FF EXO : AUTUMN CHAPTER 25

autumn

Author  :  Oh Mi Ja

Cast :  Leeteuk SJ as Park Jungsoo

Luhan EXO as Park Luhan

Kai EXO as Park Jongin

Sehun EXO as Park Sehun

Support Cast      : Kris EXO as jaksa

Suho EXO as Pastor

Taemin Shinee as Lee Taemin

JR JJ Project as Park Jin Young

Jonghyun CN Blue as Lee Jonghyun

Genre                   : Brothership, Family,  Friendship, little sad

“Saat itu sudah memasuki musim dingin. Kau, aku dan Taemin pergi ke festival menari bersama-sama. Aku ingin membelikanmu hadiah natal jadi aku berusaha untuk memenangkan tempat pertama.”

“Apa hyung menang?”

Jongin mengangguk pelan, “Aku memenangkannya. Namun, setelah menerima hadiah, aku tidak bisa menemukanmu. Kau tiba-tiba menghilang.”

“Aku… pergi kemana?”

“Tidak tau.” Jongin menatap adiknya itu lurus. “Tapi kami menemukanmu di rumah pastor Suho pada malam harinya. Pastor Suho bilang dia menemukanmu sedang menangis di gereja setelah seseorang memberitahumu tentang kasus ayah.”

Sehun terdiam, ia menurunkan pandangannya ke lantai, “Hyung, aku…”

“Jika kau tidak mengingatnya, jangan memaksakan diri.”seru Jongin menghusap kepala Sehun. “Apa besok kau harus pergi?”

Sehun mengangguk, “Aku memiliki jadwal konser.”

“Apa tidak bisa di batalkan?”

Anak laki-laki berkulit putih itu menggeleng lalu menunduk, “Maaf, hyung.”

“Kalau begitu tidurlah. Jaga dirimu dengan baik.”

***___***

 

Sehun sudah pergi meninggalkan rumah pagi-pagi sekali karena dia memiliki jadwal konser hari ini. Di sisi lain, Luhan juga terlihat tidak berada di rumah. Dia harus menyelesaikan beberapa urusan perijinan.

Jongin menghela napas panjang, duduk di kursi makan dan menikmati sarapannya seorang diri. Hari masih sangat pagi tapi dia sudah di tinggalkan oleh semua orang. Kuliahnya akan berlangsung siang hari dan dia tidak memiliki jadwal latihan apapun. Dia sedikit kesepian.

“Ya Jinyoung?” Pria itu langsung menjawab panggilannya ketika ponselnya berdering. “Yah, dia bilang dia memiliki jadwal hari ini jadi dia tidak bisa hadir di sekolah. Tidak.. dia bilang sudah baik-baik saja. Lagipula walaupun aku mengatakan jika dia masih sakit, dia pasti akan tetap pergi. Kau tau bagaimana dia, kan?” Jongin mengapit ponsel di telinga dan pundaknya sementara kedua tangannya membuka penutup selai. “Dia tidak menjawab panggilanmu mungkin karena sedang sibuk. Dia juga belum membalas pesanku. Sudahlah, kau tidak perlu khawatir. Dia akan menghubungimu secepatnya. Eum, baiklah. Terima kasih, Jinyoung.”

“Dengan siapa kau bicara? Sehun?”

“Oh Tuhan.” Jongin terkejut setengah mati begitu mendengar suara seseorang. Ponselnya tanpa sengaja terjatuh ke lantai sebelum sempat tertangkap dengan tangannya. Ia langsung mendelik kearah pria yang ternyata Taemin itu, “YA! Kau mengagetkanku!”rutuknya lalu memunguti bagian-bagian ponselnya yang tercecer di lantai. “Bagaimana bisa kau…” belum sempat menyelesaikan pertanyaannya, ia teringat jika dirinya lah yang memberitahu kode panel kunci rumahnya pada Taemin sehingga pria itu bisa masuk kapan saja. Ia menghela napas panjang dan mengubah pertanyaannya, “Apa yang kau lakukan disini pagi-pagi sekali? Kau bahkan tidak mengucapkan salam.”

Taemin menjatuhkan diri di kursi yang ada di samping Jongin sambil mengambil sehelai roti, “Aku bosan. Appa dan eoma punya urusan jadi harus pergi pagi-pagi sekali.”jawabnya. “Ngomong-ngomong, dimana Luhan hyung dan Sehunnie?”

“Luhan hyung pergi karena harus mengurus perijinan firma hukumnya dan Sehun memiliki jadwal konser.” Jongin mulai mengunyah rotinya. “Kau tidak ada jadwal kuliah?”

Taemin menggeleng, “Nanti siang.”

“Lalu kau tidak bekerja?”

“Aku di pecat.”

Mata Jongin langsung membulat lebar, “Lagi?!”

Taemin mengangguk sambil mengunyah rotinya, “Mereka bilang artikelku tidak penting.”serunya. “Sepertinya aku harus mengubah profesiku. Menjadi wartawan sangat sulit.”

“Sudah ku bilang, masukkan Sehun ke dalam artikelmu. Buat saja artikel jika dia mengencani salah satu member Red Velvet atau siapapun. Aku yakin artikelmu pasti akan terjual mahal.”

Taemin langsung melirik sinis kearah Jongin, “Kau pikir aku wartawan murahan?” ketusnya. “Aku tidak mau membuat berita palsu dan aku tidak mau memanfaatkan adikku sendiri. Aku adalah wartawan yang terhormat.”

Jongin tersenyum geli, “Kalau begitu kau memang harus mengubah profesimu.”

Semangat membara Taemin seketika menghilang, ia meletakkan rotinya di atas piring dan mendesap panjang, “Tapi aku suka pekerjaan itu.”

“Sehun sedang berada di Busan karena ada konser. Pergilah kesana dan buat artikel.”

“Kau pikir harga tiketnya murah?! Lagipula aku harus mengurus perijinan dengan agensinya dulu jika ingin meliput. Tsk, kau benar-benar tidak mengerti dengan pekerjaanku.”

“Sudahlah. Pergilah ke salah satu agency dan debut sebagai idol saja. Bukankah kau mendapat penawaran?”

“Bagaimana mungkin aku pergi sendiri? Kau sudah mengubah mimpimu jadi aku mengubah mimpiku juga.”

“Kenapa kau mengikutiku? Kejarlah mimpimu sendiri.”

“Karena kita selalu memenangkan berbagai penghargaan bersama. Rasanya sangat aneh jika aku menari seorang diri.” Lagi-lagi ia mendesah sambil menghela napas panjang. “Sudahlah. Lagipula aku sudah menyukai pekerjaanku.”

Jongin tidak bersuara lagi. Hanya tersenyum menatap sahabatnya itu dengan sorot terima kasih.

“Oh ya, ku dengar, Sehun di rawat di rumah sakit kemarin. Kenapa? Apa dia kelelahan?”

“Yah.” Jongin mengangguk lalu menatap Taemin lurus. “Kau sedang tidak mewawancaraiku, kan?”

“Ya! Memangnya sudah berapa lama kita berteman? Kau masih tidak mempercayaiku?”

Jongin terkekeh, “Dia kelelahan dan juga…” pria itu menelan kunyahannya terlebih dahulu sebelum melanjutkan ucapannya. “…mengalami trauma.”

Kening Taemin berkerut, “Huh?”

“Dokter bilang karena kejadian di masa lalu, otaknya mengalami trauma dan membuatnya melupakan sebagian ingatannya. Kau tau jika Luhan hyung akan menjadikannya sebagai saksi atas kasus ayah karena dia memiliki informasi penting tapi sialnya, dia justru kehilangan ingatan tentang informasi itu.”

“Tunggu… aku tidak mengerti. Tapi bukankah selama ini Sehun baik-baik saja?”

“Yah, dia memang baik-baik saja.” Jongin mengangguk. “Luarnya.” Ia melanjutkan dengan nada kecut. “Selama ini dia selalu menyimpannya sendiri dan tidak memberitahuku ataupun Luhan hyung. Hal itu membuat kami berpikir jika Sehun sudah baik-baik saja dengan masa lalu kami, Ternyata kami salah, dia tidak baik-baik saja bahkan menderita seorang diri.”

Taemin menutup mulutnya dengan kedua tangan, terperangah hebat, “Oh Tuhan…”

“Dia memang mengingat semua hal yang telah terjadi pada kami. Tapi dia tidak bisa mengingatnya secara mendetil.”

“Tapi… Sehun baik-baik saja, kan? Aku tidak bermaksud untuk mengabaikan masalah kalian karena Sehun tidak bisa mengingat informasi itu. Tapi… dia baik-baik saja, kan?”

Jongin tersenyum, “Aku tau kau mengkhawatirkannya.”jawabnya pelan. “Sejujurnya aku juga sudah melupakan kasus itu. Bukan karena aku tidak perduli atau karena aku sudah melupakan appa. Tapi karena dua saudaraku yang selama ini hidup menderita. Luhan hyung dan Sehun selalu berusaha keras untuk menyelesaikan kasus ini tanpa menyadari jika selama itu juga mereka telah menyakiti diri mereka. Aku ingin kasus ini segera terungkap. Tapi lebih dari itu, aku ingin dua saudaraku hidup normal. Aku ingin mereka kembali seperti dulu.”

Taemin menatap sahabatnya itu iba, “Lalu kenapa kau tidak bicara dengan Luhan hyung? Kau bisa membujuknya.”

“Aku ingin melakukannya. Tapi melihat bagaimana kerasnya usaha Luhan hyung agar dia bisa menjadi pengacara membuatku tidak tega. Dia telah mengorbankan banyak hal untuk menyelesaikan kasus ini. Jadi aku memutuskan untuk diam dan mendukung semua hal yang dia lakukan. Aku akan jadi pemain belakang yang akan mengangkapnya saat dia jatuh. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuknya.”

Taemin menelan ludah pahit, “Kau tidak apa-apa?”

Jongin tersenyum balas menatap sahabatnya itu, “Jika aku berkata aku baik-baik saja, itu adalah kebohongan. Aku tidak sepenuhnya baik-baik saja. Tapi sejak dulu, aku sudah mengikhlaskan semuanya. Mungkin Tuhan memang jauh lebih menyayangi appa daripada kami. Tuhan ingin memberikan tempat yang nyaman untuk appa jadi appa pergi sangat cepat. Aku selalu berpikir seperti itu untuk menenangkan hatiku.”ucapnya pelan. “Aku sudah tidak menginginkan apapun lagi. Aku menjadi pemain sepak bola sekarang. Walaupun aku tidak menyukainya sejak awal, tapi profesi ini bisa membuatku melihat senyuman Luhan hyung yang bangga padaku. Dan walaupun aku telah melepaskan mimpiku menjadi penari, tapi aku masih bisa melihat Sehun menari di atas panggung. Hal itu sudah cukup buatku. Aku tidak menginginkan apapun lagi.”

***___***

 

“Jadi nyonya Anne, aku telah menyelidiki beberapa orang sejak dua tahun lalu dan mencurigai tiga orang. Aku belum bisa memutuskan secara pasti karena aku hanya menyelidiknya secara garis besar. Jika surat permohinanku di setujui, aku ingin meminta laporan audit atas keuangan mereka.”

“Tapi bisa saja laporan itu di manipulasi, Luhan.”balas nyonya Anne.

“Mungkin saja. Tapi ada dua tim audit yang memeriksa keuangan perusahaan setiap tahun. Aku akan meminta laporan tim audit eksternal.”

“Tapi tetap saja itu tidak bisa di jadikan bukti yang kuat.” Nyonya Anne menatap Luhan sambil menggeleng.

Luhan mendesah panjang, “Aku tau…”

“Kau sudah menemukan keberadaan Donghyun?”

Pria itu menggeleng, “Aku sudah menyelidiki rute bus yang di lihat Jongin empat tahun lalu tapi aku tetap tidak bisa menemukannya. Jadi aku meminta bantuan temanku untuk memeriksa daftar perjalanannya. Mungkin saja dia berada di luar negeri.”

Nyonya Anne ikut mendesah panjang. Ia tau bagaimana perjalanan hidup Luhan. Bagaimana berat dan melelahkannya hidupnya itu. “Kita tunggu hingga pengadilan menyetujui kasusmu. Kita pasti bisa menyelesaikannya.”

Luhan mengangguk, “Terima kasih, nyonya Anne.”

***___***

 

Ia membungkukkan tubuhnya sopan pada ribuan penggemar yang terus-menerus meneriakkan namanya sebagai ungkapan terima kasih karena selalu berada di sisinya selama satu tahun ini.

“Aku tau ini sangat membosankan tapi aku ingin mengucapkan terima kasih sekali lagi.”serunya di sambut dengan teriakan yang lebih heboh. “Terima kasih pada semua orang yang selalu mendukungku. Aku tau itu sangat melelahkan tapi kalian tidak pernah menyerah untuk berteriak dan mengangkat lightstick kalian. Terima kasih.”

“PARK SEHUN! PARK SEHUN! PARK SEHUN!”

Sehun tersenyum lebar, “Aku harap kita bisa bertemu lagi secepatnya. Aku akan bekerja keras untuk menghasilkan karya yang lebih baik dan membuat kalian bangga padaku.” Pria tinggi itu sekali lagi membungkukkan tubuhnya sebelum akhirnya ia meninggalkan panggung.

“Kau sudah melakukan yang terbaik. Kerja bagus.” Begitu turun dari panggung, managernya langsung menghampirinya sambil memberikan sebotol air mineral. Bersamaan dengan beberapa staf yang datang untuk menghusap keringatnya dengan handuk dan mengipasinya.

Sehun meneguk air mineralnya sebelum berseru, “Aku ingin bicara denganmu hyung. Sekarang.” Ia melanjutkan langkah menuju ruang ganti. Managernya mengerutkan kening namun mengikuti langkahnya.

“Kenapa? Apa yang ingin kau bicarakan?”tanya Managernya sambil menutup pintu.

Sehun memutar kursinya, duduk menghadap managernya yang sedang duduk di sofa. Untuk sesaat ia terdiam, “Hyung, aku rasa aku tidak bisa mengambil project drama itu.”

Managernya seketika terkejut, “Hah? Kenapa?”

“Hyung, aku baru saja keluar dari rumah sakit dua hari lalu. Aku sangat lelah. Aku ingin mengambil waktu istirahat untuk beberapa waktu.”

“Ya! Kau gila?! Semua warga Korea Selatan, ah tidak, bahkan fansmu di luar negeri telah menunggu drama itu! Kau bilang kau akan melakukannya!”

“Aku bilang aku akan mempertimbangkannya.”seru Sehun. “Aku sudah memikirkannya dan aku sudah memutuskan untuk tidak mengambil peran di dalam drama itu. Hyung, aku benar-benar lelah.”

Managernya mengulurkan tangan, mencekal kedua bahu Sehun, “Kau pasti bisa melakukannya. Aku akan membelikanmu banyak vitamin agar kondisimu segera membaik. Kau bahkan bisa melakukan konser ini, itu artinya kau baik-baik saja.”

Sehun kembali menghela napas panjang, di tatapnya managernya itu lurus-lurus, “Bahkan walaupun aku pingsan di tengah-tengah jadwal, kalian akan tetap mengatakan jika aku baik-baik saja dan memaksaku untuk melanjutkannya. Selama setahun ini aku telah bekerja tanpa henti seperti robot. Sekarang aku hanya minta beberapa hari untuk istirahat, apa aku tidak bisa mendapatkannya? Aku sudah menghasilkan banyak uang untuk kalian. Apa itu masih belum cukup?”

“Ya! Berani sekali kau brengsek!”

Sehun berdiri dari duduknya, sama frustasinya, “Aku mohon padamu, hyung. Aku benar-benar lelah. Aku ingin istirahat sejenak.”ucapnya putus asa. “Aku mohon.”

Managernya menarik napas panjang dan menghembuskannya, berusaha meredam amarahnya, “Aku akan membelikanmu beberapa vitamin nanti. Sekarang kembalilah ke dorm.”

“Hyung…”

“Aku tidak ingin bicara denganmu lagi.”

***___***

 

“Padahal sudah empat tahun berlalu tapi kenapa kalian belum di berikan waktu untuk beristirahat? Aku pikir waktu bisa menyembuhkan luka, tapi kenapa waktu justru membuatnya semakin rumit? Aku tidak mengerti.” Taemin menghentikan celotehan panjangnya begitu ia menyadari jika ia sedang bicara seorang sendiri. Ia menoleh, menatap kearah sahabatnya yang tenggelam dalam lamunanya.

Pria itu menghela napas panjang. Tangannya terulur, menghusap bahu Jongin lembut. Ia tau itu tidak ada gunanya. Jika saja Jongin bisa membagi sedikit bebannya.

Masih dengan tatapan lurus ke depan, Jongin berseru, “Apa yang harus aku lakukan, Taemin? Lama-lama, aku merasa lelah.”

***___***

 

Pria paruh baya melangkah keluar lift dengan bungkusan plastik di kedua tangannya. Dia telah membeli beberapa vitamin, obat herbal serta makanan kesukaan Sehun. Mungkin ini bisa membuatnya menjadi bersemangat dan berubah pikiran. Tidak perduli apapun yang terjadi, dia harus mengambil peran dalam drama itu. Karena semua orang telah menantikannya.

Ia membuka pintu setelah memasukkan kode kunci, “Sehun. Sehun-ah…”panggilnya sambil meletakkan bungkusan plastiknya diatas meja. “Kau di kamar? Atau kau sedang mandi? Aku membelikan ddokbukkie untukmu. Kau pasti belum makan, kan? Sehun…huh?” Keningnya berkerut karena tidak mendapati Sehun di kamarnya. Lalu ia berjalan menuju kamar mandi, “Kau sedang mandi?” Namun lagi-lagi ia tidak menemukannya. Firasatnya langsung memburuk. Cepat-cepat ia mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang.

“Ya, kau melihat Sehun di agency?”

“Tidak. Bukankah dia langsung pulang setelah konser, hyung?”

“Oh Tuhan…” ia mendesah frustasi. “Cepat cari dia di rumahnya. Mungkin dia pulang ke rumah.” Ia mematikan sambungan panggilannya lalu berlari meninggalkan ruangan apartement itu untuk mencari Sehun.

Sementara di tempat yang berbeda, pria tinggi yang memakai pakaian training serba hitam serta topi dan masker yang menutupi sebagian wajahnya itu berjalan di pinggir jalan menuju suatu tempat. Matanya menatap ke sekeliling, pada tempat-tempat yang ia lalui serta orang-orang yang berlalu lalang bersamaan dengan otaknya yang mulai bekerja untuk mengingat sesuatu.

Mungkin ada kenangan yang tertinggal di tempat ini atau bersama dengan orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Mungkin ia telah meninggalkan kenangan yang seharusnya ia ingat.

Hingga ketika langkah kakinya terhenti saat ia menyadari dimana ia berada sekarang, tubuhnya langsung membeku. Otaknya mulai menggambar sketsa abstrak. Jika itu adalah festival menari, mungkin ada panggung di sebelah sana. Lalu di depannya ada orang-orang yang sedang menonton dan menyoraki. Jika Jongin bilang saat itu adalah musim dingin, itu artinya salju juga sedang turun. Orang-orang akan memakai jaket yang tebal. Jika saat itu adalah musim dingin, itu artinya tidak banyak orang yang menonton.

Sehun memejamkan matanya kuat-kuat saat sketsa yang ia bikin tidak membantu sama sekali. Kepalanya terasa pusing namun tidak ada hasil yang ia dapat. Ia tetap tidak bisa mengingat apapun. Pria itu mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mulai mengeras. Sekali lagi ia memaksa otaknya untuk mengingat sesuatu namun ia mendapat rasa sakit yang semakin besar. Ia terhuyung, nyaris terjatuh. Karena mungkin ini adalah batas kekuatannya.

Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya, mencari kesadaran serta menguatkan kakinya untuk tetap berdiri. Kenapa? Kenapa dia tidak bisa mengingat apapun? Dia telah mengecewakan ayahnya serta Luhan yang telah mengorbankan segalanya demi kasus ini. Kenapa dia tidak bisa membantu sedikitpun?

“Appa… tolong aku. Kepalaku sangat sakit.”

***___***

 

Malam itu hujan tiba-tiba mengguyur kota Seoul membuat Suho langsung berlari dari halte bus menuju rumahnya. Kedua telapak tangannya ia letakkan di atas alis mata untuk melindungi matanya dari air hujan. Namun belum sampai di rumahnya, pria itu berbelok dan berlindung di depan rumah seseorang. Tubuhnya sudah basah kuyup, berlaripun tidak ada gunanya.

“Ah, dokumen-dokumenku bisa basah semua.”serunya sambil membuka kancing jasnya. Ia memeluk tas kerjanya di balik jasnya. Ia harus melakukan presentasi besok, hujan tidak boleh merusaknya.

Pria itu kembali berlari. Namun kali ini bukan menuju rumahnya namun menuju gereja yang jaraknya lebih dekat. Dia ingin mengamankan dokumen-dokumen bahan presentasinya besok lebih dulu

Suho langsung menerobos masuk ke dalam gereja. Titik-titik air menetes dari ujung pakaiannya membasahi lantai serta sepatunya yang membuat jejak-jejak disana. Pria itu kembali menghela napas panjang, sudah di pastikan jika besok dia harus membersihkan gereja sebelum pergi ke kantor.

“Aaah… cobaan lagi.”keluhnya. Namun ketika pandangannya mengarah ke depan, keningnya langsung berkerut. Ada seseorang sedang duduk di salah satu kursi. Dan dia… menangis.

Suho terdiam sesaat sebelum akhirnya melangkah menghampirinya. Pria itu menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan kedua bahu yang berguncang. Topi yang di pakainya menyembunyikan wajah menangisnya. Suho mengulurkan tangan, menghusap lembut pundak pria itu.

“Ada apa? Kenapa kau menangis?” Perlahan pria itu mengangkat wajahnya, memperlihatkan wajahnya yang sudah basah. Detik itu juga Suho terkejut. “Sehun?!” pekiknya. Ia langsung menjatuhkan diri di samping pria itu dan mecekal kedua bahunya, “Kenapa kau menangis? Apa yang terjadi? Kau terluka? Kau sakit?”

“Pastor Kim…”isak Sehun menatapnya.

“Ada apa? Katakan padaku. Apa yang terjadi?”

“Pastor Kim… tolong aku…”

“Apa?”

“Tolong aku Pastor Kim. Aku mohon.”

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

15 thoughts on “FF EXO : AUTUMN CHAPTER 25

  1. HyeKim berkata:

     “Aku sudah tidak menginginkan apapun lagi. Aku menjadi pemain sepak bola sekarang. Walaupun aku tidak menyukainya sejak awal, tapi profesi ini bisa membuatku melihat senyuman Luhan hyung yang bangga padaku. Dan walaupun aku telah melepaskan mimpiku menjadi penari, tapi aku masih bisa melihat Sehun menari di atas panggung. Hal itu sudah cukup buatku. Aku tidak menginginkan apapun lagi.”

    Suka banget sama kata2 Jongin yang ini. That’s ya ampun diri ini rasanya pen mewek T.T

    Sehun jangan maksain diri ya malah tar penyakitnya makin2 ya ampon banget dah juga aku gak sabar adegan Luhan jd pengacara di pengadilan buahahahah😄😄 ditunggu loh kak lanjutan ffnya

  2. osehn96 berkata:

    jinyoung bisa bantu juga ya kan ya?. dia kan tau dulu dongho ga suka sehun dan ngatain2 sehun. mungkin kalo sehun berbagi ama jinyoung mmbantu stidaknya sdikit jadi terungkap. ato ngga dgn sendirinya sehun inget kembali gitu pas ketemu dongho. kan sehun inget juga kan kalo dia musuhan sama dongho. aduuuh geregeet. iyalaah bnerkan jongin gk mungkin dgn mudah begitusaja ga peduli. dia itu mengikhlas. org yg sabar diantara sodaranya.dia merelakannya. btw taemin setia kawan banget …

  3. RAIN berkata:

    Wahh, terharu banget sama kata2 jongin, dia bener2 bersikap dewasaa dan ikhlas, semoga ntar sehun sm luhan jg bisa ikhlas
    sedih liat sehun yg maksa buat inget eh malah sakit..
    Ditunggu banget next chapnya authornim, fighting!

  4. Sye berkata:

    Sebel sama manager sehun 😈 *cm pngn blg itu aja 😂
    Sehun baik2 ya, jgn frustrasi dan stres..kasian bgt si km huee..smg nnti ingatanku kembalj

  5. han berkata:

    ohmija eonnie lope2 diudara dah ..
    ini kata2 jongin masuk kehati bngrt feel ceritanya dpt, jdi makin cinta sma sehun ..
    suka sehun yg dibuat menderita kyak gini, lebih grget gitu.. hhe mian sehun

    ditunggu next chapternya ..
    selene 6.23 nya jga ya

  6. XI RA BY berkata:

    Sumpaaah sumpah sumpaaaaah suka banget sama ff ini.
    Huaaaaa ff favorit bangettt!
    Tapii yaaa smpat kecewa sih sama mija, kecewa kenapa? Ya krna sy udah bolak balik tiap hari di WP ini tujuannya apa? Ya krna ff ini..
    Oh mi ja plisssss apdet ff ini seminggu skli lah minimal, ya ya ya?

    Luhan, kai, sehun…
    Oh my? Geregetttttt!
    Kerja keras mereka itu lohhh..
    Maknae jg kasian, terbebani sekali.
    Lanjut lahhhhhhhhh…..

  7. desi mulya berkata:

    Ya tuhan… Itu managernya sehun jahat banget, masa minta istirahat beberapa hari aja gaboleh, jongin-aa aku bangga padamu nak 😂 itu sehun knapa minta tolong sama pastor kim??? Next chap nya jan lama2 yaa

    #fighting

  8. So_Sehun berkata:

    Sumpah aku suka sekali ini ff…
    Aku ga tau mau bilang apa lagi..aku bener2 bingung mau ngungkapin kesukaanku sama ini ff gimana….
    Pokoknya bangus banget dah…aku bacanya kayak hal ini bener dikehidupan nyata…👍👍👍😍😍

  9. ellalibra berkata:

    Hueeeeeeeeeee jonginie terharu q sm kata”ny …. Jgn bt mrk bermasalah sm pekerjaan nya eonn kshn lom slsai mrk sm mslh dmsa lalu mza dtambah lg sedih kpn mrk bhgia eon???? Smg cpt ktmu penyelesaian nya n sehun inget sm kejadian itu 😀 neeeeeeext fighting

  10. Jung Han Ni berkata:

    duuh jongin kata2nya bikin sedih😥
    sehun kenapa? huhuhuhu T_T Sehun telah banyak menderita…
    keep writing n hwaiting!

  11. diyah pudji rahayu berkata:

    terharu dgn kta” jongin, jinyoung kan shabat sehun n dia jg th klu dongho muduh sehun, knp jinyoung gak bcr k luhan y, daebak banget ff ni, d tunggu lanjut’a y mi ja, semangat n jaga ksehatan, thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s