NCT’s Story – A Story part 5

121850595

Tittle                            : NCT’s Story – A Story

Author             : Ohmija and MinnieBin

Main Cast        : NCT U and NCT 127

Genre              : School life

Ini bukan awal hari yang baik. Sungguh. Sejak tadi Ji Yoo terus merutuk dalam hati. Kenapa dia harus duduk bersama pria dingin ini?! Bagi murid-murid perempuan lain, mereka mungkin merasa iri dengan posisinya. Tapi jika saja dia bisa menukar tempat duduknya, dia akan menukarnya asalkan tidak duduk bersamanya.

“Siapa namamu tadi?” Yuta bertanya pada teman sebangkunya yang baru.

“Dong Si Cheng, tapi panggil saja aku Winwin.”

“Winwin? Baiklah.” Yuta mengangguk dengan senyum, “Kau berasal dari China?”

“Yah, aku berasal dari China.”

“Kalau begitu kita sama-sama orang asing. Aku dari Jepang.”

“Sungguh?” Mata Winwin membulat. “Aku pikir kau orang Korea. Bahasa Koreamu terdengar sangat baik.”

Yuta tertawa, “Karena aku sudah cukup lama berada disini.”

Sementara itu di bangkunya, Jaehyun tersenyum menatap gadis berkacamata yang terus menundukkan kepalanya di sampingnya.

“Apa kau tidak suka duduk denganku?”tanya Jaehyun lembut.

“Oh?” gadis itu langsung tersentak. Ia menggeleng sambil mengibaskan kedua tangannya, “Tidak bukan begitu.”

“Lalu kenapa kau tidak memperkenalkan dirimu?”

“Aku… aku Kim Yerin.”

“Kim Yerin?” Gadis itu mengangguk. Masih dengan senyum, Jaehyun kembali bertanya, “Kau tidak bertanya siapa namaku?”

“Aku tau dirimu. Kau adalah Jung Jaehyun.”cicitnya pelan kembali menghindari kontak mata.

“Oh? Kau tau namaku?”

“Aku rasa semua orang mengetahuinya.”

Ucapannya langsung membuat Jaehyun tertawa, “Benarkah? Aku tidak tau tentang itu.”

“Hey, apa yang sedang kalian bicarakan?” Tiba-tiba Yuta menggeser duduk Jaehyun hingga keduanya duduk bersama di satu bangku.

“Kami hanya berkenalan.”ucap Jaehyun masih dengan sisa tawanya.

“Sepertinya kalian sudah sangat akrab.” Yuta memalingkan tatapannya pada Yerin. “Kau tidak lupa janjimu, kan?”

“Huh? Janji apa?”

“Hey ayolah, kau bilang kau akan mentraktirku makan siang.” Yuta berdecak berpura-pura kesal. “Aku sudah menolongmu dua kali. Kau harus membayarnya.”

Jaehyun menoleh, menatap Yuta bingung, “Apa yang sedang kau bicarakan?”

“Aku sedang menagih hutang.” Yuta kemudian berdiri lalu menarik lengan Yerin hingga gadis itu tersentak. “Ayo ke kantin.”

Tidak bisa menolak bahkan mengatakan sesuatu, Yerin hanya menurut dengan kepala tertunduk mengikuti Yuta.

Sementara di tempat duduk lain, Ten terus diam karena suasana hatinya sedang tidak baik. Dia tidak begitu menyukai Min Rara namun dia justru harus duduk bersamanya. Tahun ajaran baru saja di mulai, itu artinya dia harus duduk bersama gadis itu selama satu tahun. Yaah, kecuali jika wali kelas berubah pikiran dan memindahkannya lagi. Tapi sepertinya kemungkinan itu sangat kecil. Ah, menyebalkan.

Laki-laki itu mendesah panjang, ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan menaikkan kedua kakinya keatas meja. Ia mengeluarkan komik dari dalam tasnya dan mulai membacanya.

“Permisi, aku ingin keluar.” sebuah suara terdengar.

“Keluar saja.”jawab Ten masih tetap membaca komiknya.

“Kau harus menurunkan kakimu dulu.”

“Lompat saja. Bukankah kau adalah kapten pemandu sorak? Kau terbiasa melompat, kan?”

“Ya!”

Ten menghela napas, menurunkan komiknya dan menatap gadis cantik itu tajam, “Ini hari pertama kita, jangan membuat keonaran.”

“Bukankah seharusnya itu dialogku?”ketus Min Rara mulai kesal. “Kau yang memulainya!”nada suaranya meninggi.

“Ten apa yang terjadi?”tanya Jaehyun dari tempat duduknya.

Ten menoleh, “Gadis ini mengajakku bertengkar.”

“Aku tidak mengajakmu bertengkar! Kau yang memulai duluan.”seru Min Rara membela diri.

Ten hanya berdecak sambil geleng-geleng. Mengabaikan Min Rara membuat gadis itu semakin kesal. Dengan kesabaran yang tak lagi bisa di tahan, Min Rara menendang kaki Ten hingga pria itu terjerembap ke samping kursi. Begitu celah tercipta, barulah gadis itu keluar.

Namun Ten dengan cepat berdiri dan mencekal lengan Min Rara. Masih dengan wajah meringis menahan sakit, Ten menatap gadis itu, “Aku tidak suka dengan gadis kasar.”

“Kau yang memulainya!” balas Min Rara tak mau kalah sambil berusaha menahan cekalan Ten. “Lepaskan aku!”

Seluruh pasang mata sontak menatap keduanya, termasuk Xi Ra By yang merasa terganggu dengan keributan itu.

“Ten, berhentilah mencari masalah. Kenapa kau selalu menyakiti gadis-gadis?”

“Waah, apa karena kau juga seorang gadis jadi kau membelanya? Apa kau tidak lihat siapa yang baru saja di sakiti?” Ten berdecak sambil geleng-geleng kepala. “Dan baru saja kau juga telah menyakitiku, Xi Raby.”

Xi Ra By langsung cemberut, ia menutup bukunya dan berdiri dari duduknya, “Berhenti berharap padaku! Kita sudah putus sejak lama!” lalu ia menarik lengan Bona, “Ayo Bona.” dan meninggalkan kelas.

Ten hanya tersenyum tipis sebelum akhirnya mengembalikan tatapannya pada Min Rara, “Aku akan mengajarimu caranya bersikap lembut. Dan cara yang pertama adalah meminta baik-baik padaku agar aku melepaskanmu.”

Min Rara menatap Ten tajam sambil terus memberontak, “Lepaskan aku!”

“Tidak.. tidak.. bukan seperti itu caranya. Jangan tatap aku seperti itu dan ubah cara bicaramu.”

“Ten sudahlah. Jangan ganggu dia.”seru Jaehyun dari bangkunya.

“Aku hanya ingin mengajarkannya caranya bersikap lembut, Jae. Aku sedang bersikap baik sekarang.”

“Tolong lepaskan aku.” Suara Min Rara terdengar lebih lembut dari sebelumnya membuat Ten menoleh dan menatapnya sedikit terkejut. “Lepaskan aku, Ten.”ulang Min Rara lagi.

Ten tersenyum puas dan melepaskan cekalannya, “Begitu caranya.” Kemudian mengacak rambut Min Rara dan kembali ke tempat duduknya.

Untuk sesaat Min Rara tertegun lalu pergi meninggalkan kelas.

***___***

 

Sejak tadi Yuta tidak bisa menahan senyum karena gadis yang duduk di hadapannya itu makan dengan kepala tertunduk tanpa mau melakukan kontak mata dengannya. Bahkan ketika dia bicara, dia tidak mengangkat wajahnya sama sekali.

“Apa lehermu tidak sakit?”tanya Yuta.

Kim Yerin menggeleng dalam tunduknya, “Tidak.”cicitnya pelan.

“Hey setidaknya kau harus menatap orang yang mengajakmu bicara.”

“Jogieyo…” Akhirnya gadis itu mengangkat wajahnya.

“Hm?” Yuta masih tersenyum.

“Jika aku sudah menghabiskan makananku, bisakah aku pergi lebih dulu? Aku sudah membayarnya jadi aku sudah menepati janjiku.”

“Kenapa? Kau tidak suka makan denganku?”

“Tidak. Bukan begitu.” Yerin langsung menggeleng. “Tapi makan denganmu membuat semua orang memperhatikanku. Aku merasa tidak nyaman.”

“Mereka memperhatikanmu karena kau sangat cantik.”

Jantung Yerin seketika berdebar-debar. Namun sebelum dia larut dalam ucapan manis yang ia tau jika Yuta memang terbiasa mengatakan hal-hal seperti itu –karena dia terlalu baik pada semua orang- gadis itu kembali ke kenyataan.

“Kau pasti tidak pintar berbohong.”ucap Yerin. “Aku akan segera menghabiskannya dan pergi.”

Gadisi tu kembali menunduk dan dengan cepat menghabiskan makanannya membuat Yuta kembali tersenyum geli.

***___***

 

Dia jatuh cinta di tahun pertama SMU pada seorang pria yang bisa membuat jantungnya berdebar-debar pertama kali. Ketika pria itu membungkuk pada semua orang yang lebih tua dan menyapa mereka dengan senyuman hangat. Dan ketika pria itu membagi makanannya dengan kucing-kucing terlantar di halaman belakang sekolah. Dia jatuh cinta pada senyuman hangat dan sikapnya yang ramah.

Namun sayangnya, jarak yang tebentang serta dinding pembatas transparan yang tercipta diantara mereka membuatnya harus menyimpan perasaan itu. Dua tahun ini dia hanya menghabiskan hari-harinya untuk menatap pria itu dari jauh. Mengubur perasaannya dalam-dalam dan menyimpan semua itu hanya untuk dirinya sendiri.

Min Rara mendesah panjang, “Aku tidak punya kesempatan apapun, kan?”

***___***

“Kenapa kau menggodanya? Kau bilang kau tidak suka dengannya.”tanya Jaehyun ketika dirinya, Ten dan Taeyong berjalan bersisian di koridor.

“Aku memang tidak menyukainya. Karena itu aku mengganggunya agar dia dengan sukarela pergi dari kursi itu.”

“Apa kau begitu tidak menyukainya?”

“Aku tidak suka dengan sikap arrogant-nya.” Ten menggelengkan kepalanya. “Oh? Apa ini?” Tiba-tiba murid laki-laki itu menghentikan langkahnya di depan papan pengumuman. “Competisi musik?” Ten membaca dengan cepat tulisan yang tertera disana lalu berdecak, “Tidak ada gunanya.”

“Apa itu?” tanya Taeyong juga penasaran. “Kompetisi musik?”

“Itu hanya untuk murid-murid yang tidak punya kerjaan, hyung.”jawab Ten. “Kita sudah kelas 3, kita sangat sibuk.”

“Kenapa mereka memasangnya lagi? Bukankah tahun lalu tidak ada yang berminat untuk mengikuti kompetisi ini?”seru Jaehyun.

“Sepertinya mereka mencoba menarik minat murid baru.”

“Kenapa tidak ada yang tertarik?” Taeyong menatap kedua temannya bergantian. “Bukankah sekolah ini adalah sekolah seni?”

“Alasan pertama kami sangat sibuk untuk berlatih lagi. Alasan kedua karena lawannya sangat kuat. Biasanya kami harus melawan para trainee dari agensi-agensi terkenal. Itu sangat sulit.”

“Yah. Daripada di permalukan, lebih baik mundur.”sahut Ten mengangguk. “Sudahlah. Ayo pergi.”

***___***

 

“Ji Yoo, kau tidak kembali ke asrama?” tanya Quinn Jo menghentikan langkahnya sesaat menatap gadis yang masih duduk di ruang latihan. Quinn Jo, Kim Ji Yoo, Kim Yerin, Xi Ra By dan Seulgi berada di kamar asrama yang sama.

“Nanti. Kau duluan saja.”jawab Ji Yoo tersenyum kikuk, masih belum terbiasa dengan teman-teman barunya itu.

“Baiklah. Kalau begitu sampai jumpa.”

Ji Yoo mengangguk dan melambaikan tangannya. Setelah semua orang meninggalkan ruangan itu, cepat-cepat ia membereskan perlengkapannya. Ia berjalan keluar ruangan menuju bagian belakang gedung. Masih dengan kedua mata yang was-was dengan lingkungan sekitarnya, berdoa agar tidak ada orang yang melihatnya. Gadis tinggi itu melompati tembok rendah di bagian belakang gedung dan mendarat mulus di jalan aspal sempit. Dengan langkah-langkah cepat ia berjalan berlawanan arah agar tidak tertangkap.

Dia harus bekerja.

***___***

 

“Kau sudah mengatur jadwalmu, hyung?” Jaehyun menjatuhkan diri di kursi Ji Yoo yang ada di sebelah Taeyong.

Taeyong mengangguk, “Karena aku murid baru jadi aku membagi rata waktu latihan rapping, menari, bernyanyi dan composing. Aku juga sudah memutuskan akan ikut klub musik.”

“Kalau begitu, kau bisa bertanya pada Ten untuk—“

“Ups, sorry.” Ten memotong ucapan Yuta. “Aku sudah memutuskan untuk tidak ikut klub musik lagi.”

“Huh? Kenapa?” Yuta dan Jaehyun tersentak bersamaan.

“Aku akan ikut klub tari.” Ia tersenyum lebar.

“Ya, kau pindah ke klub tari karena Seulgi noona?” goda Yuta.

“Tidak!” Ten langsung menggeleng. “Wali kelas tadi memanggilku dan memintaku untuk menggantikan Canhyuk yang mengundurkan diri sebagai wakil ketua klub tari. Dia melihat bakat Tariku yang hebat.”

Jaehyun langsung mencibir, “Dan keuntungan lain kau bisa bertemu dengan Seulgi noona setiap akhir pekan, kan?”

“That’s right.” Ten mengangguk dengan senyuman lebar.

“Menyerahlah. Kau sudah di tolak olehnya. Kau bukan tipenya.”seru Yuta sambil tertawa membuat Ten langsung cemberut.

“Sepertinya di dunia ini tidak ada pria yang menjadi tipenya. Dia menolak semua orang.”sahut Taeyong ikut terkekeh.

“Eh?” Yuta dan Ten langsung menoleh kearahnya. “Jangan bilang…”

Taeyong mengangguk, “Yah, aku juga pernah di tolak olehnya.”

“Oh Tuhan.” Ten berdecak geleng-geleng kepala. “Jika dia bahkan menolak pria sepertimu, lalu bagaimana tipenya yang sebenarnya?” Ia berseru tak percaya. Taeyong adalah orang yang langsung mengalahkan popularitasnya di hari pertama karena ketampanannya tapi ternyata dia juga menjadi korban Seulgi? Bagaimana mungkin?

“Seulgi noona…” Yuta menghentikan ucapannya sesaat. “…masih menyukai laki-laki, kan?”

“Ya, apa maksudmu?” Jaehyun memukul kepala Yuta pelan. “Tentu saja. Kau pikir dia tidak normal?”

“Karena dia tidak pernah terlihat berkencan dengan seseorang.” Yuta menghusap-husap kepalanya.

“Tapi walaupun begitu dia masih normal. Jangan samakan dia dengan Ten yang selalu mengencani gadis-gadis.”

“Ya, kenapa jadi membicarakanku?”seru Ten tak terima.

Taeyong terkekeh, “Sudahlah. Ayo pulang.”

***___***

 

Keesokan harinya ketika bel istirahat berbunyi, Xi Ra By sudah berdiri di ambang pintu kelas Mark sambil melambai-lambaikan kertas di tangannya. Mark seketika tersenyum lebar, sudah tau apa yang sedang di bawa oleh gadis itu. Ia lantas menepuk pundak Haechan yang masih sibuk merapikan buku-bukunya, “Kau makan duluan saja. Aku ada urusan. Sampai jumpa nanti.”

“Mark, kau—“ belum sempat menyelesaikan ucapannya, Mark sudah lebih dulu meninggalkan bangkunya dengan buku-buku yang masih berserakan di atas meja. Haechan mengerutkan kening, bingung dengan sikap Mark.

“Noona, sudah selesai?”tanya Mark menerima kertas itu. “Waaah, terima kasih banyak.”

Ra By tertawa, “Awalnya aku berniat untuk memberikannya pada gadis itu tapi aku pikir lebih baik jika kau yang memberikannya.”

Mark tersenyum dengan sorot terima kasih atas pengertian Ra By, “Terima kasih, noona.”

“Berikan ini dan katakan padanya untuk menyerahkannya kembali padaku setelah dia mengisi data pribadinya, oke?”

Mark mengangguk, “Aku mengerti. Kalau begitu aku pergi dulu, noona.” Anak laki-laki itu berbalik dan berlari pergi.

“Noona, apa yang sedang kalian bicarakan?” Haechan muncul, menghampiri Ra By.

Ra By tersenyum lalu mengacak rambut Haechan, “Kau akan mengerti jika kau sudah dewasa.”ucapnya terkekeh geli. “Aku pergi dulu.”

Haechan langsung mendengus di tempatnya, “Aku sudah dewasa!”

***___***

 

Ten pergi ke ruang latihan tari dengan senyuman lebar dan langkah bersemangat. Hatinya terus berbunga-bunga sejak kemarin memikirkannya. Bagaimana tidak? Mulai saat ini, ia akan sering bertemu dengan gadis paling cantik yang ada di SMU Yangsan, Kang Seulgi!

“Ten kau sudah datang?” Gadis cantik berambut hitam sebahu itu tersenyum menyambut Ten.

“Ah…yah…noona…”balas Ten gugup karena untuk sesaat senyuman itu kembali membuat jantungnya berdebar-debar.

“Aku sudah membuat formulir sekaligus pengumuman untuk menarik minat murid-murid baru. Kau bisa membantuku menempelkannya di papan pengumuman nanti? Aku juga sudah mencantumkan namamu sebagai wakil ketua.” Seulgi menunjuk nama Ten yang tertera di tulisan yang ia buat.

Tanpa pikir panjang Ten mengangguk, “Tentu saja, noona. Terima kasih.”

“Permisi…” Tiba-tiba sebuah suara terdengar. Seulgi dan Ten sama-sama menoleh dan mendapati seorang gadis cantik memasuki tempat itu. Untuk seketika kening Ten berkerut. Apa yang sedang dia lakukan disini?

“Oh? Min Rara?”

Melihat Ten berada di tempat itu, Min Rara ikut terkejut. Namun gadis itu mengabaikannya dan membungkukkan tubuhnya pada Seulgi, “Annyeonghaseo sunbaenim.”sapanya sopan. “Aku datang untuk meminta formulir pendaftaran.”

“Kau mau kembali bergabung dengan klub tari?”

Gadis cantik blasteran itu mengangguk, “Karena tahun lalu aku sangat sibuk jadi aku tidak bisa mengikutinya. Tahun ini, aku ingin kembali lagi, boleh kan?”

“Tentu saja.” Seulgi mengangguk sambil memberikan formulir pendaftaran pada gadis itu sementara Ten terus menatapnya sinis. Dia sudah menjadi teman sebangkunya dan sekarang mereka mengikuti klub yang sama. Menyebalkan sekali. “Setelah mengisinya, kau bisa memberikannya pada Ten.”

Min Rara sedikit terkejut, “Huh?” Oh, Tuhan… dia berharap dia tidak akan berhubungan dengan pria itu lagi.

“Kenapa? Aku pikir akan lebih mudah begitu daripada memberikannya padaku karena gedungku dan gedung kalian sangat jauh.”

“Tidak apa-apa, sunbaenim. Baiklah. Aku akan mengisi ini dengan cepat.”seru Min Rara kikuk. “Kalau begitu aku permisi dulu.”

Ten masih menatap gadis itu hingga ia menghilang di balik pintu. “Dia sangat cantik, kan?” hingga suara Seulgi membuatnya menoleh.

Ia langsung menggeleng, “Noona masih yang tercantik.”

***___***

 

Siang itu, Taeyong tidak bergabung bersama teman-temannya di kantin. Ia lebih memilih untuk pergi ke perpustakaan. Bukan untuk membaca buku tetapi melakukan sesuatu. Sesuatu yang tidak di ketahui oleh siapapun.

Pria itu mengambil sebuah novel secara asal dari rak lalu duduk di kursi yang terletak di sudut ruangan. Lalu ia mengeluarkan buku catatan kecil serta bolpoin dari dalam sakunya.

“Tanggal 10?”gumamnya membaca sesuatu yang tertulis di buku catatannya. “Malam ini?”lanjutnya lagi. “Oh, aku tidak punya banyak waktu.”

Pria itu mulai mencoret-coret buku catatannya. Sesekali ia membuka novel yang ia ambil untuk mencari inspirasi. Kemudian kembali mencoret kata-kata yang ia anggap tidak cocok.

Hingga akhirnya satu jam berlalu dan ia tersenyum lebar dengan hasil tulisannya, “Selesai!” Pria itu membaca ulang tulisannya dalam hati lalu kembali menganggukkan kepalanya, “Sempurna!”

Taeyong menutup buku catatannya dan memasukkannya ke dalam saku blazer. Ketika ia berdiri dan bergegas pergi, matanya melirik kearah seorang gadis yang duduk di samping kursinya. Sepertinya dia pernah melihat gadis itu tapi…

“Sekretaris kelas?”serunya, gadis yang ternyata adalah Quinn Jo itu mendongak. “Kau sekretaris kelas, kan?”

Quinn Jo tersenyum tipis, “Namaku Quinn Jo.”

“Ah, yah, Quinn Jo.” Taeyong tersenyum kikuk. “Apa yang kau lakukan disini?” Pria itu langsung merutuk dalam hati karena telah menanyakan pertanyaan bodoh. Apalagi yang bisa di lakukan di perpustakaan? Tentu saja baca buku.

“Aku sedang belajar.”jawab gadis itu pelan.

“Oh.” Taeyong kembali merasa kikuk karena tidak tau apalagi yang harus ia bicarakan.

“Sudah dari setengah jam yang lalu aku duduk di sampingmu tapi kau baru menyadarinya sekarang.”

Taeyong menggaruk tengkuk belakangnya, “Maaf, aku tidak melihatmu.”

“Sepertinya kau sangat fokus menulis sesuatu.”

“Oh yah, ada yang harus aku catat jadi aku tidak melihat yang ada di sekitarku.”

“Kau sedang mencari sesuatu?”

“Bukan hal penting.” Taeyong menggeleng mengelak. “Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku harus menyusul teman-temanku. Sampai jumpa di kelas.”

Quinn Jo mengangguk dan tersenyum, “Sampai jumpa.”

***___***

Sejak tadi senyum sumringah itu tak juga menghilang dari bibir Mark. Ia melangkah semangat sambil menggenggam gulungan kertas formulir. Sesampainya di kelas Somi, ia menghampiri seseorang yang duduk paling depan dekat dengan pintu. Murid perempuan itu langsung terkejut saat Mark menghampirinya. Di sekolah ini, siapa yang tidak mengenal Mark? Dia adalah salah satu senior terkenal dan juga salah satu calon ketua organisasi sekolah selanjutnya.

“Oh? Mark Sunbaenim…”

“Annyeonghaseo.”sapa Mark tersenyum ramah. “Apa kau melihat Somi?”

“Somi? Tadi dia…” murid perempuan itu menghentikan ucapannya sejenak. “Sepertinya dia pergi ke gudang karena seseorang menyembunyikan kursinya.”

Mark terkejut, “Hah? Gudang?”

Murid perempuan itu mengangguk pelan, “Sepertinya dia mengambil kursi baru.”

Mark langsung berlari meninggalkan kelas Somi sementara murid-murid lain langsung bertanya pada murid perempuan yang duduk paling depan itu apa yang di lakukan oleh Mark tadi. Namun belum sampai di gudang, anak laki-laki itu bertemu dengan Somi yang dengan susah payah sedang menarik kursinya.

Menyadari kehadiran Mark, ia mengangkat wajahnya, “Oh? Mark oppa?”serunya tersenyum lebar.

“Apa yang terjadi?”

“Tidak tau.” Somi menggeleng. “Kursiku tiba-tiba menghilang saat aku kembali ke kelas.”

Mark mendesah panjang, ia memberikan formulir pendaftaran klub pada Somi lalu mengambil alih kursi itu, “Biar aku yang mengangkatnya.”

Gadis itu tersenyum lebar, “Thank you oppa. But, what is this?”tanya Somi membuka gulungan kertas itu. “Oh? Formulir pendaftaran?”

Di sampingnya Mark tersenyum, “Kau tau bahasa Korea formulir pendaftaran?”

Of course. I worked really really hard. Bahasa Koreaku sudah lebih baik, kan?”

“Yah, sedikit.” Mark terkekeh.

“Kenapa sedikit? Katakan sangat bagus.” Somi menyenggol siku Mark dengan sikunya.

“Baiklah. Baiklah. Sangat bagus. Happy?

Somi ikut terkekeh lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kembali ke kelas Somi sambil mengangkat sebuah kursi serta Somi yang berjalan di sampingnya, seketika seluruh pasang mata beralih kearah mereka berdua. Tidak sedikit murid-murid yang tercengang melihat Mark mengangkat kursi untuk Somi. Yah, mereka tau Somi sangat cantik dan semua orang pasti menyukainya. Tapi… Mark? Apa dia juga menyukainya?

“Berikan padaku jika kau sudah selesai mengisinya.”ucap Mark setelah meletakkan kursi Somi. “Kau tau dimana kelasku, kan?”

Somi mengangguk, “Terima kasih, oppa.”

Mark tersenyum dan bergegas pergi. Namun langkahnya terhenti sesaat, tatapannya mengedar ke seluruh murid-murid yang ada disana. “Aku harap kalian tidak bercanda berlebihan seperti ini lagi.” Lalu meninggalkan kelas Somi.

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 thoughts on “NCT’s Story – A Story part 5

  1. daisygarside berkata:

    Ngmg2 Yeri ngga ada ya sm Arin juga?

    Duh kasian ya Rara harus berurusan dg cowok yg sikapnya ngga jauh beda sm dia..
    Kuharap perasaan Rara ngga sepihak, cukup dia aja yg berpikir perasaannya sepihak…

    Tp siapa yg ngumpetin kursi Somi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s