FF EXO : AUTUMN CHAPTER 23

autumn

Author  :  Oh Mi Ja

Cast :  Leeteuk SJ as Park Jungsoo

Luhan EXO as Park Luhan

Kai EXO as Park Jongin

Sehun EXO as Park Sehun

Support Cast      : Kris EXO as jaksa

Suho EXO as Pastor

Taemin Shinee as Lee Taemin

JR JJ Project as Park Jin Young

Jonghyun CN Blue as Lee Jonghyun

Genre                   : Brothership, Family,  Friendship, little sad

 

“Apa kalian bahagia?”

Sehun tertegun di balkon kamarnya, di tatapnya jalan aspal yang terlihat dari sana dengan tatapan kosong. Sebenarnya… arti bahagia itu seperti apa? Sebenarnya… rasa bahagia itu seperti apa?

Dia lupa.

Karena sudah terlalu lama kesesakkan ini mengendap di dadanya, tidak mau hilang, semakin lama semakin pekat. Dia sudah terbiasa dengan perasaan ini, perasaan yang tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata. Yang jelas, masa lalunya mengajarkan jika di dunia ini tidak ada kebaikan, bahkan Tuhan sekalipun. Semua orang pergi, semua orang melakukan kejahatan pada orang-orang yang lemah. Masa lalunya mengajarkannya untuk tidak percaya pada siapapun, karena semua orang di dunia ini adalah orang-orang jahat.

Empat tahun lalu, ia tumbuh dengan berbagai rasa sakit. Dimana semua orang menghilang sehingga dia tumbuh tanpa pegangan siapapun. Dia membentuk dirinya sendiri, sebagai anak laki-laki yang kuat, yang kini bisa diandalkan. Kerja kerasnya selama setahun membuatnya bisa membeli rumah baru untuknya dan kedua saudaranya. Membuatnya tidak lagi bimbang memikirkan menu yang akan mereka makan hari itu. Dia bisa membeli apapun. Sekarang, dia punya semuanya.

“Kau tidur?” suara seseorang terdengar membuyarkan lamunan Sehun. Ia berbalik ke belakang, seketika senyumnya mengembang lebar.

“Jinyoung!”

“Jongin hyung menelponku dan mengatakan jika kau sedang berlibur jadi aku datang kemari. Apa aku mengganggu?”

“Bodoh, tentu saja tidak.” Pria berkulit putih itu sontak menghampiri sahabatnya dan memeluknya. Seorang sahabat yang harus ia tinggalkan sejak ia memutuskan untuk pindah rumah. Seseorang yang tetap berada di sisinya hingga sekarang. “Bagaimana kabarmu? Kau terlihat sangat baik.”

“Tentu saja.” Jinyoung mengangguk mantap. “Bagaimana denganmu? Apa kau sangat sibuk hingga tidak bisa membalas pesanku?”

Sehun terkekeh, “Aku ingin membalasnya tapi aku harus segera pergi waktu itu. Maafkan aku.”serunya, keduanya kemudian duduk di kursi yang ada di balkon kamar Sehun. “Bagaimana kavar omoni? Waaah, lama sekali aku tidak datang ke rumahmu lagi.”

“Yah, aku dan eoma mengerti kenapa kau tidak lagi datang, kau adalah seorang superstar sekarang. Kau pasti sangat sibuk, kan?”ucap Jinyoung dengan nada menyindir sambil memincingkan matanya.

“Hey hey, kau masih marah? Baiklah, mulai sekarang aku akan menghubungimu setiap hari, kau puas?”

Jinyoung ikut terkekeh, “Bodoh. Jangan menghubungiku setiap hari, orang-orang akan berpikir jika kita sedang berkencan.” Lalu keduanya tertawa.

“Waaah, jika di pikir-pikir sudah berapa lama kita tidak bertemu? Satu bulan? Dua bulan?”

“Sepertinya dua bulan.”jawab Sehun. “Sudah sangat lama.”

Jinyoung tersenyum, “Tidak apa-apa. Aku tetap bisa mengetahui keadaanmu lewat TV.“

Sehun balas tersenyum, sedikit terharu, “Terima kasih, Jinyoung.”

Dia akan menarik kembali ucapannya, saat dia bilang tidak ada seorangpun yang bisa ia percaya di dunia ini, dia lupa jika ada seseorang yang tidak pernah lelah untuk mengingatkan jika dia tidak pernah sendirian. Jika dia akan selalu berada di belakangnya, mendukung segala sesuatu yang akan dia lakukan. Ada satu orang yang selalu menatapnya tulus, tanpa pamrih.

“Bagaimana kabar Kwon ahjumma?”

Sehun terdiam sesaat sebelum menjawab pertanyaan itu, “Dia bilang dia baik-baik saja.”

“Huh? Kau tidak pernah bertemu dengannya?”

Pria berkulit putih itu menggeleng, “Sudah empat tahun, kami hanya berkomunikasi lewat ponsel. Luhan hyung tidak memberitahuku atau Jongin hyung tentang keberadaannya. Karena dia bilang, Kwon ahjumma akan tetap menjadi saksi dalam kasus appa jadi dia menyembunyikannya selama ini.”

“Sepertinya Luhan hyung sedang mempersiapkan semuanya diam-diam.”ucap Jinyoung hati-hati.

Sehun tersenyum mendengus, “Hanya Jongin hyung yang bisa merelakan semuanya. Luhan hyung… aku rasa dalam hatinya, dia masih menyimpan dendam.”

“Lalu bagaimana denganmu?”balas Jinyoung cepat.

Sehun sedikit tersentak dengan pertanyaan Jinyoung itu, lalu dengan cepat ia tersenyum. Nyaris saja ia melepaskan topengnya di depan sahabatnya ini, nyaris saja dia mengatakan semuanya.

“Aku?” ia balas bertanya. “Aku adalah aku, orang yang duduk di sampingmu.”

“Kau tau aku punya mata yang besar, kan? Aku bisa melihat kebohongan hanya dari matamu.” Ucapannya lagi-lagi membuat Sehun terdiam. “Aku tau kau sudah berubah sejak hari dimana kau tidak lagi datang ke gereja. Aku tau sejak hari itu, kau sudah berubah.”

Sehun tertawa, “Apa yang sedang kau katakan? Aku hanya tidak punya banyak waktu sejak menjadi trainee.”

Jinyoung balas tersenyum, “Benarkah?” Ia memilih untuk mempercayai karena senyuman Sehun dan cara kedua matanya memandang sedang memohon agar Jinyoung tidak bertanya lagi. Agar hatinya tidak goyah.

“Iya.”

“Mungkin itu hanya perasaanku.” Jinyoung kembali tersenyum, kali ini senyuman palsu. “Yang jelas…” Sehun menoleh, menatap sahabatnya lagi. “Jangan biarkan dendam itu menghancurkanmu, Sehun.”

Untuk yang kesekian kalinya, Sehun tertegun. Jinyoung… dia selalu bisa membuatnya lengah berkali-kali.

Hingga beberapa detik kemudian, Sehun mengangkat wajahnya dan tersenyum, “Jangan khawatir.”

Jinyoung, aku sudah hancur sejak empat tahun lalu….

***___***

 

“Jinyoung sudah pulang? Dia tidak ikut makan bersama?” Jongin dan Luhan memindahkan piring-piring berisi makanan ke atas meja makan.

“Dia bilang dia harus mengerjakan PR.”

“Benarkah? Sayang sekali. Padahal aku juga menyiapkan untuknya.”

Sehun menjatuhkan dirinya ke kursi, melipat kedua tangannya seperti seorang murid yang tertib dan menatap Luhan.

“Hyung.”

Yah, Luhan sudah tau jika adiknya itu akan minta sesuatu.

“Hm?”

“Hyung, sepertinya dia menginginkan sesuatu.”sahut Jongin, juga bisa membaca dengan jelas perubahan sikap Sehun.

Sehun menggaruk tengkuk belakangnya kikuk, “Hyung, begini… jadi…bolehkah aku…”

“Apa?”

“Jadi… aku merasa…”

“Bicaralah dengan jelas, Sehun.”

“Aku merasa kesepian di sekolahku yang baru. Bolehkah aku pindah sekolah?”

“Lagi?” Jongin berseru terkejut. “Kau sudah pindah sebanyak 3 kali tahun ini.”

“Bukankah kau yang minta untuk di pindahkan ke sekolah itu? Kenapa kau berubah pikiran lagi?”tanya Luhan.

Sehun langsung menggeleng, “Bukan aku. Tapi manager yang menyuruhku masuk ke sekolah itu.” ia mengelak. “Hyung, boleh ya? Aku benar-benar tidak punya teman disana.”

“Lalu apa bedanya dengan sekolah yang baru? Kau juga akan tidak punya teman.”

“Tidak. Aku ingin pindah ke sekolah Jinyoung.”

“Waktu itu kau bilang kau tidak ingin sekolah di sekolah itu tapi sekarang tiba-tiba kau berubah pikiran.”

“Hyung,kali ini aku yakin. Dan aku berjanji ini yang terakhir.”

“Kau sudah berada di tingkat terakhir, Sehun. Kau tidak bisa pindah sekolah seenaknya.”

“Ini yang terakhir.” Sehun kembali merengek. “Luhan hyung… tolonglah. Aku ingin bersama Jinyoung saja…”

Luhan akhirnya menghela napas panjang, “Kau benar-benar…”

***___***

 

Keesokan harinya, saat hendak berjalan memasuki gerbang sekolah, langkah Jinyoung langsung terhenti begitu ia melihat sebuah mobil mewah berhenti tak jauh di depannya. Sama sepertinya, para murid yang lain juga langsung menoleh kearah mobil itu. Karena selama ini, tidak ada siswa atau siswi yang di antar dengan mobil mewah seperti itu.

Seorang supir keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu belakang. Murid laki-laki berwajah tampan dengan tubuh yang tidak terlalu tinggi keluar dari sana. Dengan memakai seragam yang sama dengan murid lain, sudah di pastikan jika dia adalah murid sekolah itu.

Jinyoung seketika tersentak, “Dongho?!”pekiknya pelan, “Apa yang dia lakukan disini?”

Seluruh pasang mata sontak mengikuti langkahnya, beberapa murid memandangnya kagum dan beberapa murid lainnya menatapnya dengan tatapan sinis.

“Dia terlihat menyebalkan.”bisik murid laki-laki di belakang Jinyoung.

“Angkuh sekali.”sahut murid laki-laki lain.

Jinyoung bergegas untuk melanjutkan langkah namun jeritan dari murid-murid perempuan mengagetkannya. Ia kembali menoleh dan untuk kedua kalinya ia tersentak. Bukan hanya tersentak tapi kali ini terperangah hebat.

Seseorang keluar dari mobil dan melangkah begitu percaya diri. Murid-murid perempuan yang melihatnya seketika mengerumuninya, menjerit kagum, bahkan ada beberapa orang yang mencubit diri mereka sendiri, memastikan jika ini bukan mimpi.

Jinyoung berdecak tak percaya, “Tidak mungkin…”

Bahkan diantara kerumunan, dia sangat bersinar.

“Bukankah itu Park Sehun?”

“Idol? Dia seorang idol, kan?”

“Kenapa pagi ini sangat aneh?”

Mendengar ucapan itu, Jinyoung ikut tersadar. Yah, pagi ini terasa sangat aneh. Apa ini adalah takdir? Dongho dan Sehun…

Seketika firasat Jinyoung memburuk, ini bukan awal pertanda buruk, kan?

***___***

 

“Lihat, kau sudah membuat keributan di hari pertamamu.”omel Luhan ketika keduanya berjalan menuju ruang kepala sekolah – tentunya tetap diiringi dengan jeritan gadis-gadis dari ruang kelas-

“Aku tidak melakukan apapun. Mereka yang berteriak saat melihatku.” Sehun mengelak.

“Tsk, dasar. Kau selalu saja seperti itu.”

Sehun hanya tersenyum geli mendengar omelan kakaknya itu. Namun, ketika matanya menangkap seseorang yang sedang berjalan dari arah berlawanan, langkahnya langsung terhenti tepat di depan pintu ruang kepala sekolah. Kontak mata keduanya akhirnya bertemu membuat senyum di wajah Sehun seketika menghilang. Ketika melihat Sehun, murid laki-laki itu juga menghentikan langkah, ekspresi yang sama di tunjukkan oleh keduanya saat mereka bertemu. Rahang Sehun seketika mengeras, selain orang-orang yang telah menjebak ayahnya, murid laki-laki yang sedang berdiri di depannya itu adalah salah satu orang yang sangat di bencinya. Seseorang yang telah membuat masa SMP-nya adalah masa yang paling ingin dia lupakan.

“Aaah, brengsek. Kenapa aku harus bertemu dengannya disini?”umpat Dongho pelan, namun cukup jelas terdengar di telinga Sehun.

Sehun tersenyum tipis, “Kita bertemu lagi…” senyum itu menghilang, berganti dengan tatapan tajam seakan dia telah siap untuk berperang. “…brengsek.”

Pada akhirnya… mereka kini ada di tingkat yang sama. Dia tidak akan lagi bisa merendahkannya seperti dulu. Karena semua yang Dongho miliki, dia juga telah memilikinya.

***___***

 

Jinyoung rasa, Tuhan sedang menghukumnya sekarang. Mungkin ini adalah akibat karena dia melewatkan ibadah di gereja selama dua minggu terakhir dan lebih memilih untuk bermain basket bersama teman-temannya.

Saat ini tak hanya Sehun, namun Dongho juga sedang berdiri di depan kelas. Memperkenalkan diri mereka pada semua murid. Keduanya tampan. Keduanya juga kaya. Namun bedanya, Sehun memiliki satu point plus, kepopuleran. Dimana murid-murid perempuan hanya menganggap Dongho sebagai pria ‘tampan dan kaya’ pada umumnya namun untuk Sehun, dia adalah sosok yang special. Banyak gadis yang rela mengorbankan segalanya untuknya. Dan di sepanjang langkahnya, dia akan selalu menjadi pusat perhatian.

Sama seperti saat ini, ketika dia memperkenalkan dirinya. Jinyoung melirik kearah teman-teman perempuannya yang sebisa mungkin menahan diri untuk tidak menjerit. Dasar, gadis-gadis itu…

“Sonsengnim, bisakah aku meminta sesuatu?” Sehun mengangkat tangan kanannya. “Aku ingin duduk dengan Jinyoung. Dia adalah sahabatku sejak SMP jadi dia pasti bisa membantuku.”

Seluruh pasang mata sontak beralih kepada Jinyoung. Tatapan tidak percaya di tujukan pada pria itu. Tidak menyangka jika Jinyoung adalah sahabat Sehun. Bahkan murid perempuan yang ada di depannya menoleh ke belakang dan mengumpat kesal, dia menganggap Jinyoung adalah pengkhianat karena tidak pernah mengatakan apapun.

“Hai teman.” Sehun menyapa Jinyoung dengan seringaian lebar membuat Jinyoung langsung mendengus.

Bersungut-sungut, pria itu bergeser, memberikan tempat untuk Sehun, “Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau datang kesini?”decak Jinyoung malas.

Sehun hanya menjawabnya dengan senyum lebar.

***___***

 

Ketika bel istirahat berbunyi, Sehun yang sudah akan berdiri dari duduknya kembali terduduk karena serangan mendadak dari murid-murid perempuan yang langsung menyerbunya. Ini adalah kesempatan emas yang tidak akan datang dua kali, bisa melihat Park Sehun secara langsung!

“Park Sehun, namaku Hyuna. Maukah kau berfoto bersamaku?”

“Kapan kau akan comeback?”

“Apa tadi kau datang bersama kakakmu? Waaah, kalian sangat tampan.”

Pertanyaan-pertanyaan itu di sampaikan dengan cara brutal, bahkan ada beberapa murid yang mendorong murid lain agar bisa lebih dekat dengan Sehun. Juga murid-murid perempuan dari kelas lain yang ikut memenuhi kelas itu. Jinyoung yang duduk di dekat dinding dan ikut terkunci dalam kerumunan menghela napas panjang. Dia sudah tau akan jadi seperti ini.

“Ya! Hentikan!” Ia berteriak, membuat murid-murid perempuan itu seketika diam. “Apa kalian tidak tau jika ini adalah jam istirahat?! Kalian tidak dengar apa yang sonsengnim katakan tadi?! Aku akan melaporkan kalian semua pada kepala sekolah jika kalian tidak bubar sekarang!”

“Ya, Park Jinyoung, kami hanya ingin lebih dekat dengan Sehun! Kami juga teman sekelasnya.”

“Go Yuna, aku akan melaporkanmu jika kau tidak pergi.”ancam Jinyoung membuat murid perempuan itu langsung cemberut. Melihat itu, Sehun hanya tersenyum kikuk. Dia tidak tau apa yang harus dia lakukan, Dia merasa terganggu tapi dia juga tidak mungkin mengusir penggemarnya. “Jika kalian tidak bubar dalam hitungan ketiga, aku benar-benar akan melaporkan kalian semua! Satu!”

Kerumunan itu seketika bubar. Banyak umpatan yang di tujukan untuk Jinyoung yang di lakukan secara terang-terangan oleh mereka sebelum mereka pergi. Jinyoung kembali menghela napas panjang lalu menarik lengan Sehun dan menyeretnya pergi.

Ini adalah jam istirahat tapi mereka tidak bisa bersantai di kelas ataupun pergi ke kantin. Sejujurnya, Jinyoung merasa sedikit frustasi. Bukan karena tidak senang atas kepindahan Sehun, tapi dampak yang di berikan sungguh merepotkannya, bahkan ini masih hari pertamanya.

Akhirnya, Jinyoung membawa Sehun ke tempat persembunyian sekaligus tempat favoritnya, atap sekolah.

“Jadi kenapa kau datang kemari?” Jinyoung kembali menanyakan hal yang belum sempat di jawab oleh Sehun lalu meneguk minuman dinginnya.

“Kau marah karena aku tidak membalas pesanmu, tapi kau juga marah saat aku menghampirimu. Dasar menyebalkan.”

“Bukan itu maksudku. Kau membuatku sangat kerepotan hari ini.”

Sehun tersenyum, “Tidak ada yang bisa aku lakukan.” balasnya, saat tersadar sesuatu, ia mendorong lengan Jinyoung pelan. “Lalu kenapa kau tidak bilang jika Dongho juga bersekolah disini? Jika aku tau, aku tidak akan mau datang kesini.”

“Mana aku tau. Bukankah kau lihat sendiri jika dia juga menjadi murid baru?”

“Aaaaah, menyebalkan. Aku pasti menjadi sial karena selalu merepotkan Luhan hyung.”

“Ngomong-ngomong, apa kau bertemu dengannya?”

Sehun mengangguk, “Aku bertemu dengannya di ruang kepala sekolah.”

“Lalu?”

“Jika tidak ada Luhan hyung, mungkin aku sudah menghajarnya.”

“Ya, kau adalah seorang idol. Jangan lupakan itu.” Jinyoung mengingatkan. “Jangan berbuat yang tidak-tidak karena semua yang kau lakukan akan selalu menjadi perhatian umum.”

“Sebenarnya kau sedang membela siapa?” Sehun mendengus kesal. “Apa kau lupa semua hal yang telah dia lakukan padaku? Dia menghinaku, mendorongku, dan pernah memukulku.” Ia melempar kaleng minumannya ke tempat sampah. “Dan kau tau apa alasanku menjadi idol.”

“Lalu apa yang mau kau lakukan? Kau mau berkelahi?” balas Jinyoung. “Jika iya, aku pasti membantumu. Walaupun nantinya aku akan di marahi oema dan guru, aku tidak perduli. Tapi bagaimana denganmu? Guru, kepala sekolah, Luhan hyung, Jongin hyung, Jonghyun hyung, managermu dan belum lagi fansmu. Kau akan mendapatkan omelan berkali-kali lipat.”

“Aaaah, hentikan. Jangan membahasnya lagi. Kau merusak mood-ku.”

“Aku hanya mengingatkanmu, Park Sehun.”

“Yah, aku tau.”

***___***

 

Beruntungnya, hari itu Sehun dan Dongho tidak bertemu satu sama lain selain saat berada di kelas. Jinyoung memang sengaja membawa Sehun pergi jauh agar dia tidak bertemu dengan Dongho dan membuat keributan.

“Kau tidak mungkin naik bus, kan?” Jinyoung melirik Sehun, menatapnya ragu.

“Awalnya aku ingin naik bus bersamamu, aku bahkan sudah menyiapkan masker di dalam tasku. Tapi sepertinya beritanya sudah menyebar sangat luas. Kita naik taksi saja.”

“Tsk, tidak ku sangka aku benar-benar bersahabat dengan seorang idol. Baiklah kalau begitu. Tapi, kau yang bayar kan?”

Sehun mengangguk, “Aku yang akan membayarnya. Jangan khawatir. Ah, bagaimana jika kita mampir di toko roti dulu? Aku ingin sekaligus mengunjungi ibumu.”

“Begitu? Baiklah jika…” Ucapan Jinyoung seketika terhenti saat melihat siapa yang telah berdiri tak jauh di depannya. Dongho dan para pembantunya yang baru. Ini seperti dejavu.

Sehun tertawa mendengus, “Tidak ku sangka kau sangat cepat mendapatkan sekutu yang baru.”sindirnya. Ia melirik kearah salah satu murid laki-laki berbadan besar yang berdiri di samping Dongho. “Seleramu tidak berubah.”

Dongho balas tersenyum, “Kita bertemu lagi, Park Sehun.”sapanya. “Lama tidak bertemu dan sekarang kau benar-benar berubah. Kau bukan lagi anak miskin.”

“Tentu saja.” Sehun menanggapinya santai. “Tapi… aku tidak bisa menghamburkan uang seenaknya sepertimu.” Tatapannya berubah tajam, “…kau bahkan menghabiskan banyak uang untuk membeli pembantu.”

Rahang Dongho seketika mengeras, “Brengsek!” Pria itu mengulurkan tangan, mencengkram kerah baju Sehun.

“Jika kau ingin berkelahi sebaiknya siapkan tempat yang sepi.”bisik Sehun tetap tenang. “Kau tau apa yang akan terjadi jika kau memukulku disini, kan?” Pria berkulit putih itu tersenyum penuh kemenangan. “Aku punya lebih banyak pasukan.”

Dongho tersadar. Bagaimana mungkin dia bisa lupa? Ini adalah area sekolah dan hampir seluruh murid perempuan akan berpihak padanya. Jumlah mereka tidak seimbang. Sama sekali!

Sehun melepaskan cekalan Dongho masih dengan senyum tersungging di bibirnya, lalu menatapnya tepat di manik mata, “Bagaimana rasanya di kalahkan oleh anak miskin sepertiku?”

***___***

 

“Sehun belum pulang?” Jonghyun menjatuhkan diri di samping Luhan.

Luhan menggeleng tanpa melepaskan pandangan dari layar laptopnya, “Dia bilang dia akan pergi ke rumah Jinyoung.”

“Benarkah? Apa dia tidak sibuk?”

“Dia mendapat hari libur.”

“Oh.” Jonghyun mengangguk-anggukkan kepalanya lalu melirik ke layar laptop Luhan. “Apa yang sedang kau kerjakan?”

“Permohonan untuk mendirikan firma hukum sekaligus permohonan untuk menyelidiki kembali kasus ayahku.”

Mata Jonghyun terbelalak, “Bukankah kau baru akan lulus? Kau baru saja melewati masa-masa gila karena ujian itu. Kau tidak mau istirahat?”

“Tujuanku menjadi pengacara adalah untuk ini, Jonghyun. Aku tidak punya waktu untuk istirahat. Aku harus menyelesaikan kasus ayahku dan kasus Kris.”

Jonghyun mendesah panjang, “Sudah ku bilang kasus Kris adalah kecelakaan.”

“Tidak. Itu adalah tabrak lari.”

“Tapi tidak ada saksi dan bukti sama sekali, Luhan.”

“Aku akan mencarinya.” Luhan mengalihkan tatapannya dari layar dan menatap Jonghyun. “Aku harus menemukan pelaku yang telah membunuh ayahku dan Kris.”

Jonghyun mengacak rambutnya frustasi, “Lalu, bagaimana dengan Jongin dan Sehun? Apa mereka sudah mengetahuinya?”

“Jongin sudah mengetahuinya dan aku akan memberitahu Sehun secepatnya. Karena dia adalah salah satu saksi.”

“Saksi?”

Luhan mengangguk, “Ada sebuah pertanyaan yang tidak bisa aku tanyakan padanya karena dia masih kecil, tapi sekarang, aku akan bertanya padanya.”

Jonghyun tertegun, di tatapnya sahabatnya itu lekat-lekat, “Kau yakin dengan apa yang kau lakukan, kan? Menjadikan Sehun saksi artinya—“

“Aku akan melindunginya, Jonghyun. Sekarang, aku punya kekuasaan.”

TBC

 

 

 

 

28 thoughts on “FF EXO : AUTUMN CHAPTER 23

  1. XI RA BY berkata:

    WAWWW DAEBAK!!!
    Benar2 ff ini favoritku banget.
    Aaaaa gk nyangka alurnya bakal kaya gini.
    Balas dendam, yes!
    Ckh, sehun mah gk ada duanya. Sehun aku mendukungmu. Hancurkan mereka yang menindasmu dulu.
    Buat luhan, semangat!

      • irnacho berkata:

        Maksudnya baboy di sekolah sis.. Kan td nya dia murid teladan tp kayaknya bakal doyan berantem gara2 dongho. Lg pula Badboy kan ga mesti jahat sama semua orang…

  2. monmontjoe berkata:

    Btw thor berarti yg buat kehidupan mereka membaik n bisa jadi kaya lagi itu Sehun ya?
    Kan si jongin masih kuliah sedangkan si luhan baru mau lulus

    Hebat ya berarti si bungsu

  3. desi mulya berkata:

    Unnie daebakk 👍👍 ini ff nya seruuu,, ff nya harus panjang yaa jadi pengganti Growl yaa,, itu maksud sehun jadi saksi gimana? Kalo bisa fast update yaaa,,,, ditunggu next chap nya

    #fighting ✊

  4. nita noviani berkata:

    ff author emang selalu the best deh.selalu sukses bikin orang penasaran. maaf sebelumnya selalu jadi silent riders soalnya aku gak tau caranya coment di blog padahal aku selalu ngikutin ff author dari dulu.
    semangat buat nulisnya and di tunggu next chapternya.
    #fighting

  5. HyeKim berkata:

    WAWAAWAWWWAAA GAK NYANGKA FFNYA ALURNYA JD KYK GINI KEREN

    sehun jd agak gimana gtu ya karena dendam. Dengerin jinyoung lah :’v dendam akan menghancurkanmu hun

    Mampus dongho kena karma :v suka ps sehun ngemeng “bagaimana rasanya dikalahkan oleh anak miskin sepertiku?” Buakakak rasain :v

    Ini serius kea remember saik. Semangat Luhan yg udh berkorban selama ini ngelepas mimpi, dll. Semoga kasus ayahnya sama kris bisa dibuka lagi dan kelar. Pasti luhan mau nanyain sehun ttg yg ngsh tau dia ttg ayah mrk dulu. Yap yappp luhan punya kekuasaan skrg. Semangat Luhan/?

    Kak Mija juga semangat lanjutinnya seneng ini ff fast update biasanya melor berbulan-bulan 😄

  6. aleeya berkata:

    perang yng sebenarnya akan segera di mulai…
    kali ini gue harap mereka akan baik2 sja dan tdk ada yng memisahkan mereka lgi…

  7. ellalibra berkata:

    Yeeeeeeeeeeyyyyyy akhirnya mrk success di masa dpn tp q agak g rela kris ikut meninggal eon kyny sehun dongho emang ditakdirkan ketemu lg mrk n bt ngungkap kebenaran kasus ayah sehun … Neeeeeeext eon fighting

  8. fitriwind berkata:

    Kereeeeeeeeeeeeeen .. ……..
    Sehunku punya dendammm . Ommmmooooo. Jangan buat sehun jadi jahat eonni .
    Entah kenapa aku ngerasa sehunnya akan punya banyak kejutan nantinya . Dia misterius?……

  9. HunHo_Suho berkata:

    Gak ngerti alur part ini, cepat sekali udah empat tahun kemudian, dan sehun juga seorang idol, trus kai jadi apa?? Kris mati?? Yahhh makin banyak deh masalah nya, luhan lagi apa maksudnya sehun jadi saksi? Trus kwon ahjummah? Di sini main nya mulai dendam dendaman 😂 dah la kaki mija next perjelaskan lagi ku bingung sumpah, bukan nya terakhir nya jungsoo meninggal kan? Padahal pengen baca sehun yg mewek” pas bapaknya meninggal tpi ini mereka udah besar ajaaa kurang kak mijaaaa😭😭😭😭 nextt yakkk

  10. Jung Han Ni berkata:

    hahahah kok aku ngakak yah pas sehun bilang ke dongho “seleramu tidak berubah.” dia slalu mencari yg berbadan besar yah wkwkwk
    makin seru dan makin gereget aja nih ceritanya >.< suka suka suka
    ditunggu eon lanjutannya 😀
    keep writing n hwaiting! ^^

  11. Hesti andriani berkata:

    Sehun jadi artis jadi banyak yang suka tapi dongho masih benci sama sehun.
    Luhan fighting untuk buka kasus leeteuk sama kris.

  12. Nanako gogatsu berkata:

    Jangan sad ending yaa… Eonni.. 😦
    huhuhu…
    Sehun jangan salah melangkah ya,, luhan tetap semangat.. Jongin kamulah yang paling waras dalam artian yang mempunyai dendam jaga keutuhan keluargamu,, jinyoung-jonghyun-taemin jaga keselamatan kalian karena kalian teman-teman mereka.. Huhuhu 😦 T_T

  13. Nanako gogatsu berkata:

    Jangan sad ending yaa… Eonni.. 😦
    huhuhu…
    Sehun jangan salah melangkah ya,, luhan tetap semangat.. Jongin kamulah yang paling waras dalam artian yang enggak mempunyai dendam jaga keutuhan keluargamu,, jinyoung-jonghyun-taemin jaga keselamatan kalian karena kalian teman-teman mereka.. Huhuhu 😦 T_T
    suho kapan kamu muncul..?

  14. wikapratiwi8wp berkata:

    weeehhhh mantapp tuh…
    Idol Sehun aku juga mau minta fotonya dong boleh gakkk??? wkwkwkwk apasih..
    Luhan gak ada istirahatnya yakkk kasian..
    Sehun bikin ngakak dahh tapi kasian juga..bocah kecil yang harus besar dengan dendam dihatinya itu, rasanya pasti sulit banget.. 😦

  15. Erna Murti berkata:

    Daebaakk unnieee… Di chap sebelumnya sempet nangis berkali-kali. Ceritanya menyentuh banget, bener-bener kerasa keluarganya. Maaf unnie, aku baru komentar di sini. Yang pasti, Ku baca ff ini dan sukaaaa banget. Kapan lanjutnya unnie? Ditunggu, loh. Fighting, unnie!!! 😁

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s