Last Game (Chapter 11)

photogrid_1440082381255

Title                 : Last Game (Chapter 11)

Author             : Gu Rin Young

Cast                 : All member EXO and others

Genre               : Brothership, family, school life, sport

Rating              : General

Maaf ya author baru post, soalnya jadwal kuliah padat merayap. Mumpung lagi libur jadi author lanjutin ya guys. Makasih banget udah mau nunggu author J

#####

Hari berganti hari. Kini sudah pertengahan liburan musim panas. Satu minggu yang lalu Universitas Hankook mengundang tim Sehun dan tim Luhan mengikuti turnamen di universitasnya. Sehun menolaknya karena suatu alasan, Suho sedang mengurus keperluannya di Amerika sedangkan Baekhyun dan D.O berlibur di Amerika menemani Suho.

“Hyung, bolehkah aku masuk?” Sehun melongokan kepalanya dari balik pintu kamar Luhan.

“Apakah jika aku melarangmu, kau akan keluar dan tidak merengek?”

Perkataan Luhan membuat Sehun nyengir. “Ani. Keundae bolehkah aku berbicara soal basket?”

Kata basket membuat Luhan sedikit tidak nyaman. “Bisakah kau tidak membicarakan soal itu? Aku membencinya.”

“Hyung, tapi basket adalah impianmu. Impian terbesarmu. Semenjak aku kecil, aku selalu melihatmu bermain basket. Kau adalah pebasket hebat. Aku selalu kagum padamu.”

“Itu dulu. Kau tau keadaanku sekarang? Aku sudah tidak bisa menggapai semua impianku! Aku lumpuh!! Aku tidak bisa melakukan apapun!!”

“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Aku yakin kau bisa menggapai semua impianmu.”

“Keluarlah. Aku ingin tidur.”

“Arraseo.” Sehun bangkit dan meninggalkan Luhan. Sehun sedang tidak ingin berdebat.

Setibanya di kamar, ponsel Sehun berdering dan menampilkan nama Lay di sana. Sehun langsung menjawab panggilan itu.

“Lay hyung? Wae?”

“Bagaimana keadaan Luhan? Apa kau sudah berbicara padanya tentang pertandingan itu?”

“Luhan hyung baik-baik saja. Aku tidak bisa menjelaskannya.”

“Oe? Wae? Apa Luhan masih marah padamu?”

“Sedikit, keundae aku tidak bisa melihat kesedihan di matanya. Dia akan sedih jika membicarakan soal basket.”

“Ah arraseo. Mungkin kami akan mengikuti pertandingan itu tanpa Luhan karena besok kami akan bertanding.”

“Mwo? Besok? Aku pasti akan menonton bersama Kai dan Chanyeol hyung.”

“Dimana Suho, Baekhyun, dan D.O?”

“Suho hyung sedang membereskan soal kuliahnya. Baekhyun hyung sedang berlibur bersama D.O.”

“Ah arra. Kau harus menonton kami.”

“Ye hyung.”

Sehun menutup panggilannya. Kemudian Sehun berbaring dan memejamkan matanya. Mungkin tidur adalah hal yang paling membahagiakan.

—–

Sinar matahari sudah menyeruak masuk ke kamar Sehun. Tapi Sehun sudah tidak ada di tempat tidurnya. Sehun bangun pagi karena dia harus pergi lebih awal. Lokasi pertandingan basket kali ini lumayan jauh.

“Kai? Kau akan menjemputku kan?” Tanya Sehun saat menjawab panggilan Kai.

“Tentu. Aku akan menjemput Chanyeol hyung kemudian ke rumahmu.”

“Bawalah mobil porchemu. Kita butuh bagasi yang sedikit luas.”

“Mwo? Untuk apa? Kau tidak berpikir akan berpiknik di sungai Han kali ini kan?”

“Hahaha, ani. Bawa saja, kau akan mengetahuinya nanti.”

Klik.

Sehun memasukan ponsel ke saku jaketnya. Hari ini Sehun terlihat sangat tampan. Jeans hitam dengan kaos warna merah dan jaket yang senada dengan celananya. Tidak lupa kacamata hitam yang selalu dia bawa.

Dia sedikit berlari menuju sebuah ruangan di sebelah kamarnya. Tirainya sudah dibuka, berarti hyungnya sudah bangun.

“Hyung?” Lagi-lagi Sehun melongokan kepalanya.

“Wae?” Tanya Luhan. Masih sama . Dingin.

“Gantilah pakaianmu. Kita akan pergi ke suatu tempat.” Ucap Sehun sembari mengeluarkan kursi roda dari lemari.

“Mwo?! Tidak mau!” Luhan menolaknya mentah-mentah.

“Jebaaaal. Jika kau terus berbaring di sini, kau tidak bisa menggapai impianmu.” Sehun terus berusaha memaksa hyungnya. Kali ini Sehun mengambilkan baju dan celana untuk Luhan.

“Ya!!! Aku tidak mau!!!”

“Hyung jebaaaaal.” Kali ini Sehun menunjukan puppy eyes andalannya. Luhan mengernyit jijik.

“Kau sangat menjijikan!!”

Sehun tidak berhenti merengek pada Luhan. Dia terus mengeluarkan aegyo. Dan itu membuat Luhan tidak tahan lagi.

“Arraseo arraseo!! Jangan tunjukan itu didepanku lagi!!” Akhirnya Luhan mau menuruti perintah Sehun.

Sedikit demi sedikit Luhan mulai luluh. Usaha Sehun selama ini membuahkan hasil. Luhan sudah mau berbicara padanya. Bahkan sudah berhenti mengusirnya jika Sehun membuka tirai jendela saat pagi hari.

Setelah berganti pakaian, Sehun membantu Luhan duduk di kursi roda. Ini pertama kalinya Luhan keluar dari rumah sejak keluar dari rumah sakit. Dan itu karena Sehun.

Sehun mendorong kursi roda Luhan hingga ruang tamu. Lalu Sehun mengeluarkan ponselnya, menghubungi seseorang. Tidak lama menunggu, suara berat terdengar.

“Hyung, oedi?” Tanya Sehun tanpa basa-basi.

“Tunggu kami 5 menit lagi.”

“Arraseo, Chanyeol hyung.”

Sehun menutup panggilan. Mendengar nama Chanyeol, mata Luhan membulat.

“Mwo? Chanyeol?”

“Kita akan pergi bersama Kai dan Chanyeol. Jika kita hanya pergi berdua itu kurang menyenangkan.”

“Aiiiish!!” Rutuk Luhan kesal.

Luhan sudah mengenal sahabat Sehun ketika dia berada di rumah sakit. Mereka yang bergantian menjaganya. Bahkan Luhan tanpa sadar selalu tersenyum jika mendengar candaan Baekhyun yang selalu konyol itu.

Tiin tiiin…….

Suara klakson mobil Kai sudah terdengar. Sehun segera mendorong kursi roda Luhan lagi. Ketika pintu terbuka, Kai dan Chanyeol yang masih berada di dalam mobil terkejut melihat seseorang yang duduk di kursi roda.

“Apa Sehun sudah gila? Kita akan menonton pertandingan basket. Kenapa dia membawa Luhan hyung?” Kai masih ingat perkataan Luhan di rumah sakit, jika dia tidak ingin mendengar soal basket. Dan sekarang Sehun mengajak Luhan menonton pertandingan?

“Mungkin ada alasan dibalik ini semua. Sudahlah kita bantu Sehun saja.” Ucap Chanyeol lalu keluar dari mobil. Kai mengikutinya.

“Luhan hyung, annyeong.” Sapa Chanyeol. Luhan hanya tersenyum. Seperti biasa, dengan sedikit paksaan.

Chanyeol dan Kai membantu Luhan masuk ke dalam mobil sedangkan Sehun meletakan kursi roda di bagasi.

“Kita berangkaaat.” Seru Kai bersemangat.

Kai mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi karena letak Universitas Hankook lumayan jauh. Dalam perjalan semuanya memilih bungkam. Bahkan Chanyeol tertidur pulas. Sehun memilih melihat jalan dan bangunan tinggi yang terhampar sepanjang perjalanan. Luhan melakukan hal yang sama.

Setelah melakukan satu jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di Universitas Hankook. Bangunannya terlihat megah walaupun tidak semegah SMU Seoul. Kai memarkirkan mobilnya. Sedangkan Luhan terlihat bingung.

“Dimana ini?” Tanya Luhan sambil mengamati sekitar. Ramai sekali orang berlalu lalang.

“Universitas Hankook, hyung.” Jawab Kai.

“Apa yang akan kita lakukan disini?”

“Kau akan mengetahuinya nanti. Kajja.” Sehun kembali membantu Luhan turun dari mobil.

Kali ini Chanyeol yang mendorong kursi roda Luhan. Mereka menuju gym yang sudah dipadati penonton. Luhan semakin bingung.

Sehun, Chanyeol, dan Kai mempercepat langkah mereka karena mereka kini sudah menjadi pusat perhatian. Siapa yang tidak kenal dengan mereka? Ditambah lagi Luhan yang memakai kursi roda. Memang berita tentang Luhan yang cedera saat pertandingan yang lalu sudah menyebar tapi mereka tidak mengira akan separah ini.

Mereka menuju bagian belakang gym. Karena Sehun, Chanyeol, dan Kai mengenal ketua panitia di sana jadi mereka diijinkan melewati pintu VIP. Beberapa orang disitu yang mengenal Luhan, Sehun, Kai, dan Chanyeol langsung menyapa mereka.

“Oh Sehun, apa benar kau tidak berpartisipasi dalam pertandingan ini?” Tanya seorang staff

“Tidak, anggota timku sedang berlibur sekarang.” Sehun tersenyum.

Mendengar kata bertanding Luhan seperti menyadari sesuatu.

“Sebenarnya kalian membawaku kesini untuk apa? Kenapa orang tadi berkata pertandingan?” Luhan semakin mengerutkan dahinya.

“Sebentar lagi kau akan mengetahuinya.” Ucap Sehun.

Sehun dan yang lain kembali melangkah. Saat mereka sampai di bangku VIP gym, Luhan terperangah ketika melihat lapangan basket dengan ribuan penonton sudah memadati gym.

“Kali ini kita akan menonton pertandingan basket.” Sehun berbisik di telinga Luhan.

“MWO?!! Oh Sehun, antar aku pulang!”

“Ani. Apa kau tidak merindukan basket? Walaupun kau belum bisa bermain, kau masih bisa menontonnya.”

Tubuh Luhan sedikit bergetar ketika mendengar teriakan penonton. Dia seperti dibawa ke saat-saat bertanding dulu. Rindu. Dia sangat merindukan suasana ini. Lapangan basket adalah rumahnya. Namun sekarang tidak lagi. Kelemahan adalah rumahnya saat ini.

“Hyung apa kau lihat bola basket di tengah lapangan itu?” Tunjuk Sehun pada benda bulat berwarna orange tergeletak di tengah lapangan.

“Apa kau tidak merindukannya? Apa kau lupa dengannya? Dia sudah menunggumu untuk memainkannya di sana.” Perkataan Sehun membuat Luhan bungkam. Hatinya semakin menjerit.

“Hyung, bermain basket adalah impianmu. Dulu kau sangat bersemangat untuk menggapai mimpimu. Kenapa sekarang kau berhenti? Kau tidak akan pernah bisa menggapai impianmu jika kau terus terpuruk dalam kesedihanmu ini.”

“Hyung, aku yakin jika kau memiliki kemauan yang keras untuk menggapai impianmu kau pasti bisa menggapainya. Teruslah bersemangat. Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, semua tergantung pada usahamu.”

Kali ini Luhan bereaksi. Luhan memandang bola di tengah lapangan itu. Ingin rasanya ia menggapai bola itu dan memainkannya. Tapi rasa takut dan kesedihan itu masih menyelimuti Luhan. Dia tidak mampu melakukannya.

Pertandingan segera dimulai. Semua pemain berkumpul di lapangan. Luhan terperangah melihat Kris, Xiumin, Tao, Lay, dan Chen berdiri di lapangan. Mereka akan bertanding? Sahabat-sahabatnya akan bertanding?

Di samping Luhan, Sehun berteriak menyemangati Xiumin dan yang lain. Kai dan Chanyeol pun tidak kalah bersemangat. Kris yang mendengar teriakan Sehun, Kai dan Chanyeol mencari Sehun di bangku penonton dan betapa terkejutnya dia ketika melihat seseorang yang duduk di samping Sehun.

“Luhan?” Bisik Kris pada dirinya sendiri. Namun bisikannya itu terdengar oleh Tao yang berada di sampingnya.

“Mwo? Nugu hyung?” Tanya Tao.

“Kau lihat seseorang di bangku penonton VIP itu?” Tunjuk Kris.

“Yang mana? Banyak orang di sana. Keundae aku melihat Sehun, Kai, Chanyeol, dan …… MWO?!! LUHAN HYUNG?!” Seruan Tao membuat hampir seisi gym terdiam.

“Luhan? Dimana dia?” Tanya Xiumin dan yang lain.

“Itu di sana.” Tao menunjuk Luhan yang sekarang menjadi pusat perhatian di sana.

Sudah satu bulan ini Luhan menghilang dari publik. Semenjak pertandingan itu, dia tidak pernah muncul dimana pun. Bahkan banyak artikel yang beredar jika Luhan pindah ke luar negeri karena malu. Luhan dituduh melakukan kecurangan saat pertandingan kemarin. Namun Sehun dibantu Tuan Oh menampik rumor itu dan menjelaskan jika Luhan baik-baik saja dan masih berada di Korea.

Sekarang semua tau jika Luhan tidak bisa berjalan. Semua orang.

Luhan yang sadar sekarang sudah menjadi pusat perhatian menarik tangan Sehun untuk mengajaknya pergi dari sini.

“Keundae hyung….”

“Jika kau tidak ingin pulang, aku akan pulang sendiri.” Luhan mendorong rodanya maju namun ketika dia akan meninggalkan tempat itu, suara seseorang menghentikannya.

“Luhan hyung, apa kau akan pergi?” Suara Chen menggema di seluruh gym.

Luhan berbalik, memandangnya tidak percaya.

“Kami semua menunggumu. Xiumin hyung kewalahan menyusun strategi seorang diri, Kris hyung lelah melatih kami seorang diri. Apa kau akan membiarkan mereka seperti itu kapten?”

“Apapun yang terjadi denganmu, bagaimanapun keadaanmu kau tetap kapten kami. Tempat itu masih ada untukmu. Sampai kapanpun kami akan menunggumu untuk kembali memimpin kami.” Kali ini Lay yang menyuarakan isi hatinya.

“Oh Luhan, sekarang semua orang sudah tau semuanya. Kau tidak perlu takut. Lapangan basket ini sudah menunggumu. Bola ini sudah merindukanmu. Apa kau akan tetap duduk di sana? Apa kau tidak bosan?” Xiumin mencoba mendorong Luhan untuk bangkit.

Luhan terdiam. Hatinya bergemuruh. Dia hanya memandang sahabatnya itu dalam keterdiaman. Ingin rasanya memeluk mereka karena mereka tidak pernah mengganti posisinya dengan siapapun. Tempat Luhan masih di sana.

Sehun yang mengetahui ekspresi Luhan, berdiri. Sehun memutar kursi roda Luhan lalu mendorongnya menuju pintu keluar, namun Luhan menghentikannya.

“Berhenti.”

“Wae? Bukankah kau ingin pulang?”

“Antarkan aku ke pinggir lapangan.”

Tidak hanya Sehun, Kai dan Chanyeol yang mendengar langsung membelalakan matanya. Antara tidak percaya dan ragu.

“Luhan hyung, gwenchana?” Tanya Kai khawatir.

Luhan mengangguk. “Antarkan aku ke sana.” Luhan menunjuk bangku cadangan.

Xiumin yang mengerti maksud Luhan tersenyum.

“Hyung, kau yakin?” Sehun masih ragu apa keputusan hyungnya ini benar.

“Apa kau tuli? Aku hanya ingin membantu saudaraku di sana.”

Sehun sedikit lega sekarang. Perlahan dia sudah bisa kembali dalam dunianya yang sebenarnya. Biar bagaimanapun Luhan adalah kapten. Dia yang bertanggung jawab untuk timnya.

Sehun mengantar Luhan ke tepi lapangan diikuti Kai dan Chanyeol. Tidak perlu menunggu, semua sahabatnya langsung memeluknya. Ini adalah pertama kalinya mereka melihat Luhan lagi. Semenjak kembali ke rumah, Luhan tidak mau menemui siapapun.

“Kami sangat merindukanmu.” Ucap Kris yang pipinya sudah basah karena air mata.

“Apa kau ingin membuat kami gila? Setiap hari kami hanya bisa bertanya melalui Sehun. Kami sangat mengkhawatirkanmu.” Chen masih memeluk Luhan, enggan melepasnya kembali.

“Ya!! Kalian akan membunuh hyungku jika memeluknya seperti itu.” Sehun menarik Chen dan Tao yang memeluk Luhan sangat erat, bahkan Tao nyaris mencekik Luhan.

“Mianhe.” Hanya kata itu yang sanggup Luhan katakan. Pipinya sudah basah. Air mata kerinduan yang selama ini terkubur dalam, kini menyeruak keluar.

Tiba-tiba gym Universitas Hankook bergemuruh. Semua penonton bertepuk tangan melihat kejadian itu. Mereka semua terharu dengan eratnya persahabatan Luhan dan yang lain. Mereka bukan hanya tim basket, tapi mereka adalah keluarga. Saudara.

Panitia pertandingan pun sampai lupa jika mereka harus memulai pertandingan. Mereka ikut terharu dalam tangisan.

“Mmm, apa kalian tidak jadi bertanding?” Tanya Chanyeol yang teringat dengan pertandingan yang seharusnya sudah berjalan 15 menit yang lalu.

“Oe? Aigo!! Bagaimana bisa kita melupakan pertandingan.” Kris yang saat ini sedang memegang band kapten langsung melemparkannya ke arah Luhan. Luhan spontan menangkapnya.

“Kenapa kau melemparkannya padaku?”

“Kau adalah kapten. Walaupun kau tidak ikut mendrible bola, kau tetaplah kapten kami.” Seru Kris. Yang lain mengangguk menyetujui.

“Buatlah strategi yang bagus, kita harus menang kali ini karena SMU Seoul tidak mengikuti pertandingan.” Ucapan Lay membuat yang lain tertawa termasuk Sehun, Kai, dan Chanyeol.

“Kalian sangat beruntung, hahaha.” Seru Kai disela tawanya.

Pertandingan akhirnya di mulai. Luhan tenggelam dalam pikirannya. Otaknya terus berpikir tentang strategi. Berhenti bermain basket bukan berarti dia melupakan semua tentang basket.

 

TBC

6 thoughts on “Last Game (Chapter 11)

  1. So_Sehun berkata:

    Akhirx stelah sekian lama menunggu sampai tumbuh jamur ff ini dilanjut jg…makasih author..
    Wah akhirx luhan sdah sdikit sadar bisa terima sehun biar aga jutek dikit tapi itu sdah kemajuan…

  2. desi mulya berkata:

    akhirnya di publish jugaa😀 . senyum2 sendiri baca ff ini :):) . chap 12 nya udh adaa kan, lanjut baca duluu yaa🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s