NCT’s Story – A Story part 1

121850595

Tittle                            : NCT’s Story – A Story

Author             : Ohmija and MinnieBin

Main Cast        : NCT U and NCT 127

Gnere              : School life

Mereka bilang sebelum menuju kesuksesan, kau harus bekerja keras lebih dulu. Dan sekarang, gadis itu disini, taman Hangang untuk mengantar pizza. Ia membuka helm dan mulai melangkah. Cuaca hari ini cukup hangat, ah tidak, panas. Matahari sedang bersinar sangat terik diatas sana. Ini adalah hal yang sangat jarang terjadi di Seoul, biasanya kota ini terasa sangat dingin walaupun sedang musim panas.

Namanya Kim Ji Yoo, gadis bertubuh tinggi yang umurnya baru akan menginjak 19 tahun. Dia adalah murid kelas 3 SMU yang sedang giat bekerja di sela liburan musim panasnya. Berbeda dari teman-temannya yang akan menghabiskan liburan bersama orang-orang tersayang. Karena disini, dia hanya tinggal sendiri.

Dia bersekolah di SMU Yangsan. Sebuah sekolah berbasis asrama yang mengajarkan ilmu pengetahuan umum dan seni. SMU Yangsan adalah salah satu sekolah terkenal di Seoul karena sebagian murid yang lulus dari tempat itu kini menjadi idol terkenal. Yah, sedikit berbeda dari sekolah umum biasanya, sekolah ini juga mengajarkan musik dan tari sebagai pelajaran tambahan.

“Pizza datang!”serunya bersemangat. “Ini pizza anda, Pak. Silahkan di nikmati.”

“Terima kasih.”balas seorang pria tua yang terlihat sedang berpiknik bersama keluarganya itu. “Ini biayanya.”

“Terima kasih.” Ji Yoo membungkuk sopan sebelum berbalik pergi.

 

BRUKK

 

Gadis itu terjatuh karena tanpa sengaja ia menabrak seseorang.

“Akh.” Ji Yoo meringis kesakitan, tentu saja, bokongnya menghantam tanah dengan keras. Ia mendongak, sudah akan mencerca orang yang tidak memiliki hati nurani itu karena tidak menolongnya sama sekali.

“Astaga bajuku.”

Namun, mulutnya langsung membungkam rapat. Oh Tuhan, dia…. Ten!

“Ya! Apa kau tidak bisa melihat dengan baik?! Lihat apa yang sudah kau lakukan! Kau membuat bajuku kotor!”

Ji Yoo berdiri, membungkukkan tubuhnya dan mengucapkan kata maaf dengan cepat. Setelah itu ia langsung bergegas pergi sebelum pria itu melihat wajahnya.

“Ya!” Namun Ten menahan lengannya. “Kau tidak bisa pergi begitu saja! Kau harus tanggung jawab.”

“Maafkan aku, Tuan. Aku tidak sengaja.”jawab Ji Yoo sambil terus berusaha menyembunyikan wajahnya.

Ten semakin gemas. Di tariknya lengan gadis itu semakin kuat hingga dia tidak bisa mengelak lagi. Keduanya bertatapan untuk sepersekian detik namun Ji Yoo lagi-lagi dengan cepat menundukkan kepalanya.

“Kau?”

“Tidak. Kau salah!” Ji Yoo menggeleng cepat-cepat. “Aku ada urusan. Aku harus pergi.”

Ji Yoo sudah akan melarikan diri namun Ten masih mencekal lengannya kuat.

“Kau gadis 100won, kan?”

Gadis itu langsung menoleh, berubah kesal, “Apa?”

“Aku tidak tau namamu. Tapi kau pasti gadis 100 won itu.”

“Aku bukan gadis 100 won!”

Ten tertawa, “Lalu apa? Kau sangat menggilai uang bahkan kau memungut koin 100won yang terjatuh di lantai.” Laki-laki itu tersenyum menyeringai, “Benar, kan? Aku sudah mendengar rumor tentangmu.”

Ji Yoo mendorong tubuh Ten kesal, “Ya!”

Ten masih tertawa, “Kenapa kau marah? Itu adalah kenyataan. Dan sekarang… apa yang sedang kau lakukan? Kau bekerja?”

Mata Ji Yoo membulat lebar. Oh Tuhan, aku tertangkap lagi.

“Jika sekolah mengetahuinya kau bisa—“

 

BUG

 

Gadis Itu menendang kaki Ten kesal lalu secepat kilat melarikan diri. Sementara Ten langsung menjerit kesakitan sambil memegangi kakinya.

“Dasar gadis sialan.”rutuknya.

“Apa yang sedang kau lakukan, hyung?” Tiba-tiba seseorang muncul. Ten menegakkan tubuhnya dengan wajah yang masih meringis. “Oh hyung? Bajumu?”

“Aku rasa aku sedang kena karma.”seru Ten, matanya masih tertuju pada arah dimana Ji Yoo menghilang.

Anak laki-laki yang baru saja tiba itu mengeritkan keningnya bingung, “Huh?”

Ten terkekeh, “Kau tidak akan mengerti, Mark. Ini urusan orang dewasa.”

“Tapi hyung, kita hanya berbeda satu tahun.”

“Tetap saja, pengalamanmu belum banyak sepertiku.” Ten merangkul anak laki-laki bernama Mark itu. “Ayo, sepertinya sudah di mulai.”

“Tapi hyung, kau akan datang dengan baju seperti itu?”

“Noda di bajuku akan tertutupi dengan wajah tampanku. Ayo.”

Mark langsung mendengus, “Tsk,”

Ten melemparkan senyum seringai pada Mark lalu keduanya berjalan bersisian menuju keramaian yang ada di sudut taman. Hari itu sedang ada festival musik dimana banyak murid-murid SMU berpartisipasi di dalamnya. Termasuk Ten dan Mark.

Seluruh murid SMU Yangsan juga tau jika selain terkenal dengan predikat playboy, Ten juga terkenal dengan keahliannya menari. Banyak yang menjulukinya dewa tari setelah ia memenangkan berbagai lomba.

Sementara Mark, anak laki-laki yang baru saja duduk di bangku kelas 2 itu terkenal dengan keahlian rap-nya. Namun tidak seperti Ten yang selalu percaya diri, Mark adalah seseorang yang sangat rendah hati. Dia ramah pada setiap orang dan sifatnya yang mudah tertawa membuat banyak orang menyukainya. Mereka pikir Mark sangat keren tapi juga lucu.

“Jaehyun hyung!” Mark melambaikan tangannya ketika melihat seseorang yang di kenalnya.

Seorang pria yang memakai kaus lengan panjang berwarna biru serta celana jins itu tersenyum, “Kalian sudah datang?”

“Bagaimana? Apa Taeil hyung sudah tampil?”tanya Ten.

Pria tinggi berkulit putih itu menggeleng, “Setelah ini adalah gilirannya.”

“Ngomong-ngomong dimana Haechan?”

“Disana.” Jaehyun menggerakkan dagunya, menunjuk kearah belakang Mark dan Ten. Keduanya menoleh dan langsung tersenyum geli.

“Kenapa wajahmu cemberut begitu?” Mark tetap bertanya walaupun ia sudah mengetahui jawabannya.

Seorang gadis berwajah manis berkepang dua itu menyapa Mark, “Apa yang kau lakukan disini?”

“Bukankah harusnya aku yang bertanya?”balas Mark tetap dengan senyum geli. “Kenapa kau mengikuti Haechan kemari?”

“Bukankah alasannya sudah jelas? Karena ada Jaehyun disini.”sahut Ten membuat gadis itu langsung meliriknya sinis.

“Aku datang untuk menyemangati tetanggaku! Taeil oppa.”gadis itu mengelak.

“Lalu kenapa kau berpenampilan seperti ini? Siapa yang mau kau goda?” Ten menarik salah satu kepangan rambut gadis itu pelan.

“Ya! Jangan merusak gaya rambutku!”

Jaehyun terkekeh, “Yeri, kau terlihat sedikit berbeda.”

“Benarkah?” Yeri berubah semangat, “Apa aku terlihat cantik?”

“Tidak. Kau terlihat mengerikan.” Haechan yang menjawab. Namun Yeri mengabaikan itu karena matanya terus tertuju pada Jaehyun. Ingin sekali rasanya Haechan memukul kepalanya sekarang.

Jaehyun mengangguk dengan senyum, “Kau cantik.”pujinya membuat Yeri langsung tersipu malu.

“Sedikit aneh saat melihatmu berdandan karena biasanya kau bahkan tidak perduli jika rambutmu berantakan.”

“Oppa, aku sudah dewasa.” Yeri membela diri.

“Oh? Lihat, giliran Taeil hyung!”

Mark menunjuk kearah panggung, seseorang telah muncul dan berdiri disana. Pria bertubuh mungil berwajah lembut itu sangat terlihat sekali jika sedang gugup sekarang.

“Dia sudah terbiasa melakukan ini, kenapa dia masih gugup seperti itu?” Haechan mengomentari kakak sepupunya itu.

Ten tertawa sambil menunjuk Taeil, “Lihat, wajahnya sangat pucat.”

Mark ikut tertawa, “Oh my God, dia tidak akan pingsan, kan?”

“TAEIL OPPA FIGHTING!” Teriak Yeri sambil melambai-lambaikan tangannya.

“Hyung, fighting!”Jaehyun mengikuti. Hal itu membuat Yeri menoleh kearahnya sekilas lalu tersenyum malu.

Ten hanya berdecak sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah laku anak perempuan itu. Sudah menjadi rahasia umum jika sejak dulu dia menyukai Jaehyun, hanya saja gadis manis itu selalu mengelak ketika yang lain menggodanya.

Tepuk tangan heboh serta sorakan membahana untuk penampilan Taeil. Ten membantu Haechan bersorak sangat heboh untuk menyemangati saudara sepupunya. Tidak heran, Taeil adalah andalan mereka di bidang tarik suara.

“Hyung, kau keren!” Mark menunjukkan dua ibu jarinya pada pria itu ketika ia menghampiri mereka. Wajahnya masih terlihat pucat namun senyum kecil menghiasi bibirnya.

“Seperti biasa, Moon Taeil kita.” Ten bertepuk tangan merasa bangga.

“Oppa, kau benar-benar keren!”

“Oh? Yerim? Kau juga disini?”

“Tentu saja. Aku datang untuk menyemangati oppa.” Gadis itu mengangguk mantap.

Taeil tersenyum, “Terima kasih. Aku pergi dulu karena ada yang harus aku bicarakan dengan pihak panitia. Sampai jumpa nanti.”

“Aku dan Haechan juga akan pergi bersepeda.”sahut Mark. “Tapi Jaehyun hyung, apa nanti hyung akan kembali ke asrama?”

Jaehyun menggeleng, “Tidak. Aku akan pulang ke rumah. Kau tidak usah menungguku, Mark.”

“Baiklah. Ayo.” Ia merangkul Haechan dan berjalan bersisian meninggalkan mereka.

Menyadari dia hanya akan jadi pihak ketiga atau pihak yang akan diabaikan jika dia terus berada disini, Ten juga mengambil inisiatif, “Aku melihat Ra By disana. Aku pergi dulu.”

“Bukankah kalian sudah putus?” Jaehyun tertawa, menghentikan langkah Ten sesaat.

“Oppa hentikan, dia sudah berhasil melupakanmu. Jangan menggodanya lagi.” Yerim ikut tertawa.

“Baiklah. Kalau begitu aku akan mendatangi Bona. Aku juga melihatnya tadi. Aku pergi dulu.”

“Tsk, dasar playboy itu.” Yerim berdecak sambil geleng-geleng kepala.

Jaehyun hanya tersenyum lalu menoleh kearah Yeri, “Kau mau makan ice cream?”

***___***

 

Pria itu menerima operan bola dari salah satu temannya lalu menggiringnya ke arah gawang. Di lewatinya beberapa pemain yang mencoba menghadangnya. Ketika jaraknya semakin dekat, ia menendang bola tanpa pikir panjang dan….

“GOOOOOL!”

Pria itu berlari-lari melakukan selebrasi bersama teman-temannya yang langsung memeluknya atau mengacak rambutnya. Di pinggir lapangan, murid-murid yang telah menamakan mereka sebagai ‘fans’ bersorak kegirangan, meneriakkan namanya dengan lantang.

Pria itu melemparkan senyum lembut juga membungkukkan tubuhnya sopan membuat para fans semakin menggila.

Ketika pertandingan berakhir, seorang temannya menghampirinya, “Yuta, kau akan pergi ke taman Hangang?”

Pria yang ternyata bernama Yuta itu menggeleng sambil menghusap wajahnya dengan handuk, “Tidak sempat. Taeil hyung sudah tampil. Aku akan ganti baju dan kembali ke asrama saja.”

“Baiklah kalau begitu. Aku pulang dulu. Sampai bertemu setelah liburan berakhir.”

Yuta tertawa, “Baiklah. Nikmati liburanmu.” Ia melambaikan tangan pada temannya itu lalu berjalan menuju loker.

 

BRUKK

 

Mendengar bunyi yang terjatuh, Yuta menoleh. Di hampirinya gadis yang tanpa sengaja menjatuhkan tumpukan buku-bukunya itu ke lantai.

“Kau baik-baik saja?”tanya pria itu, membantunya merapikan buku-buku.

“Ah, iya.”gadis berkacamata itu menjawab pelan.

“Ini terlalu berat jika kau bawa sendiri. Harusnya kau meminta bantuan.” Yuta berdiri dengan tumpukan buku yang berada di tangannya. “Kau mau pergi kemana?”

“Oh, eum… perpustakaan.”

“Perpustakaan? Ayo, aku akan membantumu.”

Gadis itu terpaku beberapa saat di tempatnya sebelum akhirnya berlari, menjajarkan langkah dengan pria itu. Pria ini… kenapa dia selalu tersenyum seperti itu pada semua orang?

“Kenapa kau pergi ke perpustakaan di saat hari libur?” Yuta meletakkan buku-buku itu diatas meja panjang ketika mereka sampai di perpustakaan.

“Aku harus mengembalikan buku-buku ini.”

Mata Yuta langsung melebar, “Kau membaca semua buku ini? Daebag!

“Tidak, aku hanya meminjam dua buku, sisanya milik teman-temanku.”

“Kenapa kau yang mengembalikan?”

“Mereka meminta tolong padaku untuk mengembalikannya.”

Yuta bedecak sambil geleng-geleng kepala, “Harusnya kau menolaknya.”seru pria itu. Tapi begitu di lihatnya gadis itu semakin menundukkan kepalanya, ia mendesah panjang, “Aku ingin membantumu merapikan buku-buku ini tapi aku harus segera kembali ke asrama dan menemui temanku. Maaf.”

Gadis berambut panjang itu mendongak, “Tidak apa-apa. Aku bisa merapikannya sendiri.”

“Baiklah. Kalau begitu, aku pergi dulu.” Yuta sudah akan bergegas pergi namun suara gadis itu membuat langkahnya terhenti sesaat.

“Apa kau tidak ingat?”

Yuta menoleh ke belakang dengan kening berkerut, “Huh?”

“Sebelumnya kau juga pernah membantuku saat aku jatuh dari sepeda.”

“Benarkah? Tapi… aku tidak ingat. Maaf.” Yuta nyengir lebar, merasa bersalah.

“Aku belum mengucapkan terima kasih padamu waktu itu. Terima kasih atas bantuanmu waktu itu dan saat ini.”

Yuta terkekeh, “Belikan aku makan siang jika kau ingin berterima kasih.”

Gadis itu langsung tertegun, perlahan wajahnya memerah.

“Siapa namamu?”

“Aku… Kim Yerin.”cicitnya pelan dengan volume suara yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.

“Huh?” Yuta kembali menghampiri gadis itu. “ Bicaralah dengan keras. Aku tidak mendengarnya.”

Gadis bernama Kim Yerin itu terperanjat dan langsung melangkah mundur, sedikit terkejut, “Kim Yerin.”ulangnya lagi sedikit memperbesar volume suaranya.

“Ah, Kim Yerin. Baiklah aku akan mengingatnya. Kalau begitu sampai jumpa.”

Yuta melambaikan tangannya dengan senyum lebar sebelum ia menghilang di balik pintu. Untuk beberapa saat, Yerin tertegun. Jantungnya masih berdebar-debar. Hingga setelah ia sadar, ia mengerjapkan kedua matanya sambil menggeleng.

“Jangan bermimpi, Kim Yerin.”

***___***

“Kenapa Yuta oppa tidak ikut?” Yerim menatap Jaehyun yang duduk di sampingnya sambil menyendokkan ice cream ke mulutnya.

“Dia harus latihan karena bulan depan akan ada pertandingan.”

“Tapi bukankah saat ini masih liburan?”

“Dia bilang ini adalah latihan terakhir. Latihan akan di mulai kembali setelah masuk sekolah nanti.”

Yerim berdecak sambil geleng-geleng kepala, “Dasar, Kapten sepak bola itu.”

Jaehyun terkekeh, “Dia selalu bekerja keras di setiap pertandingan.”

Yerim menyetujui, “Dia memang begitu.” Angguknya. “Lalu ngomong-ngomong, apa yang oppa lakukan selama liburan? Bukankah oppa pulang ke rumah?”

“Aku hanya menghabiskan waktu bersama keluargaku. Karena aku tidak bisa pulang terlalu sering, jadi aku pergi jalan-jalan bersama mereka.”

“Benarkah? Sepertinya menyenangkan.”

“Kenapa?”

“Appa dan eoma sangat sibuk jadi aku hanya bermain bersama Haechan setiap hari.”

“Setidaknya ada Haechan yang menemanimu.”

Yerim terkekeh, “Karena itu aku selalu mengikutinya kemanapun. “

***___***

 

Hari sudah mulai gelap saat mereka bergegas untuk kembali ke rumah. Berbeda dengan yang lain, Mark dan Ten menaiki bus yang sama karena keduanya harus kembali ke asrama. Mark berasal dari Canada sementara Ten berasal dari Thailand sehingga mereka tidak memiliki keluarga di Korea. Tidak ada pilihan lain selain tinggal di asrama.

“Bus kalian sudah datang. Cepat pulang.” Suruh Jaehyun begitu bus berikutnya berhenti di halte tempat mereka menunggu.

“Baiklah. Kalau begitu sampai jumpa, Jaehyun hyung.” Haechan melambaikan tangan lalu melompat masuk ke dalam bus.

“Sampai jumpa Jaehyun oppa.” Yerim juga melakukan hal yang sama.

“Aku pulang dulu. Terima kasih untuk hari ini, Jaehyun.” Taeil menepuk pundak Jaehyun sebelum masuk ke dalam bus, mengikuti kedua adiknya.

Jaehyun mengangguk, “Bukan masalah, hyung. Hati-hati.”

Pria tampan berkulit putih itu kembali menunggu bus berikutnya yang akan menuju ke arah rumahnya. Namanya Jung Jaehyun, berbeda dengan Yuta yang menyandang posisi sebagai kapten sepak bola, Jaehyun adalah kapten basket di SMU Yangsan. Dia juga termasuk dalam jejeran murid popular di sekolah itu karena selain berwajah tampan dan pandai bermain basket, dia adalah murid yang sangat ramah. Teman-temannya juga berpikir jika Jaehyun adalah pria yang manis dan sikap manisnya itu telah berhasil membuat banyak wanita jatuh hati. Termasuk Yerim. Gadis itu jatuh cinta pada pandangan pertama dan hingga saat ini perasaan itu masih bertahan.

Tak lama setelah bus yang ia tumpangi berhenti, ia melompat turun dan berjalan di jalan kecil menuju rumahnya.

“Jaehyun, kau baru pulang?”suara seseorang tiba-tiba terdengar.

Jaehyun menoleh ke belakang dan langsung tersenyum lebar, “Seulgi noona.”

“Apakau pergi ke taman Hangang?”

Jaehyun mengangguk, keduanya kini berjalan bersisian, “Taeil hyung tampil disana.”

“Sayang sekali aku tidak bisa ikut menonton. Aku harus pergi les.”

“Tidak apa-apa. Noona bisa menontonnya lain kali.” Ia tersenyum. “Apa noona juga baru pulang?”

“Eum. Aku harus bekerja keras untuk masuk ke Universitas.”

“Noona akan pergi ke Universitas? Bukankah noona bilang noona di tawari menjadi trainee oleh salah satu agency besar?”

Seulgi menghela napas panjang, “Sangat sulit untuk mendapat ijin dari orang tuaku. Kau tau bagaimana ketatnya mereka.” Gadis cantik itu tersenyum kecut.

Jaehyun mengulurkan tangan, menghusap kepala Seulgi, “Aku mengerti tapi aku tetap berharap jika noona bisa menggapai mimpi noona sendiri.”

Seulgi menatap pria itu lalu tersenyum, “Aku akan mengusahakan keduanya. Kemauanku dan kemauan orang tuaku.”

“Aaaah… kau benar-benar seorang idola, noona.” Jaehyun memberikan dua jempolnya untuk Seulgi. “Apapun yang kau lakukan selalu terlihat keren.”

“Apa yang sedang kau katakan?” Gadis itu memukul lengan Jaehyun pelan. “Ngomong-ngomong, apa sudah ada kabar dari Taeyong?”

Senyum di wajah Jaehyun seketika menghilang setelah mendengar pertanyaan Seulgi, “Belum. Nomor ponselnya tidak aktif dan aku tidak bisa menemukannya dimanapun. Eoma bilang mungkin dia pindah ke luar negeri.”

Seulgi seketika memekik, “Luar negeri?!”

“Masih kemungkinan.” Desah Jaehyun panjang. “Karena kita tidak bisa menemukannya dimanapun.”

“Oh Tuhan, aku harap dia baik-baik saja.”

“Ini salah noona. Harusnya noona menerima cintanya dulu.” Jaehyun menyenggol bahu Seulgi dengan bahunya sambil menyeringai lebar.

“Ya! Jangan ungkit itu lagi.” Seulgi berubah cemberut. “Aku tidak mungkin berkencan dengan sahabatku sendiri.”

“Kenapa tidak mungkin?” Jaehyun masih menyeringai. “Tapi memang benar, harusnya Taeyong hyung tidak menyukai noona.” Pria itu terdiam sesaat, lalu menatap Seulgi lekat-lekat. “Noona seperti bintang. Hanya bisa di pandangi dari jauh namun tidak bisa digapai.”

TBC

 

 

 

 

 

 

 

7 thoughts on “NCT’s Story – A Story part 1

  1. XI RA BY berkata:

    Akhirnya apdet juga chapter 1 nya. Kerennya itu krna ff nya rame soalnya banyak cast nya. Seru aja jadinya.
    Okee next chapter di tunggu.

  2. hanyoo berkata:

    omo…omo deg2an buanget sambil ngebayangin diri sendiri
    ahhh….gomawo buanget Thor dh jadiin salah satu character (Kim Ji Yoo)
    #deepbow

  3. daisygarside berkata:

    wah, Jaehyun suka sm Seulgi, ya? *mendadakpotek

    Btw, si gadis berkepribadian ganda yg menyimpan seseorang di matanya (baca: Rara) belum muncul, ya?
    Untk next chapter, ditunggu…
    Tetep semangat untk Author2nya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s