Last Game (Chapter 12)

photogrid_1440082381255

Title                 : Last Game (Chapter 12)

Author             : Gu Rin Young

Cast                 : All member EXO and others

Genre               : Brothership, family, school life, sport

Rating              : General

#####

“Chen, kau bisa menjadi center dan Tao bisakah kau menjadi shooting guard? Kita harus sering menembak jarak jauh kali ini. Pertahanan mereka cukup ketat.” Jelas Luhan saat quarter pertama berakhir.

“Lay, kau harus mempercepat tempo. Jika seperti tadi, kita tidak akan bisa mengejar score mereka.” Lanjut Luhan lagi sembari menunjuk papan score. SMU Yonsei tertinggal 23-19.

Semua terus mendengarkan penjelasan Luhan. Tak terkecuali dengan Sehun, Kai, dan Chanyeol. Namun, yang paling memperhatikan adalah Sehun. Sesekali dia berpikir tentang maksud yang dijelaskan oleh Luhan.

“Mmm hyung, bisakah kami membantumu?” Tanya Sehun pada Luhan yang sedang asyik menjelaskan strategi untuk timnya.

Semua mata tertuju pada Sehun kali ini. “Jinja? Kau mau membantu kami?”

Sehun mengangguk, membuat Xiumin tersenyum. “Mungkin aku, Kai, dan Chanyeol bisa membantu tim mu karena kami tidak ikut pertandingan.”

“Sehun benar. Kami bisa membantu kalian.” Seru Chanyeol setuju.

“Otte? Luhan hyung, kau mengijinkan kami?” Kai sedikit memohon.

Luhan mengangguk. “Tapi jangan ikut campur terlalu dalam karena ini adalah tim ku.”

“Arraseo hyung.” Kai berseru senang.

Sehun tersenyum karena sebenarnya sedari tadi dia gatal melihat pertandingan itu.

“Hyung, aku pikir kau tidak perlu mengganti Chen hyung dengan Tao. Tao lebih cocok sebagai center karena tembakan jarak jauhnya selalu meleset dari ring.” Usulan Sehun membuat mata Tao membulat.

“Mwo?! Apa kau pikir aku tidak bisa menembak dengan benar?!” Seru Tao kesal.

“Aku setuju dengan Sehun. Kau lebih nyaman menjadi center, tidak semua pemain bisa nyaman di semua posisi. Kupikir tembakan jarak jauh Xiumin hyung cukup akurat karena dia shooting guard, dia bisa diandalkan.” Usulan Kai kali ini membuat Luhan kembali berpikir.

Luhan pikir usulan keduanya memang benar. Tembakan Tao tadi cukup banyak yang meleset dari ring.

Setelah berpikir, akhirnya Luhan kembali melanjutkan penjelasannya. “Aku pikir mereka benar. Chen kau small forward, sedangkan Xiumin akan menjadi shooting guard.”

Chanyeol tersenyum. “Itu lebih baik.”

Pertandingan kembali dilanjutkan. Kali ini Xiumin merasa nyaman, karena dia berada di posisi semestinya. Awalnya Chen lah yang kesulitan karena dia menjadi small forward sekarang. Dia harus pandai menyerang lawan.

SMU Yonsei mengejar ketertinggalannya. Keadaan berbalik sekarang karena Xiumin beberapa kali berhasil menembus ring lawan. Score kini 25-23 untuk SMU Yonsei.

Saling menyerang dengan cepat membuat guard kedua tim harus memiliki kekuatan ekstra. Xiumin dan Lay cukup kewalahan. Awalnya Xiumin bisa bergerak bebas, namun semakin lama lawan mengetahui jika Xiumin menjadi tumpuan kali ini. Mereka benar-benar mematikan langkah Xiumin. Hingga quarter dua berakhir score 44-43 masih dipimpin oleh SMU Yonsei.

“Aku tidak bisa menembak lagi. Mereka selalu mematikan langkahku.” Keluh Xiumin di bangku cadangan.

Kris menepuk pundak Luhan. Luhan mendongak. “Luhan, bagaimana? Jika seperti ini, Xiumin tidak bisa bertanding hingga akhir. Lay yang membantunya pun sudah sangat kewalahan.”

Luhan kembali berpikir keras. Mencari jalan keluar untuk masalah ini. Andai saja dia bisa bertanding pasti tidak akan seperti ini. Andai kakinya tidak lumpuh. Andai dia bisa memperbaiki masa lalu. Andai ini semua tidak terjadi.

Luhan kembali menundukan kepalanya. Sehun yang seakan mengerti apa yang di rasakan hyungnya itu mengusap punggung Luhan. Mungkin hal kecil itu bisa membantu menenangkan hatinya.

“Kris hyung, apa tim kalian bisa berganti-ganti posisi seperti tim kami? Jika bisa kita bisa mengganti Xiumin hyung dengan kau atau Tao.” Ucap Chanyeol akhirnya.

“Kami tidak pernah mencoba hal itu. Karena kami pikir itu membuat fokus kami berantakan. Kami tidak bisa seperti kalian yang bisa belajar dengan cepat.”

“Kris hyung benar. Tidak semua tim bisa melakukannya, hyung.” Sehun menimpali. “Aku rasa sekarang kalian hanya harus menyerang. Mereka sudah mengetahui jika tadi kau menggunakan umpan panjang. Sekarang cobalah umpan pendek.”

Luhan yang sudah berhasil menetralkan perasaannya ikut bergabung. “Tao aku harap aku bisa mengandalkanmu. Dan kau.” Luhan menunjuk Sehun. “Jangan mencampuri urusan tim ku.”

Lay geleng-geleng kepala. Bukankah Sehun sudah membantunya? Pikir Lay.

Peluit tanda dimulainya quarter ketiga sudah ditiup oleh wasit. Kali ini SMU Seoul mencoba menggunakan umpan pendek dan fast break. Lay mempercepat tempo pertandingan agar Chen dan Tao bisa menembak bola.

Pada pertengahan quarter Tao dihadang oleh dua guard lawan. Tao mati langkah, dia berusaha untuk menerobos namun Tao tidak bisa menemukan celah.

“Kananmu!!” Seru Luhan dari tepi lapangan.

“Ani!! Kirimu!!” Kai juga berseru membuat Tao semakin bingung.

“Kiri!!” Seru Sehun akhirnya membuat Tao mengikuti saran Sehun. Dan hap! Tao berhasil lolos dan mendapat angka.

“Whoaaa, kalian jenius.” Tao menunjukan jempolnya pada Kai dan Sehun. Luhan hanya memandang mereka kesal.

“Bisakah kalian hanya duduk di sana!! Ini adalah tim ku bukan tim kalian.”

“Wae? Tadi pengamatanmu salah. Kau tidak melihat celah kosong di sebelah kiri. Pemain kanan tidak akan membiarkan Tao lolos.” Sehun menyerukan argumennya.

“YA!!! Mereka adalah tim ku. Tidak usah ikut campur!”

“Arraseo, arraseo. Hyung mianhe.” Kai menarik Sehun untuk duduk sebelum terjadi keributan di sana.

“Kenapa kau menarik ku? Aku hanya ingin menyampaikan pendapatku.” Sehun melepaskan cekalan Kai.

“Sudahlah mengalahlah pada hyungmu. Jika kau seperti itu, dia akan kembali membencimu.”

Sehun membenarkan ucapan Kai. Dia harus menjaga perasaan Luhan jika ingin semuanya kembali normal. Tidak menambah masalah itu adalah hal yang penting sekarang.

Kali ini Sehun hanya mengamati permainan SMU Yonsei dan duduk diam dengan diapit Kai dan Chanyeol. Tidak seperti tadi, kini Sehun memilih bungkam agar tidak menyulut emosi Luhan. Biar bagaimana pun yang sedang bertanding kali ini adalah tim Luhan bukan timnya.

Sehun mengamati jika permainan SMU Yonsei sedikit berantakan. Walaupun sekarang score mereka masih memimpin, tapi Sehun rasa itu tidak akan bertahan lama. Tim lawan terus membabi buta. Bahkan Chen sempat terguling tadi.

Tepukan di pundak, membuyarkan pikiran Sehun. “Apa kau juga berpikir jika permainan mereka berantakan? Operan mereka tidak pernah tepat sasaran.”

“Hyung, aku juga sedang memikirkan itu. Chen hyung tidak bisa bertahan sebagai small forward di sana karena dia tidak bisa mengimbangi center lawan. Aku pikir Kris hyung bisa menjadi small forward jika dia bisa.”

Chanyeol mengangguk setuju. “Andai mereka bisa mengganti posisi, itu pasti jauh lebih mudah.”

Sehun kembali fokus pada pertandingan hingga peluit tanda pertandingan berakhir selesai. SMU Yonsei unggul satu bola 87-85. Walaupun Luhan terlihat bahagia karena timnya menang, di raut wajahnya tersirat rasa tidak puas karena hanya unggul satu bola.

“Apakah kita harus merayakannya?” Seru Tao bersemangat.

“Luhan, apa kau mau ikut dengan kami?” Xiumin memandang Luhan. Luhan hanya bergeming. Antara iya dan tidak.

“Molla. Tanyakan saja pada mereka. Mereka yang membawaku ke sini dan mereka juga yang akan mengantarku pulang.” Tunjuk Luhan pada Sehun, Kai, dan Chanyeol.

“Jika kau mau, kami akan menemanimu.” Chanyeol menunjukkan senyum lebarnya.

“Terserah kau saja hyung.” Sahut Sehun, Kai mengangguk.

“Arraseo aku ikut. Bukankah sudah lama kita tidak makan bersama.”

Akhirnya mereka meninggalkan gym lalu menuju restoran terdekat. Setelah 10 menit, akhirnya mereka sampai di sebuah restoran. Restoran yang sepertinya cukup terkenal karena banyak dipenuhi oleh pengunjung.

“Kita cari tempat yang tidak terlalu ramai.” Sehun mendorong kursi roda Luhan menuju bagian luar restoran karena ada tempat kosong di sana.

“Sepertinya di sini tidak terlalu ramai.” Ucap Kris.

Lay mengangguk. “Yah kau benar. Akhirnya aku bisa sedikit melonggarkan nafasku.”

Tao mengambil menu dari waitress. “Apa yang mau kalian pesan?”

Semua menyebutkan pesanan mereka masing-masing. Waitress menggelengkan kepalanya karena yang dipesan kedelapan namja ini sangat banyak. Apa mereka belum makan selama satu minggu?

Setelah makanan tiba di meja, Luhan dan yang lain langsung melahap habis makanannya. Mereka memilih fokus dengan makanan yang ada di hadapan mereka. Kesempatan yang ditunggu-tunggu karena pertandingan tadi, tenaga mereka terkuras habis.

“Oh Luhan, aku rasa kalian sudah cukup dekat.” Sindir Xiumin yang membuat makanan yang ditelan Luhan ingin menyeruak keluar.

“Uhuuuk… uhuuuk…..” Luhan menggapai minumnya lalu meminumnya sebelum nyawanya ikut tersendat.

“Hyung, gwenchana?” Chen mengusap punggung Luhan.

“Ya!! Kau hampir membunuhku!!”

“Aku? Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya.” Cerca Xiumin.

Sebelum keributan terjadi, Kris menengahi. “Sudahlah, kalian berdua seperti anak kecil.”

“Apa sudah selesai? Ini sudah malam, kita harus pulang.” Ajak Chanyeol yang langsung mendapat anggukan dari yang lain.

Usai membayar makanan, Sehun, Kai, Luhan, dan Chanyeol langsung melesat meninggalkan restaurant diikuti 3 mobil di belakangnya yang menghilang di perempatan jalan.

Seperti saat berangkat tadi, kesunyian mendominasi mobil Kai. Tidak ada yang membuka suara. Yang ada hanya suara dari mp3 di mobil Kai. Lagu-lagu sendu yang di putar membuat kelopak mata Sehun dan Luhan menjadi berat. Perlahan mereka menutup mata hingga akhirnya tertidur.

Mobil Kai sudah terparkir rapi di garasi Sehun. Karena tidak ada reaksi dari kursi belakang, Chanyeol dan Kai melihat keadaan Sehun dan Luhan dan keduanya langsung menggelengkan kepalanya saat melihat dua bersaudara itu tertidur di sana.

“Aigoo, mereka berdua seperti saudara kembar. Aku baru menyadari jika wajah mereka sangat mirip.” Ucap Kai.

Chanyeol mengiyakan. “Kau benar. Bahkan posisi tidur mereka sama, hahaha.”

Posisi tidur Luhan dan Sehun sama dengan tangan terlipat di dada, kepala ditundukan, dan kaki terbuka serta mulut mereka yang mengerucut.

“Hyung, bangunkan mereka.” Perintah Kai pada Chanyeol yang dibalas anggukan.

Chanyeol mengguncang sedikit kaki Sehun. “Ya irona. Apa kau akan tidur di garasi?”

Yang dibangunkan hanya menggeliat.

“Ya! Oh Sehun!” Kali ini Kai mengguncang kaki Sehun lebih keras hingga mata Sehun terbuka dan langsung menyadari jika dia sudah ada di garasi rumahnya.

“Kenapa kau tidak membangunkanku?”

Kai dan Chanyeol berpandangan lalu menatap Sehun kesal.

“Kami sudah membangunkanmu tapi kau tidak mau membuka matamu. Sekarang kau bangunkan hyungmu.”

“Mm.. Sehunah, sebenarnya bagaimana kau dan hyungmu? Apa dia sudah tidak dingin lagi?” Tanya Kai membuat Sehun menatapnya.

“Dia masih seperti dulu tapi aku rasa itu sudah berkurang. Dia tidak pernah mengusirku lagi jika aku ke kamarnya.”

“Jinja? Itu karena dia memang sudah menerimamu atau kau yang terus memaksa untuk masuk ke kamarnya?” Selidik Chanyeol.

Sehun meringis. “Hehehe, mungkin yang kedua itu lebih tepat.”

“Aku tau jika itu adalah salah satu usahamu, tapi jangan terlalu memaksakan.” Nasihat Kai.

“Arra. Aku juga memberikannya privasi.”

“Bagus. Jika ada sesuatu beritahu kami secepatnya. Dan Baekhyun bilang, lusa mereka akan kembali ke Korea.”

“Jinja? Kita harus menjemput mereka di airport.” Usul Sehun.

“Pasti. Kita buat sesuatu untuk menyambut mereka.”

“Sehunah, palli bangunkan hyungmu. Aku sudah mengantuk.” Kai menguap.

“Arra.”

Setelah membangunkan Luhan yang tidak butuh waktu lama. Sehun berterima kasih pada Chanyeol dan Kai yang sudah mengantar mereka. Lalu mobil Kai menghilang seperi peluru di jalan raya. Sehun mendorong kursi roda Luhan hingga kamarnya.

“Hyung, 3 hari lagi Xiumin hyung dan yang lain akan bertanding untuk semi final.”

“Mm.. Pergilah aku ingin mandi.”

Sehun lalu melangkah pergi menuju kamarnya sendiri untuk membersihkan dirinya. Karena matanya masih mengantuk, dia langsung merebahkan tubuhnya dan tidur.

—–

Suho, D.O, dan Baekhyun terlelap di dalam pesawat yang membawa mereka kembali ke Korea. Lamanya perjalanan pulang membuat mereka lelah. Dan saat jam menunjukkan pukul setengah 6 pagi, akhirnya pesawat mereka mendarat dengan selamat di Korea.

“Aigooo, aku lelah sekali.” Keluh Baekhyun sesampainya mereka di Bandara Internasional Incheon.

“Nado. Hyung jika mengingat perjalanan pulang sangat lama kau pasti tidak akan mau pulang lagi jika sudah di Amerika.” D.O menenteng tas dan kopernya lalu meletakannya di troli bersamaan dengan koper Baekhyun dan Suho.

Suho tersenyum. “Aniyo, aku akan pulang setiap bulannya untuk bertemu kalian. Jika aku tidak bertemu kalian, aku pasti akan merasa kesepian.”

D.O dan Baekhyun membalasnya dengan senyum gembira lalu mereka menggandeng hyung kesayangan mereka itu.

Saat tiba di pintu arrival……

“Stop!!” Pekik Baekhyun tiba-tiba.

“Wae?” Tanya Suho bingung.

“Apa kalian lihat itu?” Tunjuk Baekhyun ke kerumunan orang yang menunggu kedatangan saudara atau teman mereka di pintu arrival.

Suho dan D.O mengikuti arah yang ditunjuk Baekhyun. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat sebuah banner yang sudah terpampang di depan mereka. Banner itu bertuliskan ‘Welcome home Suho, Baekhyun, dan D.O hyung. Kami sangat merindukanmu. Saranghae.’ Di sekeliling banner, terlihat orang terkikik geli membaca isi banner.

“Hyung kajja, kita kembali lalu lewat pintu yang lain.” Baekhyun menyeret D.O dan Suho kembali masuk ke dalam.

“Waeyo? Mereka sudah menyambut kita.”

“Apa kau tidak malu? Kita hanya menyuruh mereka untuk menjemput kita, bukan mengadakan pesta di sini.”

D.O terkikik geli melihat wajah Baekhyun yang malu bercampur kesal. “Haha, sudahlah mungkin mereka merindukan kita lalu mengadakan pesta penyambutan.”

“D.O benar. Sudahlah ayo kita keluar, aku ingin pulang ke rumah lalu melanjutkan tidurku.”

Baekhyun dengan wajah masih kesal menuruti perintah Suho. Suho berjalan paling depan diikuti D.O dan Baekhyun di belakangnya. Baekhyun sedikit merapatkan topi dan hoodienya agar wajahnya tidak terlihat orang.

“Hyuuuuuung!!!” Pekik Chanyeol, Kai, dan Sehun bersamaan saat Suho dan kedua pengikutnya muncul di hadapan mereka.

“Aigooo, apa kalian yang membuat ini?” Seru Suho antusias.

“Chanyeol hyung yang membuat ide ini.” Ucap Kai.

“Kami sangat merindukan kalian. Apa kalian sangat betah tinggal di sana?” Sehun memeluk Suho, D.O, dan Baekhyun bergantian.

“Sudahlah. Kajja kita pulang. Dan kau Park Chanyeol, lepaskan banner itu.” Baekhyun melangkah mendahului yang lain.

“Kenapa dia? Apa sedang datang bulan?” Tanya Kai polos yang membuatnya mendapat jitakan di kepalanya.

“Dia namja, bodoh.” Chanyeol melepas bannernya.

“Kajja kita pulang. Aku ingin tidur.” D.O melangkah mengikuti Baekhyun.

Mereka akhirnya menuju rumah masing-masing untuk melanjutkan tidur mereka. Tak terkecuali Sehun yang langsung mendengkur di sofa ruang keluarga karena ia enggan naik ke kamarnya.

—–

Jam di rumah Kris sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Kris sedang menunggu seseorang. Karena orang yang ditunggunya tidak kunjung datang, akhirnya Kris menghubungi sahabatnya itu. Tidak selang waktu lama, terdengar suara seseorang di ujung telepon.

“Wae?”

“Ya!! Aku sudah menunggumu, kau bilang kau akan mengikuti latihan hari ini.”

“Aku sedang bersiap, tunggulah sebentar lagi.”

Luhan memutus sambungan teleponnya.

“Anak itu benar-benar.”

Kris keluar kamarnya menuju meja makan. Perutnya sudah sangat lapar karena semalam dia ketiduran dan tidak sempat untuk makan malam.

“Kris hyung!!”

Suara seseorang itu membuat Kris terkejut dan otomatis makanan yang sedang dikunyahnya masuk ke tenggorokannya tanpa dikunyah.

“Uhuk….. uhuk…..” Kris menggapai susu di depannya hingga setengah habis lalu melotot galak pada seseorang yang membuatnya hampir meregang nyawa.

“YAA!!! Kau ingin membunuhku hah?!”

“Hahaha, mianhe hyung. Wajahmu lucu sekali saat tersedak tadi.” Tao tertawa terbahak.

“Jika kau bukan sahabatku, aku pasti akan membunuhmu.”

Tao tetap tertawa walaupun Kris sudah memelototinya. Tao memang selalu membuat masalah, tapi entah mengapa hyungnya tidak pernah jera untuk memaafkannya. Mungkin persahabatan yang sudah lama terjalin membuat kasih saying itu lebih besar dari pada masalah yang ditimbulkan Tao.

“Hyung, kajja kita berangkat.”

“Tunggu sebentar. Kita masih menunggu seseorang.”

“Mwo? Siapa lagi? Chen? Dia pasti sudah di gym dengan yang lain.”

“Tidak usah bertanya, nanti kau pasti akan tau.”

Tao mengangguk. Sembari menunggu, Kris mengajak Tao bermain PS di kamarnya. Dengan senang hati Tao menerima ajakan Kris.

—–

Luhan mengetuk pintu kamar Sehun. Ini pertama kalinya dia menyentuh pintu kamar itu, biasanya dia akan menngirim pesan lewat ponselnya atau hanya menunggu Sehun dating ke kamarnya. Namun, karena pesannya tidak dibalas dan Sehun tidak muncul di kamarnya, Luhan akhirnya dengan terpaksa mengetuk pintu kamar yang berada di depannya saat ini.

“Sehunah….”

Tidak ada jawaban.

Tok….tok….tok….

Masih tidak ada yang menjawab.

“Apa dia mati? Atau pura-pura tidak mendengar?”

Karena sedikit kesalh akhirnya Luhan menekan beberapa nomor di panel pintu Sehun lalu masuk ke dalam kamar. Luhan terkejut karena tidak mendapati Sehun di kamarnya.

“Kemana anak itu? Apa dia pergi?”

Luhan meninggalkan kamar Sehun. Terlihat bibi Ren sedang menuruni tangga.

“Ahjumma….”

Bibi Ren yang merasa dipanggil menghampiri Luhan di depan kamarnya. “Ada apa? Apa kau memerlukan sesuatu?”

“Tidak. Tapi, dimana Sehun?”

“Ah Sehun, dia ada di sofa sedang tertidur.”

Luhan sedikit terkejut. “Mwo? Bagaimana dia bisa tertidur di sana?”

“Tadi dia sudah pergi pagi-pagi sekali dan ketika pulang dia tertidur di sana.”

“Oh, gomawo ahjumma.”

Bibi Ren mengangguk lalu meninggalkan Luhan dan melanjutkan kembali pekerjaannya. Sedangkan Luhan turun ke bawah untuk membangunkan Sehun.

Luhan menggelengkan kepalanya mendengar dengkuran kecil Sehun. Sehun tidur di sofa yang bahkan tidak sepanjang kakinya. Tubuhnya tertekuk, tapi Sehun masih bisa tidur sepulas itu.

“Irona!! Sehunah!”

Masih dengkuran kecil yang terdengar.

“YA!!!! Bangunlah!!” Luhan berteriak di telinga Sehun membuat Sehun seketika melompat bangun karena terkejut.

“Hyung, apa kau ingin aku tuli?!” gerutu Sehun kesal.

“Kau memang sudah tuli. Kajja kau harus mengantarku ke rumah Kris.”

“Mwo? Apa tidak bisa nanti? Aku masih mengantuk.”

Luhan menggeleng. “Tidak. Ayo cepat!”

Luhan mendorong kursi rodanya keluar rumah. Sehun mengambil kunci mobil dan jaketnya lalu menyusul Luhan. Perintah Luhan masih tidak bisa terbantahkan. Sehun belum punya nyali untuk membantah perintah hyungnya itu.

 

 

TBC

6 thoughts on “Last Game (Chapter 12)

  1. So_Sehun berkata:

    Chingu-ya…pertamà maaf ni yah…
    Saya mau tanya….
    Luhankan ceritax lumpuh nih trus kamarx kan ada di lt.2 deketan sm sehun….
    Nah yg jd pertanyaan saya bagaimana cara luhan bisa turun sendiri nyamperin sehun di sofa gtu….
    Makasih…😊

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s