Selene 6.23 (Long Distance Between Us) part 11

selene new

Tittle                            : Selene 6.23 (Long Distance Between Us)

Author             : Ohmija

Main Cast        : Kim Jongin, Krystal Jung, Choi Minho

Support Cast   : Taemin, Sulli, Amber, Sehun, Jessica, Jonghyun, dll

Gnere              : Romance, School life, Comedy, Sad

Sehun membawa Kystal ke taman sekolah, agar dia bisa bicara empat mata dengan gadis itu.

“Aku melihat kalian bertengkar tadi.”ucap pria tinggi itu. Wajahnya saat itu terlihat serius, jauh berbeda dari biasanya. Krystal menatapnya lurus. “Kau salah paham. Jongin tidak bersalah.”

Gadis itu mengerutkan keningnya. Tidak bersalah apanya? Dia melihat semuanya sendiri tadi.

“Murid senior itu menyuruh kami pindah tempat secara kasar, karena itu Jongin menjadi kesal dan melempar bolanya. Jika kau mendengar kata-kata yang dia ucapkan, mungkin kau juga akan bersikap sama.”jelas Sehun. Pria itu menghela napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya. “Aku tidak tau hubungan seperti apa yang terjadi di antara kalian tapi jika aku bisa meminta sesuatu darimu, tolong jangan tinggalkan dia.”

Salah satu alis Krystal terangkat, “Kenapa?”

Sehun terdiam sejenak, “Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi di hidupnya karena dia tidak pernah menceritakan apapun padaku. Yang jelas, selama aku berteman dengannya, dia tidak pernah mau jika kami menyinggung soal ibunya. Jadi sejak itu, kami tidak pernah bertanya apapun lagi padanya karena mungkin hal itu akan menyakitinya.” Ia menjelaskan. “Aku tidak berpihak padanya karena dia temanku. Tapi, jauh sebelum kau datang, sejak kami SMP, Jongin memang sangat membenci Choi Minho.”

Mata Krystal melebar, gadis itu terlihat terkejut.

“Dia tidak pernah mengatakannya tapi aku tau jika dia menyukai seorang gadis sejak dulu. Dia seorang noona.”

“Apa namanya adalah Yoona?”tanya Krystal menyelidik.

Sehun mengendikkan kedua bahu, “Entahlah.” Kemudian ia menatap Krystal. “Jadi kau tau noona itu?”

Krystal mengangguk, “Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali.”jawabnya.

“Begitu?” Sehun bertanya lagi. “Yang jelas Mino sunbae juga menyukai wanita itu. Saat pertama kali aku masuk sekolah ini dan melihat Minho sunbae, aku pikir aku pernah melihat wajahnya sebelumnya. Dan sekarang aku ingat, aku dan Jongin pernah melihatnya jalan bersama noona itu. Aku rasa itu alasan Jongin membenci Minho sunbae.”

“Tapi dia bilang bukan.”balas Krystal cepat. Gadis itu melipat kedua tangan di depan dada. “Dia bilang dia memiliki alasan lain.”

“Apa?”

“Entahlah.” Ia mengangkat bahunya. “Bukankah kau adalah temannya? Harusnya kau lebih tau.”

“Bukankah kau adalah kekasihnya?”balas Sehun tak mau kalah.

“Aku bukan kekasihnya!”

“Terserah kalian.” Pria itu berdecak malas. “Yang jelas, tolong jangan tinggalkan dia sendiri. Walaupun kau menyukai Minho sunbae, setidaknya tolong berada di sampingnya untuk beberapa saat agar dia tidak merasa benar-benar kalah. Setidaknya, tolong berdiri di sampingnya untuk menjaga harga dirinya.”

“Kenapa aku harus melakukannya?”ketus Krystal.

“Karena sesungguhnya dia adalah pria yang kesepian.” Jawaban Sehun membuat gadis itu langsung tertegun. “Walaupun di depan dia terlihat kuat, sebenarnya dia sangat rapuh.”lanjutnya. “Aku minta tolong padamu sebagai seorang teman. Ah, tidak. Kau pasti tidak menganggapku teman. Anggap saja ini permintaan teman sekelasmu.” Kemudian pria itu mengulurkan tangan, menepuk pundak Krystal. “Tolong ya.”

***___***

 

“I don’t understand, Jess.” Krystal mendesah panjang di kursi belajarnya sementara Jessica berbaring di ranjang tidur sambil membaca majalah fashion. “Dia seperti punya dua kepribadian. Detik ini dia sangat baik tapi detik berikutnya dia kembali menjadi orang yang biasanya. Menyebalkan dan semaunya sendiri. Dia tidak pernah memberitahu alasannya padaku tapi dia selalu menyuruhku melakukan ini dan itu. Aku benar-benar tidak mengerti!”

“Mungkin dia malu.”sahut Jessica sambil terus membolak-balik majalahnya. “Alasannya membenci Minho mungkin karena wanita itu tapi dia malu mengakuinya jadi dia bilang alasannya bukan itu.”

“Jika itu benar, bukankah itu berlebihan? Kenapa dia membenci seseorang hanya karena wanita?”

“Ya!” Jessica langsung menutup majalahnya dan menatap Krystal. “Apa kau pikir itu masalah sederhana? This is about feeling, you know? Apalagi mereka berdua adalah laki-laki. Sebenarnya, laki-laki tidak sesederhana itu. Mereka juga membingungkan.”

“Then, what should I do?” Krystal mendesah panjang. “Sialnya, dia adalah teman sebangkuku.”

“Hey… hey… kau tidak bisa hanya mengingat dirinya yang menyebalkan. Bukankah karena dia, kau mendapat nilai matematika yang sempurna? Mommy bahkan sampai histeris begitu aku beritahu jika kau mendapat nilai A untuk matematikamu.” Wajah Krystal berubah cemberut. “Satu-satunya cara untuk mendekati orang seperti itu adalah kesabaran. Aku rasa dia adalah anak baik, hanya saja dia kurang kasih sayang. Kau bilang dia tinggal sendiri, kan? Pasti tidak ada yang memperhatikannya. Karena itu, dia berubah menjadi menyebalkan untuk mendapatkan perhatian dari orang lain.”

Krystal mendesah panjang, “I don’t know. Aku tidak mau membahasnya lagi.”

“Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan saat berada di rumahnya?” Krystal menoleh ke belakang dengan kening berkerut. “Kau dan dia tidak melakukan apapun, kan?”

“Hey, what are you talking about? I didn’t do anyting. And him? Oh God, he’s not my style.” Krystal menghentakkan kedua kakinya di lantai lalu meninggalkan kamarnya kesal. Sementara Jessica hanya tersenyum geli.

***___***

Dugaannya salah. Krystal pikir Jongin akan berubah keesokan harinya namun pria itu masih menjadi bongkahan es. Dia tidak mengganggunya seperti biasa, bahkan menganggap Krystal seolah tidak terlihat.

Sudah lewat empat hari dan Krystal tidak tau apa yang harus ia lakukan. Ini terasa aneh saat dia tidak melakukan apapun. Membuatnya semakin merasa bersalah pada pria itu. Apa dia benar-benar marah?

Tidak hanya Krystal, namun perubahan sikap Jongin juga di rasakan oleh teman-teman sekelas. Sebagian dari mereka beranggapan jika keduanya telah putus karena hal yang terjadi di lapangan basket waktu itu. Bahkan sebagian murid-murid perempuan menganggap Krystal adalah gadis tak tau diri yang tega menyakiti Jongin demi pria lain. Dan hari-hari berlalu, dia mulai mendapat gangguan dari haters-nya. Contohnya hari ini, seseorang memenuhi lokernya dengan sampah yang langsung tumpah ke lantai saat dia membukanya. Gadis itu hanya menghela napas panjang, tidak ada yang bisa ia lakukan selain membersihkannya sendiri. Karena percuma berteriak, tidak ada yang mau mengaku.

Sulli menghela napas panjang sambil memeriksa tampilan dirinya di pantulan cermin kamar mandi, “Ini tidak bisa dibiarkan lagi. Harusnya kau melawan mereka. Mereka sudah benar-benar keterlaluan!”

Di sampingnya Amber menyahuti, “Ku dengar, Jongin tidak datang ke klub sepak bola walaupun dia sudah mendaftar.”ucapnya pelan. “Dan lagi-lagi, semua murid beranggapan jika alasan Jongin tidak datang ke klub sepak bola karena dirimu. Karena hubunganmu dan Minho sunbae.”

“Oh Tuhan, aku sudah tidak tahan lagi. Apa mereka ingin menjadi penulis? Mereka pintar sekali mengarang cerita. Menyebalkan!”omel Sulli kesal. “Ya, Jung Soojung, apa kau masih mau diam seperti ini? Bukankah seharusnya Jongin melindungimu? Dia kan kekasihmu!”

Krystal hanya menghela napas panjang, “Sudahlah. Aku tidak ingin membahasnya.”

***___***

 

Gadis itu seketika terkejut saat sebuah benda dingin menyentuh pipinya tiba-tiba. Ia memegangi pipinya sambil mendongak, pada seorang pria yang kini duduk di sampingnya. Sambil menatapnya, pria itu tersenyum.

“Kenapa kau melamun?”tanyanya sambil memberikan sekaleng soda pada Krystal.

“Oppa…”seru Krystal sambil menerimanya. “Oppa mengagetkanku.”

“Hehehe maafkan aku. Itu karena aku melihatmu melamun.”serunya. “Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Huh?” Gadis itu mengerjap lalu menggeleng, “Tidak ada.”jawabnya sambil membuka penutup kaleng.

“Jangan bohong. Terlihat jelas dari wajahmu jika kau sedang memikirkan sesuatu.”

“Apa benar-benar terlihat?”

Minho mengangguk, “Iya.”jawabnya yakin.

Krystal hanya menjawabnya dengan senyum. Gadis itu meneguk sodanya sambil mengembalikan pandangan ke depan.

“Aku sudah mendengar beritanya.”ucap Minho pelan. Krystal kembali menoleh. “Maafkan aku.”lanjut priai tu. “Pasti kau telah mengalami masa-masa yang sulit selama beberapa hari ini. Iya kan?”

Krystal tersenyum, “Sedikit.”

Minho mengulurkan tangan, mengacak rambut Krystal, “Maafkan aku.”

“Aku akan memaafkan oppa jika oppa memberitahuku yang sebenarnya antara oppa dan Jongin.”

Pria itu terdiam sejenak, “Sebenarnya itu hanya salah paham.” Ia tertawa kecil, namun Krystal tau jika tawa itu jenis tawa yang di paksakan. “Masalah sepele yang terjadi ketika kami masih anak-anak. Bukan masalah penting.”

“Apa oppa tidak bisa menceritakannya padaku?”tanya Krystal lagi, sedikit mendesak.

Minho kembali tertegun, ia menatap gadis itu lurus, “Dia menyukai mantan pacarku. Seorang noona yang ku ceritakan padamu waktu itu.”

“Apa hanya itu?”

“Iya.” Angguk Minho. “Hanya masalah sepele, kan?”

Krystal tersenyum tipis. Kenapa ia merasa jika Minho tidak mengatakan alasan yang sebenarnya? Jongin pernah mengatakan jika kebenciannya pada pria ini tidak sesederhana itu. Bukan karena Yoona. Tapi kenapa Minho mengatakan jika alasannya hanya itu?

“Yang jelas, aku memintamu untuk menjauhinya demi kebaikanmu.” Pria itu kembali bersuara. “Dia mendekatimu karena dia tau jika kau dekat denganku. Dia hanya ingin balas dendam. Aku tidak mau dia menyakitimu jadi aku minta kau menjauhinya.”

Beberapa saat tertegun, akhirnya Krystal tersenyum tipis, “Oppa tidak perlu khawatir.”

Minho balas tersenyum, kembali pria itu mengacak puncak kepalanya, “Kita sudah tidak pernah pulang bersama lagi. Bagaimana hari ini jika kita pulang bersama? Aku akan menjemputmu nanti.”

Krystal mengangguk, “Baiklah. Aku akan menunggu oppa nanti.”

Sementara lewat jendela kaca kelas, sejak tadi seseorang memperhatikan keduanya. Raut wajahnya mengeruh. Gadis itu tersenyum lebar, sebuah senyum yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Dia terlihat bahagia.

***___***

 

Ketika bel pulang berbunyi, Jongin langsung meraih tas ranselnya dan meninggalkan bangku. Di susul teman-temannya yang langsung mengapitnya di kiri dan kanan. Krystal menghela napas panjang. Tidak, begini lebih baik. Karena dia tidak akan di ganggu lagi. Lagipula, ucapan Sehun tidak sepenuhnya benar. Dia tidak kesepian karena dia memiliki teman-teman yang akan selalu menemaninya. Dia tidak perlu merasa bersalah lagi.

“Soojung-ah.”

Krystal menoleh, Minho telah berdiri di pintu kelas sambil melambaikan tangan.

“Kau pulang bersama Minho oppa?”tanya Sulli menghampiri mejanya.

Krystal mengangguk, “Eum. Tidak apa-apa, kan?”

“Tentu saja.” Kemudian gadisi tu membungkuk, berbisik padanya. “Jangan lupa gunakan kesempatan ini. Buang Jongin jauh-jauh dan tangkap Minho oppa.”

Krystal langsung memukul gadis itu pelan, “Ya, apa yang kau bicarakan?”serunya malu. “Kita bertemu besok, oke? Aku pulang dulu. Amber, see you soon.”

“Okay take care.”

Gadis itu melangkah keluar, menghampiri Minho. Hari itu, mereka tidak akan naik bus di halte yang ada di dekat sekolah. Namun Minho mengajak Krystal untuk berjalan kaki sebentar karena rasanya sudah lama dia tidak berbincang dengan gadis itu.

“Aku mendengar beberapa hal buruk tetangmu, apa kau baik-baik saja?”tanya pria tinggi itu berjalan di samping Krystal.

“Aku tidak memperdulikan soal itu.” gadis itu tersenyum. “Oppa tidak perlu khawatir.”

“Maafkan aku. Karena aku, kau menjadi sasaran murid-murid lain.” Ia menatap sisi wajah Krystal sarat penyesalan. “Apa mereka melukaimu?”

Krystal menggeleng, “Tidak. Mereka hanya menjahiliku sedikit.”

Minho masih menatap gadis itu menyesal, “Aku tidak bisa melindungimu karena aku tidak berada di kelas yang sama denganmu. Aku tidak tau apa yang mereka lakukan padamu juga tidak tau apa mereka melukaimu atau tidak. Jadi maafkan aku.”

Krystal tertawa, “Kenapa oppa terus-menerus minta maaf? Aku benar-benar tidak apa-apa. Aku tidak terluka dan aku tidak terlalu perduli dengan hal itu. Oppa tau? Aku adalah gadis yang keren.”

Mendengar itu, Minho juga ikut tertawa. Ia mengacak puncak kepala Krystal, “Baguslah. Aku lega jika kau benar-benar tidak terluka.”

***___***

 

Keesokan paginya, Sehun tiba-tiba menghadang langkah Kristal yang akan masuk kelas. Pria itu mengangkat kaki kanannya dan menapakkannya di sisi pintu hingga gadis itu tidak bisa masuk.

Krystal menatapnya dengan kening berkerut, “Apa ini?”

Pria itu menurunkan kakinya, sambil memasukkan kedua tangan di dalam saku celananya, ia menatap Krystal lurus.

“Apa kau bodoh?”

Pertanyaannya sontak membuat Krystal langsung kesal, “Mwo?!”

“Apa kau tidak mengerti dengan yang aku katakan padamu beberapa hari lalu? Kau benar-benar akan bersikap seperti ini?”

“Ya, apa maksudmu?”ketus Krystal.

“Aku hanya memperingatkanmu.”balas Sehun, nadanya terdengar dingin. “Mulai sekarang aku juga tidak akan perduli lagi padamu. Jadi jangan menyesal nantinya.”

“Ya Oh Sehun! Apa yang kau lakukan di depan pintu?” Tiba-tiba Sulli muncul. Ia menatap Sehun dengan kedua tangan terlipat di depan dada. “Kau menghadang temanku?!”

“Apa aku bicara padamu?”balas Sehun membuat Sulli seketika terkejut. Kenapa dia tiba-tiba berubah menjadi kasar?. “Aku tidak bicara padamu jadi jangan ikut campur!”

“Oh astaga.” Melihat pertengkaran yang terjadi di depan pintu kelasnya, terlebih lagi ia melihat mata tajam Sehun yang seakan hendak memakan dua gadis itu, Taemin langsung berlari menghampiri mereka. Pria itu menahan tubuh Sehun.

“Hey.. hey… ini masih pagi. Kenapa kau marah-marah pada mereka?” ia mencoba membujuk Sehun. Kemudian Taemin mengalihkan pandangannya pada Krystal dan Sulli, “Cepat masuk ke dalam.”suruhnya.

“Lepaskan aku.” Sehun mendorong Taemin kesal. “Ternyata kau sama saja.”

***___***

 

Siang harinya, ketika bel istirahat berbunyi. Krystal, Sulli dan Amber bergegas pergi ke kantin. Namun begitu mereka membuka pintu kelas, tiba-tiba sebuah penghapus terjatuh tepat di kepala Krystal membuat sebagian kepalanya berubah menjadi putih karena remah-remah kapur tulis.

“Ya ampun!”jerit Sulli terkejut. “YA! Siapa yang melakukannya?!”teriaknya pada seluruh teman sekelasnya. “Yeri! Kau yang melakukannya?!”

“Kenapa kau menuduhku?”balas Yeri kesal lalu berjalan keluar melalui pintu lain.

“Lalu, Yooa! Itu kau?!”

“Kenapa kau menyalahkan orang lain? Harusnya kau tanyakan itu pada temanmu. Itu pasti karma atas perbuatannya.” Yooa justru mencibir dan pergi keluar kelas.

“Ya! Dasar brengsek.”

“Sulli.” Krystal langsung menahan lengan sahabatnya itu. “Sudahlah. Aku tidak apa-apa.”

“Jongin, ayo. Aku sudah lapar.” Terdengar suara ajakan Sehun. Jongin berdiri dari duduknya kemudian berjalan bersisian dengan sahabat-sahabatnya yang lain melewati pintu yang berada di dekat papan tulis.

Melihat sikap Jongin yang seolah-olah dia tidak melihat yang sedang terjadi, membuat Sulli semakin merasa kesal, “Dasar. Apa dia tidak punya mata?! Bukankah seharusnya dia mencari pelakunya?!”

“Sulli…” Krystal menghusap pundaknya lembut. “Aku tidak apa-apa. Sebaiknya kalian pergi ke kantin lebih dulu. Aku akan menyusul setelah membersihkan ini.”

***___***

 

Bukankah seharusnya dia merasa senang? Dia sudah tidak di ganggu lagi dan dia sudah bisa bertemu dengan Minho kapan saja. Bukankah ini adalah keberuntungan?

Tapi… Bukankah dia sudah mulai bisa memahami pria itu? Beberapa hari lalu, mereka baru saja mengerjakan PR dan mengobrol. Mereka bahkan makan telur gulung bersama. Beberapa hari lalu, bukankah dia sudah melihat sisi lain dari pria itu?

Sekarang, saat dia kembali menjadi sosoknya yang dulu, itu terasa sedikit aneh. Karena dia sudah mengetahui bagaimana sosok sebenarnya pria itu.

Apa ucapannya waktu itu benar-benar menyakitinya? Apa dia masih marah?

Krystal menghela napas panjang memikirkannya. Setidaknya, mereka bisa menjadi teman baik.

Berjalan melewati koridor, tanpa sengaja Krystal melihat Jongin sedang memasukkan barang-barangnya ke dalam loker. Ini kesempatan! Namun, baru saja akan melangkah menghampirinya, Jonghyun muncul dan merangkul pundak pria itu.

Hal yang sama ia lakukan keesokan harinya. Ketika dilihatnya Jongin sedang duduk sendiri di bangku taman, lagi-lagi seseorang muncul entah darimana untuk menggagalkan niatnya. Kali ini seorang gadis. Yah ia tau gadis itu, namanya Seojung, murid dari kelas sebelah. Tapi… kenapa keduanya terlihat akrab? Bagaimana bisa dia dengan cepat menemukan pengganti padahal baru saja putus? Dasar playboy!

Akhirnya Krystal menyerah. Ia menjatuhkan di kursi halaman belakang sekolah dengan helaan napas panjang.

“What’s wrong?”

Gadis itu membuka mata, mendapati Amber sudah berdiri di depannya.

“You look not good.”

“Yeaah, a bit.”

“Jongin?”tebak Amber tepat.

Krystal menatapnya, lagi-lagi dengan helaan napas panjang, “Apa aku benar-benar sudah melakukan kesalahan? Kenapa semua orang menyalahkanku?”

“Jadi benar? Karena Jongin?” Amber tersenyum geli melihat raut wajah murung Krystal. “Itu karena kau pacaran tiba-tiba dan putus tiba-tiba juga. Kau bahkan tidak pernah memberitahuku dan Sulli jika kau berkencan dengan Jongin.”

“Karena itu… hanya sebuah kecelakaan.”

“Kecelakaan?”

“Yeaah, kecelakaan yang membuatku harus berkencan dengannya.”

“Jadi selama ini kau tidak menyukainya?”

Krystal langsung tertawa, “Hahaha ayolah. Mana mungkin aku menyukai pria menyebalkan itu.”

“Lalu kenapa sekarang kau memikirkannya?”

“Aku hanya merasa bersalah.” Kembali ia mendesah panjang. “Dia tiba-tiba mendiamkanku. Bahkan sudah hampir sepuluh hari ini tidak mengajakku bicara sama sekali.”

“Mungkin dia cemburu karena kau dekat dengan Minho sunbae.”

“Tidak mungkin!”elak Krystal. “Jika saja kau tau sikapnya terhadapku. Dia sama sepertiku, tidak punya perasaan.”

“Lalu kenapa kalian berkencan?”

“Sudah ku bilang karena kecelakaan.”jawab Krystal mulai gemas. “Ah, aku benar-benar kesal.”

“Kau gelisah karena dia mengabaikanmu? Atau kau merasa berbeda karena tidak ada yang mengganggumu lagi?”

Pertanyaan Amber barusan sontak membuat Krystal terdiam sesaat. “Aku…. Gelisah?”

“Yah, sikapmu menunjukkan jika kau sedang gelisah sekarang.”

“Haha tidak mungkin.” Gadis itu lantas berdiri dari duduknya. “Sudahlah. Aku masuk dulu.”

***___***

 

Tidak… dia tidak gelisah. Mana mungkin? Dan untuk apa dia gelisah? Dia bahagia sekarang. Sangat bahagia!

“Ya! Apa yang kau lakukan!? Rotinya hangus!” Suara Jessica tiba-tiba mengagetkan Krystal yang sejak tadi melamun di depan mesin pembakar roti.

“Oh ya ampun.” Krystal tersadar dan buru-buru menekan tombol off.

“YA! Apa yang sedang kau pikirkan sebenarnya, huh? Kemarin kau hampir membakar dapur sekarang kau membuat roti hangus!” omel Jessica sambil mengeluarkan roti dari mesin.

Krystal menghembuskan napas panjang, “Sorry.”serunya pendek sambil berbalik pergi.

“Jika kau mencemaskannya! Cepat temui dia! menyebalkan!”

“What?!” Krystal yang tadinya sudah menghilang, tiba-tiba muncul kembali begitu mendengar ucapan Jessica. “Aku tidak mencemaskannya!”

“Yah, teruslah berbohong padaku.”

“Aku memang tidak mencemaskannya. Jangan menebak isi hati orang lain sembarangan!”

“Kau pikir semua akan selesai jika kau diam saja?! Cepat temui dia dan minta maaf! Jika tidak, mungkin kau akan menghancurkan rumah ini besok!”

“Sudah ku bilang aku tidak cemas!” Krystal menghentakkan kedua kakinya ke lantai kesal. “Jangan sok tau!”

***___***

 

Dia mengatakan jika dia tidak perduli namun di sanalah dia sekarang…

Baru saja turun dari sebuah taksi dan menatap ke arah bangunan tua itu. Rumah Jongin.

“Apa yang sedang aku lakukan disini?”rutuknya uring-uringan. “Aaaah, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?”

“Oh? Bukankah kau gadis yang waktu itu kemari?” Tiba-tiba suara seseorang terdengar.

Krystal menoleh, terdapat dua orang pria sedang berjalan kearahnya. Gadis itu lantas membungkuk sopan, “Annyeonghaseo, aku ingin…”

“Ternyata kau benar-benar cantik.” Salah seorang pria mengulurkan tangan, hampir menghusap pipi Krystal namun gadis itu buru-buru mundur.

“A-apa ini? Apa yang mau kalian lakukan?”

“Siapa yang ingin kau datangi? Aku tidak menyangka jika gadis cantik sepertimu punya teman yang tinggal di tempat ini.”seru pria itu. “Aku tidak mempermasalahkan itu. Hanya saja, jika kau ingin berkunjung, kau harus lapor pada kami dulu.”

Pria itu kembali mengulurkan tangan, hendak menghusap wajah Krystal dan lagi-lagi gadis itu mundur.

“Kalau begitu, aku akan pergi dari sini. Sampai jumpa”

“Ya.” Pria itu menahan lengan Krystal dan menariknya ke belakang. “Kau pikir kau mau pergi kemana? Kau harus temani kami lebih dulu.”

“PERGI!” Krystal mendorong tubuh pria itu kuat lalu melarikan diri.

Oh Tuhan… Selamatkan aku…

TBC

 

 

 

 

 

 

7 thoughts on “Selene 6.23 (Long Distance Between Us) part 11

  1. ellalibra berkata:

    Soojung cari mati …knp dy ada dstu sndrn ……… Jongin km dmn??cpt dtg tolongin soojung🙂 hehe……

  2. DO DO berkata:

    kirain kai bakalan nolongin di part ini, tau taunya udah tbc ajaaaaa thorrr, jadi greget sendiriii.
    padahal kan krystal tau daerah rumah jongin itu bahaya
    tetap ditunggu sangat kelanjutan ceritanya thorrr FIGHTING!!!!!

  3. han berkata:

    wae ? knapa hrus ada tulisan tbc nya coba, greget bnget kan jdinya..
    semoga saja kai jdi pahlawannya soojung nanti ..
    ditunggu next chapternya kaka, 3 hari lg yeth..😀 hwaiting

  4. Oh Secca berkata:

    baca ini kaya nonton drama korea, bikin greget. Masih ada rahasia di antara jongin dan minho. semoga jongin cepet datang ngelindungin krystal. di tunggu next chap nya .

  5. mongochi*hae berkata:

    ayo jongggg
    selamatkan soojung dan selesaikan masalah kalian..
    hnn ak penasaraan dg masa lalu minho -jongin shingga mereka jd kya gini
    next part dtunggu ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s