taeyong g suka bgt sm Jiyoo kalo masalahnya sesepele teriak di rooftop..
    Winwin dg Raby? Okelah, toh Winwin lbh manly daripada casanova itu..
    Aku jg bertanya2 apa hubungan antara Taeyong dg Quinn

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s