SELENE 6.23 (LONG DISTANCE BETWEEN US) PART 14

selene new

Tittle                            : Selene 6.23 (Long Distance Between Us)

Author             : Ohmija

Main Cast        : Kim Jongin, Krystal Jung, Choi Minho

Support Cast   : Taemin, Sulli, Amber, Sehun, Jessica, Jonghyun, dll

Gnere              : Romance, School life, Comedy, Sad

Pemandangan itu terlihat aneh. Sejak kapan Sulli mau duduk di satu meja yang sama dengan Taemin? Bukankah gadis itu bilang dia lebih baik mati daripada menerimanya? Tapi kenapa sekarang mereka duduk berhadapan?

Taemin tidak bisa berhenti tersenyum sejak tadi. Akhirnya dia bisa makan siang bersama dengan Sulli, gadis yang telah ia taksir sejak SMP. Oh Tuhan, apa ini mimpi?

“Kau benar-benar membuatku kehilangan nafsu makan.”cetus Sulli menatap Taemin kesal. “Bisakah kau berhenti menatapku?!”

Jongin terkekeh, “Jangan seperti itu. Kau bisa jatuh cinta padanya nanti.”

“Ya! Apa aku minta pendapatmu?”

Sehun juga terkekeh, “Taemin tidak terlalu jelek. Hanya saja dia terlihat seperti orang bodoh saat dia tersenyum. Tapi, dia cukup tampan.”pujinya.

Taemin yang seperti telah kehilangan akal sehatnya hanya mengangguk-angguk, menyetujui semua ucapan teman-temannya.

“Kau tidak makan?”tanya Jonghyun menyenggol bahunya.

“Aku sudah kenyang.”

Jonghyun menatap Taemin sesaat sambil geleng-geleng kepala, “Aku rasa dia sudah gila.”

“Ngomong-ngomong, kenapa tiba-tiba kau mengajak kami makan bersama?” Amber menatap Krystal ingin tahu. “Ini sedikit aneh.”

“Iya.” Sehun menyetujui. “Ini sedikit aneh.”

“Bukankah kita seharusnya menjadi teman?”ujar Krystal. “Teman Jongin adalah temanku juga. Dan teman-temanku adalah teman kalian juga.”

Jongin dan Sulli sontak tersedak. Keduanya nyaris memuntahkan kunyahan mereka.

Sambil memukul-mukul dadanya yang terasa sesak, Sulli menggerutu, “Aku tidak mau berteman dengan mereka.”ucapnya. “Tidak mau!”

Sementara Jongin menatap Krystal dengan tatapan tak percaya, “Kau sudah gila ya?”bisiknya.

Krystal hanya tersenyum penuh arti, lalu mengalihkan tatapannya pada teman-temannya, “Jadi aku harap kita bisa selalu seperti ini seterusnya.”

“Ya, Jung Soojung! Apa yang kau makan tadi pagi? Apa kau terjatuh? Kepalamu baik-baik saja, kan?”cibir Sulli. “Hari ini kau benar-benar aneh!”

***___***

 

“Kita harus bicara.” Jongin langsung menarik lengan Krystal dan membawanya ke sudut ruangan ketika jam pelajaran telah usai.

“Ada apa?”

Jongin mengulurkan tangannya, meletakkan telapak tangan di kening Krystal. Krystal langsung menepisnya.

“Ya, apa yang kau lakukan?”

“Kau benar-benar tidak apa-apa, kan?”tanya Jongin. “Kau sangat aneh sejak kemarin.”

Krystal mendengus, “Aku baik-baik saja!”

“Lalu kenapa tiba-tiba kau bersikap baik padaku?”

“Aku tidak bersikap baik. Aku menjadi diriku yang biasanya.”

“Tidak. Kau berubah.”

“Tidak. Aku—“

“Soojung.” Tiba-tiba seseorang telah berdiri di ambang pintu. Krystal menoleh ke belakang dan langsung mendadak gugup. “Kau tidak pulang? Ini sudah waktunya pulang.”

“Oh…baik…oppa…” Gadis itu mengembalikan tatapannya pada Jongin, “Aku pulang.”ucapnya pelan.

Pria itu tersenyum tipis lalu mengangguk, “Pulanglah. Hari sudah mulai gelap.”

Krystal tertegun sesaat. Bukankah biasanya dia akan menahannya? Biasanya dia akan bertengkar dengan Minho. Tapi kenapa kali ini dia hanya membiarkannya?

“Sampai jumpa hari senin.”

Krystal berbalik, berjalan meninggalkan Jongin seorang diri di kelas. Sementara Jongin kembali terduduk di kursinya walaupun kelas sudah kosong. Pria itu duduk dalam keterdiamannya cukup lama. Matanya menatap keluar jendela, kearah sepasang pria dan wanita yang sedang berjalan bersisian di bawah sana.

Dia akan bahagia, kan?

***___***

 

“Sepertinya kalian semakin dekat.”seru Minho berjalan di sisi Krystal.

“Tidak oppa. Kami hanya membicarakan PR tadi.”elak Krystal.

“Kalian mengerjakan PR bersama?”

Gadis itu mengangguk, “Sonsengnim menyuruh kami mengerjakan PR dengan teman sebangku.”

“Syukurlah. Aku pikir kalian menjadi semakin dekat.”balas Minho membuat Krystal langsung menggaruk tengkuk belakangnya kikuk. “Apa besok kau punya rencana?

“Eo?”

“Aku ingin mengajakmu melihat pohon sakura.“

Krystal terdiam sejenak, “Oppa, tapi… aku sudah berjanji dengan Sulli dan Amber.”

“Benarkah? Apa kalian tidak ingin diganggu?”

Krystal tersenyum kikuk, “Maafkan aku, oppa.”ujarnya merasa bersalah. “Kita bisa pergi minggu depan, bagaimana?”

Minho balas tersenyum sambil mengacak rambut Krystal, “Baiklah. Kita pergi minggu depan saja.”

***___***

 

Jongin berbaring di ranjang tidurnya, matanya menerawang kearah langit-langit, menatapnya dengan tatapan kosong. Pikirannya berkecamuk, hatinya terus gelisah. Besok lusa adalah hari pernikahan Yoona, hari dimana dia harus menyerah atas segala perasaannya. Hari dimana dia harus menyadari jika sampai kapanpun, Yoona tidak akan pernah menjadi miliknya.

Dia harus bangun. Dia harus berdiri. Dan dia harus berjalan meninggalkan kenangan tentang Yoona di belakang.

Dia menarik napas panjang dan menghembuskannya berat, memejamkan kedua matanya berharap kenangan itu bisa segera menghilang.

Sementara berkilo-kilo meter dari tempat Jongin berada, Krystal berdiri di balkon apartement-nya. Merasakan hal yang sama, gelisah. Terkadang dia berharap andai saja dia tidak datang ke Korea, andai saja dia tidak berebut tempat duduk dengan Jongin waktu itu, Mungkin dia tidak akan bimbang.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” suara Jessica membuyarkan lamunannya.

Krystal menoleh ke belakang lalu menggeleng, “Tidak ada,”

“Jangan berbohong padaku.”

Krystal terdiam sejenak, ia menghela napas panjang lalu menjatuhkan diri di samping kakaknya, “Yoona unnie mengundangku ke acara pernikahannya hari minggu nanti. Tapi aku tidak tau harus pergi bersama siapa. Kau bilang kau harus bekerja hari minggu nati.”

“Sorry…” Jessica menghusap kepala adiknya itu. “Aku harus pergi ke Busan sampai hari selasa.”ucapnya menyesal. “Kenapa tidak pergi bersama Minho atau Jongin?”

“Minho oppa tidak akan pergi dan sepertinya Jongin juga begitu.”

“Apa mereka berdua masih belum bisa melupakan wanita itu?”

Krystal mengangguk lemah, “Belum bisa.”

“Oh ya ampun, kasihan sekali adik kecilku.”

Kening Krystal sontak berkerut, “Kenapa?”

“Bukankah sekarang kau berada di tengah-tengah mereka? Tapi mereka berdua justru masih menyukai orang lain.”

“Ya!” Krystal langsung melotot.

Jessica terkekeh geli, “Ayo masuk. Sepertinya sebentar lagi hujan.”

***___***

 

“Jessi, aku pergi dulu.”teriak Krystal terburu-buru berjalan keluar.

“Baiklah. Hati-hati. Cepat pulang, oke?”sahut Jessica dari lantai dua.

“Oke!”

Krystal berjalan menuju halte dan langsung menaiki bus menuju taman Hangang. Gadis itu memeriksa ponselnya, tersenyum lebar setelah membaca pesan dari Sehun.

“Oke. Sempurna.”gumamnya.

***___***

 

“Kenapa kita kemari? Kau bilang kita akan pergi ke arcade.”protes Jongin karena Sehun terus mendorongnya ke taman Hangang.

“Cuaca hari ini sangat cerah, sebaiknya kita berjemur dulu.”

“Berjemur?”dengus Jongin. “Kau lihat disana? Mataharinya bahkan tidak begitu bersinar.”pria itu menunjuk ke langit. “Dan juga, apa kau sedang mengejekku? Kau tau kulitmu tidak akan berubah walaupun kau berjemur di hawai, apa kau sengaja membuatku semakin menghitam?”

Sehun merangkul pundak Jongin, “Harusnya kau bersyukur, aku dengan baik mengajakmu keluar. Jika aku tidak mengajakmu keluar, kau pasti merasa kesepian di rumah. Iya kan?” Ia menyeringai melirik Jongin.

Jongin langsung mendengus, “Kesepian kepalamu.”

“Oh? Itu Taemin.” Sehun melambaikan tangannya pada seorang pria yang sedang berlari kearah mereka.

“Kau bilang kita akan main arcade.”ucap pria itu. “Kenapa justru kesini?”

“Dia bilang dia ingin berjemur.”jawab Jongin membuat kening Taemin langsung berkerut.

“Berjemur?”

“Ayolah teman-teman, kita sudah semakin dewasa. Ini sudah waktunya kita mencari kekasih. Aku mengajak kalian kemari untuk mendewasakan kalian.”ucapnya seolah dia adalah seseorang yang telah memiliki banyak pengalaman.

“Tapi bukankah Jongin dan Krystal—“

“Mereka hanya berkencan di sekolah. Di sini, status Jongin sama dengan kita.”

“Kau bicara seperti orang dewasa padahal kau bahkan tidak bisa tidur jika lampunya di matikan.”ketus Jongin.

“Aku sedang dalam proses menuju pendewasaan.”balas Sehun percaya diri.

Jongin hanya berdecak sambil geleng-geleng kepala, “Ngomong-ngomong… mana Jonghyun?”

“Dia bilang dia ada urusan jadi tidak bisa datang.”

“Urusan? Urusan apa?”

“Entahlah, tadi—“

“Oh?”

Jongin dan Taemin sontak menoleh begitu mendengar seruan Sehun. Keduanya langsung terkejut begitu melihat tiga sosok gadis yang sangat mereka kenal. Tak jauh berbeda, tiga gadis itu juga terkejut melihat Jongin dan teman-temannya ada disana.

“Apa yang sedang kalian lakukan disini?”ketus Sulli dengan ekspresi tidak senang. “Kalian mengikuti kami?”

“Ya, kami yang lebih dulu berada disini.”balas Sehun.

Taemin langsung menarik lengan Sehun agar pria itu mundur ke belakang, sebagai gantinya dirinya maju ke depan, berdiri berhadapan dengan Sulli. Senyumnya mengembang lebar, mengalahi sinar matahari.

“Hai Sulli.”sapanya ramah.

“Kau terlihat seperti orang bodoh.”balas Sulli lalu bergegas untuk melanjutkan langkahnya. “Ayo teman-teman.”

“Amber.” Namun Sehun langsung meraih lengan Amber. “Kau mau main sepeda denganku? Ayo kita menyewa sepeda.” Tanpa menunggu persetujuan dari Amber, Sehun menarik gadis tomboy itu agar pergi bersamanya. Membuat Sulli semakin bertambah kesal.

“Ya! Kau mau membawa Amber pergi kemana?! Ya!”

Melihat itu Jongin tersenyum geli. Ini kesempatan bagus untuk Taemin dan Sulli. Pria itu juga menarik lengan Krystal dan merangkul pundaknya, “Sepertinya tema hari ini adalah kencan. Jadi biarkan aku pergi bersama kekasihku, ya.”

Sulli langsung melotot lebar, “Ya!”

“Dia akan menjagamu dengan baik. Jangan khawatir.” Pria itu berkedip pada Taemin yang di balas dengan senyuman lebar dan anggukan mantap.

Jongin membawa Krystal pergi dari sana segera mungkin, meninggalkan Taemin dan Sulli. Sementara Sulli terus merasa kesal karena lagi-lagi harinya di rusak oleh orang-orang ini, hal sebaliknya di rasakan oleh Taemin. Pria itu benar-benar senang hingga rasanya dia ingin memeluk semua orang.

Gugup, Taemin menggaruk tengkuk belakangnya kikuk, “Sulli…kau mau main sepeda?”

Sulli mendengus, “Dasar menyebalkan!”

***___***

 

“Amber, ayo kita pergi sejauh mungkin.”ajak Sehun sambil mendorong sepeda yang mereka sewa.

“Kau sengaja ya?”tebak Amber tepat.

“Ini bukan rencanaku, tapi rencana Krystal.”

“Krystal?”

“Iya. Dia yang memintaku mengajak Jongin kemari. Dia bilang ada sesuatu yang ingin dia katakan pada Jongin.”

“Apa mereka berdua benar-benar berkencan?” Amber merasa semakin bingung.

“Entahlah. Tapi sebaiknya kita berikan mereka waktu berdua, juga waktu untuk Taemin agar dia bisa lebih dekat dengan Sulli.”

Amber terkekeh, “Sulli pasti akan membunuhmu nanti.”

“Jangan khawatir. Taemin pasti akan melindungiku.”elak pria itu menyeringai lebar. “Sudahlah, ayo cepat naik.”

“Kenapa aku duluan?”

“Cepatlah.” Sehun mendorong Amber. “Bonceng aku.”

“Kau laki-laki dan kau punya kaki yang lebih panjang, kenapa kau minta aku memboncengmu? Menyebalkan.”

***___***

 

“Kenapa bisa kebetulan sekali?” Jongin masih tertawa geli walaupun keduanya sudah berada jauh dari tempat semula. “Sulli pasti benar-benar kesal.”

“Sahabatku sedang kesal, tapi kau justru terlihat sangat bahagia.”cibir Krystal.

“Aku benar-benar ingin melihat keduanya kencan. Sungguh. Taemin sudah menyukai Sulli sejak SMP. Dan aku rasa dia sudah tidak bisa menemukan gadis lain dalam hidupnya.”

“Kasihan sekali Sulli.” Krystal mendesah. “Jika dia dan Taemin benar-benar berkencan nanti, nasibnya sial sekali.”

“Ya, apa maksudmu? Temanku adalah pria yang baik.”balas Jongin tidak terima.

“Baik.” Angguk Krystal. “Tapi bodoh.”

“Ya!”

Sebisa mungkin Krystal menahan senyumnya, “Cepat sewa sepeda. Aku juga ingin naik sepeda.”

“Kau menyuruhku?” Jongin menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi terkejut.

“Lalu siapa lagi?”balas Krystal santai.

“Aaaaah… benar-benar…”

Pria itu bersungut-sungut menghampiri tempat penyewaan sepeda sementara di tempatnya Krystal tersenyum geli. Ketika merasa kesal, dia sangat lucu.

“Ini.” Jongin memberikan sepeda yang di bawanya pada Krystal.

Krystal memegang setang sepeda dengan kening berkerut, “Kau tidak naik?”

Jongin menggeleng, “Tidak. Aku tidak bisa naik sepeda.”

“Benarkah?” Gadis itu terkejut. “Kau tidak bisa?”

“Iya. Aku benar-benar tidak bisa. Jadi kau saja yang naik.”ucapnya. “Kecuali…jika kau mau memboncengku.”

“Tsk, bagaimana mungkin seorang pria tidak bisa naik sepeda?”cibir Krystal lalu duduk di kursi kemudi. Kedua tangannya memegang setang dengan kedua kaki yang masih memijak tanah. “Cepat naik.”

Jongin tersenyum geli lantas duduk di dudukan besi yang ada di bagian belakang. Kedua tangannya berpegangan pada pundak Krystal sementara kedua kakinya, ia angkat ketika gadis itu mulai mengayuh.

Bodoh, serunya dalam hati.

“Ya ampun, kau berat sekali.” keluh Krystal susah payah mengayuh sepedanya.

“Ayo cepat cepat! Kayuh yang kuat! Ayo! Valentino Krystal go go!” Jongin menyemangatinya di belakang namun suaranya justru terdengar sangat menyebalkan.

“Ya! Diam. Kau sangat berisik!”

“Aku kan hanya menyemangatimu. Bukankah kau adalah gadis yang tidak takut apapun? Kau bahkan berani datang ke rumahku. Oh ya, kau juga menangis waktu itu.”

Krystal semakin kesal. Pria yang duduk di belakangnya ini akan terus mengoceh jika mulutnya tidak di bekap. Dia terus-menerus mengungkit masalah waktu itu. Menyebalkan!

Gadis itu seketika menyeringai begitu melihat jalan menurun yang ada tak jauh di depannya. Ia mengayuh sepedanya dengan kuat sementara Jongin masih bersorak menyemangati.

“Go go Valentino Kry—AAAAAAAAAAAAA!!!!” teriakan Jongin langsung terdengar saat sepeda mereka menuruni jalanan itu dengan kecepatan maksimal. “APA YANG KAU LAKUKAN?! CEPAT TARIK REMNYA! AAAAAAAAAAA!!!”

Gadis Itu tertawa terbahak-bahak mendengar teriakan Jongin. Rasakan.

Krystal menarik remnya ketika jalan sudah mulai datar namun ia terkejut karena sepertinya pedal rem itu tidak berfungsi. Sepedanya masih melaju dengan cepat. Panik, Krystal kembali menarik pedal rem itu dengan kuat, kedua kakinya turun ke tanah namun ia tetap tidak bisa menghentikan laju sepedanya.

“AAAAAAAAAKH!”

 

BRUKK

 

***___***

 

“Kau tidak apa-apa? Kau terluka?” Jongin berlutut di sebelah gadis yang sedang mengaduh kesakitan itu. Ia memegangi lututnya yang tergores. Pada akhirnya, sepeda yang ia kendarai menabrak sebuah pohon hingga membuatnya terjatuh.

“Ya! Dasar brengsek!”teriak Krystal kesal. “Kenapa kau melompat?! Kau membuatku terluka sendirian! Brengsek!”

“Kau mau kita jatuh bersama? Terluka bersama begitu?”tanya Jongin menahan senyum geli. “Aku melompat untuk menyelamatkan hidupku. Kau lihat kan ada pohon di depan kita? Jika aku tidak melompat aku juga bisa terluka. Lagipula ini bukan salahku, kau yang memulainya.”

Krystal menatapnya kesal, “Dasar brengsek.”

Melihat wajah kesal Krystal, Jongin akhirnya tidak bisa menahannya lagi. Pria itu terkekeh geli, “Baiklah. Baiklah. Maafkan aku. Kau terluka?”

“Apa kau buta? Lihat siku dan lututku! Aaah, kakiku sepertinya terkilir.”omel Krystal membuat Jongin semakin tersenyum geli.

Pria itu berbalik, menunjukkan punggungnya kearah Krystal, “Cepat naik. Kita harus mengobati lukamu dulu baru memperbaiki sepedanya.”

“Tidak mau!”

“Hey ayolah, kau masih marah? Aku ingin membelikanmu obat sebagai permintaan maafku. Lagipula kau tidak bisa berjalan, kan? Kau mau aku meninggalkanmu disini sementara aku membeli obat? Disini banyak serangga, kau mau mereka menggigitmu?”

Krystal terdiam sejenak sebelum akhirnya berseru ketus, “Aku terpaksa! Karena ini adalah salahmu.”

“Iya. Ini adalah salahku.”Jongin mengangguk dengan senyum geli. Lalu membantu Krystal naik ke punggungnya. “Pegangan yang kuat.”ucap pria itu sambil berdiri sementara tangan kirinya mendorong setang sepeda.

Krystal menguatkan pelukannya di leher Jongin sementara mereka kembali keatas.

“Apa kau tidak keberatan? Kau menggendongku dan mendorong sepedanya.”

“Tentu saja berat.”balas Jongin yang membuat Krystal langsung cemberut. Kemudian pria itu tertawa, “Aku bercanda. Kau sangat ringan.”

Krystal tersenyum lalu menyembunyikan wajahnya di bahu Jongin. Entah kenapa dia merasa malu.

Jongin mendudukkan Krystal di sebuah kursi kayu, juga meletakkan sepedanya sementara dia masuk ke dalam supermarket untuk membeli obat. Tak lama dia kembali dengan bungkus plastik di tangannya. Pria itu mengeluarkan obat-obat juga sekotak ice cream strawberryyang langsung ia berikan pada Krystal.

“Lagi-lagi aku menghabiskan uangku.”desahnya.

“Waaaah, ice cream!”

Jongin berjongkok di depan Krystal, menumpahkan obat merah yang di belinya keatas luka di lututnya lalu menutupnya dengan plester. Juga untuk luka yang ada di sikunya. Pria itu tersenyum, apa ice cream itu benar-benar enak hingga dia sama sekali tidak merasakan rasa sakitnya?

Kemudian ia memeriksa sepedanya, sepertinya kerusakannya tidak parah.

“Kau bisa memperbaikinya?”tanya Krystal melirik Jongin sambil terus melahap ice creamnya.

“Tidak terlalu parah. Sepertinya kau menyelamatkan sepeda ini dan mengorbankan lutut dan sikumu.”

Krystal langsung cemberut, “Ya!”

Jongin terkekeh, “Kau masih mau berkeliling? Aku yang akan memboncengmu.”

Kening Krystal langsung berkerut, “Kau bilang kau tidak bisa naik sepeda.”

“Hahaha aku sudah bisa mengendarai sepeda sejak umur empat tahun. Aku membohongimu.”

“Dasar brengsek.”

“Kenapa kau terus memakiku sejak tadi?”

“Itu karena kau benar-benar brengsek!”

“Aku hanya bercanda.” Jongin menghampiri Krystal dan membantunya duduk di dudukan besi sepeda, “Kau terlihat lucu saat sedang kesal.”

“Apa kau sedang menggodaku?”

“Tidak. Aku berkata yang sebenarnya.” Pria itu menoleh ke belakang sesaat. “Pegangan yang kuat.”

***___***

 

Sulli melirik jam tangannya lalu menatap sekeliling sedikit gelisah, “Kemana mereka? Kenapa tidak menjawab panggilan kita. Ini sudah sore.”serunya cemas.

Sehun tersenyum, “Mungkin sedang berduaan hingga lupa waktu.”

Taemin mengangguk, “Mereka sangat intim saat berada di luar sekolah.”

Kemudian dua pria itu tertawa bersama membuat Sulli langsung melotot, “Dasar byuntae.”

“Sudahlah. Mereka mungkin sedang jalan-jalan. Sebaiknya kita pulang lebih dulu. Bukankah kau ada janji dengan ibumu mala mini?”seru Amber.

“Tapi Soojung?”

“Jongin pasti mengantarnya pulang. Kita tidak perlu cemas. Ayo.”

Sudah hampir melangkah pergi, suara Taemin kembali menghentikan langkah mereka, “Sulli.”panggilnya. Sulli menoleh ke belakang dengan kening berkerut. “Eum… bolehkah aku mengantarmu pulang?”

Sulli langsung terkejut, “Apa?”

“Seharian ini kau bersamaku jadi bukankah sebaiknya aku juga mengantarmu pulang? Aku harus bertanggung jawab mengantarmu sampai di rumah.”

“Kau tidak—“

“Oke baiklah.” Mengerti, Amber langsung melangkah mendekati Sehun. “Ayo kita pulang.”

“Ya, Amber. Tunggu… Amber!” Amber bersikap seolah-olah dia tidak mendengar, terus berjalan bersama Sehun meninggalkan mereka.

Taemin tersenyum, “Jika kau malu karena bersamaku, aku bisa berjalan di belakangmu. Aku benar-benar hanya ingin memastikan jika kau sampai di rumah dengan aman. Itu saja.”

Sulli tertegun sesaat. Pria ini…

Gadis itu mendesah panjang, “Jangan katakan ini pada siapapun, mengerti?”

Taemin langsung tersenyum lebar, “Aku tau.”

***___***

 

Hari sudah mulai gelap, hingga akhirnya keduanya memutuskan untuk duduk di kursi yang menghadap langsung ke sungai Han. Rasanya sangat lelah.

“Hari tiba-tiba berubah gelap.”seru Krystal buka suara.

“Ponselku kehabisan baterai. Yang lain pasti sudah pulang.”

“Ponselku sepertinya juga begitu.” Krystal mengeluarkan ponselnya. “Benar. Ponselku mati.”

“Haruskah kita pulang sekarang? Sulli pasti sangat mengkhawatirkanmu.”

Krystal menggeleng membuat kening Jongin berkerut, “Sebenarnya, ada yang ingin ku tanyakan padamu.”

“Apa?”

“Kau tau besok adalah hari pernikahan Yoona unnie, kan?”

Jongin mengangguk, “Lalu?”

“Eung…hanya saja…aku di undang… dan… tapi aku tidak bermaksud apapun…aku hanya…”

“Sebenarnya apa yang ingin kau katakana? Jangan bertele-tele.”

Krystal menarik napas panjang, “Apa kau tidak akan datang? Aku diundang tapi Jessi unnie tidak bisa menemaniku. Minho oppa dan keluarganya juga tidak akan datang.”

“Kenapa?”

Krystal mengendikkan kedua bahu, “Entahlah. Karena itu aku bingung.” Gadis Itu kemudian duduk menghadap Jongin. “Kau benar-benar tidak akan datang? Datanglah, kita bisa datang bersama. Aku tidak—”

“Kau tau siapa yang akan menikah, kan?” Jongin tersenyum kecut. “Jika aku datang, mungkin aku akan membawa lari pengantin wanitanya.”

Krystal langsung cemberut, “Kau mengucapkan hal yang sama seperti Minho oppa.”

“Maafkan aku, tapi aku tidak akan datang.” Jongin menggeleng dengan senyum kecut di wajahnya.

“Tapi, bukankah dia adalah kakakmu? Dia akan memulai hidup barunya besok, setidaknya kau harus datang untuk memberikan ucapan selamat. Maksudku… aku rasa dia sangat berharap kehadiran salah satu dari kalian.”

“Krystal, jawabanku tetap sama. Aku tidak akan datang.”ucap Jongin lagi sedikit menekan. “Jika kau hanya ingin menanyakan hal itu, aku sudah memberikan jawabannya. Sekarang sebaiknya kita pulang.”

Krystal tidak bersuara lagi. Jongin sepertinya marah. Apa dia sudah salah bicara? Apa ucapannya telah menyinggung perasaannya? Tapi, bukankah sudah saatnya untuk menyerah dan melupakannya? Apa perasaannya pada Yoona begitu dalam?

***___***

 

“Kenapa kau sangat ceroboh, huh? Jika kau mau menjahili orang lain sebaiknya gunakan otakmu dulu.”omel Jessica memukul pelan kepala adiknya itu kemudian mengganti plester lukanya. “Dasar bodoh. Jika begini bagaimana aku bisa pergi?”

“Kenapa kau memukulku? Aku sedang sakit.”seru Krystal cemberut.

“Karena kau sangat bodoh!”

“Unnie!”

“Aku akan membatalkan pekerjaanku, kau menyebalkan!”

“Kenapa kau batalkan? Aku hanya luka sedikit. Aku baik-baik saja.”

“Kau tau? Mommy nyaris memesan tiket ke Korea saat aku bilang kau terluka.”

Krystal langsung berdiri, “Kenapa kau memberitahu mommy?”serunya. “Aku hanya jatuh dari sepeda! Apa aku ini adalah anak kecil?”

Jessica mendengus, “Cepat hubungi mommy!”

***___***

 

Gadis itu sudah siap dengan dress putihnya, sedikit tertatih ia menuruni anak tangga, menuju dapur menghampiri Jessica yang sedang menyiapkan sarapan.

“Aku tidak terlihat menyedihkan, kan?”tanyanya.

“No, you look pretty.”jawab Jessica.

“Yeah, I’m pretty but….alone.”

Jessica terkekeh, “Mungkin kau akan mendapat pasangan disana.”

“Ya.”

“Hahaha, sorry. Kau tidak mau sarapan dulu?”

“Tidak.” Krystal menggeleng. “Dress ini sangat ketat, aku tidak mau perutku terlihat buncit.”

“Oke. Aku akan pergi siang nanti. Kau harus hati-hati, mengerti?”

Gadis cantik itu mendesah panjang, “Oke.”

Namun ketika dia nyaris melangkah, bel rumahnya tiba-tiba berbunyi.

Kening Krystal berkerut, “Siapa yang datang pagi-pagi seperti ini?”gumamnya sambil berjalan menuju pintu. Dan ketika pintu terbuka, detik itu juga matanya langsung terbelalak lebar. Jongin sudah berdiri di sana lengkap dengan pakaian formal.

“K-kau?”

Pria itu tersenyum lebar, “Syukurlah kau belum pergi. Aku datang untuk menjemputmu. Ayo. Acaranya akan di mulai sebentar lagi.”

“Soojung-ah, siapa yang… ohoooo….” Jessica bersiul begitu melihat penampilan Jongin. “Apa kau adalah Jongin? Kau terlihat berbeda.”

Jongin terkekeh, “Terima kasih, noona.” Pria itu membungkukkan tubuhnya sopan, “Aku datang untuk menjemput Soojung. Kami—“

“Aku tau. Kalian akan pergi ke upacara pernikahan, kan? Pergilah. Tolong jaga Soojung dengan baik.”

“Unnie, kenapa unnie minta dia untuk menjagaku.” Krystal memukul lengan Jessica pelan.

“Kenapa? Bukankah kalian berkencan?”goda Jessica yang langsung mendapat pelototan dari Krystal.

Jongin tersenyum, “Aku akan menjaganya dengan baik, noona. Kami pergi dulu.”

***___***

 

Tidak lagi naik bus, namun keduanya kini menyetop taksi untuk pergi ke upacara pernikahan Yoona. Keadaan Krystal yang masih terluka dan dress-nya yang terlihat sangat ketat membuat Jongin berpikir dua kali untuk naik bus.

Pria itu lagi-lagi mendesah karena dia kembali harus menghabiskan uangnya untuk gadis ini.

“Ngomong-ngomong, kau dapat baju ini darimana?”tanya Krystal.

“Aku pinjam dari Sehun. Bagaimana?Aku terlihat tampan, kan?”

“Tsk.” Krystal hanya mendengus.

Tak lama keduanya sampai di sebuah gereja yang terletak di daerah Apguejong. Jongin menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan. Berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Kesepuluh jarinya bertaut, berkeringat dingin.

“Kau baik-baik saja?”tanya Krystal. “Kau sedikit pucat.”

“Aku hanya gugup.”jawab Jongin pelan.

“Haruskah kita pulang saja?”

“Bodoh. Kita sudah sampai disini, kenapa kita harus pulang lagi?” lagi-lagi Jongin menarik napas panjang. Kemudian pria itu melepaskan jasnya dan memberikannya pada Krystal. “Pakai ini.”

Kening Krystal berkerut, “Kenapa?”

“Lihat saja dress-mu, pendek sekali! Kenapa kau memakai pakaian seperti itu? Kau bahkan terlihat tidak nyaman!”omel Jongin.

“Tidak. AKu baik-baik saja.”

Jongin merampas jas yang ada di tangan Krystal lalu dengan sedikit memaksa, memakaikannya di bahu gadis itu.

“Pakai itu, kau terlihat gendut.”seru Jongin sambil berlalu.

“YA!”

***___***

 

Langkahnya terhenti. Masih berdiri di ambang pintu. Seakan kakinya tidak lagi sanggup melangkah. Bagaimana jika dia melakukan hal yang tidak diinginkan nanti?

“Kenapa kau tidak masuk?”tanya Krystal.

Jongin terdiam sejenak, “Sudah sangat lama sejak terakhir kali aku bertemu dengan paman dan bibi. Aku merasa sangat canggung.”

“Itu wajar. Ini kan—“

“Aku sudah memikirkannya semalaman.” Pria itu memotong ucapan Krystal. “Aku akan melupakannya.”

Krystal menoleh, menatap sisi wajah Jongin. Sedikit terkejut.

“Karena sekeras apapun aku berusaha,dia tidak akan pernah menjadi milikku. Jadi, aku harus merelakannya, kan? Asalkan dia bahagia.”

Gadis yang di sampingnya itu tertegun. Dugaannya benar, perasaan Jongin pada Yoona masih begitu kuat. Dan mungkin akan terus begitu hingga nanti.

Krystal tersenyum, men tertawai dirinya sendiri. Bodoh. Sebenarnya apa yang sedang dia harapkan?

Gadis itu lalu mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Jongin kuat membuat pria itu menoleh, menatapnya.

“Ayo. Aku akan menemanimu menemuinya.”

Jongin tersenyum tipis, “Terima kasih.”

***___***

 

Dia terlihat sangat cantik dengan gaun itu. Seperti biasa. Senyumnya mengembang lebar di tengah-tengah kunjungan teman-temannya. Dia terlihat sangat bahagia.

“Yoona unnie.”panggil Krystal.

Yoona menoleh dan detik itu juga terdiam di tempatnya. Bukan karena Krystal namun karena kehadiran pria yang ada di sampingnya. Pria yang sejak tadi berdiri di ambang pintu sambil memandangnya.

Jongin.

“Kita bertemu lagi nanti, oke?”serunya pada teman-temannya yang berikutnya meninggalkan ruangan.

Krystal bergegas menghampiri Yoona namun Jongin menguatkan genggamannya hingga gadis itu kembali termundur. Kini ia memimpin langkah, menghampiri wanita cantik itu.

“Jongin…”

Jongin tersenyum tipis, “Kau terlihat cantik.”serunya pelan. “Ah, tidak. Tapi sangat cantik.”

Yoona menelan ludah, “Jongin…”

“Noona, aku datang karena aku ingin mengucapkan selamat padamu. Benar-benar tulus dari dalam hatiku. Selamat. Dan aku harap, kau akan selalu bahagia.” Suaranya sedikit bergetar. Kembali ia menguatkan genggamannya di tangan Krystal untuk menguatkan dirinya.

“Jongin, aku…”

“Jangan merasa bersalah.” Jongin menggeleng pelan. “Seperti yang kau lihat, aku datang bersama kekasihku. Aku sudah melupakan perasaanku padamu. Jadi hiduplah dengan tenang bersama suamimu dan jangan merasa bersalah. Aku benar-benar sudah melupakanmu.”

Krystal mendongak, menatap pria itu. Lagi-lagi ia di buat terkejut.

“Selamat noona. Kau harus bahagia.”

Dia mengakhirnya dengan senyum. Untuk yang terakhir kali memandang wajah wanita itu. Karena setelah ini, dia berjanji dia akan pergi. Dia akan melupakannya. Dan ketika kemudian ia berbalik, langkahnya langsung terhenti. Sementara di tempatnya, Krystal juga tak kalah terkejut.

Karena Minho dan orang tuanya ada di sana.

TBC

 

 

 

 

 

 

 

9 thoughts on “SELENE 6.23 (LONG DISTANCE BETWEEN US) PART 14

  1. ellalibra berkata:

    Woaaaaaaahhh bnr” kejutan dhari pernikahan yoona … Minho pst trkejut jg jongin dtg sm krystal apalg jongin ktmu ibunya …. Makin deg”an eon neeeeeeext fighting

  2. han berkata:

    wah menegangkan kai ktemu minho sma ortunya otomatis dia bkal ktemu eommanya kan , duh jongin kuatkan hatimu , penasaran reaksi jongin kek gimana ditunggu next chapternya kka , jgan lama2 yak. fighting

  3. mongochi*hae berkata:

    heuh..
    klop sdh rasany…
    ak jengkel am minho dr soal ibu jongin nah sekarang boong soal gk dtng.tp buktiny dia dtang am ortuny lg .
    haduchhh kasian bgt jongin..

    next part dtunggu ya

  4. desi mulya berkata:

    Fyuhhh… Jongin-aa hidup mu sepertinya sangat rumit,, gabisa ngebayangin kalo jadi jongin, ibunya ninggalin dia, cewe yg dia suka jugaa. Untungnya ada krystal sama 3 temennm gila nya 😀
    Next chap ditunggu
    #fighting

  5. DO DO berkata:

    duh duh duhhh tambah klimaks aja ceritanya
    padahal minho bilang kagak maudateng, tapi datenggg, tambah ngriwetin suasana aja yaaaa, next thor…….

  6. Hanna berkata:

    Waaah..makin seruuuu…
    Suka suka sukaa 😀
    Next chapter kayakny bakal makin seru deeh.. Jongin ketemu sama Minho dan Eomma nyaa..
    Bakal makin seru ini mah..gak sabar nunggu next chapter..
    Semangat yaaa Authornim.. ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s