FF EXO : AUTUMN CHAPTER 26

autumn

Author  :  Oh Mi Ja

Cast :  Leeteuk SJ as Park Jungsoo

Luhan EXO as Park Luhan

Kai EXO as Park Jongin

Sehun EXO as Park Sehun

Support Cast      : Kris EXO as jaksa

Suho EXO as Pastor

Taemin Shinee as Lee Taemin

JR JJ Project as Park Jin Young

Jonghyun CN Blue as Lee Jonghyun

Genre                   : Brothership, Family,  Friendship, little sad

Jinyoung langsung berlari ke rumah Suho begitu ia mendapat kabar jika Sehun tiba-tiba pingsan di gereja. Pria itu menerobos masuk ke dalam gereja dengan napas terengah, tidak menyadari jika tubuhnya sudah basah kuyup.

“Pastor, apa yang terjadi?”tanyanya langsung menghampiri Suho, di liriknya Sehun yang tak sadarkan diri sedang bersandar di bahunya. “Kenapa dia bisa tiba-tiba pingsan?”

Suho terdiam sesaat sebelum menjawab pertanyaan Jinyoung, “Mungkin dia kelelahan menangis.”

“Menangis?” Tenggorokan Jinyoung langsung tercekat. “Kenapa?”

Suho kembali terdiam, ia menarik napas panjang dan menatap Jinyoung, “Luka itu belum sembuh. Bahkan semakin lama semakin melebar dan bernanah. “

Jinyoung langsung mengerti. Anak laki-laki itu terdiam sambil menjatuhkan diri di samping Suho, “Haruskah aku menghubungi Luhan hyung dan Jongin hyung?”

Suho menggeleng pelan, “Mereka akan khawatir.”ucapnya pelan. “Biarkan dia disini, aku akan menjaganya.” Lalu ia menoleh, menatap Jinyoung, “Kau pulanglah dan segera ganti bajumu. Kau bisa sakit.”

“Aku akan disini.”jawab Jinyoung juga menggeleng. “Aku juga akan menjaganya.”

Suho tidak bersuara. Tidak berusaha untuk mencegah Jinyoung karena saat ini, dia pikir Sehun sedang membutuhkan dukungan. Dia butuh sandaran dan tempat untuk berbagi.

***___***

 

Keesokan paginya, ketika awan hitam sudah pergi dan berganti dengan matahari yang perlahan-lahan memancarkan sinarnya. Kedua mata yang tertutup itu akhirnya terbuka. Ia langsung terduduk begitu mendapati dirinya tertidur di tempat asing. Matanya berkeliling, mencoba mengingat-ingat dimana dia berada sekarang hingga akhirnya ia menyadari jika dia sedang berada di gereja dan semalam ia tertidur di salah satu kursi.

“Kau sudah bangun?” Seseorang menarik diri untuk duduk dari kursi yang ada di depannya. Ia menghusap-husap matanya lalu menatap Sehun sambil menguap. “Kau baik-baik saja?”

“Kau…” matanya melebar saat melihat Jinyoung. “Apa yang kau lakukan disini?”tanya Sehun bingung.

“Harusnya aku yang bertanya. Apa yang sedang kau lakukan disini? Pastor Kim bilang kau tiba-tiba pingsan semalam.”

“Pingsan?”

Jinyoung mengangguk, “Kau baik-baik saja?”

Sehun hanya diam. Tidak bisa mengingat apapun. Namun tiba-tiba ingatannya memutar sebuah adegan. Seolah dirinya di tarik paksa ke masa lalu dan menyaksikannya secara langsung. Saat itu malam hari dan hujan juga turun sangat deras. Saat kaki-kaki mungilnya melangkah ke tempat ini dengan beribu-ribu doa yang di panjatkan. Saat dia menangis dan putus asa dan saat pastor Kim menemukannya.

Hal yang ia alami masih sama. Dan hal yang ia minta juga masih sama.

Tentang ayahnya dan tentang keluarganya.

“Akh.” Sehun menjerit karena rasa sakit tiba-tiba menyerang kepalanya.

Jinyoung langsung melompat ke samping pria itu, “Sehun, kau tidak apa-apa?”tanyanya panik. Sementara Suho yang baru kembali dari rumahnya, langsung berlari menghampirinya.

“Ada apa? Kenapa?”

Rasanya seperti dejavu. Dengan semua hal yang sama serta orang-orang yang sama. Sehun mengangkat wajahnya menatap Suho dengan mata yang sudah di genangi air.

“Sehun, kau baik-baik saja? Kau sakit?”tanya Suho membekap kedua pipinya dengan telapak tangan. “Haruskah kita pergi ke rumah sakit, huh?”

“Pastor…”lirih Sehun, tanpa sadar.

“Hm? Bagian mana yang sakit?”

Sehun menelan ludah, “Malam itu…”suaranya terdengar bergetar. “…pastor menemukanku.”

“Sehun…”

“Malam itu… kau menjagaku saat aku kelelahan menangis.”

“Apa yang sedang kau katakan, Sehun?”

“Pastor…” Air mata mulai mengalir di pipi Sehun. “Pastor, sekarang… kau menjagaku lagi.”isaknya sambil menggenggam kedua tangan Suho erat. “Pastor, maafkan aku. Aku sudah menyakitimu. Maafkan aku, Pastor. Aku bersalah. Aku menyalahkanmu atas semua rasa sakit yang aku alami. Pastor tidak bersalah tapi aku membenci pastor. Maafkan aku. Aku mohon maafkan aku, Pastor.”

Suho langsung memeluk anak laki-laki berkulit putih itu dan menghusap-husap punggungnya lembut. Dia kembali. Yah, Sehun kecilnya sudah kembali.

“Sekarang aku sudah mulai bisa mengingatnya. Aku bisa mengingatnya sedikit demi sedikit. Tentang kejadian hari itu. Pastor, aku mengingatnya.”

Suho mengangguk, “Yah, kau sudah melakukannya dengan baik. Kau hebat, Sehun.”

Tangis Sehun pecah di pundak Suho. Tangisan yang tertahan serta rasa bersalahnya pada pria ini. Juga ucapan-ucapan syukur terima kasih.

Kini ia menyadari, dia tidak bisa sendiri. Sejauh apapun dia pergi, sekuat apapun dia melawan, pada akhirnya ia tetap membutuhkan orang-orang ini. Dia telah menemukan jalan pulang dan ia mendapat sebuah kenyamanan. Kenyamanan yang telah lama hilang. Dia berterima kasih pada Tuhan namun juga menyesal. Karena untuk beberapa saat dia mengingkari keberadaan-Nya. Untuk beberapa saat merasa angkuh dan menganggap dia bisa menyelesaikan semuanya sendiri.

“Maafkan aku, Pastor.”isaknya.

“Tidak. Terima kasih karena sudah kembali. Terima kasih, Sehunnie.”

***___***

 

“Kau mau mampir?”

Jinyoung menggeleng, “Tidak. Aku tidak suka apartement-mu.”

Sehun tertawa kecil, “Aku akan mengusir managerku jika kau merasa terganggu.”

“Tidak usah.” Ia menggeleng lagi. “Masuklah. Dia pasti khawatir mencarimu. Hubungi aku jika terjadi sesuatu.”

Sehun mengangguk, “Terima kasih, Jinyoung. Kau bahkan membolos hari ini.”

“Itu karena dirimu. Lain kali kau harus mengatakan semuanya padaku. Jangan menyembunyikan apapun, oke?”

Sehun tersenyum, “Aku tau.”

“Kalau begitu sampai jumpa. Aku pulang dulu.”

Jinyoung melambaikan tangannya pada Sehun lalu berbalik pergi. Sesaat setelah menatap punggung sahabatnya, Sehun juga melangkah masuk ke dalam gedung apartement. Ia menuju ruangannya dan bertemu dengan managernya saat ia baru saja membuka pintu.

“Park Sehun!”pekik managernya begiti ia melihat Sehun. “Dasar brengsek, kau darimana saja?!”

“Apa kau perduli?”balas Sehun sambil berlalu, ia melangkah masuk ke dalam. Membuka jaketnya dan menjatuhkan diri di sofa.

“Sejak semalam aku mencarimu hingga tidak bisa tidur! Presdir juga terus—“

“Katakan padanya jika aku akan mengambil peran itu.”

“Huh?”

Sehun mendesah panjang, ia berdiri dan menghadap managernya, “Ini yang kalian mau, kan?”serunya dingin. “Aku akan mengambil peran itu tapi jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu di tengah jalan.”

“A-apa maksudmu?”

“Aku sudah menyetujuinya jadi sebaiknya sekarang kau pergi. Aku ingin istirahat.” Sehun masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu tanpa memberikan kesempatan bagi managernya untuk bersuara lagi.

“Ya, Park Sehun, apa maksudmu? Ya!”

***___***

 

“Bagaimana menurutmu? Kantor ini sangat cocok, kan?” Luhan menatap Jongin sekilas lalu mengembalikan tatapannya kembali ke depan. Kearah sebuah rumah sederhana yang kini ia jadikan sebagai kantor sederhananya.

“Ini sangat bagus, hyung.” Jongin memberikan dua jempolnya pada Luhan lalu melangkah masuk. Matanya langsung melebar saat ia melihat seorang wanita tua sedang membersihkan meja kerjanya. “Nyonya Anne!”jeritnya langsung berlari menghampiri wanita itu dan memeluknya. “Lama tidak berjumpa. Bagaimana kabar Nyonya?”

“Aku sangat baik.” Ia menepuk-nepuk punggung Jongin lembut. “Jonginku juga semakin tinggi. Bahkan sekarang dia adalah anggota Tim Nasional Negara ini. Aku sangat bangga.”

“Tapi semakin lama nyonya semakin cantik.”

“Apa kau sedang bercanda? Jangan mengejekku.”

Keduanya lalu tertawa. Jongin kembali memeluk wanita tua itu, “Senang berjumpa denganmu lagi, Nyonya. Terima kasih karena sudah membantu kami.”

“Membantu apanya? Aku tidak melakukan apapun.”

“Anda telah membantu banyak, Nyonya.”sahut Luhan tersenyum. “Dan sekarang anda membantu kami lagi.”

“Bukan masalah. Aku sudah menganggap kalian seperti anakku sendiri.”balas Nyonya Anne. “Ngomong-ngomong, aku tidak melihat Baekgu-ku. Apa dia sangat sibuk?”

Jongin mengangguk, “Bahkan kami tidak bisa bertemu dengannya sesering mungkin. Dia sangat sibuk sekarang, Nyonya.” Anak laki-laki berkulit gelap itu lalu mendorong nyonya Anne pelan, memaksanya untuk duduk di sofa. “Sekarang biarkan aku yang membersihkan semua ini. Nyonya duduk saja dan nonton TV. Apa nyonya ingin minum? Haruskah aku membeli kopi?”

“Ya, apa yang kau lakukan? Aku adalah karyawan disini. Kenapa kau yang membersihkannya?”

Nyonya Anna berdiri namun Jongin kembali mendorong kedua pundaknya agar dia tetap duduk, “Kau bilang kami adalah anakmu. Jadi biarkan aku yang bekerja. Kau tidak boleh kelelahan. Duduk saja disini dan panggil aku jika Nyonya butuh sesuatu, oke?”

“Jongin benar. Jangan lakukan apapun agar anda tidak kelelahan, Nyonya.” Luhan menjatuhkan diri di hadapan nyonya Anne.

“Hyung mau kopi? Aku akan membeli kopi di depan sana.”

Luhan mengangguk, “Baiklah.”

“Tunggu sebentar. Aku akan segera kembali.” Jongin berlari keluar meninggalkan kantor baru Luhan.

Tiba-tiba ponsel Luhan berdering, pria itu meraih ponselnya dari dalam saku dan mendekatkannya ke telinga, “Yeoboseyo.”

“…..”

Seketika matanya membulat lebar, “Sungguh?!”

“…..”

“Ya, kau tidak bercanda, kan? Sungguh?!”

“…..”

“Baiklah. Terima kasih. Aku akan mengirimimu alamatnya nanti. Yah, aku pasti akan menunggunya. Terima kasih.”

“Ada apa? Kau terlihat sangat senang.”tanya nyonya Anne melihat senyum lebar di wajah Luhan.

“Nyonya, temanku bilang pengadilan sudah menyetujui kasusku. Mereka akan mengirim surat pemberitahuannya besok!”jelas Luhan menggebu-gebu. “Nyonya, aku berhasil membuka kasus appa!”

Nyonya Anne ikut tersenyum, “Benarkah? Oh Tuhan, aku sangat bahagia. Selamat Luhan. Aku sangat senang mendengarnya.”

Appa, pertarungan ini akan segera di mulai. Aku akan memenangkannya untukmu, appa.

***___***

 

“Oh? Kau datang?” Jongin terkejut saat ia membuka pintu dan mendapati Sehun sudah berdiri di balik pintu rumahnya.

“Apa aku tidak boleh pulang?”cibir Sehun kesal.

Jongin tertawa, “Masuklah.”suruh Jongin menggerakkan dagunya. “Kau sudah makan?”

Sehun mengikuti langkah Jongin di belakang, “Sudah. Aku makan dengan keadaan menyedihkan.”

“Huh?” Jongin menoleh ke belakang dengan kening berkerut.

“Aku hanya makan ramen.”ucapnya meletakkan tasnya di atas meja. “Dan sendirian.”lanjutnya menekankan kalimatnya membuat Jongin kembali tertawa.

“Kenapa kau tidak menelponku? Aku bisa membawakanmu makanan.”

“Aku makan di tengah-tengah jadwal syuting, hyung.”

“Syuting?” Luhan yang baru saja muncul menyahuti.

“Eump.” Sehun mengangguk. “Aku memutuskan untuk menerima sebuah peran, hyung.”

“Maksudmu kau akan bermain film?”tanya Jongin terkejut.

“Bukan. Drama.” Sehun memperbaiki.

“Oh Tuhan, kau bisa berakting?”

“Ya, jangan remehkan aku.”dengus Sehun kesal. “Kalian harus menontonnya agar ratingnya tinggi.”

“Kenapa kau mengambilnya? Kau tidak dengar kata dokter? Kau harus banyak istirahat.”seru Luhan.

“Jangan khawatir, hyung. Aku tidak akan kelelahan.”

“Lalu apa genre-nya? Apa tentang percintaan?”

“Hyung, apa kau tidak pernah membaca berita tentangku? Bahkan di naver, aku berada di daftar pencarian nomor 1.”

“Aku terlalu sibuk dengan latihanku. Jadi aku tidak sempat membuka internet.”jawab Jongin santai membuat Sehun semakin kesal.

“Sudahlah. Aku tidak mau bicara dengan hyung lagi.” Sehun melipat kedua tangannya di depan dada lalu membuang muka. Jongin semakin tersenyum geli.

“Ngomong-ngomong, aku belum memberitahumu sesuatu.” Ucap Luhan. “Pengadilan sudah menyetujui kasus ayah. Besok mereka akan mengirimkan surat pemberitahuan dan waktunya.”

Sehun langsung menarik punggungnya dan duduk tegak, “Sungguh hyung?!”

Luhan mengangguk, “Persidangan akan di buka segera mungkin.”

“Terima kasih, Tuhan.” Sehun menggenggam kedua tangannya di depan dada. “Aku harap kasusnya akan segera selesai. Tolong bantu kami.”

“Lalu hyung, bagaimana dengan Kwon ahjumma? Bukankah ini sudah saatnya dia kembali?”

“Yah, aku akan membawanya keluar dari tempat persembunyian segera mungkin.”

“Kau sudah tau siapa pelakunya, hyung? Yang memfitnah appa.” Sehun menjadi bersemangat.

Luhan menggeleng, “Belum, tapi aku memiliki beberapa orang yang aku curigai. Aku akan menyelediki mereka dulu.”

“Hyung, pastikan kau menyelesaikan kasus ini.” Sehun menggenggam tangan Luhan erat. “Dan juga, pastikan kau akan baik-baik saja.”

“Aku tau. Jangan khawatir.” Luhan tersenyum.

***___***

 

Jinyoung tersenyum geli saat dia melihat murid laki-laki bertubuh tinggi berdiri bersandar pada tembok gerbang sekolah. Bersikap seolah ia tidak perduli saat beberapa murid mencoba untuk mengambil fotonya. Dasar. Padahal sudah ada peraturan untuk tidak memperlakukannya seperti seorang Idol ketika di sekolah.

“Kau menungguku?”tanyanya menghampirinya.

Anak itu menarik punggungnya dan mendengus, “Apa kau tau aku sudah menunggumu selama setengah jam?! Sebentar lagi bel akan berbunyi, kenapa kau lama sekali.”omelnya kesal.

“Aku kan tidak memintamu untuk menungguku.”balas Jinyoung semakin membuat Sehun kesal.

“Aaah, aku hanya buang-buang waktu. Harusnya aku tidak menunggmu.”ketusnya lalu berjalan meninggalkan Jinyoung.

Jinyoung tertawa lalu mengejarnya dan merangkul pundak sahabatnya itu, “Tadi, aku harus membantu oema dulu. Karena oema sedang sakit.”

Langkah Sehun langsung terhenti, ia menoleh menatap Jinyoung, “Sakit?”

“Iya, hanya demam.”

“Kau sudah membelikannya obat?”

“Tentu saja sudah. Karena itu aku terlambat.”

“Harusnya kau memberitahuku jadi aku bisa langsung ke rumahmu.”

“Sudahlah. Lagipula appa sudah mengambil cuti untuk menjaga oema hari ini.”ucapnya. “Ngomong-ngomong, ku dengar kau menjadi pemeran utama dalam drama. Lawan mainmu adalah Suzy, kan?”

“Hm.”jawabnya cuek.

“Kau benar-benar beruntung! Apa ada kissing scene-nya? Bisakah kau minta tanda tangannya untukku? Aku adalah penggemarnya.”

Sehun menatap temannya itu kesal, “Jika kau ingin tanda tangannya, datanglah ke acara fansign!”

“Tapi tiketnya sangat mahal. Kau kan akan sering bertemu dengannya. Tolonglah. Satu saja.”

Sehun mendorong tangan Jinyoung yang ada di bahunya, “Pergi dariku.”

“Ya, Park Sehun. Tolonglah. Hanya satu saja. Apa itu berat bagimu?”

“Aku tidak mau.”

“Satu saja. Aku akan mentraktirmu ddokbukkie nanti.”

“Lepaskan aku.”

 

BRUKK

 

Seseorang menabrak Sehun dan tanpa sengaja menumpahkan minumannya di seragam anak bertubuh tinggi itu. Sehun menoleh, menatap seseorang yang ada di belakangnya.

Seorang murid laki-laki dengan wajah yang ia buat seakan-akan merasa bersalah balas menatapnya, “Ups, maafkan aku. Aku tidak sengaja.”

“Ah, sial. Aku baru saja masuk sekolah.”umpatnya kesal.

“Maafkan aku. Aku tidak sengaja. Haruskah aku membelikanmu seragam baru?” Murid laki-laki yang ternyata adalah Dongho itu tersenyum menyeringai. “Oh, aku lupa. Kau sudah bukan lagi anak miskin. Sekarang kau punya uang banyak, iya kan?”

Rahang Sehun mengeras, tangannya mengepal di samping tubuh, Ingin sekali ia merobek mulut Dongho agar dia tidak bisa bicara lagi. Jinyoung yang melihat perubahan wajah Sehun langsung menarik lengannya dan membawanya pergi dari sana.

“Ayo. Kita bisa terlambat.”

Jinyoung sudah paham, bahkan sangat paham dengan sifat Sehun sekarang. Dia bukan lagi Sehun yang dulu, yang selalu mengalah. Sehun yang sekarang sangat berbahaya, mudah emosional, dan mudah buta jika sedang marah. Dia tidak bisa melakukan apapun jika Sehun sedang marah. Karena itu, tindakan yang paling tepat adalah mencegah kemarahan itu. Agar tidak terjadi sesuatu yang buruk.

Ketika bel berbunyi. Sehun terus diam di kursinya. Berusaha untuk meredam amarahnya. Lagipula ini masih pagi, ia tidak mau membuat harinya rusak hanya karena Dongho. Bahkan ketika guru pengajar sudah memasuki kelas, ia masih diam. Kali ini bukan karena ia sedang meredam amarahnya tapi karena sesuatu perlahan-lahan muncul di pikirannya. Ia melihat sebuah visual kejadian. Kabur namun perlahan-lahan semakin jelas. Saat dia kecil berdiri di depan sebuah toko. Saat itu, musim dingin…

“Akh.” Ia memejamkan matanya kuat-kuat saat rasa sakit tiba-tiba menghantam kepalanya.

Jinyoung mendengar jeritan pelan Sehun dan langsung menoleh, “Sehun? Kau kenapa?”

Namun Sehun masih meringis menahan sakit. Kedua tangannya menjambak rambutnya, menghilangkan rasa sakit itu. Namun gagal. Kepalanya semakin lama semakin terasa sakit bersamaan dengan visual kejadian itu yang semakin lama semakin jelas.

“Sehun, kau baik-baik saja?” Guru pengajar yang melihat itu menghampiri meja keduanya. “Apa yang terjadi Jinyoung?”

“Aku tidak tau, sonsengnim. Tiba-tiba dia kesakitan.”

Sehun melihat semuanya, urutan kejadian serta para pemainnya. Saat itu musim dingin, empat tahun lalu, dan… Dongho!

Sehun membuka matanya. Tersadar sesuatu. Dongho… saat itu dia bertemu Dongho.

Jinyoung sudah akan memapah tubuhnya dan membawanya ke ruang UKS namun Sehun tiba-tiba berdiri. Di bantingnya kasar kursi yang menghalanginya. Ia berjalan menuju meja Dongho dan mencengkram kerah bajunya kasar. Cengkraman kuat itu membuat Dongho langsung berdiri dan…

 

BUG!

 

Sebuah pukulan kuat mendarat tepat di wajahnya. Masih belum puas, Sehun kembali mendaratkan pukulan lain hingga Dongho tersungkur ke lantai.

“Sehun!” Jinyoung langsung melompat dari kursinya ke belakang Sehun dan menahan tubuhnya. Beberapa anak perempuan menjerit histeris, kaget dan takut. “Sehun, hentikan!”

“Lepaskan aku! Aku akan membunuhnya! Lepaskan aku!”

“Sehun!” Jinyoung masih berusaha menahan Sehun. Namun tubuhnya yang lebih pendek serta kekuatannya yang tidak bisa menahan berontakan Sehun membuatnya kewalahan. “YA! Apa yang kalian lakukan? Cepat bantu aku!”teriaknya pada beberapa teman sekelasnya.

“Brengsek! Aku besumpah aku akan membalas semuanya! Kau akan menyesal! Aku akan membunuhmu!”

Musim dingin akan segera datang…

Hatinya terasa dingin.

Sepi.

Empat tahun berlalu, ia telah melewati hari-hari yang selalu menyiksanya.

Namun hari ini, Tuhan membalas uluran tangannya.

Tuhan membuka matanya.

Hari ini… Ingatannya kembali.

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

15 thoughts on “FF EXO : AUTUMN CHAPTER 26

  1. So_Sehun berkata:

    Yeeeaaahhh…akhirnya sehun dah inget…
    Perlahan tapi pasti semua akan terungkap dan kembali bahagia…
    Tapi sehun mukul donghonya kurang keras…
    Lanjut chingu…

  2. ellalibra berkata:

    Woaaaaaaahhh akhirnya yeeeeeeyyyy bunyiin terompet biar rame kkkk~ sehun y ampun trma kasih tuhan akhirnya dy inget kejadian itu q msh penasaran jg eon sehun inget jg g sm suster yg ngasih obat sblm ayahnya meninggal tu smg aja tu org antek anteknya ayahnya dongho aakhhh g sabar neeeeeeext fighting eon 😀

  3. Jung Han Ni berkata:

    huaah sehun udah inget, syukurlah
    drama sehun ga ada kissing scenenya kan?? hahah
    akhirnya sehun ga marah lagi sama pastor suho 🙂
    keep writing n hwaiting eonni!

  4. RAIN berkata:

    Akhirnyaa update,senengnyaaa setelah menunggu-nunggu.
    Sehun akhirnya inget! Pasti hbs ini bakalan seru, karna perang sdh dimulaii, lanjut authornim! Jgn lama2 updatenyaa 😀

  5. desi mulya berkata:

    akhirnya ingatan sehun kembali…
    tapi gimana respon publik sama sehun? gaakan dihujat kan, pliss jawab iyaa
    next chapter ditunggu jan lama2 yaa..
    #fighting

  6. Hikari berkata:

    Autumn… akhirnya Sehun mengintanya👏👏
    Semoga mereka cpt dpat kebhagiaan lagi.
    Dan Ayah mereka terbebas dri tuduhan2 tersebut

  7. HunHo_Suho berkata:

    ALHAMDULILLAH !!!!! Seneng-sedih-terharu bercampur jadi satu😢😢😢😢 sehun ingat ya ampuuuunnn greget banget sumpahhh huhuhuhuhuhu persidangan udah di buka dan ingatan sehun udah kembali, KURANG LENGKAP APALAGIIIII Luhan harus memenangkan persidangan ini haruss kak mijaaaa,, meskipun harta mereka berlimpah tapi masalah ini gak selesai harta itu gak ada artinyaaaa😊😊😊 di sini jinyoung ngakak yaaa dia penggemar suzy, juga itu sehun pas pulang curhat, “Aku makan secara menyedihkan, hanya ramen dan sendirian” tu laahhh ganteng ganteng kok jomblo😂😂😂😂😂 di sini semua bercampur, sedih-lucu-marah kak mija emang selalu yang terbaik 😍😍😍😍 kiss kak mijaaaa😘😘😘😘

  8. HyeKim berkata:

    Oke aku kelewat ahahah

    Kok aku malah salfok sehun sama suzy

    Oke, ingatan sehun udah balik. Kasusnya udah mau dibuka. Aku tiba2 waswas Luhan bakal di apa-apain pas nyeledikin kasusnya

    Sehun harusnya gak barbar pas inget ah yaudahlah. Btw manager Sehun gak ngenakin banget sih kwkwk. Lanjut baca terusannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s