NCT’s Story – A Story part 4

121850595

Tittle                            : NCT’s Story – A Story

Author             : Ohmija and MinnieBin

Main Cast        : NCT U and NCT 127

Gnere              : School life

Ji Yoo pergi menuju atap sekolah dengan langkah-langkah panjang. Wajahnya cemberut. Merasa kesal. Dia baru mengetahui jika makhluk yang bernama Ten itu begitu menyebalkan. Yah, rumor yang dia dengar memang mengatakan jika dia hanya baik dengan gadis-gadis cantik. Lalu… aoa itu artinya dia tidak cantik? Menyebalkan!

“Dasar Ten brengsek! Kau brengsek! Aku membencimu!!” ia mengumpat sesuka hatinya di sana. Melampiaskan seluruh kekesalannya.

“Ya.” Tiba-tiba sebuah suara terdengar. Ji Yoo menoleh kaget. Kenapa tiba-tiba ada seseorang disana? Biasanya tidak ada yang pergi ke tempat ini.

“Kau?” Gadis itu kembali terkejut saat melihat siapa yang ternyata ada disana. Bukankah dia murid baru yang sedang di bicarakan oleh orang-orang? Namun begitu menyadari sesuatu, Ji Yoo langsung menggigit bibir bawahnya. Gawat! Dia kan salah satu teman Ten! Apa dia mendengar semua yang dia katakan tadi? Bodoh!

“Apa yang sedang kau lakukan? Kau mengganggu tidurku.”

Ji Yoo menelan ludah, setelah ini riwayatnya pasti berakhir, “Aku tidak tau jika kau ada disini.”

“Yah, kau tidak melihatku karena kau sibuk mengumpat.”

Sial. Dia mendengarnya. “Kenapa? Apa kau akan mengadukannya pada temanmu?” balas Ji Yoo bersikap seakan dia berani. “Adukan saja, aku tidak perduli. Temanmu memang brengsek.”

Taeyong berjalan maju, menghampiri Ji Yoo membuat gadis itu langsung mundur ke belakang tanpa sadar. Tatapannya itu sangat menakutkan.

“Awalnya aku tidak perduli tapi kau justru menyuruhku untuk mengadukannya jadi…” desis Taeyong dingin. “… aku akan melakukan yang kau mau.”

Pria itu bergegas pergi namun Ji Yoo langsung menahan lengannya, “Aku tidak menyuruhmu.” Hanya dalam hitungan detik, sikap beraninya menghilang. Gadis itu menggeleng, “Tolong jangan memberitahunya. Aku mohon.”

Taeyong kembali menatapnya tajam, “Aku tidak suka saat seseorang menyentuhku.”

Ji Yoo langsung melepaskan cekalannya, “Maaf. Aku tidak bermaksud…”

“Mulai sekarang jangan datang ke tempat ini lagi, tempat ini adalah milikku.” Taeyong berujar dingin lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Ji Yoo meniup poni rambutny, merasa sangat kesal, “Dasar brengsek. Kenapa mereka begitu menyebalkan?!”

***___***

 

Dia tidak menyukai keramaian. Apalagi saat dia menjadi pusat perhatian seperti sekarang ini. Seluruh pasang mata sedang tertuju padanya, sebagian melakukan secara sembunyi-sembunyi sebagian lagi melakukannya secara terang-terangan. Ini menyebalkan.

“Oh Tuhan, apa yang dia makan hingga bisa tampan seperti itu?”bisik seorang murid perempuan.

“Aku merasa seperti aku sedang melihat L Infinite secara nyata.”

“Wajahnya hampir sama dengan karakter manga. Tampan sekali!”

Taeyong menulikan telinganya. Mengabaikan semua bisikan-bisikan itu.

“Taeyong!”

Taeyong menoleh ke belakang begitu mendengar suara yang sangat familiar.

“Seulgi noona…”

“Ya, kau.” Gadis cantik itu langsung menarik lengan Taeyong, “Ikut aku. Kau harus menjelaskan sesuatu!” Ia menyeretnya pergi melewati murid-murid yang sedang menatap kearah mereka, juga seorang gadis yang tanpa sadar menoleh ke belakang, memandangi keduanya dengan tatapan sendu, dia… Quinn Jo.

***___***

 

“Waaah, Mark benar-benar akan mencalonkan diri? Bukankah dia menolaknya?” Yeri melihat kertas yang baru saja di tempel Arin sambil melipat kedua tangan di depan dada.

“Yuta oppa memaksanya.” Arin tertawa.

“Jika dia terpilih menjadi ketua organisasi, aku akan mendaftarkan diri sebagai pengurus.”

“Bagaimana jika Haechan yang terpilih?”

Yeri mendesah panjang, tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Haechan yang akan menjadi ketua, “Aku rasa SMU Yangsan akan mengalami kehancuran.”ia berkata dengan nada sungguh-sungguh membuat tawa Arin seketika meledak.

Arin memukul pundak Yeri pelan, “Dasar.”

“Apa yang sedang kalian lihat?” Tiba-tiba Xi Ra By muncul, bergabung bersama keduanya. “Oh? Calon ketua organisasi baru?”

“Unnie, siapa yang akan unnie pilih?”tanya Yeri.

“Tergantung.” Ra By menatapi kertas yang di tempel itu.

Kening Yeri berkerut, “Tergantung?”

“Yaaah, tergantung bagaimana cara mereka membuatku tertarik.” Ia terkekeh pelan. “Tapi, bukankah Mark adalah kandidat yang kuat? Karena aku rasa semua orang akan memilihnya, jadi akan memilih Haechan.”

Mata Yeri seketika terbelalak, “Unnie jangan bercanda.”

Ra By masih terkekeh,“Kenapa? Bukankah dia lucu?”

“Lucu apanya? Dia menyebalkan! Jangan memilihnya unnie.”

“Kenapa tidak boleh?” suara kesal terdengar dari belakang ketiganya. Mereka menoleh dan mendapati Haechan sudah berdiri disana dengan tatapan angker. “Ya, Kim Yerim, apa kau sedang mencoba untuk menusukku dari belakang?”

“Tidak. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya.”balas Yerim dengan wajah tanpa dosa.

“Dasar sesaeng fans Jaehyun hyung.”

“Ya! Aku bukan sesaeng fans!”

“Yah, kau adalah sesaeng fans. Kau menyukainya Jaehyun hyung, kan? Kau mau aku membongkarnya?”

“Ya! Lee Haechan!”

Haechan mengulurkan tangannya, menarik ikatan rambut Yerim hingga rambutnya terurai berantakan kemudian melarikan diri dengan cepat.

“YA!!! LEE HAECHAN!!!!!”

***___***

“Kenapa kau tiba-tiba menghilang? Kenapa tidak memberitahuku dan Jaehyun?”tanya Seulgi ketika keduanya duduk bersama di salah satu taman sekolah.

Taeyong terdiam sesaat, “Jika aku bisa memberitahu noona, aku pasti telah melakukannya.”

Ekspresi Seulgi langsung berubah, “Apa yang sudah terjadi? Kau baik-baik saja?” Belum sempat Taeyong menjawab, gadis itu kembali bertanya, “Apa ini ada hubungannya dengan berita itu?”

Salah satu alis Taeyong terangkat, “Berita apa?”

Seulgi menatap Taeyong dan berkata hati-hati, “Mereka bilang kau adalah anak bungsu keluarga Lee.”

Taeyong sempat tertegun untuk beberapa saat namun kemudian ia tersenyum tipis, “Waaah, aku tidak menyangka jika beritanya akan menyebar secepat itu.”

“Jadi itu benar? Tapi bukankah ayahmu…”

“Lee Taewoon bukan ayahku noona.” potong Taeyong sambil menatap kedua mata Seulgi. “Dia adalah ayah tiriku.”

Mata Seulgi sontak membulat lebar, “Apa?! Bagaimana bisa?!”

“Sebelum ibu meninggal, ibu memberitahu semuanya padaku. Dia bilang jika sebenarnya aku bukanlah anak kandung appa. Aku adalah anak orang lain.”

Seulgi nyaris kehilangan kata-katanya. Bagaimana mungkin…

“Sebelum menikah dengan appa, eoma menjalin hubungan dengan seseorang. Dia berjanji akan menikahi eoma tapi nyatanya pria itu telah memiliki seorang istri dan di saat yang bersamaan, ibu menyadari jika dia sedang hamil. Lalu dia menikah dengan appa dan berpura-pura jika aku adalah anak dari keduanya. Ibu telah memberitahuku semuanya.”

Seulgi menelan ludahnya susah payah, “Ini… tidak benar, kan?”

Taeyong tersenyum kecut, “Aku juga ingin mengingkarinya tapi aku sudah melihat semua bukti yang menyatakan jika aku benar-benar anak dari pria itu. Tidak ada yang bisa ku lakukan.”

“Lalu kenapa kau tiba-tiba menghilang?”

“Saat aku dalam perjalanan pulang ke rumah, beberapa orang menculikku dan membawaku ke rumahnya. Dia sudah mendengar tentang kematian appa dan eoma jadi dia berniat mengasuhku. Awalnya aku menolak dan berusaha kabur darisana tapi para pengawalnya terus menghentikanku. Jadi aku bilang aku ingin sekolah di tempat ini agar aku tidak berada di rumah itu.”

“Oh Tuhan, kenapa terjadi seperti ini?”

“Noona, karena aku sudah menceritakan semuanya jadi aku memintamu untuk membantuku. Tolong jangan beritahu hal ini pada orang lain. Jangan katakan jika sebenarnya aku adalah anak haram. Karena jika berita ini tersebar, mereka akan mengirimku keluar negeri.” Jelas pria itu pelan. “Saat ini aku sedang berusaha mencari cara untuk melarikan diri jadi aku minta bantuanmu.”

Seulgi menatap Taeyong penuh kecemasan, “Kau baik-baik saja, kan?”

Taeyong kembali tersenyum, ia menghusap kepala Seulgi lembut, “Jangan khawatir, noona. Aku baik-baik saja.”

***___***

 

Jaehyun menyusuri hampir semua sudut sekolah untuk mencari Taeyong. Dia pikir pria itu akan berada di atap sekolah tapi dugaannya salah. Tidak ada siapapun disana.

“Jaehyun, kau mencari Taeyong?” Quinn Jo menghentikan langkah Jaehyun sesaat.

Jaehyun mengangguk, “Kau tau dia dimana?”

“Dia pergi bersama Seulgi sunbaenim tadi. Sepertinya kearah taman yang ada di gedung A.”

“Sungguh? Terima kasih, Quinn.” Jaehyun menepuk bahu Quinn Jo sebelum melanjutkan langkah. Pria itu menuju gedung A, tempat dimana murid-murid junior college belajar. Pria berkulit putih itu membungkukkan tubuhnya sopan sambil terus melangkah pada setiap senior yang ia temui. Hingga akhirnya ia menemukan Taeyong dan Seulgi sedang duduk bersama di salah satu bangku.

“Taeyong hyung.”panggilnya menghampiri keduanya.

Taeyong menoleh ke belakang, “Jaehyun?”

“Ya hyung, kemana saja? Aku mencarimu sejak tadi.”ucapnya dengan napas terengah. Taeyong langsung mengetahui alasan Jaehyun mencarinya. Pasti karena berita itu. “Apa yang terjadi sebenarnya, hyung?”

***___***

 

Somi berdiri di depan bulletin board, membaca beberapa pemberitahuan yang tertulis di sana.

“Oh?”serunya terkejut saat melihat foto Mark. “Mark oppa?

“Why? Call me?”

Somi langsung menoleh ke belakang begitu mendengar suara seseorang. Gadis itu kembali terkejut karena Mark sudah berada di belakangnya dengan senyuman lebar. “Kau memanggilku, kan?”

“Mark oppa…”

Kening Mark berkerut, “Oppa?”

“Ten oppa ask me to call you ‘oppa’ instead.” Gadis itu meringis lebar. “Is that okay?”

“Sure. No problem. You can call me anything.” Anak laki-laki itu tersenyum.

“By the way, oppa… I see your name and your picture there.” Somi menunjuk papan bulletin membuat Mark langsung menggaruk tengkuk belakangnya kikuk.

“Ahh…itu… my friends forced me to do. They put my name without me know. Actually I don’t want to do that. ”

“Kenapa? Aku akan memilih oppa.”

“Kau?” sebuah senyuman kembali tercipta di bibir Mark. “Sungguh?”

“Sungguh. Aku akan memilih oppa. Jadi berusahalah!”

“Terima kasih, Somi.”

“Oh, aku harus pergi sekarang. Aku harus menyusul jadwalku. Bye oppa. See you later.”

Namun Mark menghentikan langkah Somi sesaat sebelum gadis itu pergi, “Klub apa yang akan kau pilih?”

“Pemandu sorak. Aku ingin ikut klub itu.”

***___***

 

“Mark, kau darimana saja?”tanya Arin begitu ia melihat Mark muncul. “Kami sudah menunggumu. Ayo makan.”

Namun Mark sepertinya tidak mendengar ucapan Arin. Ia menatap Ten, “Ten hyung, kau melihat Ra By noona?”

“Kenapa kau bertanya padaku? Aku sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi dengannya.”jawab Ten santai sambil melahap makan siangnya.

“Ada yang ingin ku tanyakan tentang klub. Dia anggota klub pemandu sorak, kan?”

“Ya, kenapa kau tiba-tiba menjadi aneh.”seru Yeri menatap Mark dengan kening berkerut.

Ten mengangguk, “Kenapa?”

“Somi bilang dia ingin bergabung dengan klub itu. Aku ingin mengambilkan formulir untuknya.”

“Somi?” Ten mengulangi ucapan Mark. Kemudian ia tersenyum menyeringai, “Jadi kau terlambat karena menghampirinya dulu?”

“Waaah, kau bergerak sangat cepat.”sahut Haechan ikut menyeringai.

Tidak tahan dengan godaan dari teman-temannya, Mark hanya mendengus lalu berbalik, “Aku pergi dulu.”

“Ya, kau tidak makan dulu?”tanya Yeri.

“Nanti.”jawab anak laki-laki itu pendek lalu pergi meninggalkan ruang kantin.

“Sebenarnya siapa Somi?” Yeri menatap Haechan dan Ten bergantian.

“Sudah ku bilang, dia adalah murid baru yang di taksir oleh Mark.”jelas Haechan.

“Maksudmu… Somi yang menjadi perbincangan murid laki-laki itu?”tanya Arin memastikan.

Haechan mengangguk, “Yang sangat cantik itu.”

“Memangnya secantik apa dia sampai membuat Mark menjadi seperti itu?” Yeri mencibir sedikit kesal.

“Lebih cantik darimu.” Jawaban Haechan membuat Yeri langsung memukulnya keras. Anak laki-laki itu mengaduh, “Akh, kenapa memukulku?”

“Aku lupa jika kau tidak punya otak. Harusnya aku tidak bicara denganmu.”

“Lalu kenapa kau bicara denganku?”

“Ya, hentikan!” Ten melerai. Ia meletakkan sumpitnya kesal, sangat terganggu dengan pertengkaran itu. “Aaaah, kenapa aku harus makan dengan murid-murid kelas 2 seperti ini?”desahnya. Taeyong dan Jaehyun masih tidak di ketahui keberadaannya, Taeil sibuk menyusun jadwalnya dan Yuta sibuk mengurus klub. Dia tidak punya pilihan lain selain makan bersama murid-murid kelas 2 ini.

“Aku lupa jika ada yang harus aku lakukan. Aku pergi dulu.” Tiba-tiba Arin berdiri dan pergi meninggalkan mereka.

“Ya, Choi Arin.”panggil Yeri namun Arin mengabaikannya.

“Apa dia… masih menyukai Mark?” Ten bertanya hati-hati.

Yeri menghela napas panjang lalu mengangguk, “Sepertinya dia belum bisa melupakan Mark.”

Haechan tertawa mendengus, “Melupakan? Mereka bahkan tidak pernah berkencan sebelumnya.”

“Ya! Kau tidak mengerti perasaan perempuan.”sengit Yeri kembali memulai pertengkaran.

“Beritahu dia, dia bukan selera Mark. Kau tau kan, Mark berasal dari Canada. Mark lebih suka gadis yang swag.”ucapnya sambil memperagakan gaya ‘swag’.

Ten seketika tertawa lalu memukul kepala Haechan pelan, “Swag kepalamu.”

“Kalian ini… benar-benar menyebalkan.”dengus Yeri, ingin rasanya memukul dua pria itu sekarang. “Kalau begitu aku akan memberikan peringatan pada gadis itu agar tidak mendekati Mark lagi!” Yeri berdiri dari duduknya namun Haechan langsung menarik lengannya, membuatnya terduduk kembali.

“Apa yang mau lakukan? Kenapa kau mau memperingatkannya?”

“Karena dia telah membuat sahabatku sakit hati.”

“Memangnya itu salahnya?”balas Haechan. “Dia tidak melakukan apapun. Yang tergila-gila padanya adalah Mark sendiri.”

Mata Yeri langsung melebar, “Bahkan kau membelanya? Ya Lee Haechan! Apa kau bukan sahabatku?!”

“Aku tidak membelanya. Tapi jika kau melakukan sesuatu padanya, kau sendiri yang akan celaka. Sebagian murid laki-laki sekolah ini adalah penggemarnya, kau tau kan, apa yang akan terjadi jika kau menyakitinya?”

“Ya, dia melakukan ini untuk melindungimu.”sahut Ten kemudian merangkul pundak Haechan dan tersenyum bangga. “Dia sangat keren, kan?”

“Akh menyebalkan!”

***___***

 

Hari udah semakin siang dan gadis cantik berponi itu masih sibuk dengan komputernya. Sibuk mendesign formulir pendaftaran yang akan di bagikan untuk murid-murid baru. Kedua matanya terus fokus menatap layar hingga seseorang datang, menghentikan aktivitasnya.

“Ra By noona?” Mark menjulurkan kepalanya dari balik pintu, memeriksa apa yang sedang gadis itu lakukan.

Ra By menoleh, “Mark? Ada apa?”

“Apa aku mengganggu?”

“Tidak. Masuk saja.”

Dengan senyuman canggung – mengingat jika gadis ini adalah mantan kekasih Ten dan keduanya tidak putus secara baik-baik – Mark menjatuhkan diri di kursi yang ada di hadapan Ra By, “Noona, apa klub pemandu sorak menerima member baru?”

Ra By mengangguk, “Karena ada beberapa senior yang sudah keluar dari klub jadi kami harus mencari beberapa member baru. Kenapa?”

“Ah, tidak, aku memiliki seorang teman yang tertarik untuk bergabung.”

“Huh? Siapa? Yeri? Arin?”

“Bukan. Tapi teman yang lain.”

Ra By langsung menyipitkan matanya sambil tersenyum jahil, “Kekasihmu?”

“Bukan.” Mark langsung menggeleng sambil mengibaskan kedua tangannya. “Tapi temanku, noona. Hanya teman.”

“Benarkah?”

Mark tertawa kikuk, “Noona jangan menatapku seperti itu.”

“Hahaha… aku hanya sedikit terkejut karena ternyata kau sudah dewasa.” Gadis itu terkekeh. “Siapa nama temanmu itu? Aku akan mencatatnya dulu karena aku belum mencetak formulirnya.”

“Somi Douma kelas 1-A.” jawab Mark. “Kalau begitu, aku permisi dulu, noona. Aku juga harus mengurus klub basket. Maaf sudah mengganggu.”

***___***

 

Para murid langsung memasuki kelas mereka setelah mendengar pengumuman yang memerintahkan agar seluruh murid berkumpul di kelas masing-masing. Tak lama seorang guru laki-laki memasuki ruang kelas Jaehyun dan membuat murid-murid – kecuali Taeyong dan Winwin – bersorak riuh. Mereka merasa senang karena Lee sonsengnim yang akan menjadi wali kelas mereka. Lee Dongwa terkenal sebagai guru yang lucu dan dekat dengan murid-murid.

“Kita memang beruntung.”seru Jaehyun bertepuk tangan senang.

“Anak-anak, tenang dulu.”kata guru Lee. “Aku senang karena kalian terlihat bahagia karena kehadiranku. Mulai sekarang, aku adalah wali kelas kalian.”

Seluruh murid kembali bertepuk tangan riuh.

“Ten, Jaehyun, Yuta, kalian sekelas lagi? Oh ada Quinn Jo, Min Rara dan Xi Ra By juga disini.”ucapnya mengenali beberapa muridnya. “Tapi sepertinya ada wajah-wajah baru disini.” Guru Lee menatap Taeyong dan Winwing bergantian. “Kalian murid baru?”

“Yah, kami adalah murid baru.”

“Maukah kalian memperkenalkan diri kalian? Yah, kau duluan.”

Winwin berdiri dari kursinya, tetap di tempatnya ia menatap teman-teman sekelasnya sedikit malu, “Annyeonghaseo, aku Dong Si Cheng tapi kalian bisa memanggilku Winwin. Aku berasal dari China.”

“Kau dari China?” mata Guru Lee melebar.

“Iya, aku pindah kesini beberapa hari lalu.”

“Kau sudah mendapatkan kamar asrama?”

Winwin mengangguk, “Sudah sonsengnim.”

“Lalu kenapa kami harus memanggilmu Winwin? Apa itu adalah nama panggilanmu?”

“Yah, orang-orang biasanya memanggilku Winwin.”

“Baiklah. Semoga kau betah berada di kelas ini dan bergaul dengan baik. Lalu selanjutnya… Oh? Tunggu…” Guru Lee tiba-tiba terkjeut begitu ia melihat Taeyong. “Bukankah kau adalah Lee Taeyong? Anak ketua Lee?”

Taeyong seketika tertegun, untuk sesaat ia terdiam sebelum akhirnya mengangguk dan tersenyum tipis. Jaehyun yang sudah mengetahui semuanya menatapnya sedikit iba.

“Annyeonghaseo, aku adalah Lee Taeyong. Senang bertemu dengan kalian.”

“Tapi Taeyong, aku akan tetap memperlakukanmu seperti murid lainnya walaupun kau adalah anak dari ketua Lee. Oke?”

Taeyong mengangguk, “Aku mengerti, sonsengnim.”

Di tempat duduknya Ji Yoo mendengus dalam hati, ‘Jadi berita itu benar? Pantas saja dia sombong sekali.’

“Baiklah. Karena ini adalah hari pertama jadi kita tidak akan belajar tapi kita akan menyusun struktur kelas. Seperti sebelumnya, kita akan melakukan pemungutan suara untuk memilih ketua kelas, wakil kelas, sekretaris kelas dan bendahara kelas. Tuliskan nama dan posisi seseorang yang kalian pilih. Kita hanya akan melakukan satu putaran sekaligus jadi tulis dengan lengkap. Mengerti?”

“Mengerti.”koar murid-murid bersamaan.

“Hyung, siapa yang akan kau pilih?”bisik Jaehyun.

Taeyong mengendikkan kedua bahunya, “Entahlah. Aku tidak mengenal siapapun. Bagaimana denganmu?”

“Itu rahasia.” Jaehyun tersenyum penuh arti lalu mengisi kertasnya.

Lima menit berlalu, para murid di minta untuk mengumpulkan kertas mereka ke depan. Kini meja guru di penuhi dengan lipatan kertas hasil pungutan suara seluruh murid.

“Apa semuanya sudah mengumpulkannya?”

“Sudah, saem.”

“Baiklah. Kita akan menghitung hasilnya sekarang.”

Guru Lee mengambil salah satu lipatan kertas dan membukanya, “Seseorang memilih Lee Taeyong sebagai ketua kelas, Jung Jaehyun sebagai wakil kelas, Xi Ra By sebagai sekretaris kelas dan Ten Chittapon sebagai bendahara.”

Taeyong seketika terkejut, ia menatap Jaehyun dengan mata terbelalak, “Aku? Ketua kelas?”tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri.

Jaehyun terkekeh, “Seseorang memilihmu, hyung.”

“Yang kedua. Ketua kelas adalah Lee Taeyong, wakil kelas adalah Nakamoto Yuta, sekretaris kelas adalah Min Rara dan bendahara adalah Xi Raby.”

Di tempatnya Ji Yoo lagi-lagi mendengus, ‘Kenapa semua orang memilihnya?’

Hingga beberapa sat berlalu, hasil pungutan suara sudah tertera di papan tulis. Sebagian murid memilih Lee Taeyong sebagai ketua kelas, Nakamoto Yuta sebagai wakil kelas, Quinn Jo sebagai sekretaris kelas dan Min Rara sebagai bendahara.

Tepuk tangan murid-murid terdengar namun Taeyong masih belum mengerti. Kenapa semua orang tiba-tiba memilihnya?

Jaehyun menepuk-nepuk punggung Taeyong sambil mendorongnya untuk maju ke depan sementara Yuta berdiri dan menarik lengan Taeyong. Masih dengan wajah bingungnya, Taeyong hanya pasrah saat Yuta menariknya maju ke depan. Ten tertawa terbahak-bahak melihat wajah bingung Taeyong, pria dingin itu ternyata terlihat lucu saat kebingungan. Di sisi lain, Quinn Jo dan Xi Raby juga maju ke depan.

“Taeyong, apa kau bingung?”tanya guru Lee tersenyum geli melihat wajah Taeyong.

“Sonsengnim, aku adalah murid baru jadi—“

“Tidak apa-apa. Sepertinya mereka mempercayaimu.”jawab gugu Lee membuat Taeyong semakin frustasi. Bukan begitu yang dia inginkan… “Nah struktur kelas sudah terbentuk. Ketua kelas adalah Lee Taeyong, wakil kelas adalah Nakamoto Yuta, sekretaris kelas adalah Quinn Jo dan bendahara kelas adalah Xi Ra By. Kalian bisa berdiskusi untuk menyusun jadwal piket kelas nanti. Berikan tepuk tangan untuk mereka.”

Seluruh murid bertepuk tangan mengiringi empat murid yang kembali ke bangku mereka itu.

“Ya, siapa yang kau pilih?”bisik Taeyong begitu sampai di kursinya.

Jaehyun masih tertawa, “Hyung.”

“Aku sudah tau kau akan melakukan ini padaku.”cibir Taeyong kesal. Lalu ia menepuk bahu Ten. Ten menoleh ke belakang, “Siapa yang kau pilih?”

Juga dengan tawa, Ten menunjuk dirinya, “Hyung…”

“Ya, dasar… kalian melakukan ini padaku?”

“Jaehyun menyuruh kami untuk memilihmu agar kau bisa beradaptasi dengan cepat.”sahut Yuta. “Selamat, ketua kelas.”

“Argh.” Taeyong mengacak rambutnya frustasi.

“Dan satu hal lagi. Aku di minta oleh kepala sekolah untuk mengatur tempat duduk kalian. Jadi karena kalian terlihat hanya duduk bersama dengan seseorang yang dekat dengan kalian, aku akan mengubahnya sedikit agar kalian bisa lebih dekat dengan satu sama lain.”

Helaan napas langsung terdengar dari murid-murid yang menolak ide itu. Sebagian langsung berdoa dalam hati agar mereka tidak di pindah ke bangku lain.

“Pertama…” Guru Lee menatap ke sekeliling, kearah murid-murid yang langsung menghindari tatapannya agar tidak di pilih. “Ten!” begitu namanya di sebut Ten langsung mendesah panjang. “Kau duduk dengan Min Rara.”

“Apa?”serunya terkejut. “Sonsengnim, tapi…”

“Cepat pindah.”potong guru Lee. Ten menatap Yuta sambil cemberut, enggan berpisah dengan sahabatnya itu. Lalu bersungut-sungut mengambil tasnya dan pindah duduk bersama Min Rara. “Lalu, Winwin kau duduk di kursi Ten. “Quinn Jo kau duduk dengan Doyoung. Dan Jaehyun, kau pindah ke depan bersama dengan Kim Yerin lalu Kim Ji Yoo kau pindah ke belakang bersama dengan Lee Taeyong.”

Seketika Ji Yoo terperangah, “Apa?!”

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6 thoughts on “NCT’s Story – A Story part 4

  1. daisygarside berkata:

    Aku suka dg interaksi Yeri dan Haechan, tp kasihan Arin… Mudah2an dia ngga terluka trlalu banyak deh…

    Tapi kasian juga sm Taeyong.. *pukpuk

    jadi ceritanya, Raby msh ada rasa ngga tuh sm Ten?

    Dan…. Apa???!!! *mendadaklebay
    uri Rara duduk sm si menyebalkan Ten? Duh, mudah2n ngga kena buli fans2nya,.

    tp ngmg2, siapa ya cowo kece yg disuka sm Lara/Rara, yg ada di mata dia? Jaehyun kah? Taeyong kah? Tp jangan Ten ah,.. Ntar musuhan sm Raby..

    so,. Jiyoo duduk ama bang Ikemen? Beruntungnya kamu, nak..

  2. XI RA BY berkata:

    Chapter 4 coming!!
    Yuhuuu… Seru seru seruuuu!
    Kasian lee taeyong di kerjai sama teman2nya.
    Tapi kereen, belum apa2 langsung menjabat jadi ketua.
    Tapi tapi si mark ternyata tanggap juga kalo hal yg berbau somi sampe2 nyariin formulir segala.
    Jadi menasaran klo somi ktemu sama arin dan yeri, reasinya gmana ya?
    Cieee ra by kayanya belum bisa move on tuh.. Ehh nggak ding, kayanya bisa *uuh

  3. hanyoo berkata:

    yeheetttt…duduk bareng taeyong #jingkrakjingkrak penasaraannn apakah jiyoo bakalan d couplein sm taeyong??semoga aja #ngarep.
    hwaiting Thor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s