NCT’s Story – A Story part 2

121850595

Tittle                            : NCT’s Story – A Story

Author             : Ohmija and MinnieBin

Main Cast        : NCT U and NCT 127

Gnere              : School life

“Hyung, hentikan. Kau tidak benar-benar akan mendekati Kim Bona noona, kan?”

“Kenapa? Dia cantik.”

“Ra By noona akan membunuhmu. Dia adalah sahabatnya. Apa kau lupa?”

“Aku dan Ra By sudah berakhir. Kami sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi.”sahut Ten santai.

“Waaah, hyung… kau benar-benar tidak punya hati.”

“Setelah aku bicara dengan Bona tadi, sepertinya dia juga menyukaiku, Mark. Dia bahkan memberikan nomor ponselnya padaku.”

Mark hanya bisa berdecak sambil geleng-geleng kepala, “Hyung, you really…”

 

BRUKK

 

Tiba-tiba tanpa sengaja Ten menabrak seseorang. Ia menoleh, menatap seorang gadis yang sudah terjerembap itu.

“Oh, kau tidak apa-apa?” Mark mengulurkan tangan,membantu gadis itu berdiri.

“Kau lagi?!” Ten langsung memekik begitu ia melihat siapa yang ditabraknya barusan. Gadis yang ternyata adalah Kim Ji Yoo itu sama terkejutnya, “Waaah… sepertinya kau sangat suka mencari masalah denganku.”

“Kenapa kau marah? Kau yang lebih dulu menabrakku!” Ji Yoo tak kalah kesal.

“Ya! Kau—“

“Stop stop.” Mark segera melerai dua orang itu sebelum terjadi pertengkaran besar. Kemudian ia menoleh kearah Ten, “Hyung memang benar kau yang lebih dulu menabraknya. Harusnya kau minta maaf.”

Ten langsung mendelik kesal karena Mark tidak membelanya, “Kau membelanya?!”

Namun Mark mengabaikan itu dan mengalihkan pandangannya pada Ji Yoo, “Dan noona, maaf, tapi.. apa yang sedang noona lakukan disini? Ini adalah jalan menuju asrama laki-laki.”

Ji Yoo seketika salah tingkah, ia menggaruk tengkuk belakangnya kikuk.

“Jadi kau juga Byuntae?!” sahut Ten geleng-geleng kepala. “Tidak ku sangka.”

“Bukan begitu.” Ji Yoo menggeleng sambil mengibaskan tangannya, berusaha menjelaskan, “Aku sangat lelah hingga tidak sadar berjalan kearah sini. Tadi—”

“Mark, kita adukan saja dia pada guru. Karena selain Byuntae, dia juga…hmmp…hmmp…”

Tiba-tiba Ji Yoo membekap mulut Ten, ia menatap Mark dengan cengiran lebar, “Aku harus bicara dengannya dulu.” Gadis itu menarik Ten, menyeretnya pergi menjauhi Mark.

“Ya! Apa yang kau lakukan?!”

“Aku mohon.” Ji Yoo mengatupkan telapak tangannya di depan dada. “Aku mohon bantu aku sekali ini saja. Jangan adukan hal itu pada kepala sekolah, aku mohon.”

“Kenapa aku tidak bisa melakukannya? Aku sudah melihatnya.“balas Ten cuek.

“Aku sudah mendapat satu peringatan, jika aku dapat satu peringatan lagi, beasiswaku akan di cabut dan aku bisa di keluarkan dari sekolah.”

“Lalu apa urusannya denganku? Aku tidak perduli jika kau di keluarkan atau tidak.”

Ji Yoo menghembuskan napas panjang, usahanya membujuk pria ini gagal. Mungkin rumor yang ia dengar benar, dia hanya akan luluh dengan wanita cantik.

“Baiklah. Aku akan melakukan apapun yang kau mau. Bagaimana?”

Ten bereaksi, laki-laki itu menatap Ji Yoo sambil menahan senyum, “Apa maksudmu?”

“Aku akan memberikanmu satu kesempatan. Kau bisa menyuruhku melakukan apa saja.

“Hanya satu?”

“Baiklah, dua.” Ji Yoo menaikkan jari tengahnya.

“Lupakan saja.”

Ten sudah akan berbalik namun Ji Yoo dengan cepat menahan lengannya, “Oke.. oke.. tiga! Bagaimana?”

Senyum menyeringai tercetak di bibirnya, “Setuju!”

“Aku bisa melakukan apapun, asalkan itu tidak berhubungan dengan uang.”

“Aku tau itu.”balas Ten. “Baiklah. Karena aku baik hati, aku akan membiarkanmu pergi sekarang. Kita bertemu saat tahun ajaran baru di mulai.”

Masih dengan senyum, Ten melambaikan tangannya lalu kembali menghampiri Mark.

“Apa yang kalian bicarakan, hyung?”

“Seperti biasa. Dia memohon untuk jadi kekasihku.”ucap Ten bangga.

Kening Mark berkerut, “Benarkah?”tanyanya sedikit tidak percaya.

“Bahkan gadis itu tidak bisa menolak pesonaku, Mark.”

***___***

 

Ruangan itu terlihat sepi karena dua orang penghuninya tidak ada disana. Kini, hanya tiga orang yang menghuni ruangan itu.

“Ku dengar siang ini para murid baru akan pindah ke asrama.”seru Ten berdiri di depan cermin untuk merapikan rambutnya.

“Apa kita akan di rolling lagi?” Mark mendesah panjang. “Oh My God, I’m so tired! Kenapa setiap tahun kita harus berpindah-pindah kamar?”

Yuta terkekeh, “Itu masih rumor, Mark.”

“Tapi setiap tahun selalu seperti itu, hyung.”

“Sudahlah. Kalian jangan memikirkan hal itu.” sahut Ten, ia berbalik ke belakang menatap kedua temannya. “Sekarang, ayo pergi.”

“Huh? Kemana?”

Ten menyeringai lebar, “Surga.”

***___***

 

Yuta dan Mark hanya bisa menghela napas panjang. Jadi ini yang dia maksud surga?

“Jadi tujuanmu membawa kami kemari untuk itu?” Yuta berdecak sambil geleng-geleng kepala. “Kau benar-benar…”

Ten hanya menjawabnya dengan seringaian lalu menyedot minumannya, kepalanya terus menghadap ke kanan, menatap kearah halaman depan bangunan asrama perempuan.

Terdapat sebuah café disana, yang bagian outdoornya bisa melihat langsung kearah halaman depan bangunan itu.

“Selama aku datang kesini, aku tidak pernah tau jika area ini menghadap langsung kesana.” Yuta masih berdecak.

“Karena kau tidak jeli.”balas Ten santai. “Lihat! Lihat! Mereka sangat cantik!” Ten menunjuk beberapa orang murid perempuan yang berjalan masuk ke dalam asrama. “Waaah… sepertinya ada banyak murid baru yang sangat cantik.”

“Hyung, bukankah semalam kau bilang kau akan mendekati Bona noona?”

“Aku bilang begitu?”

“Aaah… dasar.”

“Maaf…kan aku. But, I said I want single burger not two. Satu, bukan dua. No, aah, how to say it?”

Mark, Ten dan Yuta langsung menoleh begitu mendnegar percakapan itu. Seorang gadis tinggi berwajah cantik sedang berargumen dengan kasir. Sepertinya dia tidak bisa berbicara Korea dengan baik.

“Oh Tuhan, she’s so hot.” Ten berdiri dari duduknya, sudah akan menghampiri gadis itu namun Yuta langsung menahan lengannya dan membuatnya terduduk kembali. “Ya, kenapa?”

Yuta hanya mencibir lalu mengalihkan tatapan pada Mark, “Sepertinya dia murid baru. Kau bantu dia.”

Mark berdiri dari kursinya dan menghampiri gadis itu, “Excuse me.”serunya sopan. Gadis itu menoleh. Dan untuk sesaat, dunianya seakan berhenti berputar. Semua makhluk hidup diam, membeku, hanya dirinya yang tenggelam dalam rasa terpesona. Oh Tuhan, dia… sangat cantik.

Can you help me? Hello.”suara gadis itu segera mengembalikan kesadaran Mark.

Anak laki-laki itu mengerjapkan matanya, “Ah, yeah. Let me explain it.” Ia tersenyum. “Jadi, dia memesan burger porsi single tapi kau memberikannya porsi double.”

“Aaah begitu. Aku pikir dia mengatakan jika dia ingin dua porsi.” Kasir itu mengangguk. “Maafkan aku, nona. Biar aku ganti pesananmu.”

“Ah, yah, tidak apa-apa.”

“Kau mengerti yang dia katakan?”

Gadis itu mengangguk, “I know a bit hehehe.”

“So you’re one of Yangsan’s new students?”

“Yeah, I just graduated from middle school and now I’m here.”

“Mark, kita harus pergi.” tiba-tiba Yuta dan Ten menghampirinya. Mark menoleh.

“Oh benar.” Anak laki-laki itu menggaruk tengkuk belakangnya.

“Tunggu, kau sudah tau mengetahui namanya?”tanya Ten.

Mark menggeleng pelan, “Belum.”

“Bodoh.”cibir Ten. Lalu ia menatap gadis itu, tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya, “I’m Ten, you?” Seperti biasa, ia selalu mencuri start.

Oh, I’m Somi.” Gadis yang ternyata bernama Somi itu membalas uluran tangan Ten.

“He’s Mark and he’s Ten. We’re your senior.”

“Benarkah? Tolong perlakukan aku dengan baik, sunbaenim.” Gadis itu membungkuk sopan.

“Oh? Kau bisa berbahasa Korea?” Ten dan Yuta sedikit terkejut.

“Aku bisa sedikit.”

“We’ve to go now. So…” Mark menatap Somi dan tersenyum. “See you later.”

Ten merangkul pundak Mark kemudian mereka bertiga pergi meninggalkan kafe itu.

“Dia cantik, kan?” Ten menoleh menatap Mark.

Mark mengangguk, “Yah, cantik.”ucapnya pelan.

“Mark adalah tipe pria yang akan mengatakan jika semua gadis di dunia ini cantik.” Yuta tertawa. “Berbeda dengan Haechan.”

“Aaah, anak itu.” Ekspresi Ten seketika berubah, ia menjadi sedikit kesal. “Dia bahkan mengatakan jika Min Rara sama sekali tidak cantik.”

Kening Yuta dan Mark langsung berkerut, “Min Rara?” keduanya mencoba mengingat-ingat nama yang terdengar tidak asing itu.

“Min Rara, kapten pemandu sorak itu, yang sangat cantik tapi juga seperti es.”

“Ah, Min Rara.” Yuta mengangguk-angguk begitu mengingatnya. “Aku rasa kita harus memeriksakan mata Haechan. Bagaimana mungkin dia mengatakan jika Min Rara tidak cantik?”

Ten menyetujui ucapan Yuta itu, “Dia sudah gila.”

“Min Rara, gadis keturunan Amerika itu, kan?” Mark masih belum yakin tentang Min Rara yang sedang mereka bicarakan.

“Oh Tuhan, Mark. Kau adalah anggota tim basket tapi kau tidak tau siapa Min Rara. Setiap kali ada pertandingan, bukankah kalian selalu bertemu?”

Mark menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Aku tidak terlalu dekat dengan gadis-gadis pemandu sorak.”

“Itu karena kau terlalu sering bergaul dengan Haechan.”

Yuta sontak tertawa, “Kau sudah dewasa, Mark. Berhenti bermain video game bersama Haechan. Kau harus mulai melihat gadis-gadis yang ada di sekelilingmu.”

“Ada Yerim, Arin dan Seulgi noona.”jawab Mark polos.

“Bodoh. Apa mereka wanita?”dengus Ten mulai gemas.

“Yerim, dia bukan wanita! Dan Arin… baiklah dia lumayan imut tapi bukankah kau bilang kalian hanya bersahabat saja? Dan Seulgi noona… apa harus ku tegaskan lagi? Dia bukan manusia, dia itu malaikat!”

Yuta kembali tertawa mendengarnya sambil menatap Mark, “Kau ingat saat Seulgi noona menolaknya? Dia benar-benar tidak punya harapan sama sekali.” Ia menunjuk Ten.

Mark ikut tertawa, “Benar… benar… Saat itu Ten hyung mengurung dirinya di kamar dan tidak mau keluar.”

“Itu adalah pertama kalinya seorang gadis menolakku.” Ten berseru sedikit sedih sementara kedua temannya masih mentertawakannya.

“Apa yang kalian lakukan disini?” Tiba-tiba suara seseorang terdengar. Ketiganya menoleh. Astaga, baru saja menceritakannya, gadis itu sudah ada disini.

“Seulgi noona?” Ten nyaris tersedak begitu melihat Seulgi. Apa dia mendengar percakapan mereka tadi?

“Kenapa kalian berkeliaran di area asrama perempuan?”

“Kami hanya berbincang di kafe itu tadi.” Jawab Mark. “Bagaimana dengan noona? Apa yang noona lakukan disini? Bukankah ini adalah hari libur?”

“Ada yang harus aku ambil jadi aku datang kemari sekaligus melihat-lihat.”

“Kenapa noona sendiri? Dimana Jaehyun?”tanya Yuta.

“Dia tidak bisa mengantarku. Dia bilang dia harus mengantar omoni.”

“Kalau begitu, kami akan mengantar noona pulang.”

“Tidak perlu.” Seulgi tertawa. “Apa kalian pikir aku adalah anak kecil? Aku akan pulang sendiri.”

“Kami hanya khawatir jika ada seseorang yang akan mengikuti noona lagi. Seperti waktu itu.”

“Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Terima kasih.”ucap Seulgi. “Kalau begitu, aku pulang dulu. Sampai jumpa minggu depan.”

“Jika terjadi sesuatu, hubungi kami.”

“Aku tau.”

Mark menoleh, menatap Ten yang masih memandangi punggung Seulgi hingga dia menghilang. Merasa jika ada seseorang yang sedang menatapnya, Ten menoleh. Wajahnya sedikit memerah namun dia tidak mengelak. “Aku memang masih menyukainya.”ucapnya. “Sedikit.”

“Lupakan dia.” kata Yuta memukul kepala Ten pelan.

“Aku tau!” Ten berseru kesal. “Aku akan melupakannya.”

“Hentikan, hyung. Ayo pergi, filmnya akan di mulai sebentar lagi.”

***___***

 

Pletak

 

Haechan menghela napas panjang, tidak memperdulikan bunyi itu dan kembali fokus pada video gamenya.

 

Pletak

 

jangan perdulikan dia, Haechan.batin Haechan.

 

Pletak Pletak

 

Oh Tuhan… anak laki-laki itu berdiri sambil membanting stick playstation-nya, bersungut-sungut berjalan menuju sisi kirinya dan membuka jendela.

“Kau mau memecahkan kaca jendelaku?!”omel anak laki-laki itu pada seorang gadis yang ada di sebrang kamarnya.

Gadis cantik yang ternyata adalah Yeri itu cemberut, “Aku sudah memanggilmu sejak tadi tapi kau tidak memperdulikanku.”

Haechan mendesah, berusaha menahan-nahan kesabarannya, “Aku sudah disini, lalu apa?”

“Aku bosan. Ayo bersepeda.”

“Bersepeda malam-malam seperti ini?”

Yeri mengangguk, “Iya.”

“Kau pasti sudah gila.” Haechan mendengus.

“Ya, aku bosan!”

“Lalu apa urusannya denganku? Kenapa kau selalu menggangguku?!”seru Haechan kesal. “Lagipula apa kau tidak lihat bagaimana cuacanya?! Lihatlah ke langit, sebentar lagi akan turun hujan!” anak laki-laki itu terus mengomel. “Sudahlah. Jangan ganggu aku lagi, mengerti?!”

Haechan menutup jendelanya juga horden agar Yeri tidak bisa melihat kearah kamarnya lagi.

“Ya! Lee Haechan! Ya!”

Haechan tidak memperdulikan teriakan itu, ia duduk kembali di lantai dan melanjutkan permainannya. Namun tiba-tiba seseorang membuka pintu kamarnya.

“Ya, apa yang terjadi? Kenapa dia berteriak?” Seseorang yang ternyata adalah Taeil itu menjulurkan kepalanya.

“Dia sudah gila.”jawab Haechan santai.

“Huh?”

“Sudahlah hyung. Abaikan saja dia.”

***___***

 

Empat hari sebelum tahun ajaran baru akhirnya di mulai, seluruh murid SMU Yangsan di wajibkan untuk datang ke sekolah untuk mengecek rolling ruang kamar yang biasanya di lakukan setiap tahun.

Haechan keluar dari kerumunan murid-murid yang berdiri di depan papan pengumuman, menghampiri teman-temannya dengan wajah murung. Yang lain sudah tau jika anak laki-laki itu pasti mendapat giliran rolling kali ini.

“Kau harus pindah?”tanya Mark, setengah kecewa karena Haechan adalah teman sebangkunya sejak kelas satu.

Ia mengangguk pelan, “Aku harus pindah ke lantai dua. Aaah… menyebalkan.”

Mark menepuk pundak sahabatnya itu dan merangkulnya, “Setidaknya kita masih berada di kelas yang sama.”

“Aku ingin melihat namaku juga tapi sepertinya aku tidak bisa menembus kerumunan itu.” Yuta ikut mendesah panjang melihat kerumunan murid-murid di depannya.

“Kita tunggu saja hingga sepi.”sahut Jaehyun lalu merangkul pundak Taeil yang berdiri di sampingnya.

“Oh?” Tiba-tiba Ten berseru. “Mark, bukankah dia… gadis Amerika itu? Siapa namanya? Soma? Somi?” Ten menunjuk gadis tinggi berwajah asing yang terlihat bingung berdiri diantara kerumunan murid-murid.

“Hampiri dia, sepertinya dia terlihat bingung.”ujar Yuta.

Ten mengangguk, “Baiklah.”

“Bukan kau.” Yuta langsung menarik lengan Ten, membuat pria itu kembali ke tempatnya. Kemudian ia menatap Mark, “Mark, kau hampiri dia.”

Mark mengangguk dan menghampiri gadis itu sementara Ten melirik kesal kearah Yuta.

“Kenapa kau selalu menggagalkan usahaku?”ketusnya kesal.

“Apakah kau ingin mengencani semua gadis yang ada di sekolah ini, huh? Berikan Mark kesempatan juga.”

“Hyung, gadis itu siapa?” Haechan menoleh ke belakang, menatap Yuta.

“Murid baru yang kami temui di Yangsan café.”

“Woah, dia cantik sekali.” Haechan berseru, kedua matanya terus menatap gadis itu.

Yuta dan Ten seketika terkejut, “Kau bilang apa? Kau bilang dia cantik?”

“Iya.” Haechan mengangguk bingung. “DIa memang sangat cantik. Kenapa? Kalian ingin bilang dia jelek? Apa kalian buta?”

“Ya.” Ten memukul kepala anak itu pelan. “Bukankah biasanya kau yang selalu mengatakan jika semua gadis yang kau temui itu tidak cantik?”

Haechan tersenyum jahil, “Dalam hidupku, hanya ada tiga kesempatan untuk menyatakan jika gadis itu cantik. Pertama, Seulgi noona. Semua orang juga tau jika dia adalah bidadari. Kedua, gadis itu. Aku mengatakan ini karena dia memang cantik.”

“Lalu yang ketiga?”tanya Jaehyun sambil tersenyum geli.

“Aku belum bertemu dengan gadis cantik yang lain. Jadi aku akan menyimpan kesempatan itu. Mungkin aku akan mengatakannya untuk kekasihku nanti.”

Ten hanya bisa berdecak sambil geleng-geleng kepala mendengar ucapan diplomatis Haechan, “Aku merasa kasihan dengan gadis yang akan menjadi kekasihmu nanti. Aigoo…”

“Kenapa? Apa yang salah denganku? Aku juga tampan!”

“Tampan pantatku. Kau menyebalkan.”

“Ya, hyung. Eoma bilang aku tampan!”

“Itu karena—“

“Ya, hentikan.” Lerai Jaehyun. “Lihat kesana.” Ia menunjuk kearah Mark yang sedang mengobrol dengan Somi.

“Apa kau belum bisa membaca hangul?”tanya Mark dalam bahasa Inggris.

“Aku hanya bisa membacanya sedikit-sedikit. Tapi aku tidak bisa membaca tulisan di kertas pengumuman itu, terlalu rumit.”

“Kau bisa pergi ke lantai dua, disana ada papan pengumuman yang tertulis dalam bahasa Inggris.”

“Benarkah? Lantai dua? Di sebelah mana?”

“Eum…” Mark memutar bola matanya, berpikir sesaat sebelum meminta ijin untuk pergi sebentar. “Tunggu disini sebentar.” Anak laki-laki itu menghampiri teman-temannya, “Aku akan pergi sebentar jadi…aku…”

Sikap Mark yang tiba-tiba menjadi canggung itu membuat yang lain tertawa geli,

“Kau mau ke lantai dua? Bulletin board?”tanya Jaehyun sambil terkekeh.

Mark mengangguk malu, “Iya.”

“Pergilah. Kami akan menunggumu di kantin nanti.”

Mark tersenyum lalu mengangguk, “Baiklah. Aku pergi dulu, hyung.”

Anak itu kemudian berbalik dan menghampiri Somi kemudian pergi bersama menuju lantai dua. Melihat itu, Ten hanya bisa menatapnya iri. Sepertinya dia harus melupakan gadis yang satu ini.

“Mark sudah dewasa.”seru Taeil, senyumnya tidak lepas sejak sikap canggung Mark tadi.

Yuta mengangguk setuju, “Berbeda dengan seseorang, kan, hyung?”

Mereka semua tau jika Yuta sedang menyindir seseorang. Karena itu seluruh pasang mata kini sedang menatap kearah anak laki-laki yang paling muda di antara mereka itu.

Haechan seketika menjadi kesal, hari ini sepertinya semua orang sedang tidak berpihak padanya, “Aku akan mendapatkan kekasih! Secepatnya! Kalian tunggu saja!”

“Tunggu apa?” Tiba-tiba suara seseorang terdengar dari belakang.

“Astaga! Kau mengagetkanku!” Haechan terlonjak kaget sambil menghusap-husap dadanya. “Kenapa muncul tiba-tiba?”

“Aku tidak mengagetkanmu.”seru Yeri santai. Gadis itu datang bersama sahabatnya, Arin. Ia menatap Jaehyun dengan senyum lebar, “Jaehyun oppa, annyeong.”

“Kau tidak menyapa kami juga?”cibir Ten.

“Aku akan menyapa kalian setelah ini.”balas Yeri cuek. “Annyeong Ten oppa, annyeong Yuta oppa, annyeong Taeil oppa.”

Ten mengabaikan sapaan itu lalu beralih pada Arin, “Annyeong Arin.”ucapnya membuat Yeri mendengus kesal.

Jaehyun tersenyum melihat mereka, “Apa kalian mendapat giliran rolling?” Ia bertanya.

“Tidak. Kami tetap sekamar.” Yeri merangkul Arin senang.

“Lalu bagaimana dengan kelas kalian?” Haechan bertanya was-was, dalam hati semoga tidak lagi mendapat kelas yang sama dengan keduanya.

“2-B.”

Jawaban itu langsung membuat Haechan meninju udara. Sial, mereka jadi teman sekelas lagi.

“Kau kenapa?”tanya Arin menatap Haechan bingung.

“Tidak. Aku sedang merasa senang.”jawabnya namun ekspresinya mengatakan hal yang sebaliknya.

“Dasar aneh,”cibir Arin geleng-geleng kepala.

“Ngomong-ngomong, dimana Mark? Dia belum datang?” Yeri menoleh ke kiri dan ke kanan mencari Mark.

“Dia pergi bersama Somi.”jawab Haechan santai, mengabaikan isyarat dari para hyungnya yang memperingatkan jika ada Arin disini. Walaupun tidak mengungkapkannya, tapi mereka tau jika sejak dulu Arin sudah menyukai Mark. Namun karena sikap Mark yang sedikit tidak sensitif, dia tidak pernah tau tentang itu.

“Somi?”tanya Yeri dengan kening berkerut.

“Calon murid baru. Dia berasal dari luar negeri dan sangat cantik. Sepertinya Mark menyukainya.”

“Tunggu…tunggu… Mark? Bersama murid baru? Sungguh?” Yeri masih tidak percaya dengan ucapan Haechan itu karena yang ia tau, Mark adalah tipe laki-laki yang sangat pemalu. Berbeda dengan Ten.

“Ini urusan laki-laki. Kalian jangan ikut campur.” Haechan tersenyum menyeringai, membuat Yeri mencibir kesal.

“Yeri, ayo. Bukankah kita mau pergi ke asrama?”

“Oh, aku lupa. Kalau begitu, kami pergi dulu. Sampai jumpa, oppadeul.”

Begitu mereka pergi, Ten langsung memukul kepala Haechan pelan hingga anak laki-laki itu mengaduh.

“Ya, hyung! Kenapa memukulku terus?!”

“Kau ini… apa kau tidak lihat jika ada Arin? Bagaimana bisa kau mengatakan jika Mark sedang pergi bersama gadis lain? Dasar bodoh!”

“Aku melakukan ini agar dia segera sadar, hyung. Mark hanya menganggapnya sebagai sahabat dan tidak lebih. Aku melakukan ini agar dia dia berhenti mengharapkan Mark. Aku melakukan hal yang baik!”protes Haechan tak terima.

“Cepat berkencan! Agar kau mengerti perasaan wanita!”

“Ten hyung!”

***___***

 

Kasur yang biasanya di tempati Haechan sudah kosong, semua barang-barangnya telah di pindahkan ke kamar yang baru tadi siang. Kini di kamar itu, tersisa Yuta, Mark, Ten dan Jaehyun. Yaaah, walaupun Jaehyun baru akan datang besok pagi.

“Ah, rasanya sangat sepi.”desah Mark, biasanya akan ada yang membuat keributan di kamar itu. Selain Ten, Haechan adalah moodmaker diantara mereka.

“Lalu siapa yang akan menggantikan Haechan? Bukankah seharusnya ada murid baru yang datang?”Yuta bersuara.

Namun baru saja menyelesaikan ucapannya, seseorang membuka pintu kamar mereka. Ten dan Yuta yang tidur di kasur tingkat bagian bawah langsung berdiri sementara Mark yang tidur di bagian atas, langsung bangun dari tidurnya. Seorang anak laki-laki dengan mata serta rahang yang tajam memasuki kamar itu, ketiganya sedikit terkejut dengan ketampanan anak laki-laki itu. Wajahnya sangat mirip dengan karakter manga! Sangat tampan!

“Kau…siapa?” Ten bertanya. Dia tidak pernah melihat anak ini sebelumnya.

Anak laki-laki berwajah dingin itu membungkukkan tubuhnya sopan –tanpa senyum- lalu memperkenalkan dirinya, “Aku adalah murid baru. Namaku Lee Taeyong.”

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5 thoughts on “NCT’s Story – A Story part 2

  1. daisygarside berkata:

    Yosha!!!

    Part ini Taeyong oppa muncul, yeay!!

    ah, dan Min Rara juga,.. Gadis introvert yg gk terlalu hangat terhadap anak cowo… Panteslah dijuluk seperti es..

    Yeri-ya..kamu juga mirip dg karakter anime yg kutau….
    Hihihi..lucunya..
    Dan Arin…kasian kalo misalkan Mark bneran suka sm murid baru itu.. Aku harap gk akan ada tokoh antagonis sperti yg di drama2…
    Ditunggu next part-nya

  2. hanyoo berkata:

    yehettt..chapter 2nya dh keluar #jingkrak2
    sukkaaaa buanget apalgi bagian Ji Yoo nyaa
    hehehe bayangin diri sendiri hihihi
    d tunggu next chapnya Thor
    hwaiting!!!

  3. DO DO berkata:

    Ji yoo belum keluar banget disiniii, tapi seru ini thorr, gimana jadinya ekspresi jaehyun nanti pas balik asrama ada taeyeong di kamarnya, dan gimana perasaan seulgi bisa ngeliat taeyong lagi setelah sekiann lamaaa

  4. Oh Secca berkata:

    aku masih bingung sama karakter cewenya karena belum hafal sama nama dan wajahnya 😂 tapi aku suka, haechan sudah ku duga pasti kelakuan nya pling beda sama temen lain nya. nunggu winwin sama doyoung 😄

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s