SELENE 6.23 (LONG DISTANCE BETWEEN US) PART 16

selene new

Tittle                            : Selene 6.23 (Long Distance Between Us)

Author             : Ohmija

Main Cast        : Kim Jongin, Krystal Jung, Choi Minho

Support Cast   : Taemin, Sulli, Amber, Sehun, Jessica, Jonghyun, dll

Gnere              : Romance, School life, Comedy, Sad

Ketika Jongin sampai di sebuah gedung kosong, tempat yang telah di janjikan, suasana disana terlihat sepi. Hanya dua orang yang sedang berjaga di depan dan langsung menghadang langkahnya.

“Aku datang sendiri.”tegas Jongin, dapat membaca pikiran dua orang itu.

“Buka jaketmu.”perintah salah seorang pria.

“Sudah ku bilang aku datang sendiri!”balas Jongin menatap pria itu tajam.

“Kau menantang kami?!” Pria itu membalas tatapan Jongin tak kalah tajam. “Kau lupa jika kekasihmu ada di dalam?! Kau tidak mau dia terluka, kan?”

Dengan kedua rahang terkatup rapat, Jongin menuruti perintah itu. Ia membuka jaketnya dan membuangnya ke tanah.

“Kau puas?”

Keduanya tersenyum menyeringai, seakan ini adalah kemenangan mereka. “Ikuti kami.”

Jongin berjalan mengikuti mereka menuju sebuah ruangan yang remang cahaya. Berbeda dari keadaan yang ada di luar, ruangan itu di penuhi oleh beberapa orang anak laki-laki. Jongin mengedarkan pandangannya, mendapati Krystal sedang duduk di sebuah kursi dengan tangan terikat dan mulut dibekap dengan kain. Gadis itu terlihat menangis ketakutan begitu dia melihat kedatangan Jongin.

Pria itu sontak menatap Minhyuk tajam, “Kau tidak perlu mengikat tangannya karena dia tidak akan bisa kabur.”

Minhyuk tersenyum menyeringai, “Lalu apa bayarannya?”

“Bukankah kau ingin membalas dendam? Lakukan itu padaku.”

Minhyuk tersenyum puas setelah terciptanya kesepakatan yang ia tau, itu sangat menguntungkannya. Pria itu kemudian menggeser langkah, memberikan jalan untuk Jongin.

Jongin berjalan menghampiri Krystal, segera di lepaskan ikatan tangannya dan kain yang membekap mulutnya. Tangis gadis itu seketika tumpah, tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan.

Jongin mengulurkan tangan, membekap kedua pipinya, “Krystal lihat aku,”serunya pelan. “Ini aku, Jongin. Kau akan baik-baik saja sekarang.”

“Jongin… Jongin aku takut.”isak Krystal menggenggam erat tangan Jongin.

“Tidak apa-apa. Ada aku. Tapi sekarang kau harus pergi, mengerti?”

Krystal menggeleng kuat-kuat, “Tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu.”

“Aku akan baik-baik saja. Jadi sekarang kau harus pergi, hubungi Taemin dan suruh dia untuk datang ke tempat ini, mengerti?”

Krystal tetap menggeleng, “Tidak. Jongin, aku mohon jangan….”

“Kita akan bertemu besok, di sekolah. Aku berjanji.”

Jongin menepuk-nepuk punggung tangan Krystal yang sedang menggenggam tangannya. Kemudian perlahan melepaskan genggaman itu, di bantunya gadis itu berdiri.

“Kita selesaikan urusan kita, tapi biarkan dia pergi.”

“Berani sekali kau memerintahku?!”bentak Minhyuk seketika menjadi marah.

Jongin menarik napas panjang, “Tidak. Aku sedang memohon.”ucapnya dengan nada melembut.

Krystal menoleh, mendongak menatap Jongin. Kenapa dia harus mengorbankan harga dirinya?

“Cepat pergi dari sini.”bisik Jongin.

Pria itu melepaskan cekalannya di bahu Krystal, membiarkannya pergi. Gadis itu memejamkan kedua matanya, membiarkan air mata terakhirnya jatuh membasahi pipinya. Lunglai, kakinya melangkah pergi meninggalkan tempat itu.

***___***

 

“Kalian sudah menemukan Krystal? Apa dia benar-benar pulang ke rumah?”tanya Taemin menghampiri Sulli dan Amber yang sedang menunggu di depan pintu gerbang sekolah.

“Kakaknya bilang dia belum pulang, dia bahkan terkejut saat aku bilang Krystal tidak ada di sekolah.”jawab Sulli.

“Apa mungkin dia pergi bersama Jongin?”sahut Sehun. “Aku sudah mencaritahu di rumahnya, tapi dia tidak ada. Kau bilang dia mengajakmu pergi ke rumah Jongin, kan? Mungkin saja dia pergi lebih dulu kesana dan mereka sedang pergi.”

“Dia mengajakmu pergi ke rumah Jongin?” Mata Sulli membulat kaget.

“Bukankah itu wajar jika Krystal menjenguk kekasihnya yang sedang sakit?”balas Sehun sedikit kesal. “Kenapa kau masih tidak bisa menerima kenyataan jika mereka sedang berkencan?”

“Sehun…” Taemin buru-buru melerai pertengkaran itu. “Ini bukan saatnya untuk bertengkar.”

“Sulli-yah, dimana Soojung?! Kalian sudah menemukannya?” Jessica tiba-tiba muncul membuat Sulli kembali terkejut melihat keadaan Jessica. Kepalanya di balut dengan perban.

“Jessi unnie apa yang terjadi? Unnie terluka?”

Namun Jessica mengabaikan pertanyaan Sulli barusan, “Katakan padaku dimana dia? Kenapa dia tidak menjawab panggilanku?”

“Kami tidak—“

Ucapan Sulli terputus ketika ponsel Taemin berdering. Pria itu langsung menjawab panggilannya begitu membaca nama Krystal yang tertera di layar.

“Krystal! Kau dimana? Kenapa kau tiba-tiba pergi?”

Mendengar nama Krystal di sebut, Jessica langsung berseru, “Apa itu Soojung? Tanyakan padanya dimana dia sekarang!”

“…..”

“Apa?!”

“…..”

“Baiklah. Aku kesana sekarang.”

Taemin mengakhiri panggilannya dan bergegas pergi namun Sulli langsung menahan lengannya, “Ya, apa yang terjadi?”

Taemin menghembuskan napas panjang, “Krystal di culik.”

“APA?!”

“Jongin datang menyelamatkannya tapi sebagai gantinya kini mereka menyekap Jongin. Krystal sudah di bebaskan. Sekarang aku harus pergi untuk menyelamatkan Jongin.”

“Ya Lee Taemin, apa—“

“Kau jaga Jessica noona disini.”potong Taemin menatap Sulli lurus-lurus. “Jonghyun, kau jemput Krystal. Dia sedang bersembunyi sekarang. Aku dan Sehun akan menyelamatkan Jongin.”

Jonghyun mengangguk, “Aku akan menyusul kalian.”

Ketiganya langsung meninggalkan sekolah. Sementara Jessica seketika meluruh. Sulli dan Amber segera menangkap tubuhnya.

“Jessi unnie!”

“Oh ya ampun, bagaimana ini?”

“Apa yang terjadi?” Minho tiba-tiba muncul membantu keduanya. Begitu melihat siapa wanita yang pingsan itu, dia terkejut, “Jessica noona!”

“Oppa, cepat pergi!”suruh Sulli. “Biar aku yang mengurus Jessi unnie. Sekarang, Krystal dan Jongin berada dalam bahaya!”

Kening Minho berkerut tak mengerti, “Apa maksudmu?!”

***___***

 

Jongin menyemburkan darah dari mulutnya setelah mendapat tendangan di perut dari salah satu anak buah Minhyuk. Dan bersamaan dengan itu, sebuah balok kayu menghantam punggungnya dengan keras. Jongin nyaris tumbang jika lututnya tidak berusaha keras menyanggah tubuhnya.

Dalam posisi berlutut, Jongin mengangkat wajahnya, ia mengerjapkan mata karena aliran darah nyaris menutupi seluruh permukaan wajahnya.

“Apa kau benar-benar takut padaku?” ia tersenyum mengejek. “Kau bahkan harus melakukan hal seperti ini untuk mengalahkanku.”

“Brengsek!”

Kembali, Jongin mendapat tendangan di perutnya hingga ia tersungkur ke lantai.

“Jongin!”

Taemin menerobos masuk ke dalam tempat itu dan langsung memberikan serangan. Di belakangnya, Sehun menyusulnya dan juga… Minho!

Pria itu melemparkan tasnya kearah salah satu anak buah Minhyuk dan memberikan tendangan padanya.

Pertarungan kembali terjadi, kini Minhyuk dan anak buahnya melawan Taemin, Sehun dan Minho. Jongin berusaha untuk bangun namun rasa sakit di kepalanya membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali. Pria itu meringis memegangi kepalanya sampai pada akhirnya… ia pingsan.

***___***

 

“Soojung? Soojung-ah? Kau sudah sadar?”suara Jessica terdengar lembut di telinga Krystal.

Perlahan, Krystal mengerjapkan matanya, “Jessi unnie…aku…ada dimana?”

“Ya! Kau membuatku khawatir! Oh Tuhan, syukurlah kau sudah sadar. Kau baik-baik saja, kan?”

Krystal hanya diam atas rentetan pertanyaan itu. Ia tertegun, mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi padanya . Dan begitu ingatannya mampu memberikan jawaban padanya, matanya terbelalak lebar, “Jongin!”pekiknya. “Unnie, dimana Jongin?! Dia baik-baik saja, kan?!”

“Soojung-ah….”

“Unnie, jawab aku! Dia baik-baik saja, kan?”

Di sudut ruangan, Minho menatap hal itu dengan desahan napas panjang. Sisa kejadian tadi masih menggantung segar di ingatannya. Setelah mereka berhasil memenangkan pertarungan, ketiganya langsung menuju rumah sakit untuk membawa Jongin yang terluka parah. Namun dirinya, menghampiri Krystal yang juga sedang berada di ruang UGD. Krystal masih sadar saat itu, tapi setelah ia melihat keadaan Jongin yang berlumuran darah, dia menangis histeris hingga jatuh pingsan.

Dia tidak tau jika perasaan bisa berubah semudah itu. Terlihat jelas jika saat ini Krystal hanya berfokus pada Jongin. Dia tau, semua ini terjadi karena dirinya tidak peka terhadap perasaan Krystal selama ini. Tapi bukankah itu bukan kesalahannya? Andai saja Krystal mengungkapkan perasaannya jauh di awal, mungkin semuanya tidak akan seperti ini.

Karena sekarang, hatinya terasa sakit saat Krystal mulai mengabaikannya.

***___***

 

Mata itu akhirnya terbuka, mengerjap perlahan membiasakannya dengan cahaya dari luar matanya. Beberapa orang berdiri mengelilinginya, orang-orang yang sangat ia kenal sejak dulu. Taemin, Sehun dan Jonghyun. Namun wajah berikutnya membuatnya bingung, Sulli? Untuk apa dia berada disini? Kemudian Jessica dan Krystal…

Pada wajah terakhir yang di lihatnya, sebisa mungkin ia tersenyum karena gadis itu sedang menangis.

“Kau baik-baik saja?”tanyanya lemah.

Krystal tidak bisa menahan dirinya lagi, gadis itu duduk di tepi ranjang Jongin sambil memukul-mukulnya pelan. Kesal namun juga khawatir.

“Sudah ku bilang jangan melakukannya! Sekarang kau terluka parah seperti ini.”isaknya. “Kau bilang kita akan bertemu di sekolah! Kau bohong! Kau justru terbaring dengan keadaan seperti ini!”

Kai kembali tersenyum, ingin rasanya memeluk gadis itu sekarang tapi dia sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk melakukannya.

“Aku baik-baik saja.”

“Baik-baik saja? Lihat keadaanmu!”

“Maafkan aku. Tapi jangan menangis.”

Krystal menghusap air matanya, masih terisak dalam tunduknya. Namun kali ini kekhawatirannya berkurang. Dia lega.

“Kau baik-baik saja?”tanya Jessica menatap Jongin.

Jongin mengangguk, “Maafkan aku noona. Karena aku, dia jadi berada dalam bahaya.”

“Bodoh. Harusnya aku yang berterima kasih, kau telah menyelamatkan adikku.”

“Ya, pria brengsek! Kau telah membuat temanku menangis.” Kini suara terdengar dari mulut Sulli, Jongin menoleh, lagi-lagi dengan senyum,

“Maafkan aku.”

Sulli menghembuskan napas panjang, “Aku membawakan obat-obatan herbal untukmu. Kau harus segera sembuh, mengerti?”

“Terima kasih, Sulli.”

“Lain kali jangan datang sendiri, kau harus memanggil kami.” Sehun menyahut. “Aku tau kau ingin menyelamatkan kekasihmu tapi biarkan kami membantu. Kau juga teman kami.”

Yah, tidak di ragukan lagi. Mereka adalah sahabat sejati.

“Aku terburu-buru. Maafkan aku.”

Jonghyun berdecak, “Dasar bodoh.”

Seolah paham, kini ruangan itu hanya di isi oleh Jongin dan Krystal. Sementara yang lain berjalan meninggalkan ruangan, memberikan waktu agar mereka berdua bisa bicara.

“Kau terlihat pucat. Kau belum makan?”

“Aku bahkan belum tidur sejak semalam!”seru Krystal setengah kesal, tangisnya sudah mereda.

“Kenapa?”

“Kau masih bertanya kenapa?!” gadis itu menatap Jongin sinis.

Jongin tertawa, “Apa aku tidur terlalu lama?”

“Kau membuat semua orang khawatir. Dasar menyebalkan!”

Jongin hanya diam. Tidak lagi bersuara. Namun tangannya terulur, mendorong tengkuk belakang Krystal agar mendekat kearahnya. Walaupun merasa bingung, Krystal tetap menurut. Sama halnya dengan Krystal, ada kelegaan di dalam hati Jongin karena gadis ini baik-baik saja. Dia tidak terluka. Dan dia ada di sini.

Sebuah kecupan lembut mendarat di kening Krystal lalu sebuah pelukan yang kemudian di terimanya. Krystal merebahkan kepalanya di dada Jongin, membalas pelukan itu.

“Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku.”

***___***

 

“Aku sudah baik-baik saja. Sebaiknya kalian pulang.” Jongin tersenyum menatap teman-temannya yang besikeras untuk menginap malam itu.

“Kami akan berjaga disini.”

“Dan membolos lagi besok pagi?”balas Jongin cepat. “Sudahlah. Kalian pulang saja. Lagipula aku akan keluar dari rumah sakit ini besok lusa. Kita bisa bertemu lagi di sekolah.”

Jonghyun menghela napas panjang, “Kau pasti akan mendapat masalah nanti.”

“Jika kepala sekolah memanggilmu, katakan jika kau menyelamatkanku.”seru Krystal.

Jongin tersenyum, “Aku tau. Sekarang pulanglah. Jika kalian terus berada disini, aku tidak bisa istirahat.”

“Kau yakin tidak apa-apa sendirian?”tanya Taemin lagi.

“Kau pikir aku anak kecil? Pulanglah. Dan tolong antar mereka pulang.” Ia menunjuk Krystal dan Sulli. “Oh ya, tolong sampaikan pada Jessica noona jika aku minta maaf karena telah membuatmu berada dalam bahaya.”

Krystal mengangguk, “Aku pulang dulu. Jangan lupa hubungi aku jika terjadi sesuatu.” Kemudian gadis itu mengecilkan volume suaranya, malu. “Aku akan menunggu.”

Sulli melirik sahabatnya itu, menangkap tatapan jatuh cinta dari matanya. Gadis itu menghela napas, “Dia benar-benar sedang jatuh cinta.”

“Baiklah. Hati-hati.”

***___***

 

Beberapa saat setelah ruangan itu kosong, Jongin meraih ponselnya. Untuk sesaat ia menatap kearah layar ponsel, merasa ragu. Apa dia harus memberitahu ayahnya? Tapi hal itu akan membuatnya khawatir.

Pria itu meletakkan ponselnya keatas meja. Sudahlah, tidak perlu. Lagipula ini hanya luka ringan.

“Kim Jongin.”

Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, Jongin menoleh.

“Oh? Dokter Shim? Bagaimana anda tau aku ada disini?”

Dokter laki-laki itu mendesah panjang sambil menghampiri Jongin, “Aku yang bertugas untuk memeriksamu.”

“Huh? Anda?”

“Yah, dokter Go memberikan hasil pemeriksaanmu padaku. Mendadak terjadi sesuatu jadi aku yang menggantikannya.”

“Benarkah?” Jongin tertawa. “Sepertinya kau benar-benar di takdirkan untuk menjadi dokterku.”

“Jongin-ah…” Namun ekspresi berbeda di tunjukan oleh Dokter Shim. Ia menjatuhkan diri di tepi ranjang Jongin dan menatapnya dengan tatapan sedih. “Aku selalu mengingatkanmu untuk tidak melakukan hal-hal yang bisa membahayakan dirimu. Kenapa kau selalu melanggarnya?”

Tawa Jongin seketika menghilang, ia menatap dokter Shim lurus, “Ada apa? Apa kau akan mengatakan jika kepalaku semakin bermasalah?”

“Jongin-ah, sebelum terlambat, ayo kita lakukan pengobatan.”

Jongin tersenyum kecut, “Bukankah dokter tau jika ayahku hanya bekerja sebagai nelayan? Dia tidak akan sanggup membayar pengobatannya.”

“Tapi jika tidak segera ditangani, kau bisa berada dalam kondisi yang lebih buruk. Hasil scan kepalamu menunjukkan jika pukulan yang kau dapat kemarin berpengaruh pada penyakitmu. Setelah ini, kau akan lebih sering mengalami pusing dan pingsan tiba-tiba. Kau harus cepat diobati agar kau bisa sembuh.”

“Bukankah kemungkinan untuk sembuh hanya 20%?” Rahang Jongin mulai mengatup keras. “Kau bilang penyakit sialan ini sudah masuk dalam stadium 2. Jadi, apa sebentar lagi aku akan mati?”

“Jongin-ah…”

“Katakan padaku!”bentaknya. “Apa aku akan mati?”

Dokter Shim terdiam. Di tatapnya pria itu penuh rasa kasihan. Bertahun-tahun menanganinya membuatnya sedikit tau mengenai kehidupannya. Dia adalah pria malang yang hidup seorang diri di Seoul. Bahkan terkadang dia harus bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri.

Dokter Shim mengulurkan tangan, menepuk pundak Jongin lembut, “Kau harus menjaga dirimu dengan baik.“

Dokter itu kemudian beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ruangan Jongin. Namun langkahnya langsung terhenti begitu ia mendapati seseorang telah berdiri di balik pintu, menatapnya dengan ekspresi terperangah.

***___***

 

Matanya langsung tertuju pada sesosok wanita yang sedang duduk menyendiri menatap keluar kaca jendela. Tatapannya terlihat kosong dan kesedihan itu amat tercetak jelas di wajahnya. Minho menyalakan lampu membuat wanita itu langsung menoleh terkejut.

“Oh, adeul, kau sudah pulang? Kenapa pulang terlambat? Oema menunggumu sejak tadi.”

Minho tersenyum tipis sambil mendekat kearah ibunya, “Maaf oema. Ada urusan yang harus ku selesaikan tadi.”

“Benarkah? Apa kau sangat sibuk? Kau sudah makan? Mau oema panaskan makanan untukmu?”

Minho langsung menahan lengan ibunya ketika ia bergegas pergi. Di tariknya pelan lengan ibunya, menyuruhnya untuk duduk di sampingnya. Hatinya bergemuruh hebat, terus berharap jika ini hanyalah mimpi. Jika semua hal yang ia dengar bukanlah kenyataan.

 

Beberapa saat lalu….

 

Minho berjalan pelan meninggalkan ruangan dokter. Langkahnya terhuyung, dengan cepat ia menyambar pegangan kayu untuk menyanggah tubuhnya agar tidak roboh.

Apa semua itu….kenyataan? Tapi sejak kapan?

Ia memejamkan matanya kuat-kuat, berusaha memberikan kekuatan untuk dirinya sendiri. Kemudian, di bukanya pelan pintu ruangan itu. Melangkah masuk, untuk beberapa saat Minho terpaku. Di tatapnya punggung laki-laki yang sedang berbaring membelakanginya. Anak ini… entah karena alasan apa dia membencinya. Karena kini dia sadar, dia telah merebut segalanya dari anak itu. Lalu kenapa selama ini dia membencinya?

Menyadari kehadiran seseorang, Jongin berbalik. Sedikit terkejut karena ia mendapati Minho telah berdiri di belakangnya, “Apa yang kau lakukan disini?”tanyanya dingin. “Yah, aku sudah mendengarnya. Kau membantu Taemin dan Sehun malam itu, jika kau menuntut ucapan terima kasih, aku sangat berterima kasih karena telah membantu mereka. Tapi sejujurnya, tanpamu Taemin dan Sehun juga bisa mengalahkan mereka semua.”

Namun Minho hanya diam.

“Pulanglah, aku sedang tidak berada dalam kondisi yang baik.”

Jongin berbalik, kembali membelakangi Minho. Namun suara yang terdengar berikutnya membuat matanya melebar.

“Kanker otak stadium 2.”kata Minho pelan. Jongin menelan ludah. Tubuhnya langsung bergetar. “Kenapa kau menyembunyikannya?”

Jongin menoleh kearah Minho, “Apa yang sedang kau katakan? Kau gila?”balasnya sebisa mungkin bersikap santai.

“Aku sudah mendengar semuanya dari dokter, Jongin-ah.”

Jongin tersenyum mendengus, “Jangan memanggilku seperti itu. Kita sudah berbeda sekarang.”

“Jongin, sebaiknya kau—“

“Jangan urusi masalahku dan sebaiknya kau pergi sekarang. Aku tidak butuh apapun darimu.”

 

 

Minho menggenggam erat tangan ibunya dan menatap matanya dalam diam beberapa saat. Dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi waktu itu, saat wanita ini tiba-tiba menjadi ibunya. Dia masih terlalu kecil untuk mengerti masalah orang dewasa. Dan hingga kini, dia masih tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya telah terjadi. Tapi satu hal yang kini ia sadari, ada seseorang yang sejak dulu bersusah payah menjalani kehidupannya. Ada seseorang yang tertatih-tatih membentuk dirinya untuk menjadi orang yang kuat. Dan seseorang yang memendam luka itu dalam waktu yang lama.

Tanpa dia sadari, keegoisannya membuatnya lupa. Lupa jika anak itu adalah orang yang sering menghabiskan hari bersamanya dulu.Jika anak itu adalah anak yang selalu menghiburnya saat dia sedih. Seorang anak yang selalu mempercayai semua ucapannya dan mengikuti kemanapun dia pergi. Dia lupa…

“Adeul, ada apa?”tanya ibunya lembut. “Kau sakit?”

Minho tersenyum lalu menggeleng, “Oema, terima kasih karena sudah merawatku selama ini.”

“Apa yang sedang kau katakan?”

“Oema pasti banyak melewati masa-masa sulit karena aku. Terima kasih.”

Minho memeluk ibunya erat. Setelah ini, apa yang harus dia lakukan?

***___***

 

“Kau menunggunya?” Sulli mendorong bahu Krystal dengan bahunya. Membuat gadis itu tersenyum malu. “Jadi kalian benar-benar sedang berkencan?”

“Sulli, Jongin adalah pria yang baik. Kau hanya belum mengenalnya saja.”

“Bahkan sekarang kau membelanya.” Sulli mencibir. “Baiklah. Aku akan menyetujuinya asalkan kau bahagia.”

“Sulliiiii.” Krystal memeluk sahabatnya itu dengan senyum lebar. “Terima kasih.”

“Dasar. Anak itu benar-benar telah merebut hatimu.”

“Krystal!” Tiba-tiba Amber muncul, gadis tomboy itu berlari kearah Krystal dengan raut panik. “Kau sudah dengar?”

“Apa? Dengar apa?”

“Amber, kenapa kau panik begitu?”sahut Sulli.

“Jongin…. Dia….”

“Jongin kenapa?”

“Dia berhenti sekolah!”

“APA?!” Krystal dan Sulli memekik bersamaan.

“Aku mendengarnya dari murid-murid lain. Jongin telah mengirim surat pengunduran diri tadi pagi-pagi sekali.”

“Kau bercanda? Tidak mungkin!”

“Sebaiknya kau hubungi dia sekarang. Cepat.”suru Sulli.

Krystal merogoh sakunya dan mengambil ponselnya dari sana. Segera di carinya kontak Jongin namun setelah mencoba menghubunginya ternyata nomornya tidak aktif. Perasaannya mulai tidak enak.

“Tidak aktif.”

“Hubungi Taemin atau Sehun.”

Krystal mengangguk, mencari nama Taemin.

“Halo? Taemin, apa itu benar? Jongin—“

“Dia menghilang.”

“Apa?!”

“Aku sedang berada di apartement-nya untuk menjemputnya. Tapi apartement-nya kosong. Tetangganya bilang dia pergi membawa barang-barangnya tadi pagi.”

“Pergi? Pergi kemana?!”

“Tidak tau. Dia bilang Jongin tidak mengatakan apapun. Aku akan menuju ke sekolah sekarang. Kita bertemu disana.”

Panggilan itu terputus.

“Kenapa? Apa yang terjadi?”tanya Sulli, ikut merasa gelisah melihat ekspresi Krystal.

“Jongin… dia menghilang.”

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

8 thoughts on “SELENE 6.23 (LONG DISTANCE BETWEEN US) PART 16

  1. ellalibra berkata:

    Huaaaaaa eon ni sedih bgt air mata q g bs brhenti y ampun bnr” y jongin ank yg malang hdp dy knp begini bgt … Knp dy jg hrs sakit parah eon … Huaaaaaa …..

  2. mongochi*hae berkata:

    mwo ???
    jongin kna kanker ??
    aigooo…
    ak baperrrr…
    hikzzzzz….
    gk ckup ap kesakitan yg ddpat jongin slma ini..?

    aigooo bantu jongin ya tuhan

  3. han berkata:

    mwoya? kanker otak stadium 2, sdah separah itu . dan jongin menghilan? apa dia menghidar dri smua kehidupanny skarang, apa jongin nyusul appany..
    ah kaka ini ff aku suka bnget , feelnya dpt bnget ini hati ikut sakit denger jongin sakit tp aku suka cerita yg sperti ini apa lgo casnya kaistal exo .
    ditunggu next chapternya kka . figting

  4. tyazputri berkata:

    ngenes banget sih idupnya jongin, udah ditinggalin semua orang dari kecil… masih harus menanggung penyakit kanker otak….
    kenapa jongin harus menghilang juga????? huhuhuh sedih dah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s