NCT’s Story – A Story part 3

121850595

Tittle                            : NCT’s Story – A Story

Author             : Ohmija and MinnieBin

Main Cast        : NCT U and NCT 127

Gnere              : School life

Jaehyun langsung berlari menuju asrama begitu ia mendapat pesan dari Ten yang mengatakan jika ada murid baru Lee Taeyong. Ia tau ada banyak nama Lee Taeyong di Korea tapi… mungkin saja itu dia.

Sementara di dalam kamar, sejak tadi Ten terus mengomel atas sikap murid baru itu. Bukankah seharusnya dia bersikap lebih ramah? Mereka bahkan tidak saling bicara sejak semalam. Dan pagi-pagi sekali, dia sudah pergi meninggalkan kamar.

“Apa karena kita bukan orang Korea jadi dia bersikap seperti itu?”seru Ten kesal. “Aku telah berusaha mengajaknya bicara tapi lihat saja ekspresinya, dia tidak tersenyum sama sekali membuatku kesal!”

“Mungkin dia malu.” Yuta mencoba menenangkan.

“Malu? Caranya menatap bahkan menunjukkan jika dia sangat percaya diri.”

“Dimana dia?!” Jaehyun yang baru saja sampai langsung menerobos masuk. “Dimana Lee Taeyong?”

Yuta, Ten dan Mark mengerjapkan mata mereka bingung, “Tidak tau, dia sudah pergi sejak pagi-pagi tadi.”

“Ya, kenapa kau mencarinya? Tidak usah… Ya! Jung Jaehyun!”

Jaehyun mengabaikan ucapan Ten dan langsung pergi meninggalkan kamar itu. Seseorang yang di kenalnya tidak begitu suka tempat ramai, mungkin dia ada di atao gedung asrama. Jaehyun berlari menaiki anak-anak tangga menuju lantai paling atas, dugaannya benar, ada seseorang yang sedang tidur di kursi panjang dengan wajah yang ia tutupi dengan komik.

Jaehyun mengambil komik itu, melihat wajahnya. Sementara anak laki-laki yang sedang tertidur itu langsung membuka mata karena sinar matahari langsung memanasi wajahnya.

“Taeyong hyung.”

Anak laki-laki yang ternyata adalah Lee Taeyong itu menarik tubuhnya bangun, sama terkejutnya saat melihat Jaehyun telah berdiri di depannya.

“Jaehyun?”

“Hyung!” Pria berkulit putih itu langsung memeluk Taeyong. “Kau kemana saja hyung? Kenapa tiba-tiba menghilang? Kau baik-baik saja? Kenapa kau tidak memberitahuku jika kau pindah ke sekolah ini?”

Taeyong mengerjapkan matanya bingung, terlalu banyak pertanyaan yang harus dia jawab, “Ada… sesuatu yang terjadi.”ucap Taeyong pelan.

“Kenapa? Ada apa, hyung?”

“Aku tidak bisa memberitahumu sekarang karena aku masih sedikit bingung.”

“Baiklah kalau begitu. Tapi kau baik-baik saja, kan, hyung?”

“Aku baik-baik saja, Jaehyun. Jangan khawatir.”

“Apa kau sudah makan? Ayo, kita sarapan bersama.” Jaehyun menarik lengan Taeyong dan menyeretnya pergi.

Masih beberapa hari sebelum tahun ajaran baru di mulai, jadi kantin sekolah dan kantin asrama masih tutup. Jaehyun berniat membawa Taeyong menuju kedai yang ada di samping sekolah namun tanpa sengaja keduanya bertemu dengan Ten, Yuta dan Mark di lantai dasar gedung apartement.

Melihat keduanya, Ten semakin merasa kesal, “Ya, kau pengkhianat!” Ia menunjuk Jaehyun. “Sudah ku bilang…”

“Akan ku jelaskan nanti.” Jaehyun tersenyum lebar. “Kalian mau mencari sarapan, kan? Ayo pergi bersama.”

***___***

 

Mereka berlima pada akhirnya duduk bersama di kedai sederhana dengan memesan dua set syamgyupsal. Jaehyun menjelaskan jika dia telah mengenal Taeyong sejak lama karena rumah keduanya berdekatan. Dia, Taeyong dan Seulgi telah berteman sejak kecil.

“Maafkan aku, aku tidak bermaksud bersikap tidak sopan tapi aku sedikit canggung dengan orang yang baru ku kenal.”seru Taeyong.

“Hyung, tidak perlu merasa canggung. Mereka adalah teman-temanku juga.”

“Hyung?” Kening Ten berkerut.

“Aku terbiasa memanggilnya begitu karena dia lahir beberapa bulan lebih awal.”jelas Jaehyun.

“Haruskah kami memanggil hyung juga?”

“Terserah kalian. Panggilan apapun tidak masalah.”

“Maaf bertanya seperti ini, tapi sepertinya kau terlihat tidak terlalu suka sekolah di tempat ini.” Yuta berseru sambil sedikit tertawa agar suasana tidak terlalu kaku. “Aku benar, kan?”

Taeyong terdiam sesaat, ia menatap Yuta yang sedang menatap kearahnya lagi-lagi tanpa senyum, “Kau benar.”ucapnya pelan. “Seseorang memaksaku bersekolah di tempat ini.”

“Seseprang?” Jaehyun bertanya. “Siapa, hyung?”

“Aku akan menceritakan semuanya padamu nanti.”

“Jadi alasanmu bersikap seperti itu pada kami bukan karena kau pemalu, tapi karena suasana hatimu sedang buruk, kan?”tebak Yuta lagi.

Taeyong kembali terdiam, menatap lurus-lurus pria itu dengan mata tajamnya. Membuat Ten dan Mark yang juga melihat itu merasa sedikit terintimidasi.

“Aku memang sedikit pemalu. Tapi tebakanmu juga tidak salah.”jawabnya. “Aku memang menghindari kalian karena suasana hatiku sedang buruk.”

Mark memajukan wajahnya, berbisik pada Jaehyun, “Hyung, apa dia sedang marah?”

Jaehyun langsung terkekeh, “Tidak. Dia memang seperti itu.”

“Mungkin pada awalnya memang sedikit sulit tapi jika kau mendapatkan beberapa teman, kau akan merasa nyaman.” Seru Yuta membalas tatapan Taeyong dengan senyum di kedua matanya. “Aku tidak berniat untuk memanggilmu hyung. Tapi mungkin kita bisa jadi teman?”

Yuta mengulurkan tangannya. Taeyong menatap uluran tangan itu sesaat. Bagaimana bisa pria ini menebak semua yang ada di pikirannya? Dia bahkan mengatakan itu dengan senyum di wajahnya. Firasatnya tidak begitu baik, karena sejak dulu, satu-satunya teman laki-laki yang dia miliki hanya Jaehyun. Tapi walaupun begitu, hatinya mengatakan jika dia adalah orang yang baik.

Akhirnya Taeyong membalas uluran tangan itu, “Baiklah.”

“Taeyong hyung, kau juga harus lebih sering tersenyum.”sahut Ten.

Dan di café sederhana itu, ikatan persahabatan baru tercipta.

***___***

 

Matahari bersinar cerah, mengiringi murid-murid yang berjalan memasuki gedung sekolah itu. Tahun ajaran baru akhirnya di mulai, sebagian murid terlihat bersemangat karena akhirnya bisa bertemu dengan teman-teman mereka. Dan sebagian murid yang lain –sebagian besar laki-laki- juga terlihat bersemangat karena akhirnya mereka bisa melihat pemandangan baru.

Salah satu nama yang langsung melejit di hari pertama sekolah adalah Somi. Gadis blasteran yang memiliki tubuh sempurna serta wajah yang cantik. Banyak murid laki-laki yang berkumpul bergerombol di ujung koridor hanya untuk melihatnya datang. Dan diantara murid laki-laki itu, seseorang yang sangat familiar terlihat.

Ten yang memang sangat menyukai wanita cantik tidak akan melewatkan kesempatan seperti ini, namun kali ini dia memaksa Taeyong untuk menemaninya. Haechan juga ada disana, tapi tanpa paksaan. Dia sendiri bersedia berada disana untuk melihat si cantik Somi.

“Apa yang kita lakukan disini?”tanya Taeyong bingung.

Ten merangkul pundak Taeyong lalu menggerakkan dagunya ke depan, menunjuk seorang gadis yang sedang berjalan menuju kearah mereka.

“Kita sedang melakukan tugas, hyung.”

Kening Taeyong berkerut, “Tugas? Tugas apa?”

“Gadis cantik yang ada di depan sana adalah gadis yang Mark suka. Jadi sekarang kita sedang melakukan penjagaan.”

“Ha?” Taeyong masih tidak mengerti.

“Kita harus menjaganya agar tidak di rebut yang lain.”sahut Haechan. “Termasuk orang yang ada di samping hyung itu.” Ia menyindir Ten.

Ten langsung mendelik, “Ya!”

“Oh? Ten sunbae?” Melihat salah satu wajah yang di kenalnya, Somi melambaikan tangan dan langsung menghampirinya.

“Somi.” balas Ten tersenyum lebar,

“Kau juga kenal aku, kan?”tambah Haechan.

Somi mengangguk, “Haechan sunbaenim.”

“Dan kenalkan, dia Taeyong hyung. Dia murid baru dan sekarang menjadi teman sekelasku.”

Annyeonghaseo Taeyong sunbaenim. Aku adalah Somi.”

Ten tersenyum penuh kemenangan menatap wajah-wajah iri murid laki-laki yang lain. Untuk membuat yang lain semakin kesal, Ten sengaja memajukan tubuhnya, berbisik pada Somi, “Don’t call me sunbaenim. Just call me oppa, okay?”

Somi menatap Ten bingung namun tetap menuruti permintaannya. Sementara Haechan langsung menarik lengan Ten agar dia menjauh dari Somi.

“Jauh-jauh darinya, hyung.”ketusnya kesal. “Kau mau ke kelas, kan?”

Somi mengangguk, “Eum.”

“Pergilah. Sampai jumpa nanti.”

“See you later, Somi.”

Somi tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya, “See you later, oppa.”

***___***

 

Hal yang paling menyenangkan di hari pertama masuk sekolah adalah tidak adanya pelajaran. Hanya pemberitahuan jadwal pelajaran serta pemberitahuan pembukaan klub dan beberapa organisasi lain.

Ten yang dulunya menjadi teman sebangku Jaehyun kini memilih untuk duduk bersama Yuta. Sementara Jaehyun duduk bersama dengan Taeyong di belakang Yuta dan Ten. Sengaja, agar Taeyong merasa nyaman berada di kelas.

Ten menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, kedua matanya menatap ke sekeliling kelas. Melihat satu-persatu murid yang kini menjadi teman sekelasnya. Ada Xi Ra By disana, mantan kekasihnya ketika kelas 1, gadis cantik berponi itu duduk bersama Bona, gadis cantik lain yang kini menjadi target Ten. Ten langsung mendesah panjang. Aaah… kenapa Ra By dan Bona harus berada di kelas yang sama dan bahkan menjadi teman sebangku? Akan sulit baginya untuk mendekati Bona.

Sementara di bangku paling belakang, ada wajah baru terlihat. Entah siapa namanya, tapi dia duduk sendiri. Ten kembali mendesah saat melihat seorang murid memasuki kelas, seorang gadis berwajah cantik yang hingga kini masih menjadi kapten pemandu sorak SMU Yangsan, Min Rara. Ten memang tidak mengenalnya tapi sejujurnya dia tidak terlalu suka dengan kepribadian Min Rara yang sedingin es. Dia pikir Min Rara adalah gadis yang sombong. Gadis itu duduk bersama Quinn Jo, gadis cantik lain yang juga memiliki kepribadian yang sama dengan dirinya. Cuek. Wah, mereka adalah kombinasi yang sempurna.

Dan berikutnya, murid lain memasuki kelas. Kali ini Ten tersenyum lebar.

“Hoy.” Dia mengangkat tangan, melambaikan tangan pada gadis itu.

Gadis berkaki jenjang itu menoleh dan langsung merutuk dalam hati. Sial, kenapa aku harus sekelas dengannya?

Masih dengan senyum lebar di bibirnya, Ten menggerakkan dagunya kearah kursi yang ada di depannya, “Duduk disini.”

Yuta menoleh, menatap Ten sambil berbisik, “Kau mengenalnya?”

“Yah, aku mengenalnya.”jawab Ten. Matanya masih menatap lurus kearah gadis yang ternyata adalah Kim Ji Yoo itu. “Cepat duduk disini.”

Ji Yoo menggeleng, “Aku tidak mau.”

“Ini permintaan pertamaku. Kau tidak mau?”

Brengsek, aku sangat ingin memukulnya.

Ji Yoo semakin mendesah panjang. Mau tidak mau, ia menuruti perintah itu. Dengan wajah yang terus cemberut, ia menjatuhkan diri di kursi yang ada di depan Ten. Sementara di belakangnya, Ten tersenyum penuh kemenangan.

Begitu murid berikutnya muncul, kali ini Yuta yang bereaksi. Seorang gadis berkepang dua dan kaca mata yang bertengger di hidungnya. Gadis familiar itu terlihat bingung saat ia memasuki kelas, takut-takut ia mencari kursi yang masih kosong.

“Hey, kacamata.”panggil Yuta. Gadis berkacamata itu menoleh. “Duduk disini.” Yuta menunjuk kursi kosong yang ada di depannya.

Kim Yerin menggigit bibir bawahnya kelu, takut dengan beberapa pasang mata siswi perempuan yang langsung tertuju kearahnya.

“Cepat.”suruh Yuta, nadanya lembut namun tidak terbantah.

Kim Yerin menundukkan kepalanya, dengan langkah-langkah pelan berjalan menuju kursi yang ada di depan Yuta.

“Annyeong.” Sapa Yuta dengan senyuman lebar sambil melambaikan tangan.

Yerin hanya tersenyum tipis, semakin menundukkan kepalanya dan menoleh ke depan.

Kening Ten berkerut, ia mencolek lengan Yuta membuat pria itu menoleh, “Kau mengenalnya?” Kini gilirannya bertanya.

Yuta mengangguk, “Aku mengenalnya.”

Ini aneh. Yuta adalah ketua organisasi sekolah sekaligus kapten sepak bola, dia selalu di kelilingi wanita-wanita cantik dan populer. Bagaimana bisa dia dekat dengan gadis pendiam seperti itu? Tapi jika diingat-ingat lagi, tidak begitu aneh sebenarnya. Yuta adalah orang yang terlalu ramah pada semua orang.

“Yuta hyung.” Tiba-tiba Mark muncul di ambang pintu kelas. “Kita harus mengurus sesuatu.”

“Oh, kau benar.” Yuta baru ingat jika dia memiliki banyak hal yang harus ia selesaikan. “Ten, Jaehyun, ayo.”

Keduanya mengangguk. Tidak ingin membiarkan Taeyong berada sendirian di kelas, Jaehyun menarik lengan Taeyong. “Hyung, kau juga ikut.”

***___***

 

Anak laki-laki berwajah tampan itu pergi meninggalkan kelas karena dia merasa sangat asing dengan suasana disana. Ini adalah hal baru, dia juga belum memiliki seorang teman. Jadi dia memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri untuk melihat-lihat lingkungan sekolah.

Berdiri di depan papan pengumuman, ia membaca daftar klub yang bisa diikuti serta kegiatan tambahan yang telah di sediakan seperti bernyanyi, menari dan lainnya.

Dia mendesah panjang, “Hari-hariku pasti akan menjadi sibuk.”keluhnya dalam bahasa China. “Apa yang harus ku pilih?”

 

BRUK

 

Tiba-tiba seseorang tanpa sengaja menabraknya dari belakang, ia menoleh, mendapati murid laki-laki yang sedang merapikan buku-bukunya di lantai.

“Kau baik-baik saja?”tanyanya, kali ini dalam bahasa Korea.

Murid laki-laki itu mendongak, “Maaf, kakiku tersandung.”

“Tidak apa-apa.”

Murid laki-lak iitu berdiri setelah merapikan semua buku-bukunya, “Oh? Bukankah kau adalah teman sekelasku?”

“Huh?”

“Kau berada di kelas 12-3,kan?”

“Oh yah, benar.” Ia mengangguk.

“Kau pasti murid baru karena aku tidak pernah melihatmu sebelumnya.”

Ia mengangguk, “Aku berasal dari China.”

“Sungguh? Pantas saja bahasa Koramu terdengar sedikit aneh.”

Ia tertawa kikuk lalu mengulurkan tangannya, “Aku Dong Sicheng tapi kau bisa memanggilku Winwin. Siapa namamu?”

“Aku Doyoung. Kim Doyoung.” Murid laki-laki membalas uluran tangannya.

“Kau berada di kelas mana?”

“12-3. Bagaimana denganmu?”

“Oh? Aku juga.” Winwin terkejut. “Aku duduk di kursi yang ada di paling belakang karena aku tidak mengenal siapapun.”

“Jadi kita sekelas?” Doyoung tertawa, keduanya lalu berjalan bersama. “Kau sudah mendapatkan kamar asrama?”

Winwing mengangguk, “Tapi baru hari ini aku akan memindahkan barangku. Lantai dua kamar nomor 20.”

“Sungguh?!” Mata Doyoung membulat lebar. “Oh Tuhan, aku juga berada di kamar itu. Kita sekamar.”

Dan untuk yang kesekian kalinya Winwin terkejut, “Benarkah? Kita juga teman sekamar?”

“Waaah, ini yang dinamakan takdir.” Doyoung tertawa, tidak habis pikir jika dia bisa mendapat suatu kebetulan di pagi seperti ini.

“Ngomong-ngomong, kau mau kemana?”

“Ke perpustakaan. Ada buku yang harus aku kembalikan. Kau mau ikut? Aku bisa mengajakmu melihat-lhat lingkungan sekolah setelah itu.”

“Kau tidak keberatan?”

“Tentu saja tidak. Ayo.”

***___***

 

“Arin, kau sudah membuat daftar calon-calon ketua organisasi selanjutnya?” Yuta menatap gadis yang sedang duduk di samping Mark itu.

Arin mengangguk, “Ada 4 calon, kan? Haechan, Kangmin, Minhyuk, dan Mark.”

Kedua mata Mark langsung melebar, “Hey, kenapa kau memasukkan namaku juga? Sudah ku bilang aku tidak akan mengusulkan diri.”

“Haechan yang menyuruhku menulis namamu.”balas Arin.

Mark langsung melirik kearah Haechan kesal, “Ya!”

Haechan terkekeh, “Menurutku kau adalah orang yang paling pantas menggantikan Yuta hyung.”

“Menjadi editor saja sudah membuat kepalaku hampir pecah. Aku tidak mau jadi ketua.”

“Haechan benar, kau adalah kandidat yang paling cocok, Mark.”sahut Jaehyun. “Coba saja dulu, jika tidak menang, kau bisa kembali jadi editor.” Ia terkekeh.

“Aku sudah memikirkannya, aku tidak ingin terlibat dalam organisasi tahun ini. Aku mengikuti klub basket juga kelas rapping. Aku sudah sangat sibuk. Tapi kalian justru melakukan ini padaku.”

“Ayolah, Mark. Coba saja dulu.”

“Sudahlah. Aku akan membantumu menyiapkan materinya.” Haechan merangkul pundak Mark dan tersenyum semanis mungkin.

“Lupakan.” Mark mendorong tubuh Haechan pelan. “Kau adalah rival-ku. Bagaimana bisa kau membantuku menyiapkan materi? Bodoh.”

“Jadi masa jabatanku akan berakhir bulan depan, kan?” Yuta tersenyum lega, seakan sedikit beban telah menghilang dari pundaknya. “Sekarang sebaiknya kalian mempersiapkannya.” Kemudian ia menoleh kearah Taeyong yang sejak tadi terus diam. “Taeyong, apa kau sudah memutuskan klub mana yang akan kau ikuti?”

Taeyong menggeleng, “Aku belum memutuskannya.”

“Jangan khawatir. Jika kau berminat dengan klub sepak bola, kau bisa memberitahuku. Dan jika kau berminat dengan klub basket, kau bisa bilang pada Jaehyun atau Mark. Ten juga mengikuti klub musik. Kau bisa memilihnya.”

Anak laki-laki berwajah dingin itu mengangguk, “Terima kasih.”

***___***

 

“Jadi kegiatan tambahan itu wajib diikuti? Bukankah kita juga harus memilih klub? Oh Tuhan…” Winwin terkejut bukan main setelah mendengar penjelasan Doyoung. Sekolah ini memang berbeda.

“Apa sebelum pindah kesini kau tidak mencari informasi tentang sekolah ini dulu?”

“Aku hanya tau jika ini adalah sekolah seni.”

“Iya seni.” Doyoung mengiyakan. “Namun lebih ke performing art. Mulai pagi hingga pukul 12 siang, kita akan belajar seperti biasa. Lalu istirahat selama tiga jam, kau bisa istirahat di asrama jika kau mau. Lalu pukul 3 kita harus kembali lagi ke sekolah untuk kegiatan tambahan itu hingga pukul 8 malam. Tari, bernyanyi, rap, atau musik. Dan terakhir kegiatan klub akan di lakukan setiap sabtu dan minggu.”

“Bahkan hari minggu aku tidak bisa beristirahat.”

“Jangan khawatir. Kegiatan klub di hari minggu hanya akan di lakukan selama 2 jam. Kau bisa istirahat setelahnya.” Doyoung menepuk pundak Winwin yang terlihat sangat frustasi itu. “Lalu apa kelebihanmu? Kau bisa bernyanyi? Rap? Atau?”

“Mungkin… tari?”balasnya. “Dulu aku pernah mengikuti sekolah tari tradisional di China. Aku cukup fleksibel.”

“Benarkah? Waah, bagus. Setidaknya kau tidak sepertiku yang tidak bisa melakukan apapun ketika masuk sekolah ini.”

Winwin tertawa, “Sungguh? Lalu bagaimana sekarang?”

“Sekarang aku pikir aku cukup pandai bernyanyi.” Doyoung berseru bangga.

***___***

 

“Kalian sudah mengetahuinya? Ku dengar anak baru itu adalah anak dari pemilik sekolah ini.”

“Darimana kau mengetahuinya?”

“Maksudmu murid baru berwajah tampan itu?”

“Iya, Lee Taeyong. Dia adalah anak bungsu dari keluarga Lee, pemilik sekolah ini. Aku mendengarnya tadi saat melewati ruang guru.”

“Oh Tuhan, tidak hanya tampan ternyata dia juga kaya!”

Ten menghentikan langkahnya di samping gerombolan murid-murid perempuan yang sedang bergosip itu. Keningnya berkerut, sepertinya dia mendengar nama seseorang sedang di bicarakan.

“Siapa?”tanyanya. “Siapa yang kalian maksud anak dari pemilik sekolah ini?”

Melihat Ten menyapa mereka, ketiga murid perempuan itu langsung berdiri, “Oh? Ten!” mereka semakin bersemangat. “Kau sudah makan siang?”

Ten mengangguk malas, mengabaikan pertanyaan itu, “Jadi siapa yang sedang kalian bicarakan tadi?”

“Lee Taeyong. Dia adalah anak bungsu dari keluarga Lee.”

Mata Ten langsung membulat lebar. Detik berikutnya berlari menuju gedung olahraga untuk mencari Jaehyun.

“Ya, Ujae!”panggil Ten dari tribun penonton.

Jaehyun yang berada di lapangan langsung menoleh dan menghampiri Ten, “Ten? Ada apa?”

“Kau sudah mendengarnya? Atau kau sudah mengetahuinya?”tanya Ten dengan napas terengah.

Kening Jaehyun berkerut, “Huh? Tentang apa?”

“Taeyong hyung…”

“Taeyong hyung? Kenapa?”

“Apa benar dia adalah anak bungsu keluarga Lee?”

Jaehyun sontak terkejut, “Apa?!”

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3 thoughts on “NCT’s Story – A Story part 3

  1. daisygarside berkata:

    wuah, Jaehyun dibilang pengkhianat? Lucu juga yah….

    Tp Yeri gak ada ya?

    Yeay, Kim Jiyoo duduk dketan sama si casanova Ten… Dan Rara, dia sekelas sm cowok2 kece itu?
    Kuharap ada moment Rara dg Taeyong, lengkap tuh sama2 dingin…

    Jadi Taeyong …… *mendadakspeachless

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s