FF EXO : AUTUMN CHAPTER 22

autumn

Author  :  Oh Mi Ja

Cast :  Leeteuk SJ as Park Jungsoo

Luhan EXO as Park Luhan

Kai EXO as Park Jongin

Sehun EXO as Park Sehun

Support Cast      : Kris EXO as jaksa

Suho EXO as Pastor

Taemin Shinee as Lee Taemin

JR JJ Project as Park Jin Young

Jonghyun CN Blue as Lee Jonghyun

Genre                   : Brothership, Family,  Friendship, little sad

Kris meletakkan bunga krisan putih sebagai penghormatan terakhir pada sosok yang belum pernah ia temui itu. Pada sosok yang selalu di tunggu oleh tiga anak laki-lakinya. Namun kini, sosok itu telah pergi. Bahkan tanpa mengatakan salam perpisahan ataupun sebuah petunjuk untuk mereka. Dia pergi, tanpa pamit, namun meninggalkan jejak yang sangat dalam di hati tiga anak laki-lakinya.

Bibi kwon menangis kencang, terus memeluk Sehun di sudut ruangan. Sementara Jongin sedang menahan dirinya, berusaha menjadi kuat untuk menemani Luhan menyambut para tamu. Ini bukan waktu yang tepat untuk menangis karena dia juga sudah dewasa.

Kris menepuk pundak Luhan lembut, “Sebaiknya kau mengambil beberapa hari libur dan istirahat di rumah. Tidak usah pergi bekerja, aku yang akan mengurus kafe. Dan juga…” pria tinggi itu menghentikan ucapannya sejenak. “Jika kau sudah merasa lebih baik, datanglah ke kantorku. Aku sudah mendapatkan petunjuk tentang rute bus nomor 345.”

Luhan mengangguk kemudian tersenyum tipis, “Terima kasih, Kris.”

Kemudian ia beralih pada Jongin yang terus tertunduk dalam duduknya, ia berjongkok di depannya, “Jika kau ingin menangis, menangislah. Pria dewasa juga menangis.”ucapnya pelan dengan volume suara yang hanya bisa di dengar oleh mereka berdua.

Jongin mendongak, “Kau pasti akan menangkap pelakunya kan, hyung?”

Kris mengangguk, mengacak rambut Jongin, “Kau harus kuat, Jongin.” Kemudian ia berdiri dan membungkuk sopan pada bibi Kwon, sesaat ia tertegun melihat Sehun yang seperti kehilangan kesadarannya. Anak itu seketika berubah menjadi arca batu, tubuhnya membeku, tidak bergerak, namun air mata terus mengalir di kedua pipinya. Ia menghela napas panjang lalu pergi meninggalkan ruangan itu.

“Luhan.”panggil Jonghyun pelan. “Sebaiknya kau istirahat, aku yang akan menggantikanmu.”

Luhan menggeleng pelan, “Aku baik-baik saja, Jonghyun. Jangan khawatir.”

Ingin sekali rasanya memeluk sahabatnya itu erat-erat. Ingin sekali ia memberikan obat tidur agar dia bisa istirahat untuk beberapa saat. Semua orang juga tau bahwa itu kebohongan, dia tidak baik-baik saja. Wajahnya pucat seperti mayat hidup. Dan senyumnya… semua itu palsu. Namun Jonghyun tidak memaksa, pria itu membiarkan Luhan dan kembali ke bagian depan, melayani para tamu yang datang.

“Hyung, aku ingin ke kamar kecil.”seru Jongin beranjak dari duduknya. Luhan hanya mengangguk.

Sama seperti Jonghyun yang selalu siaga di samping Luhan, Taemin juga sudah berada disana sejak ia mendengar kabar itu. Karena mereka tau, ketiga anak itu butuh sandaran. Hanya saja, mereka tidak pernah menunjukkannya. Selalu berpura-pura kuat di depan semua orang.

Taemin berdiri, mengikuti Jongin yang berjalan menuju bagian belakang gedung. Dalam jarak yang terjaga, ia memperhatikannya diam-diam.

Anak laki-laki itu, kini sedang terduduk di tanah dengan kepala yang ia tenggelamkan di balik lipatan tangannya. Pundaknya bergetar dan suara isakan tertahannya sesekali terdengar. Taemin menghusap air matanya sendiri. Selama ia mengenal Jongin, ini adalah pertama kalinya dia melihat kehancuran sahabatnya itu. Seorang sahabat yang tidak pernah mengeluh. Seorang sahabat yang selalu berdiri paling depan untuk membelanya. Seorang sahabat yang selalu terlihat kuat. Dia jarang menangis di depan seseorang, karena itu yang dia lakukan sekarang adalah mencari tempat persembunyian. Agar tidak ada yang mengetahui kesedihannya. Untuk menyembunyikan histeria tangisannya.

Taemin melangkah pelan mendekatinya. Berjongkok di depannya sambil mengulurkan tangan, menghusap pundaknya lembut.

“Ahjussi sudah mendapatkan tempat yang tenang sekarang. Jadi jangan bersedih.”serunya pelan. “Tapi aku tidak akan melarangmu menangis. Menangislah Jongin. Menangislah dengan keras.” Ia kembali menghusap air matanya. “Kau harus mengeluarkan semua kesedihanmu agar kau tidak bersedih lagi besok.”

Kenapa? Siapapun tolong jawab pertanyaan itu. Atas semua yang terjadi, kenapa jadi seperti ini? Ayahnya adalah orang yang baik. Tapi kenapa takdirnya menjadi seperti ini? Kenapa?

***___***

 

“Kau baik-baik saja jika ahjumma pergi?” Bibi Kwon menatap Luhan dengan sorot khawatir.

Luhan mengangguk sambil tersenyum untuk menenangkan kecemasan itu, “Ahjumma tidak perlu khawatir.”

“Oh Tuhan.” Masih tidak mampu mengendalikan perasaannya, bibi Kwon kembali menangis. Ia menghusap pipi Luhan lembut, “Kenapa Tuhan memberikan cobaan seperti ini untuk kalian?”

Luhan memeluk wanita tua, “Jika ahjumma terus menangis, appa akan merasa sedih.”

“Bagaimana ini, Luhan? Bagaimana?”

“Semuanya akan segera membaik. Ahjumma jangan khawatir.”

***___***

 

Luhan menjatuhkan diri di samping dua adiknya yang sudah jatuh terlelap itu. Mereka pasti kelelahan. Lelah fisik dan lelah hati. Setelah ini, entah apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Karena sejujurnya, dia sudah tidak memiliki semangat. Dia ingin menyerah. Karena semua itu membuatnya sangat kelelahan.

“Appa, kenapa appa pergi secepat ini?”gumamnya seorang diri. “Lalu bagaimana dengan kami? Sehun terus menangis dan Jongin terus memendam kesedihannya. Apa yang harus aku lakukan ,appa?”

***___***

 

“Hyung, akan bekerja?” Jongin menahan lengan Luhan yang akan bergegas pergi.

Luhan menoleh lalu mengangguk, “Sebentar lagi adalah tahun ajaran baru. Kita membutuhkan uang untuk biaya sekolah.”

“Tapi, bukankah ini bukan saat yang tepat untuk bekerja?”

Luhan tersenyum tipis, “Kita tidak punya pilihan lain.”jawabnya pelan. “Kau mendapat libur dua hari, kan? Tolong bantu hyung untuk menjaga Sehun.”

“Hyung, tapi—“

“Jongin, kita tidak punya pilihan lain selain menjadi kuat.” Luhan kembali tersenyum, berusaha menyembunyikan lukanya sendiri. “Hidup kita masih terus berjalan. Dan aku punya tanggung jawab untuk mengurus kalian. Jadi aku harus bekerja keras.”

“Luhan hyung…”

“Jangan merasa bersalah.” Luhan mengacak rambut Jongin. “Kau sudah banyak membantu. Dan sekarang lagi-lagi aku meminta bantuanmu lagi.”

Jongin menghembuskan napas panjang, di tatapnya wajah kakak kandungnya itu lekat-lekat, “Hyung pasti akan menangkap pelakunya, kan?”

Ada jeda yang tercipta sebelum akhirnya Luhan mengangguk, “Pasti.”

***___***

 

Ini adalah bentuk pengalihan dirinya. Agar dia bisa melupakan sesaat kesedihan itu. Agar rasa sakit itu tidak membuatnya menangis di depan adik-adiknya. Setidaknya, harus ada satu orang yang menjadi kuat agar mereka bisa bersandar padanya.

“Luhan, kau mau kemana?”

Luhan mendongak, mendapati Jonghyun sudah berdiri di depannya.

“Kau mau pergi bekerja?” tebak Jonghyun tepat. Luhan hanya mengangguk pelan.

“Kau sudah gila? Kau harus istirahat!”

Jonghyun mencekal lengan Luhan, sudah akan menariknya namun Luhan menepisnya pelan.

“Jonghyun, biarkan aku pergi.”

Jonghyun mendesah panjang, tidak habis pikir dengan yang Luhan lakukan saat ini, “Lihat dirimu. Kau lebih mirip seperti mayat. Kau harus istirahat, Luhan.”

“Jika aku istirahat, aku akan bermimpi buruk.” Luhan menatap sahabatnya itu dengan tatapan teduh. “Hal ini terus mengikutiku. Saat aku sendiri, aku akan melihat bayang-bayang appa. Saat aku bersama adik-adikku, aku akan melihat kesedihan mereka. Dan saat aku tertidur, aku akan bermimpi buruk! Aku tidak ingin istirahat. Karena walaupun aku istirahat, aku tetap akan merasa lelah.”

“Setidaknya kau harus makan.”

“Apa kau pikir aku bisa menikmati makanan sekarang?”

“Jika terus seperti ini, kau bisa mati, Luhan!”

“Lalu biarkan aku mati!” Akhirnya amarah itu meluap, meledak ke permukaan. “Aku ingin mati! Aku ingin bebas dari penderitaan ini! Aku ingin bersama ayahku!”

“Lalu bagaimana dengan Jongin dan Sehun?!” balas Jonghyun tak kalah tegas. “Apa kau melupakan mereka? Jika kau mati, lalu bagaimana dengan kedua adikmu?!” Jonghyun mengulurkan tangan, mencekal bahu Luhan dan mengguncang tubuhnya kuat. “Sadarlah brengsek! Kenapa kau jadi seperti ini?! Jika kau ingin menangis, menangis sekarang!”

Luhan mengangkat wajahnya perlahan, menatap Jonghyun dengan kedua mata yang sudah berkabut, “Dadaku…benar-benar terasa sesak sekarang. Rasanya sangat sakit hingga aku tidak bisa menangis.”serunya lemah. “Apa yang harus aku lakukan setelah ini? Aku bahkan tidak tau bagaimana caranya harus bersikap di depan adik-adikku. Aku harus bagaimana?”

Jonghyun menghela napas panjang, di husapnya pundak Luhan lembut. Ia tau tidak ada yang bisa dia lakukan saat ini, bahkan sebuah cara sederhana untuk menghiburnya. Karena penderitaan itu tidak terbagi. Rasa sakit itu mengendap di hatinya sendiri.

Apa yang harus aku lakukan untuk membantumu, Luhan?

***___***

Kris memarkirkan mobilnya di sebuah gedung parkir umum yang tak jauh dari café. Sambil melangkah, pria tinggi itu mengeluarkan ponselnya. Ia tau sebaiknya tidak mengganggu Luhan untuk saat ini, karena itu dia memilih untuk mengirimkan pesan pada anak itu.

 

Kau bisa melihat berkas yang aku susun di kantorku. Oh ya, aku juga menitipkan beberapa hal pada sekertarisku, jika kau sudah merasa lebih baik, kau bisa melihatnya.

 

Setelah mengirim pesan, ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku. Berdiri sesaat di ujung jalan menunggu lampu merah menyala. Namun tiba-tiba ponselnya berdering.

“Ya ahjumma?”jawab Kris sambil mulai menyebrang. “Ahjumma bisa menyimpannya. Nanti Luhan yang akan mengambilnya. Sekarang aku sedang—“

 

BRAKK

 

Semua bisa mendengar kerasnya bunyi hantaman itu. Ketika mobil itu menghantam tubuh Kris keras. Kejadian itu terjadi sangat cepat tanpa ada peringatan sebelumnya. Orang-orang seketika tersentak dan terbelalak hingga akhirnya mereka berteriak ketakutan. Dan dengan cepat juga, mobil itu segera pergi dari sana.

Tubuh itu rebah. Darah mengalir. Dan ponsel yang di pegangnya terlempar, menghantam aspal dengan keras.

“Cepat panggil ambulan!”teriak seseorang.

Namun semua itu sudah terlambat. Sia-sia. Karena malaikat maut sudah lebih dulu mengambil nyawanya.

***___***

 

“Adeul? Kau sudah bangun?”

Sehun mengerjapkan kedua matanya pelan. Di lihatnya sekeliling, ini adalah kamarnya. Kemudian pandangannya teralih pada sesosok pria yang menjatuhkan diri di hadapannya. Ia tersenyum lembut, sebuah senyuman yang sangat ia rindukan.

“Kenapa kau bangun siang sekali? Bersiaplah. Appa sudah membuatkanmu sarapan. Hyung-hyungmu sudah menunggu di bawah.”

Tengorokan Sehun seketika tercekat, “Appa…”

“Hm? Kau mau appa memandikanmu? Tapi kau sudah dewasa sekarang.”

“Appa… apa ini benar-benar appa?”

“Lalu siapa lagi? Apa kau masih bermimpi? Cepat bangun dan bersiap pergi ke sekolah. Appa akan mengantarmu. Kau tidak boleh terlambat karena ini adalah hari pertamamu.”

Tubuh Sehun membeku, tatapannya tidak teralih pada wajah itu. Ia tau ini adalah mimpi, tapi tolong jangan bangunkan dia. Biarkan dia terus bermimpi.

Air mata mengalir dari mata yang terpejam itu.

***___***

 

4 Tahun Kemudian….

 

 

“Park Sehun akan segera comeback! Ku dengar dia akan meluncurkan album baru dan debut di drama!”seru seorang murid perempuan setelah membaca artikel di ponselnya.

“Benarkah?! Oh Tuhan, aku tidak bisa menunggu lagi! Aku sangat merindukannya!”

“Aku juga!”sahut murid yang lain. “Ini menyedihkan. Kita berada di sekolah yang sama dengannya tapi jarang melihatnya.”

“Itu karena dia memiliki jadwal yang sibuk! Kemarin malam dia baru saja pulang dari Jepang.”

“Yah, baru satu tahun sejak dia debut tapi dia sudah mengadakan konser. Apa kalian akan pergi ke konsernya minggu depan? Aku memohon pada ibuku agar dia mau membelikanku tiket.”

“Oh Tuhan itu Park Sehun!”

Seketika semua murid-murid perempuan itu menoleh kearah pintu kantin.Sosok tinggi menjulang dengan wajah yang sangat tampan itu muncul disana, memasuki kantin dengan langkah santai. Yah, dia benar-benar tampan! Bahkan walaupun dia sedang memakai seragam dan tidak memakai make up sama sekali, dia tetap terlihat berkilauan.

Hampir seluruh murid perempuan yang berada disana menjerit dalam hati, sebisa mungkin menahan diri untuk tidak berteriak dan memeluknya sekarang. Sudah menjadi peraturan jika idola yang sedang di elu-elukan namanya itu akan tetap di perlakukan seperti seorang murid biasa ketika berada di sekolah. Tidak boleh berteriak apalagi memeluknya. Karena sekolah bukan tempat konser.

Sehun memilih untuk duduk di kursi yang berada paling ujung. Karena baru tiga bulan pindah ke sekolah ini, dia belum memiliki teman sama sekali. Kesibukannya membuatnya jarang menghadiri sekolah.

Namun tiba-tiba ponselnya berdering. Ia meletakkan sumpitnya dan merogoh sakunya. Seketika senyumnya mengembang lebar.

“Jongin hyung.” Serunya bersemangat pada wajah seseorang yang muncul di layar ponselnya.

“Kau dimana? Kau sudah pulang dari Jepang?”

Sehun mengangguk, “Aku akan pulang ke rumah setelah sekolah selesai.”

“Benarkah? Tapi aku akan pulang malam hari ini.”

Wajah Sehun langsung cemberut, “Kenapa?”

“Aku memiliki jadwal latihan karena ada pertandingan minggu depan.”

“Lalu Luhan hyung?”ketus Sehun sedikit kesal.

“Sepertinya dia juga sedang sibuk karena—“

“Ya! Kalian bahkan bukan selebrity tapi kenapa kalian punya jadwal yang lebih sibuk dariku?!” Jongin tertawa geli melihat omelan adiknya itu. “Apa kalian tidak merindukanku?! Aku baru saja pulang dari luar negeri! Apa kalian tidak mau tau bagaimana keadaanku?!”

Jongin semakin tertawa, “Tapi kita hanya berpisah selama dua hari.”

Ucapannya membuat Sehun bertambah keki, “Baiklah. Jangan menghubungiku lagi. Aku sedang sibuk! Ku tutup!”

Anak laki-laki itu mematikan sambungan panggilannya dengan kesal. “Aku tidak akan perduli lagi. Terserah kalian. Menyebalkan!”

***___***

 

Sehun menghela napas panjang, merutuki dirinya sendiri. Yah pada akhirnya dia berada disini sekarang, di depan universitas Jongin. Hal yang paling menyebalkan adalah ketika dia tidak pernah bisa menang dari kakak-kakaknya. Tidak perduli bagaimana kesalnya dirinya pada keduanya, dia akan tetap kembali ke sisi mereka.

“Aku tidak punya jadwal apapun kan setelah ini?”

“Yah, kau bisa libur selama tiga hari.” Jawab managernya.

“Baiklah. Aku pergi dulu.” Namun baru hendak akan turun dari mobil, Sehun kembali menoleh ke belakang. “Aku tidak akan menerima panggilan yang berkaitan dengan pekerjaan selama tiga hari ini. Jadi jangan coba-coba menggangguku.”

“Aku menghubungimu karena aku merasa khawatir.”

“Sudah ku bilang aku tidak berkencan dengan siapapun. Aku hanya akan menghabiskan waktu bersama kakak-kakakku. Jadi jangan menggangguku!”

Ia menutup pintu mobil tanpa memberikan kesempatan pada managernya untuk bicara. Lalu memakai masker untuk menutupi sebagian wajahnya. Kedua tangannya penuh dengan plastik makanan. Ini adalah cara untuk membuat latihan itu berhenti.

Sehun berjalan menuju gedung olahraga. Tanpa sengaja ia bertemu Taemin yang kebetulan juga berada disana. Sudah empat tahun berlalu, tapi pria itu tetap mengikuti Jongin kemanapun.

“Sehun-ah!”

“Taemin hyung!” Sehun langsung memeluknya. “Hyung ada disini?” lalu membuka maskernya.

“Iya. Kami ada janji makan bersama setelah ini. Kau sudah pulang? Bukankah kau berada di Jepang?”

“Aku sudah pulang kemarin malam.” Sehun menatap ke depan, kearah lapangan dimana banyak orang sedang berlatih disana. “Kita makan bersama disini sana ya, hyung?”

Kening Taemin berkerut, “Huh?”

Sehun tersenyum penuh arti lalu berpindah mendekati lapangan. “Perhatian! Perhatian!”teriaknya. “Waktunya istirahat!”

Jongin yang asik bermain bola langsung menoleh dengan senyum yang langsung mengembang lebar saat melihat adiknya sudah berdiri di pinggir lapangan.

“Aku Park Sehun, aku adalah adik Jongin hyung. Aku kemari untuk mentraktir kalian makanan.”

“Bukankah dia seorang idol?”bisik salah satu teman Jongin. “Jongin, adikmu adalah Park Sehun?”

“Kenapa kau tidak pernah mengatakannya pada kami?”

Jongin menghampiri Sehun dan langsung memeluknya, “Kau sudah pulang? Bagaimana kabarmu?”

“Bukankah hyung tidak perduli?”cibir Sehun.

Jongin tertawa, “Bisakah kita istirahat sejenak?”

“Tentu Kapten.”

“Makanlah dengan lahap. Adikku membelikan semua ini untuk kalian.”

“Tapi Sehun-ssi,” Salah stau teman Jongin mengangkat tangannya. “Bisakah aku berfoto denganmu dan minta tanda tanganmu? Kekasihku adalah fans beratmu.”

Sehun mengangguk, “Tentu.”

***___***

 

“Apa kau makan dengan baik disana?” Ia, Taemin dan Sehun kini telah berada di kantin universitas. Ketiganya sengaja memilih bagian sudut agar tidak telalu mencolok perhatian dari mahasiswa lain.

“Aku tidak punya waktu untuk itu karena aku sangat sibuk. Aku baru makan saat aku sampai di Korea.”

“Jika Luhan hyung mengetahuinya, kau pasti mati.”sahut Taemin.

“Karena itu, jangan beritahu Luhan hyung tentang hal ini.” Anak itu meringis lebar.

“Ck, dasar.”

“Apa kau punya waktu besok lusa?”tanya Jongin.

Kening Sehun berkerut, “Huh? Kenapa?”

“Kita harus datang ke acara wisuda Luhan hyung. Akhirnya dia lulus.”

“Aku punya waktu libur selama tiga hari. Aku bisa datang kesana.”

“Sungguh? Kau tidak lupa jika kau memiliki jadwal lain, kan? Jangan pergi tiba-tiba di tengah acara seperti biasa.”

“Sungguh.” Sehun mengangguk yakin. “Aku akan datang.”

“Melihat kalian sekarang, aku merasa sangat bahagia.” Taemin berseru membuat Sehun dan Jongin saling pandang bingung. “Luhan hyung akan segera menjadi pengacara hebat, Jongin berhasil masuk ke dalam Tim Nasional Korea dan Sehun menjadi seorang bintang terkenal.”

Sehun dan Jongin terdiam sesaat, kemudian tersenyum tipis.

“Tapi, saat ini, kalian merasa bahagia, kan?”

Keduanya membeku. Tidak menjawab. Bahagia?

Itu adalah hal yang sudah mereka lupakan sejak dulu. Sebuah perasaan asing yang tidak pernah mereka rasakan lagi. Saat ini, daripada bahagia, mereka lebih terlihat sedang berusaha menjalani hidup seperti orang normal. Berusaha untuk menutupi luka mereka. Karena satu sama lain adalah alasan kenapa mereka masih hidup hingga saat ini.

Empat tahun lalu, kematian Kris menjatuhkan hidup Luhan pada titik paling lemah. Dia putus asa karena telah kehilangan seluruh pegangannya. Setiap hari, dia akan pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Bahkan Jongin dan Sehun sudah terbiasa melihat Luhan yang pingsan akibat alcohol. Dan setiap hari juga, Jonghyun akan mengantarnya dan menginap di rumah mereka untuk berjaga-jaga.

Hal itu membuat Jongin dan Sehun sadar. Yah, kakak mereka menyimpan luka. Luka bernanah yang mungkin akan sulit di sembuhkan. Ia memendam kesedihan yang mungkin jauh lebih besar, serta rasa tanggung jawab untuk menghidupi kehidupan mereka. Karena itu, Sehun memutuskan untuk menerima tawaran sebagai peserta trainee dari salah satu perusahaan hiburan terbesar di Korea Selatan. Dia bersikeras walaupun sejujurnya Luhan menentang hal itu. Dia juga harus menghasilkan uang. Untuk dirinya dan keluarganya.

Sementara Jongin, dia melupakan mimpinya dan rasa tertariknya pada tari. Dia meninggalkan itu semua dan beralih pada sepak bola. Sama seperti yang dilakukan Luhan dulu. Dia meninggalkan tarian untuk sepak bola, demi Luhan. Agar cita-cita kakaknya itu tetap hidup walaupun dalam diri orang lain.

Dan di bandingkan Jongin yang tumbuh lebih dewasa, Sehun berbeda. Anak itu tumbuh dengan rasa sakit yang mengendap. Rasa sakit itu tidak akan ia lupakan dan dia pastikan orang-orang jahat itu akan membayar perbuatan mereka. Orang-orang yang telah menghancurkan keluarganya. Orang-orang yang telah menumbuhkan monster di dalam hatinya.

Anak itu hingga saat ini… menyimpan dendam.

TBC

 

 

 

21 thoughts on “FF EXO : AUTUMN CHAPTER 22

  1. HyeKim berkata:

    Horay fast update pdhl blm baca chapter 21 tdinya

    Oke di sini sedih banget aku nangis terus as always. Leeteuk meninggal eh Kris nyusul. Sumpah ini Luhan kan nanti yg buka kasusnya lagi? Seketika aku tuh inget Remember, inget Yoo Seunghoo juga aduh hampir sama sedih mendayu tapi setidaknya gak smp mati deh bapaknya di situ :””)) blm nonton smp akhir sih

    Ya wajar aja sih Luhan gtu ahah sampe mabok tiap hari. Susah emang jd anak tertua. Tp setidaknya 4 tahun berlalu mereka sedikit bahagia… ya setidaknya, semoga Shindong dan antek2nya ketangkep

  2. osehn96 berkata:

    aaaaah seneng bgt cepet post hihihi
    . astagaaaaa nyeseknya berasa ngebut … serius kurang rela kalo kris meninggal.. yaampuun gemes.. udah susah makin susaah. sekarang luhan ngapain ??? okelaah luhan bersikap gitu krna menyimpan luka. tapi kalo sampe jongin lupain mimpi serta sehun juga ikut tindak gmnaaa gitu rasanya… mereka salibg membantunya ga nanggunghuaaaaa kenapa mereka ???????? huahuaaaaa

  3. ellalibra berkata:

    Q g nyangka kl akan jd ky gini ayahnya meninggal kris jg huaaaaaa …. Eon tega bgt nyesek yakin liat hdp mrk skrg eon …. Waaaahh apa yg mau dilakuin sehun ???? Smg aja dy g bikin diri dy dlm bahaya krn balas dendam eon … Neeeeeeext fighting eon😀

  4. aleeya berkata:

    dan akhirnya ceritq mereka sdah dewasa,yang dulu di tindas skrang mereka bsa menindak orng2 yng layak unttuk di tindas yah walaupun itu kelihatan kejam..
    semoga mereka bertiga bisa bersatu untk membalas semuanya

  5. XI RA BY berkata:

    waaawwww… keren banget. sumpah, tadi kirain itu bakalan tamat soalnya adegan2 setelah 4 tahun kemudian. tapi ternyata enggak, aaahhh berharap ff ini perjalannya masih panjang.
    nexttttt!!

  6. wikapratiwi8wp berkata:

    Masih dendam??? Wajar sih. Karena semua orang yang dibesarkan dalam keadaan seperti itu, pasti akan merasakan hal yang sama. 😭😭
    But, 4 tahun kemudian adalah hal yang cukup membuat ff ini ada hiburan sedikit,, hihihi karena mereka setidaknya bisa tersenyum. Hehe walaupun sudah lupa akan arti kata bahagia.. Tapi tetap berharap suatu saat nanti kalian, mereka semua, bisa bahagia ☺️☺️

  7. han berkata:

    kok alurnya cpet bnget ya trus sehun akan blas dendam kesiapa ?
    ah wae? ini bikin penasaran smvah apa bkal ada konflik baru?
    ditunggu next chapternya kaka, terimakasih udah update asap dan selene 6.23 yg slalu kutunggu update asap jga yak .

  8. Brenda berkata:

    “Tapi Sehun-ssi,” Salah stau teman Jongin mengangkat tangannya. “Bisakah aku berfoto denganmu dan minta tanda tanganmu? Kekasihku adalah fans beratmu.”

    Masih kesisakah yang cem gitu? 👆 Kalo masih berikan satu untuk ku y!! :V

    *gila bener ni crita!! Di bikin nangis d awal, tambah ancur d tengah2 ni ati… 😔😩

  9. irnacho berkata:

    belom selesai ya? pas baca 4 tahun kemudian kirain bakal liat kata end, taunya masih tbc. kayaknya di part selanjutnya bakal liat pembalasan sehun ya?

  10. Jung Han Ni berkata:

    Ya ampun mimpinya sehun bikin aku nangis😥 huhuhu ga kuaat aku
    Sekarang mereka udah gede, tiba2 udah 4 tahun aja T_T gimana kabar suho, kwon ahjumma sama jinyoung ya?
    Krisnya meninggal makin bikin sedih😥 , pasti ada yg nyuruh buat ngebunuh dia tuh
    Keep writing n hwaiting eon!

  11. So_Sehun berkata:

    Sudah q ga bisa komen apapun ini ff chingu selalu bikin q seperti liat cerita dikehidupan nyata…baguslah pokokx dri segi latar dan cerita jg feelx selalu dapat…
    Pokokx q penggemar chingu oh mija lah…..lanjut chingu…

  12. Hikari berkata:

    Ini Nyesek..Kehidupan mereka sungguh dpenuhi rintangan..
    Yah walau bagaimanapun hidup harus tetap berjalan kan😊😊😊😊
    Nangis baca part ini fellnya dpet banget kak^^😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s