Gloomy [You Broke My Heart]

cover-705-copy-2

 

Author : Clarissa Hwang

Cast : Oh Jihyun, Xi Luhan

Genre : Hurt, Sad

Lenght : Oneshoot

Rating : PG17

Summary : Saat Jihyun merasa semuanya gelap dan suram. Hatinya yang sudah hancur tak terbentuk seperti mati. Maka keputusasaannya untuk segera bangun dari semua mimpi buruk ini, memenjarakan dirinya dalam kehampaan.

CATATAN AUTHOR : “HAI PERKENALKAN AKU CLARISSA HWANG, KU BARU SAJA TERJUN KE DUNIA BLOG DENGAN HOBIKU YAKNNI MEMBUAT FICTION. AKU PUNYA BLOG JUGA, HTTPS://VIVIFAIRYTALE.WORDPRESS.COM SILAHKAN JIKA KALIAN INGIN BERKUNJUNG. THANK YOU”

***

My Nightmare, If I Can Loss You. But… – Jihyun

 

Empty House, Empty Heart, Without You, I Lost – Luhan

 

***

 

Hatimu bukanlah lagi sepenuhnya milikku.

Karena aku sendiri merasakannya. Hatimu perlahan beralih, cintamu yang terang semakin redup dari waktu ke waktu. Senyumanmu tidak lagi untukku, dan pandanganmu pun bukan hanya tertuju padaku seorang. Ada wanita lain yang kerap kali menghantui pikiranmu.

Aku bisa melihatnya.

Dadaku terasa begitu nyeri dan sesak. Sikapmu padaku yang perlahan berubah. Kau seorang yang asing bagiku. Dimana pikiranmu sekarang sayang? Aku berada disini. Aku didepan dan hadapanmu. Biasanya kau akan membicarakan banyak bersamaku. Kau akan menggodaku dan membuatku tersipu karenanya. Tapi, kau sedang duduk dihadapanku, mengaduk secangkir coffee late yang baru saja kau pesan tanpa meminumnya, menatap adukanmu itu tanpa memperdulikanku, dan samar-samar kau tersenyum.

Aku ingin menangis.

Mengatakan padamu mengenai kegundahan dan kesakitan dalam hatiku. Tapi aku terlalu takut. Takut bila nantinya justru aku akan kehilangan dirimu. Mataku memanas, dengan segera aku memejamkannya berharap agar tiada bulir bening yang keluar. Lalu aku. Menatapmu dengan senyuman termanis yang kumiliki

“Luhan, kau tidak ingin meminumnya?”

Kau menoleh, dan memandangku. Seketika sebuah bambu runcing seperti menancap dihatiku. Sorot matamu tidak dapat membohongiku, tatapanmu bukanlah tatapan cinta yang biasa kau berikan padaku.

“Ku lihat sedari tadi kau terus mengaduknya… ada yang kau pikirkan?”

“Tidak, aku tidak memikirkan apapun. Ah, aku harus ketoilet sebentar”

Kau bangkit dari dudukmu lalu pergi. Lagi. Ini bukan dirimu sayang. Jelas kau menghindariku. Raga mu ada bersamaku, tapi pikiranmu seolah melekat pada yang lain.

Aku merasakan meja bergetar. Ponselnya berdering. Ia meninggalkan ponselnya. Hatiku semakin perih mengingat sudah hampir berapa lama ini ia tak membiarkanku memegang ponselnya. Aku tahu, aku tidak bodoh. tapi aku hanya takut.

Perlahan ku raih ponselnya. Sebuah pesan. Ponselnya terkunci dan aku tak tahu apa kata sandinya. Selama ini, selama kami menjalin hubungan, ia tak pernah sekalipun mengunci ponselnya. Aku mendesah, kutaruh kembali ponselnya. Tak lama setelah kutaruh, ponsel itu justru kembali bergetar.

Penting sekali kah?

Aku melihat Luhan telah berjalan ke arah sini. Ia kembali duduk dan segera meneguk minumannya. Ia memperhatikan piring macaroni kejuku yang telah kosong. “Kau sudah selesai?”

“Aku sejak 15 menit yang lalu sudah selesai, sayang… hanya saja kau terus melamun dan tersenyum tidak jelas”

Raut wajahnya menjadi terkejut. Ia sedikit gelagapan. Hingga ponselnya berdering. Dering nada ponsel yang tidak biasa. Ini sama sekali bukan seperti dirinya.

“Aku angkat telepon lebih dulu”

Aku tahu sayang. Sangat tahu jika yang menelponmu adalah seorang wanita yang mampu membuatmu berpaling dariku. Lagi, aku tidak bodoh. aku tahu kau memiliki wanita lain sayang.

Tanpa sadar sama sekali, air mataku turun. Aku tidak bisa menangis disaat seperti ini. aku tidak boleh. Segera mungkin kuhapus air mataku. Kutatap punggung kokohmu, bahumu yang lebar dan tegap selalu menjadi tempatku bersandar. Kini kau berbalik dan melangkah kearahku. Matamu yang indah selalu membuatku terus menatapmu. Hidungku tiada guna jika kau tidak berada didekatku, itu yang pernah kau katakan, kau ingat? Bibir itu, yang selalu mengucap kata-kata penuh cinta ditelingaku setiap malamnya. Tangan kekar yang selalu mampu membuatku merasa nyaman dan hangat, seolah menjadi es saat ini. kau pernah mengatakan padaku juga, jika tiada diriku, apa gunanya kedua tangan yang kau miliki.

“Jihyun, ayo kita segera pulang. Aku ada sedidkit urusan dikantor” ucapmu sembari memanggil pelayan.

“Tidak bisakah kau menemaniku lebih lama lagi? Kau sudah jarang menghabiskan waktu bersamaku padahal kita tinggal diatap yang sama”

Luhan menatapku. Datar. Tidak ada perasaan apapun dalam tatapanmu. “Aku minta maaf, tapi aku sibuk”

Setelah mengeluarkan lembaran uang dari dompetnya. Ia pergi meninggalkanku yang masih duduk disini. Luhan, kenapa kau seperti ini? apa aku ada salah terhadapmu huh? Aku menunggumu meminta maaf karena penghianatanmu, bukan karena kau yang tiada waktu untukku.

Kisah kita semakin suram sayang. Tak tahukah kau? Aku tahu ada wanita lain dihatimu. Aku tahu sangat tahu. Walau ku tak tahu siapa wanita yang berhasil menjeratmu. Aku selalu disini dengan perasaan cintaku yang tidak pernah berubah. Menunggumu kembali padaku dengan perasaan cinta seperti dulu.

“Kau malam ini tidurlah lebih dulu, tidak perlu menungguku. Aku akan pulang larut” ucapnya ketika mobilnya telah berhenti didepan rumah kami.

Aku mengangguk dan segera turun. Aku berjalan memasuki rumah kami.

Empat tahun lamanya kami bersama, setahun yang lalu kami menikah. Pernikahan yang kala itu begitu indah kini seperti tiada artinya lagi. Pernikahan yang awalnya dimulai dengan warna-warna indah, kini terlihat suram. Tiada cintanya, yang ada hanya cinta sia-sia ku padanya.

Aku duduk merenung didalam ruangan ini. ruangan dengan dominasi putih bersih. Jika ia memiliki ruangan kantor dirumah ini, maka aku memiliki ruangan pribadiku. Kutatap sebuah figura besar foto pernikahan kami. Aku masih begitu ingat bagaimana dengan lantangnya ia mengucap janji suci pernikahan kami. Janji yang kini diingkar olehnya.

Aku kemudian melirik gaun putih selutut dengan renda senada yang manis dibagian pinggul. Hadiah ulang tahunku sepuluh bulan yang lalu.

Luhan kemana dirimu yang dulu? selama lima bulan ini, apa yang kau lakukan bersama wanita itu? Apa yang membuatnya menarik perhatianmu? Apa yang membuatmu berpaling padanya?

Aku menagis…

Aku berteriak sebagaimana rasa didadaku membuncah. Aku tidak bisa menerima begitu saja penghianatan Luhan. Tapi, aku juga sangat tidak bisa menerima Luhan berpaling dan meninggalkanku. Itu ketakutan terbesarku, itu mimpi burukku.

“Bisa saja ia meninggalkanmu”

Yah benar, Lyu sahabatku. Tempat dimana aku sering berkeluh kesah pernah mengatakan. Bisa saja suatu hari nanti Luhan meninggalkanku. Dan jika itu terjadi, aku harus menerimanya walau sulit. Tapi aku tdiak bisa menerima itu. Katakan saja egois!

Aku berheni dan menatap sebuah cermin besar diruangan ini. aku melihat diriku. Kacau. Aku sangat kacau. Sejak kapan wajahku bisa sekacau ini? dan sejak kapan pipiku mulai tirus? Luhan dulu suka mencubit pipiku yang berisi dan chuby. Ia bilang pipiku menggemaskan…

Tidak! Aku semakin merasakan nyeri luar biasa didadaku. Membayangkan seandainya tangan lembut Luhan juga melakukan hal yang sama pada wanita itu. Sungguh, aku seperti kehilangan akal sehatku. Aku menangis dan terus menangis…

Hingga kuputuskan menelpon seseorang yang sangat kupercaya.

***

Sudah tengah malam. Aku bisa mendengar pintu rumah berderit. Aku menghampiri Luhan yang kini terlihat letih. Dia melihatku dan terkejut. “Kau belum tidur? Sudah kukatakan untuk jangan menungguku bukan?”

“Tidak. Aku terbangun tadi karena haus, lalu kau pulang-”

“Kau habis menangis?”

Aku terdiam. Bukan, bukan karena kusenang dia memperhatikanku. Tapi nada bicaranya seolah mencemoh diriku. Aku menggeleng dan membantunya melepas jas beserta dasi yang menyulitkan dirinya.

“Aku ingin mandi dahulu”

Ia meninggalkanku diruang tengah ini sendirian. Tidak. Ia benar-benar bukan Luhanku. Aku meremas jasnya, dan kusadari ada aroma lain. Aroma parfum wanita. Aroma ini begitu familiar untukku tapi aku tidak bisa mengingatnya. Luhan? Kau baru saja bersama wanita itu bukan?

Berapa banyak lagi luka yang ingin kau buat dihatiku, Luhan?

***

“Nyonya, anda tengah hamil. Kandungan anda berusia tiga minggu”

Pernyataan dokter itu membuatku semangat dan sangat bahagia. Aku memiliki bayi? Aku dan Luhan akan menjadi orangtua!

Luhan, aku yakin kau pasti sangat senang. Luhan, kuharap kau akan sangat bahagia. Kau juga akan meninggalkan wanita itu untukku. Untuk anakmu juga bukan?

Aku memanggil taxi, bergegas pergi kekantor dan memberitahunya pada Luhan. Aku membuka ponselku, aku bergegas menelpon Lyu, sahabatku. Ia juga bekerja diperusahaan yang sama dengan Luhan.

Nada tersambung, dan dari seberang sana aku mendengar suaranya. “Hallo?” jawabnya dengan suara sedikit aneh.

“Hallo Lyu? Vu, kau harus dengar! Tebak aku-”

Jihyun, maaf aku sibuk sekali..” ucapnya gantung. Tapi dari sini aku bisa mendengar suara napasnya. Apa dia sakit? “Nanti saja ya? Seisi kantor sangat sibuk

“Oh, baiklah…”

Telepon ditutup. Jika Lyu bilang begitu bukankah Luhan juga sama sibuknya? Apalagi Luhan adalah atasan Lyu. Luhan akan lebih sibuk dibanding Lyu. Ah siapa peduli? Aku tetap akan menemui Luhan. Luhan harus jadi orang pertama yang mengetahuinya.

Aku masuk kedalam gedung tinggi yang mewah ini. Tanpa harus tanya bertanya, segera aku melangkahkan kaki menaiki lift. Di lantai 7. Tempat dimana ruangan Luhan berada.

Lyu mengatakan, jika kantor sangat sibuk. Tapi sejak tadi, karyawan disini sangat sedikit. Tidak, bahkan hanya beberapa. Apa mereka sedang meeting? Atau sedang bersibuk diri diruangan masing-masing?

Tiba-tiba saja perasaanku tidak enak.

Lift sampai dilantai 7. Aku keluar dan berbelok kearah kiri. Ruangan Luhan dan Lyu sama. Jadi aku tidak repot mengunjungi keduanya. Tapi aneh, sejak tadi tiada karyawan lain dikantor ini. ruangan-ruangan itu kosong. Masih siang, dan sudah lewat satu jam waktu makan siang.

Pintu ruangan Luhan terbuka, aku semakin cepat berjalan kesana. Hingga aku mendengar sebuah suara, suara aneh yang sudah kutahu persis apa itu. Kubuka sedikit celah pintu ruangan Luhan. Dan kuyakin, saat ini aku seperti tidak menapak pada tempatnya. Luhan,

“Luhan..” lirihku pelan, sangat pelan.

Dalam pandanganku, dalam penglihatanku. Ku lihat suamiku sendiri tengah sibuk berkegiatan bersama wanita lain. Pakaian keduanya sudah tidak lagi rapi. Suara menjijikan itu lolos dari bibir wanita itu. Wanita yang tengah dimainkan suamiku.

Sahabatku sendiri…

Apa ini? mereka menghianatiku? Lyu? Sahabat ku? Luhan?

Sejak kapan? Sejak kapan ini terjadi? bukankah Lyu yang selama empat bulan ini sebagai tempat keluh kesahku? Dia selalu bilang jika ia mengawasi Luhan. Ia bilang jika Luhan memang sangat sering pergi keluar kantor seperti menemui seseorang. Dan semua itu dusta?

Rasa sakit ini begitu membuncah.

Aku bersembunyi dibalik tembok ini, masih dengan mendengarkan seluruh ucapan juga desisan cinta yang mereka katakan satu sama lain. Aku menggigit bibirku. Semuanya, sangat menyakitkan. Aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa untuk sekarang ini. menghampiri keduanya lalu menampar mereka dan memaki mereka? Atau menyeret wanita jalang yang sialnya adalah sahabatku didepan umum? Atau merebut Luhan dan menyeretnya kembali dalam pelukanku? Sayangnya aku hanya bisa berdiam diri dengan tangisku. Masih terus mendengar semua kata-kata cinta yang mereka ungkapkan.

Kata-kata yang Luhan juga sering ucapkan padaku.

“Kau mencintaiku, Lu?” suara Lyu,

“Menurutmu? Tentu saja sayang, aku mencintaimu”, panggilan yang biasa ia berikan padaku kini ia lontarkan juga paa wanita itu. Sahabatku sendiri. Ini menyakitkan. Nada ucapan yang penuh cinta. Itu membuatku semakin mati rasa. Tidakkah kau membuatku menderita terlalu lama? Kenapa kaki bodoh ini tidak mau beranjak dari tempat ini?

“Kapan kau akan menceraikannya, Lu?”

Pertanyaan itu membuatku tertohok. Cerai? Luhan akan meninggalkanku begitu? Kenapa, dia begitu tega padaku?

“Secepatnya, aku sudah pernah mengatakannya padamu sayang…”, lagi. Kau membuat lubang dihatiku semakin menganga Luhan! “Dan coba lihat apa ini”

“Cincin! Astaga Lu! Kau, melamarku?”

“Benar, aku ingin memilikimu. Aku mencintaimu. Dan apa lagi yang pantas disebut lamaran ketika kau memberi cincin pada seorang gadis?”

“Tapi Lu, Jihyun..”

“Aku akan menceraikannya, kemudian kita akan menikah”

Dadaku sakit. Luhan, setega itukah? Lalu selama ini aku siapa bagi dirimu? Cinta yang keluar dari mulutmu tidak dapat kupercaya. Kau mengingkari janji yang kau buat dengan Tuhan. Kau akan menceraikanku, lalu menikah dengan sahabatku?

“Luhan!” teriakku pada mereka berdua yang kini memeluk satu sama lain. Keduanya terkejut dan gelagapan. Seketika rasa penyesalan tergambar diwajah mereka. Cih! Memuakkan.

“Jihyun, ini.. tidak, bukan, aku”

“Stop Mr.Xi” ucapku yang membuat Luhan membelalakan matanya. Aku memang tidak pernah memanggilnya dengan sebutan ini. tapi kuyakin, selama 7 tahun bersamaku, ia pasti mengerti maksud dari panggilanku.

“Simpan semua ucapan omong kosong kalian!” aku membentak. Penampilanku pasti sangat menyedihkan sekarang. Aku benar-benar menyedihkan. Sangat. Ku palingkan mataku menatap Lyu. Sahabat wanita yang selama ini kupercaya dan kusayangi.

Cantik. Sangat cantik tapi sayangnya kecantikannya terlihat busuk dimataku. Pantas saja ia sering menasehatiku untuk selalu kuat dan siap jika Luhan akan meniggalkanku. Nyatanya dia yang merebut Luhan.

“Kau!”, aku mengacungkan jari telunjuk ku kearah Lyu. Kulihat ia terkejut. Matanya bahkan memerah. Tapi maaf, aku tidak ada rasa iba padamu. “Aku menganggapmu sebagai sahabat terbaikku. Aku mempercayaimu, sangat. Kau selama ini adalh tempatku berkeluh kesah, bagiku kau lebih dibanding itu. Aku mengakuimu sebagai saudariku! Dan kini kau berbuat itu semua padaku? aku bahkan pernah rela melepas seorang yang nyatanya mencintaiku dengan begitu tulus. Demi dirimu yang menyukainya. Lalu aku menikah dengan pria ini. pria yang tidak bisa menjaga janji sucinya yang ia ucap dari mulutnya sendiri!”

“Hyun aku-”

“Jangan sebut namaku!” teriakku. Ia begitu terkejut hingga melangkah mundur kebelakang. “Jangan sebut namaku dengan mulut kotormu itu! Dulu, aku selalu mementingkan dirimu. Kau menyukai Jongin, aku melepas Jongin yang mencintaiku demi mengabulkan permohonanmu. Lalu, Yifan. Dia yang bahkan hingga hari ini masih mencintaiku pun aku abaikan demi dirimu yang jatuh hati padanya. Kau tahu? Sebelumnya aku mencintai mereka berdua juga! Dan sekarang, kau bahkan merebut suamiku sendiri! Lalu dengan brengseknya kau menanyakan kapan aku diceraikan! Dasar wanita jalang!”

“Jihyun! Hentikan!” bentak Luhan padaku, tapi aku tidak peduli. Aku kembali menatap Lyu didepanku yang menangis.

“Kau benar-benar jahat padaku. kenapa kau lakukan ini padahal aku menganggapmu sahabatku. Aku mempercayaimu dan kau gunakan kepercayaanku untuk menusuk diriku! Selama empat bulan ini kau bahkan menjadi seorang yang paling tahu akan isi hatiku! Kau! Apa karena kau menyukai Luhan maka dari itu kau bekerja disini? Dan kau mulai mengubah tampilanmu? Demi menggoda suamiku? Huh! murahan” aku memandangnya remeh, rasa dalam hatiku belum puas aku masih ingin mencaci maki dirinya. Hingga ia mendongak dan menatapku tajam. Ku balas dengan tatapan tak kalah tajamnya.

“Jika aku wanita jalang, lalu kau apa? wanita menyedihkan!”

Aku membelalakan mataku. Apa?

“Kau tahu? Setiap pria yang ku suaki akan selalu melirikmu. Padahal ada aku didekatmu. Aku lebih segalanya dibandingkan dirimu! Tapi mereka hanya memandangmu saja. Lalu Luhan. Kau tahu? Sejak pertama kali bertemu dengan Luhan, aku sudah sering memperhatikannya. Aku menyukainya! Hingga saat itu kau dengan senangnya mengatakan akan menikah dengan Luhan! Kau tidak lihat bagaimana aku memendam kesakitan itu!” Lyu melangkah maju, kini ia berdiri tepat dihadapanku. Matanya menatap tajam langsung pada manik mataku. Kebencian darinya padaku terasa begitu besar.

“Lalu tanpa disangka-sangka Luhan menyatakan cintanya padaku. Lima bulan yang lalu Jihyun!”, aku terdiam. Lima bulan? Hatiku semakin tertohok. Lyu kini melangkah kearah Luhan, dan aku memutar tubuhku untuk melihatnya. Dengan keangkuhannya, Lyu mengalungkan tangannya dilengan Luhan. Membuatku geram.

Luhan, apa kau benar-benar kalah? Kenapa kau hanya diam saja tanpa berminat melakukan sesuatu seperti melepas tangannya dari lenganmu?

“Aku ragu. Benar-benar ragu. Tapi Luhan menyakinkanku, jika ia memiliki rasa cinta padaku. dan aku menerimanya. Kami berhubungan dibelakangmu. Apa yang selama ini dilakukannya padamu, juga sudah ia lakukan terhadapku. Kau tidak akan tahu jika aku sendiri sudah mengandung anaknya”

Tidak. Sesuatu dalam diriku seperti tercabut dengan paksa. Aku menatap kearah Luhan. Tapi Luhan justru terkejut dan menatap Lyu. “Lyu, kau… apa-”

“Biarkan dia tahu Luhan. Kebahagiaan kita sudah nyaris lengkap. Hanya kurang dalam arti pernikahan saja. Dan kau Jihyun, berkaca lah. Kau tidak menyadari dirimu benar-benar menyedihkan? Kau ditinggal oleh ayahmu, lalu kau ditelantarkan ibumu, kakakmu bahkan nyaris membuangmu ketempat maksiat. Dan Luhan, sebentar lagi akan menceraikanmu… sadarlah. Kau manusia menyedihkan yang sama sekali tidak bisa menerima kenyataan”

Cukup! Memalukan! Tahu apa dia tentangku? Bukankah hidupnya nyaris sama sepertiku? Aku masih ingin melawan. Tapi kekuatan itu sudah tidak ada. Hingga kuputuskan untuk segera pergi dari rungan ini.

Sebelum ku meninggalkan mereka, aku berbalik menatap mereka dengan sorot mata yang sama sekali tidak ku tahu. Sorot mataku meggambarkan isi hatiku. Benci, kesakitan, dendam, kesedihan, keputusasaan…

“Kalian, akan menyesal”

***

Hidupku benar-benar hampa.

Apa yang bisa kulakukan sekarang? Lyu benar, aku benar-benar menyedihkan. Ditinggal ayahku, ditelantarkan ibuku, dibuang oleh kakakku, dikhianati suamiku, dan kini…

Ku pikir semua akan baik-baik saja saat aku meninggalkan ruangan maksiat itu. Tapi bodohnya aku, alih-alih menggunakan lift. Aku justru dengan cepat menuruni tangga saat Luhan mencoba megejarku. Dan ini yang terjadi. berbarin diranjang pesakitan ini dengan kehilangan anakku.

“Maaf. Maafkan aku… ku mohon maafkan aku”

Aku hanya diam. Tubuhku, otakku, hatiku, seperti tidak ingin menyahut permohonan maaf itu. Entahlah, hatiku terasa hampa. Sangat hampa. Tidak bisa kuketahui isi hatiku sekarang ini. kosong.

Apa yang menyakitkan selain ini?

Rasa sakitnya bahkan kini tak lagi terasa dan bereaksi padaku. aku tidak lagi menangis. Air mataku sudah habis ya? Aku ingin meneratwai diriku sendiri. Tapi lagi, tubuh ini sama sekali tidak bereaksi.

Kejadian tadi,

Aku mencoba berlari dari pria brengsek itu, menuruni tangga dengan uraian air mata tak terbendung. Dan terpleset. Aku mendengar Luhan serta Lyu berteriak panik. Sedangkan tubuhku terus bergerak seperti menggelinding. Merasakan benturan-benturan disekujur tubuhku. Lalu berhenti ditangga bawah lantai ke empat dengan pendarahan hebat.

Aku keguguran. Aku kehilangan anakku.

“Jihyun, ku mohon berbicaralah” suara yang dahulunya manis dan merdu, kini menjadi suara yang tiada artinya lagi bagiku. “aku bersalah, aku yang menyebabkan anak kita pergi… ku mohon jangan hukum aku dengan berdiam seperti ini”

Ekor mataku menangkap bayang seorang wanita. Wanita yang menghancurkan segalanya. Dia pasti tengah bersenang-senang dalam hatinya. Aku memiliki hidup yang suram. Tiada cahaya lagi dalam hidupku. Dimataku hanya ada hitam. Semua tidak lagi sama. Aku masih berdiam diri, membiarkan Luhan menangis bersujud memohon maaf.

Kini kau menyesalkah Lu? Kau menyesal? Semua sudah terlambat. Benar-benar terlambat hingga aku sendiri bahkan tidak tahu berada dijalan yang mana. Kau menhancurkan hati dan hidupku. Kendati begitu, mungkin ini takdirku. Haha lucu ketika berbicara mengenai takdir, haha itu lucu sekali. Disini juga gelap. Dan suram. Yang bisa ku dengar hanya tangis Luhan yang semakin keras dan isak tangis wanita jalang itu.

Aku tidak melihat apapun lagi. Tidak hanya suram dan gelap. Tapi kosong. Hampa dan mati. Ini mimpi burukku kan? Bisakah aku bangun?

Boleh aku terbangun dari mimpiku ini? walau hatiku hancur tak tersisa?

 

^^^^^^

 

2 thoughts on “Gloomy [You Broke My Heart]

  1. chikaraenggar berkata:

    yampunnn rasanya aku jengkel banget baca ff ini.. berasa pengen matiin luhan sama lyu..author bikinin sequelnya donggg pleaseeeeee aku pengen liat luhan sama lyu menderita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s