FF EXO : AUTUMN CHAPTER 24

autumn

Author  :  Oh Mi Ja

Cast :  Leeteuk SJ as Park Jungsoo

Luhan EXO as Park Luhan

Kai EXO as Park Jongin

Sehun EXO as Park Sehun

Support Cast      : Kris EXO as jaksa

Suho EXO as Pastor

Taemin Shinee as Lee Taemin

JR JJ Project as Park Jin Young

Jonghyun CN Blue as Lee Jonghyun

Genre                   : Brothership, Family,  Friendship, little sad

“Terima kasih atas makan malamnya, omoni. Aku pulang dulu.” Sehun membungkukkan tubuhnya sopan pada ibu Jinyoung.

“Jaga kesehatanmu dan jangan bekerja terlalu keras.”

Sehun tersenyum dan mengangguk, “Aku mengerti. Sampai jumpa.”

“Sampai bertemu besok.”sahut Jinyoung.

Sehun melambaikan tangan pada keduanya lalu berjalan pergi. Dia belum memiliki SIM dan sepertinya tidak mungkin jika dia harus naik bus. Jadi lagi-lagi ia memutuskan untuk naik taksi.

Pria tinggi berkulit putih itu melangkahkan kakinya di jalan aspal kecil. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti di persimpangan jalan saat ia tersadar sesuatu. Ia masih mengingat tempat ini dengan sangat baik. Jika belok ke kanan, dia akan menuju rumah sewa lamanya. Dan jika belok kiri, dia akan sampai di rumah Taemin. Empat tahun lalu, setiap pulang sekolah, ia dan Jinyoung akan selalu melewati jalan ini. Terkadang mereka akan mampir sebentar untuk bermain di taman yang ada di sebelah sana.

Walaupun hanya beberapa tahun, namun lingkungan ini telah membekas dalam ingatannya. Lingkungan ini… adalah bagian dari masa kecilnya. Dia tidak pernah menyesal.

Namun tidak hanya rumah sewanya, rumah Jinyoung, rumah Taemin ataupun taman itu. Tapi juga gereja, tempat yang setiap hari dia kunjungi untuk menumpahkan keluh kesahnya. Untuk menceritakan hal-hal yang tidak bisa dia bagi dengan siapapun.

“Sehun.” Tiba-tiba suara seseorang terdengar. “Kau Sehun, kan?”

Sehun menelan ludah. Ia mengenal suara ini dengan sangat baik. Suara yang selalu terdengar lembut dan penuh kasih sayang. Sehun menoleh ke belakang perlahan, melepaskan maskernya dan menatap pria itu lurus. Wajahnya tidak berubah, masih tetap tampan dan menyejukkan. Dia juga masih memiliki senyum itu. Senyum yang selalu berhasil menenangkan Sehun.

“Pastor Kim…”

Seseorang yang ternyata Suho itu tersenyum, “Lama tidak bertemu.”

***___***

 

Ini adalah pertemuan pertama sejak empat tahun berlalu. Sejak terakhir kali Suho melihat Sehun kecil tersenyum polos dan bertingkah lucu. Kini, anak kecil itu telah tumbuh dewasa, begitu tinggi dan tampan. Anak kecil itu… kini telah menjadi bintang besar yang wajahnya terpampang dimana-mana.

Keduanya duduk bersampingan di ayunan yang ada di taman itu dengan memegang ice cream di tangan masing-masing. Sehun terus diam, bahkan membiarkan ice cream di tangannya mencair membasahi tangannya. Matanya terus menatap kosong kearah tanah yang di pijaknya. Hatinya sedang bergejolak.

Orang yang sedang duduk di sampingnya ini adalah orang yang berarti. Seseorang yang telah ia anggap sebagai ayahnya yang lain. Seseorang yang selalu menjadi tempat berbaginya atas semua perasaan bahagia atau sedih. Namun, orang ini juga menjadi orang yang telah ia tinggalkan. Seseorang yang dengan paksa ia lupakan. Ia tau Suho tidak ada hubungannya dengan kematian ayahnya, tapi entah kenapa, dia membencinya.

“Lama tidak berjumpa, Sehun.”ucap Suho lembut sambil mengeluarkan sapu tangan dari saku jaketnya. “Dan kau tidak pernah berubah. Kau tidak pernah bisa makan dengan baik.” Ia menghusap cairan ice cream di tangan Sehun.

Sehun langsung merebut sapu tangan itu dan membersihkan tangannya sendiri. Namun tetap tanpa suara.

Suho tersenyum, “Kau tumbuh dengan sangat baik. Kau bahkan sudah lebih tinggi dariku. Aku melihatmu di TV dan sangat bangga padamu.”serunya tetap dengan nada lembut. “Bagaimana kabarmu dan kedua kakakmu? Apa mereka baik-baik saja? Kenapa kalian tidak pernah datang kemari lagi?”

“Pastor, sepertinya aku harus pulang sekarang.”balas Sehun cepat. Ia membuang sisa ice cream di tangannya ke tempat sampah yang ada di sebelahnya lalu bergegas berdiri. Namun Suho langsung menahan lengannya membuat Sehun kembali duduk di ayunan.

“Sehun, aku benar-benar merindukanmu.” Suho menatap sisi wajah Sehun yang selalu memalingkan wajah darinya. “Setiap hari, aku selalu berdoa pada Tuhan agar Dia melindungimu, agar kau selalu bahagia. Aku selalu berdoa agar semua masalahmu bisa terselesaikan.”

Sehun tertawa mendengus, “Terima kasih tapi pastor tau jika semua itu sia-sia. Tuhan tidak akan mendengar doa-doa pastor. Jadi lebih baik, pastor tidak melakukannya lagi.”

“Sehun, kau masih salah paham? Kau tidak bisa menyalahkan Tuhan atas masalahmu. Tuhan mengambil ayahmu karena dia menyayanginya. Dia ingin ayahmu berada di tempat yang aman.”

“Lalu bagaimana denganku? Bagaimana dengan kedua kakakku? Apa Dia juga menyayangi kami?” nada Sehun mulai meninggi. “Kau bilang jika aku selalu berdoa, Tuhan akan membantuku. Kau bilang jika aku selalu berbuat baik, Tuhan akan menyelesaikan masalahku. Mana buktinya? Tuhan bahkan tidak mendengar doaku! Dia justru menambah beban dan masalah untukku dan kedua kakakku. Kau salah pastor, Tuhan tidak pernah menyayangiku.”

“Sehun…”

Rahang Sehun mengeras, “Bagiku, Tuhan itu tidak ada.”

“Sehun!”

Sehun berdiri dari duduknya, untuk sesaat ia menatap Suho lurus sebelum akhirnya pergi, “Aku membencimu, pastor. Harusnya aku tidak pernah mempercayaimu.”

Di tempatnya, Suho hanya bisa menatap punggung yang mulai menjauh itu dengan mata berkabut. Tidak ada yang bisa dia lakukan. Bahkan untuk memeluk anak laki-laki itu.

Kebencian itu telah menguasainya. Membuatnya buta dan tuli. Tidak ada lagi Sehun yang polos dan lucu, sekarang anak laki-laki itu telah berubah menjadi Sehun yang dingin, yang enggan melihat kebenaran atau mendengar penjelasan. Sehun yang sekarang adalah sebuah gunung es yang tidak mudah untuk di hancurkan.

Kematian ayahnya telah merubah dirinya. Seluruhnya. Bahkan caranya menatap kini terasa sangat dingin.

Namun ia mengerti, Sehun telah kehilangan semua kebahagiaannya di saat dia masih sangat kecil. Saat ini, mungkin dia ingin mencari seseorang yang bisa ia salahkan atas semua masalah yang telah menimpanya. Ingin mencari pelampiasan agar hatinya lega.

***___***

 

Jongin bergegas pergi ke kamar Sehun karena ia melihat bagaimana ekspresi adik laki-lakinya itu saat dia pulang tadi. Dia bahkan tidak menyapa seperti biasa, langsung berjalan lurus menuju kamarnya. Jongin membuka pintu kamar Sehun dan menjulurkan kepalanya, mendapati adiknya sedang berbaring di ranjang dengan salah satu lengan di atas keningnya.

“Kau tidur?” tanya Jongin sambil berjalan masuk.

“Tidak. Aku sedang mencoba untuk tidur.”

“Ada apa? Ini masih pukul 9.”

“Tidak ada. Hanya lelah.”elak Sehun.

“Kau bahkan tidak pernah mengeluh saat memiliki banyak jadwal. Kenapa kau mengeluh saat kau hanya pergi ke sekolah?”

“Belajar membuatku lelah, hyung.”

“Ya, jika Luhan hyung mendengarnya—“

“Arrgh, hyung.” Sehun menarik tubuhnya duduk, kedua kakinya menendang-nendang kesal. “Aku bilang aku sedang mencoba tidur tapi hyung selalu mengajakku bicara.”omelnya. “Aku ingin tidur, hyung.”

Jongin mendengus, “Kau harus makan dulu.”

“Aku sudah makan di rumah Jinyoung tadi. Sekarang aku ingin tidur.”

“Tidak bisa.” Jongin menggeleng. “Kau harus bangun sekarang karena Luhan hyung memanggil kita.”

Kening Sehun langsung berkerut, “Huh? Kenapa?”

“Dia bilang dia ingin membicarakan tentang kasus appa. Ayo.”

Jongin menarik lengan Sehun yang masih enggan meninggalkan tempat tidurnya, memaksa adiknya itu untuk berdiri.

“Ayo cepat.”

“Akh, menyebalkan sekali.”

Bersungut-sungut, Sehun bangkit. Dengan wajah cemberut dan rambut acak-acakkan ia berjalan menuruni anak-anak tangga bersama Jongin.

“Ya,” Jongin kembali menarik lengan adiknya itu. “Nilaimu tidak berantakan, kan, Park Sehun? Aku bertanya sungguh-sungguh.”

Sehun mendesah, nyaris frustasi menghadapi kakaknya yang cerewet itu, “Bukankah kalian selalu memantau buku nilaiku? Aku selalu bekerja keras hingga rasanya kepalaku nyaris pecah karena kalian terus mengomeliku. Nilaiku masih sangat bagus dan aku masih berada di peringkat satu, hyung. Sungguh.”

Jongin langsung tersenyum mendengarnya, ia menepuk-nepuk kepala Sehun, “Baguslah. Kau tau kan apa yang terjadi jika sekolahmu berantakan.”

“Akh, menyebalkan sekali.”

“Apa yang kalian lakukan disana?” Dari lantai satu, suara Luhan terdengar. Ia menatap pertengkaran keduanya sambil geleng-geleng kepala. “Cepat turun.”

Sehun dan Jongin lantas langsung mengangguk, “Baik hyung.”

Mereka bertiga berkumpul di sebuah ruangan keluarga, tempat dimana mereka biasa menghabiskan waktu bersama. Tidak perduli sesibuk apapun jadwal kuliah Luhan, tidak perduli sesibuk apapun jadwal latihan Jongin dan tidak perduli sesibuk apapun jadwal konser Sehun, mereka selalu menyempatkan waktu untuk berkumpul, setidaknya satu bulan sekali. Karena Luhan harus selalu memantau semua hal yang di lakukan oleh kedua adiknya.

“Aku sudah mengirim beberapa dokumen ke pengadilan dan perijinan firma hukum yang aku ajukan akan di setujui secepatnya. Aku butuh satu orang sebagai sekretaris jadi aku mempertimbangkan satu orang kenalanku. Dulu, dia juga bekerja untuk Kris.”

“Maksud hyung… nyonya Anne?”tebak Jongin.

Luhan mengangguk, “Aku menghubunginya kemarin dan dia setuju untuk membantuku. Lagipula dia memiliki banyak pengalaman, dia pasti lebih mengerti.”

“Lalu apa yang ingin hyung lakukan setelahnya?”

Luhan terdiam sesaat, ia mengalihkan tatapan pada Sehun, “Sehunnie, aku akan membuka kasus ini secepatnya dan mungkin kasus ini akan berpengaruh pada karirmu. Apa kau baik-baik saja?”

“Aku tidak perduli.” Sehun menggeleng santai. “Beberapa fans bahkan sudah mengetahui dirimu dan Jongin hyung. Mungkin ini saatnya mereka tau tentang hidupku yang sebenarnya.”

“Sehun, tapi ini…”

“Hyung, bagiku…” anak berkulit putih itu memotong ucapan Luhan. “…tidak ada yang lebih penting selain mengungkapkan kebenaran kasus appa. Walaupun nantinya mereka akan membenciku setelah tau jika ternyata appaku adalah seorang narapidana, aku tidak perduli. Karena appa tidak melakukan hal itu.”

“Dan satu hal lagi…” Luhan kembali terdiam, di tatapnya adiknya itu lekat-lekat bercampur rasa bersalah karena setelah ini, dia akan melibatkan dirinya dalam kasus. “Aku selalu ingin bertanya tentang ini sejak empat tahun lalu, tapi karena kau masih terlalu kecil, aku tidak bisa melakukannya. Tapi sekarang, karena kau sudah dewasa, aku rasa ini adalah saatnya.”

Kening Sehun berkerut, “Bertanya tentang apa, hyung?”

Kembali hening. Dalam keterdiamannya, Luhan sedang bertarung dengan hatinya. Karena pertanyaan ini akan kembali membangkitkan luka di hati adiknya. Akan kembali membuka ingatannya tentang sesuatu yang ia harap sudah di lupakan oleh Sehun. Namun tidak ada jalan lain. Sehun memegang salah satu kunci penting dalam kasus ini.

Luhan menelan ludah pahit, berusaha membasahi tenggorokannya yang terasa cekat. “Siapa yang memberitahumu tentang keadaan appa yang sebenarnya?”

Hingga saat akhirnya pertanyaan itu di tanyakan, kedua mata Luhan bisa menangkap perubahan ekspresi di wajah Sehun. Percikan bara api terlihat di kedua matanya, seakan sedang menahan letupan amarah itu. Entah apa yang sedang di pikirkannya sekarang namun wajahnya memperlihatkan kebencian yang telah tertumpuk lama.

“Aku… tidak bisa mengingatnya, hyung.”jawab Sehun pelan. Luhan dan Jongin seketika terkejut. “Kejadian itu sudah berlangsung sangat lama. Aku tidak bisa mengingatnya dengan baik.”

“Sehunnie, kau serius?” Jongin mencekal kedua bahu adiknya. “Saat itu, musim dingin dan kita pergi ke sebuah perlombaan menari. Kau menonton penampilanku dan Taemin lalu kau tiba-tiba menghilang dan—“

“Aku sungguh-sungguh tidak bisa mengingatnya, hyung.”

“Sehunnie…”

“Tapi mungkin karena aku sedang kelelahan. Akhir-akhir ini aku menjadi stress karena jadwal tour dan pelajaran di sekolah. Mungkin jika aku beristirahat, aku bisa mengingatnya.”

Namun mata Luhan menangkap sesuatu yang berbeda, “Kau baik-baik saja?”

“Aku hanya lelah.” Sehun mengangguk mantap. Meyakinkan kakaknyai tu. “Aku minta maaf, hyung. Aku akan berusaha mengingatnya. Kalau begitu, sekarang aku ingin tidur. Besok pagi aku harus pergi ke sekolah.” Sehun berdiri dari duduknya dan berjalan pergi.

“Sehunnie.”namun suara Jongin menghentikannya sesaat. “Bukankah besok kita akan datang ke acara wisuda Luhan hyung?”

“Acaranya sore hari, kan? Aku akan minta ijin pada sekolah. Aku akan menghubungimu lagi, hyung.”

“Baiklah kalau begitu.”

Tatapan Luhan masih menancap, tidak berpaling bahkan hingga anak itu menghilang di balik pintu. Ada sesuatu yang sedang di sembunyikannya.

“Hyung, bagaimana ini? Sehun tidak bisa mengingatnya.”seru Jongin.

“Kita lakukan perlahan, Jongin. Berikan dia sedikit waktu.”

***___***

 

Aku harus pergi ke acara wisuda Luhan hyung. Kau pasti kesepian, kan? Jangan rindukan aku. Kita bertemu lagi besok.

 

Jinyoung nyaris melempar ponselnya setelah membaca pesan menjijikan itu. “Dasar brengsek.”umpatnya.

Sementara berkilo-kilo meter dari sekolah, Sehun berdiri di depan gedung besar sebuah rumah sakit. Dia mengganti seragamnya dengan kaus serta memakai topi dan masker agar tidak di ketahui oleh fans. Ada sesuatu yang harus dia lakukan disana. Sesuatu yang telah membuatnya frustasi selama empat tahun ini. Sesuatu yang belum juga ia dapatkan jalan keluarnya.

Pria tinggi itu berjalan menuju sebuah ruangan khusus. Disana, ia bertemu dengan seorang pria paruh baya yang beberapa tahun ini telah menjadi dokter pribadinya.

“Kenapa kau datang tiba-tiba? Ini bukan jadwal berobat.” Dokter laki-laki itu tersenyum lembut menatap Sehun yang langsung menjatuhkan diri di kursi sebelum di persilahkan.

“Apa aku harus mengganti dokter saja?”serunya dingin.

Dokter laki-laki bernama Kim Joon Man itu tetap tersenyum, “Kenapa?”

“Aku sudah meminum semua vitamin yang kau berikan, aku tidur dengan cukup dan tidak memaksa diriku bekerja berlebihan tapi kenapa aku tetap tidak bisa mengingat apapun?!” nada Sehun mulai meninggi. “Sudah ku bilang ada sesuatu yang harus aku ingat. Ada hal penting yang harus aku ketahui. Tapi kenapa aku tidak bisa mengingatnya, hah?! KENAPA?!”

Dokter Kim menatap anak laki-laki itu dengan sorot lembut. Penuh pengertian atas ledakan emosinya.

“Otakmu mengalami trauma sehingga kau melupakan semua kejadian-kejadian pahit dalam hidupmu. Karena masa lalumu penuh dengan luka. Semakin kau memaksa untuk mengingatnya, kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri.”

“Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku harus mengingat sesuatu.”suara Sehun bergetar. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan rasa putus asanya. “Tolong berikan aku obat. Apapun itu. Agar aku bisa mengingat semuanya. Aku mohon.”

Dokter Kim mengulurkan tangannya, menepuk-nepuk kepala Sehun lembut, “Cobalah hilangkan kebencian di dalam hatimu. Jika kau mengikhlaskannya, mungkin semuanya akan kembali. Mungkin itu bisa membantumu.”

***___***

 

Tubuh itu meluruh disana. Di sudut ruangan yang jarang terjangkau oleh orang lain. Ia duduk menghadap sudut tembok, menyembunyikan rasa frustasi serta kekacauannya. Tapi sebenarnya apa salahnya? Dia membenci karena orang-orang itu menyakitinya, menghancurkan keluarganya. Lalu dimana salahnya jika dia membenci? Kenapa kebencian itu justru menjadi bumerang untuknya? Kenapa?

Sehun duduk meluruh diatas lantai, punggungnya bersandar pada tembok dengan kedua mata yang tertutup. Dia lelah. Karena itu dia ‘beristirahat’ sebentar, melepaskan ‘topeng dan jubah’ yang biasa dia kenakan.

“Hal ini… sejak kapan?”

Sehun langsung membuka matanya. Detik itu juga, ‘topeng dan jubah’nya kembali menyelimutinya. Namun terlambat. Karena Luhan sudah berdiri tepat di depannya, menatapnya dengan tatapan seperti biasa. Tatapan yang akan mengetahui sebuah kebohongan.

“Brengsek.”maki Sehun pelan. Dia tau jika dia tidak akan bisa menutupi hal ini lebih lama. Tapi ini bukan saat yang tepat bagi Luhan untuk mengetahuinya. Sehun berdiri, membalas tatapan kakaknya itu.

Bagi Luhan ini adalah pertama kalinya dalam empat tahun ia melihat sosok asli adik bungsungnya. Kini ia menyadari, empat tahun ini, Sehun telah berpura-pura. Ia menjadi orang lain untuk menutupi kepribadiannya yang sebenarnya. Ia tau jika anak laki-laki itu menyimpan luka tapi dia tidak pernah tau jika luka itu ternyata sangat dalam, bernanah dan sangat pekat. Pada akhirnya, ini adalah pertama kalinya Luhan melihat tatapan itu. Tatapan yang siap untuk membunuh.

“Hyung mengikutiku?”tanya Sehun dingin. “Hyung sudah mendengar semuanya?”

Luhan menatap Sehun penuh rasa bersalah, “Aku minta maaf karena aku terlambat menyadarinya. Empat tahun ini… kau pasti telah melewati banyak hal sulit.”

“Aku tidak ingin membahasnya, hyung.”

“Kenapa?” Namun Luhan mengabaikannya. “Kenapa kau tidak pernah memberitahuku tentang ini?”

“Hyung, aku tidak ingin membahasnya!”bentak Sehun mulai kesal.

Namun sorot mata itu semakin melembut, Luhan mengulurkan tangan, menghusap pipi Sehun yang kini jauh lebih tinggi darinya itu, “Maafkan aku, Sehun.”

Sehun memejamkan kedua matanya kuat-kuat, sebisa mungkin menahan air matanya. Gunung es kokoh yang tidak mudah untuk di hancurkan itu kini perlahan mencair. Rasa pengertian itu untuk sesaat membuatnya ingat siapa dia yang sebenarnya. Seperti apa dia dulu. Penakut dan selalu merengek pada dua kakaknya.

Dia tak lagi bisa menyembunyikan semuanya. Kini apa adanya. Bersamaan dengan air mata yang menetes itu, ia menggenggam tangan Luhan erat.

“Hyung… aku…takut.”isaknya menatap Luhan. “Aku… sangat takut, hyung.” Luhan balas menggenggam tangan Sehun, menguatkannya. “Bagaimana jika aku tidak bisa mengingat semuanya? Bagaimana hyung?”

“Kita lakukan ini perlahan, oke? Tidak apa. Jangan paksakan dirimu.”

“Hyung, sejak kematian appa, tiba-tiba aku melupakan semua hal. Aku tidak tau apa yang terjadi padaku, otakku tiba-tiba menjadi kosong. Aku tau kau akan menanyakan hal itu jadi aku terus berusaha mengingatnya. Aku pergi ke dokter dan meminum semua vitamin. Aku juga melakukan semua hal yang dokter suruh tapi aku tetap tidak bisa mengingatnya. Hyung, bagaimana jika kita tidak bisa menangkap siapa pelakunya? Bagaimana hyung?”

Luhan memeluk adik bungsunya itu erat, membiarkannya menangis di pundaknya. “Tidak apa-apa. Kita akan menangkapnya. Kita pasti bisa.”

“Hyung, maafkan aku. Maafkan aku…”

Luhan menggeleng, ia menghusap punggung Sehun lembut, “Kau telah melakukan hal yang baik. Aku bangga padamu. Terima kasih, Sehunnie.”

***___***

 

Jongin dan Jonghyun langsung berlari memasuki gedung rumah sakit itu setelah mereka mendapat telepon dari Luhan.

“Hyung, apa yang terjadi? Sehun kenapa?” Jongin menerobos pintu ruangan dengan wajah panik.

“Tidak apa-apa. Dia hanya kelelahan.”

“Sungguh? Tidak ada hal serius yang terjadi, kan hyung?”

“Jangan khawatir. Dia hanya butuh istirahat.”jawab Luhan. “Aku akan mengurus biaya administrasi dulu. Kau jaga dia, ya.”

Jonghyun yang merasakan sesuatu mengikuti langkah Luhan keluar. Ia menarik lengan sahabatnya itu, menghentikan langkahnya.

“Sehunnie… dia baik-baik saja, kan?”

Luhan terdiam sesaat, “Dia baik-baik saja.”ucapnya pelan. “Dia hanya stress karena dia kehilangan sebagian ingatannya.”

“Apa?”

“Dia mengalami trauma yang mengakibatkan otaknya melupakan beberapa kejadian buruk di masa lalu. Dia stress karena tidak bisa mengingatnya.”

Jonghyun terperangah hebat, “Tidak mungkin…”

Luhan tersenyum kecut, “Harusnya sejak awal aku tidak bertanya tentang hal itu padanya. Aku justru membuatnya seperti ini. Harusnya aku tidak melibatkannya.”

“Luhan…”

“Sehun tidak apa-apa, Jonghyun. Jangan khawatir.” Luhan menepuk pundak Jonghyun pelan, mencoba menenangkannya.

“Bukan dia tapi kau.” Ucapan Jonghyun seketika membuat Luhan terdiam. “Kau baik-baik saja?”

Luhan tertegun. Tidak bisa menjawab pertanyaan itu karena nyatanya, dia sedang tidak baik-baik saja.

“Aku…”ujarnya pelan. ”Sebagai seorang kakak, aku gagal lagi…”

***___***

 

Jongin mendesah panjang saat melihat angka di thermometer , “Suhu tubuhmu masih tinggi.”

“Hyung, bukankah kita harus menghadiri acara wisuda Luhan hyung?”

“Ya, bodoh! Apa itu masih penting?”omel Jongin. Ia meletakkan thrmometernya lalu menjatuhkan diri di sisi ranjang Sehun. Di tatapnya adik bungsunya itu lekat, “Apa ini karena aku?”

Sehun mengerutkan keningnya, “Huh?”

“Kau seperti ini… apa karena aku?”

Sehun tertawa mendengus, “Kenapa karena hyung?”

“Kemarin, kau bilang kau ingin tidur tapi aku terus mengganggumu. Apa kemarin kau benar-benar merasa sakit?”tanyanya. “Jika iya, aku minta maaf.”

“Ya, apa yang sedang hyung katakan? Aku memang kelelahan sejak beberapa hari lalu. Bukan karena hyung.”

“Sungguh?”

“Tentu saja. Ini bukan karena hyung.” Sehun tersenyum lebar. “Hyung, apa hyung bisa membuatkanku susu?”

“Susu? Kau mau minum susu?”

Sehun mengangguk.

“Baiklah. Aku akan membuatkannya. Tunggu sebentar.”

Jongin keluar untuk mengambil air hangat. Meninggalkan Sehun sendirian di sana.

Sehun tertegun, ‘Jongin hyung, bagaimana caranya hidup tanpa memendam kebencian ini? Aku ingin hidup sepertimu.’

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

26 thoughts on “FF EXO : AUTUMN CHAPTER 24

  1. So_Sehun berkata:

    Aigoo…aigoo uri sehunnie jgn paksakan dirimu baby…pelan2 aja ya…
    Author-nim kenapa dibuat rumit lagi sih…baru aja bahagia…
    Chingu cepat buat penjahatx ketangkep…q sdah ga tega ama trio sibling itu…biar meraka hidup bahagia tanpa beban berat lagi…

  2. osehn96 berkata:

    ini chapter panjangan yah dari sebelumnya yeaaay. bertahaan terus yaa ehehe jadi seneng. ini kenapa menimpa lagi siiih deritanya. udah seneng luhan nanya itu ke sehun. ternyata sehun malah lupa. sumpah ga nyangka aku kira pura2 taunya sampe beneran trauma. yampuuun ka mijaaa bisa bgt bikin simpang siur feeling huaaaa huaaaa. gak sabaaar selanjutnyaaaaa….semangaaat buat melanjutkan smua karya mu yaaaa

  3. osehn96 berkata:

    ini panjangan yaah dari sebelumnya . yeay tetp bertahaan yaa. makin seneng. itu sehun ga nyangka bgt lho bakalan lupa aku kira dia punya cara sendiri makanya bilang ga inget ke luhan. eh ternyata sampe trauma gituuuu . yaampun serius ga nyangkaa. ka mija bisa bgt bikin simpang siur feeling. gak sabar baca selanjutnyaaa….. semangat buat lanjutin semua karya mu yaah

  4. RAIN berkata:

    Chap ini lebih panjang dr chap2 sebelumnya yaa? Seneeng bacanya tapi sehun kok jd gt sih.. sedih, kapan mereka bahagianyaaa authornim?? Gak sabar banget nunggu chap berikutnyaa,next athornim.

  5. han berkata:

    tanpa diduga sehun kehilangatan ingatannya karna trauma , berasa bnget pasti beban sehun sangat berat, diusianya yg msih kecil wktu itu dan kluarga dpt msalah trus mnerus psti brdampak sekali ke sehun..
    sehun ah fighting ..
    ditunggu next chapternya kka, selene 6.23 nya jga ya🙂

  6. akaimuse berkata:

    Huhu kukira sehun boong taunya bener2 lupa huhuhu sedih kasian sehun hidupnya pasti berat. Kasian mereka semua sih huhu

    Tapi bener2 kagum ama jongin sih. Gimana dia bisa hidup “sedamai” itu, nge ikhlasin appa nya, ikhlasin mimpinya jadi dancer dan malah lanjutin mimpinya luhan, dulu sempet kerja part time juga. Huhuhu

    Oh mija nim fightingggg!!!
    Ditunggu bgt next chapt nya^^

  7. Desi mulya berkata:

    Di chapter ini perlahan lahan masalah demi masalah kebongkar,tapi kayanya sehun sama luhan yg bener2 kesiksa sama masa lalu mereka.Jongin belum diketahui apa dia bener2 ngelupain apa cuma pura2😥.. semoga chater selanjutnya update lebih cepet..ditunggu yaa

    #fighting

  8. Jung Han Ni berkata:

    Huaa akhirnya pastor suho muncul lagi, aku mau nangis pas bagian sehun ketemu sama suho TT__TT dan semoga sehun ingatan sehun cepet kembali
    Pokoknya aku suka banget deh ff kalo oh mi ja eonni yg nulis, apa lagi brothership, sangat menyentuh hati😥
    Keep writing n hwaiting eon! ^^

  9. HyeKim berkata:

    Akhir2 ini kak mija fast update. Seneng😄😄

    Ehh Sehun kok gitu? Ih sebel dia. Ah dia mah masa gk percaya Tuhan sama Suho jd dibenci -__- gak suka sama dia gitu

    Tak kira Sehun pura2 lupa eh nyatanya karena trauma oemji. Bakal makin rumit. Ah mas Luhan T.T sini mas kamu tak peluk, duh kasian ih macem remembet kan /peluk luhan/ hiks

    Mataku berkaca-kaca ngebaca yang adegan Luhan sama Sehun ahah kasih sayang kakak membuat pertahanan Sehun sedikit runtuh :)))

  10. XI RA BY berkata:

    Ckck..
    Oh mi ja benar2 tukang siksa ya..
    Bukan hanya para cast nya tapi kita juga para reader.
    Tapi yaaaa mau gmana lagi namanya udh ktagihan sama ff ini.
    Ya intinya kalanjutannya sangat di tunggu pokoknya..

  11. belvastory berkata:

    Perasaan aku tuh udah komen pake nick yang Ren Belva tapi kok gaada ya -3- huh
    Iiii kaaaakkk kangen ff kakak yang exoooooooo. Apalagi yang ini sama yang the house tree. Hmmm kakak bikin ff exo yang gini lagi dong. Suka aku. Ini makin sini makin greget aja. Sehunnya kasian ih kak:(( luhan juga. Kai. Ah mereka ber3 kasiiiaaaannn. Next update ditunggu

  12. Oh Secca berkata:

    setiap hari minggu pasti selalu nungguin lanjutan ff ini. ceritanya makin seru. aku suka ikatan persaudaraan mereke. luhan,jongin dan sehun mungkin mempunyai sifat yg berbeda tp karena perbedaan itu mereka bisa saling melengkapi. tunggu lanjutan nya. fighting author

  13. ellalibra berkata:

    Q g nyangka q kira sehun pura” lupa n mau balas dendam sendiri sm dongho appanya jg tp dy hilang ingatan krn trauma aigoo sehuniiee … Dy jg jd benci sm suho y huuhuhuu … Sedih bgt eon hueeeeeeeeeee…..
    Smg mrk bhgia cpt eon nneeext fighting🙂

  14. Yati berkata:

    Awalnya aku kira Sehun pura” lupa, tapi ternyata Sehun trauma sampe lupa sama masa lalunya yang menyakitkan. Kapan mereka bahagianya thor, kasihann
    Smoga pelakunya cepet ketangkep yaah. Luhan, Kai, Sehun fightingg

  15. wikapratiwi8wp berkata:

    Semua pasti ngerasain sakitnya Sehunie. Jongin, Luhan dan yang lain pasti ngerasain sakit itu. Cuma caranya aja yang berbeda. Mereka yang seperti Jongin pasti merasakan sakit seperti Sehun tapi dia punya cara mengatasinya. Dan mungkin itu yang Sehun butuhkan🙂🙂 btw gue ngomong apa hahaha maafkeun daku ya mijaaa wkwkwk

  16. HunHo_Suho berkata:

    Ini sungguh membingungkan kak mijaaaa,, sehun lupa? Amnesia? Gk mungkin. Dia trauma astagaa ini benar benar makin rumit apa salah suho di sini? Knapa sehun malah menyalahka tuhan? Kenapa sehun malah bilang seharusnya gak pernah percaya sama suho? Kenapa sehun membenci suho? Kak mijaaa makin ke sini makin banyak kenapa kenapa dan kenapa, kris juga bilangnya di sini dia dah mati ya ampun banyak kali misterinyaaa sebenarnya siapa sii penjahatnyaa ini udah berat banget masalahnya😭😭😭😭

  17. lulusy berkata:

    aku kira tadi sehin cuma bohong ternyata beneran lupa 😢 tapi kenapa sama si curut itu dia masih inget ya???

    sehunie cepet sembuh ya :’)

  18. lulusy berkata:

    aku kira tadi sehun cuma bohong ternyata beneran lupa 😢 tapi kenapa sama si curut itu dia masih inget ya???

    sehunnie cepet sembuh ya :’)

  19. Nanako gogatsu berkata:

    Sehun jangan memendam kebecian,, aku tak ingin kamu sakit dan stress,,, hidup lah dengan kebahagiaan.. Karena aku ingin melihat keluarga park bahagia,..

  20. Hikari berkata:

    Kasihan Sehunnya😭..Traumanya dalem banget..
    Belum lagi rasa bersalah Luhan😭😭…

    Satu lagi penghalang untuk tau siapa penjahatnya 😤…

    Baca perjuangan Luhan dsni jadi Pengacara dan memperjuangakn Ayahnya.jadi keinget jga perjuangan Yoo Seung Ho di Drama Remember…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s