NCT’s Story – A Story part 6

121850595

Tittle                            : NCT’s Story – A Story

Author             : Ohmija and MinnieBin

Main Cast        : NCT U and NCT 127

Genre              : School life

Min Rara beruntung karena dia sudah lebih dulu duduk di kursinya sebelum Ten datang. Dia tidak ingin ada pertengkaran lain yang akan membuatnya menjadi pusat perhatian. Selain itu, sebenarnya tidak alasan bagi mereka untuk bertengkar. Sebelumnya mereka bahkan tidak saling mengenal satu sama lain.

Dan ketika pria yang paling di hindarinya itu muncul, Min Rara cepat-cepat mengeluarkan bukunya dan berpura-pura membaca. Mulai saat ini dia akan bersikap tidak perduli apapun yang terjadi.

“Kenapa kau ikut klub tari?”

Dugaannya benar, Ten mulai lagi…

Min Rara hanya diam. Tidak menjawab dan tetap fokus pada bukunya.

Menyadari jika orang yang di tanyai hanya diam saja, Ten menoleh, “Ya, aku bertanya padamu.”

Min Rara tetap diam. Tahan, jangan hiraukan dia, Min Rara. Ia berseru dalam hati.

Ten mulai kesal, ia menarik buku yang ada di tangan Min Rara kasar dan tanpa sengaja merobek beberapa bagiannya. Min Rara seketika terkejut termasuk Ten yang tidak menyangka jika tarikannya bisa membuat buku itu robek.

“YA!!” suara menggelegar Min Rara langsung terdengar ke seluruh isi kelas. Lagi-lagi murid-murid menoleh menatap mereka. “Sebenarnya apa masalahmu, hah?!”

“Apa aku benar-benar merobeknya?”seru Ten menjadi panik.

“Kenapa kau terus menggangguku?! Aku membencimu!” Min Rara melempar bukunya kearah Ten lalu pergi meninggalkan kelas.

Di tempat mereka, Yuta, Taeyong dan Jaehyun saling pandang bergantian. Ketiganya hanya bisa menghela napas panjang.

“Ya, kenapa kau mengganggu dia terus?”seru Yuta geleng-geleng kepala.

Xi Ra By ikut menghela napas panjang sambil berdecak kesal. Pria itu tidak berubah sedikitpun. Tetap menyebalkan. Kemudian berjalan keluar meninggalkan kelas, mengabaikan panggilan Bona yang memanggilnya.

Ten menghampiri teman-temannya dengan wajah lesu sambil meletakkan buku yang robek itu di atas meja Yuta. “Apa yang harus aku lakukan?”

“Ganti buku itu dengan yang baru.”sahut Taeyong. “Sepertinya dia benar-benar kesal.”

“Mungkin kau bisa mencarinya di perpustakaan.”seru Yuta.

Kim Yerin menoleh ke belakang dan melirik sekilas kearah sampul buku itu. Takut-takut ia berseru, “Maaf tapi…” ketika suara kecilnya terdengar, semua pasang mata langsung mengarah padanya, membuatnya menjadi semakin takut.

“Kau mengatakan sesuatu?”tanya Jaehyun pada teman sebangkunya itu.

Yerin menggeleng, “Tidak.”

“Hey, tadi kau mengatakan sesuatu, kan? Aku juga mendengarnya.” Yuta mengetuk-ngetuk pundak Yerin dengan jarinya.

Jaehyun tersenyum menatap gadis itu, “Bicara saja.”

“Eumm… sepertinya di perpustakaan tidak ada buku seperti itu.”

“Kau yakin? Darimana kau tau?”tanya Ten.

“Karena…”

“Ah, karena kau sering pergi kesana, kan?”sahut Yuta.

Yerin mengangguk kecil.

Kali ini Ten menatap Yuta dengan kening berkerut, “Darimana kau tau?”

Yuta tertawa, “Waktu itu tanpa sengaja aku bertemu dengannya. Dia membawa banyak buku untuk dikembalikan.”

Jaehyun menatap keduanya dengan tatapan curiga, “Sepertinya kalian sering bertemu secara diam-diam.”

“Aku juga melihat mereka makan siang bersama tadi.” Winwin menyahuti.

Hal itu langsung membuat Yerin panik, gadis berkacamata itu mengibaskan kedua tangannya, “Tidak. Itu hanya kebetulan.”

Namun Jaehyun masih menatapnya curiga, “Benarkah?”

“Sungguh. Itu hanya kebetulan.”

“Hey, hey, apa yang sedang kalian lakukan sekarang? Bukankah seharusnya kalian mengurusi masalahku?”cibir Ten kesal. Yang lain terkekeh. “Kau tau dimana aku bisa membelinya?”tanya Ten pada Yerin.

“Aku tidak tau.” Gadis itu menggeleng. “Tapi mungkin kau bisa menemukannya di toko buku yang tak jauh dari asrama laki-laki. Biasanya aku mencari buku disana.”

“Kau mau menemaniku? Aku tidak tau tempatnya.”

“Kenapa dia harus menemanimu?” Yuta langsung menyahuti. “Dia bilang tokonya berada tak jauh dari asrama.”

“Kenapa kau marah-marah?” Ten menatap Yuta dengan tatapan bingung.

Jaehyun terkekeh, “Aku akan menemanimu. Ayo pergi.” pria berkulit putih itu berdiri dan merangkul pundak Ten.

***___***

 

Min Rara mendongak saat seseorang menyodorkan kaleng minuman dingin di sampingnya. Seorang gadis cantik tersenyum sambil menjatuhkan diri di sebelahnya.

“Kau tidak apa-apa?”tanya gadis yang ternyata adalah Xi Ra By itu.

Min Rara menatap kaleng itu sesaat sebelum menerimanya, “Tidak apa-apa.”

“Sungguh? Tapi kau terlihat sangat kesal.” Ra By tersenyum lebar, menunjukkan gigi kelincinya membuat Min Rara ikut tersenyum. “Dia memang menyebalkan. Itu wajar jika kau marah padanya. Tapi, tidak wajar jika kau duduk sendiri disini.” Kening Min Rara berkerut menatap Xi Raby. Gadis itu kembali tersenyum, “Kita adalah anggota tim pemandu sorak tapi kita tidak banyak bicara.”

Min Rara tersenyum kikuk, “Maaf, aku memang tipe orang yang tidak banyak bicara.”

“Kenapa? Kau takut atau…?” Gadis di sampingnya hanya menggelengkan kepala. “Sejujurnya aku terkejut dengan kepribadianmu itu. Kau cantik, tinggi dan kau adalah kapten tim pemandu sorak. Harusnya kau memiliki banyak teman dan terkenal di seluruh sekolah, kan?” Min Rara hanya diam menatap Xi Ra By yang terus bicara. “Kau harus mengubah sifatmu. Sejak dulu aku selalu ingin menagatakannya tapi aku belum menemukan waktu yang tepat. Mungkin sekarang saatnya. Sebenarnya kau bisa bicara denganku. Tentang apapun.”

Ra By kembali menunjukkan gigi kelincinya pada Min Rara, tersenyum lebar pada gadis berkepribadian dingin itu sebelum akhirnya pergi meninggalkannya.

***___***

 

“Hyung, kau mau keluar?” kening Ten berkerut melihat Taeyong yang memakai jaketnya.

Dari kasur tingkat atas, Jaehyun menjulurkan kepalanya. “Hyung mau pergi?”

“Aku ada janji dengan temanku. Sebentar saja.”

“Teman? Teman yang mana?”tanya Jaehyun bingung karena yang ia tau, Taeyong tidak memiliki teman

“Seorang teman.” Taeyong tersenyum, mengakhiri percakapan itu. “Aku pergi dulu. Aku akan pulang sebelum jam sepuluh.”

“Hyung, jika pihak sekolah mengetahuinya kau bisa bermasalah. Segera pulang, oke?” Mark memperingatkan.

“Bermasalah bagaimana? Dia bisa keluar masuk tempat ini sesuka hatinya. Kalian lupa jika dia adalah anak pemilik sekolah?”sahut Yuta membuat Taeyong langsung tertegun sesaat.

Melihat itu, Jaehyun dengan cepat bersuara, “Hyung, segera pulang. Oke?”

Taeyong mengangguk, “Aku mengerti.”

***___***

 

Ini sudah memasuki hari ketiga namun Ji Yoo tetap tidak menemukan kenyamanan duduk bersama ketua kelas itu. Sepanjang hari mereka tidak pernah bicara dengan satu sama lain. Taeyong akan terus mengabaikannya seakan dia tidak terlihat. Apa dia membencinya karena kejadian di atap waktu itu? Ji Yoo menghela napas panjang panjang. Haruskah dia minta maaf? Tapi jika ia mengakui kesalahannya dan membuat Ten mengetahui semuanya, dia bisa tamat.

Ketika bel istirahat berbunyi, Taeyong tetap tidak bersuara. Sibuk memasukkan buku-bukunya ke dalam laci.

“Eumm…” Ji Yoo berniat untuk mengajaknya bicara namun ia langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat saat suara Yuta lebih dulu terdengar. Buru-buru gadis itu meninggalkan bangkunya dan berjalan keluar kelas.

“Kau sudah memutuskan akan mengikuti klub mana?”

Taeyong menggeleng, “Entahlah.”

“Apa kau pandai berolahraga?”

“Tidak juga. Aku tidak begitu bagus dalam bidang itu.”

“Lalu?”

Pria itu kembali menggeleng, “Aku belum memutuskannya.”

“Kau harus memutuskannya sebelum hari sabtu. Jangan lupa.”

“Aku tau.”

“Teman-teman ayo ke kantin. Aku harus mendinginkan kepalaku.”ajak Ten langsung menjatuhkan diri di kursi Ji Yoo.

“Kau belum menemukan bukunya?”tanya Taeyong.

Ten menggeleng, “Belum. Dan gadis itu masih tidak mengajakku bicara sama sekali. Sepertinya dia membenciku.”

“Itu karena kau yang memulainya.”

“Aku tidak sengaja. Aku tidak tau jika bukunya akan robek.” Ten mendesah panjang.

“Baiklah. Aku juga sudah lapar.”seru Yuta kemudian menoleh kearah Winwin. “Ayo, bergabung bersama kami.”

Winwin tersenyum sambil menggeleng, “Aku sudah berjanji untuk menemani Doyoung mendaftar klub musik. Terima kasih.”

Kening Yuta berkerut, “Doyoung?”

“Dia.” Winwin menunjuk seorang pria yang duduk di sudut ruangan. “Kau bahkan tidak mengenal teman-teman sekelasmu.”

“Benar. Wakil ketua kelas kita payah.” Ten ikut mencibir.

“Ya, jangan menyalahkanku. Ketua kelas kita juga tidak mengetahuinya.” Yuta melirik Taeyong lalu tertawa.

Taeyong hanya tersenyum, “Aku akan menghafal semua nama nanti. Kalian duluan saja, aku harus mengambil sesuatu di loker.”

Yuta mengangguk, “Oke.” Lalu merangkul pundak Ten dan Jaehyun. Sebelum mereka bertiga pergi, Jaehyun menoleh ke belakang sesaat, menatap Kim Yerin, “Jika kau mau bergabung, kami ada di sudut ruangan.”

Kim Yerin mengerutkan keningnya tidak mengerti. Lagipula memangnya siapa yang mau bergabung dengan mereka?

***___***

 

Ji Yoo menjulurkan kepalanya dari balik tembok, memperhatikan Taeyong yang sedang berjalan menuju lokernya. Baguslah dia sendirian. Ini adalah saat yang tepat. Gadis itu melangkahkan kakinya namun baru satu langkah melangkah, lagi-lagi ia kembali bersembunyi di balik tembok karena Quinn Jo lebih dulu menghampiri Taeyong.

Ji Yoo memperhatikan keduanya lalu mendengus kesal setelah ia melihat senyum merekah Taeyong. Keduanya terlihat sedang bicara lalu tertawa seakan sudah mengenal lama. Berbeda sekali saat bicaranya dengannya. Dia akan menajamkan tatapannya dan memasang wajah tidak suka seakan Ji Yoo adalah bakteri yang menjijikan yang harus dijauhi sebelum ia terkena penyakit. Bahkan sekarang, dia seperti menganggap Ji Yoo tidak terlihat, transparan.

“Hahaha dasar brengsek.” Ji Yoo mengumpat kesal. “Ternyata dia sama saja dengan pria lain. Hanya baik dengan wanita cantik. Aah, aku semakin membencinya.”

“Siapa yang kau benci?”

“Oh Tuhan!” Ji Yoo terlonjak kaget karena Ten sudah berdiri di belakangnya. “Ya! Kau mengagetkanku!”

Ten mengikuti arah pandangan Ji Yoo tadi dan melihat Quinn Jo sedang melambaikan tangannya kearah Taeyong sambil melangkah pergi. Anak laki-laki itu mengembalikan tatapannya pada Ji Yoo, “Kau stalker, ya?”

“Apa?”

“Kau sedang mengintai Taeyong hyung? Kau menyukainya ya?”

“Apa?!” pekik Ji Yoo terkejut. “Jangan bercanda.”

“Apa kau cemburu setelah melihatnya bersama Quinn Jo?”

“Jangan bicara macam-macam. Dia sama sekali bukan tipeku dan aku membencinya!” Gadis itu berbalik dan bergegas pergi namun Ten segera menarik lengannya dan membuat gadis itu kembali ke tempat semula. “Akh, kenapa kau menarikku?”omel Ji Yoo sambil memegangi lengannya.

“Kau pikir aku menghampirimu tanpa tujuan?”

“Apa? Apa yang kau butuhkan?”

“Cari buku seperti ini.”

Ji Yoo menatap buku yang di berikan Ten itu dengan kening berkerut, “Buku apa ini?”

“Kau tidak akan mengerti. Sudah, cari saja.”

“Dimana?”

Ten menghembuskan napas panjang, mulai gemas, “Jika aku tau, aku tidak akan menyuruhmu. Cepat cari dan berikan padaku jika kau sudah menemukannya.”

“Tapi…”

“Aku akan mengganti uangnya dan ini adalah permintaan keduaku.”seru Ten dengan nada tak terbantahkan. Kemudian pria itu berbalik pergi.

Ji Yoo masih menatap buku itu bingung. Dimana dia harus mencarinya? Bahkan dia saja tidak bisa membaca judulnya dengan jelas. Ketika kemudian gadis berambut pendek itu tersadar, ia kembali mendengus, “Ya, apa aku ini pembantumu? Dasar brengsek.”

***___***

 

Seluruh pasang mata seketika berpaling padanya, mengikuti alur langkah kemana dia pergi. Bahkan beberapa orang langsung memutar kepala mereka agar bisa melihat gadis itu. Apa dia benar-benar manusia? Dia cantik sekali.

Somi menundukkan kepalanya sedikit malu, juga gugup karena kini dia sedang memasuki kawasan senior.

“Permisi sunbaenim.”sapanya pada seorang gadis yang baru saja keluar dari salah satu kelas.

Gadis yang ternyata adalah Yeri itu menoleh, “Ya?”

“Apa ini benar kelas Mark oppa?”

“Mark Lee? Iya, kenapa?”

“Ini…”

“Tunggu.” Yeri berseru kembali. Kedua matanya menatap Somi dengan tatapan menyelidik, “Mark oppa? Kau memanggil Mark dengan sebutan oppa?”

“Oh, maafkan aku. Karena…”

“Ya, apa kau Somi?” Yeri kembali memotong ucapan Somi. Lalu ia melirik kearah nametag seragamnya. “Jadi benar kau adalah Somi?”

Somi langsung membungkukkan tubuhnya sopan, “Annyeonghaseo sunbaenim, aku—“

“Kau tidak perlu memperkenalkan dirimu. Aku sudah mengetahuinya.”ketus Yeri dingin. Gadis berambut panjang itu menyenderkan punggungnya ke dinding dan menatap Somi sambil melipat kedua tangannya di depan dada, “Berani sekali kau datang kemari. Apa yang mau kau lakukan? Ya, apa kau sedang berusaha menggoda Mark?”

“Tidak.” Somi langsung menggeleng sambil mengibaskan kedua tangannya. “Maafkan aku sunbaenim. Tapi aku kemari…”

“Kau bahkan berani membantah ucapanku?” Ia menarik punggungnya dan berdiri tegak sambil berkacak pinggang. Matanya ia bulatkan lebar-lebar dan memasang wajah menyeramkan membuat Somi langsung menundukkan kepalanya. “Dasar kau… hmpp hmpffh.”

Somi mengangkat wajahnya dan menemukan Haechan sudah membekap mulut Yeri. Yeri langsung mendorong tangan Haechan kasar dan berteriak kesal, “YA!!” lalu ia mengalihkan tatapannya pada seseorang yang kini sudah berdiri di depannya dengan senyum lebar.

“Hai.”sapanya ramah. “Apa kau sudah mengisi formulirnya?”

“Huh? Umh, yah.” Somi mengangguk pelan.

“Kenapa? Apa kau takut? Apa dia memarahimu?”

“Kenapa kau memarahinya?”omel Haechan sambil memukul pelan kepala Yeri.

“Ya! Aku tidak memarahinya!”balas Yeri masih dengan nada kesal sambil memegangi kepalanya.

“Jangan melotot seperti itu, kau terlihat seperti nenek sihir. Sama sekali tidak cantik.”

“YA!!”

Haechan langsung menjauhkan kepalanya lalu menghusap-husap telinganya karena suara Yeri seperti akan menghancurkan gendang telinganya.

“Bicaralah dengannya, aku akan mengurusnya.” Ia menepuk sebelah pundak Mark lalu menarik lengan Yeri dan menyeret paksa dirinya.

“Ya, ya, apa yang kau lakukan? YA LEE HAECHAN!!”

“Kau sudah mengisinya?” Mark merebut halus sebuah gulungan kertas yang ada di tangan Somi. “Nanti aku akan memberikannya pada Ra By noona.”

“Oppa, maafkan aku karena telah bersikap tidak sopan. Aku datang kemari karena aku tidak tau harus mencarimu kemana. Jadi…”

“Apa Yeri mengatakan hal itu padamu?” Anak laki-laki itu tertawa. “Jangan hiraukan dia. Dia memang seperti itu. Sebenarnya dia adalah gadis yang baik dan juga yang sedang kau lakukan ini bukan perbuatan tidak sopan. Jadi jangan khawatir.”

“”Tapi…”

“Mark.” Tiba-tiba seseorang memanggil Mark. “Jaehyun hyung menyuruhmu untuk datang ke gedung olahraga. Ada beberapa anggota baru yang sudah mendaftar.”

“Baiklah. Terima kasih, Hyuk.”

“Waah, jadi benar? Kalian berkencan?” Teman sekelas Mark itu bicara sambil berlalu.

“Ya, jangan bicara macam-macam.” Mark memukul lengannya sebelum ia pergi.

“Eum, kalau begitu aku pergi dulu, oppa. Terima kasih.” Somi membungkukkan tubuhnya lalu berbalik. Namun Mark langsung menahan lengannya.

“Ayo ikut aku.”

Somi sedikit terkejut, “Huh?”

Namun Mark tidak menjawab apapun dan terus menyeret Somi pergi.

***___***

 

“Ya! Lepaskan aku!” Yeri melepaskan cekalan Haechan kasar hingga membuatnya terjerembap ke lantai. “Akh,” ia mengaduh karena bokongnya mendarat cukup keras disana.

Haechan menghembuskan napas panjang, “Jangan mengganggunya. Aku tau kau melakukan ini karena Arin. Tapi dia tidak bersalah sama sekali.

Yeri mendongak dan menatap Haechan kesal, “Tapi karena gadis itu, temanku jadi bersedih!”

“Bukan karena dia. Tapi sebelum dia datangpun, semuanya sudah seperti ini. Seperti yang kau tau, Mark tidak menyukai Arin.”

“Tidak! Mark men—“

“Kim Yerim hentikan.” Ucap Haechan kembali mendesah. “Tidak akan ada yang berubah bahkan jika kau mengganggu gadis itu. Jadi jangan seperti itu.”

“Kau membelanya? Apa kau lupa kita sudah bersahabat sejak kecil?!”

“Aku tau dan aku tidak pernah lupa.”jawab Haechan cepat. “Justru karena aku sahabatmu makanya aku seperti ini.”lanjutnya lalu bergegas pergi. “Sudahlah. Aku harus mendaftar klub. Aku pergi dulu.”

“YA!” Teriak Yeri kembali menghentikan langkah Haechan. “Apa kau buta? Kau tidak lihat jika aku sedang terjatuh? Bantu aku, bodoh!”

Haechan menoleh sekilas lalu tersenyum, “Bukan salahku. Kau terjatuh sendiri. Lagipula kau bisa bangun sendiri, kan? Sudah ya.”

“YA!! LEE HAECHAN!! AKU MEMBENCIMU!!”

***___***

 

Pria itu menghentikan permainan pianonya begitu melihat dua orang siswa laki-laki memasuki ruangan. Ia langsung berdiri dan menyambut mereka dengan senyuman ramah.

“Maaf mengganggu, sunbaenim. Tapi aku kemari untuk memberikan formulir pendaftaran.”

“Oh? Kau mau bergabung dengan klub musik?”

Salah satu siswa mengangguk, “Iya.”

“Namamu Kim Doyoung?”

“Iya sunbaenim.”

“Baiklah. Lalu kau?” ia mengalihkan tatapannya pada murid laki-laki yang lain.

“Aku hanya menemaninya, sunbaenim. Aku ingin mendaftar di klub tari.”

“Oh begitu? Baiklah. Kau bisa melihat pengumumannya nanti.”

Doyoung mengangguk sopan, “Terima kasih, sunbaenim. Kalau begitu, kami pergi dulu.”

Keduanya pergi meninggalkan ruangan klub musik. Kini giliran Doyoung yang akan menemani Winwin untuk mendaftar di klub tari.

“Kau dengar sendiri, kan? Dia bisa bermain piano dengan sangat bagus. Bahkan dia juga sering memenangkan kontes bernyanyi.”seru Doyoung bersemangat.

Winwin mendesah panjang, “Kau sudah mengatakannya 5 kali. Aku tau.”

“Hanya untuk meyakinkanmu saja.”

“Iya aku tau. Kau sangat mengagumi Taeil sunbae, kan? Kau juga sudah mengatakannya.”

“Benarkah?”

Winwin hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah teman sekamarnya itu. Dia baru mengetahui jika Doyoung sangat suka berbicara, bahkan dia juga suka mengulang ucapannya berkali-kali membuat orang lain bosan.

“Tapi ngomong-ngomong, ketua klub tari adalah Seulgi sunbae. Haruskah aku ikut club tari juga? Aku juga…” Doyoung menghentikan ceritanya ketika Winwin tiba-tiba berbelok. Keningnya berkerut, sudah akan memanggil anak laki-laki itu namun ia mengurungkan niatnya.

“Mau ku bantu?” Ternyata Winwin menghampiri Xi Ra By yang sedang bersusah payah menempel kertas di papan pengumuman. Gadis mungil itu berjinjit berusaha untuk menjangkau tempat kosong yang tinggi.

“Tolong ya, aku tidak bisa menempelnya. Terlalu tinggi.”

Dengan tinggi tubuhnya, Winwin menempel kertas itu dengan mudah. “Sudah selesai.”

Xi Ra By menoleh dan tersenyum lebar, “Terima kasih.”serunya. “Oh? Bukankah kau murid baru?”

Winwin mengangguk, “Iya, aku Winwin. Kau Xi Ra By, kan?”

“Kau tau namaku?”

“Jaehyun bilang kau adalah mantan kekasih Ten.”

Senyum Ra By seketika menghilang, “Kenapa dia harus mengatakannya? Itu adalah hal yang ingin aku lupakan.” Gerutunya kesal.

Winwin terkekeh, “Kalau begitu aku pergi dulu. Senang berjumpa denganmu, Ra By.”

“Oh, oke. Senang berjumpa denganmu, Winwin.”

Winwin kembali menghampiri Doyoung yang menunggunya tak jauh dari sana, “Ayo.”

“Cih, kau sedang menggodanya, ya?”cibirnya.

Namun Winwin hanya tertawa.

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3 thoughts on “NCT’s Story – A Story part 6

  1. daisygarside berkata:

    Lara, kenapa kamu dinistain sm Ten gt sih, Nak?
    Tapi gimanapun, aku seneng karena temen2 Ten peduli soal buku itu.. Aku malah gk habis pikir kalo Ten bakal nyuruh Jiyoo yg buat nyari buku tadi.. Ampun nih anak….

    btw, Yeri sm Haechan moment aku seneng bgt sm berantemnya mereka…
    Dan lagi.. Apa sudah ada kedekatan antara Quinn dg Taeyong?
    Lalu Yuta dg Yerin?
    Ah jd penasaran

  2. daisygarside berkata:

    Selain itu, selain itu.. Aku msh agak penasaran tentang cowo baik yg disukai sm Rara sejak kelas 1..
    Aku harap itu Jaehyun.. Yah, kalo iya itu Jaehyun, kurasa tanpa Rara harus berubah pun dia bakal bisa nerima sifat asli Rara dg apa adanya kan?
    Malah bagus kalo punya cewe yg gak gampang dket sm cowo… Kkk

  3. hanyoo berkata:

    suka banget sm ffnya walaupun blom bisa hapal sm smw wajah2 nct tp ttp aja suka
    g sabar ma couple2nya
    Si ten bisa aja nyuruh SI Ji Yoo buat nyari bukunya hahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s